Kegiatan PKI sebelum Kudeta di Banyuwangi #KangMunawir

Persaingan antara kedua kekuatan utama di Banyuwangi,yaitu PKI dan Nahdlatul Ulama, untuk mendapatkan dukungan massa penduduk sebenamya sudah dimulai jauh sebelum tahun 1965. PKI membunuh pemimpin-pemimpin NU di Kalipahit selama periode pendudukan Belanda, dengan alasan bahwa para haji itu adalah mata-mata Belanda,aksi-aksi teroris yang dilakukan oleh gerombolan-gerombolan penjahat juga diorganisasi oleh PKI untuk melawan orang-orang nonkomunis yang kaya dan anggota PKI melakukan sabotase terhadap sarana-sarana yang dimiliki oleh orang-orang nonkomunis.

Tetapi, pada tahun 1960-an, sebab-sebab terjadinya perselisihan di antara kelompok-kelompok PKI dan non-PKI adalah implementasi undang-undang pertanahan, gerakan anggota PKI ke dalam jabatan-jabatan resmi, dan mobilisasi massa. Pengaruh PKI terhadap orang-orang desa di Banyuwangi cukup kuat. Misalnya, ada sebuah gerakan aktif aksi sepihak di kabupaten itu, yang bergerak dari satu kecamatan ke kecamatan lain yang berpuncak dengan terjadinya aksi sepihak di sana hampir setiap hari.

Menurut sebuah laporan yang diterbitkan dalam Suara Indonesia 5 Januari 1965, aksi sepihak terjadi di sembilan desa yang berada di Kecamatan Genteng, dan sedikitnya 6.720 orang ikut ambil bagian dalam aksi itu. Kecamatan kecamatan lain yang menjadi tempat ditemukannya bukti-bukti tentang berlangsungnya gerakan aktif PKI tersebut termasuk Srono, cluring, Kabat, Gambiran, dan Glagah.

Di beberapa desa aksi ini diperparah dengan pembakaran dan perusakan rumah rumah penduduk, penjarahan tanam-tanaman dan kegiatan-kegiatan lain yang menyebabkan kekacauan. PKI menghasut anggota-anggota BTI untuk membuat klaim-klaim aksi sepihak atas tanah yang dikuasai oleh petani-petani kaya yang nonkomunis.

Dalam beberapa kejadian, haji-haji kaya mewakafkan tanahnya kepada sebuah pesantren atau mesjid, tetapi tetap memegang kuasa atas tanah itu. Konflik lebih jauh yang terjadi di Banyuwangi antara PKI dan NU muncul di dalam industri penangkapan ikan. Buruh buruh pelabuhan yang diorganisasi oleh pki ke dalam Barisan Nelayan Indonesia (BNI) melakukan sabotase atas jaring-jaring dan perahu-perahu yang dimiliki oleh orang-orang nonkomunis. Mereka juga memboikot penangkapan-penangkapan ikan yang dilakukan oleh orang-orang nonkomunis. Sudah barang tentu para nelayan sangat tergantung pada fasilitas pelayanan seperti buruh untuk mengangkut ikan dari perahu ke pelabuhan dan persediaan garam untuk mengawetkan ikan.

Akibat pengaruh PKI atas buruh-buruh pelabuhan, nelayan-nelayan nonkomunis merasa sangat sulit mencari buruh yang mau mengangkut ikan dari perahu-perahu mereka. Di sisi lain, perahu-perahu milik orang-orang Cina tidak mengalami kesulitan sama sekali. Nelayan-nelayan pribumi, yang umumnya nonkomunis, juga mengalami kesulitan dalam mendapatkan garam, sementara orangorang Cina tidak mengalami kesulitan apa pun.

Ketegangan yang ditimbulkan oleh masalah-masalah itu telah beberapa kali mengakibatkan perkelahian dan kematian. Buruh-buruh pelabuhan yang tertarik kepada NU diorganisasi ke dalam Serikat Nelayan Muslimin Indonesia (SNMI). Tetapi jumlah total anggota SNMI jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan anggota BNI. Disisi Iain, kapten-kapten dan para pemilik perahu, yang adalah orang-orang pribumi, lebih banyak yang tertarik kepada NU karena boikot-boikot yang dilakukan oleh buruh-buruh pelabuhan BNI seringkali mengakibatkan kerugian finansial yang besar di pihak kapten dan nelayan-nelayan pribumi.

Daerah-daerah di Banyuwangi yang sangat dipengaruhi oleh komunis adalah di Kecamatan Glagah,Singajuruh, Kabat, Rogojampi, Genteng, Pasanggaran, cluring, Purwoharjo, dan Glenmore. Pengaruh NU yang dirasakan paling kuat ada di Kecamatan Wongsorejo, Giri dan cluring, sedangkan para pengikut PNI, yang umumnya adalah para pegawai negeri dan pejabat pejabat desa, tersebar di berbagai subdistrik dan tidak seperti halnya partai-partai lainnya, para pengikut PNI ini tidak terkonsentrasi di daerah-daerah tertentu mana pun.

Pengaruh NU juga cukup kuat di Muncar, tetapi Muncar juga merupakan sebuah daerah pesisir dan pengaruh PKI di kalangan buruh-buruh pelabuhan nyaris mutlak. Pada awal 1960-an Besar Prayitno, seorang rokoh terkemuka PKI Banyuwangi, banyak melakukan kunjungan ke Muncar dengan tujuan untuk memperkuat pengaruh PKI di sana. …. BERSAMBUNG …..
Sumber@Buku The Indonesian Killings By Robert Cribb

PIN BBM Mas Say Laros 5FC71F82

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: