Seni Janger Banyuwangi Sebagai Bentuk Keragaman Budaya Bangsa Indonesia

SILANG BUDAYA SENI JANGER BANYUWANGI SEBAGAI BENTUK KERAGAMAN BUDAYA BANGSA INDONESIA

A. PENDAHULUAN
Dalam rangka memasuki era globalisasi dan modernisasi teknologi informasi dewasa ini, keragaman budaya bangsa Indonesia bukan saja dilihat sebagai aset dan investasi kebudayaan di masa depan yang menjadi kekayaan bangsa melainkan merupakan wadah untuk mempererat dan menghubungkan khasanah perbedaan dan keragaman tersebut. Oleh karena bangsa Indonesia memiliki berbagai keragaman suku, penduduk, adat istiadat, tradisi, bahasa dan kebudayaannya. Dengan demikian melalui seni janger Banyuwangi ini dapat dijadikan sebagai salah satu bentuk budaya yang dapat menyamakan dan menyatukan dua karakter budaya yang berbeda dalam satu wujud seni. Kedua karakter budaya yang disatukan dalam wujud seni tersebut adalah karakter seni budaya Bali dan Jawa yang kemudian diramu dalam bentuk seni pertunjukan yang sangat meriah dan nyaman untuk ditonton.
Keberagaman budaya ataupun tradisi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sebagaimana telah disebutkan di atas, senantiasa dapat menumbuhkan nilai cipta, rasa dan karsa serta aspek rohaniah seluruh masyarakat dalam upaya untuk mempengaruhi dan menanamkan sebuah pemahaman terhadap bentuk dan makna dari budaya yang dimilikinya. Pemahaman aspek kebudayaan dan psikologi masyarakat dan kaitannya dengan pertalian dua karakter budaya yang berbeda tadi perlu diajarkan dan diperkenalkan kepada masyarakat secara lebih luas bukan hanya di Indonesia tepai juga sampai ke manca negara.
Pendekatan silang budaya merupakan suatu cara pemahaman budaya sebagai keseluruhan hasil respons kelompok manusia terhadap lingkungan dalam rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan pencapaian tujuan setelah melalui rentangan proses interaksi sosial. Pokok-pokok yang terpenting adalah kebutuhan dan tujuan mempelajari budaya, lingkungan target budaya, dan interaksi sosial yang diinginkan. Dasar pemahaman yang digunakan adalah masing-masing sub entitas budaya itu mewarisi pikiran, perasaan, makna , tanda budaya dan simbol-simbol yang ada. Secara spesifik keadaan sosial budaya Indonesia sangat kompleks, mengingat penduduk Indonesia kurang lebih sudah di atas 200 juta dalam 30 kesatuan suku bangsa.
Masalah silang budaya tidak hanya sekedar berupaya melihat dari konteks karakter budaya, tetapi sebagai bentuk ekspresi nurani masyarakat Indonesia yaitu hakikat pola hidup dalam keragaman. Pada dasarnya budaya atau tradisi yang ada dalam lapisan masyarakat Indonesia memiliki “roh, jiwa dan semangat” pluralistik yang harus dipakai melalui ekspresi bentuk dan isinya. Kemajemukan masyarakat Indonesia merupakan suatu kenyataan yang dalam tataran pengakuan budaya masing-masing daerah dapat disinergikan dengan kepentingan yang lain, misalnya kepentingan sosial, ekonomi dan keagamaan. Dengan demikian melalui pendekatan silang budaya masyarakat Indonesia dapat diajarkan dari tataran formal ke tataran substansial. Pemahaman atas kenyataan pluralistik budaya Indonesia inilah sangat dimungkinkan adanya usaha membangun pola hubungan budaya manusia dan masyarakat yang multidimensional ini diawali dengan perpaduan system atau karakter budaya yang berbeda dalam bentuk seni.

B. PERMASALAHAN
1. Bagaimanakah latar belakang munculnya seni Janger Banyuwangi?
2. Bagaimanakah bentuk-bentuk silang budaya dalam seni janger Banyuwangi?
3. Bagaimanakah akses seni janger Banyuwangi terhadap masyarakat pendukungnya?

C. PEMBAHASAN
Sebagai wujud dari keragaman budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia dapat tercermin untuk mendapat gambaran tentang seni janger banyuwangi sebagai salah satu bentuk aplikasi silang budaya, maka dapat dipapar pada bagian pembahasan dari beberapa pokok permasalahan dalam makalah ini, antara lain :

1. Latar belakang munculnya seni janger Banyuwangi.
Dalam nuansa keragaman budaya bangsa Indonesia, silang budaya yang terdapat dalam seni janger Banyuwangi dapat terungkap lewat bahasa atau penuturan yang digunakan antara lain bahasa Jawa dan Using, musik yang merupakan perpaduan antara musik tradisional Bali, Jawa dan Using, busana yang dipakai juga merupakan perpaduan busana Bali dan Jawa, dan termasuk pula gerak tari. Bahkan untuk grup Janger tertentu anggotanya juga terdiri atas orang-orang dari etnis Bali, Jawa, dan Using. Penggunaan berbagai budaya yang berasal dari berbagai etnis tersebut merupakan suatu bentuk kerja kreatif dalam upaya pemerataan tradisi serta pencarian estetika baru dalam seni pertunjukan janger selain sebagai sebuah keniscayaan karena adanya dialog budaya mengingat posisi geografis Banyuwangi dan Bali berada di silang budaya.
Sebuah kemestian dengan menggunakan bahasa Jawa dan Using serta dipadukannya kostum, cerita, serta musik dari Jawa dan Bali, maka Janger mampu menyatukan dua karakter budaya yang berbeda yakni budaya Jawa dan Bali sehingga masyarakatnya bisa saling menghargai dan menghormati budaya-budaya tersebut. Selain itu, perpaduan dari berbagai multikultural tersebut malahirkan bentuk seni yang khas, unik, dan estetik. Dari aspek ekspresi, nilai-nilai yang ada dalam wacana seni janger tersebut disampaikan dengan menggunakan media tertentu yang mempunyai bentuk khas yang berbeda dengan seni budaya lainnya. Melihat keberadaan seni janger tersebut maka secara substansial wacana seni janger agak sedikit berbeda dengan seni budaya lainnya. Sedangkan secara ekspresif, seni Janger juga berbeda dengan seni budaya lainnya. Karena itu, seni janger dapat digunakan sebagai salah satu alat untuk menyatukan dan mempererat dua karakter budaya yang berbeda.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka untuk memperkenalkan seni janger supaya lebih memasyarakat, salah satunya dapat dilakukan dengan memasukkannya dalam kurikulum muatan lokal sebagai salah satu materi pembelajaran bahasa yang mencakup kosakata, berbicara, dan menulis karangan. Dalam hal ini, Seni janger dijadikan sebagai model pembelajaran bahasa yang alami. Pembelajar dibawa ke dunia yang senyatanya sehingga bahasa/teks tidak kehilangan konteks dan ko-teksnya. Sedangkan langkah-langkah pembelajarannya sesuai dengan proses belajar sosial yang mencakup atensi, retensi, produksi motorik, motivasi, serta komponen untuk pembelajaran budi pekerti yakni diskusi.
John Storey (1993 : 40) menuturkan bahwa hal yang menarik dari sebuah kebudayaan daerah adalah perhatian pada kebudayaan yang mengalami persilangan, dimana kebudayaan itu berlangsung dalam waktu dan masyarakat yang sama tetapi ekologi berbeda dan kebudayaan itu dipertahankan dan dikembangkan oleh masyakat pendukunngnya. Sebuah kemestian dalam perkembangan seni pertunjukan di Indonesia telah banyak terjadi hubungan lintas budaya antar suku-suku bangsa yang ada. Para seniman yang melakukan aktivitas budaya pada dasarnya telah mempunyai kesiapan untuk membuka diri dan menyibak sumber-sumber baru di hadapannya merupakan suatu misteri atau pun tantangan. Sikap dasarnya telah siap untuk menerima situasi multikultural sebagai suatu kenyataan yang dapat berolah di dalam dirinya (Sedyawati, 1999).
Demikian pula, dalam menghadapi dan memahami lebih dari satu kebudayaan milik orang lain, seniman memiliki kebebasan untuk memilih dan selanjutnya mengartikulasikan sesuai dengan pola dan daya ungkap yang dimiliki. Seni janger Banyuwangi sebagai salah satu bentuk seni pertunjukan yang berada dalam kawasan silang budaya Bali, Jawa dan Using. Dialog antar budaya dari ketiga etnis tersebut berlangsung secara mendalam, akrab, dan intensif. Melalui genius-genius lokal, ketiga budaya tersebut dapat dikreasikan menjadi sebuah performance yang khas. Silang budaya dari beberapa etnis tersebut dalam seni pertunjukan janger Banyuwangi dapat diamati pada tataran verbal dan nonverbal. Pada tataran verbal silang budaya tersebut tampak dengan pemanfaatan penggunaan bahasa Jawa dan Using. Sedangkan silang budaya pada tataran nonverbal tampak pada musik atau gamelan, kostum, dan stilisasi gerak tari. Seni janger Banyuwangi salah satu seni rakyat atau folklor merupakan bagian dari budaya yang dalam penampilannya menggunakan media bahasa. Sehingga budaya yang berinteraksi di dalam seni atau yang berdialektis tersebut akan tampak pada bahasa yang digunakan. Seperti dikemukakan oleh Hymes bahwa bahasa dan folklor merupakan aspek-aspek budaya yang secara otomatis menjadi bagian dari faktor-faktor dalam kehidupan masyarakat pedukungnya (Hymes, 1973: 128).
Selanjutnya dikemukakan pula bahwa bahasa merupakan tubuh dari folklor. Berbicara mengenai folklor atau seni rakyat tidak dapat melepaskan diri dari bahasa. Sehingga Hymes menyatakan bahwa folklor merupakan salah satu sarana atau objek penelitian bahasa dalam kaitannya dengan sosial masyarakatnya (Hymes, 1973: 132). Berangkat dari pemikiran di atas maka dapat dikatakan bahwa bahasa yang digunakan dalam seni janger Banyuwangi mencerminkan budaya yang berinteraksi di dalamnya. Budaya yang secara bersama-sama bersentuhan dan membentuk seni janger. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa multilingual dalam seni janger mencerminkan adanya multicultural yang beranekaragam di dalamnya. Sebagai sebuah folklore seni tradisional janger Banyuwangi terbentuk dari berbagai kultur masyarakatnya. Masyarakat yang melatar belakangi kehidupan janger tersebut mencakup berbagai etnis dan budaya antara lain masyarakat Jawa, Bali dan Using. Masing-masing budaya etnis tersebut berinteraksi dan mewarnai kehidupan seni janger Banyuwangi.

2. Bentuk-bentuk silang budaya dalam seni janger Banyuwangi.
Bentuk silang budaya dalam seni janger Banyuwangi merupakan multilingual dapat pula mencerminkan adanya dialektis antar budaya. Hal ini menunjukkan bahwa ia mengandung dua budaya atau lebih yang saling berinteraksi dan bersentuhan di dalamnya. Di sisi lain dapat juga berarti bahwa penyerapan budaya diikuti dengan penyerapan bahasa, karena bahasa merupakan bagian dari kebudayaan dan sekaligus sebagai wahana untuk menyatakan budaya. Seni janger Banyuwangi sebagai suatu bentuk seni yang berada di tengah-tengah multikultural dari masyarakat yang multi etnis menggunakan sarana komunikasi multilingual. Bahasa sebagai sarana komunikasi antara pemain dengan penonton harus berada dalam suatu idiom yang dapat dipahami, dimengerti dan tidak teralienasi. Jika idiom ini dlilanggar akan terjadi jarak atau pertentangan antara pemain dengan penonton dan terjadi alienasi. Oleh karena itu, penggunaan multilingual merupakan suatu mediator bagi seni janger Banyuwangi yang berada di tengah-tengah masyarakat multikultural.
Seni janger Banyuwangi merupakan salah satu bentuk seni rakyat atau sering disebut dengan folklore cenderung menggunakan media multilingual. Penggunaan media multilingual tersebut tidak dapat dilepaskan dari latar belakang masyarakatnya. Masyarakat Banyuwangi merupakan masyarakat yang multi etnis yakni masyarakat Jawa, Bali dan Using serta Madura. Keberadaan masyarakat dengan latar belakang kultur yang berbeda tersebut teraplikasikan dalam pemakaian bahasa dalam pertunjukan seni janger. Misalnya dalam penggunaan bahasa Jawa. Penggunaan bahasa Jawa dalam pertunjukan seni janger dapat dilihat pada aspek pedalangan dan dialog. Adapun penggunaan bahasa Jawa pada aspek pedalangan dalam pertunjukan seni janger dapat dilihat pada wacana berikut : “Hong wilaheng astuhu Brahmana, sidem myak mendhung abendanu. Dirgahayu. Ing jagat kulon mega malang, ing jagat wetan kawistara abang maya-maya mratandani sang bagaswara arsa nyuminari marang tribahwana. Tri wis karane telu. Bahwana jagat. Kang gumelar ing kaloka, ya dwi loka, kawastanan triloka. Ya daya pepadang kang saged mahanane sumbere panguripan. Awang-awang panguripane iber-iber, andene tirta panguripane mina. Ya panguripane jalma manusa, sanajan ta kutu-kutu walang adoga, ya jim setan pri prayangan, ilu-ilu banaspati, gendruwo bali praja ana ing bahwana. Sedaya kala wau tansah ngantru marang soroting sang hyang Bagaspati, ya sang hyang Batara Surya. Surupe sang hyang Batara Surya, bahwana dadi peteng ndhedhet. Laline anuwuhaken reeeep sirep, data pitana”

Terjemahannya :
“Hong wilaheng astuhu “menghaturkan sembah” kepada Brahmana/dewa Brahma sang pencipta, kesunyian menyingkirkan awan yang bergelayut. Dirgahayu selamat dan sejahtera. Di langit barat awan melintang, di langit timur kelihatan sinar kemerahan sebagai tanda matahari hendak menyinari tiga dunia atau bumi. Tri berarti tiga. Bahwana berarti dunia. Yang tergelar di kaloka, dwi loka, dan triloka. Ya sinar yang dapat menjadi sumber kehidupan. Dirgantara tempat hidup hewan-hewan yang terbang, sedankan air tempat hidup ikan. Tempat hidup umat manusia, serta hewan-hewan yang lain. Tempat hidup jin, setan priprayangan, ilmu-ilmu banaspati, gendruwo, dan makhluk halus lainnya kembali ke dunianya. Semua makhluk itu senantiasa menanti sinar sang hyang Bagaswara atau matahari, ya sang hyang betara Surya. Pudarnya sinar matahari atau sang hyang betara Surya dunia menjadi gelap gulita. Yang dapat melahirkan kesunyian, dan petaka”.
Dalam wacana di atas merupakan narasi pembukaan dari pertunjukkan seni janger yang berupa suluk. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa dan bukan merupakan bahasa sehari-hari. Orang-orang Jawa menyebutnya dengan “bahasa suluk” yakni bahasa yang biasa digunakan dalam kaitannya dengan acara ritual tertentu. Jika diilhami secara mendalam, maka isi dari suluk tersebut di atas sesungguhnya merupakan permohonan kepada yang Maha Esa agar pertunjukkan yang akan dilaksanakan terhindar dari bencana dan marabahaya yang tidak diinginkan. Bencana tersebut dapat berupa sesuatu yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata. Sehingga suluk tersebut berfungsi sebagai mantra (dalam pandangan orang Jawa) untuk menolak bala atau bahaya yang mengacam.Selain itu isi suluk tersebut merupakan perwujudan dari sinkritisme Hindu Jawa dan Islam. Dalam masyarakat Jawa sinkritisme tersebut tumbuh subur dalam masyarakat abangan ( Geertz, 1985 : 37).
Selain itu janger juga merupakan seni yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat abangan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan bahasa, pemilihan kata, dan idiom merepresentasikan sikap batin dan kultur masyarakatnya. Dalam pelaksanaan pertunjukan sinkritisme tersebut muncul ketika mereka akan memulai pertunjukan. Salah seorang yang dipercaya sebagai pejangkung menghaturkan sesaji, membakar dupa atau kemenyan. Doa-doa yang mereka ucapkan dalam bahasa Arab dan Jawa. Bahasa Arab merupakan refleksi dari agama yang mereka anut yakni Islam sedangkan bahasa Jawa merupakan refleksi dari kepercayaan yang diwarisi dari nenek moyangnya. Dewa Brahma merupakan sang pencipta, sang seniman dapat mempergelarkan karyanya juga berperan sebagai pencipta. Sehingga perlindungan yang disampaikan tersebut merupakan permohonan terhadap Sang Pencipta. Sebagai seniman yang menggelarkan karyanya di hadapan penonton maka ia akan berusaha untuk menyajikan tontonan yang indah, menarik, dan bermanfaat. Dalam konsep keindahan Jawa disebut apik atau baik dan becik atau bermanfaat. Dalam kaitannya dengan seni pedalangan dalam pertunjukan janger Banyuwangi, semua dikemukakan dalam bahasa Jawa, sedangkan dalam dialog dan lawak digunakan bahasa Jawa dan bahasa Using.
Bahasa Jawa yang digunakan dalam dialog merupakan bahasa Jawa sehari-hari. Dalam hal ini, tampak dapat diamati penggunaan etiket berbahasa sesuai dengan kultur yang melatari. Pemakaian tata krama berbahasa memegang peranan yang sangat penting. Sebagai contoh; Urubisma sebagai Raja atau Adipati di Blambangan ketika berbicara dengan bawahannya maka ia menggunakan bahasa Jawa kasar atau ngoko. Sebaliknya Angkat Buta sebagai panglima perang yang merupakan bawahan dari Urubisma menggunakan bahasa Jawa halus atau krama. Adanya etiket berbahasa tersebut memaksa penutur untuk memilih idiom atau diksi yang sesuai dengan konteks pembicaraan. Dengan demikian, dialog dalam seni janger itu pun tidak lepas dari norma penggunaan bahasa yang berlaku di dalam masyarakat yang melingkupinya. Pemilihan bahasa Jawa dalam pertunjukan ini juga tidak lepas dari masyarakat penontonnya. Sebagian penonton seni janger adalah masyarakat yang berasal etnis Jawa. Dengan digunakannya bahasa Jawa sebagai sarana komunikasi maka ia terhindar dari alienasi dengan penontonnya. Terlepas dari pandangan tersebut berarti pemilihan bahasa merupakan sarana untuk mendekatkan diri antara pertunjukan dengan masyarakat penggemarnya.
Penggunaan bahasa Using oleh sebagian pengamat dikatakan sebagai dialek dari bahasa Jawa. Akan tetapi bagi masyarakat Banyuwangi bahasa Using merupakan bahasa tersendiri, dalam arti ia bukan merupakan dialek bahasa Jawa. Oleh karena itu, orang Banyuwangi menyebutnya dengan bahasa Using. Ciri penanda penggunaan bahasa Using terdapat pada logat berbahasanya, dimana ada perberbeda dengan dialek bahasa Jawa yang lain. Penggunaan bahasa Using dalam pertunjukan seni janger Banyuwangi terdapat latar belakang sosial tertentu. Hal ini mengingat sebagian besar masyarakat Banyuwangi adalah orang Using. Penggunaan bahasa Using juga merupakan upaya mendekatkan diri dengan penonton. Sehingga tidak terjadi jarak antara pemain dengan penonton, dengan demikian ada rasa empati dan simpati penonton terhadap pertunjukan Janger.
Penggunaan bahasa Using ini juga terjadi dalam adegan lawak. Keseluruhan adegan lawak menggunakan bahasa Using. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Using merupakan media komunikasi yang akrab antara penonton dengan pemain. Dengan demikian, idiom-idiom yang dipilih dan ditawarkan pemain kepada penonton cepat ditangkap dan direspon, sehingga terjadi interrelasi antara pemain dengan penonton. Interrelasi ini sangat besar peranannya dalam pembentukan alur cerita dalam sastra lisan/tradisional. Berangkat dari pemikiran tersebut, maka dapat dikatakan bahwa alur cerita dalam sastra lisan terbentuk dalam interaksi antara penonton dengan pemain. Interrelasi maupun interaksi tersebut hanya bisa terjadi apabila bahasa yang digunakan berkomunikasi saling dipahami dan antara penonton dengan pemain berada dalam sebuah kultur yang sama.
Dilihat dari performancenya seni janger Banyuwangi memiliki bentuk yang khas, karena itu dapat diasumsikan bahwa seni janger Banyuwangi selain terbentuk dari seni pertunjukan yang multilingual juga multikultural. Hal ini dapat dilihat adanya dalang dalam pertunjukan. Seni janger Banyuwangi merupakan kesenian yang terbentuk dari transformasi wayang orang, kethoprak, dan Seni Bali. Unsur-unsur yang dimunculkan dari ketiga bentuk kesenian tersebut dapat dilihat berikut ini :

-Wayang Orang
Dalang (Suluk dan narasi)

-Kethoprak
1. Bahasa dan Tembang
2. Lakon dan cerita

-Seni Bali
1. Musik
2. Kostum
3. Stilisasi gerak

Ketiganya merupakan pelengkap pertunjukan Seni Janger

Perlu dipahami bawa dari ketiga unsur tersebut, aspek atau unsur yang paling berpengaruh dalam pembentukan wacana cerita adalah unsur dari wayang orang dan kethoprak, sedangkan seni Bali berpengaruh pada aspek teatrikalnya atau pementasannya yakni musik, kostum, dan gerak atau tari. Dengan adanya transformasi tersebut juga melahirkan bentuk wacana yang khas. Kekhasan bentuk seni janger, selain karena bahasanya juga adanya peran dalang. Peran dalang adalah untuk membawakan suluk sebagai pembuka cerita dan narasi di awal di setiap episode. Dalam pementasan seni janger disebut sebagai seni pedalangan. Baik suluk maupun narasi merupakan bagian integral dari cerita yang dipentaskan. Ditinjauari dari aspek sejarahnya dapat diasumsikan bahwa berbagai seni pertunjukan yang diasumsikan membentuk seni janger tersebut pernah tumbuh dan berkembang di Banyuwangi. Berbagai seni tersebut antara lain gambuh Bali, wayang orang, wayang kulit, kethoprak, dan ludruk. (Pigeaud, 1936; Brandon, 1974; Dinas Pariwisata Kab. Banyuwangi, 1996; Peni, 1998). Di sisi lain nama seni janger itupun juga merupakan metomorfose dari seni Damarwulan. Sedangkan seni Damarwulan itu sendiri oleh masyarakat Banyuwangi dianggap sebagai metamorfose dari seni Ande-ande Lumut, kethoprak, dan wayang (wawancara dengan beberapa tokoh Banyuwangi pada tahun 2000).
Suatu hal yang paling penting berkaitan dengan penggunaan bahasa Jawa maupun bahasa Using tersebut adalah sikap budaya. Sikap budaya ini berkaitan dengan tokoh legendari dari Blambangan yakni Minakjingga atau Urubisma. Bagi masyarakat Jawa yang terpengaruh oleh kerajaan Mataram, maka Minakjingga merupakan sosok pemberontak dan perongrong kedaulatan Majapahit. Ia digambarkan sebagai sosok yang culas, serakah, dan tidak tahu diri. Secara fisik Minakjingga digambarkan sebagai orang yang berkepala anjing, perut buncit, dan menggunakan klinthing di kaki. Semua penggambaran tersebut merupakan penghinaan terhadap sosok Minakjingga. Penggambaran sosok minakjingga semacam itu diaplikasikan dalam pemakaian bahasa Jawa. Pertunjukan seni janger yang dalam adegan Blambangan menggunakan bahasa Jawa maka ia akan menampilkan sosok Minakjingga dengan image dari kerajaan Mataram tersebut. Hal ini terjadi pada kelompok seni janger yang pemainnya berasal dari etnis Jawa.
Di lain pihak masyarakat Banyuwangi dan Using dalam memandang sosok Minakjingga merupakan seorang pahlawan. Bagi mereka Minakjingga adalah raja yang dihormati, dijunjung tinggi dan merupakan lambang dari kedaulatan Blambangan. Penggambaran sosok Minakjingga semacam ini tercermin dalam pemakaian bahasa Using. Pertunjukan seni janger yang menggunakan bahasa Using sebagai bahasa pengantar untuk adegan kerajaan Blambangan menganggap Minakjingga sebagai pahlawan mereka. Hal ini biasanya dilakukan oleh kelompok seni janger yang pemainnya adalah orang-orang Using itu sendiri. Penggunaan bahasa Using yang oleh banyak ahli sering dikatakan sebagai bahasa Jawa dialek Banyuwangi menunjukkan bahwa bahasa dalam cerita tradisional seni janger Banyuwangi digunakan untuk menuangkan budaya-budaya Jawa dan Using. Percampurab kedua budaya tersebut tampak pada digunakannya bentuk tembang Banyuwangian dalam seni janger Banyuwangi. Hal itu dapat dilihat pada contoh berikut; “Mandanea duh senenge urip nyandhing rika. Raina wengi sun kudang kendhang lagu kesenengan. Mendahnea kandhung maca isun nyandhing rika. Sun ngelasi, sun gedani, lan sun bela pati. Nyatane rika saiki wis nyandhing wong liya. Ati nisun kari nelangsa rika wis ngeliya. Mandanea kadhung paca isun nyandhing rika. Sun ngelasi, sun gedani, lan sun bela pati. Nyatane rika saiki wis nyandhing wong liya. Ati nisun kari nelangsa rika wis ngeliya. Mandanea kadhung paca isun nyandhing rika”.

3. Akses seni janger Banyuwangi terhadap masyarakat pendukungnya
Bagi masyarakat Banyuwangi dan Using, dikumandangkannya tembang Banyuwangian tersebut merupakan pengikat tradisi yang dapat menyatukan antara seni pentas dengan penontonnya. Sehingga penonton merasa ada ikatan batin dengan seni pentas janger Banyuwangi. Nilai rasa tembang tersebut akan berbeda jika penontonnya adalah masyarakat Jawa. Mereka akan merasakan suatu bentuk yang mungkin asing, terutama bagi masyarakat Jawa yang tinggal di luar Banyuwangi. Dari pembahasan di atas maka dapat dikatakan bahwa penggunaan multilingual dalam seni pertunjukan Janger Banyuwangi dipengaruhi penonton dan cerita yang dipentaskan.
Adapun bahasa yang dimaksudkan adalah bahasa atau dialek yang digunakan dalam pertunjukan seni janger Banyuwangi. Pemakaian bahasa tersebut dapat diklasifikasikan sesuai dengan jenis tuturannya. Sebab masing-masing tuturan tersebut menggunakan ragam bahasa yang berbeda. Bahasa sebagai bagian dari kebudayaan dan sebagai wahana untuk mengungkapkan budaya maka di dalamnya terdapat nilai-nilai budaya yang khas yang dimiliki masyarakatnya. Bahasa digunakan sebagai sarana untuk bertutur, berpikir, mengekspresikan gagasan serta untuk berinteraksi antar anggota masyarakat dan lingkungannya. Seperti dikemukakan oleh Briefly (dalam Howell, 1985 : 271) bahwa bahasa adalah hal yang paling utama digunakan sebagai media komunikasi dan kemudian sebagai wacana pokok yang memberikan informasi tentang budaya dan sosial.
Mengenai perbedaan bahasa pada diri seseorang disebabkan oleh adanya perbedaan pengalaman. Hal ini sesuai dengan hipotesis Fishman bahwa prilaku budaya dikondisikan oleh bahasa, sedangkan bahasa memiliki struktur karena itu kita dapat melihat hubungan antara struktur bahasa dengan struktur prilaku pemakai bahasa itu (Howell, 1985:274). Keseluruhan makna tingkah laku terepresentasikan seperti pada perilaku ujaran. Suatu komunikasi yang dilakukan lewat ujaran (secara lisan) dipengaruhi pada pemilihan kata, konstruksi gramatikal, dan kepaduan sintaksis dalam suatu kalimat.
Selanjutnya Sapir-Whorf menyatakan bahwa bahasa bukan hanya merupakan sarana sistematis yang bertugas menyampaikan berbagai pengalaman yang tampak relevan bagi individu, tetapi bahasa merupakan organisasi simbolik yang kreatif dan menentukan. Bahasa tidak hanya mengacu ke pengalaman yang telah diperoleh tanpa bantuan bahasa itu, tetapi membentuk pengalaman kita secara tidak disadari dengan kelengkapan formulanya. Dalam hal ini, bahasa menyerupai sistem matematika yang merekam pengalaman secara hakiki pada tahap awalnya, tetapi seirama dengan perkembangan waktu, menjadi sistem konseptual yang terjabar rinci dan menentukan semua pengalaman (Cahyono, 1995:420).
Clifford Geertz (dalam Casson, tt : 17) budaya merupakan sistem makna simbolik. Bahasa merupakan sistem semiotik yang berupa simbol yang berfungsi untuk komunikasi. Budaya merupakan simbol, bahasa juga berupa simbol yang mengungkap hubungan antara bentuk dan makna. Simbol merupakan sesuatu yang umum atau public. Anggota masyarakat dalam memahami obyek, tindakan dan peristiwa di lingkungannya terletak pada makna tanda secara individual dan sebagai milik masyarakat. Simbol tidak dapat berdiri sendiri lepas dari konteks masyarakat yang menghasilkannya. Dengan demikian, seni janger yang menggunakan media bahasa sebagai wahana untuk berekspresi juga bersifat simbolik. Selain itu, sifat seni itu sendiri simbolik, ambigu, multitafsir, berupa pasemon, dan idiosinkretik.
Kemudian dalam hubungan antara sastra/folklor dengan latar belakang masyarakatnya yang paling penting diperhatikan adalah kesimpulan yang dikemukakan oleh Grenstein bahwa sastra dapat mencerminkan perkembangan sosiologis atau menunjukkan perubahan-perubahan yang halus dalam watak kultural (Damono, 1979:3; Swingewood, 1972:12). Multilingual tersebut mencerminkan adanya multikultural yang berinteraksi di dalam masyarakat Banyuwangi. Dengan begitu, untuk dapat memahami seni janger diperlukan pemahaman tentang konteks budaya Banyuwangi. Hal itu karena bahasa yang digunakan dalam Janger merepresentasikan budaya yang ada di Banyuwangi. Selain itu, Janger merupakan perwujudan dari tindak penutur yang dibentuk oleh komponen yang berupa (1) aktor yaitu pelaku yang bertindak secara aktif dan kreatif, (2) tujuan yaitu orientasi tindakan yang terkandung dalam unit tindakan, (3) situasi yaitu keadaan yang menjadi latar belakang terjadinya tindakan, dan (4) norma dan nilai-nilai yaitu pesan yang ingin disampaikan penutur dengan menggunakan ujaran (Dimyati, 1988:34). Melihat keberadaan seni janger dan manfaat yang diharapkan dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa, maka seni janger dapat digunakan sebagai salah satu materi pembelajaran bahasa sebagaimana telah disebutkan di muka. Pemikiran tersebut didasarkan pada pandangan antropologis yang memandang pendidikan sebagai gejala sosial budaya. Dengan melalui proses sosialisasi, seorang individu menyusun pola-pola budaya yang berinteraksi dalam masyarakat sekelilingnya (Koentjaraningrat, 1986:229). Karena itu, dengan melalui pendidikan, pembelajar dapat mentransfer nilai yang ada dalam masyarakat untuk diinternalisasikan ke dalam dirinya sehingga pendidikan tidak bersifat dogmatik dan mekanik akan tetapi menjadi kreatif. Dengan demikian, para peserta didik dapat belajar secara otonomi dan independent (Gramsci, 2000:174).
Sebagai suatu realita sosial, seni janger dapat dikaji dari aspek isi dan ekspresi (Chatman, 1978). Dilihat dari aspek isi, seni janger mempunyai pesan berupa nilai-nilai yang terkait dengan silang budaya (Cross culture). Nilai silang budaya tersebut berkaitan dengan fungsi seni janger dalam menyatukan semua lapisan masyarakat. Dalam konteksnya yang alami, seni janger dapat digunakan sebagai media pembelajaran bahasa. Hal ini sejalan dengan pandangan Bandura (dalam Gredler, 1991:370) dalam teori belajar sosial bahwa belajar dapat dilakukan dalam latar yang wajar, khususnya hakikat belajar “vicarius” (Dahar, 1998:37). Dengan melihat perilaku para pemain dan reaksi yang diberikan penonton baik dalam bentuk cemoohan atau hukuman maupun pujian (reinforcement), siswa dapat meniru tindakan yang dilakukan pemain di atas pentas. Peran mendidik dengan cara di atas dapat menciptakan nilai-nilai fundamental humanistis sehingga tertanam disiplin diri secara intelektual dan kebebasan moral yang mampu mengembangkan spesialisasi watak ilmiah atau praktik-produktif (Gramsci, 2000:175).
Untuk menjadikan seni janger sebagai media pembelajaran bahasa, guru harus mampu mengaitkannya dengan kurikulum yang berlaku. Seperti dikatakan oleh Dubin dan Olstain (1986) dalam penyusunan dan penjabaran kurikulum menjadi silabus harus memperhatikan sifat bahasa, sifat belajar bahasa, dan filosofi kultural pendidikan. Seni janger tepat digunakan sebagai media pembelajaran bahasa dalam teori belajar sosial karena bahasa dalam wacana dalam seni janger dipandang sebagai ujaran yang bersifat alami. Selain itu, pembelajaran dengan media seni janger memungkinkan dilakukan dengan secara alami. Akan tetapi, kesulitan yang bisa dihadapi yaitu masih berkembangnya budaya pendidikan klasikal daripada alami di luar kelas. Seperti dikatakan oleh Krashen dan Selinger dalam Laser-Freeman dan Long (1991:25) ciri pembelajaran secara klasikal yaitu bahan diorganisasikan sesuai dengan kaidah-kaidah gramatikal sering disajikan satu kaidah dalam satu waktu dengan urutan penyajian yang ketat dan guru siap untuk membetulkan bentuk-bentuk kesalahan gramatikal yang dilakukan siswa, sedangkan ciri pembelajaran secara alami yaitu bahan disajikan secara komunikatif tidak terikat oleh kaidah-kaidah gramatikal secara ketat dan tidak ada aturan urutan penyajian dan kalau ada pembetulan kesalahan. Pembetulannya difokuskan pada makna pesan yang dikomunikasikan. Untuk mengatasi hal tersebut, salah satu alternatif yang bisa dilakukan adalah penggabungan antara sistem klasikal dan sistem alami. Hal ini karena kedua sistem pembelajaran tersebut mempunyai ciri sendiri-sendiri yang kalau digabungkan akan dapat menjadi pembelajaran yang baik.
Selain sebagai medium pembelajaran bahasa dampak penyerta atau nuturant effects dari pembelajaran bahasa dengan mengunakan media seni janger adalah seni janger memungkinkan untuk digunakan sebagai media pembelajaran budi pekerti karena menyangkut persoalan silang budaya. Caranya yaitu dengan jalan diintegrasikan dengan pembelajaran bahasa. Salah satu teknik yang digunakan guru dalam pembelajaran budi perkerti yaitu teknik diskusi agar pembelajar mampu menggali dan menginternalisasikan nilai-nilai yang ada dalam janger. Untuk menindaklanjuti penggabungan sistem pembelajaran tersebut, guru harus merinci dengan jelas tentang: (1) pengetahuan apakah yang diharapkan dicapai oleh pembelajar, (2) keterampilan berbahasa apakah yang pembelajar butuhkan pada masa mendatang, dan (3) teknik evaluasi apa yang digunakan untuk menilai hasil belajar? (Dubin dan Olshtain, 1991). Dari komponen-komponen tersebut dapat dirumuskan langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan proses belajar sosial menurut Bandura.
Selanjutnya dalam memilih model, Grelder (1991:383) menunjukkan syarat-syarat agar model yang digunakan dalam pembelajaran harus menarik perhatian siswa. Oleh karena itu, seni janger Banyuwangi dapat dijadikan salah satu model pembelajaran karena (1) Janger merupakan kesenian yang sangat digemari oleh seluruh lapisan masyarakat Banyuwangi, (2) wacana dalam seni janger Banyuwangi sangat khas yaitu multilingual dan bentuk tuturannya beragam, (3) performance seni janger Banyuwangi yang multikultural merupakan sesuatu yang menarik bagi masyarakat, (4) pertunjukan seni janger di Banyuwangi hampir terjadi setiap malam kecuali pada bulan Ramadhan, dan (5) upaya pelestarian dan peningkatan kualitas pertunjukan terus dilakukan oleh sebagian besar perkumpulan seni janger Banyuwangi sebagai wujud dari silang budaya.

D. KESIMPULAN
Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa cerita tradisional rakyat tentang seni janger Banyuwangi menggunakan bahasa Jawa dalam suluk, narasi, dialog dan tembang serta bahasa Using dalam nyanyian, dialog, dan lawaknya. Kemudian menggunakan unsur teatrikalnya dengan yang diadopsi dari budaya Bali yang meliputi musik, kostum dan tari. Digunakannya berbagai unsur budaya tersebut menunjukkan bahwa budaya Jawa, Bali dan Using dijunjung tinggi dan dihormati dalam kehidupan masyarakat Banyuwangi.
Selanjutnya dalam masyarakat Banyuwangi terjadi perpaduan budaya yang sangat harmonis. Hal itu terlihat digunakannya bahasa Jawa dan Using dalam komunikasi serta diserapnya unsur-unsur budaya Bali dalam pertunjukan seni janger. Bahasa yang digunakan dalam pertunjukan seni janger Banyuwangi dapat digunakan sebagai media atau model pembelajaran bahasa bagi masyarakat Banyuwangi, karena bahasa yang digunakan dalam seni janger dapat dianggap sebagai salah satu model penggunaan bahasa secara alami. Namun dalam pemanfaatan bahasa tersebut sebagai model pembelajaran di sekolah perlu memperhatikan kurikulum yang berlaku.

DAFTAR PUSTAKA

Berger, A.A, 1984, Signs in Contemporary Culture: An Introduction to Semiotics, USA: Longman.

Brandon, James R, 1974, Theatre In Southeast Asia, Cambridge : Harvard University Press.
Casson. R.W, Tt.: Language, Culture, and Cognition Anthropological Perspectives, New York : Macmillan Publishing Co.

Cahyono, Bambang Yudi, 1995, Kristal-kristal Ilmu Bahas, Surabaya: Airlangga University Press.

Darmono, S.Dj, 1979, Novel Sastra Indonesia Sebelum Perang, Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa – Depdikbud.

Dimyati, M, 1988, Landasan Pendidikan :Suatu Pengantar Pemikiran Keilmuan tentang Kegiatan Pendidikan, Jakarta : Depdikbud Dirjen Dikti.

Dubin, F dan Elite Olshtain, 1986, Course Design: Developing Programs and Material for Language Learning. Cambridge: Cambridge University Press.

Gredler, M.E.B, 1991, Belajar dan Membelajarkan, Jakarta : Rajawali Pers.

Gramsci, A, 2000, Sejarah dan Budaya Surabaya: Pustaka Promethea.

Hymes, D, 1973, Foundations in Sociolinguistics: An Ethnographic Approach. Philadelphia : University of Pennsylvania Press.

Howell, Richard W, 1985, Language in Behavior, New York : Human Sciences Press.

Larsen-Freeman, D dan Michael H. Long, 1991. An Introduction Second Language Acquisition Researh, New York : Longman.

Peni Puspito. 1998. Damarwulan Seni Pertunjukan Rakyat di Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur di Akhir Abad ke-20. Tesis: Program Pascasarjana Universitas Gajah Mada.

Rehzen, T dkk (Dewan Redaksi), 1999, Keragaman dan Silang Budaya Dialog Art Summit. Jurnal Seni Pertunjukan Indonesia Th. IX-1998/1999.

Sedyawati, Edi. 1999, Multikultural dalam Ranah Tatap Muka dan Perantaraan Media. Makalah Seminar MSPI di Bali 1999.

Storey, John. 1993, Cultural Theory and Popular Culture: Harvester Wheatsheaf Campus 400.

Swingwood, Alan dan Diana Laurenson, 1972, The Sosiologi of Literature. London: Paladin.

Wahyuni, Lilik, 2001, Struktur Wacana Cerita Lisan dalam Janger Banyuwangi. Tesis: Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang.

 

 

 

Download Kamus Osing Banyuwangi Edisi Terbaru

Kamis,13 September 2012

Salam Jenggirat Tangi…

                  Alhamdulilah akhirnya kamus bahasa using banyuwangi versi digital edisi ke-dua ini bisa terwujud. Mudah-mudahan dengan desain yang lebih simple ini bisa memudahkan pembaca dalam mempelajari bahasa suku asli banyuwangi yaitu suku using. Nach bagi temen-temen yang ingin mempelajari bahasa using lebih mudah silahkan download software bahasa using banyuwangi edisi September 2012 berikut ini :

 

KLIK DISINI

LASKAR BANYUWANGI

JENGGIRAT TANGI

Sumber Kosakata Kamus :

Wisata Sejarah Keraton Macan Putih Di Banyuwangi

Minggu,08 Juli 2012

Salam Persahabatan…

Bagaimana Kabarnya Sahabat Mas Say Laros?

Jas Merah…!!! Jangan pernah melupakan sejarah. Begitulah sepenggal kalimat yang pernah diucapkan presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno yang mungkin akan sejalan saat kita membicarakan tentang Sejarah Blambangan dimana keberadaan Keraton Macan Putih menjadi salah satu warna yang menyala terang di dalam kisah perjuangan rakyat Banyuwangi dalam mengusir penjajah.

Keraton Macan Putih didirikan oleh Prabu Tawang Alun setelah mendapat petunjuk dalam pertapaannya di desa Bayu. Lama mendirikan keraton Macan Putih adalah 5 (lima) tahun 10 (sepuluh) bulan dan kemudian beliau  menjadi Pangeran Macan Putih dari tahun 1655 – 1685. Situs Keraton Macan Putih terletak di desa Macan Putih, kecamatan Kabat dengan juru kuncinya Bapak Nurhuddin yang bertempat tinggal sekitar 100 meter dari lokasi. Bangunan Keraton mungkin tidak sama dengan apa yang kita fikirkan selama ini. Mungkin kita akan berfikir bahwa situs keraton Macan Putih itu berupa bangunan klasik dengan reruntuhannya yang artistik namun ternyata tidak demikian adanya. Keraton Macan Putih lebih mirip sebuah pendopo tempat berkumpulnya para petinggi kerajaan dengan mahkota di tengahnya dengan lantai keramik modern yang bersih dan mengkilap.

Ada yang unik jika kita bertanya tentang sejarah Petilasan Terakhir Prabu Tawang Alun ini pada penduduk sekitar. Sebagian orang percaya bahwa  bahwa hingga saat ini Prabu Tawang Alun belumlah wafat melainkan telah mencapai tahap “Manunggaling Kawulo lan Gusti” atau disebut “Muksa” yang berarti meleburnya suasana bathin dengan Tuhan ibarat leburnya gula dan air, menyatunya api dan besi, yang di antara keduanya bisa dibedakan, tetapi tidak bisa lagi dipisahkan. Ketika besi telah menjadi merah karena dibakar api, besi dan api telah menyatu. Siapa menyentuh api, akan terkena besi dan siapa yang memegang besi akan tersentuh api dan tahapan itu dicapai di keraton Macan Putih yang ditandai dengan situs BatuMahkota Prabu Tawang Alun di tengah bangunan utama keraton Macan Putih.

Tips Menuju Wisata Sejarah Keraton Macan Putih :

  • Dari arah Genteng menuju Rogojampi dan berlanjut ke kecamatan Kabat.
  • Pada tikungan Kabat mengambil jalan ke kiri menuju desa Macan Putih dan mengikuti petunjuk jalan.
  • Keraton Macan Putih hanya dibuka pada hari-hari tertentu
  • Jika ingin masuk area keraton Macan Putih, kita harus meminta ijin kepada Bapak Nurhuddin selaku juru kunci keraton yang rumahnya sekitar 100 meter dari lokasi.

Dokumentasi :

Keraton-Macan-Putih.jpgKeraton-Macan-Putih2.jpgKeraton-Macan-Putih3.jpgKeraton-Macan-Putih4.jpg

http://blambangan.web.id

Kota Banyuwangi di Jaman Regentschap

Oleh: Hasnan Singodimayan)*

Kota Banyuwangi di jaman Regentschap, merupakan kota kecil yang batas-batasnya serta keramaiannya terletak pada tiga titik kegiatan, yaitu yang berpusat di bioskop Srikandi yang dekat pada pasar dan terminal oplet. Perliman di Dandangwiring dan Pecinan sebagai pusat perekonomian sinse. Sedang pelabuhan Banyuwangi yang masih bernama “boom”, merupakan tempat pergudangan untuk kegiatan menyimpan pisang yang akan dikirim ke Australia dan penyimpanan kopra.

Batas kota sebelah utara hanya sampai di Keramat, sebelah selatan sampai di pekuburan Belanda yang sekarang menjadi Kantor Kecamatan Kota. Sebelah barat sampai di rumah sakit dan rumah penjara. Di luar bat as batas itu, merupakan wilayah yang dikabarkan penuh dengan hal-hal yang menakutkan, terutama jika menjelang matahari terbenam.

Konon katanya di desa Manggisan sampai Kanalan Sukowidi, masih terdapat begal dan rampok, yang dilakukan para manol pabrik gula yang sudah bangkrut. Antara rumah penjara sampai desa Penataban, terdapat banyak gandruwo yang bertengger di pohon-pohon asam yang berjajaran sangat rapat dan sangat lebat. Sekitar kuburan Belanda sampai desa Talun, banyak bergentayangan kontilanak yang berbusana seperti nyonya Belanda.
Diantara sekian banyak tempat-tempat yang menakutkan, adalah Bengkalingan dan Buyukan. Dua pedukuhan di Kelurahan Kertosari sekarang, sebagai penghuni orang-orang Cina yang pandai bermain kungfu. Sehingga para pendekar pencak di Banyuwangi belum dianggap jagoan,jika belum berguru di Buyukan dan Bengkalingan.

Keramaian malam hanya berpusat di sekiar bioskop Srikandi yang berdekatan dengan Masjid Jami’ dan pasar. Sedang pasarnya hanya terbatas di seputar Kelituran Kepatihan dan bukan di Biskalan. Sebab Biskalan merupakan areal kuburan Belanda di jaman VOC, berhadapan dengan sositet atau kamarbola yang sekarang dipakai untuk Gedung Juang 45.

Ketika itu kota Banyuwangi hanya punya dua lapangan. Lapangan sebelah timur dinamakan Tegal-Loji, karen a berhadapan dengan Loji Inggrisan. Sedang lapangan sebelah barat yang berada di depan pendapa Regentschap dan Masjid, dinamakan Tegal Masjid.

Di tengah kedua lapangan itu, terdapat dua tiga pohon beringin yang cukup besar dan tua serta rindang. Sedang di pinggir lapangan ditanami pohon kenari dan pohon sawo yang cukup banyak dan rapat, sehingga membuat kedua lapangan itu sangat sejuk dan nyaman.

Di sebelah selatan Tegal-Loji berdiri sebuah Hotel mewah milik Belanda dan rumah sebelahnya dinamakan kampung Kulandan, karena dihuni oleh para Ambtenar Belanda. Berhadapan dengan Loji Inggrisan terdapat lapangan tenis, yang dipagar kawat kasa yang ditumbuhi pohon menjalar, sehingga para Ambtenar yang bermain didalamnya tidak dapat dilihat dari luar.
Sesekali dalam setiap bulan di lapangan Tegal-Loji di selenggarakan pertandingan Sepak Bola yang didatangkan dari Surabaya dan kota-kota besar lain di Jawa Timur atau club sepak bola dari Betawi. Lapangan itu dikurung dengan kain blacu seluas lapangan sepakbola setinggi tiga meter.
Harga tiket masuk terbagi tiga, yaitu untuk Pribumi, anak-anak dan orang Asing. Untuk pribumi seharga Satu Sen, untuk Anak-anak seharga setengah sen yang disebut Seketeng dan buat orang asing seharga dua sen setengah atau sebenggol. Yang dimaksud Orang Asing, adalah orang-orang Belanda, Orang Cina, India, Arab dan orang pribumi yang sudah berhaji. Portir yang menjaga pintu masuk dibantu oleh Kontroler Belanda yang dibantu oleh Kapten Cina dan kapten Arab.

Umumnya para pemain dari luar itu bermalam di Hotel. Di Banyuwangi ada tiga hotel, yaitu Banyuwangi Hotel, Srikandi Hotel dan Hotel Slamet yang terletak berhadapan dengan Stasiun Kereta Api. Ketiga Hotel itu sudah punya pelanggan sendiri. Banyuwangi Hotel khusus untuk para Ambtenar Belanda, Hotel Srikandi untuk para pelancong dan para pemain sandiwara yang akan bermain di Banyuwangi. Adapun Hotel Slamet untuk para pedagang yang naik kereta api.

Di sebelah barat pendapa Regentschap, terdapat timbangan motor, yang sekarang digunakan untuk Monumen Garuda Pancasila. Di antara jalan raya di sampingnya terdapat “Tugu Pentol” sebagai tanda batas kekuasaan VOC dengan Regent. Parkir kendaraan oplet bertempat di sebelah selatan Tegal Masjid, diapit dua buah Pompa bensin yang besarnya seperti gardu. Milik Kapten Cina dan Kapten Arab.

Di perempatan menuju ke pasar terdapat satusatunya toko Apotik, milik seorang Belanda yang pintar menggunakan bahasa Banyuwangi Using dan di sebelahnya menuju jalan raya berdiri tokoh Jepang bernama tokoh Nanyo, sering dimusuhi orang Cina karena dianggap sebagai pesaing berat.

Di depan gedung bioskop Srikandi, jika diputar film “Jawa” maka pada siang harinya digelar “Angklung Caruk” untuk meramaikan suasana. Setiap sorenya pasti ada arak-arakan yang membawa gambar film yang akan diputar keliling kota dengan kendaraan dokar. Jika yang diputar film tarzan, maka arak-arakan di atas dokar itu ditampilan “Tarzan-tarzan-an” yang diperankan seseorang yang bertubuh atlet.

Menjelang malam sekira pukul 9 malam sesudah film kedua usai dan toko-toko sudah tutup, jangan harapkan ada orang yang berkeliaran, terutama anak-anak. Mereka umumnya berada di dalam rumah atau di depan rumah, itupun dalam bentuk ke lompok orang, untuk bercerita atau gesah.
Tapi menjelang subuh, suasana akan berbeda. Sebab di subuh itu akan terdengar suara pikulan yang sabut menyabut dalam jumlah yang cukup banyak, dari barat, dari utara dan dari selatan, kesemuanya menuju ke pasar membawa dagangan, sebab ketika itu becak belum ada, yang banyak hanya dokar. Tapi umumnya dokar-dokar itu tidak keluar subuh, adanya menjelang matahari terbit.

Tapi suasana malam itu akan berubah dan berbeda, jika memasuki bulan puasa. Malam tidak lagi sepi seperti biasanya. Toko-toko buka sampai pukul 10 malam, sebab orang yang shalat tarawih di masjid dan yang darusan, baru selesai pukul 11 malam. Sesudah itu para remaja kampong menyaingi petugas patrol yang keliling kampong dengan kentongan bambu. Para remaja itu memukul kentongan bambunya dengan nada yang lengkap, sehingga suaranya jauh lebih berirama dari pada pukulan petugas patrol.

Di setiap persimpangan jalan di kota Banyuwangi, terdapat sebuah gardu dengan sebuah kentongan kayu. yang terkenal adalah kentongan Parliman, berbentuk raksasa dengan mata yang melotot. Siang hari saja banyak orang yang takut, apalagi malam. Diperempatan Kauman berdekatan dengan pendapa, terdapat kentongan yang suaranya sangat nyaring dan di perempatan Lateng, terdapat kentongan tidur yang cukup besar.
Diperempatan Singonegaran te rdapat kentongan kayu yang berkepala sapi dan di Sawahan, suara kentongannya terdengar sampai di desa Giri. Kentongan kentongan itu harus dipukul mengikuti bunyi genta yang ada di dalam pendapa, yang dipukul mengikuti bunyi genta yang ada di dalam pendapa, yang dipikuli oleh opas yang menjaga pendapa. Kemudian genta itu dipindahkan ke Kantor Hoofbiro, yaitu Kantor Polisi.

Di sebelah utara Masjid Jami’ terletak Kantor Penghulu yang terdapat dua buah meriam kecil menghadap ke barat. Sedang Kantor Asisten Wedana berjajaran dengan Sekolah PHIS, yaitu Partikelir Holands Yolander School dan HIS-nya berada di sebelah kamar bola di Tegal-Loji. Di sebelah Timur Tegal-Loji terletak sebuah benteng peninggalan VOC yang kemudian dijadikan klinik.

Ketika itu sekolahart hanya terbatas beberapa buah, selain HIS dan PHIS, terdapat beberapa sekolah Angka Lima yang terletak, di Dandangwiring dan di Lateng. Selebihnya adalah sekolah-sekolah partikelir yang didirikan organisasi pergerakan , antara lain Sekolah Tamansiswa yang berada di Karangbaru, sekolah Sari kat Islam yang berada di Singonegaran. Madrasah Al-Khairiyah, Madrasah Qarunnajah di Tukangkayu dan Madrasah Al-Irsyad di Kampung Arab.

Kota Banyuwangi di jaman Regentcshap akan tampak sangat ramai, siang dan malam, jika di bulan lebaran. Sebab lebaran di Banyuwangi berlaku sepanjang 7 hari 7 malam. Masyarakat berbondong-bondong pergi ke “Boom” dengan mengendarai dokar. Sebelumnya dil akukan “Puter Kayun” mengelilingi kota. Start dimulai dari terminal dokar di depan bioskop Srikandi, ke utara sampai di perempatan Lateng, belok ke kanan sampai Kampung mandar kemudian berbelok ke kiri menuju “boom” atau berbelok menuju stasiun dan ke barat samapai parlimam dan terus kern bali di bioskop Srikandi.

Pada mulanya Puter Kayun di hari lebaran itu dilakukan oleh para Ambtenar Belanda dan istrinya, kemudian diikuti oleh orang-orang kaya dan seterusnya oleh masyarakat sebagai tradisi. Mengamati route yang dilalui hampir sama dengan route pawai kernaval sekarang ini, hanya berbeda pada start, jika Puter kayun dimulai start dari depan masjid dan finish di depan bioskop Srikandi. Maka start pawai dimulai dari bekas kuburan Belanda yang menyeramkan dan berakhir di bekas benteng VOC yang sekarang jadi gedung Wanita, “Paramitha Kencana” apalagi jika di “boom” banyak pisang yang akan diangkut ke kapal besar yang menunggu ke tengah kami, Pisang-pisang itu dan kopra-kopra itu, diangkut dengan kapal-kapal atau yang diseret oleh sebuah kapal boot.

)* adalah Budayawan Banyuwangi

Artikel ini disadur dari http://jawatimuran.wordpress.com/2011/09/12/kota-banyuwangi-di-jaman-regentschap/

http://www.sejarahbanyuwangi.org/?p=879

 

Menelisik Keberadaan Sastra Using Banyuwangi

Membicarakan Sastra Using, sama halnya dengan membicarakan Bahasa Using sebagai Bahasa tersendiri. Banyak orang yang ragu, apakah ada Sastra Using. Kalau ada, terus apa bentuk karyanya. Dibanding dengan Sastra Daerah lain yang berdekatan, seperti Jawa, Bali dan Madura, memang Sastra Using tidak sekaya ketiga Sastra daerah itu. Namun, bahwa ada tersendiri sastra Using, inilah yang perlu diungkapkan ke permukaan terlebih dahulu.

Sebagai kawasan yang berkembang di luar Keraton, tradisi Kesusastraan di Banyuwangi banyak menggunakan media lisan. Sehingga, agak kesulitan dan perlu kerja keras untuk merekonstruksi kehidupan Sastra Using pada masa silam melalui bukti-bukti tertulis. Namun dalam Ensiklopedi Indonesia (1987: 399) disebutkan: “Sampai  abad ke-18 masih ada penganut Agama Hindu dan bahkan aliran sastra yang disebut ‘Aliran Banyuwangi”. Misalnya naskah Sri Tanjung dan naskah Sang Satyawan berasal dari aliran itu. Pada masa Majapahit kedua cerita itu sudah terkenal, karena dipahat di teras Pendopo Candi Penataran di Blitar”.

Dari pernyataan itu bisa disimpulkan, bahwa Sastra di Banyuwangi (dulu Blambangan) pernah mengalami kejayaan, dengan tampil beda dibanding karya sastra sejamannya. Ciri yang menonjol dari Sastra Banyuwangi adalah tradisi lisannya, seperti dikemukakan Van Stein Callenfels berupa ulasan kritis terhadap kitab Sudamala.  Bahwa dalam permulaan atau tengah kitab Sudamala, diteruskan secara lisan. (Kalangwan, Zoermulder 1985: 57). Penggunaan kata ‘mangke’ atau ‘mangko’ yang sering muncul dalam Sudamala, terkesan kaku dan kurang luwes. Bahkan bila dibaca keseluruhan, dalam karya itu (Sudamala) terkesan banyak varian. Mungkin ini adanya kesalahan dari tukang cerita, karena bisa ditambah atau berkurang saat karya itu disampaikan.

Pernyataan van Stein Callenfels ini diperkuat oleh Poerbatjaraka (1952: 81-81), jika kitab Sudamala itu dianggap buatan orang Desa. Cara mencari “Ding-Dong” (persajakan) hanya menggunakan kata ‘mangke’ dan ‘mangko’ saja. Bahkan Poebatjaraka mengaku kesulitan menamakan Tembang dalam setiap pupuh di kitab Sudamala itu, karena tidak sama dengan pakem Jawa yang berlaku saat itu. Namun Zoemulder memastikan, jika Sumala dan Sri Tanjung itu termasuk dalam jenis Kidung. Meski ia kesulitan menyebut, apakah keduanya termasuk teks sastra atau bukan. Ciri yang paling menonjol adalah sifat kerakyatan dan tidak mempunyai latar belakang Keraton. (1985: 540).

Nah dalam perkembangan selanjutnya, ternyata gaya dan cara pengucapan Sastra Using ini tidak jauh berbeda dengan yang disebutkan oleh para pakar Satra Jawa Kuno itu. Penggunaan kata  “eman”, “jare paman”, “alak emas”, “a-ang” dan “e-eng”, untuk sekedar menggenapi Guru Wilangan (jumlah kata), atau guru lagu (persamaan bunyi).

Apabila sudah yakin bahwa Sastra Using memang ada, tentu kita masih meragukan, jika hanya ditandai oleh tiga buah karya Sang Satyawan, Sudamala dan Sri Tanjung saja. Ternyata setelah Perang Puputan Bayu tahun 1772, mulai ada sejumlah karya Sastra di bumi Blambangan ini dalam bentuk tulis, yaitu Babad Blambangan, Babad Tawang Alun, Babad Wilis dan cerita-cerita tentang Kerajaan Macan Putih. Dalam perkembangan selanjutnya, Sastra Using kembali berkutat dalam tradisi lisan. Mungkin ini tidak bisa dilepaskan kondisi saat itu, Blambangan yang dijadikan bulan-bulanan Mataram dan selanjutnya oleh Belanda. Karya Sastra Using lisan yang paling menonjol adalan Podho Nonton.

PODHO NONTON

Podho nonton
Pundak sempal ring lelurung
Ya pendite pundak sempal
Lambeane para putra

Kejala ring kedung sutra
Tampange tampang kencana

Kembang menur
Melik-melik ring bebentur
Sun siram-siram alum
Sun pethik mencirat ati

Lare angon
Gumuk iku paculono
Tandurono kacang lanjaran
Sak unting oleh perawan

Kembang gadung
Sak gulung ditawa sewu
Nora murah nora larang
Hang nowo wong adol kembang
Sun barisno ring Temenggungan
Sun iring payung agung
Lambeane membat mayun

Kembang abang
Selebrang tibo ring kasur
Mbah Teji balenono
Sun enteni ring paseban
Dung Ki Demang mangan nginum
Seleregan wong ngunus keris
Gendam gendis kurang abyur

Bentuk dan isi syair Podho Nonton ini sangat bebas, tidak terikat guru lagu dan guru wilangan seperti yang lazim dalam Sastra Jawa. Syair tersebut sudah tidak diketahui nama penciptanya, namun menjadi pakem dalam setiap ritual Seblang dan pementasan kesenian Gandrung.  Almarhum Hasan Ali (Budayawan Banyuwangi) kepada penulis pernah mengatakan, jika syair Podho Nonton itu dibuat sekitar tahun 1800-an. Selain itu masih ada lagi karya Satra Using Klasik, yaitu Seblang Lukinta, Sekar Eleg, Tajog, Kabor, Terong Condong, Bebarongan, Tanjung Burung dan masih banyak lagi.

Akibat mengandalkan perkembangan tradisi lisan, adanya perbedaan satu dengan lainnya juga mulai muncul. Seperti syair podho nonton tadi, bisa berkembang menjadi beberapa judul, karena hanya dinyanyikan dalam satu bait dan diberi judul tersendiri. Padahal, karya itu merupakan satu kesatuan. Sehingga dalam masyrakat Using pada waktu itu ada yang menyebut judul Kembang Menur; Kembang Gadung dan Kembang Abang.  Inilah yang disebut Suripan Sadi Hutomo (1991:12) sebagai kelemahan sastra lisan, karena dalam perjalanan dari generasi ke generasi berikutnya akan mudah terjadi penyimpangan dan penyelewengan kosa kata yang mempengaruhi isinya.

Sastra Using Klasik kebanyakan disosialisasikan dalam ritual Seblang, baik yang di Olehsari maupun Bakungan. Namun dalam perkembangan selanjutnya, kesenian Gadrung juga masih menjadikan Syair Podho Nonton sebagai pakem pembuka, serta diakhiri dengan Seblang Subuh. Pada kesenian Gadrung inilah, kemudian muncul karya Satra Using yang lebih baru. Meski dalam sosialisasinya masih menggunakan lisan, tetapi sudah dalam bentuk rekaman kaset. Sehingga penyimpangan teks dan salah ucap bisa ditekan, kendati tidak bisa seratus persen. Ini semata-mata akibat mutu rekaman yang kurang bagus, sehingga harmonisasi vokal dan instrumen musik tidak imbang.  Sehingga pendengar, juga masih meraba-raba jika ada kosa kata yang tidak jelas diucapkan.

Dari segi tema memang mulai ada pergeseran, karena sesuai dengan situasi. Jika sebelumnya banyak bercerita tentang pembberonakan, kepahlawan dan hakekat hidup, pada kesenian Gadrung syairnya banyak bercerita tentang percintaan, selain masih mengembangkan tema kepahlawan dan adat istiadat yang berlaku dalam kehidupan masyrakat Using.

Dari jenis nyang digunakan, tidak lagi dalam bentuk Tembang secara utuh dan menyeluruh. Namun lebih banyak dalam bentuk karya Puisi, dengan pola memertahankan puisi tradisional seperti dalam bentuk Wangsalan (teka-teki), Basanan (pantun), Syi’iran (syair) dan ungkapan-ungkapan khas Banyuwangi. Ada beberapa karya Sastra Lisan yang  terbaru dan sering dibawakan kesenin Gandrung, yaitu Opak Apem; Keok-Keok; Erang-Erang; Thethel-Thethel; Kusir-Kusir; Gurit Mangir; Embat-Embat; Sawunggaling; Jaran Dawuk dan masih banyak lagi.

SASTRA USING PADA MASA KONFLIK POLITIK
Pada masa menjelang kemerdekaan, Sastra Using tetap seperti jaman sebelumnya. Berkembang secara lisan dan berciri khas kerakyatan, meski  berangsur-angsur mulai ada perbaikan ke arah sastra modern. Jika sebelumnya Sastra Using hanya disebarkan lewat Ritual Seblang dan Kesenian Gandrung, menjelang kemerdekaan bertambah media penyebaran baru, yaitu Kesenian Angklung.

Dalam setiap pementasan Kesenian Angklung, selalu membawakan lagu hasil kreasi baru. Tidak jarang, juga masih membawakan syair lagu yang sebelumnmya dipopulerkan melalui Kesenian Gandrung. Dari segi isi bisa dibedakan, syair lagu yang dibawakan Kesenian Gandrung biasanya bertema cinta dan kehidupan sosial. Namun syair lagi yang dipopulerkan Kesenian Angklung biasanya berupa “nyanyian rakyat: atau “lagu dolanan anak-anak” diberi roh berupa penambahan syair baru. Penambahan syair baru ini, justru akan mempermudah penikmat untuk menguraikan makna dari “lagu dolanan” itu sendiri.

Pada sekitar tahun 1942, berkembang lagu Kesenian Angklung yang terkenal berjudul “Genjer-Genjer”. Syair lagi ini diciptakan oelh M. Arif, seorang seniman pemukul alat instrumen Angklung. Berdasarkan keterangan teman sejawat almarhum Arif, lagu Genjer-Genjer itu diangkat dari lagu dolanan yang berjudul “Tong Alak Gentak”. Lagu rakyat yang hidup di Banyuwangi itu, kemudian diberi syiar baru seperti berikut:

GENJER-GENJER

Genjer-genjer ring kedokan pating keleler
Emake Thole teka-teka muputi genjer
Oleh sak tenong mungkur sedot sing tolih-tolih
Genjer-genjer saiki digowo mulih

Genjer-genjer esok-esok did\edol ning pasar
Dijejer-jejer diuntingi pada didasar
Emake Jebeng podo tuku dienggo iwak
Genjer-genjer saiki podho diolah

Genjer-genjer melbu kendil wedang gemulak
Setengah mateng dientas wong dienggo iwak
Sego ring piring sambel jeruk ring pelonco
Genjer-genjer saiko podo dipangan

Berdasarkan penuturan teman-teman pengarang yang berhasil ditemui penulis, syair lagu Genjer-Genjer dimaksudkan sebagai sindiran atas kedatangan Jepang ke Indonesia. Pada saat itu, kondisi rakyat semakin sesangsara dibanding sebelumnya. Bahkan ‘genjer’ (Limnocharis flava) tanaman gulma yang tumbuh di rawa-rawa, sebelumnya dikosumsi itik, namun menjadi santapan yang lezat akibat tidak mampu membeli daging. Menurut Suripan Sadi Hutomo (1990: 10), upaya yang dilakukan M Arif sesuai dengan fungsi Sastra Lisan, yaitu sebagai kritik sosial, menyidir penguasa dan alat perjuangan.

Namun dalam perkembangan, lagu Genjer banyak diselewengkan untuk kepentingan politik pada waktu itu. Bahkan saat lagu itu menajdi terkenal setelah dibawakan Bing Slamet dan Lilis Suryani dalam rekaman piringan hitam, kemudian muncul pengakuan dari Jawa Tengah, bahwa lagu Genjer-Genjer ciptaan Ki Narto Sabdo seorang dalang kondang. Dalam sebuah tulisannya Hersri Setiawan, memberikan penjelasan tentang asal-muasal hingga lagu Genjer-Genjer menjadi terkenal.

Menurut mantan Ketua Lembaga Kesenian Rakyat (LEKRA) Jawa Tengah ini, pada bulan Desember 1962, para sastrawan dari beberapa lembaga kebudayaan di Indonesia, mendapat undangan untuk mengikuti sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh Komite Eksekutif Biro Pengarang Asia-Afrika di kota Denpasar, Bali. Selain wakil-wakil dari Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) milik PNI, berangkat juga perwakilan dari Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) dan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) milik NU. Utusan dari Lekra dipimpin oleh Jubair Ajoeb dangan peserta antara lain Rivai Apin, Hr. Bandaharo, Pramudya Ananta Toer, Bujung Saleh Puradisastra, Dodong Jiwapraja, Samandjaja, Sobron Aidit dan Nyoto alias Iramani.

Bahkan dalam uraianya, Hersri menjelaskan bagaiman antusiasnya Nyoto salah satu petinggi PKI saat mendapat hiburan lagu Genjer-Genjer. Kemudian, Nyoto yang juga seniman bidang musik ini, membawa lagu Genjer-Genjer dalam siaran RRI dan TVRI hingga akhirnya masuk dapur rekaman. Insting Nyoto benar, setahun diperdengarkan secara nasional, lagu Genjer-Genjer menjadi terkenal. Meskipun syair yang dibawakan Bing Slamet (chek http://www.youtube.com) dan Lilis Suryani sudah tidak utuh lagi. Saking terkenalnya, lagu genjer-genjer sampai dihafal warga-warga di pedesaan Indonesia tanpa mau tahu siapa penciptanya. Bahkan, syair yang dinyayikan di sana-sana banyak yang hilang kadang ditambah sesuai keinginan mereka.

Akibat lagu Genjer-genjer sering dikumdangan saat acara-acara PKI, serta nama kesenian Angklung Banyuwangi yang pro Lekra juga diberi nama Genjer-Genjer, akhirnya pemerintah Orde Baru melarang lagu Genjer-Genjer bersama dilarangnya PKI di Indonesia. Berdasarkan interprestasi sepihak, ada yang mengartikan lagu Genjer-genjer itu sebagai gambaran simbolik peristiwa G.30/S PKI. Ungkapan: Genjer diuntinge podo didasar, dianggap sebagai gambaran kondisi  “para Jenderal” yang menjadi bulan-bulanan PKI.  Selain itu, memang ada yang sengaja mengganti syair asli tersebut, sesui keinginan masing-masing. Inilah resiko kalau karya satra yang berkembang secara lisan.

Jika perkembangan sastra Using ditilik dari luar, terkesan hanya lagu Genjer-genjer yang paling monumental. Padahal di Banyuwangi sendiri, telah berkembang Sastra Using lainnya dalam bentuk Pantun (Basanan), Syi’iran (Syair) yang biasa dikembangkan oleh Lembaga Kesenian milik Partai Politik saat itu. Syair-syair Islam yang bertemakan puji-pujian tentang kagungan Tuhan, serta persitiwa-peristiwa penting. Namun tidak sedikiti, syi’iran ini juga bertemakan penyerangan terhadap Parpol lain yang menjadi lawan. Seperti syi’iran yang dikumandangkan Fatayat NU Banyuwangi: Fatayat kudunge Abang/ Lambang NU bintang sembilan// PKI ayo digannyang/ Germani ayo dibuang//

SASTRA USING BANGKIT DARI KETERPURUKAN
Setelah terjebak dalam propaganda politik, para seniman, penyair dan pengarang lagu Using bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat, mencoba bangkit mengembangkan kesenian dan kesusatraan Using.  Pengembangan ini, bukan saja semata-mata membuang yang lama. Namun lebih konstruktif, mengembangkan dasar-dasar lama untuk disesuikan dengan kebutuhan jaman. Upaya ini tidak mudah, karena pandangan orang (termasuk pemerintah saat itu), tentang syair lagu daerah Bahasa Using yang kekiri-kirian masih sulit dihapus.

Dampak kepopuleran lagu “Genjer-Genjer” memang masih terasa sepuluh tahun kemuudian. Bahkan setelah “Genjer-genjer” masuk dapur rekaman  yang dibawakan artis serba bisa Bing Selamet pada tahun 1950-an, tiba-tiba lagu ini sangat terkenal dan populer di Indonesia. Kedanti Bing Slamet bukan orang Using, namun saat menyanyikan lagu “Genjer-genjer” dalam piringan hitam itu, tetap menggunakan Bahasa Using. Dibanding Lilis Suryani yang membawakan lagu yang sama di tahun berikutnya, pelafalkan aksen Using lebih terasa yang dibawak Bing Slamet. Hanya instrumen pengiring yang berbeda, yaitu intrumen musik pop. Tidak berlebihan, jika pakar Foklor James Danadjaya (1991: 145) menyatakan, perubahan instrumen pengiring itu, hampir menjerumuskan “Genjer-Genjer” dari lagu rakyat menjadi lagu pop.

Langkah M. Arif dalam membuat syair lagu daerah hingga terkenal, ternyata memacu teman-teman seangkatannya, seperti Indro Wilis (B. Elman), Machfud Hariyanto dan lain-lainnya. Pada massa ini, penciptaan lagu daerah Banyuwangi, sudah dilengkapi dengan notasi sebagai lagu-lagu modern. Kendati demikian, semangat dan tekad para seniman ini tetap mengangkat budaya tradisional. Hasil karya yang menonol adalah Ulan Andung-Andung, karya Indro Wilis.

ULAN ANDUNG-ANDUNG

Ulan andung-andung
Yoro metuo saben ulan saben tahun
Sunare Condro Dewi, alak emas
Kepilu padang mendem gadung bakalan wurung

Ulan andung-andung ono padang ono mendung, alak emas
Tangise wong lanang hang keduhung
Yong-yong kelopo doyong, awak kulo keloyong-loyong

Ulan andung-andung
Wayah subuh surupo ring pucuke gunung
Age-age temuruno, alak emas
Uncalono kulo temiblak ring kembang kenongo
Nora nyono isuk ono bengi ono, alak emas
Lencinge bagus yoro isemono
Basane nyipak nyandung, ra weruho bakalan wurung

Syair lagu itu diciptakan sekitar tahun 1964, saat pengarang menjadi tahanan politik di Malang. Draf syair lagu itu dikirim ke adiknya, BS Noerdian. Kemudian bersama Andang CY diperbaiki di sana-sini, tetapi tidak mengubah isi. Saat dipopulerkan pertama kali, juga masih menggunakan nama Andang CY dan BS Noerdian sebagai nama pencipta, agar tidak dicurigai atau dilarang oleh penguasa saat itu, karena Indro Wilis masih berstatus tahanan politik. Kemudian, setelah sang pengarang bebas dari tahanan, lagu Ulan Andung-Andung itupun mencantumkan nama pengarang aslinya Indro Wilis.

Instrumen pengiring lagu-lagu daerah Banyuwangi setelah kemerdekaan, tidak terbatas pada musik tradisional Banyuwangi. Namun berkembang ke instrumen modern seperti Keroncong, karena pada saat itu secara nasional musik Keroncong sedang menjadi trend dan disenangi masyarakat. Masuknya syair lagu Berbahasa Using ke dalam musik Keroncong, memungkinkan lagu Daerah Banyuwangi dan Bahasa Usingnya akan melekat di hati para penikmat musik keroncong. Lagu yang terkenal saat itu,  Nandur Jagung; Adong-Adong (M. Arief); Lintang Kemukus, Kembang Mawar Kembang Melati (Machfud Hr.). Bahkan lagu keroncong berbahasa Using, sampai terkenang di luar Banyuwangi, terutama di kalangan penikmat musik Keroncong.

Upaya bangkit dari keterpurukan, tidak semudah yang diharapkan. Masih saja terjadi benturan-benturan kecil, menyangkut syiar lagu yang diciptakan pengarang yang pernah terlibat dalam kancah politik. Tidak saja antara aparat keamanan (Baca: Kodim setempat), tetapi bisa juga antar seniman sendiri yang dulu pandangan politiknya berbeda. Jumlah lagu-lagu yang dilarang, karena pengarangnya pernah terlibat partai terlarang sudah tidak terhitung. Namun yang lolos karena kepiawaian dari pengarang dalam pengemas ide-idenya, juga tidak sedikit.

Rembug seniman dan Budayawan yang diprakarsai Dinas Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemkab Banyuwangi saat itu, juga sering digelar. Salah satu upaya untuk menangkal faham proletar (ini penilaian sepihak versi aparat saat itu), maka dilakukan rekaman Lagu Daerah Banyuwangi Ulan Andung-Andung dalam bentuk piringan hitam. Terpiliha sebagai artis yang membawakan lagu itu adalah Emelia Contessa. Artis asli Banyuwangi, penutur Bahasa Using yang juga sekitar tahun 1960-an, namanya sedang naik daun secara nasional.

Namun kepopuleran Emilia Contessa, belum bisa menandangi seniornya Bing Slamet. Lagu “Genjer-Genjer” tetap melegenda, kendati sudah disusul lagu Daerah Banyuwangi sebagai update. Keinginan Seniman, Budayawan dan Pemkab Banyuwangi saat itu, bahwa lagu daerah Banyuwangi tidak hanya Genjer-Genjer, tetapi masih banyak lagi termasuk Ulan Andung-Andung. Sebetulnya, upaya ini tidak seratus persen gagal . Terlihat, lagu Ulan Andung-Andung sering juga dikomadangkan Waranggono Wayang Kulit di kawasan Mataraman Jawa Timur, juga Jawa Tengah. Mungkin momentumnya saja yang kurang pas, karena saat Genjer-Genjer dipopulerkan pergolakan politik sedang memuncak. Sadar atau tidak, telah mendongkrak lagu itu sendiri.

Setelah dua kali masuk rekaman piringan hitam, gairah berkesenian di Banyuwangi mulai marak. Meski tetap harus waspada dan hati-hati, jika sudah merembet ke ranah politik. Saling curiga satu sama lain, masih membalut kehidupan para seniman dan pengarang yang awalnya diindikasikan terlibat dalam kancah politik, Sehingga apapun karya yang dihasilkan, selalu dihubung-hubungkan dengan kegiatan propaganda.

Adalah Hasan Ali, pejabat Pemkab Banyuwangi dari bagian Kesra, yang berulang kali meyakinkan aparat keamanan pada waktu itu, jika mereka yang direkomendasikan itu sudah tidak lagi melakukan kegiatan politik. Hasan Ali yang juga mantan ketua Lembaga Keseneina Nasional (LKN) Cabang Banyuwangi, bisa menerima teman-temannya yang berhaluan politik berbeda. Mereka sudah sepekat, melupakan pertikaan politik, bersama-sama memajukan darah Banyuwangi dengan kesenian dan tradisi yang khas.

SASTRA USING PADA AWAL ORDE BARU
Setelah peristiwa G.30S/PKI meletus, seniman-seniman Daerah Banyuwangi yang terlibat di kancah politik banyak yang ditangkap dan dimasukan penjara oleh penguasa Orde Baru. Selain itu, syiar lagu-lagu mereka dilarang untuk dikundangkan. Kebijakan Orba ini, sangat berpengaruh terhadap perkembangan Sastra Using. Media satu-satunya, rekaman dan kesenian Daerah justru dilarang. Bahkan pelarangan itu, berdampak terhadap ketakutan warga Banyuwangi, baik mendengarkan apalagi menyanyikan syair lagu-lagu Daerahnya sendiri. Kebanyakan lagu-lagu Daerah Banyuwangi yang popular saat itu, pengarangnya diindikasikan terlibat dalam sayap organisasi PKI (LEKRA) yang kemudian dinyatakan  sebagai partai terlarang di Indonesia oleh Pemerintah Orde Baru.

Menjelang akhir tahun 1969, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mulai intesif melakukan pembinaan. Apalagi setelah mendapat undangan dari Pemerintah Propinsi Jawa Timur yang dipercaya sebagai penghibur Kontingen Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-7 di Surabaya. Pengiriman misi kesenian ini, mengacu kepada bentuk kesenian tradisional asli, sebelum adanya mondifikasi daeri Organisasi Politik pada saat itu. Lembaga Kesenian Nasional (LKN), sebagai sayap organisasi Partai Nasional Indonesia mempunyai Kesenian Angklung LKN dengan format sendiri. Begitu juga PKI (Partai Komunis Indonesia),  mempunyai format sendiri dengan nama Angklung Genjer-Genjer. Kedsenian Angklung Banyuwangi yang dibawa ke PON mengambil fortmat Angklung Caruk, yaitu terdiri 2 (dua) Ancak Angklung (slendro) dengan hiasan ular kepala Gatutkaca; 6 (enam) saron atau peking; 2 dua)  slenthem/demung  dan 1 (satu) kendang Banyuwangian atau Kendang Lanang

Pada tahun 1970, Presiden RI, Soeharto mengadakan kunjungan tidak resmi ke Desa Tapanrejo, Kecamatan Muncar Banyuwangi. Kendatangan penguasa Orba ini disambut hiburan kesenian Angklung dan Tari-Tarian Khas Banyuwangi. Waktu ramah-tamah dengan pejabat Muspida Banyuwangi, Presiden Soeharto menyatakan kepuasannya atas hiburan kesenian Banyuwangi. Pada kesempatan itu, Presiden menganjukan kepada Bupati, agar melestarikan dan mengembangkan kesenian Daerah sebagai potensi daerah.

Kepada Presiden Soeharto, Bupati Banyuwangi pada saat itu, Djoko Supaat Slamet menyatakan terus terang, bahwa Kesenian Angklung ini pernah digunakan PKI sebagai alat propaganda. Namun Soeharto kembali menanyakan, apakah sebelum digunakan sebagai alat propaganda kesenian Angklung itu sudah ada. Saat dijawab jika Kesenian Angklung sudah ada sebelumnya lahirnya PKI, maka Soeharto meminta agar pengembangannya mengacu kepada Kesenian Angklung asli sebelum dimasuki unsur politik dan digunakan alat propaganda.

Anjuran dari Pemimpin tertinggi di Republik Indonesia itu, disambut positif oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Bahkan Bupati Banyuwangi, Djoko Supaat Slamet langsung menerbtkan Surat Keputusan SK No. um/1698/50 tertanggal 19 Mei 1970. Dalam SK Bupati itu diatur keberadaan Kesenian Daerah. Semua bentuk dan organisasi Kesenian Daerah di Banyuwangi, harus mendaftar di Kepala Seksi Kesenian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan( Dinas P dan K) Pemkab Banyuwangi. Tujuan dari SK Bupati ini, agar mudah memantau perkembangan Kesenian Daerah Banyuwangi. Selain itu, juga sebagai control agar tidak terulang lagi pemamfaatan untuk alat propaganda politik. Meski pada perkembangan selanjutnya, Kesenian Daerah juga digunakan alat propaganda oleh Partai Politik Penguasa, yuitu GOLKAR.

Dampak nyata dari terbitnya SK Bupati itu, maraknya jumlah pementasan Kesenian-Kesenian Daerah Banyuwangi. Rakyat tidak lagi takut mendengarkan dan menyanyikan lagu-lagu Daerah Banyuwangi. Mengingat lagu-lagu Daerah Banyuwangi yang dipopulerkan ke masyarakat sudah melalui proses seleksi yang cukup ketat. Mereka yang menjadi anggota sensor, selain pejabat dari Pemkab Banyuwangi, tentu juga anggota Kodim Banyuwangi. Namun rakyat sebagai penikmat, tidak memasalahkan sensor tersebut. Bagi mereka, ada jaminan keamanan dalam berkesenian dan menikmati seni daerahnya, itu sudah lebih dari cukup.

Gairah baru dalam berkesenian di Banyuwangi, juga mulai terasa dalam perkembangan Sastra Using. Media penyebaran Sastra Using kembali membawakan dan meciptakan karya-karya baru, seperti dalam kesenian Angklung, Gandrung, Keroncong dan Orkes Melayu. Pemkab Banyuwangi tidak saja sebagai “penabubung gendering” dalam berkesenian, namun juga memberi contoh nyata dengan memamfaatkan Lembaga Siaran Radio yang dimiliki. Melalui Radio Khusus Pemerintah (RKPD) Suara Blambangan, lagu-lagu daerah banyuwangi direkam dan disiarkan secara luas. Langkah ini cukup akurat, karena setelah penyiaran lagu-lagu daerah Banyuwangi lewat radio, kemudian muncul pengarang-pengarang baru.

Pada era tahun 1970-an ini, bisa dikatakan sebagai era kejayaan Kesenian dan Kesusastraan Using. Setelah lembaga pemerintah muncul sebagai pionir, mulai lahir Studio Rekaman Swasta yang bertujuan komersial. Namun demian, fungsi control terhadap materi-materi sebelum masuk dapur rekaman tetap harus ditempuh. Pertama muncul studio Rekaman Ria Record di Banyuwangi, kemudian disusul Sarinande Record di kota yang sama, Moro Seneng dan Permata Record di Kalibaru (kota Kecamatan) dan Kencono Record di Rogojampi. Mungkin Banyuwangi pada saat itu merupakan satu-satu Kota Kabupaten yang memiliki Studio Rekaman Kaset terbanyak. Meski demikian, Kesenian Daerah Banyuwangi, ada juga yang masuk dapur rekaman di Surabaya, serta Studio Rekaman milik Pemerintah (BUMN) Lokananta di Jawa Tengah.

Namun di tengah maraknya studio rekaman, sempat membuat resah pengelola Radio milik Pemkab Banyuwangi. Melalui Surat Edaran (SE) No. 51/RKPD/V’72, pengelola RKPD sebagai perekam pertama lagu-lagu daerah Banyuwangi, meminta kepada pemilik Studio rekaman yang marak di Banyuwangi, agar menghentikan peredaran dan penjualan kaset Lagu-lagu daerah Banyuwangi. Surat Edaran yang ditandatangi oleh Ridwan selalu Wakil Pimpinan Studio RKPD Suara Blambangan itu, ditembuskan kepada Seniman dan Seniwati/ Misi Kesenian Pemkab Banyuwangi dan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Banyuwangi. Tujuan diterbitkan SE itu, sebagai peringatan kepada pemilik Studio Rekaman dan mereka yang terkain dalam rekaman itu. Hak siar menurut Ridwan masih ada pada RKPD, sebagai perekam pertama. Namun lagu-lagu yang pernah direkam RKPD, ada sebagaian yang direkam ulang dan dikomersialakan. Padahal RKPD melakukan itu semua, karena ingin melestarikan Kesenian Daerah bukan untuk mencari keuntungan.

Teguran dalam bentuk SE ini, ternyata bukan sebagai penghalang perkembangan  kesenian dan kesustraan Using Banyuwangi. Bahkan sebaliknya, syair lagu-lagu daerah Banyuwangi menjadi semakin dikenal dan dicintai oleh masyarakatnya. Bahkan orang Banyuwangi yang hidup di rantauan, selalui menjadi Kaset Lagu-lagu Daerah Banyuwangi sebagai souvenir. Mereka yang tidak sempat pulang, juga minta dikirim kaset-kaset itu sebagai obat rindu terhadap tanah kelahirannya. Tidak heran, pada masa ini lagu daerah Banyuwangi namanya semakin dikenal di luar Banyuwangi.

Pesatnya perkembangan sastra Using melalui media rekaman, juga menambah jumlah jenis musik pengiring. Jika sebelumnya sebatas pada kesenian gandrung, Angklung dan Keroncong, kemudian mucul Kelompok Band Pop dan Orkes Melayu. Tema yang dibawakan dalam sastra Using ini juga beragam, jika sebelumnya banyak berkisah tentang cinta dan asmara, kemudian mucul lagu dolanan anak-anak khas Banyuwangi dengan modifikasi di sana-sini. Kebanyakan para pengarang lagu-lagu daerah Banyuwangi pada masa ini, sudah mengencam pendidikan umum. Tidak heran, dalam melahirkan karya sastra juga dipengaruhi keberadaan Sastra Indonesia.

Sastra Using setelah tahun 1970-an, bisa disebut sebegai sastra rekaman, karena sebagian besar hasil karya sastra Using dikemas dan disebarluaskan melalui pita kaset rekaman. Pada era ini, juga diwarnai masalah gugat-gugat antara studio rekaman yang satu dengan studio rekaman yang lain. Mereka yang melakukan rekaman pertama kali, mengaku yang paling berhak dalam peredaran dan penjualan lagu. Masalah ini juga mendapat perhatian serius dari Pemkab banyuwangi, karena pada saat itu belum ada Undang-Undang Hak Cipta yang mengatur hak intelektual.

Para pemilik studio rekaman juga mengaku tidak bersalah, karena lagu-lagu yang mereka rekam sudah seijin pengarangnya dan tentu dengan imbalan uang. Bagi pengarang sendiri, rekaman pada studio-studio sebelumnya juga tidak mengikat mereka untuk tidak menjual lagi ke pihak lain, karena nilai honor yang diberikan hanya sebatas sebagai seniman yang difunsikan sebagai produser, bukan hak atas karya yang diciptakan. Inilah benang kusut yang melingkuti Sastra Rekaman hingga tahun 1980-an.

*) Hasan Sentot, pemerhati Budaya dan Kesenian Banyuwangi tinggal di Surabaya.

http://www.sejarahbanyuwangi.org/?p=879

 

Tarian Ngelawung karya Thulik Aryo

Saat pengambilan Shooting Profil raka Raki Jawa Timur 2012, Wakil Kabupaten Banyuwangi yakni Jebeng Ayik dan Thulik Gharudea menampilkan sebuah tarian istimewa karya salah satu anggota Paguyuban Jebeng Thulik Banyuwangi, Thulik Aryo.
Tidak banyak yang tahu mengenai tarian tersebut, yang di buat langsung oleh Thulik Aryo  dengan nama “Tarian Ngelawung”, yang merupakan tari pergaulan antar dua remaja. Ngelawung sendiri memiliki makna ada perasaan galau dan senang ketika meilhat lawan jenis yang disukainya.
Tarian ini berbeda dengan tarian Jaran Goyang yang sempat di tarikan oleh Wakil banyuwangi dalam Shooting profil Pemilihan raka raki Jawa Timur 2010 dan 2011. Seperti apa tarian tersebut? Mari kita lihat aksi Perdana Tarian Ngelawung:

PJT Dancers, Thulik Aryo
  
Mahakarya:
Thulik Aryo Wicaksono
Photo & Info by:
PJT Banyuwangi
Follow Twitter PJT : @JebengthulikBWI

Facebook : http://www.facebook.com/pages/Paguyuban-Duta-Wisata-Jebeng-Thulik-Banyuwangi

Download Kamus Using Banyuwangi 2014

Selasa,27 Desember 2011

Salam Persahabatan…

Bagaimana Kabarnya Sahabat Mas Say Laros?

Banyuwangi adalah salah satu kabupaten yang terletak di ujung timur pulau jawa,Kabupaten terluas se-jawa timur ini memiliki beragam kebudayaan local yang cukup menarik seperti seblang ,Gandrung Banyuwangi sampai Bahasa daerah yang dikenal dengan nama bahasa Using.

Bahasa using ini merupakan bahasa asli Suku Using di kabupaten banyuwangi,Bahasa Using ini memiliki keunikan tersendiri dibanding dengan bahasa daerah lainnya oleh karena itu melalui blog ini Mas Say Laros ingin membagikan software gratis KAMUS BOSO OSING BANYUWANGI kepada sahabat mas say laros semua dengan tujuan sebagai media belajar para pelajar banyuwangi,Guru Bahasa Using,Pecinta Budaya Banyuwangi dan khususnya untuk kalangan generasi muda banyuwangi agar supaya tidak melupakan kebudayaan sendiri.Software Kamus Bahasa Using Banyuwangi ini dikemas cukup sederhana dan mudah dalam Penggunaannya sehingga cocok sebagai salah satu refresnsi kamus pribadi berbasis IT.

KAMUS INDONESIA-USING MAS SAY LAROS

Untuk Mendapatkan Kamus Boso Osing Banyuwangi

KLIK DISINI

ATAU

http://www.mediafire.com/download/d73aofzcaxaoo93/KAMUS_USING_MARET_2014.rar

SUMBER REFERENSI KAMUS

http://osingkertarajasa.wordpress.com/category/kamus-boso-osing/

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 62 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: