Mengenal Lagu Banyuwangi SEMERIWING KEMBANG KOPI #KangMunawir

Mengenal Lagu Banyuwangi SEMERIWING KEMBANG KOPI

SEMERIWING KEMBANG KOPI adalah lagu ciptaan M. Arief, seniman Lekra Banyuwangi yang cukup tersohor sebab “lagu-rakyat”-nya yang dipelintir orde baru jadi soundtrack sadisme para Gerwani; Genjer-Genjer. Seperti “Sekolah Ayo Sekolah”, lagu ini juga cukup sering dibawakan oleh SRI MUDA (Seni Rakyat Indonesia muda)—bentukan M. Arief—terutama saat “turba” ke basis pekerja perkebunan.

M. Arief turut diringkus ketika gestapu dan gestok efeknya sampai di Banyuwangi. Sejak itu, keberadaannya tak jelas dan Arief tak pernah kembali. Menurut keterangan karibnya, Andang CY, ia “diselesaikan”Selepas tragedi berdarah ’65-’66, lagu-lagu M. Arief yang sebelumnya sering dinyanyikan, popularitasnya menyusut drastis. Orde Baru memang membersihkan segala yang nampak “merah” di Banyuwangi. Kemudian lahirlah generasi Catur Arum, ddk—yang lirik-liriknya cenderung erotik bercampur platonic.
Alur kebudayaan seperti patah; M. Arief, sebagai salah satu ikon, generasi awal musik Banyuwangi modern menjadi lajur sejarah tanpa penerus. Sukar sekali menautkan musikalitas “kendang-kempul”—yang cenderung dangdut—dengan musik “Banyuwangi klasik” yang tidak hanya merakyat, tetapi juga magical dan multikulturistik.

Dalam Video ini, Semeriwing Kembang Kopi ditembangkan oleh Ibu Sukartik, salah satu anggota SRI MUDA saat itu. Ia juga turut merekam tragedi berdarah ’65. Perempuan ini menyaksikan teman-teman di bawa ke sebuah gudang bulog dan kemudian didengarnya teriakan meregang nyawa. Ia menyaksikan rumahnya dibakar, rumah-rumah lain dibakar, tetangganya yang tak tahu apa-apa kepalanya dipacul. Ia, tidak bisa tidak, teringat lagi kakaknya yang diseret sampai celananya melorot dengan darah yang terus mengalir, ketika melihat orang-orang memasang bendera setengah tiang. Ingatannya di luar kalender, tapi tepat memberi konteks politik atas kebiadaaban negara kepada rakyatnya sendiri.

Bu Sukartik kini berjualan mie-bungkus di pasar. Sudah lama tak mengingat-ngingat lagi kekejian yang dirangkumnya dalam kalimat-kalimat patah: “Hoalah Gusti, kok yo kari tego nong dulur dewek. Wis. Wis. Ojok maning-maning wis. Ojok Wis. Ojok!” (Hoalah Tuhan, kok ya sungguh tega sama saudara sendiri. Sudah. Sudah. Jangan ada lagi sudah. Jangan sudah. Jangan!)

Berikut lirik lagu “Semeriwing Kembang Kopi” yang saya terjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan nalar puitik. Bukan lirik lagu. Dalam bahasa asli, ada kata-kata yang kurang mampu saya tangkap dengan baik. Mohon dikoreksi bila dari teman-teman ada yang tahu; sebab lagu ini (justru) populer dalam acara tayuban di jawa timur bagian barat. Sayang, taste Banyuwangen-nya nyaris teremdam dalam notasi khas Jawa Mataraman.

Semeriwing Kembang Kopi

Semeriwing…
Kari wangi kembyange kopi
Rentep turut gagang, benceret
Koyo seloko; godonge ijo, ngawe-awe
Nang kangarepi—podo ayem tentrem,
Kopi ngembyang, ning ati lego

Kopi ngembyang,
Tandane wis meh metu uwohe
Setaun sepisan, panen kopi biasae
Uwohe ngerintip, abyang-ijo dompolane
Ono kang nong lemah, tai luwak
Iku arane…

Esuk-Esuk,
Runtung-Runtung nggowo timbo
Podo ngondo kopi, iku minengko wadahe
Sebrat-Sebrut, akeh-akehan ulihe
Sarto wis soren, podo moro
Ning penimbange

Seneng-Seneng…
Podo ngitung bayarane

***

Semilir harum…
Sungguh wangi si bunga kopi
Berjejalan pada selajur dahan, tiap deret
Bagai mutiara; daunnya hijau, menggapai-nggapai
Pengharapan—tenang bersama tentram
Kopi berbunga, hati berpunya lega

Kopi berbunga,
Pertanda t’lah hampir berbuah
Setahun sekali, panen kopi biasanya
Buah berjejal, merah-hijau bergerombol
Ada yang tergeletak di tanah; tai luwak
Disebutnya

Pagi-Pagi…
Beriringan membawa timba
Sama berpetik kopi, timba dibuat tadahnya
Cabat-Cabut, banyak-banyakan hasilnya

sumber@youtube

PIN BBM Mas Say Laros 5FC71F82

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: