Jejak Mas Say Laros Di Terowongan SUROWONO Desa Canggu Kecamatan Badas Kabupaten Kediri

Minggu,30 Juni 2013

Salam Jenggirat Tangi !!!

Selamat Datang di Padepokan Mas Say Laros …

Mumpung masih tinggal di kampung inggris pare kediri ,Mas say laros memanfaatkan waktu liburan kursus bahasa inggris dengan kegiatan jalan-jalan mengunjungi objek wisata yang ada diwilayah Kediri dan sekitarnya.Menurut informasi dari temen kursusanku,tidak jauh dari Kecamatan Pare ada sebuah objek wisata sejarah yang dinamakan surowono yaitu sebuah terowongan yang konon merupakan saluran air pada jaman kerajaan majapahit dan Kediri.

Oleh karena itu berbekal informasi itu mas say laros bersama 3 orang teman yaitu Roni dari Lombok,Radit dari Banyuwangi dan Hanif dari lamongan langsung menuju kesana setelah bersih-bersih Camp bersama.Pagi ini kami berangkat sekitar pukul 10:12 WIB dengan mengendarai Sepeda onthel khas anak kursusan dipare kami langsung meluncur kesana.

Kali ini ada dua objek wisata yang ingin kami tuju yaitu Gua/Terowongan surowono dan Candi Surowono.Untuk pertama kali kita meluncur ke Gua Surowono terlebih dahulu .Perjalanan dari Camp Putra 2 Mahesa Institute sekitar 20 menitan.Maka dari itu sambil menikmati udara pagi yang menjelang siang sambil melihat pemandangan di sekitar wilayah kecamatan Badas yang daerahnya didominasi dengan budidaya ikan mulai gurami,lele,ikan hias Dll.Bahkan yang menarik ada masjid apung yang dibawahnya terdapat budidaya ikan sebagai sumber penghasilan.

Alhamdulillah akhirnya sampai juga di Gua surowono,sampai disana kita langsung memparkir sepeda onthel kita di tempat parkir dengan ongkos parkir sebesar Rp.1.000,setelah itu tiket masuk lokasi gua sebesar Rp.1000 dan terakhir Jasa pemandu gua sebesar Rp.1000 karena kita tidak boleh memasuki area gua sendiri hal ini dikarenakan banyaknya cabang gua yang dikhawatirkan membuat tersesat pengunjung.

Goa Surowono ini adalah lorong bawah tanah yang di dalamnya terdapat aliran sungai. Goa yang terletak di Desa Canggu, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Indonesia ini menurut pengakuan penduduk sekitar adalah sebuah sistem kanal atau pengairan yang dibangun pada masa Kerajaaan Kadiri.

Konstruksi Goa Surowono ini sangat menarik, apalagi ketika kita sudah berada di dalam. Dengan konstruksi Goa Surowono yang selebar tubuh orang dewasa serta tinggi gua sekitar 165an cm.

Goa Surowono ini memiliki 5 lorong utama, namun didalamnya akan banyak ditemui cabang-cabang yang cukup membuat kita tersesat apabila masuk kedalam gua tanpa di damping seorang guide. Sekedar info saja, sebenarnya lorong-lorong yang ada di Goa Surowono merupakan salah satu bagian integral dari sebuah sistem pengairan di masa Kerajaan Kadiri. Artinya adalah, kita bisa menuju kota Kediri lewat gua surowono ini (kalau lorong-lorongnya masih bagus semua dan bisa dilewati).

Menyusuri Goa Surowono ini dilakukan dengan tiga gaya, yaitu gaya berjalan normal (berdiri), gaya berjalan jongkok dan gaya merangkak. Hal ini dikarenakan semakin menuju ke lorong 5, tinggi gua semakin rendah. Tetapi untuk lorong 5 dilarang untuk dimasuki, karena untuk melakukan perjalanan di lorong 5, kita harus merayap sehingga cukup membahayakan (http://ambhen.wordpress.com/2012/01/26/gua-surowono)

Akhirnya dengan berbekal dua senter yang diberikan oleh pemandu kita masuk bersama-sama pengunjung yang lain.Deg deg ser semakin terasa karena semakin masuk kedalam keadaan semakin gelap apalagi bunyi gemericik air dibawah semakin deras sehingga menambah dingin suasana didalam.Saran mas say laros kepada temen-temen yang mau kesana tolong bawa senter dan baju pengganti karena untuk memasuki gua kita melaluinya dengan berdiri dan berjongkok apalagi air yang mengalir di gua semakin deras sehingga otomatis kita siap basah-basahan.Total keseluruhan terowongan ini sebenarnya panjang sekali karena bisa menghubungkan antar kota mulai mojokerto maupun kadiri.Namun demi keamanaan pengunjung kita hanya bisa melewati terowongan searah dengan panjang 450 Meter.Yaitu dengan rincian melalui pintu satu sepanjang 250 Meter,Lalu melewati pintu 2 sepanjang 150 Meter dan Terakhir pintu ke 3 sepanjang 50 Meter.

Inilah beberapa foto yang sempat mas say laros abadikan disana mudah-mudahan menambah informasi bagi sahabat mas say laros.

 

Tetep ikuti perjalanan Mas Say Laros selanjutnya ya di Candi Surowono Sampai Nanti…

 

Komponen Reog Ponorogo Jawa Timur

 

Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Hal tersebut dapat digambarkan dengan adanya sosok warok dan gemblak yang menghiasi gerbang kota Ponorogo. Reog adalah salah satu budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat.

Adapun tentang asal usul Reog dan warok sendiri, ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat, namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak istri raja Majapahit yang berasal dari Cina, selain itu juga murka kepada rajanya dalam pemerintahan yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan di mana ia mengajar seni bela diri kepada anak-anak muda, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan kerajaan Majapahit kembali. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan “sindiran” kepada Raja Kertabhumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.

Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai “Singa barong”, raja hutan, yang menjadi simbol untuk menggambarkan raja Kertabhumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Kepopuleran Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Bhre Kertabhumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer di antara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru di mana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewandono, Dewi Songgolangit, dan Sri Genthayu.

Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun ditengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan ‘kerasukan’ saat mementaskan tariannya.

Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai pewarisan budaya yang sangat kaya. Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga. Upacaranya pun menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya tanpa adanya garis keturunan yang jelas. mereka menganut garis keturunan Parental dan hukum adat yang masih berlaku.

Ada 5 komponen penari dalam tari Reog Ponorogo, yaitu:

1. Klono Sewandono

Klono Sewandono atau Prabu Kelono Sewandono ini adalah tokoh utama dalam tari Reog Ponorogo. Beliau digambarkan sebagai seorang Raja yang gagah berani dan bijaksana, digambarkan sebagai manusia dengan sayap dan topeng merah. Beliau memiliki senjata pamungkas yang disebut Pecut Samandiman.

2. Bujang Ganong (Ganongan)

Bujang Ganong (Ganongan) atau Patih Pujangga Anom adalah salah satu tokoh yang enerjik, kocak sekaligus mempunyai keahlian dalam seni bela diri sehingga disetiap penampilannya senantiasa ditunggu oleh penonton khususnya anak – anak. Bujang Ganong menggambarkan sosok seorang Patih Muda yang cekatan, berkemauan keras, cerdik, jenaka dan sakti.

3.Jathil

Jathil atau Jathilan adalah sepasukan prajurit wanita berkuda. Dalam tari Reog Ponorogo, penari Jathil adalah wanita. Mereka digambarkan sebagai prajurit wanita yang cantik dan berani. Kostum yang dikenakan penari Jathil adalah kemeja satin putih sebagai atasan dan jarit batik sebagai bawahan. Mereka mengenakan udheng sebagai penutup kepala dan mengendarai kuda kepang (kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu)

4.Warok

“Warok” yang berasal dari kata wewarah adalah orang yang mempunyai tekad suci, memberikan tuntunan dan perlindungan tanpa pamrih. Warok adalah wong kang sugih wewarah ( orang yang kaya akan wewarah ). Artinya, seseorang menjadi warok karena mampu memberi petunjuk atau pengajaran kepada orang lain tentang hidup yang baik.

Warok iku wong kang wus purna saka sakabehing laku, lan wus menep ing rasa ( Warok adalah orang yang sudah sempurna dalam laku hidupnya, dan sampai pada pengendapan batin )

Pada setiap pertunjukkan,penari warok adalah pria dan umumnya berbadan besar. Warok mengenakan baju hitam-hitam ( celana longgar berwarna hitam dan baju hitam yang tidak dikancingkan ) yang disebut Penadhon. Penadhon ini sekarang juga digunakan sebagai pakaian budaya resmi Kabupaten Ponorogo. Warok dibagi menjadi dua, yaitu warok tua dan warok muda. Perbedaan mereka terletak pada kostum yang dikenakan, dimana warok tua mengenakan kemeja putih sebelum penadhon dan membawa tongkat, sedangkan warok muda tidak mengenakan apa-apa selain penadhon dan tidak membawa tongkat. Senjata pamungkas para warok adalah tali kolor warna putih yang tebal.

5. Barongan (Dadak merak)

Barongan ( Dadak merak ) merupakan peralatan tari yang paling dominan dalam kesenian Reog Ponorogo. Bagian-bagiannya antara lain;

  •  Kepala Harimau ( caplokan ), terbuat dari kerangka kayu, bambu, rotan ditutup dengan kulit Harimau Gembong.
  •  Dadak merak, kerangka terbuat dari bambu dan rotan sebagai tempat menata bulu merak untuk menggambarkan seekor merak sedang mengembangkan bulunya dan menggigit untaian manik – manik ( tasbih ).
  • Krakap terbuat dari kain beludru warna hitam disulam dengan monte, merupakan aksesoris dan tempat menuliskan identitas group reog.

Dadak merak ini berukuran panjang sekitar 2,25 meter, lebar sekitar 2,30 meter, dan beratnya hampir 50 kilogram..dan diangkat hanya dengan menggunakan gigi !!!!!.

Sumber : wikipedia

 

http://info-info-umum.blogspot.com/2012/02/mengenal-reog-ponorogo-seni-budaya-khas.html

Ringkasan Buku ”Perebutan Hegemoni Blambangan

Judul: Ujung Timur Jawa 1763-1818: Perebutan Hegemoni Blambangan
Penulis: Sri Margana
Penerbit: Pustaka Infada, Juli 2012
Tebal: xii + 364 halaman

Akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16, panggung sejarah Indonesia, khususnya Jawa, ditandai oleh dua fenomena menarik. Pertama, melemahnya atau bahkan runtuhnya kerajaan-kerajaan lama bercorak Hindu-Buddha. Kedua, munculnya Islam sebagai kekuatan politik baru yang menunjukkan pengaruh kian besar.

Setelah Kerajaan Majapahit jatuh sekitar tahun 1527, di Pulau Jawa hanya terdapat dua kerajaan Hindu yang masih berdiri: Pajajaran di Jawa Barat dan Blambangan di Pasuruan, Jawa Timur. Selanjutnya Kerajaan Blambangan ditaklukkan Demak pada 1546 (Kartodirdjo, 1987: 31).

Namun tak ada berita pasti kapan Kerajaan Blambangan berdiri. Dari kisah Damarwulan-Minakjinggo, baru diketahui bahwa pada masa Majapahit, kerajaan ini telah ada dan berdaulat. Namun sebelumnya ada beberapa sumber yang memuat nama Blambangan, yakni Serat Kanda (ditulis pada abad ke-18), Serat Damarwulan (ditulis pada 1815), dan Serat Raja Blambangan (ditulis pada 1774).

Melacak sejarah kemunculan Kerajaan Blambangan diakui cukup sulit. Minimnya data dan fakta membuat para ilmuwan kesulitan menentukan sejarah awal kerajaan ini. Tapi, bila kita memetakan sejarah awal Majapahit pada masa Sri Nata Sanggramawijaya alias Raden Wijaya, ada sedikit celah terkuak bagi guna menuju pencarian awal mula Blambangan.

Dimulai dari peristiwa larinya Raden Wijaya dan kawan-kawan ke Songeneb (kini Sumenep) di Madura, meminta bantuan kepada Arya Wiraraja untuk menjatuhkan Jayakatwang yang menggulingkan Kertanagara di Singasari. Dalam naskah (ditulis pada abad ke-19), Raden Wijaya disebut-sebut berjanji membagi dua wilayah kekuasaannya jika Jayakatwang jatuh.

Namun, pada 1296, Wiraraja tidak berkuasa lagi. Ini sesuai dengan isi Prasasti Penanggungan yang tak mencatat namanya. Lewat buku ini, Sri Margana mencoba menjelaskan bahwa penyebab hilangnya nama Wiraraja dari jajaran pemerintahan Majapahit terjadi karena salah satu putranya, Ranggalawe, memberontak pada 1395. Wiraraja pun sakit hati dan mengundurkan diri, seraya menuntut janji kepada Raden Wijaya mengenai wilayah yang dulu pernah di janjikan. Pada 1294, raja pertama Majapahit itu mengabulkan janjinya dengan memberi Wiraraja wilayah Majapahit sebelah timur yang beribu kota di Lamajang (kini Lumajang).

Menurut teks Babad Raja Blambangan, Arya Wiraraja memerintah di Blambangan sejak 1294 hingga 1301. Ia di  gantikan oleh putranya, Arya Nambi, dari tahun 1301 sampai 1331. Setelah Nambi terbunuh karena intrik politik pada 1331, tahta Kerajaan Blambangan kosong hingga 1352. Yang mengisi kekosongan ini adalah Sira Dalem Sri Bhima Chili Kapakisan, saudara tertua Dalem Sri Bhima Cakti di Pasuruan, Dalem Sri Kapakisan di Sumbawa, dan Dalem Sri Kresna Kapakisan di Bali.

Kesaksian Babad Raja Blambangan bersesuaian dengan yang tertulis di Pararaton. Dalam Pararaton dikisahkan, pada 1316 Nambi, seorang pengikut setia Raden Wijaya sekaligus Patih Amamangkubhumi Majapahit yang pertama, memberontak pada masa pemerintahan Jayanagara. Riwayat lain, yakni Kidung Sorandaka, menceritakan pemberontakan Nambi, yang setelah kematian ayahnya bernama Pranaraja, sedangkan Kidung Harsawijaya menyebutkan bahwa ayah Nambi adalah Wiraraja.

Kesesuaian cerita tentang adanya kerajaan timur dan kerajaan barat juga ditemukan dalam kronik Cina di zaman Dinasti Ming. Catatan itu menyebutkan, pada 1403 di Jawa ada kerajaan barat dan timur yang sedang berseteru. Sedangkan Pararaton menyebutkan bahwa pada 1328 Saka (sekitar tahun 1406), pecah Perang Paregreg antara penguasa kerajaan barat di bawah Wikramawardhana dan penguasa kerajaan timur di bawah Bhre Wirabhumi. Wikramawardhana memenangkan perang ini. Wirabhumi yang tertangkap dalam upaya pelariannya pun dipancung.

Buku Sri Margana yang awalnya disertasi di Universitas Leiden, Belanda (2007), ini memberi gambaran lebih rinci ihwal riwayat Kerajaan Blambangan. Selain itu, kita juga dapat menelusuri sejarah beberapa kota yang berkaitan dengan kerajaan itu di kemudian hari hingga zaman kolonial Belanda.

Oleh: M. Nafiul Haris, Peneliti Di El-Wahid Center, Universitas Wahid Hasyim

http://tokocintabuku.blogspot.com/2012/09/ujung-timur-jawa-1763-1818-perebutan.html

Kisah Kebo Iwa dan Patih Gajah Mada

Dikisahkan di Bali adalah raja bernama Sri Gajah Waktera (Dalem Bedaulu), bergelar Sri Astasura Ratna Bumi Banten yang dikatakan sebagai seorang pemberani serta sangat sakti. Disebabkan karena merasa diri sakti, maka keluarlah sifat angkara murkanya, tidak sekali-kali merasa takut kepada siapapun, walau kepada para dewa sekalipun.

Sri Gajah Waktera mempunyai sejumlah pendamping yang semuanya memiliki kesaktian, kebal serta juga bijaksana yakni : Mahapatih Ki Pasung Gerigis, bertempat tinggal di Tengkulak, Patih Kebo Iwa bertempat di Blahbatuh, keturunan Kyai Karang Buncing, Demung I Udug Basur, Tumenggung Ki Kala Gemet, Menteri Girikmana – Ularan berdiam di Denbukit, Ki Tunjung Tutur di Tianyar, Ki Tunjung Biru berdiam di Tenganan, Ki Buan di Batur, Ki Tambiak berdiam di Jimbaran, Ki Kopang di Seraya, Ki Kalung Singkal bertempat tinggal di Taro. Sri Gajah Waktera menentang dan tidak bersedia tunduk dibawah kekuasaan Majapahit, sehingga menimbulkan ketegangan antara Kerajaan Bali dan Kerajaan Majapahit.

Dalam rapat yang diadakan oleh Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi dengan para Mentri Kerajaan, Patih Gajah Mada menyampaikan sindiran secara halus melalui seorang pendeta istana (Pendeta Purohita) yang bernama Danghyang Asmaranata

Rapat akhirnya memutuskan bahwa sebelum Gajah Mada melakukan penyerangan ke Bali maka Kebo Iwa sebagai orang yang kuat dan sakti di Bali harus disingkirkan terlebih dahulu. Jalan yang ditempuh dengan tipu muslihat yaitu raja putri Tribhuwana Tunggadewi mengutus Gajah Mada ke Bali dengan membawa surat yang isinya seakan-akan raja putri menginginkan persahabatan dengan raja Bedahulu.

Keesokan harinya berangkatlah patih Gajah Mada ke Bali dan singkat cerita sampai di Sukawati, Gianyar. Di Sukawati Patih Gajah Mada dijemput oleh Kipasung Grigis yang sudah mengetahui perihal kedatangan patih Gajah Mada tersebut ke Bali. selanjutnya Kipasung Grigis mengantar Gajah Mada menghadap raja karena diutus oleh ratu Tribhuwana untuk menyampaikan pesan kepada Raja Sri gajah Waktera.

tempat ketemu Kipasung Grigis:

Dihadapan Raja Sri Gajah Waktera patih Gajah Mada menyampaikan maksud kedatangannya dan menyerahkan surat dari Ratu Majapahit Tribhuwana Tunggadewi yang menyatakan memohon agar pulau Jawa tidak diserang da juga untuk mempererat hubungan maka Kebo Iwa diundang ke Majapahit untuk dinikahkan dengan salah satu putri kerajaan.

Raja Sri Gajah Waktera yang gembira segera memerintahkan Kebo iwa memenuhi undangan tersebut. singkat cerita Kebo Iwa dan gajah mada telah sampai di Majapahit. di sana kebo iwa diminta memperlihatkan kesaktiannya sekaligus menolong rakyat yang dilanda kekeringan. saat itu pula kebo iwa menggali tanah untuk menemukan sumber air dengan tangan kosong. saat cukup dalam gajah mada memerintahkan Prajuritnya menimbun lubang itu dengan batu sampai rata kembali dengan tanah

Pura Gunung Kawi, Bali

kesaktian Kebo Uwa mengukir batu dengan kukunya

Merasa telah membunuh kebo iwa yang sakti, Gajah mada menyayangkan kalau orang hebat seperti kebo iwa harus mati dengan cara seperti itu, tapi itu demi cita-cita menyatukan nusantara. Tiba-tiba Batu-batu yang ditimbunkan melesat kembali keangkasa dibarengi dengan teriakan prajurit Majapahit yang terhempas batu. Dari dalam sumur, keluarlah Patih Kebo Iwa, yang ternyata masih terlalu kuat untuk dikalahkan.

Patih Gajah Mada terkejut, menyaksikan Patih Kebo Iwa yang masih perkasa, dan beranjak keluar dari lubang sumur. Kesaktian Patih Kebo Iwa, sungguh menyulitkan usaha Patih Gajah Mada untuk menundukkannya. Pertempuran antara keduanya masih berlangsung hebat, namun amarah dan dendam Patih Kebo Iwa mulai menyurut…Dan rupanya Patih Kebo Iwa tengah bertempur seraya berpikir … Dan apa yang tengah dipikirkan olehnya, membuat dia harus membuat keputusan yang sulit… Kebo Iwa : (dalam hati) Kerajaan Bali pada akhirnya akan dapat ditaklukkan oleh usaha yang kuat dari orang ini, keinginannya untuk mempersatukan nusantara agar menjadi kuat kiranya dapat aku mengerti kini. Namun apabila, aku menyetujui niatnya dan ragaku masih hidup, apa yang akan aku katakan nantinya pada Baginda Raja sebagai sangkalan atas sebuah prasangka pengkhianatan ?

Mengetahui keinginan yang kuat dari gajah Mada untuk menyatukan nusantara, Kebo Iwa akhirnya memberitahukan gajah mada kelemahan dirinya agar ia bisa dikalahkan. Gajah Mada yang kewalahan merasa keheranan mendengar itu dan langsung melakukan apa yang dikatakan oleh Kebo iwa. Setelah menyerang kelemahan Kebo Iwa yang akhirnya membuat Kebo iwa sekarat, ia berkata pada Gajah mada semoga ia dapat menuaikan Sumpah Palapanya. Mendengar pernyataan itu, Gajah mada bersedih karena pahlawan sakti seperti Kebo Iwa harus mati seperti itu.

https://www.facebook.com/notes/seni-janger-setyo-krido-budoyo-bongkoran-srono-banyuwangi/ku-tumpahkan-darahku-untuk-bumi-nusantarakebo-iwa/484251414927529

 

 

 

 

Legenda Damar Wulan dan Menak Jinggo

Damar Wulan adalah pahlawan dalam cerita Jawa yang muncul dalam seputar cerita yang digunakan dalam wayang KRUCIL , serta Langendriya (sendratari perempuan) dan ketoprak. Cerita ini menceritakan pertikaian antara kerajaan Majapahit dan Blambangan , di mana Damar Wulan memperoleh kemenangan. Kisah ini yang sangat populer terutama di Jawa Timur. 

Damar Wulan legenda yang dikaitkan dengan kerajaan Majapahit di era Ratu Suhita, yang pada saat itu sedang berperang dengan Blambangan. Namun, nama-nama karakter Damar Wulan (“sinar bulan”) dan Menak Jingga (“kesatria merah “) menyatakan bahwa mungkin memasukkan unsur-unsur mitos matahari-bulan yang lebih tua . Sulit dipastikan kapan cerita ini pertamakali dituturkan dan oleh siapa. 

Cerita Singkat


Damar Wulan

Damar Wulan lahir berdarah pangeran, keponakan dari perdana menteri, Patih Logender, tetapi dibesarkan di pertapaan kakeknya. Menuruti nasihat kakeknya, ia pergi ke istana Majapahit mencari pekerjaan. Sepupu-sepupunya, Layang Seta dan Layang Kumitir, menganiayanya sesampainya Damar Wulan di sana. 

Patih Logender, yang tidak menginginkan Damar Wulan bersaing dengan anak-anaknya sendiri, menetapkan dia sebagai pemotong rumput dan penjaga kuda istana. Meskipun tidak mengenakan pakaian indah, wajahnya masih terlihat sangat tampan. Desas-desus tentang ketampanannya ini akhirnya sampai pada pendengaran Putri Anjasmara, anak Patih Logender. Putri Anjasmara menemui Damar Wulan dengan diam-diam dan mereka jatuh cinta dan mereka berhubungan secara sembunyi-sembunyi. Suatu malam, Layang Seta dan Layang Kumitir mendengar suara dari dalam kamar saudarinya. Mereka mendobrak masuk dan mencoba untuk membunuh Damar Wulan, tapi Damar Wulan mampu mengalahkan mereka. Layang Seta dan Layang Kumitir melarikan diri dan mengadu pada ayah mereka, yang kemudian memerintahkan Damar Wulan untuk dihukum mati. Puteri Anjasmara memohon belas kasihan untuk kekasihnya. Akhirnya Patih Logender memutuskan tidak jadi menghukum mati Damar Wulan, melainkan dia memenjarakan pasangan itu.

Sementara itu, Menak Jingga telah menulis surat kepada Ratu Kencana Wungu untuk meminangnya. Ketika Ratu Kencana Wungu menolak pinangannya, Menak Jingga marah dan menyatakan perang terhadap kerajaan Majapahit. Dia berhasil dalam menyerang daerah sekeliling kerajaan Majapahit, dan akhirnya kerajaan Majapahit merasa terancam oleh pasukan Menak Jingga secara langsung. 

Dalam keadaan tertekan, Ratu Kencana Wungu mengumumkan bahwa siapa pun yang membunuh Menak Jingga dan berhasil memenggal kepalanya akan menjadi suaminya. Khawatir bahwa tidak ada penyelamat yang muncul, ia menerima wahyu bahwa seorang ksatria muda bernama Damar Wulan dapat mengalahkan Menak Jingga. Dia memerintahkan Patih Logender membebaskan Damar Wulan dari penjara dan mengirimnya untuk melawan Menak Jingga. 

Patih Logender

Damar Wulan, disertai oleh para pengikutnya Sabdapalon dan Nayagenggong, berangkat menuju ke Blambangan. Hari sudah malam saat mereka tiba di sana, Damar Wulan menyelinap masuk ke dalam taman dan berhasil menguping percakapan di paviliun antara dua selir Menak Jingga yang bernama Dewi Wahita dan Dewi Puyengan. Setelah cukup menguping, Damar Wulan masuk ke paviliun dan memperkenalkan dirinya. Dewi Wahita dan Dewi Puyengan terpesona melihat ketampanannya dan mereka memutuskan untuk mengabdi kepadanya. Pada saat yang sama, Menak Jingga memutuskan untuk mengunjungi selir-selir tersebut, dan menemukan Damar Wulan sedang ada di sana dengan mereka. Tanpa dapat dihindari lagi Menak Jingga dan Damar Wulan berkelahi, tapi Damar Wulan tidak mampu mengalahkan Menak Jingga. Damar Wulan terluka parah dan pingsan seakan sudah mati.

Menak Jingga meninggalkannya dan memerintahkan prajurit-prajuritnya untuk menjaga tubuh Damar Wulan. Namun, prajurit-prajurit jatuh tertidur, dan kedua selir menyeret tubuh Damar Wulan ke tempat tersembunyi, dan berhasil menyadarkannya dari pingsan. Lalu mereka mengungkapkan rahasia kekebalan Menak Jingga kepada Damar Wulan, yaitu senjata sakti gada Wesi Kuning milik Menak Jinggo yang disembunyikan di balik bantalnya. Jika Menak Jingga dipukul di sebelah kiri dahinya dengan gada ini, ia akan mati. Mempertaruhkan hidup mereka demi kekasih mereka, para selir ini berhasil mencuri gada Wesi Kuning saat Menak Jingga sedang tidur.

Keesokan harinya pertempuran kedua antara Menak Jingga dan Damar Wulan terjadi, di mana Damar Wulan berhasil memenggal kepala raja. Berhasil membawa kemenangan, ia kembali ke Majapahit, tapi Layang Seta dan Layang Kumitir menyergapnya di luar istana, membunuhnya dan membawa kepala Menak Jingga ke hadapan Ratu Kencana Wungu. 

Namun, seorang pertapa menghidupkan kembali Damar Wulan, dan sang ratu mendengar cerita sesungguhnya. Dalam pertempuran terakhir, Damar Wulan mengalahkan Layang Seta dan Layang Kumitir , lalu dinobatkan menjadi Raja Majapahit. Ratu Kencana Wungu mengijinkannya untuk tetap memiliki Puteri Anjasmara, Dewi Wahita dan Dewi Puyengan sebagai istri-istrinya.

Cerita alternatif

  • Dalam kesenian wayang Banyuwangi dan Janger, penggambaran Menak Jinggo berlawanandengan penggambarannya dalam Serat Damarwulan. Menak Jinggo digambarkan berwajah rupawan, disukai banyak wanita, arif bijaksana, dan pengayom rakyatnya. Menak Jinggo memberontak karena Ratu Kencana Wungu tidak memenuhi janjinya untuk menjadikannya sebagai suami, setelah Menak Jinggo mampu menaklukkan pengacau Kebo Markuet yang mengamuk di Majapahit. Meskipun akhirnya ia dikalahkan Damar Wulan, Menak Jinggo tetaplah dianggap sebagai tokoh yang dihormati.

 

  • Sanusi Pane, salah seorang sastrawan Pujangga Baru pernah menulis naskah drama Damar Wulan, yang diberinya judul Sandyakala Ning Majapahit (Penerbit Balai Poestaka, Batavia, 1933.). Meskipun demikian, akhir ceritanya sama sekali berbeda dengan Serat Damarwulan yang dijadikan dasar pembuatannya. Dalam versi Sanusi Pane, nasib Damar Wulan berakhir menyedihkan. Damar Wulan dituduh berkhianat dan tidak dinikahkan dengan Ratu Kencana Wungu. Ia pun akhirnya dihukum mati, dan setelahnya Majapahit ditumbangkan oleh pasukan dari Kerajaan Demak Bintara.

Karakter

  • Ratu Kencana Wungu, ratu Majapahit yang masih gadis

 

  • Patih Logender, Perdana Menteri majapahit

 

  • Layang Seta dan Layang Kumitir, anak-anak Patih Logender

 

  • Dewi Anjasmara, putri Patih Logender

 

  • Damar Wulan, keponakan Patih Logender , yang dibesarkan oleh kakeknya jauh dari istana

 

  • Menak Jingga, Raja Blambangan, tunduk pada Majapahit

 

  • Dewi Wahita dan Dewi Puyengan,selir-selir Menak Jingga

 

  • Sabdapalon dan Nayagenggong, Pengikut Damar Wulan


Cerita adalah rangkuman dari berbagai sumber 
RH – 11 Nop 2009

 

https://www.facebook.com/note.php?note_id=209881556109

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 62 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: