Profil Seni Turonggo Yakso ‘’WARGO BUDOYO’’ Desa Ringin Agung Pesanggaran Banyuwangi Pimpinan Bapak KAFIRIN

Rabu,06 Maret 2013

Salam Jenggirat Tangi !!!

Selamat Datang di Padepokan Mas Say Laros…

JARANAN BUTO CAMPURSARI

Seni Turonggo Yakso ‘’WARGO BUDOYO’’

Desa Ringin Agung Pesanggaran Banyuwangi

Pimpinan : Bapak Kafirin

HP : 081 358  953 681

Paju Gandrung ”Waru Doyong” Oleh Sugiati

WARU DOYONG

Kembang waru,
Godhong rontog jare paman yoro kiplaseno
Yo wong maru jare paman kelendi rasane

Kapan katon jare paman yoro wekasenoLae-lae yo kepalang ono hang duwe
Uwis semayane,
Piro-piro jare paman wong beras kopine,telung karung jare paman yoro katenono
Piro-piro welas janjine, telung tahun yoro antenonoLae-lae wis kepalang yoro adoh umahe
Uwis semayane,
Ojo enak jare paman wedang-wedangan wong sing weruh jare paman wong larange kopi
Ojo enak lenggang-lenggangan, wong sing weruh larane ati.

Uwis semayane,
Bantal cilik jare paman yoro ulesono, pagerane jare paman sang ono letter’e
Bakal cilik jare paman yoro omesono, bakal cilik omesono
pelanggeran wong podho penter’e

Uwis semayane,
Sepidah jengki jare paman diengguh wowotan, kelopo kiring jare paman yoro sumbatono
Riko ojo ngomong wangkot-wangkotan, kadung keroso gering yoro bangur pegatono

Uwis semayane,
Nulih ngulon jare paman wong umahe kanjeng, nulih ngetan jare paman wong weringin pitu
Nulih uwong ojo kari mandeng, durung karuan wong diempet mantu
Yoro Lae-lae yo kepalang wong adoh umahe.

Beasiswa Kuliah S-1 PT Indo Multi Niaga Khusus Putra-Putri Pesanggaran Banyuwangi

Rabu,13 Juni 2012

Salam Persahabatan…

Bagaimana Kabarnya Sahabat Mas Say Laros?

Sebagai wujud kepedulian PT Indo Multi Niaga (IMN) kepada putra-putri desa pesanggaran banyuwangi maka kali ini PT IMN Memberikan beasiswa kuliah S-1 bagi putra-putri pesanggaran yang berprestasi dan berasal dari keluarga yang  kurang mampu secara ekonomi.

BEASISWA S-1 PT INDO MULTI NIAGA 2012

KHUSUS PUTRA-PUTRI PESANGGARAN BANYUWANGI

‘’4 TAHUN BEBAS BIAYA KULIAH DAN BIAYA HIDUP’’

      Persyaratan :

  1. Calon Penerima beasiswa adalah penduduk yang berdomisili diwilayah pesanggaran yang dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP)
  2. Menyerahkan Kartu Keluarga (KK) Disertai dengan surat keterangan domisili dari kepala desa setempat
  3. Calon penerima beasiswa adalah mereka yang memiliki prestasi akademik yang baik
  4. Calon penerima beasiswa berasal dari keluarga yang secara ekonomi kurang mampu dengan dibuktikan keterangan dari kepala desa
  5. Tidak terikat dengan program beasiswa lain dari pihak manapun
  6. Apabila penerima beasiswa belum lulus dalam waktu 4 tahun maka biaya kuliah tahun berikutnya sampai dengan lulus menjadi tanggung jawab keluarga yang bersangkutan
  7. Apabila penerima beasiswa putus kuliah dan tidak lulus oleh karena ketidakdisiplinan,Yang bersangkutan wajib mengembalikan seluruh uang beasiswa yang pernah diterimanya kepada perusahaan

Prosedur Aplikasi :

  1. Calon peserta harus mengisi formulir pendaftaran (Form Aplication bias di peroleh dikantor Community Relations and Development PT Indo Multi Niaga atau seluruh kantor kepala desa dikecamatan pesanggaran).
  2. Formulir Pendaftaran yang telah diisi dan seluruh dokumen yang dipersyaratkan harus dikirim ke Commite Beasiswa PT Indo Multi Niaga Paling lambat tanggal 16 juli 2012

Penerima beasiswa diseleksi berdasarkan pertimbangan berikut :

  1. Surat pemberitahuan diterima diperguruan tinggi
  2. Tingkat kemampuan ekonomi keluarga calon penerima beasiswa
  3.  Ranking Jurusan dan Reputasi Perguruan Tinggi
  4. Faktor lainnya yang dianggap relevan oleh komite beasiswa
  5. Pertimbangan diatas kemudian diformulasikan melalui system scoring atau pembobotan yang akan dijelaskan pada bagian lain dari prosedur ini

Kriteria Khusus :

  1. Sudah diterima di sebuah perguruan tinggi negeri yang terakreditasi pada tingkat S-1 Diwilayah jawa dan bali
  2. Penerima beasiswa harus dalam kondisi sehat yang dinyatakan berdasarkan test kesehatan dari rumah sakit

Jadwal Kegiatan :

  1. Pengambilan formulir atau berkas aplikasi ke-1 (17 Mei – 17 Juni 2012)
  2. Pengambilan formulir atau berkas aplikasi ke-2 (7 Juli – 16 Juli 2012 )
  3. Seleksi penerimaan (17 Juli –  26 Juli 2012)
  4. Pengumuman peserta yang lolos seleksi (28 Juli 2012 )
  5. Penandatanganan surat perjanjian (1 agustus 2012)

Alamat Pengiriman Berkas Aplikasi :

  • Community Relation and Development PT Indo Multi Niaga Pulau Merah Sumberagung Pesanggaran Banyuwangi Jawa timur
  • Telepon / Fax : (0333) 710368 – 710396

Informasi Lebih Lanjut :

  1. Sutarto (081333854234)
  2. Makinuddin (081249967473)

 


 

 

 

Pantai Rajegwesi Banyuwangi

PANTAI RAJEGWESI
Pantai rajegwesi terletak di Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran. Jalan Menuju Rajegwesi juga indah. Para pengunjung melewati daerah perkebunan. Jalan yang teduh menyambut para pendatang. Para penduduknya bersahabat dengan para pendatang. Sementara, pantainya membentang berbentuk teluk yang dibatasi bukit hijau yang indah dan alami.
Ombaknya tidak terlalu tinggi, sehingga para pengunjung bisa mandi dan berenang di pantai. Rajegwesi juga merupakan tempat yang menghubungkan tempat-tempat indah lainnya, seperti : Teluk Hijau,Teluk Damai dan Sukamade.

RAJEGWESI BEACH

It is located in the village of Sarongan, Sub District of Pesanggaran. The way to the place is also beautiful. The visitors are passing the plantations area. The shady road welcomes the passer by, then. The people are friendly. The beach is beautiful and surf rolls into large bay surrounded by green rocky hill formation. The wave is not so high that connect other beautiful places; such as Teluk Hijau, Teluk Damai and Sukamade
Follow Twitter PJT : @JebengthulikBWI
SumberBy : Disbudpar

Tambang Emas Tumpang Pitu Pesanggaran Banyuwangi,Antara Berkah Dan Derita

Kamis,09 Februari 2012

Salam Persahabatan…

Bagaimana Kabarnya Sahabat Mas Say Laros?

            Ketika kita berbicara kabupaten banyuwangi,Mungkin ada sebagaian orang yang selalu mengindetikkan banyuwangi dengan ilmu santet yang sekitar tahun 1998 lalu sempat mencuat di kota gandrung ini.Namun,ternyata semua itu adalah dugaan yang salah karena memang itu adalah sebagaian kecil budaya masyarakat yang sebenarnya tidak hanya berada dikawasan banyuwangi tetapi bisa saja dikabupaten-kabupaten yang lain hanya saja istilahnya yang berbeda.

            Nach,akhir-akhir ini pun media banyak memberitakan tentang penambangan emas tumpang pitu yang terletak dikawasan 56 gunung tumpang pitu kecamatan pesanggaran kabupaten banyuwangi.Pertambangan emas yang dikelola oleh PT.Indo Multi Niaga (IMN) ini memang sejak awal sudah menimbulkan kontroversi baik dikalangan masyarakat local maupun ditingkat kabupaten bahkan nasional karena memang pada proses awal perizinan banyak yang setuju dan banyak juga yang tidak setuju.

            Lokasi tambang emas tumpang pitu ini tidak jauh dari rumah Mas Say Laros mungkin bisa kita tempuh sekitar 15 menit dengan menggunakan kendaraan sepeda motor atau mobil.Pada liburan semester beberapa waktu lalu,Mas say laros sempat datang kesana untuk melihat lokasi penambangan emas yang dikelola oleh PT.Indo Multi Niaga ini.Ya disamping untuk refreshing ke pantai pulau merah yang juga berada dekat dengan lokasi tambang juga untuk berjalan-jalan disekitar gunung tumpang pitu sambil menikmati udara pantai.

Memang,Tambang emas di Petak 56 di lereng Bukit Tumpang Pitu, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran – Banyuwangi ini beberapa waktu lalu sempat ditutup setelah terjadinya peristiwa pembakaran peralatan pertambangan milik PT IMN oleh warga sekitar yang tidak setuju dengan aktifitas penambangan,Bahkan disana sering terjadi penembakan beberapa warga yang dilakukan oleh aparat kepolisian.Melihat situasi yang kurang kondusif itulah setiap hari disekitar rumah Mas Say Laros sering terjadi operasi yang dilakukan oleh aparat kepolisian untuk memeriksa bawaan pengendara bermotor apakah membawa material tanah dari tumpang pitu atau tidak.Tapi kini aktifitas penambangan telah dibuka kembali setelah kondisinya mulai kondusif.

Oleh karena itu setelah banyak masyarakat sekitar yang melakukan demo besar-besaran maka akhirnya kemarin diambil kesepakatan pihak IMN memberikan salah satu area pertambangannya untuk masyarakat local.Sebidang tanah inilah yang didatangi oleh masyarakat local untuk melakukan penambangan secara tradisional.

Saat ini Petak 56 yang terkenal sebagai lahan penambangan rakyat bagi warga setempat, tetapi bagi P.T IMN adalah tambang liar, yang kemudian istilah ini diadopsi oleh aparat birokrasi. Di tempat ini kini telah berdiri beratus-ratus tenda dengan posisi berjubel dimana di bawahnya ada beratus-ratus lobang yang dikerjakan oleh ribuan penambang layaknya semut pekerja di depan sarangnya.

Manusia berlomba-lomba mendapatkan keberuntungan di sebuah tempat yang awalnya tidak pernah dikunjungi oleh kebanyakan or`ng karena tempat ini sempat dimitoskan sebagai kawasan ‘wingit’, ‘angker’ yang dilindungi oleh bala tentara ghoib penguasa laut selatan Nyai Roro Kidul. Namun kini yang datang ke tempat itu bukan masyarakat lokal saja, tetapi dari seluruh pelosok tanah air yang pernah mencoba keberuntungannya di sektor penambangan. Bahkan yang luar biasa,Konon di balik PT IMN sendiri berdiri kokoh korporasi asing di bawah bendera INTREPID MINES Co. dari Australia. Semua berlomba-lomba datang untuk mengeruk kandungan bumi di negeri ini. Dari jauh-jauh mereka datang untuk keberuntungan karena ini dianggap sebagai berkah yang disediakan oleh alam untuk keperluan manusia. Berkah sebagai sumber ekonomi untuk menggerakkan roda kehidupan.

Dari aspek perekonomian lokal, kegiatan pertambangan ini boleh dibilang cukup merangsang kelesuan pasar lokal yang sempat lesu ketika pertambangan rakyat ditutup karena kasus perusakan peralatan PT IMN dan penembakan aparat kepada beberapa penambang rakyat. Pasar kembali diramaikan oleh para penambang yang datang dari berbagai macam daerah. Para pedagang mulai dari sayur mayur sampai ke pedagang peralatan ringan yang dibutuhkan oleh para penambang untuk sementara boleh bergembira. Bahkan para pengijon yang menawarkan modal kepada para penambang dalam bentuk uang kontan sampai dalam bentuk kredit peralatan ringan, juga diuntungkan dengan dibukanya kembali pertambangan di Petak 56.

Konon,PT IMN yang didukung oleh INTREPID MINES ini adalah raksasa yang sangat kuat. Ia tidak takut dengan Nyai Roro Kidul. Karena dengan modal, mereka bisa menguasai kekuatan di atas penguasa Lautan Selatan itu. Mereka bisa menguasai semua dukun yang bisa menjadi makelar iblis setan gentayangan, mereka bisa membayar semua preman yang bisa dibeli dengan uang, mereka bisa membayar aparat kepolisian untuk menjadi pelindung kegiatan modal asingnya, mereka bisa menyediakan tuntutan para komprador yang duduk dalam kekuasaan birokrasi dan politik, mereka bisa membeli informasi yang keluar dari mulut sampai keringat manusia dalam melakukan penelitian data-data lapangan, mereka bisa membeli perangkat canggih dari komputer sampai penggunaan satelit mata-mata, mereka bisa membeli peralatan lunak sampai yang terkasar dan terbesar untuk melaksanakan pekerjaan pertambangan. Mereka juga bisa membeli nyawa manusia jika itu diharuskan.

Sementara penambang rakyat dengan modal pas-pasan adalah kelompok lemah yang dikalahkan. Informasi tentang letak keberuntungan hanya mereka dapatkan dari mulut kemulut yang ditunjang oleh dupa dan doa para dukun makelar iblis yang pamrih materi hasil produksi ataupun pra produksi yang tidak jarang membuat para penambang jatuh miskin dari konsultasi semacam ini. Peralatan yang mereka miliki hanyalah betel palu dan peralatan sederhana yang hanya membutuhkan tenaga manual manusia.

Kalupun mereka menggunakan pompa ‘submersiveble’yang tidak murah itu, itu pun hanya bisa dimiliki oleh mereka yang memiliki sedikit modal awal dari usaha lain sebelum mereka jadi penambang. Hal lain yang perlu dipahami adalah bahwa kebanyakan dari penambang rakyat ini tidak begitu mengerti tentang jenis perbatuan dalam konteks geologi. Sehingga sering mereka berhadapan dengan ketidak beruntungan setelah menghabiskan begitu banyak harta kekayaan mereka sebelum menjadi penambang dan pulang dengan tangan hampa sebagai orang yang lebih miskin.

Dalam pemahaman geologi, ada dua faktor yang perlu dipahami yaitu kawasan porphyry dan epithermal. Kawasan porphyry atau kawasan yang memiliki kandungan emas semburat rata itu biasanya untuk mendapatkan biji emasnya harus melalui beberapa prosedur yang tidak murah. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh perusahaan pertambangan yang memiliki modal besar. Karena dengan tersebarnya kandungan emas itu berarti bahwa posisi*emas tersebar rata mengakibatkan penipisan kandungan. Artinya emas dalam bahan mentah yang belum diolah dalam jumlah 1 ton jika diproses ddngan akumulasi modal pas-pasan bisa sangat merugikan penambang yang mengandalkan mdtode pertambangan manual. Karena emas dari batu-batu material dari kawasan porphyry hanya bisa lebih mudah diikat dengan cyanida dan hydropoxy. Bagi PT IMN dan INTREPID MINES pertambangan jenis ini akan lebih cocok dibandingkan dengan pertambangan rakyat yang mengandalkan kondisi epithermal.

Di kawasan Bukit Tumpang Pitu, daerah yang bisa dikatakan sebagai kawasan epithermal atau kawasan emas lepas, tertnyata kandungan emas lepasnya hanya terdapat pada beberapa titik saja. Salah satunya adalah berada di kawasan Petak 56 yang sekarang jadi kawasan perebutan pencarian keberuntungan ribuan orang dari berbagai pelosok tanah air. Emas lepas itu tidak tersebar rata, tetapi terkonsentrasi pada alur urat batu yang memiliki kandungan Au atau emas dengan kadar yang berbeda. Jadi dalam hal ini, dari ribuan orang yang mencari keberuntungan tersebut, hanya beberapa orang yang akan menabrak keberuntungan. Akibatnya bisa ditebak. Mayoritas dari mereka bisa dipastikan sebagai kelompok yang kalah. Apalagi bila mereka hanya didukung oleh modal pas-pasan dengan cepat mereka akan gulung tikar.

Dampak sosial dari perburuan keberuntungan ini ternyata begitu bervariasi. Dari hasil pengamatan serta wawancara dengan beberapa nara sumber formal dan informal, pertambangan di Bukit Tumpang Pitu bisa disimpulkan lebih banyak mengarah pada sisi ndgatif ketimbang dampak perekonomian lokal yang cenderung positif.

Dampak sosial bisa dibagi dua. Yaitu bagi mereka yang mendapat keberuntungan dan mereka-mereka yang gagal mendapatkannya. Bagi yang beruntung, akan mengangkat status sosial mereka pada jenjang yang lebih tinggi dari sebelumnya. Namun ketika hal itu tidak dibarrengi oleh kecerdasan emosi, spiritual dan intelektual, berkah keberuntungan bisa menjadi kebalikan dalam kehidupan berkeluarga mereka. Contohnya, ketika seseorang mendadak kaya, mereka akan membelanjakan hasil keberuntungan pada benda-benda prestise yang belum tentu menjadi kebutuhan sehari-hari. Misalnya dengan membeli mobil-mobil mewah yang biaya perawatannya akan menfuras kocek yang hanya diisi oleh ketidakpastian nasib dalam bergulat sebagai penambang. Akibatnya keberuntungan menjauh dari mereka dalam waktu yang relatif singkat mereka kembali menjadi lebih miskin dari sebelumnya. Kemiskinan mana juga menciptakan masalah lain dalam berumah tangga mereka. Dari data yang penulis dapat dari catatan sipil KUA daerah Kecamatan Pesanggaran dan sekitarnya mengalami kenaikan tingkat perceraian sejak tiga tahun belakangan dengan tren semakin meningkat hari ini.

Gambaran suram lain dari para penambang rakyat yang gagal adalah mereka-mereka yang memulai perburuan emas dengan modal paspasan dari menjual tanah atau benda-benda lain yang menjadi andalan keluarga dalam menyambung hidup. Tergiur dengan iming-iming penghasilan milyaran rupiah, mereka melakukan perjudian nasib. Namun ketika tidak dibekali oleh ilmu pengetahuan geologi yang memadai, mereka menggunakan jasa para dukun untuk menentukan titik gali dan kebanyakan dari mereka menemukan kegagalan dan tentunya kebangkrutan. Ada yang tidak mampu meneruskan penggalian karena modal mereka macet ditengah jalan, dan ada pula yang gagal karena memang salah dalam menentukan titik gali. Konsekuensinya, banyak dari mereka menjadi nekad dan menggunakan metode kekerasan dalam mencapai tujuannya.

Kebanyakan dari mereka lalu berkolaborasi dengan para aparat militer maupun kepolisian untuk memaksa para penambang yang lobangnya terdengar ada tanda-tanda sudah menghasilkan biji-biji emasnya atau yang dikenal dengan sebutan lobang ‘cair.untuk diminta memberikan sebagian hasil lobangnya kepada mereka. Mereka-mereka ini kemudian mendapat sebutan sebagai ‘pengamen’ karena tidak mau disebut kelompok ‘peminta-minta’ atau ‘perampok’ lobang. Bahkan bukan rahasia lagi jika banyak para oknum aparatpun mendeklarasikan diri sebagai oknum pelindung atau pengaman yang menghendaki setoran jatah keamanan dari para pdmilik lobang galian. Dan bagi pemilik lobang, banyak dari mereka juga berlomba-lomba untuk melakukan pendekatan kepada para aparat yang lebih tinggi pangkatnya untuk mendapat legitimasi perlindungan dari oknum-oknum aparat yang lebih rendah pangkatnya tapi lebih serakah dari atasannya.

Bagi para penambang gagal yang kemudian menjadi pengamen, boleh dibilang perekonomian mereka agak sedikit tertolong dari kebangkrutan yang menyolok. Tetapi bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan sebagai ‘pengamen’, nasib mereka sangat tragis. Sudah kehabisan dana dan di rumahpun mereka tidak diterima oleh keluarganya. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor pemicu kenaikan angka perceraian dan angka transmigrasi ke lain daerah. Bahkan tidak jarang dari mereka yang memilih jadi TKI atau TKW legal maupun illegal di negeri orang.

Dari pengamatan singkat ini, tentunya, dan seharusnya bisa menjadikan kepedulian para pembuat kebijakan daerah maupun pusat yang mengemban amanah dari rakyat untuk memperhatikan dan menimbang kembali keputusan-keputusan yang sudah diambil maupun yang akan dibuat dalam menangani masalah pertambangan ini. Pertambangan di Bukit Tumpang Pitu akan menjadi berkah dan bukan kutukan apabila pemerintah daerah maupun pusat mau duduk bersama merancang kebijakan untuk kepentingan bersama dengan membentuk badan pengelolaan pertambangan Bukit Tumpang Pitu dalam bentuk BUMD atau BUMN serta melibatkan rakyat sebagai share-holder yang diperlukan untuk mengakumulasi modal dan sistem check and balance yang sangat dibutuhkan dalam membangun kehidupan sehat sebuah perusahaan negara.

INDONESIA BANGKITLAH !

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air. Selama ini Pemerintah NKRI belum pernah melakukan audit terhadap kekayaan Sumber Daya Alam kita secara benar dan dipublikasikan secara transparan. Karena tidak adanya AUDIT tersebut, kita seperti orang yang memiliki kekayaan dalam bentuk kartu ATM tetapi tidak pernah tahu dan tidak pernah bisa mengambil isinya karena nomer PIN untuk pengambilannya ada di tangan orang ASING.

Contoh konkritnya adalah kekayaan kita di Tumpang Pitu, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran – Banyuwangi. Disitu ada deposit emas, perak, tembaga dan molybdenum yang begitu besar. Rakyat Banyuwangi tidak pernah tahu jumlahnya. Tetapi orang ASING dengan bantuan komprador Indonesia, yaitu PT Indo Multi Niaga (IMN), datang ke tanah air membawa modal sebesar $212 juta (setara dengan Rp.1.876.800.000.000) atau kurang dari RP.2 triliun. Dalam jangka waktu 8 tahun mereka akan membawa keluar kekayaan bangsa Indonesia sebesar lebih dari Rp.15.000 triliun (Angka tersebut sebagai hasil perhitungan jika harga emas hanya senilai Rp.400.000/gram, perak Rp.12.000/gram, tembaga Rp.100/gram.). Dari perhitungan tersebut, emas yang akan diproduksi senilai Rp.2.550 triliun.

Tentu saja dengan keuntungan sebesar itu IMN mampu memainkan peran sebagai sinterklas yang baik hati dan seakan-akan sebagai juru selamat bagi perekonomian lokal dengan membuka lapangan kerja bagi penduduk lokal. Tetapi sesungguhnya mereka hanyalah alat pengusaha ASING yang ingin mengeruk kekayaan SDA NKRI untuk kemudian membawanya keluar dan memutarnya di luar wilayah NKRI. Sementara yang diputar di dalam NKRI hanyalah bagian terkecilnya saja.

Menimbang pada rasa KEADILAN yang termaktub dalam UUD 45 pasal 33, maka rakyat Banyuwangi sebagai warga negara NKRI berhak menanyakan hak-haknya. Yaitu: Hak mendapat INFORMASI yang BENAR, hak KEPEMILIKAN terhadap SDA dalam wilayah kedaulatan NKRI, dan hak menentukan nasibnya yang didukung oleh UUD 45.Oleh sebab*itu kami meminta agar seluruh rakyat Banyuwangi bersatu padu untuk mendorong Pemda Kab Banyuwangi agar melakukan moratorium semua kegiatan pertambangan Asing,mempublikasikan hasil AUDIT kegiatan pertambangan asing secara transparan, mengevaluasi kembali nilai kemitraan antara Pemda dan Pemodal, menyusun PERDA pertambangan nasional, membentuk badan koperasi rakyat dalam bentuk BUMD, mempekerjakan profesional nasional sebagai tenaga ahli,melibatkan seluruh masyarakat Banyuwangi sebagai pemilik saham untuk mengakumulasi dan mengelola modal.

Sumber:

(http://akafile.blogspot.com)

(http://banyuwangibersatu.blogspot.com)

(http://ketanduren.blog.com)

           

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 61 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: