5 Tahun Perjalanan Situs Padepokan Mas Say Laros (13-01-2009 – 13-01-2014)

Saya Pribadi Selaku Admin

Situs Padepokan Mas Say Laros

http://www.kanal3.wordpress.com

Mengucapkan Terima Kasih Kepada Para Teman-Teman

Blogger yang selama ini sudah memberikan kritik,saran kepada situs ini

Mudah-mudahan kedepannya situs budaya ini menjadi lebih baik lagi

SALAM BUDAYA !!!!

Resep Sambal Chek Pechek Kuliner dari Banyuwangi

Bosan dengan menu  sambal yang itu – itu saja? Tidak ada salahnya mencoba menu baru ini, sambel chek  pechek, wah cara menyebutnya susah juga ini.

Mmmm cara membacanya chek  pechek  seperti jika kita mengucapkan huruf e pada kata cecak ( lha kalau lidah  orang batak atau orang flores tetap saja bunyinya beda nih hehehehe).

Menu sambel chek pechek ini menjadi idola di saat para bidan istirahat makan siang. Kami sering membawa bekal dari rumah dan menikmatinya bersama – sama di ruang makan rumah sakit. Wah seru sekali jika sudah menu ini dihidangkan.

Lezatnya sambal ini membuat semua rasa letih lenyap seketika hehehe. Dokter lewatpun tidak kami tawarin deh, tapi dokter  juga suka menimbrung kami bersama makan siang. Suasana menjadi akrab.

Menu ini saya pelajari dari teman – teman yang sering pulang ke Banyuwangi atau Situbondo. Di desa mereka banyak sekali terong jari, yaitu terong yang besarnya hanya seukuran jari.Dari teman teman bidan asal Banyuwangi itulah kami mengenal menu kuliner mereka, salah satunya sambal chek pechek ini.

Bahannya gampang kok, hanya terong dan bumbu dapur, Hanya tidak semua wilayah Indonesia ada terong jari. Di Sumatera barat rasanya juga ada.

Cara mengolahnya  sangat sederhana, yang membuat sajian berbeda adalah sambalnya. Tomat yang digunakan bukan tomat biasa tetapi tomat keriting atau disebut juga rampai kalau bahasa lampung. Rasa tomat ini lebih asam  dan segar.

13584687381569410765

Sumber: BCRT/2012/Dok pribadi

Cara membuatnya seperti ini:

Terong jari yang seperti pada gambar ini dicuci bersih lalu dikukus atau direbus, jangan terlalu lama agar tidak kematangan. Susun terong dalam piring yang disediakan. Bila mencari terong jari sulit boleh diganti dengan terong biasa tapi tentu sedikit beda sensasi rasanya. Terong kecil ini manis tapi kadang sedikit pahit segar.

13584688791612989309

Sumber: BCRT/2012/Dok pribadi

Kemudian siapkan semua bumbunya. Cabe rawit, cabe besar ( jumlah cabe tergantung selera mau suka pedas atau tidak ), tomat  keriting kecil, gula, garam, dan kacang goreng kupas. Semua bumbu dihaluskan. Terakhir dihaluskan adalah tomatnya. Jeruk limau boleh diperas airnya atau diiris tipis tipis.

Tidak perlu menggunakan penyedap rasa. Alternatif lain bila tidak ada tomat rampai seperti ini bisa gunakan tomat cherry atau tomat biasa yang kecil.

13584703431393805306

Sumber: BCRT/2012/Dok pribadi

13584704371039079936

Sumber: BCRT/2012/Dok pribadi

Setelah halus seperti ini sambal bisa dihidangkan, cara menikmatinya terong rebus tersebut disiram dengan sambal chek pechek atau terong dicelup ke sambal ditekan tekan sampai sedikit meresap bumbunya.Nah siapkan nasi hangat lengkap dengan ikan goreng  atau tempe tahu goreng.Wah nikmatnya menu sambel chek pechek ini sangat segar dan luarbiasa.Nyaaaaaaam…hehehe.

13584695791818626693

Sumber: BCRT/2012/Dok pribadi

13584694321217083343

Sumber: BCRT/2012/Dok pribadi

Bagaimana? mau mencoba…ayoo selamat bersambal ria. Besok saya tambahkan lagi menu baru ya sambal Bongkot dan sambal belimbing.

Salam Kuliner

Sumber :

http://m.kompasiana.com/post/read/520707/1

Pulau Musing Di Kecamatan Pesanggaran Banyuwangi

Pulau Musing Di Kecamatan Pesanggaran Banyuwangi

Melihat Penyu Bertelur di Pantai Sukomade Pesanggaran Banyuwangi

Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) terletak di pantai selatan Jawa Timur yaitu masuk dalam dua kabupaten yakni Jember dan ujung timurnya di Banyuwangi dengan luas mencapai 50.000 hektare. Namanya diambil dari gunung tertinggi yang terdapat di dalamnya Gunung (meru) Betiri (1.223 m).

Selain dapat melihat lima jenis penyu yang kerap menyambangi pantai ini, di sana juga masih ada harimau Jawa (kabarnya). Selain itu juga bisa disaksikan banteng, macan tutul, kijang, dan berbagai jenis monyet. Dari jenis burung terdapat burung merak, berbagai elang dan rangkong. Selain itu, flora di sini mencakup Rafflesia zollingeriona dan Balanphora fungosa. Pemandangan indah dengan pantai menawan bisa dilakukan di Teluk Hijau. Bagi yang tidak puas dengan petualangan menyaksikan penyu bertelur dapat melakukan kegiatan lain, diantaranya. menjelajah hutan di seputar Bandealit dan Gunung Gendong. Juga bisa panjat tebing dan meniti tali turun tebing di tebing pantai Bandealit.

Kawasan ini dilestarikan dalam bentuk kawasan lindung sejak 1972. Hingga tahun 1979 telur penyu di Sukamade masih diburu oleh para pengumpulnya. Namun, sekarang pengumpulan, pemindahan anakan, dan penangkapan penyu dilarang keras, karena Penyu hijau termasuk satwa yang dilindungi. Menurut laporan penelitian WWF (World Wide Fund for Nature), Penyu hijau yang paling umum bersarang di Sukamade. Dan dari data kadang ada ada beberapa jenis yang absen bertelur selama beberapa tahun, namun kemudian kembali lagi.

sukamade.turtlePenyu akan menghindar pantai jika saat ia hendak mendarat untuk bertelur terdapat sorotan lampu. Ini sebabnya mengapa ditetapkan jarak yang jauh untuk mendekati pantai Sukamade yaitu dengan cara berjalan kaki. Bagi pemilik mobil jenis sedan, sebaiknya tidak usah melakukan penjelajahan di rimba Meru Betiri hingga Pantai Sukamade, karena setelah masuk pintu pos Meru Betiri, jalan tak lagi beraspal. Bukan lagi jalan makadam, tapi jalan penuh bebatuan runcing. Bahkan, untuk sampai ke Pantai Sukamade, mobil wisatawan akan melewati lima anak sungai yang airnya setinggi lutut orang dewasa, belum lagi kalau musim hujan bisa sampai setinggi mobil jeep.

Medan berat menuju ke lokasi Sukamade bisa dilalaui mobil jeep. Karena penuh petualangan, pemilik jeep sewaan membuka seluruh kap, dan menggantinya dengan atap terpal. Jadilah, wisata ke Teluk Hijau dan Pantai Sukamade sebagai wisata penuh tantangan. Untuk akses menuju SUKAMADE dapat melalui kota Banyuwangi. Jarak antara Banyuwangi ke Sukamade sekitar 98 kilometer.

Penyu yang biasa mendarat dan bertelur di pantai Sukamade ada 4 jenis dari 6 jenis penyu yang ada di Indonesia, yaitu Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Slengkrah (Lepidochelys olivaceae), dan Penyu Belimbing (Dermochelys coriaceae). Diantara penyu-penyu tersebut yang paling sering mendarat adalah penyu hijau.

Fasilitas yang terdapat di lokasi ini antara lain: Pondok Wisata, Camping Ground yang dilengkapi dengan pendopo untuk ruang pertemuan, Shelter, jalan trail wisata, information centre, laboratorium dan pondok kerja.

Obyek wisata lain yang ada di pantai sukamade adalah Hutan mangrove yang terletak di muara timur pantai Sukamade. Sungainya dapat dipakai untuk berkano sambil melakukan pengamatan burung. Burung-burung tersebut diantaranya burung Roko-Roko, Elang laut, Dara Laut dan masih banyak lagi burung burung yang dapat diamati. Pengamatan burung tersebut biasanya dilakukan sambil menunggu matahari terbenam.

Menuju kawasan Taman Nasional Meru Betiri dapat dicapai melalui 4 jalur jalan darat baik dari Jember maupun dari Banyuwangi yaitu :

  • Jalur Jember-Ambulu-Curahnongko-Bandealit (Pintu Gerbang ke Meru Betiri bagian Barat) sepanjang 64 km dapat ditempuh dalam waktu sekitar 1,5-2 jam dengan kendaraan roda dua maupun roda empat.
  • Jalur Jember-Glenmor-Sarongan-Sukamade (Pintu Gerbang ke Meru Betiri bagian Timur) sepanjang 103 km dapat ditempuh dalam waktu 3,5-4 jam dengan kendaraan roda dua maupun roda empat.
  • Jalur Jember-Genteng-Jajag-Pesanggaran-Saro-ngan-Sukamade se-panjang 109 km dapat ditempuh dalam waktu 3,5 – 4 jam dengan kendaraan roda dua maupun roda empat.
  • Jalur Banyuwangi-Jajag-Pesanggaran-Sarongan-Sukamade sepanjang 137 Km dapat ditempuh dalam waktu 5 jam dengan kendaraan bermotor.

Sumber: http://banyuwangihariini.com/

 

Pulau Merah Di Kecamatan Pesanggaran Banyuwangi

Wisata Pantai  Pulau Merah. Terletak di Kecamatan Pesanggaran. Kira-kira 80 Km Selatan Kota Banyuwangi.

Jalan menuju lokasi walaupun agak sempit tapi lumayan mulus. Akhirnya  sampai di Desa Sumber Agung, Kecamatan Pesanggaran. Beli tiket 2500 per kepala. Parkir bebas. Lumayan murah. Maklum lagi promosi wisata he he he. Kawasan pantai Pulau Merah lumayan bersih walaupun menyatu dengan pemukiman nelayan. Beberapa rumah dan kedai berjajar di kiri jalan menuju pantai.

1370964346583652386

Halaman Depan Pulau Merah (dok pribadi)

Pasir Putih dan Tanah Merah

Pulau Merah merupakan sebutan  untuk Pulau (Bukit) kecil yang ada di  pantai. Pantai Pulau Merah ini segaris dengan Pantai Teluk Pancer. Pulau (Bukit) ini sekarang ditumbuhi semak menghijau. Saat musim kering, semak meranggas. Dan tanah di Pulau itu nampak berwarna merah. Maka, disebutlah  Pulau Merah.

Pantai Pulau Merah memanjang ke Timur dan Barat. Pasirnya putih bersih. Di arah Timur ada Gunung  Tumpang Pitu. Konon kaya akan Emas. Ke arah Barat, Pantai Pulau Merah melengkung, dan di ujung sana kira-kira 3 kilometer bersatu dengan Pantai Teluk Pancer. Sungguh asyik berlama-lama duduk di pinggir pantai. Menikmati angin sepoi-sepoi dan alunan ombak yang datang silih berganti.

Sepintas, suasana Pantai Pulau Merah mirip  Pantai Kuta di Bali.Untuk menambah kesan “merah”, beberapa Kursi Pantai terpasang menyatu dengan Payung berwarna Merah yang menaunginya. Tentu saja untuk duduk atau tiduran, sambil menikmati angin sepoi-sepoi,  Anda harus bayar sewanya.

http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2013/06/11/menikmati-surfing-di-pulau-merah-kuta-nya-banyuwangi-567898.html

Pulau Mandi Di Kecamatan Tegaldlimo Banyuwangi

Pulau Mandi Di Kecamatan Tegaldlimo Banyuwangi

Sejarah Batik Banyuwangi yang Penuh Filosofi Kehidupan

Salam Jenggirat Tangi !!!

Selamat Datang di Padepokan Mas Say Laros !!!

Menurut catatan sejarah, Batik Banyuwangi berkembang berawal dari penaklukan Blambangan oleh Mataram (Sultan Agung, tahun 1633), dari hipotesa sejarah dimaksud dapat dikatakan asal muasal adanya kemunculan batik di Banyuwangi.  Alkisah pada masa kekuasaan Mataram di Blambangan (abad 15) dimana banyak kawula Blambangan yang dibawa ke pusat pemerintahan Mataram Islam di Plered Kotagede, sehingga tidak mustahil kala itu banyak kawula Blambangan antusias untuk menekuni kerajinan batik di Keraton Mataram Islam di Plered Kotagede.

Seiring dengan perkembangan sejarah banyak masyarakat Blambangan tertarik menekuni warisan luhur bangsa (batik) untuk dikembangkan dan dilestarikan di bumi Blambangan, sampai saat ini jumlah referensi koleksi motif batik Banyuwangi yang   tersimpan di museum Budaya Banyuwangi mencapai 22 (dua puluh dua) motif batik diantaranya : Gajah Oling, Kangkung Setingkes, Alas Kobong, Paras Gempal, Kopi Pecah, Gedekan, Ukel, Moto Pitik, Sembruk Cacing, Blarak Semplah, Gringsing, Sekar Jagad, Semanggian, Garuda, Cendrawasih, Latar Putih, Sisik Papak, Maspun, Galaran, Dilem Semplah, Joloan dan Kawung, namun dalam perkembangannya saat ini masih banyak ditemukan motif batik khas Banyuwangi yang belum direferensikan masuk dalam koleksi museum budaya Banyuwangi.

Batik Khas Banyuwangi kerap kali diidentikkan dengan motif Gajah Oling hal ini banyak diyakini oleh beberapa budayawan dan pemerhati batik Banyuwangi bahwa  gajah oling merupakan motif batik Banyuwangi yang asli atau bisa dikatakan tertua dibandingkan motif batik yang ada di Banyuwangi, motif batik yang tertuang pada batik  Banyuwangi tidak hanya merupakan sebuah perwujudan estetika dari ragam hias namun juga memiliki nilai luhur yang dianut oleh mayarakat Banyuwangi. Gajah Oling dalam gambar batik khas Banyuwangi seakan menyerupai tanda tanya ( ? ), yang secara filosofis merupakan bentuk sebuah belalai gajah dan sekaligus digambarkan menyerupai uling (seekor belut/moa), disamping kedua unsur tersebut karakter gambar dimaksud juga dikelilingi sejumlah atribut lain diantaranya kupu-kupu, tumbuh-tumbuhan laut, manggar (bunga pinang/kelapa) dan sebagainya.

Motif batik Gajah Oling yang saat ini diyakini banyak kalangan sebagai motif asli batik khas Banyuwangi, secara garis besar melambangkan bentuk kekuatan yang tumbuh dalam jati diri masyarakat Banyuwangi. Dan pemaknaan motif Gajah Oling sendiri berkaitan dengan karakter masyarakat Banyuwangi yang religius, penyebutan Gajah Eling yang mempunyai arti hewan yang bertubuh besar (gajah) dalam hal ini diartikan maha besar, sedangkan uling dapat diartikan ingat.

Maka secara utuh dapat diartikan kita selalu diingatkan untuk ingat akan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa, dengan harapan apabila masyarakat menggunakan/ memakai batik gajah oling secara tidak langsung diajak agar kita selalu ingat kepada kemahabesaran Sang Pencipta sebagai dasar menjalankan sendi roda kehidupan.

Keberadaan Batik Banyuwangi dari tahun ke tahun dinilai cukup menggembirakan, ditilik dari awal pengembangan batik di Banyuwangi, pembinaannya  dimulai pada era tahun 80-an yang dimulai di Kelurahan Temenggungan, Kecamatan Banyuwangi mengingat wilayah tersebut merupakan sentra batik yang ada di Banyuwangi.

Dilihat dari perkembangan batik di Banyuwangi sampai saat ini banyak tumbuh berkembang pengrajin batik menyebar hampir di seluruh wilayah Kecamatan, hal tersebut dikarenakan adanya dukungan positif dari semua pihak terhadap keberadaan batik Banyuwangi diantaranya Kebijakan Pemerintah Daerah dalam upaya pengembangan batik di Banyuwangi serta pemanfaatan/pemakaian Batik khas daerah untuk seragam Dinas maupun Sekolah pada hari dan even-even tertentu. Adapun jumlah pengrajin batik di Banyuwangi saat ini sebanyak 22 (dua puluh dua) unit usaha sebagaimana data industri batik Banyuwangi terlampir, dimana dari sekian jumlah tersebut 12 (dua belas) unit usaha berkembang ke motif proses painting (sarung pantai) yang pangsa pasarnya cukup besar di Bali.

Melihat begitu besar animo akan batik saat ini Pemerintah Daearah Kabupaten Banyuwangi berupaya meningkatkan pengembangan batik khas Banyuwangi melalui upaya pembinaan, diantaranya melalui pelatihan/bimbingan teknik peningkatan kualitas dan kuantitas produk, penerapan zat alam serta untuk menambah khasanah motif batik khas melalui pelaksanaan lomba desain batik khas Banyuwangi.

Dan sebagai langkah lanjut terhadap pengembangan industri kerajinan batik di Kabupaten Banyuwangi tahun 2013 telah direncanakan pembentukan sentra baru di wilayah Kecamatan Kabat, mengingat wilayah dimaksud sangat potensi baik dilihat jumlah unit usaha serta pangsa pasarnya cukup jelas. Maka sangat tepat Wilayah Kecamatan Kabat  untuk dijadikan sentra industri kecil kerajinan batik di Banyuwangi.

PEMERINTAH KABUPATEN BANYUWANGU

DINAS PERINDUSTRIAN,PERDAGANGAN DAN PERTAMBANGAN 

Jalan Ahmad Yani No. 96 Banyuwangi

Tlp. (0333) 412100. Faximile (0333) 412100

http:disperindagtam.banyuwangikab.go.id

http://batikbanyuwangi.com/sejarah-batik-banyuwangi

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 65 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: