Asal Usul Nama Desa Siliragung Banyuwangi ( Kisah PANJI GIMAWANG )

PANJI GIMAWANG ~ Cerita Rakyat Asal Usul Kesilir Pesanggaran

Alkisah, dahulu ada seorang perjaka tampan dari tinggal di Sukonatar. Ia sangat berlimpah harta, sawahnya membentang dari timur ke barat dari utara ke selatan seolah tanpa batas. Walaupun ia dari garis bangsawan yang kaya raya tapi ia terkenal kebaikannya. Tidak sombong, suka membantu tetangganya, ramah, suka menyapa. Siapapun orangnya, tua, muda, laki perempuan pasti simpatik terhadapnya.

Karena kebaikannya itulah setiap kali sawahnya tanam atau panen, semua orang senang ikut buruh terhadapnya. Senang karena upah kerjanya tinggi dan lagi suguhan makanannya enak-enak. Sepertinya hampir seluruh jajanan di pasar dibelinya untuk orang yang kerja.

Dan lagi, ini yang menjadi kelebihan utamanya yaitu walaupun ia kaya dan terhormat tapi ia merakyat, mau bergaul dengan siapapun, mau mengerjakan apapun yang dikerjakan orang kebanyakan. Bahkan malah ketika orang-orang buruh menanam padi itu ia juga tak segan ikut belepotan lumpur turun ke sawah. Tapi memang watak orangnya memang demikian, bukan untuk dipuji atau dibuat-buat. Sebenamya ia ikut nimbrung kerja itu bukan kurang kerjaan, tapi dasamya orangnya suka bergaul dan enggan diperlakukan istimewa.Walaupun kaya, ia menganggap semua orang derajatnya sama, tidak pandang kaya miskin semua adalah saudara. Lelaki kaya dan tampan itu semua orang tahu namanya adalah Panji Gimawang.

Panji Gimawang belum menikah. Padahal semua persyaratan telah terpenuhi. Rumah besar dekat perempatan jalan, berpuluh kerbau dan sapi, sawah terbentang tergelar berbatas hutan, umur juga sudah cukup. Sebenamya bukan perkara tidak ada yang dinikahi. Perawan mana sih yang tidak ingin disunting Panji Gimawang? Antri yang ingin dilamar, bahkan sudah berkali-kali orang-orang terpandang dari berbagai kampung datang dengan membawa anak gadisnya. Ada yang menunjukkan kekayaannya, ada yang mengandalkan kebangsawanannya, namun Panji Gimawang bergeming.

Perkaranya bukan ini itu. Hanya satu, Panji Gimawang tidak akan menikah kalau bukan dengan perawan desa yang bemama Mbok Delimo.Perawan ayu yang rumahnya nun jauh di desa Tegaldelimo dekat Alas Purwo, pekerjaannya di sawah, menanam padi, membersihkan gulma, dan mengais padi kala musim panen.

Panji Gimawang jatuh hati karena kesederhanaan Mbok Delimo. Mbok Delimo bukan hanya cantik rupa tapi juga cantik hatinya. Selain itu ia memiliki kesaktian yang digunakan membantu para petani, yaitu selendang yang apabila dilemparkan pada sawah yang akan ditanam, seketika sawah itu tertanam padi, walau seberapa luasnya.Juga apabila selendang itu dilemparkan padi yang akan dipanen, seketika hamparan padi tersebut sudah terpanen. Tapi walaupun demikian Mbok Delimo tak pernah memamerkan kemampuannya itu. Kesaktian itu ia gunakan untuk membantu para petani.

Panji Gimawang hanya bisa memendam rasa, tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya kepada pujaan hatinya itu. Berkali-kali ketemu, namun Panji Gimawang hanya terpana aura kewibawaan Mbok Delimo. Sebenamya tidak bisa dipungkiri, Mbok Delimo juga jatuh hati atas kesederhanaan Panji Gimawang. Namun ia takut kepadadua kakaknya yaitu Waiso Janur dan Waiso Suro. Kedua kakaknya tersebut tidak setuju apabila adiknya itu diperisteri Panji Gimawang, takut kalau hanya dimanfaatkan kesaktiannya saja.

Hari yang dinanti-nanti Panji Gimawang tiba. Sawahnya sudah musim tanam. Berpuluh pasang kerbau baru saja usai mengolah sawah. Panji Gimawang ingat Mbok Delimo. Alangkah, seandainya gadis pujaannya itu ikut menanam padi di sawahnya. Betapa senang hatinya. Namun keinginannya itu hanya dibatin saja, ia bingung apa yang hams dilakukan.

Diam-diam Mbah Buyut mengetahui kegundahan hati Panji Gimawang.Tidak betah Mbah Buyut bertanya, “Panji Gimawang, kamu benar-benar mengharap Mbok Delimo ikut tanam padi di sawahmu?”
“Ya, Mbah Buyut. Tolong sekiranya engkau bisa, panggilkan Mbok Delimo itu,” minta Panji Gimawang.
“Baiklah keinginanmu aku tumti.” Kata Mbah Buyut

Pagi buta Mbah Buyut langsung berangkat menuju Tegaldelimo. Saat matahari pas di atas kepala baru sampai. Waiso Janur dan Waiso Suro, kakaknya Mbok Delimo, sudah mengerti maksud kedatangan Mbah Buyut kepada adiknya. Segera mereka berdua menemui adiknya dan mewanti-wanti agar tidak menuruti suruhan Panji Gimawang tersebut.

Di rumah Mbok Delimo, diam-diam Mbah Buyut menghadap Mbok Delimo sambil menembang.
“Mbok Delimo.Gimawang.tolong ya Mbok Delimo…°Mbok Delimo menjawab juga sambil menembang. “Tidak mau….tidak mau….sawahnya Panji Gimawang banyak lintahnya…tidak…tidak…”

Mbah Buyut tidak putus asa. Ia mengetahui Mbok Delimo menjawab begitu hanya karena takut kepada kakaknya. Mbah Buyut dengan sabar meminta kesediaan Mbok Delimo. Usahanya berhasil, akhimya Mbok Delimo menyanggupi permintaan Mbah Buyut. Dengan sembunyi-sembunyi Mbok Delimo ikut Mbah Buyut menuju Sukonatar.

Panji Gimawang yang menunggu kedatangan Mbok Delimo tidak sabar ingin segera betjumpa. Semalaman menunggu, Panji Gimawang tak bisa tidur.

Pagi yang hangat saat para buruh tanam beriring menuju sawah Panji Gimawang, Mbok Delimo datang. Orangnya cantik tinggi semampai, kulitnya bersih. Di pinggangnya melingkar selendang wama merah. Semua mata tertuju memandangnya. Tak seberapa lama, seolah tak menghiraukan kecantikannya,Mbok Delimo turun ke sawah ikut menanam padi. Panji Gimawang yang sejak tadi menyaksikan dari dangau panggung terpana mematung. Tak kuasa berbuat apa-apa. Berkata sepatah katapun tak mampu.

Setelah tinggi matahari sepenggalah, Mbok Delimo berdiri melepas selendangnya. Semua orang mengetahui kalau Mbok Delimo sudah melepas selendangnya berarti sudah saatnya ia mengeluarkan kesaktiannya. Kalau sudah begini, nampak sekali kewibawaan Mbok Delimo. Sambil seperti orang hendak menari, selendangnya ia lecutkan ke atas. Selendang merah yang panjang itu meluncurkan ke atas bagai ular naga. Jangan ditanya apa kejadian selanjutnya.Seketika sawah Panji Gimawang yang luas itu sudah tertanam padi. Semua orang yang ada di sawah itu terperangah menyaksikan Mbok Delimo.

Segera setelah membantu Panji Gimawang, Mbok Delimo pamitan pulang kepada Mbah Buyut. Ia tidak minta upah bahkanpun makan. Nyata sungguh kedatangannya itu ikhlas karena memenuhi permintaan Mbah Buyut untuk membantu Panji Gimawang.

Melihat semua tindak tanduk Mbok Delimo, Panji Gimawang tidak kuasa berbuat apa-apa. Ketika Mbok Delimo pamitan pulang kepada Mbah Buyut,sebenamya ia ingin barang sejenak bercakap Mbok Delimo. Tapi keinginan itu tak mampu terucap. Setelah Mbok Delimo tidak ada di hadapannya, Panji Gimawang baru kuasa berkata kepada Mbah Buyut.
“Mbah Buyut, mengapa tidak kau suruh Mbok Delimo duduk sebentar?’kata Panji Gimawang sambil menyesal.“Bagaimana mau menyuruh, saya saja juga terpana ini tadi?” kata Mbah Buyut.“Terus bagaimana ini Mbah Buyut?” tanya Panji Gimawang seperti anak kecil.“Ya bagaimana lagi, besok saja saat panen kita minta ke sini lagi,” kata Mbah Buyut. Panji Gimawang berdiri mematung.

Waktu terasa lambat beijalan. Satu bulan dinanti, dua bulan diharap,empat bulan menjelang, padi sudah menguning, saatnya musim panen tiba.Panji Gimawang mengingatkan Mbah Buyut agar menjemput Mbok Delimo,Mabah Buyut iba kepada Panji Gimawang, bergegas menuju Tegaldelimo.Sesampai di rumah Mbok Delimo, sesuai adat orang jaman dulu, Mbah Buyul berbicara seraya menembang.

“Mbok Delimo. tolong bantu memanen padinya Panji Gimawang.. Mbok Delimo….” Tidak sulit seperti dulu, kali ini Mbok Delimo langsung bersedia ikut Mbah Buyut menuju Sukonatar. Tanpa disadari, di belakang mereka secara sembunyi-sembunyi Waiso Janur dan Waiso Suro mengikuti.

Di Sukonatar Panji Gimawang sudah menunggu di dangau panggungnya (paglak). Karena keindahannya dangau itu menjadi hiasan yang mencolok di tengah sawah. Tiangnya terbuat dari jati tua, berukir ular gatot kaca. Atapnya terbuat dari daun kelapa pilihan. Tangganya tujuh sap diwama tujuh macam. Dari kejauhan paglak itu nampak tinggi menjulang berwama wami dengan penjor janur kelapa.Setelah waktu tiba memanen padi, Mbok Delimo datang. Ia tidak menyadari kalau di perhatikan Panji Gimawang. Mbok Delimo mulai memanen padi, selendangnya diletakkan di tiang paglak.Ketika Mbok Delimo asyik memanen padi, selendangnya diambil oleh Panji Gimawang, disembunyian. Maksudnva agar Mbok Delimo tidak menggunakan kesaktiannya saat memanen padi sehingga ia bisa berlama-lama memperhatikan dan bersamanya.

Di tengah sawah, setelah matahari setinggi penggalah Mbok Delimo akan mengambil selendangnya. Ia lihat selendang itu tidak ada. Mbok Delimo bingung mencari-cari selendangnya. Memandang ke atas, nampak Panji Gimawang tersenyum dan selendangnya melambai-lambai ditiup angin. Mbok Delimo jengkel campur malu. Ia memaksakan diri sambil menahan malu meminta selendangnya seraya menembang.
“Panji Gimawang…..kembalikan selendang itu…wahai Panji Gimawang….” “
Tidak, tidak….naiklah satu sap saja….wahai Mbok Delimo….” Panji Gimawang menjawab seraya menembang juga. Mbok Delimo naik satu sap, sambil meminta lagi agar selendangnya dikembalikan seraya menembang.
“Panji Gimawang…kembalikan selendang itu…wahai Panji Gimawang…
”“Tidak….tidak, naiklah satu sap lagi, wahai Mbok Delimo…”Mbok Delimo naik lagi satu sap. Begitu seterusnya sampai ke sap yang ke tujuh. Akhimya Mbok Delimo sampai di panggung paglak berduaan dengan Panji Gimawang.

Tidak disangka, Waiso Janur dan Waiso Suro, kakaknya Mbok Delimo tiba-tiba hadir di tengah mereka. Nampaknya dua orang jagoan dari Tegaldelimo itu tidak rela kalau adiknya sampai tersentuh Panji Gimawang. Dengan marah memuncak, muka membara, darah mendidih, mengumbar amarah kepada Panji Gimawang.
“Heh, Panji Gimawang, turunkan adikku Delimo!”
Panji Gimawang menjawab tak kalah berani.“Tidak! Kalau berani ayo kita menakar darah!”
Panji Gimawang turun, Waiso Janur dan Waiso Suro menghadang. Saat kematian sudah tak terhalang. Tiga lelaki itu tanding mengadu nyawa, menuruti murka. Suara pedang dan keris mengiris angin. Darah muncrat, Mbok Delimo menjerit-jerit ketakutan.

Tiga lelaki itu sudah tidak tampak jelas wujudnya, hanya nampak seperti pusaran angin. Puncaknya, seperti dilemparkan, Waiso Janur dan Panji Gimawang melesat ke angkasa jauh entail ke mana.

Mengetahui saudaranya meninggal, Waiso Suro tak mampu mengendalikan dirinya. Badannya diputar seperti gasing untuk mengeluarkan kesaktiannya. Tangannya menjemput langit, memanggil-manggil angin. Seketika langit gelap, puting beliung datang.

Kejadian selanjutnya sangat mengerikan. Semua yang ada hancur tergulung angin. Paglak, padi, pepohonan, pasir, batu, tersapu angin, menggumpal dan kemudian saling beradu. Hancur. termasuk Mbok Delimo dan Waiso Suro. Semua luluh melesat ke angkasa seperti tersedot langit.

Lama setelah kejadian itu, atap paglak Panji Gimawang yang tersapu angin (kesilirangin) ditemukan jauh di daerah selatan dekat laut kidul, tersangkut di pohon beringin. Untuk menjadi pengingat kejadian itu, tempat tersebut dinamakan “Kesilir”.

Sumber@buku Koleksi BTD Cerita Rakyat Banyuwangi~Hasan Basri ~ Gambar Hanya Ilustrasi

#KangMunawir

PIN BBM Mas Say Laros 5FC71F82

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: