Mengenal Perbedaan Jaranan Buto dan Jaranan Campursari di Banyuwangi

Minggu,27 Januari 2013

Salam Jenggirat Tangi !!!

Selamat Datang Di Padepokan Mas Say Laros…

Seni jaranan merupakan seni budaya yang telah lama ada di Indonesia khususnya di daerah Jawa Timur. Seni ini memadukan seni musik, seni tari dan juga mistis. Khususnya di Banyuwangi seni ini disebut sebagai seni “Jaranan Buto”.Seni Jaranan Buto berbeda dengan seni jaranan lainnya. Bila seni jaranan yang ada di kota-kota lain di Jawa timur (kuda lumping, reog dan lain-lain) serta di Jawa Tengah (jatilan) kebanyakan menggunakan kuda kepang (kuda-kudaan yang terbuat dari irisan bambu tipis) dan reog terbuat dari kayu yang dibentuk seperti kepala harimau dengan burung merak diatasnya, jaranan buto menggunakan bahan lulang (kulit hewan seperti sapi atau kerbau) dan bentuknya tidak seperti kuda melainkan seperti badan dan kepala buto (raksasa).

Dari seni tari, gerakan-gerakan yang dilakukan juga menggambarkan pertempuran antar raksasa sehingga lebih menunjukkan keseragaman tari serta kegarangan / keperkasaan. Dahulu seni tari mengadopsi dari pertempuran para raksasa (dalam cerita pewayangan) serta pertempuran binatang buas yakni celeng (babi hutan) dan pertempuran kucing liar. Namun saat ini telah berkembang menjadi pertempuran macan (harimau) dan juga Kebo (Kerbau liar).

Untuk mengiringi seni tari ini, digunakan alat musik pokok yakni kendang (gendang), bonang (gamelan kempul), serompet (terompet) dan saat ini telah mengalami perkembangan dengan ditambahkan jidor (beduk yang terbuat dari bahan logam – bukan kayu), simbal, gamelan dan lain-lain.

Walau mengalami perubahan, Menurut pendapat dari salah satu pakar seni jaranan buto (Bpk. Prayitno, Bpk. Kadeni , Bpk. Suwono dan Bpk. Rimun ) Seni jaranan buto tidak boleh lepas dari beberapa aspek berikut :

Siku (yakni keseragaman tari dari para pemain)

Ukel (yakni urutan pakem seni tari dan musik yang menggambarkan kegarangan)

Rupo (yakni karakter dari raksasa)

Sehingga bila saat ini telah banyak timbul seni serupa yang mengatasnamakan seni jaranan buto, namun lepas dari pokok diatas, menurut para pakar tersebut seni jaranan itu sudah masuk dalam kategori jaranan campursari. Hal ini dikarenakan nilai rasa dan seninya telah berbeda dengan pakem jaranan buto.

Karakter Jaranan Buto :

– Garang dan beringas (namun masih dalam aturan seni tari yang terlatih)

– Musik baku (berirama matang dan mengutamakan suara terompet, gendang dan bonang)

– Berpakaian dan bermakeup layaknya raksasa (tidak terlihat ganteng atau cantik)

( http://suwandibagus.wordpress.com )

Iklan

2 Tanggapan

  1. Kalau singo barong bisa gx main di jaranan butho gan?,..

    • bisa gan

PIN BBM Mas Say Laros 5FC71F82

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: