Penghargaan Tata Ruang Terbaik Se Indonesia Untuk Banyuwangi

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menobatkan Kabupaten Banyuwangi sebagai kabupaten dengan penataan ruang terbaik se-Indonesia. Penghargaan tersebut diserahkan oleh Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Ferry Mursyidan Baldan kepada Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di Jakarta, Jumat malam (5/12).
Baca lebih lanjut

Parade 20 REOG PONOROGO Hibur Masyarakat Pesanggaran Banyuwangi

Rabu ,10 Desember 2014

Salam Jenggirat Tangi !!!

Selamat Datang Di Padepokan Mas Say Laros

ATRAKSI REOG

Siang ini perhatian masyarakat Kecamatan Pesanggaran Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur tertuju pada lapangan pesanggaran. Hal ini dikarenakan pada siang pukul 13:00 ini akan diadakan PERTUNJUKAN TOPENG RAKSASA ‘’SINGO BOLANG KARTODIHARJO’’ Dalam Rangka ‘’GEBYAR BUDAYA PARADE REOG PONOROGO’’. Acara ini merupakan agenda Group Singo Bolang Kartodiharjo dari Ponorogo untuk berkeliling Indonesia memperkenalkan kesenian khas Bumi Reog kepada seluruh Masyarakat Indonesia agar masyarakat tahu jika reog itu milik Indonesia bukan milik Malaysia seperti yang terjadi beberapa waktu lalu ketika reog diklaim milik Malaysia.

Tujuan dari acara ini adalah untuk berkreasi dan berkarya serta aktif membangun bangsa melalui Seni Budaya Nasional. Dengan membayar tiket masuk sebesar Rp.8.000 untuk dewasa dan Rp.5.000 untuk anak-anak ternyata antusiasme masyarakat pesanggaran dan sekitarnya cukup tinggi ini terbukti dari banyaknya penonton yang membludak membanjiri arena pertunjukkan.

Menurut Mas Say Laros acara seperti ini memang perlu untuk dilestarikan karena disamping untuk memperkenalkan kepada generasi muda juga bermanfaat sebagai salah satu media untuk melestariakan seni budaya warisan leluhur.

REOG (1)

Acara ini dibuka oleh seorang pranoto acoro atau MC, sebelum membuka dia terlebih dahulu mengucapkan salam menurut 5 agama yang ada di Indonesia mulai Assalamualaikum, Amitabah, Syalom, dll Cuma ada sedikit kesalahan ketika dia menerangkan tujuan salam ini untuk menghormati keberagaman agama di Nusantara ini karena menurutnya Indonesia mengakui 5 agama, nach kayaknya MC nya kurang update informasi jika sekarang Indonesia mengakui 6 agama yaitu ditambah konghucu sejak pemerintahan Gus Dur serta Indonesia juga mengakui aliran kepercayaan. Jadi saran saya harus sering-sering update informasi biar tidak terjadi kesalahan kecil apalagi kegiatan ini adalah kegiatan rutin untuk tour diseluruh Nusantara.

Ada banyak pertunjukkan yang ditampilkan seperti Gebyar Tari Reog Bersama yaitu seluruh penari dengan membawa dadak merak bahkan yang menarik adalah ada juga seorang perempuan yang menari Reog sehingga menambah tepuk tangan dari penonton, disamping itu ada juga Tari Jatilan yaitu seperti tari kuda lumping yang seluruh penarinya perempuan, Tari Warok Ponorogo, Atraksi disiram air panas, mandi api, diseret mobil dan atraksi di atas tali dengan ketinggian sekitar 15 meter yang hanya ditopang dengan dua bilah bamboo.

Acara ini berakhir pada pukul 17:00 WIB dengan diiringi tepuk tangan yang meriah dari pengunjung dan untuk kenang-kenangan sebelum pulang pengunjung diberikan kesempatan untuk berfoto bersama Reog Ponorogo dengan membayar iuran sebesar Rp.5.000 .

SALAM BUDAYA !!!

Banyuwangi Miliki 4 Jenis Penyu

MENGAPA kita perlu peduli terhadap penyu? Rasanya juga tidak berlebihan untuk menyikapi pertanyaan tersebut. Sebab, enam dari tujuh jenis penyu yang ada di dunia ini ternyata juga hidup diindonesia. Bahkan, dari enam jenis penyu yang ada di Indonesia tersebut, empat jenis penyu hidup di Bumi Blambangan. Yaitu penyu hijau, penyu sisik, penyu lekang dan penyu belimbing. Yang tidak ada di Banyuwangi adalah penyu pipih dan penyu tempayan.

Selain itu, penyu mempunyai peran yang penting dalam ekosistem perairan laut. Karena mampu mengendalikan populasi ubur-ubur yang memakan bibit-bibit ikan. Keberadaan penyu juga memelihara padang lamun tempat berlindung ikan dan biota laut lahuiya. Namun sayang, dalam dash 20 tahun terakhir, populasi penyu ini menurun drastis dan bisa nyaris punah. Selain karena polusi laut, juga karena banyaknya manusia yang memburu telur penyu untuk dikonsumsi.

“Ya, musuh utama penyu ini sendiri sebenarnya manusia,” terang Wiwit melalui UU No 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, pemerintah Indonesia telah menyatakan bahwa penyu merupakan satwa liar yang dilindungi. Menyadari kelestarian penyu semakin terancam, karena perdagangan telur penyu khususnya di Banyuwangi marak terjadi. Wiwit yang juga pendiri Banyuwangi Sea Turtie Foundation (BSTF) merasa perlu ikut andil melestarikan kura-kura laut tersebut.

Tidak hanya sekedar teori dan gembor- gembor semata. Tapi juga memberikan contoh nyata kepada masyarakat. “Kita mengajak para nelayan dan warga pesisir untuk bekerja sama. Kita beri pengarahan bahwa penyu itu akan punah, dan apabila menemukan penyu bertelur agar masyarakat juga ikut membantu memindahkan telur tersebut ke tempat penetasan almost alami BSTF di Pantai Boom. Saya bersama para relawan dan penasihat BSTF Ir Kuswaya sering terjun langsung untuk membantu masyarakat memindahkan telur penyu tersebut ke tempat pemerasan,” jelasnya.
.
.
Gambar Ilustrasi
Sumber : http://banyuwangi.asia/banyuwangi-miliki-empat-jenis-penyu#.VHz9ZaIsQ3I

Rebana Campursari Al-Falah Ringin Agung Hibur Warga Pulau Merah Pesanggaran Banyuwangi

Selasa,09 Desember 2014

Salam Jenggirat Tangi !!!

Selamat Datang Di Padepokan Mas Say Laros

Alhamdulillah pada hari selasa malam rabu 9 desember 2014 ini Kami dari keluarga besar Group rebana campursari Al Falah Ringin Agung Pesanggaran mendapatkan undangan dari keluarga besar bapak Sampurno dan Ibu Siti Aminah untuk menghibur masyarakat pulau merah dalam rangka acara pernikahan Mas Muafiqul Amin dan Mbak Rohmatun Janah. Baca lebih lanjut

FESTIVAL KUWUNG Banyuwangi Sabtu, 13 December 2014

FESTIVAL KUWUNG
Sabtu, 13 December 2014
Depan Pemkab Banyuwangi

Festival Kuwung adalah pawai tahunan, yang menjadi etalase yang memamerkan keaslian Banyuwangi, baik kekayaan budaya, adat, maupaun potensi unggulan yang ditampilkan oleh perwakilan 24 kecamatan se Kabupaten Banyuwangi.

Sebanyak seribu orang peserta berpawai melintasi sepanjang jalan protocol sejauh 2 kilometer. Rutenya meliputi start dari depan kantor bupati Banyuwangi di jalan A. Yani, Jalan PB. Sudirman, jalan Satsuit Tubun sampai finish di Taman Blambangan.

Selain berbentuk parade berjalan, Festival Kuwung juga dikemas dengan parade mobil hias. Potensi local, seperti, kerajinan maupun destinasi wisata juga dikemas dalam festival kuwung. Kemeriahan semakin terasa dengan iringan musik khas, seperti hadrah, kundaran, dan jaranan dalam festival budaya otentik Banyuwangi ini.

Bagaimana? Berminat menyaksikan Festival Kuwung Banyuwangi minggu ini?

Ayo singgah ke BANYUWANGI dan temukan hal-hal menarik di kota Banyuwangi…!!!

https://www.facebook.com/pages/Paguyuban-Duta-Wisata-Jebeng-Thulik-Banyuwangi/208110875883181?fref=photo

Gending-Gending yang Dibawakan Tari Gandrung Banyuwangi

Salam Jenggirat Tangi !!!

Selamat Datang Di Padepokan Mas Say Laros

Dengan mempergunakan peralatan music atau gamelan seperti tersebut diatas maka dihasilkan beberapa bentuk gending-gending gandrung. Perbendaharaan gending-gending Gandrung banyak ditulis sejak pada masa semi menjadi penari gandrung dan disamping itu terdapat juga gending-gending yang diambil dari jenis-jenis kesenian lain. Secara keseluruhan gending-gendingnya antara lain sebagai berikut :

1.Yang timbul sewaktu Semi menjadi Penari Gandrung

  • Widadari
  • Ayun-ayun
  • Jangkung Kuning
  • Sontepare
  • Maenang
  • Ladrang
  • Celeng Mogok

2.Gending yang timbul pada perkembangan berikutnya :

  • Ugo-ugo
  • Dang cap go mek
  • Lia liu
  • Setro Jawa
  • Gagak Setro
  • Gondang-gandung
  • Rembe
  • Lebak-lebak
  • Banyak angkrem
  • Lindu Anda
  • Kresnoan
  • Punjari
  • Beldat
  • Tuting
  • Jaran dawuk
  • Lirakantun
  • Gerang Kalong
  • Gurit Mangir
  • Kembang Waru
  • Embat-Embat
  • Kenongo
  • Kusir-Kusir
  • Mujo
  • Tak Gentak
  • Kembang Asem
  • Krimping sawi
  • Cokek
  • Gonjing
  • Ila ili
  • Srengat srengot
  • Opak apem
  • Limar limir
  • Tempetoya
  • Gondariya
  • Emek-emek
  • Duduk maling
  • Kembang jambu
  • Kelampokan
  • Pantatan
  • Liwung
  • Ancur ancur
  • Sawunggaling
  • Guritan
  • Erang-erang
  • Blabakan
  • Keyok-keyok
  • Tarik jangkar
  • Taklam
  • Kembang bendo
  • Kembang pring
  • Condro dewi
  • Tamu datang
  • Rosari
  • Soloan
  • Montoran

3.Gending yang dibawakan sewaktu semi menjadi penari Seblang

  • Seblang-seblang
  • Ukir kawin
  • Cengkir gading
  • Podo nonton

4.Gending yang berasal dari kesenian sanyang

  • Sekar jenang
  • Gebyar gebyur
  • Gulung gulung agung
  • Sekar potel
  • Sandel Sate

5.Gending yang berasal dari kesenian Hadrah

  • Gumukan
  • Guritan
  • Wangsalan
  • Pak Haji
  • Salatan
  • Ketelan
  • Santri Mulih

6.Gending yang berasal dari gending Bali

  • Surung Dayung
  • Pecari Putih

7.Gending yang berasal dari Gending Jawa

  • Pangkur
  • Godril
  • Eling-eling
  • Puspowarno
  • Sinom
  • Grompol
  • Ladrang Manis
  • Widasari
  • Sekar gadung
  • Pucung
  • Kinanti
  • Gandarwo momong
  • Cincing Goling
  • Jangkung Kuning
  • Gonggomino
  • Pacul Goang
  • Giro Bali
  • Gambir Sawit
  • Ing ing
  • Sukma ilang
  • Titipati
  • Emplek-emplek ketepu
  • Damarkeli’
  • Bedat
  • Gondorio Gandung
  • Kembang Jeruk
  • Kembang Glepang
  • Bandrong

Dan masih banyak lagi gending-gending lain yang kemungkinan akan selalu bertambah sesuai dengan apa yang dipelajarinya.

Dalam hal pengelompokan gending-gending tersebut mengingat tidak adanya dokumentasi secara lengkap bagi tiap-tiap kegiatan jenis-jenis kesenian yang mengitarinya, maka sangat mungkin sekali suatu jenis gending dianggap milik lebih dari satu jenis kesenian. Hal ini kiranya tidak menjadi soal . Yang jelas kemudian semuanya itu berakibat bertambahnya jumlah perbendaharaan gending-gending bagi kesenian gandrung ini.

 

SUMBER :

Kesenian Gandrung Banyuwangi

Penulis :Dariharto

Penerbit : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi

Cetakan Tahun : 2009

Peralatan Musik Pengiring Seni Tari Gandrung Banyuwangi

Salam Jenggirat Tangi !!!

Selamat Datang Di Padepokan Mas Say Laros

Sebagai instrument pengiring kesenian kesenian gandrung dipergunakan seperangkat gamelan yang terdiri dari :

  • Biola atau Baolah sebanyak 2 buah, yaitu bentuk instrument yang berfungsi sebagai pembuat melodi gending yang dibawakannya. Teknis penggesekan Biola serta penyajian lagu yang disajikan sesuai dengan tradisi daerahnya dan tidak sama dengan penggunaan biola pada jenis music lain.
  • Kethuk, 1 ancak yang terdiri dari 2 buah pencon, berfungsi sebagai pembuat irama dan mempertajam ritme untuk menambah manisnya irama gending-gending yang dibawakan.
  • Kendang, 1 buah atau kadang-kadang 2 buah, merupakan unsure pokok yang mampu menyatukan ritme sert tempo permainannya agar lebih harmonis disamping itu juga berfungsi sebagai pengatur irama dan penuntun atau pemantap unsure-unsur berbagai tari yang dibawakan oleh penari Gandrung.
  • Gong, 2 buah gong yang berfungsi sebagai pemanis suara indah pada akhir komposisi nada.
  • Kluncing, 1 Buah yaitu bentuk segitiga terbuat dari besi dengan teknis memainkan menggunakan sebuah tongkat besi pendek dipukul-pukul pada kedua bagian sisi segitiga tersebut sehingga menghasilkan suatu suara yang berbentuk irama dan suasana yang meriah, biasanya penabuh peralatan ini juga berfungsi sebagai pengundang atau pembimbing gandrung dalam penampilannya.

SUMBER :

Kesenian Gandrung Banyuwangi

Penulis :Dariharto

Penerbit : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi

Cetakan Tahun : 2009

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 62 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: