MREKES ATI Versi Sholawat Gandrung Banyuwangi (Mas Say Laros )

ASMORO Versi Sholawat Gandrung Banyuwangi (Mas Say Laros )

Asal – Usul Nama Kecamataan Bangorejo Banyuwangi

Oleh : Lutvi Trisda Kumaladewi

Tahukah Anda tentang nama Bangorejo? Berdasarkan cerita turun-temurun, Bangorejo berasal dari dua kata: bangau dan rejo. Bangau mempakan sejenis burung berukuran besar, serta ; memiliki kaki dan leher panjang. Sedangkan rejo (bahasa Jawa) yang bermakna ramai. Dengan demikian, Bangorejo bisa dimaknai sebuah tempat yang banyak dihuni burung Bangau.

Bangorejo tak lain adalah nama desa yang kemudian menjadi kota kecamatan di daerah Banyuwangi selatan. Secara administratif, desa ini terbentuk pada tahun 1927. Sebelum tahun tersebut, Bangorejo hanyalah sebuah dusun yang dipimpin seorang , kamituwo dan menyatu di bawah pemerintahan Desa Glowong.

Sekitar tahun 1922, seorang warga bernama Pak Suti bersama penduduk lainnya berinisiatif untuk memisahkan diri dari Glowong. Pembabatan alas yang telah ada sejak 1916, terus  dilakukan hingga berakhir pada 1927. Dulunya hutan banyak ditumbuhi pohon gebang, yang bentuknya hampir mirip seperti Di hutan tersebutlah, ratusan burung Bangau hidup. Penduduk setempat seringkali menjumpai burung itu setiap kali pergi ke huran untuk mencari kayu dari pohon gebang. Maka tak sedikit pula, warga yang menyebut hutan gebang dengan nama kebun bangau. Karena memang belum punya nama, akhirnya penduduk sepakat menamai desanya dengan nama Bangorejo.

Saat ini desa Bangorejo berbtasan dengan Kecamatan Gambiran di sebelah utara, Kecamatan Purwoharjo sebelah timur. Sedangkan di sebelah selatan berbatasan dengan Desa Sambirejo, serta di sebelah barat berbatasan dengan Desa Kebondalem.

Jumlah penduduk kini mencapai 2. 924 jiwa yang menduduki di atas lahan 1.034 hekrare.  Penduduk yang mendiami Bangorejo kebanyakan pendatang seperti dari jawa Tengah yang ditunjukkan dengan bahasa sehari-hari mereka yang memakai bahasa Jawa.

Meneladani Kisah Prabu Tawang Alun Banyuwangi

Meneladani Kisah Prabu Tawang Alun Banyuwangi

Salam Jenggirat Tangi !!!

Selamat Datang Di Padepokan Mas Say Laros

Oleh : Budi Wiriyanto :

Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur menyimpan sejuta cerita sejarah. Wilayah di ujung timur Pulau Jawa ini juga identik dengan peninggalan zaman Majapahit. Sebelum menjadi kabupaten, daerah ini dikenal dengan nama Blambangan. Penguasa yang paling terkenal adalah Prabu Tawangalun. Bekas peninggalan kerajaan ini banyak ditemukan di Desa Macanputih, Kecamatan Kabat.

Tidak ada prasasti yang menyebutkan tentang kisah Tawangalun. Namun dari penelusuran para sejarawan, raja Hindu ini memerintah sekitar tahun 1645-1691. Kepastian tahun ini didapatkan dari tulisan Leukerker, penulis dari Belanda. Dikisahkan, Tawangalun adalah salah satu keturunan dari Prabu Brawijaya, raja Majapahit dari keluarga di pegunungan Tengger.

Silsilah Tawangalun berawal dari Lembu Anisroyo, bangsawan dari daerah Tengger, Bromo. Dari bangsawan ini lahirlah Ario Kembar yang memiliki putra Bima Koncar atau Minaak Sumende, dilanjutkan dengan Minak Gadru atau Minak Gandrung, kemudian Minak Lampar atau Minak Lumpat. Dari bangsawan terakhir ini nama Tawangalun muncul, yakni Tawangalun I dan Tawangalun II.

Ada dua babad berbeda yang mengisahkan kebesaran Tawangalun I dan II. Menurut babad Sembar, kemunculan Tawangalun diawali penyerbuan Minak Lumpat ke keracon Kedawung. Saat itu, Kedawung dengan wilayah Lumajang, Malang dan Blambangan dikuasai oleh Pangeran Singosari.

Penyerbuan itu berhasil. Pangeran Singosari takluk dan kabur ke Mataram meminta perlindungan Sultan Agung. Peristiwa ini meletus sekitar tahun 1638-1639. Saar kabur, Pangeran Singosari membawa Putranya Mas Kembar Sepuluh tahun berselang. Mas Kembar dikawinkan dengan selir Sultan Agung yang hamil tiga bulan. Kemudian dijadikan raja di Blambangan setelah menaklukan wilayah ini. Tahun 1645, Mas Kembar dilantik menjadi raja Blambangan di Probolinggo dan bergelar Prabu Tawangalun. Oleh Sultan Agung dia diperintahkan melindungi Blambangan dari serangan Bali.

Setelah dilantik, Mas Kembar berniar membebaskan diri dari Mataram dengan bantuan keris si Gagak milik gurunya, Ki Wongso Karyo. Dikisahkans penguasa Mataram, Amangkurat I yang dikenal dengan Pangeran Kadilangu. haus dan kepingin minum keris orang Blambangan. Kala itu, keris Wongso Karyo berubah menjadi air, lalu diminum. Saat bersamaan, Mas Kembar pamit pulang ke Blambangan. Saat itulah, keris Wongso Karyo keluar lagi dari dada Pangeran Kadilangu, dan membuatnya tewas.

Melihat lawannya tewas, Mas Kembair mengajak bawahannya diperintahkan menggelar perang besar yang dikenal dengan perang undur-undur. Senopati Blambangan dengan kesaktiannya mencabut pohon kelapa, lalu mengibaskannya di sepanjang jalan yangdilewati. Sekitar tahun 1676,Tawangalun dinobatkan sebagai raja Blambangan yang bebas dari kekuasaan Mataram dengan gelar Susuhunan Blambangan.

Versi lainnya, dalam babad Tawangalun dituliskan Mas Kembar adalah bapak dari raja Tawangalun. Selama menjadi Nama kerajaan ini tetap hidup hingga sekarang dan menjadi Desa Macanputih. Konon, nama Macan Putih adalah kendaraan Tawangalun.yakni seekor harimau putih. Harimau ini diyakini sebagai penjelmaan guru spiritual Tawang alun.

Ceritanya, setelah perang saudara dengan adiknya, Mas Wilo, Tawangalun merasa menyesal. Setelah membunuh adiknya, Tawangalun bersemadi di hutan Rowo Bayu, Songgon. Kala itu, bangsawan ini mendapat wangsit diminta berjalan ke arah timur petunjuk, Tawangalun diminta rnenaiki harimau itu.

Begitu naik, harimau tersebut membawaanya kea rah timur laut dan menghilang di daerah kabat. Tempat menghilangnya harimaau itulah kemudian didirikan istana bernama Macanputih. Konon, istana itu dibuat Kongco Banyuwangi selama 5 tahun 10 bulan. Tinggi benteng istananya diperkirakan mencapai 3 meter dengan lebar 2 meter. Kehebatan benteng Macanputih masih bisa ditemukan hingga sekarang. Ukuran batu merah yang digunakan mencapai 30×20 cm berbahan batu cadas putih. Sejumlah benda peninggalan Zaman itu juga banyak ditemukaan disekitar lokasi.

Sejarawan Universitas Gajah Mada (UGM), Jogjakarta, Sri Margana menjelaskan nama Tawangalun berkaitan dengan kerajaan Blambangan yang juga rangkaian dari Majapahit. Sesuai silsilahnya, Blambangan pernah berpindah sebanyak 7 kali. Pertama di bangun Disekitar Pasuruan, JawaTimur. Karena tetjadi pemberontakan, pusat kerajaan pindah ke Macanputih, Kabat dengan raja Tawangalun II. Dahulu desa Macanpulih dikenal dengan nama Sudiamala. Dijelaskan, Kerajaan Prabu Tawangaalun II ini dikenal sebagai kerajaan Hindu terakhir di tanah Jawa. Kerajaanya berjaya selama 36 tahun, periode 1655-1691. Setelah rajanya wafat, kerajaan ini hancur dan berubah menjadi kerajaan kecil di bawah kekuasaan Bali.

Pusat Kerajaan Blambangan di Macanputih memiliki luas 4,5 kilometer persegi dengan jumlah pasukan 36.000 orang dan pelayan kerajaan sebanyak 1000 orang. Istana Macanputih diyakini sempat berpindah tiga kali, terutama di daerah Wijenan, Keblak dan Lateng. Tiga daerah ini terletak di lereng timur laut gunung raung. Kini, ketiganya berada dalam dua wilayah kecamatan, Rogojampi dan Kabat.

Selain sakti, Prabu Tawangalun dikenal dengan sifat religiusnya. Raja ini mangkat tanggal 18 September 1691. Kemudian di aben tanggal 13 Oktober 1691 di plecutan dalam istana Macan Putih. Menurut Sri Margana, saat ngaben tersebut dari 400 permaisuri Tawang Alun, 270 diantaranya mengikuci upacara bakar diri bersama sang raja. Sebelum meninggai, Prabu Tawangalun sempat meminta bantuan Belanda dari serangan Untung Suropati dari Pasuruan.JawaTimur.

Kala itu, Pangeran Puger dari Mataram bersama Untung Suropati berniat menaklukan Blambangan. Merasa terancam Tawangalun meminta bantuan kekuatan Belanda. Tanggal 14 September 1961, dua utusan Belanda, Jeremeas Van Flic dan Van Sen tiba. Namun empat hari berselang, Prabu Tawangalun keburu meninggal. Setelah itu, Macan Putih diserang Mataram dan hancur. Versi lainnya, hancurnya kerajaan Macan Putih karena terkena lahar api letusan gunung Raung. Sejak itulah, istana itu diwariskan ke sisa keturunan Tawangalun. Dari keturunan itulah, nama Banyuwangi yang akhirnya menjadi wilayah kabupaten ujung timur Jawa muncul.

Dalam catatan sejarah, Blambangan dikenal paling kuat mempertahankan kekuasaan. Tercatat lebih dari tujuh serangan besar dari kerajaan lain menyerang Blambangan. Seluruhnya berhasil dipukul mundur. Serangan paling besar datang dari penguasa Mataram. Bali juga sempat melakukan penyerangan ke Blambangan. Namun akhirnya berdamai. Selama mernpertahankan kekuasaan, Blambangan selaiu mendapat dukungan dari raja-raja di Bali. Karena itu, Banyuwangi sampai sekarang memiliki ikatan historis dengan Bali.

Berkumpulnya Pengikut Kejawen

Sisa peninggalan zaman Prabu Tawangalun banyak tersebar di Desa Macanputih, Kecamatan Kabar. Sayangnya, situs purbakala icu banyak yang hancur. Bahkan puiiah tanpa bekas. Sedikknya, ada tiga lokasi yang masih bisa dirasakan nuansa kerajaan. Masing-masing Watu Ungkal, Mangkuto Romo dan Sanggar Pamujan. Ketiganya berada di areal Desa Macanputih.

Watu Ungkal dipercaya bekas tempat mengasahnya senjata saat membabat hutan sebelum mendirikan kerajaaan Macanputih

Di tempat ini ditemukan batu berukuran besar. Watu dalam bahasa Jawa disebut batu, sedang ungkal berarti mengasah. Mangkuto Romo adalah tempat meditasinya raja Tawangalun. Di tempat ini sekarang didirikan sebuah balai besar. Sanggar Pamujan diyakini tempat bersembahyangnya para keluarga kerajaan. Di lokasi ini dibangun sebuah tempat mirip situs kuno.

Hampir seluruh bekas keraton Tawangalun berada di Desa Macanputih. Banyaknya situs yang ditemukan sebagai bukti kebesaran kerajaan ini, Warga di Desa ini sejak dulu sering menemukan benda-benda kuno. Seperti patung, perabot rumah tangga.bahkan bekas kereta. Sayangnya, tak satu pun yang peduli merawatnya. Kebanyakan begitu ditemukan langsung dijual atau. dikoleksi sendiri secara diam-diam.

Dari sejumlah situs, Mangkuto Romo dan Sanggar Pamujan paling sering dikunjungi warga. Terutama para pengikut Kejawen atau filosofi Jawa kuno. Dua lokasi ini dipercaya masih memiliki kekuatan supranatural tinggi. Hari-hari tertentu, dua lokasi ini banyak diserbu warga. Apalagi jelang pesta demokrasi kemarin. Para caleg berebut mendatangi tempat ini untuk meminta berkah.

Sanggar Pamujan terletak di tengah perkebunan tebu. Lokasinya cukup terpencil dari perkampungan warga. Untuk mencapai tempat ini, pengunjung bisa menggunakan kendaraan roda ernpat hingga ke lokasi. Meski tergolong situs, Sanggar Pamujan masih berstatus tanah pribadi. Luasnya sekitat 30 m2.

Lokasi tersebut sering dikenal dengan istilah Perilasan. Tempat ini pertama kali ditemukan sejak zaman penjajahan Belanda. Ceritanya, salah satu pejuang Banyuwangi, Kopral Mustareh sedang melakukan penyerangan melawan Belanda. Keajaiban muncul kerika pejuang ini mulai terdesak. Sesosok orang aneh Merasa dilindungi, Mustareh menjadi penasaran. Dia pun mencoba berkenalan dengan orang aneh tersebut. Saat didekati, orang tak dikenal itu mengaku dari Banyuwangi, tempatnya di tengah hutan dan terdapat pohon mlinjo tua.Usai berkata tersebut, orang tak dikenal itu langsung menghilang.

Pulang dari berjuang, Mustareh mencoba mencari lokasi yang dimaksud. Setelah bermeditasi, ditemukanlah dua pohon mlinjo besar dan tua. Di sekitar lokasi diremukan tumpukan bata mirip tembok istana dan sebuah lempengan batu menyerupai tempat duduk. Di tempat ini akhirnya dibuat tanda petilasan. Di sekitar lokasi terdapat beberapa pohon mlinjo berusia ratusan lahun. Anehnya lagi, ada sepasang pohon berbeda, beringin dan kemuning yang dahannya menyatu. Konon, pohon ini berkasiat

Petilasan ini pertama kali dibangun sekitar tahun 1964. Awalnya, di atas lempengan batu ditempatkan sebuah mahkota terbuat dari tanah liat. Di sekilingnya dibangun atap berbentuk segi enam. Tahun 1981, petilasan diperlebar dengan berdirinya bangunan lebih besar. Lantai petilasan juga dikeramik. Sejak itulah, petilasan Tawangalun menjadi terkenal.

Pengunjung datang dari herbagai daerah. Seperti Bali, Lombok, Flores dan kota-koca besar di Jawa. Warga luar negeri dari Malaysia dan Australia juga sempat berkunjung. Biasanya, mereka menggelar ritual meditasi dan renungan suci. Khusus umat Hindu Bali, mereka datang saat hari raya Galungan dan Kuningan. Pengunjung kebanyakan datang pada malam hari. Juru kunci petilasan tidak mernbatasi mereka yang berkunjung. ” Ini terbuka untuk umum, syaratnya tidak boleh membuat keributan,” ujar Nurudin yang juga juru kunci generasi ke-3 ini.

Menariknya, meski ramai pengunjung. petilasan tersebut tidak diberikan penerangan lampu, Alasannya kata Nurudin, itu sesuai petunjuk dari eyang Tawangalun. Dia mengaku susuhunan (panggilan Tawang alun), tidak berkenan petilasan tersebut diberikan lampu. Secara kenyataan, jika petilasan tersebut diberikan lampu akan rnengundang bahaya. Lokasinya yang sepi menjadi sasaran empuk orang jahat.

Selain petilasan, beberapa peningalan lainnya juga kerap kali didatangi pengunjung. Sayangnya, hingga kini belum ada kepedulian Pemkab Banyuwangi untuk menjadikan lokasi sejarah itu menjadi obyek wisata. Sementara ini, pengunjung hanya mengetahui dari kelompok mereka masing-masing.

Kebesaran Tawangalun tak hanya terlihat dari petilasannya. Zaman penjajahan Belanda, daerah ini menjadi pusat batalyon Tencara Keamanan Rakyat (TKR) warga Banyuwangi. Nama bataliyon itu adalah Macan Putih, disesuaikan dengan bekas kerajaan Macan Putih yang terkenal. Konon, bataliyon ini paling sulit ditaklukan Belanda dan Inggris.

Untuk mengenang perjuangan bataliyon tersebut di beberapa sudut Desa Macan Putih berdiri sejumlah monumen bataliyon di bawah pimpinan Letkot. R. Ahmad Rifai itu. Termasuk beberapa tembok yang menandakan batas dari keraton Macanputih. Beberapa perabot kuno berbahan keramik juga dipajang dalam monument. Sayang, berdirinyaa monument itu belum bisa diterima warga setempat. Sejumlah bangunan monumen sempat dirusak warga. Seluruh monumen ini didirikan oleh para pemerhati budaya dan sejarah Blambangan yang tergabung dalam tim independen Banyuwangi.

Moksa di Rowo Bayu

Peninggalan Tawangalun yang paling terkenal adalah Rowo Bayu. Tempat ini dipercaya sebagai lokasi bersemadi Prabu Tawangalun sebelum mendirikan keraton Macanputih. Rowo Bayu adalah danau kecil di puncak bukit di Desa Bayu, Kecamatan Songgon, sekitar 80 km arah barat daya kota Banyuwangi.

Kawasan ini dianggap menyinipan kekuatan magis. Selain di tengah hutan, tempat ini memiliki empat mata air suci. Masing-masing, sumber Kaputran, Dewi Gangga, Kamulyan dan Sumber Ratu. Letaknya persis di atas danau Rowo Bayu. Konon, mata air suci ini muncul selama Tawangalun melakukan semedi dan moksa di tempat itu.

Dari sekian mata air, sumber Karnulyan yang paling disucikan. Mata air ini muncul langsung dari bongkahan batu. letaknya di samping batu petilasan tempat bersemadi Prabu Tawangalun. Zaman dahulu, mata air ini digunakan menyucikan diri sebelurn melakukan semadi. Menurut cerita, sumber Kamulyan pertama kali ditemukan sesepuh Desa Bayu, Mbah Sudirjo, sekitar tahun 1960-an. Kala itu, muncul tulisan emas di atas mara air tersebut.

Rowo Bayu ditetapkan sebagai salah satu obyek wisata oleh Pemkab Banyuwangi. Kini, kawasan di tengah hutan pinus tersebut dipermak menjadi kawasan wisata alam dan spiritual. Petilasan Tawangalun juga dibangun mirip sebuah candi. Tempai ini menjadi jujugan para pencari spiritual dari berbagai daerah.

Wisata Rowo Bayu dulunya berupa rawa dan hutan bambu. Baru sekitar tahun I960, daerah ini mulai dijamah warga. Sebelumnya, daerah tersebut menjadi kawasan angker. Sejak dibabat warga, sudah dua juru kunci yang merawat kawasan Rowo Bayu. Pertama, perangkat desa setempat menunjuk juru kunci perempuan. Namun hanya bertahan tidak lebih setahun. Kemudian mengundurkan diri.

Kemudian dilanjutkan oleh dua juru kunci laki-laki, Mbah Saji (70) dan Jimis (72), keduanya warga setempat. Sayangnya, mereka lupa tahun berapa rnulai mengabdi menjadi juru kunci. Ada pengalaman menarik ketika mbah Saji pertama kali masuk Rowo Bayu. Kala itu, dia mendengar suara tangisan dari arah atas mata air. Merasa curiga, pria lanjut usia ini mendekat. Begitu dilihat, dia mendapati mata air suci itu dipenuhi batang bambu. Saking kotornya, hampir menyerupai air rawa.

Merasa terpanggil, mbah Saji dengan suka rela membersihkan tempat tersebut. Selama 45 hari, pria ini bekerja sendirian membersihkan mata air itu. Beberapa bulan kemudian, satu warga lainya, Jimis terusik hatinya. Pria ini pun ikut merawat dan membersihkan sekitar mata air. Termasuk seluruh kawasan Rowo Bayu.

Perjuangan mbah Saji dan Jimis membuahkan hasil. Sejak itu, Rowo Bayu mulai tertata. Penataan Rowo Bayu bertambah ketika Banyuwangi dipimpin Bupati Samsul Hadi, tahun 2000 silam. Kawasan ini tesmi dijadikan obyek pariwisata. Selain petilasan Tawangalun, Rowo Bayu dikenal dengan perang puputan Bayu, rahun 1771. Kala itu, pejuang Blambangan berperang habis-habisan melawan Belanda. Peristiwa heroik ini menjadi cikal bakal lahirnya kota Banyuwangi.

Pembangunan Rowo Bayu mulai nampak tahun 2004. Para pernerhati budaya dan sejarah mendirikan petilasan di sekitar batu semadi Prabu Tawangalun. Tahun 2005 lalu, Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari membangun petilasan dengan bahan keramik. Terakhir pembuatan candi di lokasi petilasan dan pura tahun 2007 kemarin. Bahannya terbuat dari batu gunung. Pura di Rowo Bayu diberi nama Pura Puncak Agung Macan Putih. Peristiwa gaib muncul ketika petilasan di bangun. Batu bekas semadi Tawangalun tidak bisa dipindah. Setelah dilakukan ritual, batu berbentuk lempengan itu bisa dipindahkan. Kejadian aneh lainnya, patung Tawangalun yang sedianya diletakkan di pura, ternyaia tidak bisa dipindah. Sampai sekatang patung tersebut tetap berada di tempatnya semula di bawah hutan bambu dan sebuah pohon tua bercabang dua.

Sama dengan petilasan lainnya, pengunjung petilasan Rowo Bayu kebanyakan pengikut kejawen. Rata-rata mereka ingin mendapatkan mukti dan ngalap bcrkah di tempat tersebut. Mereka yang datang kebanyakan warga dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Bali. Sejak berdiri pura, warga dari Bali sering tangkil ke tempat itu. Terutama saat hari raya Kuningan. Berdirinya pura ini pun tidak luput dari wangsit yang diterima juru kunci setempar. Begitu pula lokasi berdirinya pura.

Mbah Saji menuturkan petilasan Tawangalun bisa dijadikan tempat mencari jati diri. Ditambah lagi terdapat tiga mata air suci yang bisa memberikan pencerahan. Menurutnya. menjadi manusia hanyalah bertugas sebagai pengabdi. Dari sinilah kata dia rnukti atau moksa bisa dicapai dengan mudah. Dari filosofi itu, pria ini rela mengabdi menjadi juru kunci petilasan tanpa mendapat gaji. Untuk kebutuhan sehari-hari, dia bersama istrinya membuka waning kopi di dekat lokasi.

Menurutnya, nama Tawangalun memiliki makna mendalam. Tawang artinya pikiran yang luas, sedang Alun berarti samudera. Nama Tawangalun diartikan sebagai kepribadian yang memiliki pikiran luas layaknya samudera. Alasan inilah yang menjadikan mbah Saji tanpa panirih menjadi abdi dalem petilasan. Dia bersama Jimis bertekad mengabdikan sisa hidupnya untuk merawaat petilasan itu.

Lomba Menulis Cerita Pendek Berbahasa Using Banyuwangi 2015

Bantu bc:

LOMBA MENULIS CERITA PENDEK
BERBAHASA USING 3

Tema cerpen bebas, boleh tentang apa saja yang penting indah, menarik dan berhubungan dengan budaya Banyuwangi. Tidak mengandung unsur SARA dan pornografi.

Syarat Lomba
1. Kategiori Lomba terbagi atas : SD, SMP, SMA dan Mahasiswa/Umum

2. Naskah ditulis dalam Bahasa Using yang baik dan benar.

3. Naskah harus asli, bukan terjemahan, saduran atau mengambil ide dari karya lain yang sudah ada. Apabila di kemudian hari ditemukan kecurangan, panitia berhak untuk mencabut kembali naskah yang sudah dinyatakan menjadi pemenang dan peserta wajib mengembalikan seluruh penghargaan yang sudah diterima.

5. Naskah belum pernah diterbitkan di media massa (cetak maupun maya) dan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba lainnya.

6. Seluruh naskah yang masuk menjadi hak panitia untuk menerbitkannya, mengumumkannya, memperbanyak kembali dalam format digital maupun non digital.

7. Untuk naskah yang tidak menang, tetapi memenuhi syarat untuk doterbitkan, panitia berhak menerbitkannya dengan memberikan buku sebagai nomor bukti.
Naskah yang masuk ke panitia tidak dikembalikan.

8. Keputusan juri mengikat dan tidak dapat diganggu gugat.
Hadiah untuk pemenang sudah termasuk honorarium apabila naskah itu diterbitkan dalam bentuk lain.

9. Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah cerpen. Maksimal 3 naskah.

10. Naskah harus diketik dan atau dicetak diatas kertas ukuran A4 dengan jenis font Times New Roman ukuran huruf 12 point. Panjang tulisan maksimal 5 (lima) halaman.

11. Lampirkan data : nama, alamat surat lengkap, pekerjaan/sekolah, alamat email (kalau ada), nomor telepon yang dapat dihubungi dan sertakan pula foto terbaru ukuran 3R.

Naskah dapat dikirim melalui email : basausing@gmail.com atau lewat surat tercatat ke :
Sekertariat Lomba Menulis Cerita Pendek Bahasa Using
Jl. Diponegoro 13
Banyuwangi 68411
Naskah paling lambat dikirim tanggal 30 April 2015 atau surat tercatat dengan stempel pos tanggal tersebut.

Asal-Usul Nama Desa Sumbersari Kecamatan Srono Kabupaten Banyuwangi

MATINYA TRADISI SUMBER AIR Oleh Vita Ainu R

Air adalah sumber kehidupan. Pentingnya fungsi air ini mengilhami penduduk di sebuah desa di Banyuwangi dengan menamakan tempat yang dihuninya dengan nama Surnbersari. Desa ini terletak di Kecamatan Srono, atau bisa ditempuh dengan perjalanan 1 jam dari kota Banyuwangi ke arah selatan.

Dengan luas wilayah 903 hektare, desa ini memiliki penduduk 1.908 jiwa. Desa ini berbatasan dengan Desa Pandan di bagian barat, Desa Suwaluh di bagian timur; Desa Ringinsari di bagian selatan serta dibagian utaranya berbatasan dengan desa Rimpis.

Sumbersari berasal dari kata sumber yang berarti mata air dan sari adalah penting bagi kehidupan manusia. Nama tersebut diberikan sekitar tahun 1826 merujuk pada sebuah mata air yang airnya mengalir membelah desa.

Menurut cerita salah satu warga asli Sumbersari, Pak Pandi, 54 tahun, sebelum tahun 1826 Desa Sumbersari masihlah berupa hutan lebat dengan sedikit penduduk. Namun lambat laun jumlah warga yang akan bermukim terus berdatangan. Hai itu membuat penduduk harus sering melakukan kerja bakti membabat atas untuk membuka lahan. Sementara kayu dari pohon-pohon yang telah ditebang dipakai untuk mendirikan rumah-rumah.

Ketika melakukan kerja bakti itulah, penduduk tidak sengaja menemukan sebuah sumber yang airnya sangat jernih dan dalam, seolah-olah airnya tidak akan pernah habis. Air itu muncul dari rerimbunan pohon bambu dan jambu. Sejak itu, penduduk sangat bergembira dan memanfaatkan sumber itu untuk khidupan sehari-hari seperti minum , mencuci hingga mengairi sawah.Mereka pun bersepakat menamakan tempat yang dijejakinya dengan nama Sumbersari.

Warga Sumbersari lainnya, Pak Miskan, bercerita, sebagai ungkapan rasa syukur atas penemuan sumber air itu, masyarakat dulunya sering menggelar seiamatan dengan nasi tumpeng di sekitar sumber. Mereka percaya bahwa sumber tersebut membawa manfaat yang besar. Bahkan, selamatan juga digelar ketika penduduk hendak melangsungkan hajatan seperti sunatan dan pernikahan. Cara Leu diyakini supaya acara yang mereka gelar dapat berjalan lancar sesuai harapan.

Dengan tradisi itu masyarakat dengan sendirinya memiiiki kesadaran untuk menjaga kelangsungan sumber air supaya tidak rusak sehingga terus dapat memberi! manfaat untuk kchidupan manusia. Inilah bentuk kearifan lingkungan yang sempat hidup di Desa Surnbersari sebagai bentuk keharmonisan hidup antara manusia dengan lingkungannya.

Tradisi menjaga sumber air banyak juga dilakukan oleh masyarakat di luar Kabupaten Banyuwangi. Di Desa Muneng Warangan, Magelang. Jawa Tengah rnisalnya, memiliki tradisi nyadran kali. Tradisi yang biasa digelar bulan Sapar ini untuk menghormati Kali Puyang, yang sungainya dirnanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga. Tradisi ini diawali dengan kirab sejauh 2,5 kilometer dengan membawa aneka sesaji menuju Kali Puyang (Kompas.com edisi 11 Februari 2009).

Namun bedanya, bila tradisi nyadran kali masih dilangsungkan oleh penduduknya, tradisi di Sumbersari malah punah. Tidak ada lagi warga yang menggelar selametan di sumber tatkala akan melangsungkan hajatan. Salah satu penyebabnya adalah semakin banyaknya penduduk pendatang di antaranya dari Jawa Tengah dan Madura sementara penduduk asli semakin menyusut. Hilangnya tradisi selametan di Sumbersari rupanya berbanding lurus dengan

pengamatan penulis, volume air sudah semakin berkurang dan warnanya tidak lagi jernih. Apabila hujan datang, maka volume air lebih banyak dan permukaan air sungai menjadi lebih tinggi. Ancarnan bahaya banjir tentu saja menjadi kekhawatiran penduduk di sekitar aliran sungai.

SUMBER : Banyuwangi Dalam Mozaik – KOMUNITAS SEJARAH BANYUWANGI

Mengenal Sejarah KERIS GAGAK dan Buyut Cungking Kecamatan Giri Banyuwangi

Salam Jenggirat Tangi !!!

Selamat Datang di Padepokan Mas Say Laros !!!

keiahiran keris gagak

Thomas Racharto

Keris Gagak merupakan pusaka milik Mas Bagus Wangsakarya, salah seorang guru spiritual Raja Blambangan Prabu Tawang Alun yang hidup pada abad-17. Kesakrian pusakanya ini menjadi cerita 3 turun-temumn dalam masyarakat Banyuwangi khususnya di daerah Cungking, Kecamatan Giri.

Mengapa Cungking? Karena di daerah inilah terdapat petilasan berupa makam Mas Bagus Wangsakarya. Orang-orang setempat mengenangnya dengan nama Buyut Cungking.

Keterangan mengenai Keris Gagak hanya dapac ditemui dalam sumber lokal, Babad Tawang Alun, yang mengisahkan bagaimana kesaktiaan pusaka itu saat dipakai Wangsakarya berhadapan dengan Kanjeng Pangeran Kadilangu, guru sunan Mataram. Selebihnya mengenai bagaimana rupa keris itu belum ada sumber sejarah yang menyebutkannya

Karena itu penulis yakin, tak seorang pun yang pernah melihat bentuk fisik “si Gagak “. Demikian juga dalam wawancara penulis dengan Mbah Waris, juru kunci petilasan Buyut Cungking, rnengungkapkan hal yang sama.

Wangsakarya hidup dalam abad ke 17, di masa Kerajaan Blambangan di Macan Putih diperintah oleh Susuhunan Prabu Tawang Alun (1650-1691). Pada tahun 1676 Pangeran Tawang Alun berhasil membebaskan diri dari pengaruh kerajaan Macaram dan dapat meiaksanakan pemerintahan sendiri.

Babad Tawang Aiun dalam Babad Blambangan karya Winarsih menceritakan bagaimana suasana kerika Blambangan melepaskan diri dari Mataram. Saat itu Prabu Tawang Alun pergi guna menghadiri pasowanan agung ke kerajaan Mataram dengan mengajak guru peguronnya Wangsakarya beserta semua putra dari garwa Padmi Dewi Sumekar dan putra dari garwa selir. Di samping itu juga membawa upeti, dari kemakmuran dan kesejahteraan Macan Putih.

Sampailah akhirnya di Mataram dan rombongan segera menghatur sembah hormat. Kanjeng Sunan Mataram menyambut baik kedatangan semua rornbongan kernudian menyilahkan mereka untuk pergi ke alun-alun guna melihat dan belajar bermain sodor-sodoran. Ernpat orang putra Pangeran Tawang Alun segera menyanggupi untuk pergi ke alun-aiun. Ternyata ketika mereka sampai di alun-a!un, tak seorangpun berani main sodoran dengan putra Tawang Alun. Mereka akhirnya mundur semua karena ketakutan. Empat putra Tawang Alun kembali ke Ponconiti agung untuk duduk kembali di belakang Pangeran Tawang alun.

Di balai Ponconiti agung tersebut Kanjeng Pangeran Kadi-langu, guru peguron sunan Mataram, setelah rnerasa dipermalukan akibat peristiwa di alun-alun itu berdiri dengan gaya yang congkak. Kadilangu kemudian berkata kepada Wangsakarya: “Sanakku tuwo Mas Bagus Wangsakarya, adiku ing Macan Putih,” katanya. Kadilangu melanjutkan (dalam terjemahan Bahasa Indonesia): “Lama sekali saya duduk di kanthil gading ini rasanya saya sangat haus sekali sepertinya badanku ini kehabisan airnya sedernikian hebat. Kalau ada ijin palilah dari mas bagus Wangsakarya, saya minta kerisnya.”

Tanpa mernpunyai perasaan sedikit apapun, Wangsakarya memberikan keris si Gagak ke Arya Pangeran Kadilangu. Beliau menyampaikan terima kasih bahwa keris sudah diterima dengan baik dan melegakan hati. Tidak lama serelah itu Arya Pangeran Kadilangu mengangkat si “Gagak” dengan kepala menengadah yang langsung diteguknya hingga tidak ada tetesan air lagi. Tertinggalah ukiran kering ditangannya. Rupanya Kadilangu sedang memamerkan ilmunya. Merasa puas Kadilangu mendekat ke Wangsakarya untuk memberikan ukiran dan warangkanya,

Betapa dapat dibayangkan bagairnana perasaan Wangsakarya melihat adegan dan kalimat Kadilangu yang diucapkan dihadapan para bupati dan khususnya Pangeran Tawangalun. Dengan jiwa besar, Wangsakarya segera berdiri, memberi hormat yang mendalam kepada sinuwun sunan mataram memohon ijin untuk melakukan sesuatu menebus rasa malunya terhadap raja. Pangeran Tawang Alun dan Sunan Mataram mengijinkan dan mengatakan : “Balaslah sesuka hatimu atas rasa sakit malu yang kamu terirna dan derita, bahwa memang hutang ya harus dibayar walaupun itu tertuju kepada guru peguron saya, janganlah takut dan gentar kepada saya.”

Reaksi Wangsakarya berikutnya bisa dilihat di Pupuh Pangkur, Babad Tawang Alun, sebagai berikut:

Artinya sebagai berikut:

Setelah mendapatkan ijin, Mas Bagus Wangsakarya serta merta berdiri ditempatnya dan menepuk tangan dan memanggil kea rah kerisnya SI GAGAK yang telah menjadi air dan berada dalam perut Pangeran Kadilangu. Dengansuara penuh wibawa dan berkekuatan magis, Wangsakarya berkata: “Gagak…oleh kodrat Yang Maha Kuasa ..ayo cepat keluar dari perut orang yang congkak dan menghina itu dan kembali ke rumahmu!”

Secepat kilat ganja keluar dari perut Pangeran Kadilangu mencuat di dada, sedangkan pucuk/wilahnya keluar dari perut mencuat pada iga-nya. Tidak seberapa lama setelah peristiwa itu Pangeran Kadilangu muntah darah segar, terjerembab di hadapan sunan Mataram, meninggal mengenaskan.

Kelihatannya semua yang hadir ingin menangkap Wangsakarya, namun secepat kilat dia mengambil wilah dan ganja yang masih melekat di dada dan iga Pangeran kadilangu. Bersamaan itu pula para putra Pangeran Tawang alun berdiri disertai seluruh punggawa yang berpakaian putih-putih bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan dengan mengeluarkan kalimat-kalimat tantangan kepada kerajaan mataram.. Pasukan Tawang Alun tidak takut mati andaikata terjadi peperangan saat inipun akan dilayani.

Sejak peristiwa itu, Biambangan tidak akan mengakui Mataram, dan menjadi kerajaan bebas merdeka. Tawang Alun menyatakan diri bergelar Susuhunan Prabu Tawang Alun. Segera semuanya meninggalkan Kanthil gading bubar ketakutan, sedangkan rombongan dari Macan Putih pulang tanpa berpamitan dengan kemarahan yang tinggi.

Bagi penulis peristiwa itu mengandung pesan yang tinggi, bahwa Biambangan memiliki kepercayaan yang kuat dan tinggi dapat hidup dalam kemakmuran, bermanfaat bagi masyarakat mengiringinya, membuat penulis dan sejumlah tokoh Banyuwangi lainnya menggagas upaya pelestarian warisan budaya berupa penciptaan Keris Gagak, yang menjadi salah satu keris Blambangan. Penciptaan ini sangat penting mengingat pendukung kebudayaan Kerajaan Blambangan di Macan Putih sendiri saat ini nyaris tidak bisa kita temui seperti besalen (tempat pembuatan keris) dan empu (pembuatkeris). Yogyakarta, Solo, Sumenep dan Ball dimana besalen dan empu keris rnasih banyak ditemui dan telah menjadi aktivitas turun-temurun sehingga warisan budaya berupa keris tidak akan mengalami kepunahan.

Apalagi, jika mengingat, penjualan benda-benda pusaka peninggalan Blambangan marak terjadi termasuk juga keris-keris asli Blambangan yang banyak diburu koiektor dari luar Banyuwangi, membuat upaya pelestarian harus sesegera mungkin dilakukan.

Penciptaan Keris Gagak dimulai dari sebuah diskusi “Kriya Budaya Keris Tangguh Blambangan Baru” pada 13 Desember 2006 di Pelinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Jalan Ahmad Yani No. 78 Banyuwangi. Diskusi ini dihadiri oleh:

  1. Unsur Pemda Banyuwangi (Perindustrian dan Pariwisata)
  2. Pakar pembuat keris dari Madura
  3. Kader dari Banyuwangi (tehnis dan entrepreneur)
  4. Pengurus dan Simpatisan Paguyuban
  5. Sejarawan dari Dewan Kesenian Blambangan
  6. Tokoh-tokoh Budayawan
  7. Komuniras Banyuwangi membangun

Penciptaan Keris Gagak pancer (pertama) akhirnya dimulai tahun 2007 berkolaborasi dengan Mohammad Yakun Sunar, seorang mpu dari Aeng Tong-tong, Sumenep, Madura. Keris ini dibuat berlekuk (luk) tiga yang mengandung Banyuwangi terhindar dari petaka dengan pamor triwarna (tolak baiak, ombak segoro, dan batu lapak). Bahannya terbuat dari kinatah ernas dengan relief burung Gagak berwarna hitam yang sedang mengepakkan sayapnya di bagian sor-soran.

Pada Pameran Pusaka tahun 2008, dalam rangka peringatan Hari Jadi Banyuwangi yang ke-237, si ‘Gagak’ tampil sangat menarik perhatian masyarakat.   Banyak pengunjung pada waktu itu ingin memesan untuk dibuatkan keris Gagak tanpa pamor yang disebut Gagak keleng.

Kemudian, di tahun yang sama, Keris Gagak pancer diserahkan kcpada Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari bersamaan dengan peresmian Situs Macan Putih, di Desa Macan Putih, Kecamatan Kabat. Sampai saat ini Keris Gagak pamor dibuat 2 bilah sedangkan Keris Gagak keleng dibuat 7 bilah. Gagak yang memiliki kriteria jelas melalui kajian kriya budaya tersebut, akhirnya benar-benar menjadi penerus keris Blambangan.

SUMBER : Banyuwangi Dalam Mozaik – KOMUNITAS SEJARAH BANYUWANGI

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 65 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: