Wisata AIR TERJUN SETAMAN Kecamatan Kalibaru Banyuwangi

Lokasinya masih satu komplek dengan Air Terjun Watu Kurung, Kompleks Petak 14 Kebun Jatirono, Dusun Jati Pasir, Desa Kajarharjo, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi. Jaraknya sekitar 17 km arah Utara dari Stasiun Kalibaru, menuju perkampungan Jati Pasir yang searah dengan jalur menuju Air Terjun Tirto Kemanten. Setelah sampai di kampung/kompleks yang bernama Petak 14, Anda tinggal bertanya kepada penduduk setempat letak Air Terjun Setaman.

Akses jalan menuju air terjun Setaman berupa jalan makadam/berbatu, karena memang masih alami. Untuk mencapai lokasinya dapat menggunakan sepeda motor atau mobil jeep, jaraknya sekitar 2 km dari perkampungan, dan kendaraan bisa diparkir di rumah Pak Elok yang merupakan penemu air terjun tersebut.

Demikianlah sekilas tentang wisata air terjun yang berada di Kabupaten Banyuwangi. Diperkirakan masih banyak lagi lokasi air terjun lain yang keberadaannya belum dipublikasikan atau belum diketahui karena terletak di tempat tersembunyi yang sulit terjangkau.

SUMBER :

http://banyuwangiapik.blogspot.com/2015/01/air-terjun-yang-berada-di-banyuwangi.html

Wisata AIR TERJUN WATU KURUNG

Air Terjun Watu Kurung tergolong masih baru, karena secara resmi baru ditemukan pada tanggal 1 September 2012 lalu oleh seorang penduduk setempat yang bernama Pak Elok. Air terjun ini tergolong alami karena bersumber dari gunung Raung,  para pendaki gunung Raung bisa memanfaatkannya untuk menyegarkan diri sebelum dan setelah melakukan perjalan panjang menuju puncak sejati Raung. Air terjun ini dinamakan Kurung sesuai dengan lokasinya yang dikelilingi oleh tebing-tebing dan bebatuan yang mengelilingi terjun tersebut.

Air Terjun Watu Kurung terletak sekitar 15 km dari Kecamatan Kalibaru, menuju ke arah Komplek Petak 14 Kebun Jatirono, Dusun Jati Pasir, Desa Kajarharjo. Sesampainya di perkampungan terakhir di Jati Pasir, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 2,5 km melewati lereng Gunung Raung yang masih sangat asri. Anda bisa memanfaatkan jasa warga setempat untuk mengantar Anda menuju ke lokasi air terjun.

Medan jalan menuju Air Terjun Watu Kurung membutuhkan mental yang kuat dan energi yang cukup besar. Karena pengunjung harus menempuh jalan setapak menembus hutan Liana dan tumbuhan semak dengan tantangan medan yang ekstrim. Sesekali pendaki harus merangkak menghadapi jalan yang curam dan licin.

Di sepanjang lintasan  wisatawan akan menemui beragam jenis tumbuhan lumut (Bryophyta) terutama spesies lumut hati ( Marchantia sp.) dan jenis-jenis tumbuhan paku (Pteridophyta), sehingga sangat cocok untuk dipilih sebagai tempat observasi lapang bidang kajian ilmu Botani. Meski belum dikenal masyarakat luas, Waterfall of Watu Kurung boleh dikatakan sebagai surganya para petualang.

Di kompleks Air Terjun Watu Kurung terdapat 3 air terjun sekaligus, yaitu Air Terjun Setaman, Air Terjun Anakan, dan Air Terjun Watu Kurung.

Sumber :

http://banyuwangiapik.blogspot.com/2015/01/air-terjun-yang-berada-di-banyuwangi.html

 

Wisata AIR TERJUN TIRTO KEMANTEN Kecamatan Kalibaru Banyuwangi

Di kecamatan Kalibaru, yang merupakan wilayah paling ujung barat dari Kabupaten Banyuwangi yang berbatasan dengan Kabupaten Jember, terdapat air terjun yang indah. Penduduk setempat menyebutnya air terjun Tirto Kemanten. Tirto berarti air, Kemanten artinya penganten. Disebut demikian karena air terjun ini memiliki dua aliran air yang sepintas mirip jejeran pengantin lelaki dan perempuan. Air terjun berketinggian 12 meter ini terletak di areal perkebunan PTPN XII, Dusun Wonorejo, Kecamatan Kalibaru. Dari Stasiun Kalibaru jaraknya hanya 3 Km. Sepanjang perjalanan menuju lokasi air terjun ini, mata pengunjung dihibur dengan pemandangan pohon kakao dan persawahan, yang berbatasan langsung dengan pegunungan Gumitir. Ketika tiba di lokasi air terjun, kedatangan pengunjung disambut suara gemuruh air yang eksotis. Hawa dingin yang segar disertai butiran-butiran air beterbangan membuat pengunjung kerasan berlama-lama.

SUMBER :

http://banyuwangiapik.blogspot.com/2015/01/air-terjun-yang-berada-di-banyuwangi.html

AIR TERJUN TELUNJUK DEWA RAUNG Kecamatan Songgon Banyuwangi

Air terjun yang satu ini memang bentuknya agak unik. Sekilas, air terjun ini seperti jari telunjuk orang dewasa. Sehingga orang-orang kemudian menyebutnya sebagai Air Terjun Telunjuk Dewa Raung. Tambahan Dewa Raung itu sebagai simbol jika lokasi air terjun itu berada di lereng Gunung Raung. Air terjun yang diperkirakan memiliki ketinggian sekitar 20 meter ini lokasinya di Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon, Banyuwangi.

Air terjun Teluk Dewa Raung letaknya tidak jauh dari Air Terjun Selendang Arum, Air terjun yang baru di temukan itu juga memiliki keindahan alam yang memesona. Lokasinya dekat jika dibandingkan air terjun Selendang Arum. Namun, para pengunjung harus melewati jalur setapak. Jalan setapak itu ditempuh hanya beberapa menit. Hutan belantara akan memuaskan jiwa petualangan. Tak lama berselang, suara air sudah terdengar. Bahkan air terjun tersebut sudah terlihat dari kejauhan. Dari air terjun Telunjuk Dewa Raung, puncak Gunung Raung tampak lebih dekat.

parapengunjung akan terkesima dengan pohon beringin besar di tengah perjalanan. Usia pohon tersebut diperkirakan sudah ratusan tahun. Pemandangan itu menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan dari kunjungan menuju ke air terjun Telunjuk Dewa Raung.

Di balik air terjun ini ternyata terdapat sebuah gua yang cukup dalam. Belum diketahui kedalaman gua tersebut. Yang juga menarik, dalam gua itu mengeluarkan mata air. Mata air itu juga alami dan sangat jernih. Sama dengan air terjun lain, suhu air tetap dingin.

sumber :

http://banyuwangiapik.blogspot.com/2015/01/air-terjun-yang-berada-di-banyuwangi.html

Unik : Pohon Kelapa Bercabang 4 Di Kecamatan Siliragung Banyuwangi

SILIRAGUNG – Pohon kelapa milik Hariyanto, 30, asal Dusun Sumberurip, RT 5, RW 11, Desa Barurejo, Kecamatan Siliragung, ini termasuk langka. Sebab, pohon itu bercabang empat.

Pohon kelapa yang sudah berumur puluhan tahun itu tumbuh di belakang rumah Hariyanto. Saat ini ketinggian pohon aneh itu sekitar 15 meter. Tinggi tiga cabangnya sekitar lima meter. “Saya belum lahir, pohon kelapa itu sudah ada,” cetus Hariyanto.

Hariyanto menyebut, pohon kelapa itu warisan orang tuanya. Keterangan orang tuanya, pohon kelapa itu awalnya tumbuh normal seperti kelapa umumnya. “Waktu mulai besar diserang wuwung (kumbang),” terangnya.

Saat diserang kumbang itu, pohon kelapa itu sempat dikira mati. Sebab, daunnya kering dan habis. Tetapi, tidak lama dari itu, jelas dia, muncul empat cabang ini. “Bercabang empat sampai sekarang,” katanya.

Yang membanggakan, lanjut dia, empat cabang itu menghasilkan buah. Sehingga, pohon kelapa itu menghasilkan buah lebih banyak dibanding pnhon kelapa lain. “Buahnya jadi banyak,” ungkapnya.

Menurut Hariyanto, keanehan pohon kelapa miliknya itu sering mengundang penasaran warga. Berdasar keterangan orang tuanya, pohon kelapa itu ada penunggunya. Yakni lelaki tua berjenggot. “Kata bapak, dulu ada yang pernah menawar Rp 300 juta.” katanya. (RaBa)

Mengenang Sosok Almarhum ALIF S, Penyanyi Kendang Kempul Banyuwangi

Aduh Rehana… Ison yo seng kuwat, ndeleng riko kari seng ono liyane.

Kira-kira seperti itulah kutipan lirik lagu berjudul “Rehana” yang pernah dipopulerkan Alif S., penyanyi kendang kempul asal Kecamatan Genteng yang tutup usia pada usia 57 tahun Jumat lalu (3/4). Bagaimana sosok almarhum semasa hidup di mata kerabatnya?

Alif S. memiliki nama asli Khoirul Alif. Dia lahir dari pasangan Abu Bakar (alm) seorang warga keturunan Pakistan dan Masratik Akim, 72. Anak kedua dari sembilan bersaudara itu memiliki bakat menyanyi sejak duduk di bangku sekolah dasar.

Rahman Hakim, 35, adik kandung Alif, menceritakan sekelumit kisah hidup penyanyi kendang kempul itu kepada Jawa Pos Hadar Banyuwangi.

Di saat penyanyi kendang kempul itu meninggal dunia Jumat (3/4) pagi, puluhan penyanyi yang pernah ngetop di era 1990-an dan beberapa seniman lain hadir untuk memberikan penghormatan terakhir. Banyakyang tidak menyangka penyanyi yang pernah memopulerkan tembang “Rehana” ini begitu cepat dipanggil sang pencipta.

Di antara sekian banyak pelayat yang hadir, salah satu orang yang paling mengetahui kondisi Alif adalah Shella, 46. Dia adalah orang pertama yang melihat Alif mengembuskan napas terakhir. Hubungan Shella dan Alif sudah berlangsung lebih dari 23 tahun. Saat itu Shella menjadi orang yang mengatur tata rias Alif, termasuk akomodasi dan keperluan lain saat menyanyi. Dengan kata lain, tugasnya bisa dibilang mirip manajer artis.

Mereka tinggal bersama di rumah Shella di Dusun Kejoyo, Desa Tambong, kecamatan Kabat. Sampai kemudian delapan tahun lalu, ketika karir Alif semakin meredup, pelantun lagu “Udan Awu” itu tiba-tiba pergi.

Shella mengira saat itu Alif terjerat kebutuhan finansial yang mendesak, sehingga tidak ingin merepotkan dirinya. Setahun kemudian, ketika mengetahui Alif ternyata menempati salah satu warung di Terminal Rogojampi dan menjadi penjual kopi. Shella sempat mengajak Alif pulang. Namun, permimaannya ditolak.

Dan baru Kamis (12/3) lalu Alif tiba-tiba muncul kembali di depan rumah Shella diantar seorang tukang ojek. Ketika itu kondisi Alif sudah lemas dan sakit. Shella pun sempat menyarankan agar Alif pulang ke rumah ibunya di Kecamatan Genteng, tapi Alif tidak mau. “Waktu itu saya minta dia pulang ke rumah orang tuanya. Tetapi, dia ngomong, Riko wes seng kuwat tah ngerawati ison. Saya tidak tega melihatnya. Lalu, sampai meninggal dunia, dia tinggal bersama saya,” kata Shella.

Di mata Shella, Alif merupakan sosok yang sangat suka bercanda. Bahkan, sebelum meninggal dunia, berulang kali Alif meminta dibacakan Yasin. Alasannya, agar jika tiba-tiba meninggal, dirinya tenang karena sering dibacakan ayat suci. “Saya beberapa kali memarahinya karena yang dibicarakan masalah mati terus, tapi Mas Alif malah tertawa. Waktu meninggal, saya lihat wajahnya tenang sekali,” kenang Shella.

Sementara itu, penyanyi kendang kempul lain, Sumiyati, 56, juga memiliki kenangan dengan Alif. Sejak Alif tinggal di Terminal Rogojampi, dirinya memang jarang bertemu. Tetapi, selama masih sering menyanyi dulu, Alif selalu berbagi dengan Sumiyati tentang cara menghayati lagu. Alif pun pernah ditawari Sumiyati tinggal di rumahnya, tapi Alif tidak mau.

Terakhir, Sumiyati menceritakan terakhir kali dirinya benemu Alif pada pertengahan Maret. Saat itu Sumiyati mengajak Alif rekaman lagi lagu-lagu lama mereka. Alif menyanggupi permintaan Sumiyati itu dengan syarat kepalanya tidak didorong-dorong. “Mas Alif senang sekali ketika diajak rekaman lagu lama. Tapi ya itu, dia bilang hang penting endas ison ojo dis undung-sundungaken nawi mati engko,” kata Sumiyati menirukan kata-kata Alif.

Subari Sofyan, salah satu seniman gaek Banyuwangi mengatakan, sosok Alif bagaikan guru di bidang seni. Sampai mendekati akhir usianya, Alif nyaris tidak memiliki apa pun. Tetapi, Subari melihat sosok penyanyi asal Genteng itu adalah orang yang tegar dalam menghadapi kehidupan. “Dua hari sebelum meninggal, saya sempat bertemu Mas Alif. Dia adalah sosok yang sangat mencintai seni dan seorang seniman bertalenta tinggi. Semoga jalannya dilapangkan,” kata Subari.

Usai pemakaman, para penyanyi dan seniman yang hadir sepakat akan menyanyikan lagu-lagu Alif dalam acara perkumpulan penyanyi kendang kempul. Empat lagu yang sudah dinyanyikan Alif dan sempat direkam sebelum meninggal pun kemungkinan akan diudarakan sebagai penghormatan kepada almarhum Alif. Meski sudah tak lagi ada di dunia ini, tapi lantunan suara Alif masih terus dapat didengarkan, seperti dalam lagu “Konco lawas, Rehana, Elek-elek Ngerejekeni, dan Udan Awu”. (RaBa)

Sumber :

http://terbanyuwangi.blogspot.com/2015/04/in-memoriam-penyanyi-kendang-kempul.html

Wisata AIR TERJUN GIRI ASIH Banyuwangi

AIR TERJUN GIRI ASIH
Songgon tidak hanya terkenal dengan wisata Rowo Bayu nya, tapi juga memiliki air terjun Giri Asih. Kalau Rowo Bayu arahnya di Songgon utara, maka air terjun Giri Asih arahnya di Songgon selatan.
Air Terjun Giri Asih letaknya di atas air terjun Selendang Arum.Untuk mencapainya lumayan sulit karena harus melewati sawah-sawahan dan turun kebawahnya curam. Di sekitar air terjun banyak tanaman sayur selada. Karena itu keberadaan air terjun setinggi 25 meter tersebut tidak asing bagi warga sekitar. Pengelolaan air terjun ini dilakakukan oleh Karang Taruna setempat.

http://banyuwangiapik.blogspot.com/2015/01/air-terjun-yang-berada-di-banyuwangi.html

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 66 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: