Kisah Humor KH Hasyim Muzadi

*KH. Hasyim Muzadi*
Suatu hari Menteri Agama memberitahuku, selaku bala dhupakan dalam penyelenggaraan acara-acara kenegaraan di Istana Negara terkait peringatan hari besar agama Islam. Bahwa, Presiden Jokowi menginginkan penceramah acara PHBI di istana yang tidak baca teks. Saat itu kira-kira tiga bulan sebelum peringatan maulid Nabi. Akupun membuat daftar beberapa nama, dengan nama KH. Hasyim Muzadi pada nomor satu. Bos pun OK, maka segera saya telepon Pak Kiai dan—Alhamdulillah—yang terakhir ini pun berkenan menjadi penceramah tanpa baca teks. Akan tetapi, surat permohonan yang kami kirim menyebutkan bahwa diperlukan naskah tertulis yang akan dibagikan seusai acara. Itu protap resmi, namun kepada pengantar surat saya wanti-wanti untuk menyampaikan kepada beliau bahwa ceramahnya tanpa teks.

Pas hari H, kucek kehadiran beliau. Rupanya dua jam sebelum acara, beliau sudah berada di lingkungan istana, yakni di kantor beliau sebagai anggota Wantimpres. Kemudian kurang lebih setengah jam sebelum acara dimulai beliau sudah berada di ruang acara. Kusalami beliau yang kelihatan masih dengan serius membaca naskah, mencek sana sini dari tulisan yang dipegang Asisten beliau. Kupikir apakah beliau menghafal naskah.

Ternyata, ketika menyampaikan ceramah, beliau memulai dengan membaca; terlihat kurang lebih sama formalnya dengan penceramah lain di dalam acara seperti itu di istana. Aku mulai gelisah; sudah lewat lima menit, beliau masih asyik membaca. Gagal ini, pikirku. 

Nanti dulu. *Tidak lama kemudian beliau bercerita tentang Muhammadiyah dan NU yang dulu berbeda tentang masalah Qunut. “Tapi sekarang tidak lagi,” kata beliau, “karena kedua-duanya sudah tidak salat subuh.”* Audiens pun tertawa.

Lalu, keduanya berbeda dalam masalah Hari Raya. Sedemikian gentingnya masalah ini dirasakan oleh pimpinan negara sampai-sampai Menko Kesra saat itu memanggil beliau sebagai Ketua PBNU bersama Prof. Syafii Maarif sebagai ketua Muhammadiyah.

“Menko Kesra saat itu bernama Pak Jusuf Kalla,” kata beliau. Orang sudah mulai tertawa, termasuk Wapres. “Bisa tidak,” kata Pak Hasyim menirukan Menko Kesra, “NU turun dikit, Muhammadiyah naik dikit?” “Wah, ini logika bisnis semacam cash and carry,” komentar beliau. Semua hadirin pun tertawa.

Itu semua disampaikan untuk menjelaskan masalah persatuan umat dan bangsa. Untuk hal-hal yang tidak pokok, biarlah kita berbeda, namun untuk yang pokok, kita bersatu.

Tapi, persatuan jangan dipaksakan untuk hal-hal yang memang tidak dapat dipersatukan. “Jangan lalu, misalnya, orang Kristen ikut Jum’atan karena ingin bersatu dengan orang Islam,” beliau memberi contoh. 

Mengapa? Nanti sandalnya hilang, kata beliau.

Saya pernah ditanya orang Kristen, kata beliau, mengapa orang Islam sering kehilangan sandal di mesjid, sementara orang Kristen tidak kehilangan sandal di gereja. Karena orang Islam sandalnya dicopot kalau masuk masjid, sementara orang Kristen tidak mencopotnya ketika masuk gereja. Tapi nanti yang hilang sepeda motornya.

Itulah sekelumit kenangan dengan Kyai Hasyim. 

Selamat jalan, Kyai. Nama dan jasamu akan terus dikenang. Perjuanganmu _insya Allah_ akan dilanjutkan.
_Alluhumma ghfir lahu warhamhu, wa ‘āfihi wa ‘fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu wa wassiʻ madkhalahu. Aamiin._
_(Muhammad Machasin,  Guru Besar UIN sunan Kalijaga, Yogyakarta)_

Iklan

PIN BBM Mas Say Laros 5FC71F82

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: