Pencipta Tari Remo Boletan

 

tari remoNama yang asli, sebenarnya Parman atau Sastra Amenan, tetapi lebih terkenal dengan nama Sastra “Bolet” Amenan dan akrab disapa dengan “Pak Bolet”, karena seniman yang satu ini merupakan pencipta tari Remo gaya “Boletan”. Ia lahir di Dukuh Tawangsari Desa Sengon, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Jombang, pada sekitar tahun 1918-an dan telah meninggal pada tanggal 17 Agustus 1976. Oleh karena prestasi (ketokohannya) dalam mengembangkan kesenian tradisional Jawa Timur yaitu Ludruk, dan khususnya Tari Remo, maka pada tahun 2007 Bolet mendapatkan penghargaan dari Gubernur Jawa Timur bersama 9 tokoh seniman Jawa Timur lainnya sebagai tokoh pengembang kesenaian tradisional..

Banyak yang berpendapat bahwa gaya “Tari Remo Boletan” sangat fenomenal, karena Sastra ‘Bolet’ Amenan membuatnya berbeda dari gaya Ngremo Jombangan yang telah ada. Ngremo gaya Bolet eksis dan terkenal pada sekitar tahun 1950 sampai dengan tahun 1970-an. Sastra ‘Bolet’ Amenan yang berangkat dari kesenian Ludruk telah mengantarkan dirinya dalam mengembangkan tari Remo yang sangat khas khususnya di wilayah Jombang hingga terkenal di wilayah Jawa Timur pada umumnya.

Pertama ia mulai bergelut dalam dunia kesenian sejak usia muda Parman (Amenan) sudah berkecimpung di dunia seni  khususnya seni tari dan lawak (Jawa:  dagelan). Hal tersebut tidaklah mengherankan sebab di lingkungan keluarga dan masyarakat yang ada, di sekitarnya merupakan kelompok masyarakat yang sangat apresiatif terhadap seni. Sehingga perjalanan karier Sastra ‘Bolet’ Amenan sangat terdukung dan berkembang secara professional.

Pada sekitar tahun 1942-an, Amenan sudah menjadi seorang penari Remo dan pelawak bergabung dengan kelompok Ludruk yang dipimpin oleh Pak Munthel. Ludruk Pak Munthel ini merupakan perkumpulan para haji yang senang dengan seni Ludruk. Dalam kelompok ini sebelum memulai ’Ngludruk’, para anggota mengadakan kegiatan ’terbangan’ (memainkan alat musik terbang) lebih dulu. Pertunjukan Ludruk pada saat itu menggunakan iringan gamelan Jawa yang dilengkapi instrumen Jedor (terbang besar) sebagai gongnya. Oleh karena itu, ketukan-ketukan geraknya habis pada hitungan keempat. Parman (Amenan) pada waktu memerankan sebagai penari Remo, mendapat julukan ’Amenan’, sedangkan bila tampil sebagai pelawak diberi julukan ’Bolet’.

Sebagaimana sejarah menginformasikan bahwa salah satu fungsi kesenian Ludruk yakni sebagai alat perjuangan masyarakat dalam masa perjuangan bangsa Indonesia, seorang pemuda Sastra ’Bolet’ Amenan juga memiliki bertanggung-jawab akan hal itu yaitu, ikut berpartisipasi secara aktif melalui bidang seni dan juga ikut membawa senjata bambu dalam perjuangan. Setelah Indonesia merdeka Amenan menghentikan perjuangannya, karena waktu itu harus berangkat ke Kalimantan. Namun, karena terdorong rasa cintanya kepada kesenian, akhirnya Amenan ’Bolet’ mengurungkan niatnya untuk berangkat ke Kalimantan. Amenan ’Bolet’ memilih tetap ikut bergabung dengan Ludruk untuk dapat berjuang melawan penjajah melalui kidungan-kidungannya.

Pada masa hidupnya Amenan ’Bolet’ pernah bergabung dengan beberapa perkumpulan Ludruk, antara lain:

  1. Ludruk Murba sekitar tahun 1948
  2. Ludruk Arum dalu sekitar tahun 1965
  3. Ludruk gaya Baru (pecahan dari Arum dalu)
  4. Ludruk Gaya Marhaen
  5. Ludruk Masa Baru
  6. Ludruk Gema, dan sebagainya.

Pada tahun 1952 Amenan ’Bolet’ beralih pekerjaan yaitu menjadi Pegawai Kantor Pos Besar di Surabaya, kemudian berturut-turut dimutasikan ke daerah-daerah Jombang seperti Bareng, Ngoro, sampai pensiun sekitar tahun 1974. Meskipun telah bekerja menjadi Pegawai Kantor Pos, Amenan ’Bolet’ tetap setia untuk menjadi penari Ngremo dan pelawak yang dapat melaksanakan pementasan di malam hari.

Dalam perjalanan menggeluti kesenian Ludruk, Sastra “Bolet” Amenan juga memiliki apresiasi yang kuat terhadap potensi kesenian lain yang berkembang di wilayah Jombang pada waktu itu di antaranya kesenian Wayang Wong dan kesenian Jaranan, disamping kesenian lainnya seperti Pencak Silat. Dalan perjalanan mengembangkan tari Remo, Bolet telah menemukan konsep dasar tari yang kemudian dieksplorasikan dalam penggarapan bentuk tari Remo yang sangat kreatif dan monumental, melekat sebagai gaya pribadi yang sangat dinamik. Dari karya tari Remo yang diciptakan dengan sangat khas, Bolet merupakan tokoh sentral bagi para seniman (penari remo) lainnya di bidang pengembangan pola gerak tari  yang bersumber dari kesenian Jaranan, Wayang Wong dan Pencak Silat.

Pada saat sandiwara Ludruk semakin banyak dan berkembang pada waktu itu, susunan pola gerak dalam tari Ngremo tidak ada perkembangan, sehingga masyarakat penonton merasa bosan. Sebagai seniman tari (pengreman), Amenan ’Bolet’ tanggap terhadap keadaan tersebut. Ia berusaha melakukan kreativitas yang inovatif dengan menciptakan pola-pola gerak yang lebih menarik dan dinamis, serta terlihat berbeda dengan pola-pola ngremo pada umumnya. Profesinya sebagai pelawak sangat menunjang proses kreatifnya. Keahlian melawak dan melakukan gerakan-gerakan Ngremo menghasilkan bentu tari Remo yang sangat dinamis. Setiap kali Amenan ’Bolet’ menampilkan tari Remo selalu menampilkan pola dan teknik gerak yang berbeda-beda. Hal ini sangat menarik perhatian penonton, karena mendapatkan sentuhan estetika yang terkesan tidak monoton dan lain dari pada yang lain. Tari Remo yang diciptakan Amenan ’Bolet’ terdapat perpaduan gerakan yang lincah dan komikal sehingga memunculkan warna baru dalam pertunjukan tari Remo. Kesan yang muncul dalam tari Ngremo gaya Bolet memiliki karakter gagah, sigrak, lincah dan gecul.

Karakter tari Remo gaya Bolet ini banyak diakui oleh orang-orang terdekat yang pernah belajar dan menjadi murid Amenan ’Bolet’. Mujiono sebagai orang yang lama belajar dan mendapat ilmu dari Amenan ’Bolet’ selalu berpesan bahwa tari Remo gaya Bolet itu geraknya sigrak, harus dapat membuat penonton ketawa, jangan tegang. Gaya pementasan tari Bolet ini menjadi daya tarik yang kuat bagi masyarakat, sehingga setiap mendengar akan ada Ludruk dengan penari Remo Amenan ’Bolet’ Bolet masyarakat penonton selalu membanjiri daerah pementasan. Kepopuleran tari Remo gaya Bolet tidak saja ditemui dalam pertunjukan Ludruk, tetapi dapat ditemui pada acara-acara hajatan sosial masyarakat seperti, perkawinan, kaulan, atau khitanan dengan bentuk pertunjukan lepas dari pertunjukan Ludruk.
Pada tahun 1970-an Ngremo gaya Bolet yang ditarikan sendiri oleh Bolet mengalami perkembangan pesat dan mengalami kejayaan. Namun sayang, diusianya ke 58 tahun Bolet meninggal dunia, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1976. karena perjuangan dan ketokohannya maka pada waktu pemakaman, Amenan ’Bolet’ dinyatakan sebagai pejuang Ludruk daerah Jombang.

http://dkjatim.go.id/etalase/tari-remo-boletan/44-pencipta-tari-remo-boletan-yang-fenomenal.html

 

Islam Bertanya Kristen Menjawab Ke-8 ‘’ Hanya Agama Islam Yang Benar

Islam Bertanya Kristen Menjawab Ke-8 ‘’ Hanya Agama Islam Yang Benar

Sabtu,18 Mei 2013

Salam Jenggirat Tangi…

Selamat Datang Di Padepokan Mas Say Laros…

Pernyataan hanya agama Islam yang benar atas dasar Qs. Ali Imron 3:19, demikian sebagian bunyinya:

“Innaddiina ‘indallahil Islam…” “Sesungguhnya agama di sisi Allah hanya Islam…”

Pernyataan itu sah dan benar-benar saja bagi orang yang beragama Islam, tapi tidak sah dan benar bagi orang yang beragama lain. Masalahnya setiap orang yang beragama mempunyai dasar keyakinan iman yang berlainan, namun demikian ada satu pertanyaan yang harus dijawab yaitu: Apa tujuan orang itu beragama? Intinya kan ingin dimasukkan ke Surga alias diselamatkan dari hukuman neraka jahanam. Sekarang buat apa beragama kalau tidak ada jaminan kepastian keselamatan? Dengan demikian agama itu sepertinya hanya sebatas aktifitas formalitas untuk keperluan legalitas saja. Kalau begitu tepat sekali apa yang sebenarnya asal mula makna dan arti kata agama itu?

Kata AGAMA berasal dari bahasa Sansekerta, yang terdiri dari dua suku kata yaitu: A=TIDAK, GAMA=KACAU, maka jadi sebuah kalimat TIDAK KACAU. Dengan demikian latar belakang istilah agama itu tidak ada hubungan dan kaitannya dengan Tuhan, ganjaran, Surga atau neraka. Waktu itu agama hanya berfungsi untuk mengatur tatanan kehidupan manusia bermasyarakat dan bersosial, supaya tidak terjadi kekacauan di dalam lingkungan kehidupannya. Maka lahirlah dan terbentuklah suatu peraturan yang disebut AGAMA. Jadi agama itu tidak menyelamatkan karena agama hanya sebuah perangkat tatanan hidup manusia untuk tunduk dan taat segala peraturan hukum dunia dan akhirat.

Tangerang, Januari 2005

Oleh Paulus M.

P.O BOX. 6825/JKB.TA

 JAKARTA 11068

Komponen Reog Ponorogo Jawa Timur

 

Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Hal tersebut dapat digambarkan dengan adanya sosok warok dan gemblak yang menghiasi gerbang kota Ponorogo. Reog adalah salah satu budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat.

Adapun tentang asal usul Reog dan warok sendiri, ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat, namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak istri raja Majapahit yang berasal dari Cina, selain itu juga murka kepada rajanya dalam pemerintahan yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan di mana ia mengajar seni bela diri kepada anak-anak muda, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan kerajaan Majapahit kembali. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan “sindiran” kepada Raja Kertabhumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.

Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai “Singa barong”, raja hutan, yang menjadi simbol untuk menggambarkan raja Kertabhumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Kepopuleran Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Bhre Kertabhumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer di antara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru di mana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewandono, Dewi Songgolangit, dan Sri Genthayu.

Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun ditengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan ‘kerasukan’ saat mementaskan tariannya.

Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai pewarisan budaya yang sangat kaya. Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga. Upacaranya pun menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya tanpa adanya garis keturunan yang jelas. mereka menganut garis keturunan Parental dan hukum adat yang masih berlaku.

Ada 5 komponen penari dalam tari Reog Ponorogo, yaitu:

1. Klono Sewandono

Klono Sewandono atau Prabu Kelono Sewandono ini adalah tokoh utama dalam tari Reog Ponorogo. Beliau digambarkan sebagai seorang Raja yang gagah berani dan bijaksana, digambarkan sebagai manusia dengan sayap dan topeng merah. Beliau memiliki senjata pamungkas yang disebut Pecut Samandiman.

2. Bujang Ganong (Ganongan)

Bujang Ganong (Ganongan) atau Patih Pujangga Anom adalah salah satu tokoh yang enerjik, kocak sekaligus mempunyai keahlian dalam seni bela diri sehingga disetiap penampilannya senantiasa ditunggu oleh penonton khususnya anak – anak. Bujang Ganong menggambarkan sosok seorang Patih Muda yang cekatan, berkemauan keras, cerdik, jenaka dan sakti.

3.Jathil

Jathil atau Jathilan adalah sepasukan prajurit wanita berkuda. Dalam tari Reog Ponorogo, penari Jathil adalah wanita. Mereka digambarkan sebagai prajurit wanita yang cantik dan berani. Kostum yang dikenakan penari Jathil adalah kemeja satin putih sebagai atasan dan jarit batik sebagai bawahan. Mereka mengenakan udheng sebagai penutup kepala dan mengendarai kuda kepang (kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu)

4.Warok

“Warok” yang berasal dari kata wewarah adalah orang yang mempunyai tekad suci, memberikan tuntunan dan perlindungan tanpa pamrih. Warok adalah wong kang sugih wewarah ( orang yang kaya akan wewarah ). Artinya, seseorang menjadi warok karena mampu memberi petunjuk atau pengajaran kepada orang lain tentang hidup yang baik.

Warok iku wong kang wus purna saka sakabehing laku, lan wus menep ing rasa ( Warok adalah orang yang sudah sempurna dalam laku hidupnya, dan sampai pada pengendapan batin )

Pada setiap pertunjukkan,penari warok adalah pria dan umumnya berbadan besar. Warok mengenakan baju hitam-hitam ( celana longgar berwarna hitam dan baju hitam yang tidak dikancingkan ) yang disebut Penadhon. Penadhon ini sekarang juga digunakan sebagai pakaian budaya resmi Kabupaten Ponorogo. Warok dibagi menjadi dua, yaitu warok tua dan warok muda. Perbedaan mereka terletak pada kostum yang dikenakan, dimana warok tua mengenakan kemeja putih sebelum penadhon dan membawa tongkat, sedangkan warok muda tidak mengenakan apa-apa selain penadhon dan tidak membawa tongkat. Senjata pamungkas para warok adalah tali kolor warna putih yang tebal.

5. Barongan (Dadak merak)

Barongan ( Dadak merak ) merupakan peralatan tari yang paling dominan dalam kesenian Reog Ponorogo. Bagian-bagiannya antara lain;

  •  Kepala Harimau ( caplokan ), terbuat dari kerangka kayu, bambu, rotan ditutup dengan kulit Harimau Gembong.
  •  Dadak merak, kerangka terbuat dari bambu dan rotan sebagai tempat menata bulu merak untuk menggambarkan seekor merak sedang mengembangkan bulunya dan menggigit untaian manik – manik ( tasbih ).
  • Krakap terbuat dari kain beludru warna hitam disulam dengan monte, merupakan aksesoris dan tempat menuliskan identitas group reog.

Dadak merak ini berukuran panjang sekitar 2,25 meter, lebar sekitar 2,30 meter, dan beratnya hampir 50 kilogram..dan diangkat hanya dengan menggunakan gigi !!!!!.

Sumber : wikipedia

 

http://info-info-umum.blogspot.com/2012/02/mengenal-reog-ponorogo-seni-budaya-khas.html

Islam Bertanya Kristen Menjawab Ke-7 ‘’ Tentang Tudingan “Orang Kristen Itu Kafir

Jumat,17 Mei 2013

Salam Jenggirat Tangi…

Selamat Datang Di Padepokan Mas Say Laros…

Istilah kata “kafir” artinya tidak percaya, kata itu tergantung dari sudut mana dan siapa yang mengatakan. Contoh dari penganut agama tertentu mengatakan pengikut agama lain itu kafir. Pernyataan itu wajar dan sah-sah saja, karena tidak percaya kepada agama yang diyakini dan diimaninya.

Tapi Al Qur’an tak pernah mengatakan bahwa orang Kristen atau pengikut Isa itu Kafir, malah ada pernyataan Al Qur’an mengatakan bahwa pengikut Isa ditinggikan di atas orang-orang kafir (Qs. 3:55). “… dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu (Isa) di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat…”. Jadi kalimat ayat itu tegasnya menyatakan orang-orang yang mengikuti Isa (Yesus) status dan kedudukannya ditinggikan (dimuliakan) di atas orang-orang kafir, sampai batas kapan berlakunya pernyataan itu? Sampai hari kiamat. Jadi dengan kata lain sebelum kiamat tiba pintu pertobatan masih terbuka lebar, maka dari itu siapa saja yang mau menjadi pengikut Isa Al Masih atau Yesus Kristus akan selamat pada hari kiamat, hidup kekal bahagia di negara Surga, di negeri Surgawi, Kerajaan Tuhan.

 

 

Tangerang, Januari 2005

Oleh Paulus M.

P.O BOX. 6825/JKB.TA

 JAKARTA 11068

Islam Bertanya Kristen Menjawab Ke-7 ‘’ TENTANG TUDINGAN “ORANG KRISTEN ITU KAFIR

Jumat,17 Mei 2013

Salam Jenggirat Tangi…

Selamat Datang Di Padepokan Mas Say Laros…

Istilah kata “kafir” artinya tidak percaya, kata itu tergantung dari sudut mana dan siapa yang mengatakan. Contoh dari penganut agama tertentu mengatakan pengikut agama lain itu kafir. Pernyataan itu wajar dan sah-sah saja, karena tidak percaya kepada agama yang diyakini dan diimaninya.

Tapi Al Qur’an tak pernah mengatakan bahwa orang Kristen atau pengikut Isa itu Kafir, malah ada pernyataan Al Qur’an mengatakan bahwa pengikut Isa ditinggikan di atas orang-orang kafir (Qs. 3:55). “… dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu (Isa) di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat…”. Jadi kalimat ayat itu tegasnya menyatakan orang-orang yang mengikuti Isa (Yesus) status dan kedudukannya ditinggikan (dimuliakan) di atas orang-orang kafir, sampai batas kapan berlakunya pernyataan itu? Sampai hari kiamat. Jadi dengan kata lain sebelum kiamat tiba pintu pertobatan masih terbuka lebar, maka dari itu siapa saja yang mau menjadi pengikut Isa Al Masih atau Yesus Kristus akan selamat pada hari kiamat, hidup kekal bahagia di negara Surga, di negeri Surgawi, Kerajaan Tuhan.

 

 

Tangerang, Januari 2005

Oleh Paulus M.

P.O BOX. 6825/JKB.TA

 JAKARTA 11068

Islam Bertanya Kristen Menjawab Ke-6 ‘’ MASALAH INJIL BARNABAS

Kamis,16 Mei 2013

Salam Jenggirat Tangi…

Selamat Datang Di Padepokan Mas Say Laros…

1. Barnabas bukanlah salah satu dari ke-12 murid Tuhan Yesus.

2. Barnabas tidak pernah bercakap-cakap dan tatap muka secara langsung dengan Tuhan Yesus.

3. Barnabas tidak pernah dinyatakan oleh Tuhan Yesus sebagai murid yang paling dikasihi.

4. Barnabas seorang keturunan suku Lewi berasal dari pulau Cyprus, menggabungkan diri dengan para rasul setelah Tuhan Yesus naik ke Surga (Kisah Rasul 4:36-37)

5. Injil Barnabas dicatat pada abad ke-13 dalam bahasa Italy.

Keterangan didalam Injil palsu Barnabas sangat bertentangan dengan situasi dan kondisi daerah Palestina yang sebenarnya.

1. Kesalahan geografis.

Pasal 20 Injil palsu Barnabas menceritakan bahwa Yesus dikatakan dari daerah Galilea menuju ke daerah Nazaret naik perahu. Padahal semua orang di sana pasti tahu kalau daerah Nazaret itu letaknya di daratan pedalaman, bukan diseberang lautan, dan jaraknya antara daerah Galilea dengan Nazaret itu sekitar 20 km. Mana mungkin orang yang mau menuju ke daratan malah naik perahu. Dengan secara jelas menunjukkan suatu bukti yang otentik, bahwa penulis Injil palsu Barnabas itu tidak mengetahui situasi dan kondisi daerah Palestina yang sebenarnya. Mungkin penulisnya mimpi bin ngigo kali…

2. Kesalahan biografi sejarah.

Pasal 3. Penulis Injil Palsu Barnabas menceritakan bahwa ketika Yesus lahir Pilatus sudah memerintah daerah Palestina sebagai gubernur. Padahal menurut data-data sejarah Pilatus datang memerintah daerah Yudea (Palestina) tahun 26-36 Masehi. Jadi dengan demikian menunjukkan bahwa penulis Injil palsu Barnabas itu adalah orang yang sangat awam tentang kejadian yang sebenarnya, apalagi kalau dituntut untuk menunjukkan bukti data-data sejarah… wah malah salah kaprah dan nggladrah.

3. Kesalahan dalam bidang peraturan hukum keagamaan.

Pasal 152. Penulis injil palsu Barnabas menceritakan bahwa orang-orang kafir atau orang-orang diluar Yahudi termasuk pasukan tentara romawi bebas memasuki tempat ibadat suci orang Yahudi. Di sana dikatakan bahwa Yesus sedang berdialog dengan pasukan tentara Romawi di dalam rumah ibadah (tempat suci) orang Yahudi. Padahal itu merupakan pelanggaran peraturan hukum kenajisan keagamaan yang sangat dihormati dan dijunjung tinggi oleh seluruh bangsa Yahudi, bahwa “orang-orang diluar Yahudi yang tidak menganut agama Yahudi dilarang masuk tempat ibadat”. Orang-orang Romawi sendiri dalam menyikapi masalah ini sangatlah hati-hati sekali, sebab kalau sampai peraturan hukum kenajisan itu dilanggar akan menimbulkan huru-hara dan prahara besar. Ternyata penulis Injil palsu Barnabas kurang hati-hati dan teliti di dalam menyikapi serta menyoroti masalah ini.

4. Kesalahpahaman dalam penilaian kaum biarawan.

Pasal 145. Penulis Injil palsu Barnabas menceritakan bahwa orang-orang Farisi itu seolah-olah tinggal dalam biara, sehingga bisa dikatakan kaum biarawan. Padahal yang dikatakan kaum biarawan pada waktu itu adalah orang Esen (bhs. Yunani; Essenoi), yaitu orang-orang yang mengisolasi diri atau orang-orang yang menjauhkan diri dari keramaian duniawi atau juga dengan kata lain, orang-orang yang hidupnya selalu mendekatkan diri kepada Sang Ilahi serta menjauhkan diri dari hal-hal yang bersifat duniawi. Tetapi kalau kaum Farisi adalah orang-orang yang menekuni dalam bidang agama, namun mereka semua masih bebas bergaul dengan masyarakat luas. Ternyata penulis Injil palsu Barnabas adalah orang yang sering salah paham sehingga menyamakan dan mencampuradukkan golongan Farisi dengan golongan Esen. Makanya kalau tidak tahu jangan sok memberi tahu nanti malah keliru, akhirnya jadi lucu.

5. Kesalahan dalam penilaian satuan mata uang.

Pasal 98. Penulis Injil palsu Barnabas menceritakan bahwa Philip menjawab Yesus, “Tuan 200 keping emas tidak cukup untuk membeli roti sekian banyak itu.” Padahal satuan mata uang di Palestina pada waktu itu adalah dinar, dan logamnya adalah perak, bukan emas. Satu dinar pada waktu itu adalah standar (ukuran) bayaran untuk upah buruh kerja sehari (Matius 20:2,13). Jadi 200 keping emas mestinya kalau dibelikan roti, sudah mencukupi orang banyak sekali. Dengan demikian, penulis Injil palsu Barnabas sangat awam dalam perhitungan dan penilaian mata uang. Apakah mungkin penulis Injil palsu Barnabas itu adalah orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan sekolahan, namun langsung menerima ilham, maka dari itu sering timbul dan muncul kesalahpahaman.

6. Kesalahan dalam perayaan tahun Yobel Pasal 82. Penulis Injil palsu Barnabas menceritakan bahwa tahun Yobel diperingati setiap 100 (seratus) tahun sekali. Padahal tahun Yobel diperingati oleh bangsa Yahudi setiap 50 (lima puluh) tahun sekali, sesuai yang tertulis dalam kitab Taurat (Imamat 25:8-13). Pertama kali tahun Yobel diperingati setiap 100 tahun sekali atas dasar dekrit (keputusan) Paus Yonisius VII pada tahun 1300. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Injil palsu Barnabas dicatat pada sekitar abad 13. Sekarang ketahuanlah kedok kepalsuannya. Sebab kalau itu adalah Injil yang ditulis oleh Barnabas yaitu rekan para rasul, seorang suku Lewi dari Siprus (Kisah Rasul 4:36), sudah jelas pasti dicatat pada abad 1 (pertama) dan paling tidak dengan mempergunakan bahasa Yunani, Ibrani atau Aram, bukan ditulis pada abad 14 dan juga bukan menggunakan bahasa Italy, nanti malah akan menyebabkan para pembacanya sulit mengerti, lha wong Barnabas sendiri tidak pernah mendengar bahasa Italy, apalagi mempelajarinya. Kecuali Barnabas imitasi alias tidak asli, yang bikin cerita dan dongeng 1001 mimpi dengan membonceng atas nama Injil Barnabas.

Pertentangan yang mencolok antara Injil Barnabas dan Al Qur’an.

Al Qur’an mengatakan: Isa Almasih atau Mesias adalah Isa putra Maryam (Qs. 3:45, Qs. 4:171). Injil Barnabas mengatakan: Muhammad adalah Al Masih atau Mesias. Pertanyaannya, manakah diantara kedua pernyataan mengenai Al Masih itu yang benar? Al Qur’an atau Injil Barnabas? Kalau Al Qur’an yang benar berarti Injil Barnabas yang salah, tapi kebalikannya kalau Injil Barnabas yang benar berarti Al Qur’an yang salah. Pertanyaannya: Yang dikatakan Al Masih atau mesias dalam Al Qur’an itu Muhammad atau Isa putra Maryam? Kalau yang dikatakan Al Qur’an (Qs. 3:45; Qs 4:171) Al Masih itu adalah Isa putra Maryam, berarti Injil Barnabas telah melecehkan pernyataan Al Qur’an.

Menurut Injil Barnabas: Muhammad adalah Imam Mahdi. Menurut HSM Jilid I hal. 74: Imam Mahdi itu adalah Isa. Hadits Ibnu Majjah: “La mahdia illa isabnu maryam”, artinya: “Tidak ada Imam Mahdi kecuali Isa putra Maryam”.

Pertanyaannya: Yang benar pernyataan Injil Barnabas atau Hadits? Kalau yang benar pernyataan Hadits berarti Injil Barnabas juga melecehkan pernyataan Hadits. Pantaskah buku yang banyak kesalahannya dan tidak selaras dengan pernyataan Al Qur’an dan Hadits itu dipertahankan terus?

Tangerang, Januari 2005

Oleh Paulus M.

P.O BOX. 6825/JKB.TA

 JAKARTA 11068

Islam Bertanya Kristen Menjawab Ke-5 ‘’ PENOLAKAN KEMATIAN ISA ALMASIH

Rabu,15 Mei 2013

Salam Jenggirat Tangi…

Selamat Datang Di Padepokan Mas Say Laros…

Umumnya orang Islam menyangkal bahwa Yesus (Isa) tidak dibunuh dan tidak disalib, yang didasarkan pernyataan Qur’an:

“Wa qoulihim innaa qotalnaal masiikha usabna maryama rosuu lallahi wamaa qotaluhuu wa maa sholabuuhu walaakin syubbiha lahum, wa innalladzii nakhtala fuu fiihi syakin minhu maa lahum bihu min ilmin illathtiba adhdhonni, wa maa qotaluuhu yaqiinaa”

“Dan karena ucapan mereka: Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah. Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh ialah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang pembunuhan Isa benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti prasangka belaka mereka, mereka tidak pula yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa” (Qs. An Nissa 4:157)

Kesimpulan nats ayat itu adalah menyatakan bahwa Isa tidak dibunuh dan disalibkan melainkan orang lain yang diserupakan dengan Isa. Sehingga umumnya orang Islam mengatakan bahwa Isa tidak mati disalib, yang mati itu bukan Isa melainkan orang lain yang diserupakan Isa. Namun demikian ada sebagian orang Islam yang mengaku bahwa Isa benar disalib, tetapi tidak mati di atas salib yaitu Islam aliran Ahmaddiyah.

Marilah kita sekarang kaji dan hayati kembali ayat-ayat itu dengan mengajukan beberapa pertanyaan. Pertama, harus saudara sadari benar-benar bahwa kedua kitab saling bertentangan didalam memberi keterangan. Suatu kasus kejadian kematian seseorang yang bernama Yesus (Isa), Alkitab mengatakan bahwa Yesus benar-benar mati yang disertai dengan bukti dan saksi.

“Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang kerajaan Tuhan.” Kisah Rasul 1:3

“Seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan firman” Lukas 1:2

Sedangkan Al Qur’an yang turun belakangan memberikan laporan yang berbeda bahwa sebenarnya Isa tidak mati, yang mati orang lain dan Isa langsung diangkat Allah SWT (Qs. 4:158). Pertanyaannya mana yang lebih benar di antara pernyataan kedua kitab itu yang memberi laporang kejadian saling bertentangan? Mungkinkah kedua kitab itu bersumber dari Tuhan yang sama, tapi isi alur ceritanya sering terjadi perbedaan? Masa ada Tuhan yang pikun alias pelupa selalu memberi cerita yang berbeda dalam satu kejadian, kemarin ngomong ‘ya’, sekarang ngomong ‘tidak’.

Kalau Tuhan seperti itu, bisa jadi kacau dan rusak tatanan ciptaan-Nya ini!?

Marilah sekarang mengkaji dan meneliti ayat-ayat Al Qur’an itu sendiri. Coba saudara buka Qs. Maryam 19:33 : “Wassalaamu ‘alayya yauma wulidttu wayauma amuutu wayauma ub’atsu khayyaa.” “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”. Qs. 19:33

Kesimpulan kronologis ayat diatas, pertama dilahirkan (hidup); kedua meninggal (mati); ketiga bangkit (keluar dari kubur) dan keempat hidup kembali. Realita kenyataan artinya yang hidup kembali setelah mengalami kematian itu bukan setan, bukan siluman dan bukan tipuan melainkan benar-benar Yesus (Isa). Jadi yang jelas urutannya: Lahir – Meninggal – Bangkit – Hidup kembali, awas!!! Jangan dibolak-balik urutannya, kalau saudara bolak-balik, itu namanya tidak sopan!

Sekarang kita buka lagi Qs. Ali Imran 3:55. Kita ambil pointnya saja: “… Hai Isa sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepadaku,…”. Kesimpulannya Allah akan menyampaikan ajal (kematian) Isa dan Allah akan mengangkat Isa kepada-Nya. Jadi disini juga sangat jelas urutan-urutannya: Mati – Diangkat, dengan kata lain mati dulu baru diangkat. Awas!!! Jangan dibolak-balik, nanti kuwalat! Coba sekarang hubungkan kembali dengan Qs 4:157-158.

Disana jelas Isa dikatakan tidak mati melainkan langsung diangkat. Inilah anggapan umum orang Islam bahwa Isa itu tidak mati melainkan diangkat Allah, Isa akan mati setelah mendekati hari kiamat nanti. Pernyataan itu tertulis dalam Al Qur’an atau tidak, kalau tidak awas…! Jangan mengada-ada, nanti kena hukum bid’ah. Kembali kita melihat pernyataan ayat-ayat Al Qur’an tadi:

1. Allah menyampaikan bahwa Isa akan mati lantas diangkat (Qs. 3:55)

2. Al Qur’an menyatakan Isa itu lahir – meninggal – bangkit – dan hidup kembali (Qs. 19:33)

3. Al Qur’an mengatakan Isa tidak mati, tetapi diangkat Allah (Qs. 4:157-158)

Coba sekarang renungkan dengan nalar yang wajar di sisi lain Allah mengatakan mati baru diangkat tapi di sisi lain mengatakan tidak mati tapi diangkat. Mana yang benar diantara kedua salah satu pernyataan itu? Yang benar mati atau tidak mati, pilih salah satu! Al Qur’an itu kan turun belakangan kenapa laporannya bertentangan? Siapakah saksi hidup Al Qur’an pada saat kejadian peristiwa itu?

Al Qur’an mengatakan yang dibunuh, disalib mati itu bukan Isa melainkan orang lain yang diserupakan Allah. Pertanyaannya, siapakah nama orang yang dibunuh dan disalib itu? Apakah kesalahan orang itu sehingga dijadikan tumbal (pengganti) kematian Isa di kayu salib? Bukankah itu namanya Allah tidak adil, orang yang tidak salah apa-apa malah dibunuh, disalib? Mengapa Allah pakai segala macam tipu-tipuan, kalau yang mati itu bukan sesungguhnya Isa melainkan orang lain? Apakah Allah ini takut dengan orang sehingga tidak berani terang-terangan? Allah melarang orang untuk tidak ragu-ragu dan bimbang, tapi secara langsung Allah malah membuat keraguan dan kebimbangan, karena yang mati sebenarnya disalib itu tidak dijelaskan namanya, berasal dari keluarga siapa dan dari daerah mana?

Al Qur’an mengatakan bahwa mereka semua tidak mempunyai keyakinan bahwa orang yang mereka bunuh itu Isa, darimana laporan Al Qur’an itu diperoleh? Sebab semuanya telah meyakini dengan pasti bahwa yang dibunuh itu memang benar Yesus (Isa). Siapa sebenarnya yang dikatakan Al Qur’an ragu-ragu dan tidak yakin itu? Padahal yang bersangkutan yaitu Yesus sendiri menunjukkan bukti secara langsung bahwa dirinya memang mati dan diri-Nya hidup kembali.

“Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: “Kami telah melihat Tuhan!” Tetapi Tomas berkata kepada mereka: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri ditengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Kemudian Ia berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” Yohanes 20:24-27

“Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: “Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.” Wahyu 1:17-18

Aneh sekali kalau pihak orang lain menceritakan kejadian yang lain. Coba renungkan dengan pikiran yang terang. Setelah bangkit yang bersangkutan sendiri mengakui bahwa diri-Nya memang mati, keluarga-Nya yaitu orang tua-Nya (Maria) melihat dengan mata kepalanya sendiri secara jelas yang mati disalib itu adalah Anaknya sendiri. Saudara-saudara-Nya juga mengakui, sahabat-sahabat-Nya juga mengetahui serta lawan-lawan-Nya juga mengatakan kematian tanpa ada keragu-raguan sedikitpun. Jelasnya tidak ada yang salah paham dan ragu-ragu dalam peristiwa penyaliban dan pembunuhan Yesus itu baik dari pihak kawan maupun pihak lawan, kecuali Al Qur’an. Sebab Al Qur’an yang muncul ratusan tahun kemudian menceritakan yang berlainan. Siapakah yang sebenarnya bercerita dibalik ayat Al Qur’an itu, sehingga timbul simpang-siur dan banyak kekeliruan.

Contoh kasus kejadian sebenarnya: Para pahlawan revolusi RI telah dibunuh dengan kejam dan sadis oleh para penghianat dan dikubur bersama-sama di dalam satu lubang di sumur tua yang dikenal dengan nama Lubang Buaya. Istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya, sahabat-sahabatnya dan tetangga-tetangga sangat amat tersayat-sayat hati dan perasaannya melihat persis peristiwa kejadian itu berlangsung, tapi tiba-tiba sekarang ada orang Amerika bernama Bush yang tidak tahu menahu tentang peristiwa kejadian itu berkoar-koar dengan cerita yang berbeda dan sangat berlainan. Bagaimana perasaan mereka semua yang telah mengalami dan melihat sendiri peristiwa itu terjadi, tapi diceritakan orang lain yang berlainan?

Dari ilustrasi ini saja pasti saudara sudah bisa menangkap gambarannya dengan jelas. Jadi kesimpulan Qs. 4:157 itu tidak jelas bahkan bertentangan dengan Qs. 3:55 dan Qs. 19:33. Dan orang Islam sendiripun juga saling bertentangan didalam menyikapi Qs. 4:157 itu. Seperti Islam aliran Ahmadiyah mengakui bahwa Isa itu disalib, tapi umumnya Islam yang lain menolak. Dengan demikian Islam sendiri saling bertentangan, tidak ada kefahaman, malah berbantahan. Hal ini memang sudah dinubuatkan Tuhan sendiri melalui hamba-Nya yang setia dan taat yaitu Simeon.

“Sesungguhnya Anak ini (Yesus) ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda-tanda yang menimbulkan perbantahan.” Lukas 2:34

Haleluyah, tergenapi melalui golongan lain.

Tangerang, Januari 2005

Oleh Paulus M.

P.O BOX. 6825/JKB.TA

 JAKARTA 11068

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 62 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: