Kang Santri, Gandrungono Tari Gandrung Banyuwangi

Salam Jenggirat Tangi !!!

Selamat Datang di Padepokan Mas Say Laros !!!

                  Sebagai seorang santri yang pernah mengenyam disalah satu Pondok Pesantren terkemuka dibanyuwangi dan sekaligus penggemar seni dan budaya Kabupaten Banyuwangi. Kalau Mas say laros lihat dari aspek promosi seni budaya banyuwangi mungkin sudah sangat bagus namun untuk seni dan budaya banyuwangi khususnya Tari Gandrung agar diGemari atau diGandrungi kalangan santri agaknya sangat sulit untuk dilakukan. Mungkin sebagai salah satu pengamat seni dan budaya yang ada dibanyuwangi mas say laros akui jika saya menemui kesulitan untuk mempromosikan agar supaya tari gandrung bisa digemari dikalangan para santri pondok pesantren.

Awal-awal Saya membuat weblog www.kanal3.wordpress.com yang mengekspose seni dan budaya Banyuwangi ini sering mendapat cibiran khususnya teman-teman MSL ketika dipesantren dulu.Mereka mengatakan ‘’Jadi santri kok suka gandrung atau Jadi santri kok suka Tari pengumbar aurat ‘’ . Memang kenapa dengan Tari Gandrung ?

Mas say laros memang lahir dari keluarga seniman, namun meskipun seorang seniman Orang tua MSL selalu mengajarkan kepada anaknya untuk menjadi orang yang menjalankan perintah agama namun tidak melupakan seni budaya daerahnya jadi Ibadah dan Seni harus berjalan beriringan. Ibarat pepatah jawa ‘’ WONG JOWO OJO LALI JAWANE ‘’ orang jawa jangan lupa dengan jawanya atau jika dijabarkan jadi orang jangan lupa dengan tanah kelahirannya dan lebih spesifik lagi jangan lupa dengan seni, adat dan tradisinya.

Oleh karena itu tak heran pada saat  ketika pertama mengenal dunia Pesantren MSL seperti shock dengan didikan terlalu ketat gak boleh ini gak boleh itu dan yang paling gak nyaman ketika saya dituntut untuk senang dengan music music sholawatan yang konon itulah satu-satunya music yang paling islami.

Karena saya memahami bahwa music islami tidak hanya sholawatan namun bisa segala jenis music asal ada pesan-pesan kebaikan didalamnya .Maka dari itu wajar saja ketika Selama dipesantren saya tidak sama dengan teman-teman santri yang lain terutama dalam hal pilihan music favorit dan beberapa pendapat yang bersebrangan lainnya.

Kembali kepokok permasalahan, Bicara gandrung banyuwangi selama ini masih dianggap sebuah kesenian yang di-HARAM-kan dikalangan pesantren karena dengan alasan penari gandrung mengumbar aurat, penarinya wanita ditengah banyak laki-laki , kesenian berbau syirik dan berbagai alasan yang menurut saya kurang tepat jika dialamatkan pada tari gandrung banyuwangi.

Saya disini bukan berarti benci dengan kalangan pesantren karena saya juga dibesarkan dilingkungan pesantren sejak tahun 2005 – 2012 jadi kalau dihitung kurang lebih 7 tahunan saya hidup dipesantren, mungkin bagi sebagaian kalangan santri akan berkata Mondok 7 tahun sama aja belum mondok karena ilmunya belum matang.

Kembali kemasalah awal jika Gandrung dikatakan HARAM gara-gara mengumbar aurat, saya juga heran mana aurat yang kelihatan ? Karena menurut sepemahaman saya batasan aurat itu berbeda-beda menurut beberapa ulama’ jadi jangan heran jika ada beberapa pendapat ulama’ yang berpendapat jika JILBAB itu bukan sebuah KEWAJIBAN namun Hanyalah sebuah produk budaya.

Untuk lebih mengetahui dalil tentang JILBAB TIDAK WAJIB ini silahkan baca sekelumit E-BOOK dbawah ini dengan cara :

Mengklik

LINK DISINI

                  Jadi dapat disimpulkan jika batasan aurat saja masih menjadi perbedaan pendapat tentunya hal ini tidak menghalangi untuk menghalalkan seni tradisi Gandrung yang sudah berkembang dibanyuwangi ini.

Kedua selama ini pesantren lebih condong memperkenalkan kesenian dari Arab music-musiknya pun music gaya timur tengah. Harapan saya kedepannya pesantren disamping mengahajarkan Akhlaqul karimah juga mengajarkan seni budaya lokal tapi didalamnya memberikan pesan-pesan universal dari al-quran dan hadits.

Mungkin WALISONGO adalah salah satu tokoh yang patut ditiru mereka berdakwah dengan kearifan lokal dipesantren para santri diajari menabuh Gamelan dan kesenian lokal pada masa itu. Namun untuk dibanyuwangi sendiri saya belum pernah menemukan Pelatihan Tari Gandrung dilingkungan pesantren dan Para Kyai mengajak santrinya untuk mencintai budaya lokal dengan cara mencintai kesenian gandrung, kuntulan maupun kesenian yang lain.

Namun, justru hal yang aku lihat malah sebaliknya mereka malah menetang Tari Gandrung karena kesenian ini dianggap HARAM untuk diajarkan dikalangan pesantren. Mas Say Laros sendiri juga sadar jika perbedaan itu sebuah sunatullah namun Alangkah baiknya jika ada kerjasama semua pihak untuk mencari titik temu untuk melestarikan budaya banyuwangi tidak hanya masyarakat non islam tetapi juga masyarakat islam khususnya dilingkungan pesantren. Alangkah bagusnya jika ada jargon dari pesantren ‘’AKU SANTRI, AKU GANDRUNG, GANDRUNGONO TIK ‘’. atau mungkin ada jargon ‘’GANDRUNG SANTRI, GANDRUNGONO ISUN’’seperti jargon pada Festival Gandrung 1000 beberapa bulan yang lalu.

AYO DULUR-DULUR BANYUWANGI

OJO LALI AMBI BUDOYONE DEWEK

SALAM JENGGIRAT TANGI !!!

I LOVE BANYUWANGI

Renungan Nyepi 1936 / 2014 : ” Dalam Hening Temukan Kedamaian

Nyepi Dalam Hening Temukan Kedamaian
Nyepi merupakan Hari Raya Umat Hindu untuk memperingati perayaan Tahun Baru Caka. Bagi masyarakat Bali Nyepi identik dengan hari dimana kita tidak keluar rumah seharian,  Sehari setelah Ngerupuk dengan ogoh-ogoh buta kalanya, dimana malam harinya sepi dan gelap gulita karena tidak boleh menyalakan lampu, hari yang memberi kesempatan untuk“mulat sarira” (introspeksi/kembali ke jati diri) dengan merenung atau meditasi, pelaksanaanCatur Brata Penyepian atau malah ada juga yang mengidentikan dengan hari bebas untuk meceki seharian?
Tapi apakah sebenarnya Hari Nyepi itu, bagaimana sejarahnya perayaan Nyepi bisa seperti saat ini? Apa tujuan dan makna dari pelaksanaan Hari Raya Nyepi? Bagaimana cara pelaksanaannya? Itulah berbagai pertanyaan yang ada di pikiran saya, dan dengan bekal bertanya pada berbagai sumber baik dari buku dan internet akhirnya jadilah artikel ini. Semoga bermanfaat menambah pengetahuan kita tentang Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1936ini yang jatuh pada hari Jumat 31 Maret 2014. Selamat Membaca..
Sejarah Nyepi
Kondisi India sebelum Masehi, diwarnai dengan pertikaian yang panjang antara suku bangsa yang memperebutkan kekuasaan sehingga penguasa (Raja) yang menguasai India silih berganti dari berbagai suku, yaitu: Pahlawa, Yuehchi, Yuwana, Malawa, dan Saka. Diantara suku-suku itu yang paling tinggi tingkat kebudayaanya adalah suku Saka. Ketika suku Yuehchi di bawah Raja Kaniska berhasil mempersatukan India maka secara resmi kerajaan menggunakan sistem kalender suku Saka. Keputusan penting ini terjadi pada tahun 78 Masehi. Pada tahun 456 M (atau Tahun 378 S), datang ke Indonesia seorang Pendeta penyebar Agama Hindu yang bernama Aji Saka asal dari Gujarat, India. Beliau mendarat di pantai Rembang (Jawa Tengah) dan mengembangkan Agama Hindu di Jawa. Ketika Majapahit berkuasa, (abad ke-13 M) sistem kalender Tahun Saka dicantumkan dalam Kitab Nagara Kartagama. Sejak itu Tahun Saka resmi digunakan di Indonesia. Masuknya Agama Hindu ke Bali kemudian disusul oleh penaklukan Bali oleh Majapahit pada abad ke-14 dengan sendirinya membakukan sistem Tahun Saka di Bali hingga sekarang. Perpaduan budaya (akulturasi) Hindu India dengan kearifan lokal budaya Hindu Indonesia (Bali) dalam perayaan Tahun Baru Caka inilah yang menjadi pelaksanaan Hari Raya Nyepi unik seperti saat ini.
Pengertian Nyepi
Nyepi berasal dari kata “sepi”, “sipeng” yang berarti sepi, hening, sunyi,  senyap. Seperti namanya perayaan tahun baru caka bagi umat hindu di Indonesia ini dirayakan sangat berbedadengan perayaan Tahun Baru lainnya, dimana perayaan umumnya identik dengan gemerlapnya pesta dan kemeriahan, dan euforia dan hura-hura tetapi umat Hindu dalam merayakan Nyepi malah dilaksanakan dengan Menyepi, “Sepi”, “Hening”,”Sunyi”,”Senyap”.
Mungkin pertanyaan muncul dibenak kita, Mengapa perayaan Tahun Baru Caka tidak dilaksanakan dengan ramai dan pesra seperti perayan tahun baru pada umumnya? Menurut saya ini merupakan cermin kebijaksanaan dan kejeniusan lehuhur kita, dimana seperti pada perayaan Hari Raya Siwarari, leluhur kita selalu menekankan kita tentang konsep “mulat sarira”Perayaan dalam hening dan sepi agar kita belajar (instrospeksi/kembali ke jatidiri) dengan merenung, meditasi, evaluasi diri dan bertanya  tentang diri kita, siapa kita? Mengapa kita ada disini? Akan kemanakah kita nanti? Selama setahun ini apakah yang kesalahan kita yang perlu diperbaiki? Dan bukankah dalam sepi dan hening kedamaian dan kejernihan pikiran lebih mudah tercapai ?
Pelaksanaan Nyepi di Bal (Indonesia) memang unik dan istimewa,  konsep “mulat sarira” dengan “Catur Brata Penyepian” nya memang sangat relevan dengan kondisi dunia sekarang ini. Saat ini bumi kita sedang menghadapi berbagai masalah seperti global warming, alam yang rusak karena polusi dan eksploitasi besar-besaran, krisis energi dan permasalahan lainnya yang disebabkan oleh kemerosotan moral.
Perayaan Nyepi dengan Catur Brata Penyepiannya membuat Bali sebagai satu-satunya pulau di dunia yang mampu mengistirahatkan seisi pulau secara total sehari penuh dari berbagai aktivitas. Setahun sekali memberi kesempatan untuk kepada alam semesta untuk bebas menghirup  segarnya udara tanpa asap dan polusi kendaraan dan mesin. Penghematan di saat krisis energi seperti saat ini terutama energi listrik karena pada hari ini Bali mampu mengurangi sebagian besar penggunaan listrik dengan mematikan lampu-lampu dan mesin, Nyepi sehari ini ternyata bisa melakukan penghematan penggunaan listrik hingga mencapai 8 Milyar. Dengan Nyepi kita diberi kesempatan memperoleh ketenangan dan kedamaian mendengarkan kicauan burung dan nyanyian alam yang sedang tersenyum sumringah karena bisa beristirahat sejenak pada hari ini setelah setahun bekerja keras memenuhi keinginan manusia yang tidak ada habisnya.
Pelaksanaan Nyepi di Bali bisa seperti saat ini di dukung oleh Pemerintah dan Dunia Internasional dengan penutupan semua pintu masuk ke Bali mulai dari bandara dan pelabuhan-pelabuhan. Penghentian siaran radio dan TV di Bali selama 1 hari 24 jam untuk menghormati Umat Hindu yang merayakan, bahkan dunia internasional pun mengakui keluhuran dan keistimewaan pelaksanaan Nyepi di Bali dengan ramainya wacana merayakan untuk menyediakan waktu Nyepi sehari untuk dunia “World Silence Day”, ya walaupun saat ini baru  berupa wacana saja :) .
Rangkaian Pelaksanaan Nyepi
Perayaan Nyepi terdiri dari beberapa rangkaian upacara yaitu :
  1. Melasti berasal dari kata  Mala = kotoran/ leteh, dan Asti = membuang/memusnahkan, Melasti merupakan rangkaian upacara Nyepi yang bertujuan untuk membersihkan segala kotoran badan dan pikiran (buana alit), dan juga alat upacara (buana agung) serta memohon air suci kehidupan (tirta amertha) bagi kesejahteraan manusia.  Pelaksanaan melasti ini biasanya dilakukan dengan membawa arca,pretima, barong yang merupakan simbolis untuk memuja manifestasi Tuhan Ida Sang Hyang Widi Wasa diarak oleh umat menuju laut atau sumber air untuk memohon permbersihan dan tirta amertha (air suci kehidupan).  Seperti dinyatakan dalam Rg Weda II. 35.3 “Apam napatam paritasthur apah” yang artinya “Air yang berasal dari mata air dan laut mempunyai kekuatan untuk menyucikan. Selesai melasti Pretima,arca dan sesuhunan barong biasanya dilinggihkan di Bale Agung (Pura Desa) untuk memberkati umat dan pelaksanaan Tawur Kesanga.
    Melasti Mekiis Memohon Air Suci Sebelum Melaksanakan Nyepi
    Melasti Mekiis Memohon Air Suci ke Laut Sebelum Melaksanakan Nyepi
  2. Tawur Agung/Tawur Kesanga atau Pengerupukan dilaksanakan sehari menjelang Nyepi yang jatuh tepat pada Tilem Sasih Sesanga. Pecaruan atau Tawur dilaksanakan dicatuspata pada waktu tepat tengah hari. Filosofi Tawur adalah sebagai berikut tawur artinya membayar atau mengembalikan. Apa yang dibayar dan dikembalikan? Adalah sari-sari alam yang telah dihisap atau digunakan manusia. Sehingga terjadi keseimbangan maka sari-sari alam itu dikembalikan dengan upacara Tawur/Pecaruan yang dipersembahkan kepada Bhuta sehingga tidak menggangu manusia melainkan bisa hidup secara harmonis (butha somya). Filosofi tawur dilaksanakan di catuspata menurut Perande Made Gunung agar kita selalu menempatkan diri ditengah alias selalu ingat akan posisi kita, jati diri kita, dan  perempatan merupakan lambang tapak dara, lambang keseimbangan, agar kita selalu menjaga keseimbangan dengan atas (Tuhan), bawah (Alam lingkungan), kiri kanan (sesama manusia).  Setelah tawur pada catus pata diikuti oleh upacara pengerupukan, yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Pada malam pengerupukan ini, di bali biasanya tiap desa dimeriahkan dengan adanya ogoh-ogoh yang diarak keliling desa disertai dengan berbagai suara mulai dari kulkul, petasan dan juga “keplug-keplugan” yaitu sebuah bom khas bali yang mengeluarkan suara keras dan menggelagar seperti suara bom, yang dihasilkan dari proses gas dari karbit dan air yang dibakar mengeluarkan suara ledakan yang mengelegar. Ogoh-ogoh umumnya dengan rupa seram, mata melotot, susu menggelantung yang melambangkan buta kala dalam berbagai rupa, juga menunjukkan kreativitas dari orang Bali yang luar biasa yang terkenal akan seni dan budayanya
  1. Nyepi jatuh pada Penanggal Apisan Sasih Kedasa (tanggal 1 bulan ke 10 Tahun Caka). Umat Hindu merayakan Nyepi selama 24 jam, dari matahari terbit (jam 6 pagi) sampai jam 6 pagi besoknya. Umat diharapkan bisa melaksanakan “Catur Brata Penyepian”yaitu : Amati Geni artinya tidak boleh berapi-api baik api secara fisik maupun api didalam diri (nafsu). Amati Karya  artinya tidak boleh beraktivitas/bekerja. Amati Lelungan, dari kata lelunga yang artinya bepergian, artinya tidak boleh bepergian keluar rumah. Amati Lelanguan artinya tidak boleh bersenang-senang/ menyalakan TV/radio yang bersifat hiburan. Dengan adanya Catur Brata Penyepian ini, mengingatkan kita agar belajar pendalian diri dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian sehingga kita bisa fokus dan berkonsentrasi dengan baik untuk mulat sarira (kembali ke jati diri) melalui perenungan dan meditasi. Tetapi dalam kenyataannya di masyarakat, masih banyak umat pada saat Nyepi malah menyalahgunakannya untuk berjudi “meceki” seharian.  Selain Catur Brata Penyepian, bagi yang umat yang mampu akan sangat bagus jika pada Nyepi bisa melaksanakan tapa, brata, yoga, samadi misalnya dengan puasa selama 24 jam, dan juga monobrata yaitu tidak ngomong alias puasa berbicara sambil selalu memfokuskan pikiran kepada Tuhan Ida Sang Hyang Widi Wasa.
  2. Ngembak Geni berasal dari kata ngembak yang berarti mengalir dan geni yang berarti api yang merupakan symbol dari Brahma (Dewa Pencipta) maknanya pada hari ini tapa brata yang kita laksanakan selama 24 Jam (Nyepi) hari ini bisa diakhiri  dan kembali bisa beraktivitas seperti biasa, memulai hari yang baru untuk berkarya dan mencipta alias berkreativitas kembali sesuai swadharma/kewajiban masing-masing. Ngembak geni biasanya diisi dengan kegiatan mengunjungi kerabat dan saudara untuk mesima krama, bertegur sapa sambil mengucapkan selamat hari raya dan bermaaf-maafan. Dharma Santi juga biasanya diselenggarakan setelah Nyepi yaitu dengan mengadakan dialog keagamaan sekaligus tempat untuk mesimakrama alias bersilaturahmi dengan sesama.
Makna Nyepi
Jika kita renungi secara mendalam perayaan Nyepi mengandung makna dan tujuan yang sangat dalam dan mulia. Seluruh rangkaian Nyepi merupakan sebuah dialog spiritual yang dilakukan umat Hindu agar kehidupan ini selalu seimbang dan harmonis sehingga ketenangan dan kedamaian hidup bisa terwujud. Mulai dari Melasti/mekiis dan nyejer/ngaturang bakti di Balai Agung adalah dialog spiritual manusia dengan Alam dan Tuhan Yang Maha Esa, dengan segala manifetasi-Nya serta para leluhur yang telah disucikan. Tawur Agung dengan segala rangkaiannya adalah dialog spiritual manusia dengan alam sekitar dan ciptaan Tuhan yang lain yaitu para bhuta demi keseimbangan bhuana agung bhuana alit. Pelaksanaan catur brata penyepian merupakan dialog spiritual antara diri sejati (Sang Atma) umat dengan sang pendipta (Paramatma) Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam diri manusia ada atman (si Dia) yang bersumber dan sang Pencipta Paramatma (Beliau Tuhan Yang Maha Esa). Dan Ngembak Geni dengan Dharma Shantinya merupakan dialog spiritual antara kita dengan sesama.
Sehingga melalui Perayaan Nyepi, dalam hening sepi kita kembai ke jati diri (mulat sarira) dan menjaga keseimbangan/keharmonisan hubungan antara kita dengan Tuhan, Alam lingkungan (Butha) dan sesama sehingga Ketenangan dan Kedamaian hidup bisa terwujud.
Hari Raya Nyepi merupakan hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap Tahun Baru Saka. Dimana pada hari ini umat hindu melakukan amati geni yaitu mengadakan Samadhi pembersihan diri lahir batin. Pembersihan atas segala dosa yang sudah diperbuat selama hidup di dunia dan memohon pada yang Maha Kuasa agar diberikan kekuatan untuk bisa menjalankan kehidupan yang lebih baik dimasa mendatang.
Hari Raya Nyepi jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang diyakini saat baik untuk mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa dan dipercayai merupakan hari penyucian para dewa yang berada dipusat samudra yang akan datang kedunia dengan membawa air kehidupan (amarta) untuk kesejahteraan manusia dan umat hindu di dunia.
Makna Hari Raya Nyepi
Nyepi asal dari kata sepi (sunyi, senyap). yang merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan kalender Saka, kira kira dimulai sejak tahun 78 Masehi. Pada Hari Raya Nyepi ini, seluruh umat Hindu di Bali melakukan perenungan diri untuk kembali menjadi manusia manusia yang bersih , suci lahir batin. Oleh karena itu semua aktifitas di Bali ditiadakan, fasilitas umum hanya rumah sakit saja yang buka.
Upacara sebelum hari Nyepi
Ada beberapa upacara yang diadakan sebelum dan sesudah Hari Raya Nyepi , yaitu:
Upacara Melasti
Selang waktu dua tiga hari sebelum Hari Raya Nyepi, diadakan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis, dihari ini, seluruh perlengkapan persembahyang yang ada di Pura di arak ke tempat tempat yang mengalirkan dan mengandung air seperti laut, danau dan sungai, karena laut, danau dan sungai adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa membersihkan dan menyucikan dari segala kotoran yang ada di dalam diri manusia dan alam.
Upacara Bhuta Yajna
Sebelum hari Raya Nyepi diadakan upacara Bhuta Yajna yaitu upacara yang mempunyai makna pengusiran terhadap roh roh jahat dengan membuat hiasan atau patung yang berbentuk atau menggambarkan buta kala ( Raksasa Jahat ) dalam bahasa bali nya sebut ogoh ogoh, Upacara ini dilakukan di setiap rumah, Banjar, Desa, Kecamatan, Kabupaten dan Provinsi. Upacara ini dilakukan di depan pekarangan , perempatan jalan, alun-alun maupun lapangan,lalu ogoh ogoh yang menggambarakan buta kala ini yang diusung dan di arak secara beramai ramai oleh masyarakat dengan membawa obor di iringi tetabuhan dari kampung kekampung, upacara ini kira kira mulai di laksanakan dari petang hari jam enam sore sampai paling lambat jam dua belas malam, setelah upacara ini selesai ogoh ogoh tersebut di bakar, ini semua bermakna bahwa seluruh roh roh jahat yang ada sudah diusir dan dimusnahkan Saat hari raya Nyepi, seluruh umat Hindu yang ada di bali wajibkan melakukan catur brata penyepian.
Ada empat catur brata yang menjadi larangan dan harus di jalankan :
Amati Geni: Tidak menyalakan api serta tidak mengobarkan hawa nafsu.
Amati Karya: Tidak melakukan kegiatan kerja jasmani, melainkan meningkatkan kegiatan menyucikan rohani.
Amati Lelungan: Tidak berpergian melainkan mawas diri,sejenak merenung diri tentang segala sesuatu yang kita lakukan saat kemarin , hari ini dan akan datang.
Amati Lelanguan: Tidak mengobarkan kesenangan melainkan melakukan pemusat.
Pikiran terhadap Sang Hyang Widhi Brata ini mulai dilakukan pada saat matahari “Prabata” saat fajar menyingsing sampai fajar menyingsing kembali keesokan harinya, selama (24) jam.
Upacara setelah Nyepi
Upacara Hari Ngembak Geni berlangsung setelah Hari Raya Nyepi berakhirnya ( brata Nyepi ). Pada esok harinya dipergunakan melaksanakan Dharma Shanty, saling berkunjung dan maaf memaafkan sehingga umat hindu khususnya bisa memulai tahun baru Caka dengan hal hal baru yang fositif,baik di lingkungan keluarga maupun di masyarakat, sehingga terbinanya kerukunan dan perdamaian yang abadi Menurut tradisi, pada hari Nyepi ini semua orang tinggal dirumah untuk melakukan puasa, meditasi dan bersembahyang, serta menyimpulkan menilai kualitas pribadi diri sendiri.
Di hari ini pula umat Hindu khususnya mengevaluasi dirinya, seberapa jauhkah tingkat pendekatan rohani yang telah dicapai, dan sudahkah lebih mengerti pada hakekat tujuan kehidupan di dunia ini. Seluruh kegiatan upacara upacara tersebut di atas masih terus dilaksanakan, diadakan dan dilestarikan secara turun menurun di seluruh kabupaten kota Bali hingga saat ini dan menjadi salah satu daya tarik adat budaya yang tidak ternilai harganya baik di mata wisatawan domestik maupun manca negara.
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa makna Nyepi itu sendiri adalah manusia diajarkan untuk mawas diri, merenung sejenak dengan apa yang telah kita perbuat. Dimasa lalu, saat ini dan merencanakan yang lebih baik dimasa yang akan datang dengan tidak lupa selalu bersykur dengan apa yang telah diberikan oleh sang Pencipta Bagi anda yang sibuk dengan pekerjaan dan rutinitas yang begitu padat ada baik nya anda meluangkan waktu sejenak keluar dari hiruk pikuk tersebut dan datang ke Bali sekedar introspeksi diri bahwa dalam kehidupan ini mempunyai terkaitan antara satu dan lain nya dan tidak lupa menyaksikan keadaan di Bali saat hari raya Nyepi akan terasa bedanya.
Sumber :

Om Swastiastu : ” Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1936

Senin,31 Maret 2014

Salam Jenggirat Tangi !!!

‘ Om Swastiastu ”

Saya Pribadi Selaku Admin

Padepokan Mas Say Laros

Mengucapkan 

Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1936

Mudah-mudahan dalam Suasana Nyepi ini

Kita Semua Menemukan Kedamaian

7 Kebiasaan Buruk Cowok Kost – Kosan

Nah, ini nih yg paling banyak ditemukan pada cowok yg ngekos, jangan-jangan sobat GMC salah satunya…. hayo ngaku aja deh…  atau masih ada yg lain? 

1. Merokok Sembarangan
Merokok sendiri adalah salah satu kebiasaan yang tidak sehat dan sering terjadi pada cowok. Namun kebiasaan yang sering dilakukan oleh cowok kost adalah ketika membuang abu rokok dan puntungnya, sering pada tempat yang tidak tepat. Tempat yang sering kena sasaran adalah piring, gelas sampai buku kuliah juga ikut kena . Hal ini jelas buruk karena barang-barang tersebut notabenenya masih sering digunakan

2. Tidak Kenal Sarapan
Di kamus para cowok kost gak kenal namanya sarapan, orang kuliah jam 7 saja bangunnya jam 7 kurang 15 menit, gimana mau sarapan coba . Padahal sarapan sendiri punya peran penting untuk menyuplai energi dalam beraktivitas

3. Hobi Nimbun
Sering malas cuci piring sehabis makan, nimbun pakaian kotor sampai berminggu-minggu atau senang mengoleksi makanan sampai kadaluarsa? Wah,bisa jadi tempat berkembang bakteri salmonella penyebab tifus, tuh. Makanya untuk para cowok kost biasakan menutup makanan agar tak dihinggapi lalat dan kosongkan tempat sampah setiap hari supaya sampah basah yang cepat busuk segera terbuang.

4. Koleksi Banyak Binatang Peliharaan
Maksudnya bukan anjing atau kucing, melainkan tungau. Hewan tak kasat mata ini senang tinggal di tempat lembap dan gelap seperti kasur. Jadi biasakan rutin mengganti seprai seminggu sekali, dan menghindari pemakaian karpet di dalam kamar yang bisa menjadi sarang tungau.

5. Tidak Ganti Celana Dalam
Sebagian besar cowok kostan memiliki kebiasaan mengenakan celana dalam yang sama selama berhari-hari. cara unik yang digunakan adalah dengan cara membalik celana dalam, jd celana dalam seperti kaset tape, ada side A dan side B. Mungkin pada takut cucian numpuk kali ya. Hal ini sangat tidak dianjurkan si karenakan untuk menjaga kebersihan kelamin, pria harus mengganti celana dalam setidaknya dua kali sehari.

6. Tidak Mandi
Sebagian besar cowok kostan merasa malas untuk mandi setiap hari. Ini adalah salah satu kebiasaan tidak sehat yang tidak hanya merusak kesehatan, tetapi juga meningkatkan panas tubuh.

7. Begadang
Sebagian besar cowok kostan memiliki kebiasaan tidur larut malam. Mereka kerap merasa tidak mengantuk sebelum mencapai pukul 12 atau jam 1 pagi. Entah itu nonton bola atau nongkrong-nongkrong ngomongin dosen sama teman sekost (kadang ngerjain tugas juga sih). Itulah sebabnya, cowok kost sering merasa kelelahan keesokan harinya. Bahkan waktu kuliah masih pagi saja mulut rasanya pengin menguap terus. Tidur tepat waktu adalah praktik sehat yang harus dilakukan.

NB : dari berbagai sumber.

Filosofi Pemimpin : ”Pemimpin Itu Harus Seperti Alat Reproduksi Pria

Menurut saya jadi pemimpin yang baik itu dapat kita pelajari dari alat Reproduksi Pria

  1. Tidak pernah menonjolkan diri tapi tampil paling depan saat dibutuhkan.
  2. Ada saatnya keras, ada saatnya lembut (menahan diri – tahu situasi).
  3. Dapat melahirkan generasi penerus baru.
  4. Bisa “menyerang” pihak lawan dengan tetap memberi kenyamanan.
  5. Walau terjadi gesekan-gesekan antara kedua belah pihak, namun pada akhirnya semua bahagia.
  6. Setelah sukses mencapai target, posisi dan kedudukan, tidak berbesar kepala atau sombong namun selalu mengecilkan diri.

Sekilas Info Bahasa Binan, Bahasa Gaul Kaum LGBTIQ

Salam Jenggirat Tangi !!!

Selamat Datang di Padepokan Mas Say Laros !!!

            Saat ini Mas Say Laros merupakan mahasiswa Pascasarjana disalah satu kampus negeri di Jawa Timur sebagai mahasiswa Pascasarjana sudah barang tentu kita mendiskusikan hal-hal yang kadang-kadang diluar materi kuliah mulai masalah cewek, Politik, budaya sampai hal-hal yang berbau SEX pun sering kita diskusikan ya maklumlah 88% teman sekelas Mas Say Laros adalah orang yang sudah berkeluarga rata-rata berumur 30 keatas dan sudah bekerja dibeberapa Instansi pemerintah maupun swasta.

            Dari pertemanan dengan mereka itulah saya sering menemukan Hal-hal baru bahkan kadang-kadang saya menemukan sesuatu yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Nach dari sekian diskusi menarik tersebut adalah ada salah satu teman yang agak alay-alay gitu dech dia merupakan mantal model. yang bikin risih awalnya adalah ketika dia selalu memakai bahasa Binan atau bahasa gaulnya kaum LGBTIQ (Lesbian Gay Biseks Transgender Interseks dan Queer) seperti lekong, sekong dan kong kong lainnya. Namun mungkin karena sering mendengar bahasa itu ya jadi Mas Say Laros menjadi lebih terbiasa mendengarnya ya hitung-hitung bisa untuk tambahan Ilmu pengetahuan lah. Kepada pengunjung setia blog www.kanal3.wordpress.com kali ini MSL akan sedikit share tentang informasi bahasa binan yang saya dapat dari berbagai sumber mudah-mudahan bermanfaat  gak harus setuju dengan mereka anggap aja sebagai tambahan wawasan.

1. Bahasa ‘si’.

Menggunakan awalan si + suku kata pertama + konsonan awal suku kata ke dua.

Contoh:

- Lanang -> si + lanang -> silan. – Wedok -> si + wedok -> siwed.

Biasa digunakan di Jawa oleh kawan-kawan senior, sehingga banyak memakai kata-kata dari bahasa Jawa.

2. Bahasa ‘ong’

Merubah bunyi suku kata pertama/ke dua/ke tiga menjadi e + akhiran ong pada suku kata terakhir.

Contoh:

Makan -> mekong. Laki -> lekong. Banci -> bencong. Perempuan -> perempewong -> pewong. Polisi -> polesong. Main -> meong.

3. Bahasa ‘es’.

Merubah bunyi suku kata pertama/ke dua/ke tiga menjadi e + akhiran es pada suku kata terakhir.

Contoh:

Makan -> mekes. Laki -> lekes. Perempuan -> perempewes -> pewes. Dukun -> dekes.

4. Bahasa ‘in’.

Memberikan sisipan in di tiap suku kata, lalu disingkat dalam pengucapannya.

Contoh:

- Bule -> binuline -> binul. – Banci -> binancini -> binan. – Laki -> linakini -> linak.

5. Bahasa kiasan/perumpamaan.

Menggunakan kiasan/perumpamaan dalam menyebut seseorang, atau perilaku tertentu.

Contoh:

- Jeruk -> pemeras. – Kucing -> pekerja seks laki-laki.

- Potong roti -> trampil mencopet dompet.

- Tumpuk apem, cuci wc, terong penyet -> beberapa cara perilaku seksual.

6. Bahasa plesetan.

Memplesetkan kata-kata yang diucapkan dan terkadang juga ditambahi kata-kata lain yang terait.

Contoh:

- Makan -> makassar, makarena, makarizo.

- Gila -> gilingan -> gilingan padi -> gilingan padi di sawah.

- Ngantuk -> ngatiyem -> ngatiyem binti ngatimin.

Selain cara-cara di atas sebagai pembentukan kata-kata dalam Bahasa Binan yang sudah kita kenal, tidak menutup kemungkinan masih ada cara-cara lain yang mungkin belum banyak orang tahu. Kekayaan bahasa daerah di negeri ini juga sangat mempengaruhi pembentukan Bahasa Binan lokal di daerah. Hal ini menunjukkan kreativitas kawan-kawan LGBTIQ dalam menciptakan istilah istilah baru dalam berkomunikasi. Bagaimana dengan kamu? Punya istilah baru?

( Sumber : IBHOED,Majalah GN 02/07 )

Umbul-Umbul Blambangan Oleh PSM Melodi Sastra Universitas Jember

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 62 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: