Saksikan BARONG IDER BUMI 30 JULI 2014 Di Kabupaten Banyuwangi

Salam Jenggirat Tangi !!!

Selamat Datang Di Padepokan Mas Say Laros !!!

 

Saksikan Pertunjukan BARONG IDER BUMI 30 JULI 2014 Di Kabupaten Banyuwangi

@@@@@@@@@@@

JANGAN LUPA

DATANG KE BANYUWANGI YA ?

FKMB Forum Komunikasi Mahasiswa Banyuwangi UIN MALIKI Malang

Kolaborasi Musik Modern dan Tradisional Banyuwangi BEC 2011

Kenangan Manajemen C Angkatan 2008 UIN Malang DI Wisata Bahari Lamongan

Kenangan Sahabat Huda Choirul Anam Lagi Di Kerjain Sahabat Rayon

Kembang Pepe – Gending Klasik Gandrung Banyuwangi

How To Get A Girl – By Mr Roni Kampung Inggris Pare Kediri

Contoh Mantra Bahasa Using Banyuwangi ‘’Mantra untuk menanam padi

Mantra untuk menanam padi

================================
Assalaamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh
Mbok sringgono mbok sringgani
Sirok sun tandur ring tanah suci
Oyot irok kawat, wit irok wesi
Anak-anak gumanak
Sirok onok ring tanah suci
Woh irok dicingcing kemrincing.
Laa ilaaha illalloh Muhammadur rosululloh.

Kalau Ke Banyuwangi Jangan Lupa Menikmati Sego Cawuk

Pelesir ke Banyuwangi, Jangan Lupa Sego Cawuk

BANYUWANGI, KOMPAS.com – Jika Anda berkunjung ke Banyuwangi, Jawa Timur, harus menyempatkan sarapan khas masyarakat Using yang terkenal. Namanya Sego Cawuk. Anda dengan mudah mendapatkannya hampir di seluruh wilayah Banyuwangi khususnya yang masih ditempati masyarakat Suku Using.

Seperti warung milik Mak Mantih (72) di Dusun Prejengan, Desa Rogojampi, Kecamatan Rogojampi. Kepada Kompas.com, Mak Mantih mengaku sehari menghabiskan sampai 10 kilogram beras. “Kalau hari Minggu atau libur malah bisa sampai 15 kilo. Kalau bukanya ya mulai jam 6 pagi sampai jam jam 10. Kan Sego Cawuk ini memang pasnya buat sarapan,” katanya.

Mak Mantih menjelaskan Sego Cawuk terdiri dari nasi dengan campuran kuah yang terbuat dari parutan kelapa muda, jagung muda yang dibakar dan dicampur dengan timun serta dibumbui cabai, bawang merah, bawang putih dan sedikit asam sehingga rasanya pedas segar.

“Biasanya ditambahkan dengan kuah pindang khas Banyuwangi yang terbuat dari gula pasir yang dimasak gendam, jadi hasil kuahnya manis dan dan bening,” tuturnya.

Cara masak gendam ini hanya ada di Banyuwangi, yaitu gula pasir secukupnya dipanaskan di atas wajan sehingga lumer. Setelah berbentuk pasta langsung diberi atmosphere secukupnya, dan juga dibumbui seperti lengkuas, daun salam dan garam.

Untuk menambah kelezatan, Mak Mantih menyediakan banyak menu tambahan seperti pelasan atau pepes ikan laut, kikil, dendeng, dan juga telur di masak pindang. “Ikan laut yang dipelas ada ikan putihan, nus (jenis cumi kecil), lemuru, dan teri sekul (teri nasi),” katanya.

Ia mengaku setiap hari menghabiskan minimal 3 kilo ikan laut dan telur pindang 10 kilo. Tidak heran, warung kecil yang berada di sisi barat Pasar Rogojampi banyak didatangi pelanggan bahkan masyarakat Banyuwangi yang berada di luar kota. “Apalagi kalau liburan, wah rame sekali di sini. Rata-rata mereka kangen sama masakan khas Banyuwangi,” katanya.

KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI Mak Mantih penjual Nasi Cawuk di Dusun Prejengan, Desa Rogojampi, Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Nama cawuk, menurut perempuan yang berjualan sejak tahun 1972 ini berasal dari cara makan yang menggunakan tangan. “Kalau orang Using makan pakai tangan namanya ‘dicawuk’ karena mereka tidak biasa makan menggunakan sendok,” ujarnya.

Harga yang ditawarkan untuk seporsi sego cawuk cukup terjangkau yakni Rp 7.000 sampai Rp 15.000 sesuai dengan lauk yang dipesan. “Yang pale banyak pesan pakai lauk pelasan sama telur pindang,” katanya.

Suriyani, salah satu warga Banyuwangi kepada Kompas.com mengaku selalu menyempatkan diri sarapan di warung Mak Mantih. “Kebetulan kerjanya di Rogojampi, jadi kalau nggak sempat sarapan di rumah ya sarapan di sini. Pilihan lauknya juga banyak. Kalau rasanya seger banget pas buat sarapan pagi,” jelasnya.

lewatkan sarapan Sego Cawuk di Banyuwangi.

Sumber : http://banyuwangi.asia/pelesir-ke-banyuwangi-jangan-lupa-sego-cawuk

Foto: Isuk-isuk Info sarapan Wisata Kuliner #SEGOCAWUK_MAK_MANTIH</p>
<p>Pelesir ke Banyuwangi, Jangan Lupa Sego Cawuk</p>
<p>BANYUWANGI, KOMPAS.com – Jika Anda berkunjung ke Banyuwangi, Jawa Timur, harus menyempatkan sarapan khas masyarakat Using yang terkenal. Namanya Sego Cawuk. Anda dengan mudah mendapatkannya hampir di seluruh wilayah Banyuwangi khususnya yang masih ditempati masyarakat Suku Using.</p>
<p>Seperti warung milik Mak Mantih (72) di Dusun Prejengan, Desa Rogojampi, Kecamatan Rogojampi. Kepada Kompas.com, Mak Mantih mengaku sehari menghabiskan sampai 10 kilogram beras. “Kalau hari Minggu atau libur malah bisa sampai 15 kilo. Kalau bukanya ya mulai jam 6 pagi sampai jam jam 10. Kan Sego Cawuk ini memang pasnya buat sarapan,” katanya.</p>
<p>Mak Mantih menjelaskan Sego Cawuk terdiri dari nasi dengan campuran kuah yang terbuat dari parutan kelapa muda, jagung muda yang dibakar dan dicampur dengan timun serta dibumbui cabai, bawang merah, bawang putih dan sedikit asam sehingga rasanya pedas segar.</p>
<p>“Biasanya ditambahkan dengan kuah pindang khas Banyuwangi yang terbuat dari gula pasir yang dimasak gendam, jadi hasil kuahnya manis dan dan bening,” tuturnya.</p>
<p>Cara masak gendam ini hanya ada di Banyuwangi, yaitu gula pasir secukupnya dipanaskan di atas wajan sehingga lumer. Setelah berbentuk pasta langsung diberi atmosphere secukupnya, dan juga dibumbui seperti lengkuas, daun salam dan garam.</p>
<p>Untuk menambah kelezatan, Mak Mantih menyediakan banyak menu tambahan seperti pelasan atau pepes ikan laut, kikil, dendeng, dan juga telur di masak pindang. “Ikan laut yang dipelas ada ikan putihan, nus (jenis cumi kecil), lemuru, dan teri sekul (teri nasi),” katanya.</p>
<p>Ia mengaku setiap hari menghabiskan minimal 3 kilo ikan laut dan telur pindang 10 kilo. Tidak heran, warung kecil yang berada di sisi barat Pasar Rogojampi banyak didatangi pelanggan bahkan masyarakat Banyuwangi yang berada di luar kota. “Apalagi kalau liburan, wah rame sekali di sini. Rata-rata mereka kangen sama masakan khas Banyuwangi,” katanya.</p>
<p>KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI Mak Mantih penjual Nasi Cawuk di Dusun Prejengan, Desa Rogojampi, Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.<br />
Nama cawuk, menurut perempuan yang berjualan sejak tahun 1972 ini berasal dari cara makan yang menggunakan tangan. “Kalau orang Using makan pakai tangan namanya ‘dicawuk’ karena mereka tidak biasa makan menggunakan sendok,” ujarnya.</p>
<p>Harga yang ditawarkan untuk seporsi sego cawuk cukup terjangkau yakni Rp 7.000 sampai Rp 15.000 sesuai dengan lauk yang dipesan. “Yang pale banyak pesan pakai lauk pelasan sama telur pindang,” katanya.</p>
<p>Suriyani, salah satu warga Banyuwangi kepada Kompas.com mengaku selalu menyempatkan diri sarapan di warung Mak Mantih. “Kebetulan kerjanya di Rogojampi, jadi kalau nggak sempat sarapan di rumah ya sarapan di sini. Pilihan lauknya juga banyak. Kalau rasanya seger banget pas buat sarapan pagi,” jelasnya.</p>
<p>Tertarik? Untuk Anda yang menginap di kabupaten ujung timur Pulau Jawa jangan lewatkan sarapan Sego Cawuk di Banyuwangi. </p>
<p>Sumber : <a href=http://banyuwangi.asia/pelesir-ke-banyuwangi-jangan-lupa-sego-cawuk&#8221; width=”504″ height=”252″ />

Merasakan Sensasi Nikmatnya Kupat Lodoh Khas Banyuwangi

Tak Perlu Tunggu Lebaran Nyicip Kupat Lodoh Banyuwangi

@Banyuwangi Gerbang Wisata Indonesia

BANYUWANGI, KOMPAS.com – Perjalanan ke Gunung Ijen di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur akan lebih sempurna jika Anda mampir di tempat makan satu ini. Di warung Wouese yang berada di Jalan Idjen, Kecamatan Glagah, Anda bisa menikmati satu porsi Kupat Lodoh yang biasanya hanya ditemui pada saat lebaran Idul Fitri dan lebaran Idul Adha.

Nasiah, pemilik kedai Wouse kepada Kompas.com mengatakan, dirinya sengaja memilih Kupat Lodoh agar masyarakat bisa menikmati setiap saat. “Kupat Lodoh ini keluarnya hanya pas lebaran. Kalau nggak lebaran, jarang masaknya karena memang sedikit ribet,” kata perempuan yang asli masyarakat Using tersebut.

Menurut Nasih, kekuatan bumbu terdapat pada Lodoh-nya. “Lodoh ini dibuat lebih dahulu dari kelapa yang sudah tua, lalu diparut dan disangrai tanpa minyak. Setelah kering proses selanjutnya adalah ditumbuk sampai halus dan keluar minyak. Bentuknya seperti pasta yang lembut,” tuturnya.

Setelah lodoh siap, maka bumbu halus yang disiapkan, terdiri dari merica, kemiri, ketumbar, pala, jahe, jinten, kayu manis, cabai besar, cabai rawit, laos, kunir, serai, garam dan gula. “Kadung jarene wong Using bumbu genep (orang Using menyebutnya bumbu lengkap),” kata Nasiah.

Setelah dihaluskan, bumbu ditumis dan ditambahkan atmosphere secukupnya. “Baru kemudian dimasukkan lodohnya. Nah kalau sudah mendidih baru ayamnya dimasukkan dan dimasak jadi satu kurang lebih setengah jam biar bumbunya masuk. Tapi ayamnya harus ayam kampung dan digoreng sebentar saja,” tuturnya.

Kupat Lodoh Banyuwangi
Sepotong ayam dengan bumbu lodoh dinikmati dengan ketupat terasa tercampur sempurna di mulut. Bumbu lodoh yang gurih dan sedikit pedas menyatu bersama dengan ayam kampung . Warna kuahnya yang berwarna cokelat pas dicocol dengan ketupat janur. “Mau makan pakai sendok ya monggo. Tapi biasanya ya langsung pakai tangan,” jelasnya.

Bukan hanya warga Banyuwangi saja yang mampir di warung yang berbentuk rumah adat Using, beberapa pejabat dan artis juga singgah di warung yang didominasi kayu tersebut. “Ada beberapa artis dan pejabat di sini tapi saya kok ya nggak tahu namanya. Saya tahunya orang-orang ngajakin foto sama mereka. Maklum orang kampung jarang nonton tv,” katanya sambil tertawa.

Sementara itu Shandi mengaku sengaja datang ke warung yang tepat berada di depan lapangan Glagah itu bersama keluarganya. “Kangen saja sama Kupat Lodoh. Biasanya kan makannya pas lebaran. Rasa gurihnya kelapa itu yang buat ketagihan,” kata Shandi.

Tertarik dengan Kupat Lodoh? Anda cukup menyiapkan kocek Rp 20.000 dan Anda bisa menikmati seporsi Kupat Lodoh. Jadi tidak perlu menunggu lebaran untuk menikmatinya.

Sumber :
http://banyuwangi.asia/tak-perlu-tunggu-lebaran-nyicip-kupat-lodoh-banyuwangi#.U0c486IsQ3J
http://travel.kompas.com/read/2014/04/10/1324156/Tak.Perlu.Tunggu.Lebaran.Nyicip.Kupat.Lodoh.Banyuwangi

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 62 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: