Meneladani Kisah Prabu Tawang Alun Banyuwangi

Meneladani Kisah Prabu Tawang Alun Banyuwangi

Salam Jenggirat Tangi !!!

Selamat Datang Di Padepokan Mas Say Laros

Oleh : Budi Wiriyanto :

Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur menyimpan sejuta cerita sejarah. Wilayah di ujung timur Pulau Jawa ini juga identik dengan peninggalan zaman Majapahit. Sebelum menjadi kabupaten, daerah ini dikenal dengan nama Blambangan. Penguasa yang paling terkenal adalah Prabu Tawangalun. Bekas peninggalan kerajaan ini banyak ditemukan di Desa Macanputih, Kecamatan Kabat.

Tidak ada prasasti yang menyebutkan tentang kisah Tawangalun. Namun dari penelusuran para sejarawan, raja Hindu ini memerintah sekitar tahun 1645-1691. Kepastian tahun ini didapatkan dari tulisan Leukerker, penulis dari Belanda. Dikisahkan, Tawangalun adalah salah satu keturunan dari Prabu Brawijaya, raja Majapahit dari keluarga di pegunungan Tengger.

Silsilah Tawangalun berawal dari Lembu Anisroyo, bangsawan dari daerah Tengger, Bromo. Dari bangsawan ini lahirlah Ario Kembar yang memiliki putra Bima Koncar atau Minaak Sumende, dilanjutkan dengan Minak Gadru atau Minak Gandrung, kemudian Minak Lampar atau Minak Lumpat. Dari bangsawan terakhir ini nama Tawangalun muncul, yakni Tawangalun I dan Tawangalun II.

Ada dua babad berbeda yang mengisahkan kebesaran Tawangalun I dan II. Menurut babad Sembar, kemunculan Tawangalun diawali penyerbuan Minak Lumpat ke keracon Kedawung. Saat itu, Kedawung dengan wilayah Lumajang, Malang dan Blambangan dikuasai oleh Pangeran Singosari.

Penyerbuan itu berhasil. Pangeran Singosari takluk dan kabur ke Mataram meminta perlindungan Sultan Agung. Peristiwa ini meletus sekitar tahun 1638-1639. Saar kabur, Pangeran Singosari membawa Putranya Mas Kembar Sepuluh tahun berselang. Mas Kembar dikawinkan dengan selir Sultan Agung yang hamil tiga bulan. Kemudian dijadikan raja di Blambangan setelah menaklukan wilayah ini. Tahun 1645, Mas Kembar dilantik menjadi raja Blambangan di Probolinggo dan bergelar Prabu Tawangalun. Oleh Sultan Agung dia diperintahkan melindungi Blambangan dari serangan Bali.

Setelah dilantik, Mas Kembar berniar membebaskan diri dari Mataram dengan bantuan keris si Gagak milik gurunya, Ki Wongso Karyo. Dikisahkans penguasa Mataram, Amangkurat I yang dikenal dengan Pangeran Kadilangu. haus dan kepingin minum keris orang Blambangan. Kala itu, keris Wongso Karyo berubah menjadi air, lalu diminum. Saat bersamaan, Mas Kembar pamit pulang ke Blambangan. Saat itulah, keris Wongso Karyo keluar lagi dari dada Pangeran Kadilangu, dan membuatnya tewas.

Melihat lawannya tewas, Mas Kembair mengajak bawahannya diperintahkan menggelar perang besar yang dikenal dengan perang undur-undur. Senopati Blambangan dengan kesaktiannya mencabut pohon kelapa, lalu mengibaskannya di sepanjang jalan yangdilewati. Sekitar tahun 1676,Tawangalun dinobatkan sebagai raja Blambangan yang bebas dari kekuasaan Mataram dengan gelar Susuhunan Blambangan.

Versi lainnya, dalam babad Tawangalun dituliskan Mas Kembar adalah bapak dari raja Tawangalun. Selama menjadi Nama kerajaan ini tetap hidup hingga sekarang dan menjadi Desa Macanputih. Konon, nama Macan Putih adalah kendaraan Tawangalun.yakni seekor harimau putih. Harimau ini diyakini sebagai penjelmaan guru spiritual Tawang alun.

Ceritanya, setelah perang saudara dengan adiknya, Mas Wilo, Tawangalun merasa menyesal. Setelah membunuh adiknya, Tawangalun bersemadi di hutan Rowo Bayu, Songgon. Kala itu, bangsawan ini mendapat wangsit diminta berjalan ke arah timur petunjuk, Tawangalun diminta rnenaiki harimau itu.

Begitu naik, harimau tersebut membawaanya kea rah timur laut dan menghilang di daerah kabat. Tempat menghilangnya harimaau itulah kemudian didirikan istana bernama Macanputih. Konon, istana itu dibuat Kongco Banyuwangi selama 5 tahun 10 bulan. Tinggi benteng istananya diperkirakan mencapai 3 meter dengan lebar 2 meter. Kehebatan benteng Macanputih masih bisa ditemukan hingga sekarang. Ukuran batu merah yang digunakan mencapai 30×20 cm berbahan batu cadas putih. Sejumlah benda peninggalan Zaman itu juga banyak ditemukaan disekitar lokasi.

Sejarawan Universitas Gajah Mada (UGM), Jogjakarta, Sri Margana menjelaskan nama Tawangalun berkaitan dengan kerajaan Blambangan yang juga rangkaian dari Majapahit. Sesuai silsilahnya, Blambangan pernah berpindah sebanyak 7 kali. Pertama di bangun Disekitar Pasuruan, JawaTimur. Karena tetjadi pemberontakan, pusat kerajaan pindah ke Macanputih, Kabat dengan raja Tawangalun II. Dahulu desa Macanpulih dikenal dengan nama Sudiamala. Dijelaskan, Kerajaan Prabu Tawangaalun II ini dikenal sebagai kerajaan Hindu terakhir di tanah Jawa. Kerajaanya berjaya selama 36 tahun, periode 1655-1691. Setelah rajanya wafat, kerajaan ini hancur dan berubah menjadi kerajaan kecil di bawah kekuasaan Bali.

Pusat Kerajaan Blambangan di Macanputih memiliki luas 4,5 kilometer persegi dengan jumlah pasukan 36.000 orang dan pelayan kerajaan sebanyak 1000 orang. Istana Macanputih diyakini sempat berpindah tiga kali, terutama di daerah Wijenan, Keblak dan Lateng. Tiga daerah ini terletak di lereng timur laut gunung raung. Kini, ketiganya berada dalam dua wilayah kecamatan, Rogojampi dan Kabat.

Selain sakti, Prabu Tawangalun dikenal dengan sifat religiusnya. Raja ini mangkat tanggal 18 September 1691. Kemudian di aben tanggal 13 Oktober 1691 di plecutan dalam istana Macan Putih. Menurut Sri Margana, saat ngaben tersebut dari 400 permaisuri Tawang Alun, 270 diantaranya mengikuci upacara bakar diri bersama sang raja. Sebelum meninggai, Prabu Tawangalun sempat meminta bantuan Belanda dari serangan Untung Suropati dari Pasuruan.JawaTimur.

Kala itu, Pangeran Puger dari Mataram bersama Untung Suropati berniat menaklukan Blambangan. Merasa terancam Tawangalun meminta bantuan kekuatan Belanda. Tanggal 14 September 1961, dua utusan Belanda, Jeremeas Van Flic dan Van Sen tiba. Namun empat hari berselang, Prabu Tawangalun keburu meninggal. Setelah itu, Macan Putih diserang Mataram dan hancur. Versi lainnya, hancurnya kerajaan Macan Putih karena terkena lahar api letusan gunung Raung. Sejak itulah, istana itu diwariskan ke sisa keturunan Tawangalun. Dari keturunan itulah, nama Banyuwangi yang akhirnya menjadi wilayah kabupaten ujung timur Jawa muncul.

Dalam catatan sejarah, Blambangan dikenal paling kuat mempertahankan kekuasaan. Tercatat lebih dari tujuh serangan besar dari kerajaan lain menyerang Blambangan. Seluruhnya berhasil dipukul mundur. Serangan paling besar datang dari penguasa Mataram. Bali juga sempat melakukan penyerangan ke Blambangan. Namun akhirnya berdamai. Selama mernpertahankan kekuasaan, Blambangan selaiu mendapat dukungan dari raja-raja di Bali. Karena itu, Banyuwangi sampai sekarang memiliki ikatan historis dengan Bali.

Berkumpulnya Pengikut Kejawen

Sisa peninggalan zaman Prabu Tawangalun banyak tersebar di Desa Macanputih, Kecamatan Kabar. Sayangnya, situs purbakala icu banyak yang hancur. Bahkan puiiah tanpa bekas. Sedikknya, ada tiga lokasi yang masih bisa dirasakan nuansa kerajaan. Masing-masing Watu Ungkal, Mangkuto Romo dan Sanggar Pamujan. Ketiganya berada di areal Desa Macanputih.

Watu Ungkal dipercaya bekas tempat mengasahnya senjata saat membabat hutan sebelum mendirikan kerajaaan Macanputih

Di tempat ini ditemukan batu berukuran besar. Watu dalam bahasa Jawa disebut batu, sedang ungkal berarti mengasah. Mangkuto Romo adalah tempat meditasinya raja Tawangalun. Di tempat ini sekarang didirikan sebuah balai besar. Sanggar Pamujan diyakini tempat bersembahyangnya para keluarga kerajaan. Di lokasi ini dibangun sebuah tempat mirip situs kuno.

Hampir seluruh bekas keraton Tawangalun berada di Desa Macanputih. Banyaknya situs yang ditemukan sebagai bukti kebesaran kerajaan ini, Warga di Desa ini sejak dulu sering menemukan benda-benda kuno. Seperti patung, perabot rumah tangga.bahkan bekas kereta. Sayangnya, tak satu pun yang peduli merawatnya. Kebanyakan begitu ditemukan langsung dijual atau. dikoleksi sendiri secara diam-diam.

Dari sejumlah situs, Mangkuto Romo dan Sanggar Pamujan paling sering dikunjungi warga. Terutama para pengikut Kejawen atau filosofi Jawa kuno. Dua lokasi ini dipercaya masih memiliki kekuatan supranatural tinggi. Hari-hari tertentu, dua lokasi ini banyak diserbu warga. Apalagi jelang pesta demokrasi kemarin. Para caleg berebut mendatangi tempat ini untuk meminta berkah.

Sanggar Pamujan terletak di tengah perkebunan tebu. Lokasinya cukup terpencil dari perkampungan warga. Untuk mencapai tempat ini, pengunjung bisa menggunakan kendaraan roda ernpat hingga ke lokasi. Meski tergolong situs, Sanggar Pamujan masih berstatus tanah pribadi. Luasnya sekitat 30 m2.

Lokasi tersebut sering dikenal dengan istilah Perilasan. Tempat ini pertama kali ditemukan sejak zaman penjajahan Belanda. Ceritanya, salah satu pejuang Banyuwangi, Kopral Mustareh sedang melakukan penyerangan melawan Belanda. Keajaiban muncul kerika pejuang ini mulai terdesak. Sesosok orang aneh Merasa dilindungi, Mustareh menjadi penasaran. Dia pun mencoba berkenalan dengan orang aneh tersebut. Saat didekati, orang tak dikenal itu mengaku dari Banyuwangi, tempatnya di tengah hutan dan terdapat pohon mlinjo tua.Usai berkata tersebut, orang tak dikenal itu langsung menghilang.

Pulang dari berjuang, Mustareh mencoba mencari lokasi yang dimaksud. Setelah bermeditasi, ditemukanlah dua pohon mlinjo besar dan tua. Di sekitar lokasi diremukan tumpukan bata mirip tembok istana dan sebuah lempengan batu menyerupai tempat duduk. Di tempat ini akhirnya dibuat tanda petilasan. Di sekitar lokasi terdapat beberapa pohon mlinjo berusia ratusan lahun. Anehnya lagi, ada sepasang pohon berbeda, beringin dan kemuning yang dahannya menyatu. Konon, pohon ini berkasiat

Petilasan ini pertama kali dibangun sekitar tahun 1964. Awalnya, di atas lempengan batu ditempatkan sebuah mahkota terbuat dari tanah liat. Di sekilingnya dibangun atap berbentuk segi enam. Tahun 1981, petilasan diperlebar dengan berdirinya bangunan lebih besar. Lantai petilasan juga dikeramik. Sejak itulah, petilasan Tawangalun menjadi terkenal.

Pengunjung datang dari herbagai daerah. Seperti Bali, Lombok, Flores dan kota-koca besar di Jawa. Warga luar negeri dari Malaysia dan Australia juga sempat berkunjung. Biasanya, mereka menggelar ritual meditasi dan renungan suci. Khusus umat Hindu Bali, mereka datang saat hari raya Galungan dan Kuningan. Pengunjung kebanyakan datang pada malam hari. Juru kunci petilasan tidak mernbatasi mereka yang berkunjung. ” Ini terbuka untuk umum, syaratnya tidak boleh membuat keributan,” ujar Nurudin yang juga juru kunci generasi ke-3 ini.

Menariknya, meski ramai pengunjung. petilasan tersebut tidak diberikan penerangan lampu, Alasannya kata Nurudin, itu sesuai petunjuk dari eyang Tawangalun. Dia mengaku susuhunan (panggilan Tawang alun), tidak berkenan petilasan tersebut diberikan lampu. Secara kenyataan, jika petilasan tersebut diberikan lampu akan rnengundang bahaya. Lokasinya yang sepi menjadi sasaran empuk orang jahat.

Selain petilasan, beberapa peningalan lainnya juga kerap kali didatangi pengunjung. Sayangnya, hingga kini belum ada kepedulian Pemkab Banyuwangi untuk menjadikan lokasi sejarah itu menjadi obyek wisata. Sementara ini, pengunjung hanya mengetahui dari kelompok mereka masing-masing.

Kebesaran Tawangalun tak hanya terlihat dari petilasannya. Zaman penjajahan Belanda, daerah ini menjadi pusat batalyon Tencara Keamanan Rakyat (TKR) warga Banyuwangi. Nama bataliyon itu adalah Macan Putih, disesuaikan dengan bekas kerajaan Macan Putih yang terkenal. Konon, bataliyon ini paling sulit ditaklukan Belanda dan Inggris.

Untuk mengenang perjuangan bataliyon tersebut di beberapa sudut Desa Macan Putih berdiri sejumlah monumen bataliyon di bawah pimpinan Letkot. R. Ahmad Rifai itu. Termasuk beberapa tembok yang menandakan batas dari keraton Macanputih. Beberapa perabot kuno berbahan keramik juga dipajang dalam monument. Sayang, berdirinyaa monument itu belum bisa diterima warga setempat. Sejumlah bangunan monumen sempat dirusak warga. Seluruh monumen ini didirikan oleh para pemerhati budaya dan sejarah Blambangan yang tergabung dalam tim independen Banyuwangi.

Moksa di Rowo Bayu

Peninggalan Tawangalun yang paling terkenal adalah Rowo Bayu. Tempat ini dipercaya sebagai lokasi bersemadi Prabu Tawangalun sebelum mendirikan keraton Macanputih. Rowo Bayu adalah danau kecil di puncak bukit di Desa Bayu, Kecamatan Songgon, sekitar 80 km arah barat daya kota Banyuwangi.

Kawasan ini dianggap menyinipan kekuatan magis. Selain di tengah hutan, tempat ini memiliki empat mata air suci. Masing-masing, sumber Kaputran, Dewi Gangga, Kamulyan dan Sumber Ratu. Letaknya persis di atas danau Rowo Bayu. Konon, mata air suci ini muncul selama Tawangalun melakukan semedi dan moksa di tempat itu.

Dari sekian mata air, sumber Karnulyan yang paling disucikan. Mata air ini muncul langsung dari bongkahan batu. letaknya di samping batu petilasan tempat bersemadi Prabu Tawangalun. Zaman dahulu, mata air ini digunakan menyucikan diri sebelurn melakukan semadi. Menurut cerita, sumber Kamulyan pertama kali ditemukan sesepuh Desa Bayu, Mbah Sudirjo, sekitar tahun 1960-an. Kala itu, muncul tulisan emas di atas mara air tersebut.

Rowo Bayu ditetapkan sebagai salah satu obyek wisata oleh Pemkab Banyuwangi. Kini, kawasan di tengah hutan pinus tersebut dipermak menjadi kawasan wisata alam dan spiritual. Petilasan Tawangalun juga dibangun mirip sebuah candi. Tempai ini menjadi jujugan para pencari spiritual dari berbagai daerah.

Wisata Rowo Bayu dulunya berupa rawa dan hutan bambu. Baru sekitar tahun I960, daerah ini mulai dijamah warga. Sebelumnya, daerah tersebut menjadi kawasan angker. Sejak dibabat warga, sudah dua juru kunci yang merawat kawasan Rowo Bayu. Pertama, perangkat desa setempat menunjuk juru kunci perempuan. Namun hanya bertahan tidak lebih setahun. Kemudian mengundurkan diri.

Kemudian dilanjutkan oleh dua juru kunci laki-laki, Mbah Saji (70) dan Jimis (72), keduanya warga setempat. Sayangnya, mereka lupa tahun berapa rnulai mengabdi menjadi juru kunci. Ada pengalaman menarik ketika mbah Saji pertama kali masuk Rowo Bayu. Kala itu, dia mendengar suara tangisan dari arah atas mata air. Merasa curiga, pria lanjut usia ini mendekat. Begitu dilihat, dia mendapati mata air suci itu dipenuhi batang bambu. Saking kotornya, hampir menyerupai air rawa.

Merasa terpanggil, mbah Saji dengan suka rela membersihkan tempat tersebut. Selama 45 hari, pria ini bekerja sendirian membersihkan mata air itu. Beberapa bulan kemudian, satu warga lainya, Jimis terusik hatinya. Pria ini pun ikut merawat dan membersihkan sekitar mata air. Termasuk seluruh kawasan Rowo Bayu.

Perjuangan mbah Saji dan Jimis membuahkan hasil. Sejak itu, Rowo Bayu mulai tertata. Penataan Rowo Bayu bertambah ketika Banyuwangi dipimpin Bupati Samsul Hadi, tahun 2000 silam. Kawasan ini tesmi dijadikan obyek pariwisata. Selain petilasan Tawangalun, Rowo Bayu dikenal dengan perang puputan Bayu, rahun 1771. Kala itu, pejuang Blambangan berperang habis-habisan melawan Belanda. Peristiwa heroik ini menjadi cikal bakal lahirnya kota Banyuwangi.

Pembangunan Rowo Bayu mulai nampak tahun 2004. Para pernerhati budaya dan sejarah mendirikan petilasan di sekitar batu semadi Prabu Tawangalun. Tahun 2005 lalu, Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari membangun petilasan dengan bahan keramik. Terakhir pembuatan candi di lokasi petilasan dan pura tahun 2007 kemarin. Bahannya terbuat dari batu gunung. Pura di Rowo Bayu diberi nama Pura Puncak Agung Macan Putih. Peristiwa gaib muncul ketika petilasan di bangun. Batu bekas semadi Tawangalun tidak bisa dipindah. Setelah dilakukan ritual, batu berbentuk lempengan itu bisa dipindahkan. Kejadian aneh lainnya, patung Tawangalun yang sedianya diletakkan di pura, ternyaia tidak bisa dipindah. Sampai sekatang patung tersebut tetap berada di tempatnya semula di bawah hutan bambu dan sebuah pohon tua bercabang dua.

Sama dengan petilasan lainnya, pengunjung petilasan Rowo Bayu kebanyakan pengikut kejawen. Rata-rata mereka ingin mendapatkan mukti dan ngalap bcrkah di tempat tersebut. Mereka yang datang kebanyakan warga dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Bali. Sejak berdiri pura, warga dari Bali sering tangkil ke tempat itu. Terutama saat hari raya Kuningan. Berdirinya pura ini pun tidak luput dari wangsit yang diterima juru kunci setempar. Begitu pula lokasi berdirinya pura.

Mbah Saji menuturkan petilasan Tawangalun bisa dijadikan tempat mencari jati diri. Ditambah lagi terdapat tiga mata air suci yang bisa memberikan pencerahan. Menurutnya. menjadi manusia hanyalah bertugas sebagai pengabdi. Dari sinilah kata dia rnukti atau moksa bisa dicapai dengan mudah. Dari filosofi itu, pria ini rela mengabdi menjadi juru kunci petilasan tanpa mendapat gaji. Untuk kebutuhan sehari-hari, dia bersama istrinya membuka waning kopi di dekat lokasi.

Menurutnya, nama Tawangalun memiliki makna mendalam. Tawang artinya pikiran yang luas, sedang Alun berarti samudera. Nama Tawangalun diartikan sebagai kepribadian yang memiliki pikiran luas layaknya samudera. Alasan inilah yang menjadikan mbah Saji tanpa panirih menjadi abdi dalem petilasan. Dia bersama Jimis bertekad mengabdikan sisa hidupnya untuk merawaat petilasan itu.

Peran NU Dalam Pembangunan Monas

(Cerita dini hari)

Peran NU Dalam Pembangunan Monas

Kisah ini mungkin gak banyak yang tahu, jadi saya tampilkan di fanpage ini untuk berbagi pengetahuan dan wawasan. Dengan harapan warga NU akan timbul rasa merasa memiliki Indonesia. Sekaligus memberi bukti akan peran NU dalam Indonesia. Jadi kalau ada bilang NU tidak ada peran sama sekali dalam kemerdekaan dan pembangunan Indonesia, mungkin dia habis diruqyah sama Wahabi.

Ketika sedang menyelesaikan pembangunan Monumen Nasional (Monas) itu pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI)-Permesta yang berkecamuk bisa ditaklukkan. Kelompok NU yang sejak awal mengkritik pemberontakan itu, dengan gigih membantu Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam menangani persoalan tersebut pada beberapa wilayah di Sumatera. Hal itu dilakukan untuk menjaga keutuhan negara dan sekaligus kerukunan bangsa.

Ketika posisi militer PRRI terus terdesak maka pimpinannya memerintahkan beberapa orang untuk menyelamatkan harta kekayaan PRRI sebagai bekal meneruskan pemberontakan, agar tidak jatuh ke tangan Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) yang kemudian menjadi TNI. Setelah mendapat perintah itu dua kader NU Sumatera Barat (Sumbar) yang dipaksa mengikuti petualangan itu antara lain Saridin Syarif dan Djamalaudin Tarigan, Saridin Syarif mengambil sekarung emas, karena kekuatannya hanya seperti itu.

Sementara, temannya Djamaluddin Tarigan (Ketua PWNU Sumbar) membawa sekarung makanan. Tetapi mereka berdua tidak melanjutkan masuk hutan mengikuti pemberontak, melainkan mengambil jalan lain secara sembunyi-sembunyi untuk turun gunung dan keluar dari hutan. Pembelotan mereka berhasil dengan baik tanpa ketahuan pimpinan pasukan.

Setibanya di tempat yang dirasa aman dan hendak memakan perbekalan, mereka terkejut, barang yang dibawa selain berisi bahan makanan ternyata berupa emas lantakan dengan cap BI, sebagai jaminan Bank Indonesia, yang dibobol oleh Presiden Bank Indonesia (BI) sendiri Syafruddin Prawiranegara, aktivis Masyumi yang saat itu menjadi Perdana Menteri PRRI di hutan.

Sekarung emas yang dipanggul oleh Saridin itu berat juga karena setelah ditimbang bobotnya mencapai 18 kilogram, lalu diserahkan semuanya pada Panglima Operasi 17 Agustus, yaitu Kolonel Ahmad Yani. Sekarung emas yang diangkut Saridin Syarif itu hanya sisa, berapa kuintal emas dan uang yang dibobol dari BI tidak diketahui keberadaannya, sebab setelah itu juga tidak ada penghitungan di BI.

Sebagai bukti kemenangan perang maka barang itu diserahkan oleh Kolonel Ahmad Yani pada Soekarno. Karena Soekarno merasa bahwa barang itu tidak hanya memiliki nilai ekonomis, tetapi juga memiliki nilai historis dan politis yang sangat tinggi. Barang yang direbut dari medan perang, dengan pengerahan ribuan pasukan darat dan udara untuk menaklukkan musuh negara yang bersenjata canggih yang di-drop dari Amerika Serikat.

Oleh karenanya, emas tersebut tidak dikembalikan ke BI sebagai jaminan bank, melainkan sebagai simbol monumen perjuangan. Maka simbol kemenangan perjuangan itu diabadikan sebagai lidah api berlapis emas membara di puncak Monas yang berbentuk kobaran api revolusi perjuangan bangsa. Saridin yang menyerahkan emas rampasan perang pada Soekarno itu kemudian menjadi pengurus wilayah NU Sumbar.

Itulah kontribusi NU, tidak hanya pada pembangunan Monas, tetapi pada pembentukan bangsa ini, sebab keteguhan hati Soekarno untuk memberantas berbagai pemberontakan yang muncul baik DI-TII, PRRI-Permesta semuanya muncul setelah NU memposisikan Soekarno sebagai waliyul amri al dloruri bisyaukah, status itu akhirnya juga mengubah peran Soekarno, kalau selama ini ia hanya berfungsi sebagai simbol belaka.

Dengan gelar dan posisi dari NU itu sekarang Soekarno memiliki kekuatan politik untuk mengambil tindakan terhadap gerakan separatis. Awal mula spiritnya dari NU, dengan ma’unah Tuhan pula dipuncaki dengan kemenangan yang diperoleh oleh kader NU juga ketika berhasil merebut batangan emas dari tangan PRRI, yang hasilnya diabadikan di atas Monas. (Munim DZ)

Disarikan dari berbagai sumber.

sumber :

https://www.facebook.com/fahmi.22286?fref=nf

Lomba Menulis Cerita Pendek Berbahasa Using Banyuwangi 2015

Bantu bc:

LOMBA MENULIS CERITA PENDEK
BERBAHASA USING 3

Tema cerpen bebas, boleh tentang apa saja yang penting indah, menarik dan berhubungan dengan budaya Banyuwangi. Tidak mengandung unsur SARA dan pornografi.

Syarat Lomba
1. Kategiori Lomba terbagi atas : SD, SMP, SMA dan Mahasiswa/Umum

2. Naskah ditulis dalam Bahasa Using yang baik dan benar.

3. Naskah harus asli, bukan terjemahan, saduran atau mengambil ide dari karya lain yang sudah ada. Apabila di kemudian hari ditemukan kecurangan, panitia berhak untuk mencabut kembali naskah yang sudah dinyatakan menjadi pemenang dan peserta wajib mengembalikan seluruh penghargaan yang sudah diterima.

5. Naskah belum pernah diterbitkan di media massa (cetak maupun maya) dan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba lainnya.

6. Seluruh naskah yang masuk menjadi hak panitia untuk menerbitkannya, mengumumkannya, memperbanyak kembali dalam format digital maupun non digital.

7. Untuk naskah yang tidak menang, tetapi memenuhi syarat untuk doterbitkan, panitia berhak menerbitkannya dengan memberikan buku sebagai nomor bukti.
Naskah yang masuk ke panitia tidak dikembalikan.

8. Keputusan juri mengikat dan tidak dapat diganggu gugat.
Hadiah untuk pemenang sudah termasuk honorarium apabila naskah itu diterbitkan dalam bentuk lain.

9. Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah cerpen. Maksimal 3 naskah.

10. Naskah harus diketik dan atau dicetak diatas kertas ukuran A4 dengan jenis font Times New Roman ukuran huruf 12 point. Panjang tulisan maksimal 5 (lima) halaman.

11. Lampirkan data : nama, alamat surat lengkap, pekerjaan/sekolah, alamat email (kalau ada), nomor telepon yang dapat dihubungi dan sertakan pula foto terbaru ukuran 3R.

Naskah dapat dikirim melalui email : basausing@gmail.com atau lewat surat tercatat ke :
Sekertariat Lomba Menulis Cerita Pendek Bahasa Using
Jl. Diponegoro 13
Banyuwangi 68411
Naskah paling lambat dikirim tanggal 30 April 2015 atau surat tercatat dengan stempel pos tanggal tersebut.

Asal-Usul Nama Desa Sumbersari Kecamatan Srono Kabupaten Banyuwangi

MATINYA TRADISI SUMBER AIR Oleh Vita Ainu R

Air adalah sumber kehidupan. Pentingnya fungsi air ini mengilhami penduduk di sebuah desa di Banyuwangi dengan menamakan tempat yang dihuninya dengan nama Surnbersari. Desa ini terletak di Kecamatan Srono, atau bisa ditempuh dengan perjalanan 1 jam dari kota Banyuwangi ke arah selatan.

Dengan luas wilayah 903 hektare, desa ini memiliki penduduk 1.908 jiwa. Desa ini berbatasan dengan Desa Pandan di bagian barat, Desa Suwaluh di bagian timur; Desa Ringinsari di bagian selatan serta dibagian utaranya berbatasan dengan desa Rimpis.

Sumbersari berasal dari kata sumber yang berarti mata air dan sari adalah penting bagi kehidupan manusia. Nama tersebut diberikan sekitar tahun 1826 merujuk pada sebuah mata air yang airnya mengalir membelah desa.

Menurut cerita salah satu warga asli Sumbersari, Pak Pandi, 54 tahun, sebelum tahun 1826 Desa Sumbersari masihlah berupa hutan lebat dengan sedikit penduduk. Namun lambat laun jumlah warga yang akan bermukim terus berdatangan. Hai itu membuat penduduk harus sering melakukan kerja bakti membabat atas untuk membuka lahan. Sementara kayu dari pohon-pohon yang telah ditebang dipakai untuk mendirikan rumah-rumah.

Ketika melakukan kerja bakti itulah, penduduk tidak sengaja menemukan sebuah sumber yang airnya sangat jernih dan dalam, seolah-olah airnya tidak akan pernah habis. Air itu muncul dari rerimbunan pohon bambu dan jambu. Sejak itu, penduduk sangat bergembira dan memanfaatkan sumber itu untuk khidupan sehari-hari seperti minum , mencuci hingga mengairi sawah.Mereka pun bersepakat menamakan tempat yang dijejakinya dengan nama Sumbersari.

Warga Sumbersari lainnya, Pak Miskan, bercerita, sebagai ungkapan rasa syukur atas penemuan sumber air itu, masyarakat dulunya sering menggelar seiamatan dengan nasi tumpeng di sekitar sumber. Mereka percaya bahwa sumber tersebut membawa manfaat yang besar. Bahkan, selamatan juga digelar ketika penduduk hendak melangsungkan hajatan seperti sunatan dan pernikahan. Cara Leu diyakini supaya acara yang mereka gelar dapat berjalan lancar sesuai harapan.

Dengan tradisi itu masyarakat dengan sendirinya memiiiki kesadaran untuk menjaga kelangsungan sumber air supaya tidak rusak sehingga terus dapat memberi! manfaat untuk kchidupan manusia. Inilah bentuk kearifan lingkungan yang sempat hidup di Desa Surnbersari sebagai bentuk keharmonisan hidup antara manusia dengan lingkungannya.

Tradisi menjaga sumber air banyak juga dilakukan oleh masyarakat di luar Kabupaten Banyuwangi. Di Desa Muneng Warangan, Magelang. Jawa Tengah rnisalnya, memiliki tradisi nyadran kali. Tradisi yang biasa digelar bulan Sapar ini untuk menghormati Kali Puyang, yang sungainya dirnanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga. Tradisi ini diawali dengan kirab sejauh 2,5 kilometer dengan membawa aneka sesaji menuju Kali Puyang (Kompas.com edisi 11 Februari 2009).

Namun bedanya, bila tradisi nyadran kali masih dilangsungkan oleh penduduknya, tradisi di Sumbersari malah punah. Tidak ada lagi warga yang menggelar selametan di sumber tatkala akan melangsungkan hajatan. Salah satu penyebabnya adalah semakin banyaknya penduduk pendatang di antaranya dari Jawa Tengah dan Madura sementara penduduk asli semakin menyusut. Hilangnya tradisi selametan di Sumbersari rupanya berbanding lurus dengan

pengamatan penulis, volume air sudah semakin berkurang dan warnanya tidak lagi jernih. Apabila hujan datang, maka volume air lebih banyak dan permukaan air sungai menjadi lebih tinggi. Ancarnan bahaya banjir tentu saja menjadi kekhawatiran penduduk di sekitar aliran sungai.

SUMBER : Banyuwangi Dalam Mozaik – KOMUNITAS SEJARAH BANYUWANGI

Mengenal Sejarah KERIS GAGAK dan Buyut Cungking Kecamatan Giri Banyuwangi

Salam Jenggirat Tangi !!!

Selamat Datang di Padepokan Mas Say Laros !!!

keiahiran keris gagak

Thomas Racharto

Keris Gagak merupakan pusaka milik Mas Bagus Wangsakarya, salah seorang guru spiritual Raja Blambangan Prabu Tawang Alun yang hidup pada abad-17. Kesakrian pusakanya ini menjadi cerita 3 turun-temumn dalam masyarakat Banyuwangi khususnya di daerah Cungking, Kecamatan Giri.

Mengapa Cungking? Karena di daerah inilah terdapat petilasan berupa makam Mas Bagus Wangsakarya. Orang-orang setempat mengenangnya dengan nama Buyut Cungking.

Keterangan mengenai Keris Gagak hanya dapac ditemui dalam sumber lokal, Babad Tawang Alun, yang mengisahkan bagaimana kesaktiaan pusaka itu saat dipakai Wangsakarya berhadapan dengan Kanjeng Pangeran Kadilangu, guru sunan Mataram. Selebihnya mengenai bagaimana rupa keris itu belum ada sumber sejarah yang menyebutkannya

Karena itu penulis yakin, tak seorang pun yang pernah melihat bentuk fisik “si Gagak “. Demikian juga dalam wawancara penulis dengan Mbah Waris, juru kunci petilasan Buyut Cungking, rnengungkapkan hal yang sama.

Wangsakarya hidup dalam abad ke 17, di masa Kerajaan Blambangan di Macan Putih diperintah oleh Susuhunan Prabu Tawang Alun (1650-1691). Pada tahun 1676 Pangeran Tawang Alun berhasil membebaskan diri dari pengaruh kerajaan Macaram dan dapat meiaksanakan pemerintahan sendiri.

Babad Tawang Aiun dalam Babad Blambangan karya Winarsih menceritakan bagaimana suasana kerika Blambangan melepaskan diri dari Mataram. Saat itu Prabu Tawang Alun pergi guna menghadiri pasowanan agung ke kerajaan Mataram dengan mengajak guru peguronnya Wangsakarya beserta semua putra dari garwa Padmi Dewi Sumekar dan putra dari garwa selir. Di samping itu juga membawa upeti, dari kemakmuran dan kesejahteraan Macan Putih.

Sampailah akhirnya di Mataram dan rombongan segera menghatur sembah hormat. Kanjeng Sunan Mataram menyambut baik kedatangan semua rornbongan kernudian menyilahkan mereka untuk pergi ke alun-alun guna melihat dan belajar bermain sodor-sodoran. Ernpat orang putra Pangeran Tawang Alun segera menyanggupi untuk pergi ke alun-aiun. Ternyata ketika mereka sampai di alun-a!un, tak seorangpun berani main sodoran dengan putra Tawang Alun. Mereka akhirnya mundur semua karena ketakutan. Empat putra Tawang Alun kembali ke Ponconiti agung untuk duduk kembali di belakang Pangeran Tawang alun.

Di balai Ponconiti agung tersebut Kanjeng Pangeran Kadi-langu, guru peguron sunan Mataram, setelah rnerasa dipermalukan akibat peristiwa di alun-alun itu berdiri dengan gaya yang congkak. Kadilangu kemudian berkata kepada Wangsakarya: “Sanakku tuwo Mas Bagus Wangsakarya, adiku ing Macan Putih,” katanya. Kadilangu melanjutkan (dalam terjemahan Bahasa Indonesia): “Lama sekali saya duduk di kanthil gading ini rasanya saya sangat haus sekali sepertinya badanku ini kehabisan airnya sedernikian hebat. Kalau ada ijin palilah dari mas bagus Wangsakarya, saya minta kerisnya.”

Tanpa mernpunyai perasaan sedikit apapun, Wangsakarya memberikan keris si Gagak ke Arya Pangeran Kadilangu. Beliau menyampaikan terima kasih bahwa keris sudah diterima dengan baik dan melegakan hati. Tidak lama serelah itu Arya Pangeran Kadilangu mengangkat si “Gagak” dengan kepala menengadah yang langsung diteguknya hingga tidak ada tetesan air lagi. Tertinggalah ukiran kering ditangannya. Rupanya Kadilangu sedang memamerkan ilmunya. Merasa puas Kadilangu mendekat ke Wangsakarya untuk memberikan ukiran dan warangkanya,

Betapa dapat dibayangkan bagairnana perasaan Wangsakarya melihat adegan dan kalimat Kadilangu yang diucapkan dihadapan para bupati dan khususnya Pangeran Tawangalun. Dengan jiwa besar, Wangsakarya segera berdiri, memberi hormat yang mendalam kepada sinuwun sunan mataram memohon ijin untuk melakukan sesuatu menebus rasa malunya terhadap raja. Pangeran Tawang Alun dan Sunan Mataram mengijinkan dan mengatakan : “Balaslah sesuka hatimu atas rasa sakit malu yang kamu terirna dan derita, bahwa memang hutang ya harus dibayar walaupun itu tertuju kepada guru peguron saya, janganlah takut dan gentar kepada saya.”

Reaksi Wangsakarya berikutnya bisa dilihat di Pupuh Pangkur, Babad Tawang Alun, sebagai berikut:

Artinya sebagai berikut:

Setelah mendapatkan ijin, Mas Bagus Wangsakarya serta merta berdiri ditempatnya dan menepuk tangan dan memanggil kea rah kerisnya SI GAGAK yang telah menjadi air dan berada dalam perut Pangeran Kadilangu. Dengansuara penuh wibawa dan berkekuatan magis, Wangsakarya berkata: “Gagak…oleh kodrat Yang Maha Kuasa ..ayo cepat keluar dari perut orang yang congkak dan menghina itu dan kembali ke rumahmu!”

Secepat kilat ganja keluar dari perut Pangeran Kadilangu mencuat di dada, sedangkan pucuk/wilahnya keluar dari perut mencuat pada iga-nya. Tidak seberapa lama setelah peristiwa itu Pangeran Kadilangu muntah darah segar, terjerembab di hadapan sunan Mataram, meninggal mengenaskan.

Kelihatannya semua yang hadir ingin menangkap Wangsakarya, namun secepat kilat dia mengambil wilah dan ganja yang masih melekat di dada dan iga Pangeran kadilangu. Bersamaan itu pula para putra Pangeran Tawang alun berdiri disertai seluruh punggawa yang berpakaian putih-putih bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan dengan mengeluarkan kalimat-kalimat tantangan kepada kerajaan mataram.. Pasukan Tawang Alun tidak takut mati andaikata terjadi peperangan saat inipun akan dilayani.

Sejak peristiwa itu, Biambangan tidak akan mengakui Mataram, dan menjadi kerajaan bebas merdeka. Tawang Alun menyatakan diri bergelar Susuhunan Prabu Tawang Alun. Segera semuanya meninggalkan Kanthil gading bubar ketakutan, sedangkan rombongan dari Macan Putih pulang tanpa berpamitan dengan kemarahan yang tinggi.

Bagi penulis peristiwa itu mengandung pesan yang tinggi, bahwa Biambangan memiliki kepercayaan yang kuat dan tinggi dapat hidup dalam kemakmuran, bermanfaat bagi masyarakat mengiringinya, membuat penulis dan sejumlah tokoh Banyuwangi lainnya menggagas upaya pelestarian warisan budaya berupa penciptaan Keris Gagak, yang menjadi salah satu keris Blambangan. Penciptaan ini sangat penting mengingat pendukung kebudayaan Kerajaan Blambangan di Macan Putih sendiri saat ini nyaris tidak bisa kita temui seperti besalen (tempat pembuatan keris) dan empu (pembuatkeris). Yogyakarta, Solo, Sumenep dan Ball dimana besalen dan empu keris rnasih banyak ditemui dan telah menjadi aktivitas turun-temurun sehingga warisan budaya berupa keris tidak akan mengalami kepunahan.

Apalagi, jika mengingat, penjualan benda-benda pusaka peninggalan Blambangan marak terjadi termasuk juga keris-keris asli Blambangan yang banyak diburu koiektor dari luar Banyuwangi, membuat upaya pelestarian harus sesegera mungkin dilakukan.

Penciptaan Keris Gagak dimulai dari sebuah diskusi “Kriya Budaya Keris Tangguh Blambangan Baru” pada 13 Desember 2006 di Pelinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Jalan Ahmad Yani No. 78 Banyuwangi. Diskusi ini dihadiri oleh:

  1. Unsur Pemda Banyuwangi (Perindustrian dan Pariwisata)
  2. Pakar pembuat keris dari Madura
  3. Kader dari Banyuwangi (tehnis dan entrepreneur)
  4. Pengurus dan Simpatisan Paguyuban
  5. Sejarawan dari Dewan Kesenian Blambangan
  6. Tokoh-tokoh Budayawan
  7. Komuniras Banyuwangi membangun

Penciptaan Keris Gagak pancer (pertama) akhirnya dimulai tahun 2007 berkolaborasi dengan Mohammad Yakun Sunar, seorang mpu dari Aeng Tong-tong, Sumenep, Madura. Keris ini dibuat berlekuk (luk) tiga yang mengandung Banyuwangi terhindar dari petaka dengan pamor triwarna (tolak baiak, ombak segoro, dan batu lapak). Bahannya terbuat dari kinatah ernas dengan relief burung Gagak berwarna hitam yang sedang mengepakkan sayapnya di bagian sor-soran.

Pada Pameran Pusaka tahun 2008, dalam rangka peringatan Hari Jadi Banyuwangi yang ke-237, si ‘Gagak’ tampil sangat menarik perhatian masyarakat.   Banyak pengunjung pada waktu itu ingin memesan untuk dibuatkan keris Gagak tanpa pamor yang disebut Gagak keleng.

Kemudian, di tahun yang sama, Keris Gagak pancer diserahkan kcpada Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari bersamaan dengan peresmian Situs Macan Putih, di Desa Macan Putih, Kecamatan Kabat. Sampai saat ini Keris Gagak pamor dibuat 2 bilah sedangkan Keris Gagak keleng dibuat 7 bilah. Gagak yang memiliki kriteria jelas melalui kajian kriya budaya tersebut, akhirnya benar-benar menjadi penerus keris Blambangan.

SUMBER : Banyuwangi Dalam Mozaik – KOMUNITAS SEJARAH BANYUWANGI

Situs Umpak Songo Banyuwangi yang Terlupakan Oleh Rut Pangestuti

Kecamatan Muncar, Banyuwangi, memiliki banyak situs sejarah diyakini berkaitan erat dengan Kerajaan Blambangan. Sebut saja seperti Situs Umpak Songo, Situs Sitinggil, Bale Kambang, dan Gumuk Sepur. Selain situs-situs itu, tak terhitung pula berapa banyak warga yang menemukan berbagai benda-benda purbakala. Aneka keramik, patung, uang kuno dan sebagainya yang juga menjadi petunjuk pcnting adanya kehidupan besar di masa lalu.

Sayangnya berbagai kekayaan sejarah itu kini daiam kondisi yang mengkhawatitkan. Keberadaan situs-situs terancam oleh tingkah laku manusia yang rnengubah fungsinya menjadi dijualbelikan secara bebas. Namun kiita belum melihat tindakan nyata Pemerintah Banyuwangi untuk melakukan perlindungan dan pelestarian.

Dari banyaknya situs sejarah di Kecamatan Muncar, penulis hanya akan membahas mengenai Situs Umpak Songo, yang terletak di Desa Tembokrejo, Muncar. Dari kota Banyuwangi, situs ini bisa dijangkau sekitar 60 menit perjalanan.

Situs Umpak Songo merupakan salah satu situs yang masih meninggalkan jejak fisik lebih utuh ketimbang situs lainnya. Situs Gumuk Sepur misalnya, yang kini hanya menyisakan bukit memanjang akibat sudah beralih fungsi menjadi lahan pertanian. Situs ini diyakini sebagai benteng raksasa yang mengelilingi keraton Blambangan.

Situs Umpak Songo terdiri dari puluhan batu-batu besar yang tertata rapi membentuk persegi. Dari batu itu ada yang berlubang di tengahnya juga ada yang pepat.

Disebut Umpak Songo karena berasal dari kata urnpak yang berarti penyangga dan songo berarti sembilan (bahasa Jawa). Sehingga umpak songo bisa disebut umpak yang berjumlah sembilan buah.

Karena Umpak Songo diambil setelah ditemukannya sembilan batu dasar yang berlubang tepat ditengahnya. Lubang inilah yang digunakan untuk menancapkan tiang penyangga dari sebuah bangunan.

Juru kunci Situs Umpak Songo, Mbah Soimin, bercerita, sekitar tahun 1916 seseorang yang bernama Mbah Nadi Cede dari Yogyakarta membabat tempat ini yang mulanya adalah hutan. Setelah pembabatan hutan selesai, mulai terlihatlah bagaimana wujudnya seperti yang kita lihat saat ini.

Tahun 1928 datang seorang raja dari Solo, Mangku Bumi IX, yang mengungkapkan bahwa tempat yang ditemukan Mbah Nadi Cede itu merupakan sisa-sisa Kerajaan Blambangan. Mangkubumi IX yang kemudian memberikan nama Umpak Songo.

Ketika Kerajaan Blambangan masih berjaya, situs seluas 30×20 meter ini diyakini berfungsi sebagai tempat untuk merundingkan segala sesuatu atau strategi perang yang akan digunakan untuk melawan kerajaan lain yang akan menyerang. “Dulu tempar ini adalah pusat dari kerajaan Blambangan”, kata Soimin yang merupakan keturunan ke-3 Mbah Nadi Cede.

Menurut peneliti dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, Sri Margana, ibu kota Kerajaan Blambangan dulunya sempat berpindah hingga enam kali. Muncar, menjadi ibu kota pemerintahan terakhir sebelum akhirnya dipindahkan ke kota Banyuwangi (Majalah Tempo, 13 September 2010).

Perpindahan ini akibat mewabahnya penyakit yang menyerang ibu kota Blambangan sebelumnya, di Lateng (Rogojampi). Alasan lainnya, Muncar dianggap strategis katena memiliki Pelabuhan Pampang, sebuah pelabuhan internasional yang ramai dikunjungi pedagang dari luar daerah. Namun karena akhirnya penyakit menular juga mewabah, ibu kota Blambangan yang saat itu dipimpin Mas Alit pindah ke kota Banyuwangi pada 21 September 1774.

Umpak Songo sering didatangi pengunjung yang datang dari berbagai daerah seperti Malang, Denpasar, Singaraja dan beberapa daerah lainnya. Mereka memiliki tujuan yang berbeda-beda, mulai penelitian, study tour hingga bersemedi.Karena itu jangan heran bila di dalam Umpak Songo rerdapat beberapa rempat peletakan sesajen dari orang-orang yang berdoa di sana dan sebuah kendi berisi air untuk mensucikan diri.

Puncak keramaian di Umpak Songo adalah ketika Hari Raya Kuningan. Banyak umat Hindhu yang datang dari Baii ataupun daerah Banyuwangi sendiri. Selain itu umat Hindu juga datang setiap 6 atau 7 bulan sekali untuk melakukan persembahyangan, bahkan terkadang sampai menginap di dalarn umpak songo

Selain Umpak Songo, Soimin menyebutkan, juga terdapat Umpak Limo yang ditemukan Mbah Nadi Cede. Letaknya persis di sebetah utara Umpak Songo. Narnun saat ini kita tidak bisa

menjumpainya karena Umpak Limo telah berubah fungsi menjadi musholla.

Memang, sejak ditemukan, area situs ini terus disesaki oleh rumah-rumah yang dibangun oleh keturunan Mbah Nadi Cede. Jumlahnya hingga kini mencapai 20 kepala keluarga.

Umpak Songo baru satu kali direnovasi yang dilakukan pada masa Bupari Ratna Ani Lestari yaitu berupa pembangunan gerbang atau benteng untuk membatasi situs Umpak Songo dengan area di luarnya.

Setiap Sabtu Pahing, warga di sekitar Umpak Songo menggelar ritual berupa tirakatan selama semalam suntuk. Ritual adat ini dilakukan guna meminta berkah keselamatan atau Pak Soimin rnenyebutnya dengan “ngalab berkah” atau kernakmuran untuk warga di sekitar Umpak Songo. Dengan ritual ini diharapkan perusakan terhadap situs Umpak Songo dapat pula terhindari.

Jadi dari pemahaman sejarah Umpak Songo ini kita menda-patkan suatu pelajaran berharga bahwa kita harus memelihara suatu peninggalan sejarah yang memberikan kita banyak sekali pengetahuan yang berarti. Bukannya membiarkannya terhimpit sesak di penuhi perumahan penduduk.

“Inilah halaman kejayaan dalam sejarah kita yang tidak pernah ditulis dan takkan pernah ditulis “.Kalimat yang diucapkan oleh Heinrich Himmler pada pidatonya di Posen. Itu merupakan perumpamaan kata bagi kita bahwa sejarah ditulis karena penting agar tetap abadi dan diketahui oleh semua orang.

SUMBER : Banyuwangi Dalam Mozaik – KOMUNITAS SEJARAH BANYUWANGI

Misteri Apakah Gandrung Banyuwangi Dari Tiongkok?

Misteri Gandrung Dari Tiongkok Oleh SUMONO ABDUL HAMID Banyuwangi

Tiga puluh satu cahun yang lalu, tepatnya 5 Maret 1990,Marzuki, garapan seniman kondang Hendrawanto Panji Akbar atau yang lebih dikenal Deddy Lurhan. Tema yang diangkat cukup rnenggugah: Kadung Dadi Gandrung Wis! Deddy menampilkan dua penari gandrung senior, Mbah Suanah dan Mbah Awiyah, serta penari gandrung niuda lainnya.Dari Harian Kompas saat itu saya raengecahui, Deddy Luthan ternyata telahempac kali memencaskan gandrung pada tahun 1990 hingga 1993- Bahkan pernah membawa seniman gandrung ke Amerika Serikat. Sungguh perhacian yang luar biasa! ;

Pementasan gandrung tersebut tukup mengobati kerinduan, karena sudah 27 tahun saya tidak menonton gandrung. Sebabnya banyak. Karena makin menjamurnya tontonan baru seperti orkes melayu acau angklung modern, diikuri berkembangnya anggapan miring kalau noncon gandrung dikatakan orang ndeso. banyak pertanyaan di kepala saya. Terutama ketika mengamati, para penari dan nayoga yang berwajah mongoloid: berkulit kuning,

Ras Mongoloid mulanya cumbuh di Asia Utara, Asia Tengah dan Asia Timur yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia icrmasuk di Inaonesia. Bangsa Tionghoa/China yang merupakan rumpun ras ini, paling banyak melakukan migrasi ke Indonesia sehingga terbentuklah akulturasi budaya yang bisa kica

Lalu, apakah ada keterkaican gandrung dengan kebudayaan Tionghoa? Benarkah gandrung ini memang dibawa oleh orang-orang dari negeri Tirai Bambu itu?

GandrungdanCungking

Cungking, Kelurahan Mojopanggung, Kecamatan Giri, atau sekitar 3 kilometer dari pusat kota Banyuwangi. Daerah ini disebut-sebut sebagai pusas kelahiran gandrung. Saya mengunjungi makam Mbah Cungking. Arsicekrur yang pernah saya saksikan di Cina. Menurut cerita juru kunci, bangunan makam sebenarnya pernah diubah menjadi bangunan gedung, capi akhirnya dikembalikan ke bentuk sernula karena terbakar.

Nama Cungking di Banyuwangi pun sangat identik dengan salah satu yang juga bernama Chungking. Kota ini dibangun oleh Dinasti Ming pada abad ke-i4 niasehi yang menjadi ibu kota kerajaan menggancikan ibu kot .ebdumnya, Beijmg. Adanya nama Cungking di Banyu-wangi menunjukkan bahwa jejak Dinasti Ming pernah singgah di Banyu-wangi (dulu, Blarabangan).

Slamet Mulyana dalam Negara- telah datang ke Indonesia sebelum abad ke-7. Kedarangan mereka kemudian disusul penyerbuan Kubilai Khan ke Singosari, ” hubungan diplomatik masa Sriwijaya dan muhibah Laksamana Cheng Ho pada masa Majapahit. Bahkan saat kolonial Belanda, migrasi orang-orang mongoloid ini terjadi secara besar-besaran. Sebagai kerajaan baru yang maju pesat, Dinasti Ming

Cheng Ho meliputi ke seluruh Asia dan tepi timur Afrika. Mereka menyatakan diri sebagai orang Chungking karena saat itu sebutan Kemiren, perdagangan, sekaligus mengabarkan tentang keberhasilan Dinasci Ming dari kekuasaan Mongol.

Salah satu tujuan muhibah adalah Majapahit. Namun di awal abad 16, Majapahit celah mengalanii sandyakala atau mulai melemah sehingga bermunculan kerajaan-kerajaan kecil, salah satunya adalah Kerajaan Blambangan yang saat icu muncul sebagai kekuatan baru di Jawa. Dengan adanya perkembaflgan policik di Majapahit tersebut, armada Cheng Ho dibagi menjadi dua: satu tetap menuju Majapahic (atau disebut kedaton kulon) dan satu lagi menuju Blambangan (Majapahit kedaton wetan).

Majapahit yang saat itu diperincah Dewi Suhita tersulut. Majapahit berprasangka bahwa Laksamana Cheng Ho mendukung Blambangan untuk menghancurkan Majapahit. Prasangka tersebut sangat wajar karena ketika Raden Wijaya yang masih kecurunan Singosari itu mendirikan Majapahit, dia menggunakan tentara KubUal Khan untuk menghancurkan kekuasaan Kediri.

Oleh karena itu, Dewi Suhita -yang lebih dekal pada trah Kediri, segeia mengirim kekuatan tempur ke Blambangan yang dipimpin Bhree Narapati. Sedangkan Biambangan saat itu diperintah oleh Bhree Wirabhumi yang lebih dekat pada trah Kediri.

Pada penyerangan ini, pasukan Majapahit berhasil menghancurkan dan membunuh lebih setengah armada Cheng Ho, sedangkan sisa pasukan yang selamat melarikan diri ke hucan hutan di Banyuwangi. Meski akhirnya akibat tindakannya ini, Majapahit harus menelan pil pahit karena harus membayar denda dan memberikan upeti ke Dinasti Ming dalam jumlah sangat besar.

 

Sisa armada Cheng Ho ke pedalaman Blambangan inilah, yang kemungkinan kuat menjadi cikal bakal wajah mongoloid di Cungking Banyuwangi. Namun masyarakat Cungking mengungkapkan hal berbeda mengenai asal-usul daerahnya. Meskipun asal-usul tersebut sebenarnya masih berkaitan erat dengan kebiasaan masyarakat Tionghoa kuno.

Menurut para sesepuh, nama Cungking berasal dari kebiasaan masyarakat setempat mengikat rambutnya di belakang, atau dalam bahasa jawanya, kuncvng teng wingking. Orang jawa rnenyeburnya dengan kuncir.

Kegemaran orang Tionghoa kuno menggunakan kuncir dipopulerkan sejak negara itu dicaklukan oteh Kubilai Khan dari Mongol. Maksudnya, sebagai bentuk penghinaan kepada bangsa Cina. Dengan berkepala botak dan kuncir akan terlihat seperti kuda yang bodoh. Kuncir ini masih terus dipakai hingga kedaulacan Cina berhasil direbuc kembali oieh Dinasti Ming.

Cerita lain yang diiuturkan masyarakat Cungking adalah tentang legenda Mbah Cungking yang memiliki kemahiran dalam pertanian. Padi yang ditanam dapat tumbuh subur dengan hasil berkualiras. Mbah Cungking juga memiliki banyak kerbau untuk membajak sawah-sawahnya.

Legenda ini hampir mirip dengan legenda Wang Jing Hong, pembantu ucama Cheng Ho, yang tertulis dalam buku Tionghoa Dalam Pusaran Politik, karya Benny G. Setiono (hal 33). Dalam buku ku dituliskan bahwa Wang Jing Hong terpaksa ditingga! di Semarang karena sakit. Kepada penduduk setempat, Hong telah mengajarkan mengolah tanah dengan peralatan membajak sawah yang dikenal dengan Lu Ku.

Kemiripan Gandrung dengan Gerakan Biksu

Ketika saya mengikuti pelacihan ke Jepang, saya melihat gerakan yang dilakukan oleh biksu di kull-kuil Budha ternyaca sama dengan yang saya lihat pada tarian gandrung. Yakni gerakan setinggi muka, sambil menunduk, dan nienekukan lutut kaki dengan mengucapkan Ami Tabha.

Gerakan biksu yang sama juga saya saksikan di Korea, Hong Kong, Malaysia, dan Singapura. Saya kemudian melacak kesamaan gerak ancara gerakan gandrung dengan khasanah Budhis, apalagi secelah dicemukan penemuan patung Budha di Gumuk Tmgkil, Banyuwangi. Bila ditelusuri, ternyata ketika Dinasti Ming berkuasa, agama Budha mengalarni pencerahan dan berkembang sangat pesat di negara itu, sebagai bencuk perlawanan kepada Mongol yang mengintrodusir aliran barn dalam agama Budha. Oleh karena itu, armada Cheng Ho, juga disebut armada Tiga Pusaka Budha.

Dalam buku “Tionghoa dalam pusaran Politik” Benny G.Setiono (halaman 30), mengutip tulisan Prof. Kong Yuanihi berjudul “Muslim Tionghoa Cheng Ho, Misteri Perjalanan Muhiblh di Nusantara ” sebagai berikut:

Expedisi ini relah menjadikan Laksamana Cheng Ho dipuja-puja. dan pada tahun 1431 diberi gelar Sam PoTay Jin/Sam po kong/Sara Po Toa lang/Sam Po Bo, DewaTiga Pusaka yaim, Budha Dharmasangha. Ini berhubungan kitab suci Budha.

Pada masa ini dim!is karya sastra yang monumental “Shi Yu” oleh Pujangga Wu Cheng. Novel ini menceritakan perjalanan Bhiksu Budha Thon Sang Chong mencari kitab suci Budha. Novel ini member! inspirasi dan rnotivasi kepada bangsa Cina sejak karya itu diculis rnaupun sampai saat ini dimanapim bangsa Cina berada. Oleh karena icu kaiya pujangga Wu Cheng “Shi ‘ Yu” dapac dipascikan menjadi mantera yang sangat kuat pada armada Laksamana Cheng Ho dalam melakukan muhibah yang spekcakular itu. Mereka tidak saja mengerti dan menghayati novel tersebut, cetapi mereka juga mengagumi dan mengabadikannya.

Dalam puscaka modern, novel tersebut dikenal dengan “Journey to the west”, sedangkan orang China saat ini mengenalnya sebagai Sun Go Kong atau cerita monyet yang lincah. Sayang dalam cerita yang berkembang sekarang ini justru peran Bhiksu Tong atau Thon Sang Chong kurang diperhatikan. Juscru Sim Go Kong (monyet iincah itu) yang lebih menjadi pusat perhatian. PadaKal rnonyet, babi dan lain-lain yang mengiringi perjalanan bhiksu “Ihon Sang Chong, sebenarnya hanya visualisasi (fable)’.

Untunglah rombongan armada Laksamana Cheng Ho, yang tertinggal di Cungking Banyuwangi, tetap mempertahankan dengan sekuat hati inti novel tersebut melalui drama tari yang indah sebagai hasil transformasi budaya yaitu Gandrung Banyuwangi. pujangga Wu Cheng “Shi Yu:

  1. Pakaian yang digunakansangat mirip dengan pakaian Bhiksu tingkal tinggi yang memimpin upacara acau pakaian yang digunakan oleh Biksu Tong. Pakaian itu tentu mengalami gandrung. Tetapi ciri pakaian Biksu Cina / pakaian drama Cina masih nampak jelas.
  2. Gandrung dan novel Shi Yu sama-sama terdiri atas ciga babak.

Pada babak pertama, Biksu Thong melakukan sembah berpamiran kepada selurub ummac dan penguasa untuk minta restu melakukan perjalanan. Gerakannya dengan mengangkat tangan setinggi muka dan menekukan kaki sambil mengu-capkan syair pujian. Sedangkan gandrung pada jejer juga melakukan gerakan pancomin/patah-patah dengan suasana khusyukyanghanyadiiringi melodi dengan syair yang masih sulit dipahami, kecuali lagu pembukaan “Pada Nontvn” Pada babak kedua novel “Shi Yu”, menceritakan Bhiksu Thong mendapat serangan, gangguan, musuh yang tidak menginginkan suksesnya perjalanan tersebui. Tetapi Bhiksu Thong letap mengajak mereka pada jalan kebaikan. Ssedangkan dalam gandrung, babak kedua adalah Paju dengan memberi kesempatan para penonton mernamerkan kemampuan silat baik kepada gandrung maupun antara penonton dengan penonton disertai syair nasehat dan pengarahan. Hanya pada -zaman Belanda babak ini terjadi distorsi dan anomali. Gerak pertempuran menjadi gerak rayuan dan syair nasehat dan pengarahan rnenjadi syair erotis. Hal ini bisa dipahami karena pada zaman Belanda, Cungking menjadi tempat ditahannya   : para pemberontak arau preman dari seluruh wilayah Indonesia.

gandrung masih dibawakan oleh laki-iaki atau gandrung lanang) sebagai tarian hiburan. Lebih parah lagi, ketika pada 1895, Belanda memaksa mbak Midah, si perias gandrung, untuk menampilkan putrinya Semi sebagai gandrung yang

  1. Pada babak ketiga novel “Shi Yu “BhiksuTong relah menemukan kitab suci atau Sutera Budha dan mulai membacakan syair Sutera kepada ummatnya. Sedangkan pada gandrung, babak ketiga, dilantunkan syair yang rnendayu, mengharu biru, ranpa iringan musik, membuat suasana menjadi syahdu. Sehingga gandrung, pemanjak acau niyaga dan penonron duduk bertafakur. Dulunya, saat mernasuki babak ketiga ini, nenek

sekarang pun masih banyak penari gandrung (terutama yang senior) menganggap menari gandrung adalah ibadah meski mereka tak mendapat penghargaan yang memadaj.

SUMBER :

  1. Slamet Mulyana, Negara dan Tafiir Sejarah, Bharata, 1979
  2. Benny S. Tumghoa dalam Pusaran Politik, Transmedia Pustaka. 2007

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 65 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: