Info HOMESTAY PEMKAB BANYUWANGI

Homestay yang satu ini memang milik Pemkab Banyuwangi, letaknya sangat strategis karena berada di dalam kota Kabupaten Banyuwangi. Tepatnya di jalan Ahmad Yani no. 110 Banyuwangi. Penginapan yang ditujukan untuk para backpackers ini, sebetulnya menerapkan konsep dormitory, yaitu berupa kamar-kamar sederhana dan praktis, lingkungannya hijau dengan banyak tanaman. Tarif penginapan tersebut relatif murah, yaitu hanya Rp 50 ribu per malam dengan kapasitas 28 orang. Tapi ingat, itu tarif tahun 2013, jadi untuk saat ini tentu sudah ada penyesuaian.

http://banyuwangiapik.blogspot.com/

Cara Menentukan Kelamin Calon Bayi Menurut Carta kuno

Dalam menentukan Lelaki atau Perempuan tingkat keberhasilanya 99% Meramal bukan saja ada di Jawa. Sebuah Carta kuno yang berasal dari Peking-China ini menarik perhatian seluruh dunia, Carta ini baru saja diketemukan, yaitu tertanam di kawasan makam raja China dekat daerah Peking. Lalu kebenaran Carta tersebut diteliti oleh Institute Sains Beijing. Carta ini dipercayai berusia lebih dari 700 tahun. Panduan dari carta ini menjadi pedoman bagi beribu-ribu pasangan suami isteri di seluruh dunia dan keberadaanya semakin popular ketika ramalan carta ini memiliki ketepatan hingga 99%.

Tabel berikut ini diambil dari Royal tomb dekat Peking, China Original copy tersimpan di Institute of Science of Peking.  Ahli-ahli genetika China telah meneliti dan menampilkan kembali tabel ini setelah terkubur lama di Royal tomb selama 700 tahun yang lalu.

Anda bisa memilih jenis kelamin calon bayi anda melalui carta ini, Jika Anda adalah pasangan yang menginginkan dikaruniai anak lelaki atau anak perempuan, maka Anda harus tahu dulu berapa usia istri Anda atau usia Anda sendiri jika Anda seorang istri. Lakukan hubungan intim suami-istri tepat pada bulan seperti tabel Carta di atas, jika hubungan intim tersebut terjadi pembuahan, maka dibulan pertama Anda terlambat bulan, sudah dapat dipastikan calon janin Anda yang masih ada dalam kandungan berjenis kelamin perempuan atau laki-laki.

SUMBER :

Budi Siswanto Polowiwi

Foto Profil Pelangi Pada Facebook dan Gerakan Homoseksual (LGBT)

Foto Profil Pelangi dan Homoseksual (LGBT)

Menyusul diresmikannya secara hukum pernikahan berkelamin sejenis di Amerika Serikat hari Jum’at 26 Juni 2015 yang lalu (BBC), Facebook meluncurkan aplikasi “Celebrate Pride” yang “mempelangikan” foto frofil sebagai simbol selebrasi atas keputusan Mahkamah Agung Amerika tersebut (Forbes).

Pelangi (rainbow) memang sudah cukup lama diassosiasikan atau dikotonasikan sebagai simbol homoseksual, LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) dan pernikahan yang tidak memandang jenis kelamin atau orientasi seksualnya (Marriage Equality). Simbol ini pertama kali didesain oleh Gilber Parker dalam bentuk bendera pada tahun 1978 yang dikibarkan pada Gay Freedom Day Parade (Wikipedia).

Oleh karena itu dalam konteks kekinian yang mempelangikan foto profilnya di medsos bisa dianggap sebagai pendukung, pelaku homoseksual dan pernikahan yang sejenis, kecuali memang yang bersangkutan tidak mengetahui makna dibalik bendera pelangi itu.

Foto profil yang dipelangikan ini secara desain memang menarik, namun bagi teman-teman pembaca, khususnya yang beragama Islam dan Agama-agama yang melarang aktivitas homoseksual, saya sangat menyarankan untuk mempertimbangkannya dengan matang, karena akibatnya yang sangat berat secara agama, salah satu dosa besar.

Saya hanya menyampaikan, keputusan dan tanggungjawabnya ada di tangan teman-teman pembaca sendiri.

Sumber :

Rahmad Agus Koto
http://www.kompasiana.com/ajuskoto/foto-profil-pelangi-dan-homoseksual-lgbt_558f3400957a61090b42e8c4

 

5 Tipe Dosen dan Bagaimana Cara Menghadapinya?

Namanya juga manusia, dosen juga punya karakter tertentu yang menonjol dalam mengajar. kalau kita tahu pasti tipe dosen-dosen kita, nggak perlu pusing menghadiri kelas karena kita sudah tahu celah mengambil hatinya, dong.

1. Penjaga Tiket
Dosen ini senang mengecek tugas mahasiswa sebelum kuliah dimulai. ibaratnya, mengerjakan tugas merupakan ‘tiket’ masuk kelas. jadi, kalau belum mengerjakan tugas, kita bakal disuruh keluar kelas dan baru boleh masuk setelah tugasnya selesai.
Menghadapi tipe dosen seperti ini, sebenarnya, mudah saja. Asal kita selalu mengerjakan tugas sebelum kelas dimulai, maka kita bisa aman sampai lulus, tuh. Seharusnya, jadi motivasi kita juga, kan, untuk mengerjakan tugas kuliah.

2. Curhat colongan
Ada pula dosen yang senang bercerita. hampir di setiap kuliahnya, sang dosen bakal berbagi tentang pengalaman hidupnya sambil membanding-bandingkan dengan konteks kuliah atau kehidupan sekarang. Selama masih nyambung dengan materi kuliah, sih, maklum aja. tapi, ujung-ujungnya, sang dosen malah curcol.
Kalau dosen ini mulai kumat bercerita, kita bisa menginterupsi beliau dengan, mengajukan pertanyaan yang menyangkut materi kuliah. Kalau nggak, dengarkan saja, siapa tahu kita bisa belajar sesuatu dari ceritanya–nggak melulu soal akademis.

3. Text-book berjalan
Dosen tipe ini, ilmu yang dimilikinya sebatas hafalan di buku kuliah. Umumnya, beliau juga nggak suka mahasiswa yang terlalu kritis bertanya alias jawabannya nggak ada dalam buku. Makanya, kalau mau ujian bagus, kita harus mati-matian menghafal diktat kuliah–kalau perlu sampai titik-komanya, he he he…
Susah-susah gampang memang menghadapi dosen begini. kalau kita kuat dalam menghafal, sih, nggak jadi masalah. Hanya saja, dosen seperti, nih, yang nggak menjadikan mahasiswanya pandai–cuma menghafal. Tapi, kita boleh, kok, berdiskusi dengan dosen lain yang lebih terbuka untuk menambah masukan.

4. Malas ngajar
Setiap ikut kelasnya, kita cuma disuruh mencatat, merangkum, atau mengerjakan tugas. Selagi kita mencatat atau mengerjakan tugas, beliau cuma duduk dan sibuk menulis–atau bermain ponsel dan entah ngapain. Parahnya, di jam mengajar, beliau juga suka meninggalkan kelas dan baru kembali menjelang kelas usia.
Kalau kita pemalas, sih, dapat dosen seperti ini, asyik banget. tapi sadar nggak, artinya, kita mmbayar biaya kuliah dengan percuma untuk dosen tersebut. Makanya, kita berhak melaporkan sikap dosen ini kepada kepala jurusan kalau kelakuannya berkelanjutan terus.

5. Penerima upeti
Dosen tipe ini senang ‘dimanjakan’ dengan hadiah dan upeti. Agak malas, sih, memang menghadapi dosen seperti ini. kalau memang kita nggak kesulitan memberi, mungkin dosen seperti ini bukanlah dosen yang sulit dihadapi, tapi kalau tidak?
Selama prestasi akademis kita memang baik-baik saja, nggak perlu khawatir dengan dosen ini. Nggak mungkin, kan, beliau memberi nilai yang menjatuhkan kalau nilai kita di mata kuliah lain baik-baik saja. Kalau memang merasa mampu mengikuti kuliahnya, kita bisa mengikuti kuliahnya, kita bisa menuntut bukti penilaiannya terhadap tugas kita.

http://m.citacinta.com/

Mengenal JIN : Jemaat Islam Nusantara

JIN : JEMAAT ISLAM NUSANTARA

Sejak terbitnya Fatwa MUI pada tahun 2005 tentang kesesatan SEPILIS (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme), maka kalangan Sepilis sibuk mencari nama baru yang manipulatif sehingga mudah menipu, menjebak dan membodohi masyarakat awam.

Akhirnya, mereka gonta-ganti nama, sebentar Islam Moderat, sebentar Islam Inklusif, sebentar lagi Islam Multikulturalisme, namun tetap tidak laku, karena masih ada aroma bahasa asing (Inggris), sehingga tetap dicurigai oleh masyarakat.

Kini, mereka menggunakan nama yang bisa lebih akrab dengan masyarakat Indonesia, dengan aroma Kebangsaan dan Nasionalisme Indonesia, yaitu ISLAM NUSANTARA,

Namun isinya tetap beraroma SEPILIS, karena jargonnya tetap sama, yaitu : Human Right, Freedom and Local Wisdom (HAM, Kebebasan dan Kearifan Lokal).

Hanya saja kali ini, JIN lebih mengedepankan Misi Budaya. Atas nama Budaya Nusantara, JIN pelan tapi pasti ingin menggerus ajaran Islam. Saat ini, PROPAGANDA JIN, antara lain :

1. ISLAM PENDATANG

Bagi JIN bahwa Islam di Indonesia adalah “pendatang” dari Arab yang “numpang”, bukan agama “asli” bangsa Indonesia.

TANGGAPAN : Islam adalah agama asli yang turun dari Langit untuk seluruh penduduk Bumi, karena Islam datang dari Allah SWT Sang Pemilik Alam Semesta, sehingga Islam dimana saja di atas Bumi Allah SWT akan selalu menjadi agama “Asli” yang “Pribumi”, dan tidak akan pernah jadi “Pendatang”.

Jadi, Islam bukan dari Arab, tapi dari Langit yang diturunkan pertama kali di tengah orang Arab, kemudian disebarkan ke seluruh Dunia.

2. PRIBUMISASI ISLAM

Islam sebagai pendatang dari Arab harus tunduk dan patuh kepada Indonesia selaku Pribumi, sehingga Islam harus siap “Dipribumisasikan” agar tunduk kepada Budaya setempat

Karenanya, tidak boleh lagi ada istilah “Islamisasi Indonesia”, tapi yang mesti dilaksanakan adalah “Indonesia-isasi Islam”. Jadi, jangan pernah katakan “Indonesia Negara Islam”, tapi katakanlah “Islam ada di Indonesia”.

TANGGAPAN : Jika pola pikir ini benar, maka Islam di China mesti di-Cina-isasi, dan Islam di India mesti
di-India-isasi, serta Islam di Amerika juga mesti di-Amerika-isasi, dan seterusnya, sehingga Islam di Dunia jadi bermacam-macam dan berjenis-jenis sesuai negerinya.

Jika mundur lagi ke belakang, mestinya saat Islam ada di tengah masyarakat Jahiliyyah, maka Islam harus di-Jahiliyyah-isasi.

Jelas, pola pikir di atas ngawur dan tidak ilmiah, bahkan sesat menyesatkan.

3. TOLAK ARABISASI

Islam yang ada di Indonesia selama ini adalah “Islam Arab”, sehingga Budaya Nusantara terancam dan tergerus oleh Arabisasi.

Karenanya, di Indonesia semua Budaya Arab yang menyusup dalam Islam harus diganti dengan Budaya Nusantara, sehingga ke depan terwujud “Islam Nusantara” yang khas bagi Bangsa Indonesia.

Intinya, JIN menolak semua Budaya Islam yang beraroma Arab, karena dalam pandangan mereka semua itu adalah “Arabisasi Islam”, sehingga perlu ada Gerakan “Indonesia-isasi Islam” di Nusantara.

TANGGAPAN : Rasulullah SAW diutus di tengah Bangsa Arab untuk meng-Islam-kan Arab, bukan meng-Arab-kan Islam. Bahkan untuk meng-Islam-kan seluruh Bangsa-Bangsa di Dunia, bukan untuk meng-Arab-kan mereka.

Jadi, tidak ada Arabisasi dalam Islam, yang ada adalah Islamisasi segenap umat manusia.

4. AMBIL ISLAM BUANG ARAB

Islam sebagai pendatang dari Arab tidak boleh mengatur apalagi menjajah Indonesia, tapi Islam harus tunduk dan patuh kepada Indonesia selaku Pribumi.

Karenanya, Bangsa Indonesia boleh ambil Budaya Islam, tapi wajib tolak Budaya Arab, agar supaya Budaya Nusantara tidak terjajah dan tidak pula tergerus oleh Budaya Arab.

TANGGAPAN : Ini adalah Propaganda Busuk JIN yang ingin menolak Budaya Islam dengan “dalih” Budaya Arab. Pada akhirnya nanti, semua ajaran Islam yang ditolak dan tidak disukai JIN, akan dikatakan sebagai “Budaya Arab”.

Dan propaganda ini sangat berbahaya, karena menumbuh-suburkan sikap RASIS dan FASIS, serta melahirkan sikap ANTI ARAB, yang pada akhirnya mengkristal jadi ANTI ISLAM.

5. AMBIL ISLAM BUANG JILBAB

Menurut JIN bahwa Jilbab adalah Budaya Arab karena merupakan pakaian Wanita Arab, sehingga harus diganti dengan pakaian adat Nusantara.

TANGGAPAN : JIN buta sejarah, karena di zaman Jahiliyyah, masyarakat Arab tidak kenal Jilbab, dan Wanita Arab tidak berjilbab. Bahkan Wanita Arab saat itu terkenal dengan pakaian yang umbar aurat dan pamer kecantikan, serta Tradisi Tari Perut yang buka puser dan paha.

Lalu datang Islam mewajibkan Wanita Muslimah untuk berjilbab menutup Aurat, sehingga Wanita Muslimah jadi berbeda dengan Wanita Musyrikah. Dengan demikian, Jilbab adalah Busana Islam bukan Busana Arab, dan Jilbab adalah Kewajiban Agama bukan Tradisi dan Budaya.

6. AMBIL ISLAM BUANG SALAM

Ucapan “Assalaamu ‘Alaikum” adalah Budaya Arab, sehingga harus diganti dengan “Salam Sejahtera” agar bernuansa Nusantara dan lebih menunjukkan jatidiri Bangsa Indonesia.

TANGGAPAN : Lagi-lagi JIN buta sejarah, karena di zaman Jahiliyyah, salam masyarakat Arab adalah “Wa Shobaahaah”, bukan “Assalaamu ‘Alaikum”.

Lalu datang Islam yang mengajarkan umatnya salam syar’i antar kaum muslimin, yaitu “Assalaamu ‘alaikum wa rohmatullaahi wa barokaatuh”. Jadi, “Assalaamu ‘Alaikum” adalah “Tahiyyatul Islam” bukan “Tahiyyatul ‘Arab.”

7. AMBIL TILAWAH QUR’AN BUANG LANGGAM ARABNYA

Termasuk Baca Al-Qur’an tidak perlu lagi dengan Langgam Arab, tapi sudah saatnya diganti dengan Langgam Nusantara seperti Langgam Jawa dan Sunda atau lainnya, agar supaya lebih Indonesia.

TANGGAPAN : Membaca Al-Qur’an dengan Langgam Arab bukan kemauan orang Arab, akan tetapi perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Dan karena Al-Qur’an diturunkan dalam Bahasa Arab, tentu membacanya harus dengan Langgam Arab, agar sesuai dengan intonasi makna dan arti. Dan itu pun tidak tiap Langgam Arab boleh untuk Tilawah Al-Qur’an.

Langgam Gambus dan Langgam Qoshidah berasal dari Arab, tapi tidak boleh digunakan untuk Tilawah Al-Qur’an, karena keduanya adalah Langgam Seni dan Budaya serta Musik dan Hiburan.

Apalagi Langgam Tari Perut yang merupakan Langgam Seni dan Budaya Arab untuk pertunjukan ma’siat, lebih tidak boleh digunakan untuk Tilawah Al-Qur’an.

Karenanya, membaca Al-Qur’an dengan Langgam selain Arab tidak diperkenankan, karena memang tidak sesuai dengan pakem Bahasa Arab, sehingga tidak akan sesuai dengan intonasi makna dan arti.

Apalagi dengan Langgam Seni dan Budaya selain Arab yang digunakan untuk hiburan dan pertunjukan, seperti Langgam Dalang Pewayangan, Langgam Sinden Jaipongan, Langgam
Gambang Kromong, dan sebagainya, tentu lebih tidak boleh lagi.

Allah SWT telah menganugerahkan Bangsa Indonesia kefasihan dalam Lisan Arab, sehingga dari Sabang sampai Merauke, orang dewasa maupun anak-anak, sangat fasih dalam mengucapkan lafzhul Jalalah “Allah” dan aneka Dzikir seperti “Subhanallah wal Hamdulillaah wa Laa ilaaha illallaah wallaahu Akbar.” Dan mereka pun sangat fasih juga dalam membaca Al-Qur’an.

Bahkan Bangsa Indonesia sangat Ahli dalam Ilmu Tajwid dan amat piawai dalam Tilawatil Al-Qur’an dengan Langgam Arab, sehingga di hampir setiap Musabaqoh Tilawatil Qur’an Internasional, para Qori Indonesia banyak sukses dan berhasil keluar jadi Juara Dunia Tilawah.

Karenanya, pembacaan Al-Qur’an dengan Langgam Dalang Pewayangan adalah “Kemunduran”, dimana Bangsa Indonesia yang sudah sangat maju dalam Tilawatil Qur’an, hingga mengungguli Bangsa Arab sekali pun, lalu dibawa mundur jauh ke Alam Mitos Pewayangan di zaman Semar dan Petruk.

8. AMBIL AL-QUR’AN BUANG BAHASA ARABNYA

Baca Al-Qur’an tidak mesti dengan Bahasa Arab, tapi cukup dengan terjemah Indonesianya saja, agar umat Islam Indonesia bisa langsung menyimak dan memahami makna dan arti ayat-ayat yang dibaca.

TANGGAPAN : Inilah tujuan sebenarnya dari Propaganda JIN yaitu menjauhkan Al-Qur’an dari umat Islam, karena mereka paham betul bahwa Ruh dan Jiwa Islam adalah Al-Qur’an.

Bagi JIN, siapa ingin hancurkan dan lenyapkan Islam, hancurkan dan lenyapkanlah Al-Qur’annya.

Jadi jelas sudah, bahwa yang diserang JIN sebenarnya bukan Arab, tapi Islam.

Karenanya, selain yang sudah disebutkan di atas, JIN juga melakukan aneka ragam propaganda ANTI ARABISASI untuk merealisasikan tujuan busuknya, antara lain :

a. Menolak istilah-istilah yang diambil dari Bahasa Arab, hingga sebutan Abi dan Ummi pun mereka kritisi, sehingga harus diganti dengan istilah-istilah Indonesia, tapi lucunya mereka alergi dengan istilah Arab namun sangat suka dan amat fasih menggunakan istilah-istilah Barat.

b. Menolak penamaan anak dengan nama-nama Islam yang diambil dari
Bahasa Arab, sehingga anak Indonesia harus diberi nama Indonesia. Tapi lucunya mereka senang dan bangga dengan penamaan anak Indonesia dengan nama-nama Barat dengan dalih lebih modern, walau pun bukan nama Indonesia.

c. Bahkan mulai ada rumor penolakan terhadap pengkafanan mayyit dengan Kain Putih karena beraroma Tradisi Arab, sehingga perlu diganti dengan Kain Batik agar kental aroma Indonesia. Bahkan mereka mulai tertarik dengan pakaian Jas dan Dasi Barat buat mayyit sebagaimana pengurusan Jenazah Non Islam, dengan dalih jauh lebih keren dan rapih ketimbang “pocong”, walau bukan Budaya Indonesia.

FITNAH JIN

Jika ada yang menolak gerakan JIN, maka serta merta dituduh dan difitnah : Tidak Nasionalis dan Tidak Pancasilais, serta Anti Kebangsaan dan Anti Nusantara, juga Intoleransi dan Fundamentalis, bahkan Ekstrimis dan Teroris.

Padahal, Islam tidak mengenal RASIS dan FASIS. Siapa pun manusianya, apa pun suku bangsanya, selama mereka beriman kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW maka mereka bersaudara.

Dan umat Islam sangat menghargai Seni dan Budaya Bangsa-Bangsa di Dunia, selama tidak melanggar Syariat Islam.

Karenanya, umat Islam di Indonesia sangat terbuka menggunakan Langgam aneka daerah dalam Da’wah melalui seni Qashidah dan Sholawat serta Syair Islam, sebagaimana pernah dilakukan para Wali Songo ketika menyebar-luaskan Islam ke seluruh Nusantara. Namun tidak untuk Tilawatil Qur’an.

Lihat saja, aneka Syair Sholawat dan Dzikir serta Doa di berbagai daerah se-Nusantara, antara lain ;

1. Sholawat PADANG BULAN dan LIR ILIR yang masyhur di masyarakat Jawa, dan sering dibawakan oleh Habib Syeikh bin Abdul Qodir Assegaf dari Solo. Lihat linknya di You Tube :

PADANG BULAN – https://youtu.be/604Ji65mWB8

LIR ILIR – https://youtu.be/wXaN-SqbHpc

2. Dzikir ADUH GUSTI yang populer di masyarakat Sunda :

Ilaahii Lastu Lil Firdausi Ahlan Wa Laa Aqwaa ‘Alaa Naaril Jahiimi

Fahablii Taubatan Waghfir Dzunuubii Fa Innaka Ghoofirudz Dzanbil ‘Azhiimi …

Aduh Gusti, abdi sanes ahli Surga Namun hante kiat Nahan panas Neraka

Mugi Gusti, kersa maparinan tobat
Ngahampura dosa Abdi anu lepat

KESIMPULAN

JIN (Jemaat Islam Nusantara) merupakan paham yang sesat dan menyesatkan, serta bukan dari ajaran Islam, sehingga wajib ditolak dan dilawan serta diluruskan.

JIN adalah Gerombolan RASIS dan FASIS yang ANTI ARAB, bahkan ANTI ISLAM. Jika mereka bisa mendapatkan jalan untuk menolak KEARABAN bahasa Al-Qur’an atau KEARABAN suku bangsa Nabi Muhammad SAW dan Keluarga serta para Shahabatnya, niscaya akan mereka lakukan, saking bencinya terhadap Arab, dan dengkinya terhadap Islam.

Na’uudzu Billaahi Min Dzaalik ..

HABIB MUHAMMAD RIZIEQ BIN HUSEIN SYIHAB

Dalil Kesahihan Shalat Tarawih 20 Rakaat

Saat ini tidak jarang kita mendengar atau membaca Bahwasanya Shalat Tarawih 20 rakaat itu Bid’ah, yang dilakukan Nabi SAW hanya 8 rakaat ditambah 3 rakaat sebagai Witir. Entah hal itu disuarakan di Mimbar-Mimbar, Majalah, selebaran, Radio, TV dan khususnya di Media Internet.

Sebenarnya bagi kami Ahlussunah Wal Jama’ah yang berpegangan pada salah satu Imam dari Madzhab 4 yang tak lain adalah Generasi Salaf, tak ada masalah jika ada yang melakukan Tarawih 8 rakaat bahkan 2 rakaat pun juga tak masalah. Yang jadi masalah adalah ketika ada orang yang melakukan Shalat Tarawih 8 rakaat ditambah Witir 3 rakaat kemudian menganggap lebih dari itu adalah Bid’ah.

Pada dasarnya Shalat Tarawih sendiri tidak dibatasi oeh Rasulullah SAW, hanya saja ada sekelompok orang yang salah faham akan sebuah Hadits yang dianggapnya sebagai Shalat Tarawihnya Rasulullah, sedangkan yang berbeda dengan pemahamannya dianggap Salah dan Bid’ah. Baiklah untuk memperjelas seperti apa sebenarnya Shalat Tarawih yang dilakukan oleh Rasulullah SAW yang kemudian dilanjutkan oleh Generasi Sahabat di bawah pimpinan Khulafa’ Ar-Rasyidin. Kemudian dilanjutkan oleh Generasi Tabi’in sampai pada masa Para Imam Madzhab, berikut ini adalah penjelasan rinci tentang hal tersebut:

Shalat Tarawih adalah termasuk Qiyamullail (menghidupkan malam dengan Ibadah) di Bulan Ramadhan, dan ini adalah termasuk Shalat Sunnah yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW dan Para Sahabat yang pada awalnya dilakukan sendiri-sendiri akan tetapi pada akhirnya dilakukan dengan cara berjama’ah.

عن السيدة عائشة رضي الله عنها قالت : ( إن النبي صلى الله عليه وسلم صلى في المسجد فصلى بصلاته ناس، ثم صلى من القابلة فكثر الناس، ثم اجتمعوا في الليلة الثالثة فلم يخرج إليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم، فلما أصبح قال: “قد رأيت الذي صنعتم ولم يمنعني من الخروج إليكم إلا أني قد خشيت أن تفرض عليكم”). رواه البخاري (2012) وأبو داود (1373)
Telah diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah r.a. beliau berkata: “Sesungguhnya Nabi SAW Shalat di Masjid kemudian diikuti orang-orang, kemudian Shalat lagi di malam berikutnya maka orang-orang yang Shalat semakin banyak. Kemudian di malam ketiganya orang-orang telah berkumpul (di Masjid) akan tetapi Rasulullah SAW tidak keluar. Ketika tiba di pagi harinya Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh aku telah melihat apa yang kalian lakukan, (sebenarnya) tiada yang menghalangiku keluar kepada kalian melainkan aku takut Shalat Tarawih diwajibkan atas kalian”. HR. Bukhari no. 2012 dan Abu Daud no. 1373.

Ketika para Sahabat mengetahui sebab tidak keluarnya Rasulullah SAW itu karena khawatir Shalat Tarawih itu diwajibkan kepada mereka bukan karena pada Qiyamullail tersebut ada pelanggaran secara Syariat, sehingga malam berikutnya para Sahabat tetap pergi ke Masjid dan melakukan Shalat di Masjid. Sebagian mereka ada yang Shalat sendirian dan sebagian ada yang berjama’ah dan hal ini berlangsung sampai pada masa pemerintahan Sayyidina Umar r.a.

Suatu ketika Sayyidina Umar r.a. memasuki Masjid dan menemukan mereka dalam jumlah yang banyak sehingga Masjid penuh sesak oleh Para Sahabat dan Tabi’in, dan setiap orang ada yang Shalat sendirian ada pula yang berjama’ah dengan temannya. Sayyidina Umar r.a. memandang hal ini dengan pandangan penuh wawasan terhadap keadaan mereka untuk mencarikan jalan keluar agar mereka lebih Khusyu’. Sehingga beliau memberi ketetapan dengan mengumpulkan mereka pada satu Imam yaitu Sayyidina Ubay Bin Ka’ab r.a. sebagaimana yang diriwayatkan oleh Sayyidina Abdurrahman Bin Abdulqori, beliau berkata:

“خرجت مع عمر بن الخطاب رضي الله عنه ليلة في رمضان إلى المسجد، فإذا الناس أوزاع متفرقون يصلي الرجل لنفسه، ويصلي الرجل فيصلي بصلاته الرهط، فقال عمر رضي الله عنه: إني أرى لو جمعت هؤلاء على قارئ واحد لكان أمثل، ثم عزم فجمعهم على أبي بن كعب، ثم خرجت معه ليلة أخرى والناس يصلون بصلاة قارئهم، قال عمر: (نعمت البدعة هذه والتي ينامون عنها أفضل من الذين يقومون يريد آخر الليل وكان الناس يقومون أوله). رواه البخاري (2010)
“Suatu ketika aku keluar ke Masjid bersama Umar Bin Khattab r.a. pada suatu malam di Bulan Ramadhan, sedangkan orang-orang terpisah-pisah, ada yang Shalat sendirian ada pula yang Shalat kemudian diikuti oleh sekelompok orang. Kemudian Umar berkata: “Sungguh aku memandang andai aku kumpulkan mereka pada satu Imam tentunya itu lebih baik”. Kemudian beliau mengumpulkan mereka pada Ubay Bin Ka’ab, kemudian aku keluar bersama Umar pada malam lainnya sedangkan orang-orang Shalat dengan Imam mereka, kemudian Umar berkata: “Sebaik-baik Bid’ah adalah ini, sedangkan yang tidur terlebih dahulu kemudian bagun di akhir malam itu lebih utama, sedangkan orang-orang melakukannya di awal malam”. HR. Bukhari no. 2010.

Dalam hal ini apa yang dilakukan oleh Sayyidina Umar tidak diingkari oleh seorangpun dari Kalangan Sahabat sedangkan hal ini belum ada sebelumnya akan tetapi mereka tahu bahwa apa yang dilakukan oleh Sayyidina Umar tidaklah menyalahi As-Sunnah. Nabi Muhammad SAW ketika memutuskan untuk tidak keluar di malam ketiga Ramadhan hanya karena khawatir Qiyamullail tersebut diwajibkan atas mereka. Sedangkan setelah Nabi Muhammad SAW wafat sehingga turunnya Wahyu tentang suatu Hukum itu telah terhenti, pun di sana tiada satu hal yang mencegah mereka untuk Shalat berjama’ah pada satu Imam di Masjid, terlebih dalam jama’ah itu tentunya lebih sempurna dalam hal kekhusyu’an dan lebih banyak pula pahalanya dari pada Shalat sendirian. Sedangkan Rasulullah SAW bersabda:

“عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا عليها بالنواجذ”. رواه أحمد (4/126) وأبو داود (4607) والترمذي (2676) وابن ماجه (43)
“Hendaknya kalian mengikuti Sunnahku dan Sunnahnya Khulafa’ Ar-Rasyidin yang mendapatkan hidayah, berpegang teguhlah dengan Sunnah tersebut”. HR. Ahmad (Juz 4 hal. 126), Abu Daud no. 4607, Tirmidzi no. 2676 dan Ibnu Majah no 43.

Di sisi Rasulullah SAW juga bersabda:

“اقتدوا باللذين من بعدي أبي بكر وعمر”.
رواه أحمد (5/382) والترمذي (3662) وابن ماجه (97)
“Ikutilah 2 orang ini setelahku, yaitu Abu Bakar dan Umar”. HR. Ahmad (Juz 5 hal. 382), Tirmidzi no. 3662 dan Ibnu Majah no. 97.

Maka dari itu Sayyidina Umar r.a. memperbanyak bilangan rakaatnya akan tetapi meringankan bacaanya dari pada memanjangkan satu rakaat akan tetapi memberatkan Makmum. Sedangkan apa diucapkan oleh beliau tentang “Sebaik-baik Bid’ah adalah ini”, itu hanya dimaksudkan Qiyamullail di awal malam tidak seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW yang melakukan di pertengahan malam atau di penghujungnya. Hal ini sebagaimana telah dikatakan oleh Sayyidina Umar pada Hadits sebelumnya yaitu: “Sedangkan yang tidur terlebih dahulu kemudian bagun di akhir malam itu lebih utama, sedangkan orang-orang melakukannya di awal malam”. Begitu juga penafsiran dari Perawi Hadits tersebut yaitu Sayyidina Abdurrahman r.a. tentang hal tersebut.

Sedangkan ada sekelompok orang dari kalangan Salaf yang melakukan Qiyamullail Ramadhan dengan bilangan 40 Rakaat ditambah 3 rakaat Shalat Witir sedangkan yang lainnya melakukan Shalat Tarawih 36 rakaat ditambah 3 rakaat Shalat Witir dan lain-lain sebagaimana yang akan kami sebutkan nanti, Insya Alah.

Adapun dalil secara terperincinya adalah sebagai berikut:

عن يزيد بن رومان قال: “كان الناس في زمن عمر يقومون في رمضان بثلاث وعشرين ركعة”. رواه مالك في الموطأ (106)
Dari Yazid Bin Ruman, beliau berkata: “Orang-orang pada masa Umar melakukan Qiyamullail di Bulan Ramadhan dengan 23 rakaat”. HR. Malik dalam Al-Muwaththo’ hal. 106.

وعن سيدنا السائب بن يزيد رضي الله عنه قال: “كانوا يقومون على عهد عمر بن الخطاب رضي الله عنه في شهر رمضان بعشرين ركعة وكانوا يقومون بالمئتين وكانوا يتوكؤون على عصيهم في عهد عثمان من شدة القيام”.
رواه البيهقي في السنن الكبرى (496/2) وصححه العيني والقسطلاني في شرحيهما لصحيح البخاري والسبكي في شرح المنهاج والكمال بن الهمام في شرح الهداية والعراقي في شرح التقريب والإمام النووي في المجموع.
Dari Sayyidina Saib Bin Yazid r.a. beliau berkata: “Dahulu pada masa Uman Bin Khattab r.a. orang-orang melakukan Qiyamullail pada Bulan Ramadhan 20 rakaat dengan membaca 200 ayat, sedangkan pada masa Utsman r.a. mereka bersender pada tongkat karena lamanya berdiri”. (HR. Bayhaqi dalam As-Sunan Al-Kubra Juz 2 hal. 496 dan dishahihkan oleh Al-‘Aini dan Al-Qasthalani dalam Syarah mereka terhadap Shahih Bukhari, Begitu juga As-Subuki dalam Syarah Al-Minhaj, Al-Kamal Bin Al-Hamam dalam Syarah Al-Hidayah, Al-‘Iraqi dalam Syarah At-Taqrib dan Imam Nawawi dalam Al-Majmu’.)

وأخرج المروزي عن زيد بن وهب أنه قال: “كان عبد الله بن مسعود يصلي لنا في شهر رمضان فينصرف وعليه ليل”، قال الأعمش: “كان يصلي عشرين ركعة يوتر بثلاث”.
Imam Al-Maruzi meriwayatkan dari Zaid Bin Wahab, beliau berkata: “Dahulu Abdullah Bin Mas’ud melakukan Shalat bersama kami pada bulan Ramadhan, kemudian beliau pulang sedangkan malam masih tersisa”, Al-A’masy berkata: “Beliau telah melakukan Shalat 20 rakaat serta 3 rakaat witir”.

Begitu juga riwayat dari Daud Bin Qais, beliau berkata:

“أدركت الناس في إمارة أبان بن عثمان وعمر بن عب العزيز يعني بالمدينة يقومون بست وثلاثين ركعة ويوترون بثلاث”.
“Aku menemukan orang-orang pada masa pemerintahan Aban Bin Utsman dan Umar Bin Abdul Aziz di Madinah melakukan Qiyamullail (Shalat Tarawih) 36 rakaat serta 3 rakaat Witir”.

Begitu juga riwayat dari Nafi’, beliau berkata:

“لم أدرك الناس إلا وهم يصلون تسعا وثلاثين ويوترون منها بثلاث”.
“Tidaklah aku menemui orang-orang melainkan mereka melakukan Shalat (Tarawih) 39 rakaat dengan 3 rakaatnya sebagai Witir”.

Imam Ibnu Hajar menukil bahwa Imam Malik berkata:

“الأمر عندنا بتسع وثلاثين وبمكة بثلاث وعشرين، وليس في شيء من ذلك ضيق” ونقل عنه أيضا قوله: “أنها بست وأربعين وثلاث وتر”.
“(Shalat Tarawih) bagi kami (di Madinah) adalah 39 rakaat sedangkan di Mekkah 23 rakaat dan dalam hal ini tidak ada yang dipermasalahkan”.

Imam Ibnu Hajar juga menukil dari Imam Malik pula:

“أنها بست وأربعين وثلاث وتر”
“Bahwasannya Shalat Tarawih itu 46 rakaat serta Witir 3 rakaat”.

عن زرارة بن أوفى أنه كان يصلي بهم في البصرة أربعا وثلاثين ويوتر بثلاث، وعن سيدنا سعيد بن جبير رضي الله عنه أربعا وعشرين.
Diriwayatkan dari Zurarah Bin Aufa sesungguhnya beliau melakukan Shalat Tarawih dengan orang-orang di Bashrah 34 rakaat disertai Witir 3 rakaat, sedangkan Sayyidina Said Bin Jubair r.a. (melakukan Shalat Tarawih) 24 rakaat.

Dari Ishaq Bin Manshur, beliau berkata:

قلت لأحمد بن حنبل: “كم ركعة يصلى في قيام رمضان؟” فقال: “قد قيل ألوان نحو أربعين وإنما هو تطوع”.
“Aku berkata kepada Ahmad Bin Hanbal: “Berapa rakaat Shalat Tarawih dilakukan pada bulan Ramadhan?”, beliau berkata: “Sungguh telah dikatakan hal itu bermacam-macam setidaknya 40 rakaat, (soalnya) ini hanya Sunnah”.

Imam Tirmidzi berkata:

“أكثر ما قيل أنه يصلي إحدى وأربعين مع الوتر”.
“Kebanyakan yang dikatakan bahwasannya Shalat Tarawih itu 41 rakaat disertai Witir”.

Hal ini tidak lain adalah berbedanya pendapat 4 Madzhab tentang bilangan rakaat Tarawih sebagai berikut:

Madzhab Syafi’i, Hanafi dan Hanbali menyatakan bahwasannya Shalat Tarawih itu 20 rakaat dengan 10 kali Salam. Hal ini berdasarkan riwayat yang mereka ambil dari Kalangan Sahabat r.a. bahwasannya Para Sahabat melakuan Shalat Tarawih pada masa Sayyidina Umar, Sayyidina Utsman dan Sayyidina Ali sebanyak 20 rakaat. Dan ini pula yang diambil dalam Madzhabnya Imam Daud Adz-Dzohiri.

Imam Tirmidzi berkata:

“وأكثر أهل العلم على ما روي عن عمر وعلي وغيرهما من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو قول النووي وابن المبارك”.
“Kebanyakan Ahli Ilmu (Ulama’) itu berdasarkan riwayat dari Sayyidina Umar, Sayyidina Ali dan yang lainnya dari Kalangan Sahabat Rasulullah SAW, dan ini adalah pendapatnya Imam Nawawi dan Ibnu Mubarak”.

Imam Syafii berkata:

“هكذا أدركنا بمكة يصلون عشرين ركعة”. فقه السنة (54/2) والترمذي (170/3)
“Beginilah kami menemui orang-orang di Mekkah Shalat 20 rakaat”. Fiqh As-Sunnah Juz 2 hal. 54, Imam Tirmidzi Juz 3 hal. 170

Sedangkan Imam Malik melakukan Shalat Tarawih 46 rakaat selain Witir seperti yang dinukil oleh Imam Ibnu Hajar di Fath Al-Bari, sedangkan dalam riwayat lain dari Imam Malik itu 39 rakaat dengan 36 rakaat sebagai Tarawih dan 3 rakaat sebagai Witir.

Sampai di sini bisa kita tarik benang merah pada apa yang terjadi di Generasi Salaf dan Sahabat dan para pengikut mereka bahwa bilangan rakaat dalam Shalat Tarawih itu tidak dibatasi, bahkan Syeikh Ibnu Taymiyah Al-Hanbali (rujukan utama Wahhabi) berkata:

“اعلم أنه لم يوقت رسول الله صلى الله عليه وسلم في التراويح عددا معينا، ومن ظن أن التراويح على عدد معين مؤقت من النبي صلى الله عليه وسلم لا يزيد ولا ينقص فقد أخطأ”. ذكره ملا علي القاري في شرحه مشكاة المصابيح ص 175
“Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah SAW tidak menentukan bilangan tertentu dalam Shalat Tarawih, sedangkan barang siapa yang menyangka bahwa Qiyam Ramadhan (Tarawih) itu dibatasi dengan bilangan tertentu oleh Nabi SAW, tak lebih dan tak kurang, maka dia telah salah”. Disebutkan oleh Mulla Ali Al-Qari dalam Syarahnya Misykah Al-Mashabih hal. 175.

Sedangkan apa yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah berikut ini:

“ما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يزيد في رمضان ولا في غيره على إحدى عشر ركعة”. رواه البخاري (1096) ومسلم (738) وأبو داود (1341) والنسائي (1696) والترمذي (439) ومالك في الموطأ (114/1)
“Tidaklah Rasulullah SAW menambah lebih dari 11 rakaat di bulan Ramadhan dan selainnya”. HR. Bukhari no. 1096, Muslim no. 738, Abu Daud no. 1341, Nasai no. 1696, Tirmidzi 439 dan Malik dalam Al-Muwaththa’ juz 1 hal. 114.

Dalam riwayat tersebut tak lain yang dimaksud adalah bilangan rakaat Shalat Witir bukan Tarawih. Sebab Sayyidah Aisyah r.a. berkata: “Di Ramadhan dan selainnya”, sedangkan di luar Ramadhan tidak ada Shalat Tarawih bedahalnya dengan Shalat Witir, di Bulan Ramadhan ada dan di luar Ramadhan juga ada.

Bahkah Imam Tirmidzi mengatakan:

“روي عن النبي صلى الله عليه وسلم الوتر بثلاثة عشرة وإحدى عشر وتسع وسبع وخمس وثلاث وواحدة”.
“Telah diriwayatkan dari Nabi SAW bahwasannya Shalat Witir itu 13, 11, 9, 7, 5, 3 dan 1 rakaat”.

Jika di luar Ramadhan saja Rasulullah melakukan Shalat Witir 11 atau 13 rakaat, apakah masuk akal jika Rasulullah melakukan Shalat Witir di Bulan Ramadhan yang merupakan Bulan Ibadah itu hanya 3 rakaat? Hal ini jika kita mengacu pada pendapat yang mengatakan 8 rakaat sebagai Tarawih dan 3 rakaat sebagai Witir, sungguh pemahaman yang sangat jauh.

Kemudian, jika kita katakan yang dimaksud dari 11 rakaat adalah Tarawih dan Witir, yakni 8 rakaat kita jadikan Tarawih dan 3 rakaatnya adalah Witir. Hal ini tentu bertentangan dengan apa yang ada pada Masa Sahabat di mana mereka melakukan Shalat Tarawih 20 rakaat sampai pada masa Imam Malik dan Imam Syafii.

Lantas, apakah masuk akal jika Sayyidah Aisyah r.a. mengetahui Tarawihnya Sahabat itu 20 rakaat kemudian beliau hanya diam saja menyaksikan mereka melakukan hal yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah SAW?

Terus, apakah masuk akal jika semua Sahabat berkumpul untuk melakukan sesuatu yang kemudian mereka anggap sebagai Ijma’ (kesepakatan bersama) tanpa seorangpun yang mengingkarinya, kemudian hal ini dianggap menyalahi Syariat?

Sungguh demi Allah hal ini adalah pemahaman yang amat jauh sekali. Sedangkan sebagaimana diketahui adalah bahwasannya Shalat Tarawih di Masjidil Haram itu 20 rakaat tanpa seorangpun yang mengingkari bilangan ini dari Kalangan Ulama’ yang Mu’tabar (diakui keilmuannya). Semoga Allah menunjukkan kita ke jalan yang lurus.

Ibnu Abbas meriwayatkan sebagai berikut:

“أن النبي صلى الله عليه وسلم كلن يصلي في رمضان عشرين ركعة والوتر”. رواه ابن أبي شيبة (394/2)
“Sesungguhnya Nabi SAW dahulu melakukan Shalat di bulan Ramadhan 20 rakaat ditambah Witir”. HR. Ibnu Abi Syaibah Juz 2 Hal. 394

Walaupun Hadits tersebut tidak kuat akan tetapi diperkuat dengan apa yang dilakukan oleh Para Sahabat dan orang-orang setelah mereka dari Generasi Salaf dan telah bersepakat atas hal tersebut.

Dari As-Saib Bin Yazid r.a. beliau berkata:

“أن عمر جمع الناس في رمضان على أبي بن كعب وتميم الداري على إحدى وعشرين ركعة”. رواه عبد الرزاق في المصنف (7730)
“Sesungguhnya Umar telah mengumpulkan orang-orang di Bulan Ramadhan paga Ubay Bin Ka’ab dan Tamim Ad-Dari dengan (Shalat Tarawih) 21 rakaat”. HR. Abdurrazzaq di Al-Mushonnaf no. 7730

عن مالك بن أنس عن يحيى بن سعيد الأنصاري: “أن عمر بن الخطاب أمر رجلا يصلي بهم عشرين ركعة”. المغني لابن قدامة (799/1)
Diriwayatkan dari Malik Bin Anas, dari Yahya Bin Said Al-Anshari: “Sesungguhnya Umar Bin Khattab memerintah seseorang untuk Shalat dengan orang-orang (sebanyak) 20 rakaat”. Disebutkan dalam Kitab Al-Mughni karya Ibnu Qudamah Juz 1 Hal. 799

وقال ابن قدامة المقدسي بعد أن نقل صلاة التراويح بعشرين ركعة عن عمر وعلي قال: “وهذا كالإجماع”. أخرجه ابن أبي شيبة (393/2)
Ibnu Qudamah Al-Maqdisi berkata setelah menukil bahwasannya Shalat Tarawih itu 20 rakaat dari Umar dan Ali, beliau berkata: “Dan hal ini seperti Ijma’ (kesepakatan bersama)”. Ibnu Abi Syaibah Juz 2 Hal. 393
Bahkan Ibnu Taymiyah (rujukan utama Wahhabi) berkata:

“قد ثبت أن أبي بن كعب كان يقوم بالناس عشرين ركعة في قيام رمضان، ويوتر بثلاث فرأى كثير من العلماء أن ذلك هو السنة لأنه إقامة بين المهاجرين والأنصار ولم ينكر منكر، وهذه هي صورة الإجماع”. الفتاوى لابن تيمية (112/23)
“Telah tetap adanya bahwasannya Ubay Bin Ka’ab mengimami Qiyam Ramadhan (Tarawih) sebanyak 20 rakaat, kemudian melakukan Witir 3 rakaat. Dari ini kebanyakan Ulama’ menganggap sebagai Sunnah karena dilakukan di tengah-tengah Muhajirin dan Anshar tanpa seorangpun yang mengingkarinya, dan inilah gambaran sebuah Ijma’ (kesepakatan bersama)”. Al-Fatawa karya Ibnu Taymiyah Juz 23 Hal. 112

Kesimpulan:
Sesungguhnya Para Sahabat telah sepakat bahwasannya Shalat Tarawih itu 20 rakaat, kemudian hal ini diikuti oleh Generasi Tabi’in tanpa seorangpun dari Generasi Salaf yang mengingkari terkecuali bilangan rakaat yang melebihi dari 20.

Disadur dari Kitab Al-Mausu’ah Al-Yusufiyah (hal. 631-635) karya Prof. Dr. Yusuf Khaththar Muhammad. Cetakan Dar At-Taqwa tahun 1434 H/2013, Damaskus – Suriah.

Tarim, 23 Sya’ban 1436 H/10 Juni 2015
Oleh : Imam Abdullah El-Rashied,
Mahasiswa Univ. Imam Syafii, Hadramaut – Yaman.

Wallahua,lam bimurodhi ….
Smoga brmanfa’at …

Ciri-Ciri Orang Mati Syahid

DARI sejak zaman Rasul sampai sekarang, Islam terus ditegakkan. Penegakan Islam di muka bumi ini sering kali harus terjadi dengan cara-cara yang berdarah alias mati syahid. Salah satu yang paling kentara dalam sebuah tanda mati syahid adalah tiadanya polemik di semua kaum Muslimin. Lihatlah, bagaimana pejuang Mujahiddin di Afgahnistan. Seberapa orang tidak suka dengan perjuangan dan cara kaum Mujahiddin, namun kaum Muslimin di seluruh dunia masih tetap mengakui bahwa mereka mati terhormat. Orang-orang yang mati syahid mendapatkan penghormatan dari seluruh dunia.

Allah SWT, dalam berbagai nash Al-Quran dan petikan hadist, sudah memberikan tujuh keutamaan kepada orang yang mati syahid yaitu:

1. Bau darahnya seperti aroma misk

“Demi dzat yang jiwaku ditanganNya! Tidaklah seseorang dilukai dijalan Allah-dan Allah lebih tahu siapa yang dilukai dijalanNya-melainkan dia akan datang pada hari kiamat : berwarna merah darah sedangkan baunya bau misk,” (HR. Ahmad dan Muslim).

Dr. Abdullah Azzam menyampaikan, “Subhanallah! Sungguh kita telah menyaksikan hal ini pada kebanyakan orang yang mati syahid. Bau darahnya seperti aroma misk (minyak kasturi). Dan sungguh disakuku ada sepucuk surat-diatasnya ada tetesan darah Abdul wahid(Asy Syahid, insya Allah)- dan telah tinggal selama 2 bulan, sedangkan baunya wangi seperti misk.”

2. Tetesan darahnya merupakan salahsatu tetesan yang paling dicintai Allah.

“Tidak ada sesuatu yang dicintai Allah dari pada dua macam tetesan atau dua macam bekas : tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah yang tertumpah dijalan Allah; dan adapun bekas itu adalah bekas (berjihad) dijalan Allah dan bekas penunaian kewajiban dari kewajiban-kewajiban Allah,” (HR. At Tirmidzi – hadits hasan).

3. Ingin dikembalikan lagi ke dunia (untuk syahid lagi)

4. Ditempatkan di surga firdaus yang tertinggi

5. Arwah Syuhada ditempatkan di tembolok burung hijau

6. Orang yang mati syahid itu hidup

7. Syahid itu tidak merasakan sakitnya pembunuhan

“Orang yang mati syahid itu tidak merasakan (kesakitan) pembunuhan kecuali sebagaiman seorang diantara kalian merasakan (sakitnya) cubitan.” (HR. Ahmad, At Tirmidzi, An Nasa’i – hadits hasan)

Dan diriwayat yang shahih : “Orang yang mati syahid itu tidak mendapatkan sentuhan pembunuhan kecuali sebagaimana salah seorang diantara kalian mendapatkan cubitan yang dirasakannya.”

Dr. Abdullah Azzam menceritakan, ” Kami melihat hal ini pada saudara kami, Khalid al-kurdie dari Madinah al Munawwaroh ketika ranjau meledak mengenainya, sehingga terbang kakinya, terbelah perutnya, keluar ususnya dan terkena luka ringan pada tangan luarnya. Datanglah Dr. Shalih al-Laibie mengumpulkan ususnya dan mengembalikan kedalam perutnya seraya menangislah Dr. Shalih. Maka bertanyalah Khalid al-Kurdie kepadanya : ‘Mengapa engkau menangis, dokter? Ini adalah luka ringan pada tanganku.’ dan tinggalah dia berbincang-bincang dengan meraka selama 2 jam hingga akhirnya ia menjumpai Allah. Dia tidak merasakan bahwasanya kakinya telah terpotong dan perutnya terbuka.”

SELENGKAPNYA https://www.islampos.com

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 66 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: