FKMB Forum Komunikasi Mahasiswa Banyuwangi UIN MALIKI Malang

Kolaborasi Musik Modern dan Tradisional Banyuwangi BEC 2011

Kenangan Manajemen C Angkatan 2008 UIN Malang DI Wisata Bahari Lamongan

Kenangan Sahabat Huda Choirul Anam Lagi Di Kerjain Sahabat Rayon

Kembang Pepe – Gending Klasik Gandrung Banyuwangi

How To Get A Girl – By Mr Roni Kampung Inggris Pare Kediri

Contoh Mantra Bahasa Using Banyuwangi ‘’Mantra untuk menanam padi

Mantra untuk menanam padi

================================
Assalaamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh
Mbok sringgono mbok sringgani
Sirok sun tandur ring tanah suci
Oyot irok kawat, wit irok wesi
Anak-anak gumanak
Sirok onok ring tanah suci
Woh irok dicingcing kemrincing.
Laa ilaaha illalloh Muhammadur rosululloh.

Kalau Ke Banyuwangi Jangan Lupa Menikmati Sego Cawuk

Pelesir ke Banyuwangi, Jangan Lupa Sego Cawuk

BANYUWANGI, KOMPAS.com – Jika Anda berkunjung ke Banyuwangi, Jawa Timur, harus menyempatkan sarapan khas masyarakat Using yang terkenal. Namanya Sego Cawuk. Anda dengan mudah mendapatkannya hampir di seluruh wilayah Banyuwangi khususnya yang masih ditempati masyarakat Suku Using.

Seperti warung milik Mak Mantih (72) di Dusun Prejengan, Desa Rogojampi, Kecamatan Rogojampi. Kepada Kompas.com, Mak Mantih mengaku sehari menghabiskan sampai 10 kilogram beras. “Kalau hari Minggu atau libur malah bisa sampai 15 kilo. Kalau bukanya ya mulai jam 6 pagi sampai jam jam 10. Kan Sego Cawuk ini memang pasnya buat sarapan,” katanya.

Mak Mantih menjelaskan Sego Cawuk terdiri dari nasi dengan campuran kuah yang terbuat dari parutan kelapa muda, jagung muda yang dibakar dan dicampur dengan timun serta dibumbui cabai, bawang merah, bawang putih dan sedikit asam sehingga rasanya pedas segar.

“Biasanya ditambahkan dengan kuah pindang khas Banyuwangi yang terbuat dari gula pasir yang dimasak gendam, jadi hasil kuahnya manis dan dan bening,” tuturnya.

Cara masak gendam ini hanya ada di Banyuwangi, yaitu gula pasir secukupnya dipanaskan di atas wajan sehingga lumer. Setelah berbentuk pasta langsung diberi atmosphere secukupnya, dan juga dibumbui seperti lengkuas, daun salam dan garam.

Untuk menambah kelezatan, Mak Mantih menyediakan banyak menu tambahan seperti pelasan atau pepes ikan laut, kikil, dendeng, dan juga telur di masak pindang. “Ikan laut yang dipelas ada ikan putihan, nus (jenis cumi kecil), lemuru, dan teri sekul (teri nasi),” katanya.

Ia mengaku setiap hari menghabiskan minimal 3 kilo ikan laut dan telur pindang 10 kilo. Tidak heran, warung kecil yang berada di sisi barat Pasar Rogojampi banyak didatangi pelanggan bahkan masyarakat Banyuwangi yang berada di luar kota. “Apalagi kalau liburan, wah rame sekali di sini. Rata-rata mereka kangen sama masakan khas Banyuwangi,” katanya.

KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI Mak Mantih penjual Nasi Cawuk di Dusun Prejengan, Desa Rogojampi, Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Nama cawuk, menurut perempuan yang berjualan sejak tahun 1972 ini berasal dari cara makan yang menggunakan tangan. “Kalau orang Using makan pakai tangan namanya ‘dicawuk’ karena mereka tidak biasa makan menggunakan sendok,” ujarnya.

Harga yang ditawarkan untuk seporsi sego cawuk cukup terjangkau yakni Rp 7.000 sampai Rp 15.000 sesuai dengan lauk yang dipesan. “Yang pale banyak pesan pakai lauk pelasan sama telur pindang,” katanya.

Suriyani, salah satu warga Banyuwangi kepada Kompas.com mengaku selalu menyempatkan diri sarapan di warung Mak Mantih. “Kebetulan kerjanya di Rogojampi, jadi kalau nggak sempat sarapan di rumah ya sarapan di sini. Pilihan lauknya juga banyak. Kalau rasanya seger banget pas buat sarapan pagi,” jelasnya.

lewatkan sarapan Sego Cawuk di Banyuwangi.

Sumber : http://banyuwangi.asia/pelesir-ke-banyuwangi-jangan-lupa-sego-cawuk

Foto: Isuk-isuk Info sarapan Wisata Kuliner #SEGOCAWUK_MAK_MANTIH</p>
<p>Pelesir ke Banyuwangi, Jangan Lupa Sego Cawuk</p>
<p>BANYUWANGI, KOMPAS.com – Jika Anda berkunjung ke Banyuwangi, Jawa Timur, harus menyempatkan sarapan khas masyarakat Using yang terkenal. Namanya Sego Cawuk. Anda dengan mudah mendapatkannya hampir di seluruh wilayah Banyuwangi khususnya yang masih ditempati masyarakat Suku Using.</p>
<p>Seperti warung milik Mak Mantih (72) di Dusun Prejengan, Desa Rogojampi, Kecamatan Rogojampi. Kepada Kompas.com, Mak Mantih mengaku sehari menghabiskan sampai 10 kilogram beras. “Kalau hari Minggu atau libur malah bisa sampai 15 kilo. Kalau bukanya ya mulai jam 6 pagi sampai jam jam 10. Kan Sego Cawuk ini memang pasnya buat sarapan,” katanya.</p>
<p>Mak Mantih menjelaskan Sego Cawuk terdiri dari nasi dengan campuran kuah yang terbuat dari parutan kelapa muda, jagung muda yang dibakar dan dicampur dengan timun serta dibumbui cabai, bawang merah, bawang putih dan sedikit asam sehingga rasanya pedas segar.</p>
<p>“Biasanya ditambahkan dengan kuah pindang khas Banyuwangi yang terbuat dari gula pasir yang dimasak gendam, jadi hasil kuahnya manis dan dan bening,” tuturnya.</p>
<p>Cara masak gendam ini hanya ada di Banyuwangi, yaitu gula pasir secukupnya dipanaskan di atas wajan sehingga lumer. Setelah berbentuk pasta langsung diberi atmosphere secukupnya, dan juga dibumbui seperti lengkuas, daun salam dan garam.</p>
<p>Untuk menambah kelezatan, Mak Mantih menyediakan banyak menu tambahan seperti pelasan atau pepes ikan laut, kikil, dendeng, dan juga telur di masak pindang. “Ikan laut yang dipelas ada ikan putihan, nus (jenis cumi kecil), lemuru, dan teri sekul (teri nasi),” katanya.</p>
<p>Ia mengaku setiap hari menghabiskan minimal 3 kilo ikan laut dan telur pindang 10 kilo. Tidak heran, warung kecil yang berada di sisi barat Pasar Rogojampi banyak didatangi pelanggan bahkan masyarakat Banyuwangi yang berada di luar kota. “Apalagi kalau liburan, wah rame sekali di sini. Rata-rata mereka kangen sama masakan khas Banyuwangi,” katanya.</p>
<p>KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI Mak Mantih penjual Nasi Cawuk di Dusun Prejengan, Desa Rogojampi, Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.<br />
Nama cawuk, menurut perempuan yang berjualan sejak tahun 1972 ini berasal dari cara makan yang menggunakan tangan. “Kalau orang Using makan pakai tangan namanya ‘dicawuk’ karena mereka tidak biasa makan menggunakan sendok,” ujarnya.</p>
<p>Harga yang ditawarkan untuk seporsi sego cawuk cukup terjangkau yakni Rp 7.000 sampai Rp 15.000 sesuai dengan lauk yang dipesan. “Yang pale banyak pesan pakai lauk pelasan sama telur pindang,” katanya.</p>
<p>Suriyani, salah satu warga Banyuwangi kepada Kompas.com mengaku selalu menyempatkan diri sarapan di warung Mak Mantih. “Kebetulan kerjanya di Rogojampi, jadi kalau nggak sempat sarapan di rumah ya sarapan di sini. Pilihan lauknya juga banyak. Kalau rasanya seger banget pas buat sarapan pagi,” jelasnya.</p>
<p>Tertarik? Untuk Anda yang menginap di kabupaten ujung timur Pulau Jawa jangan lewatkan sarapan Sego Cawuk di Banyuwangi. </p>
<p>Sumber : <a href=http://banyuwangi.asia/pelesir-ke-banyuwangi-jangan-lupa-sego-cawuk&#8221; width=”504″ height=”252″ />

Merasakan Sensasi Nikmatnya Kupat Lodoh Khas Banyuwangi

Tak Perlu Tunggu Lebaran Nyicip Kupat Lodoh Banyuwangi

@Banyuwangi Gerbang Wisata Indonesia

BANYUWANGI, KOMPAS.com – Perjalanan ke Gunung Ijen di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur akan lebih sempurna jika Anda mampir di tempat makan satu ini. Di warung Wouese yang berada di Jalan Idjen, Kecamatan Glagah, Anda bisa menikmati satu porsi Kupat Lodoh yang biasanya hanya ditemui pada saat lebaran Idul Fitri dan lebaran Idul Adha.

Nasiah, pemilik kedai Wouse kepada Kompas.com mengatakan, dirinya sengaja memilih Kupat Lodoh agar masyarakat bisa menikmati setiap saat. “Kupat Lodoh ini keluarnya hanya pas lebaran. Kalau nggak lebaran, jarang masaknya karena memang sedikit ribet,” kata perempuan yang asli masyarakat Using tersebut.

Menurut Nasih, kekuatan bumbu terdapat pada Lodoh-nya. “Lodoh ini dibuat lebih dahulu dari kelapa yang sudah tua, lalu diparut dan disangrai tanpa minyak. Setelah kering proses selanjutnya adalah ditumbuk sampai halus dan keluar minyak. Bentuknya seperti pasta yang lembut,” tuturnya.

Setelah lodoh siap, maka bumbu halus yang disiapkan, terdiri dari merica, kemiri, ketumbar, pala, jahe, jinten, kayu manis, cabai besar, cabai rawit, laos, kunir, serai, garam dan gula. “Kadung jarene wong Using bumbu genep (orang Using menyebutnya bumbu lengkap),” kata Nasiah.

Setelah dihaluskan, bumbu ditumis dan ditambahkan atmosphere secukupnya. “Baru kemudian dimasukkan lodohnya. Nah kalau sudah mendidih baru ayamnya dimasukkan dan dimasak jadi satu kurang lebih setengah jam biar bumbunya masuk. Tapi ayamnya harus ayam kampung dan digoreng sebentar saja,” tuturnya.

Kupat Lodoh Banyuwangi
Sepotong ayam dengan bumbu lodoh dinikmati dengan ketupat terasa tercampur sempurna di mulut. Bumbu lodoh yang gurih dan sedikit pedas menyatu bersama dengan ayam kampung . Warna kuahnya yang berwarna cokelat pas dicocol dengan ketupat janur. “Mau makan pakai sendok ya monggo. Tapi biasanya ya langsung pakai tangan,” jelasnya.

Bukan hanya warga Banyuwangi saja yang mampir di warung yang berbentuk rumah adat Using, beberapa pejabat dan artis juga singgah di warung yang didominasi kayu tersebut. “Ada beberapa artis dan pejabat di sini tapi saya kok ya nggak tahu namanya. Saya tahunya orang-orang ngajakin foto sama mereka. Maklum orang kampung jarang nonton tv,” katanya sambil tertawa.

Sementara itu Shandi mengaku sengaja datang ke warung yang tepat berada di depan lapangan Glagah itu bersama keluarganya. “Kangen saja sama Kupat Lodoh. Biasanya kan makannya pas lebaran. Rasa gurihnya kelapa itu yang buat ketagihan,” kata Shandi.

Tertarik dengan Kupat Lodoh? Anda cukup menyiapkan kocek Rp 20.000 dan Anda bisa menikmati seporsi Kupat Lodoh. Jadi tidak perlu menunggu lebaran untuk menikmatinya.

Sumber :
http://banyuwangi.asia/tak-perlu-tunggu-lebaran-nyicip-kupat-lodoh-banyuwangi#.U0c486IsQ3J
http://travel.kompas.com/read/2014/04/10/1324156/Tak.Perlu.Tunggu.Lebaran.Nyicip.Kupat.Lodoh.Banyuwangi

Jejak Bung Karno Di Gua Istana Alas Purwo Banyuwangi

Goa Istana; Tempat Semedi Bung Karno Sering Jadi Jujugan Politisi dan Pejabat Sebetulnya ada banyak goa di dalam areal

Taman Nasional Alas Purwo. Yang terdata
sekitar 40 goa. Namun hanya lima goa
yang paling sering dikunjungi dan dikenal
masyarakat luas. Yaitu goa Istana,
Padepokan, Mayangkoro, Mangleng, dan Kucur. Selain karena lokasinya yang mudah
dijangkau, keempat goa ini diyakini
memiliki nilai mistis. Bahkan, mantan
Presiden Soekarno, konon, pernah
menjadikan goa ini sebagai tempat semedi. Dibanding goa-goa lain, goa Istana lebih
mudah dijangkau. Letaknya sekitar 67 km
dari arah Kota Banyuwangi. Atau sekitar
1,5 km dari arah Pancur. Jalanan yang
ditempuh pun relatif lebih bersahabat
dibanding goa-goa lain. Goa yang lebarnya tak lebih dari 8 meter dengan panjang 30
meter ini, menurut Plt KTU TN Alas Purwo,
Dwi Arianto SH, terbentuk karena naiknya
karang akibat lempeng Eurasia terdesak
oleh lempeng Indo-Australia. ”Dulu, goa
Istana ini berada di dalam lautan,” kata Dwi. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya
ditemukan cangkang kerang dan bebatuan
karang di sekitar goa. Di kalangan warga sekitar, goa Istana
dikenal sebagai goa yang menyimpan
sejumlah benda dan cerita mistis. Orang
yang datang ke goa ini setiap harinya
mencapai 100-300 orang. Jumlah itu
semakin banyak jika mendekati tanggal 1 Suro pada kalender Jawa. Tujuan
pengunjung macam-macam. Tapi, rata-rata,
selain ngalab berkah agar tujuannya
tercapai, para pengunjung yang datang
ada juga untuk mencari benda pusaka
seperti keris, batu delima, dan sebagainya. Salah satu benda pusaka yang paling dicari
adalah keris Jalak Tilamsari. Pusaka
sepanjang 30 cm tanpa lekukan ini, dulunya
diyakini dibuat oleh Empu Andajasangkala
pada tahun 1186 (Jawa). Sayang, hingga
kini, tak seorang pun mengetahui keberadaan keris itu. Ada cerita mistis dari masyarakat yang
masih mempercayai klenik. Siapa yang
bertapa di goa ini, dan dalam mimpinya
didatangi seorang ratu, maka keinginannya
bakal terkabul. Pamor dari cerita itu makin
naik tatkala Bung Karno disebut-sebut sering bersemedi di goa itu. Mungkin
karena cerita itu, banyak pejabat, politisi,
bahkan kalangan militer sering datang ke
tempat ini. Menurut cerita warga, terakhir
kali pada 1 Suro lalu, seorang pejabat KPK
yang namanya sangat terkenal, menginap semalaman di goa ini. Umumnya, orang-
orang besar yang datang ke goa ini
berharap agar jabatan yang diembannya
tetap langgeng atau bahkan bisa terus
naik. Calon-calon politikus juga sering
datang ke tempat ini menjelang pemilu. Setiap hari, ruangan dalam goa Istana ini
dipenuhi asap dupa yang dibakar para
pertapa untuk melengkapi ritualnya. Bagi
pengunjung yang pernah datang, kepulan
asap dupa tebal yang memenuhi lorong
utama goa bukanlah pemandangan aneh dan menyeramkan lagi. Sejak ditemukan
puluhan tahun lalu, gua ini diyakini sebagai
tempat sakral dan lokasi terakhir bagi
seseorang yang ingin mengasah dan
melengkapi ‘ilmu’ yang mereka dapatkan
selama lelaku. Untuk mencapai goa ini, pengunjung harus
melewati jalan setapak membelah hutan
bambu sejauh 1,5 km dari arah Pancur. Bagi
wisatawan, pergi ke goa ini sebaiknya
jangan dilakukan pada saat musim hujan
seperti sekarang ini. Karena jalan yang dilalui berubah sangat licin. Belum lagi
tanah liat yang bercampur air hujan,
membuat tanah semakin becek. Banyaknya
pengunjung yang datang ke lokasi ini,
mengakibatkan jalan yang lebarnya tak
lebih dari satu kaki itu mirip rawa-rawa. Kedalamannya sekitar 10-20 cm. Karena itu,
jika terpaksa datang di musim penghujan,
pengunjung harus lebih hati-hati agar tidak
terperosok. Di depan pintu goa Istana, ada sekitar 20
undak-undakan (tangga dari semen) yang
harus dilewati. Sekitar 20 meter di arah
tenggara goa, terdapat sebuah pondok
dari bambu. Tanpa atap. Luasnya kira-kira
2 x 2 m. Sepertinya baru dibangun. Tiga orang berbaju gamis dengan sorban di
kepalanya, duduk tenang memperhatikan
para pengunjung. Tak satu kata pun
terucap dari bibir mereka. Masuk ke dalam
goa, jangan berharap bisa melihat stalakmit
maupun stalaktit seperti umumnya goa- goa. Goa Istana tak lebih dari bongkahan
batu bolong. Minimnya kadar kapur,
menjadikan sejumlah sumber air yang
menetes dari langit-langit goa tak
mencukupi untuk membuat stalakmit dan
stalaktit. Saat koran ini masuk ke bagian dalam goa,
ternyata sudah ada tiga orang pertapa.
Seseorang terlihat bersemedi di ujung goa
dengan menghadap dinding. Mulutnya
komat-kamit. Entah apa yang dia baca. Di
belakangnya ada lampu teplek (botol yang diisi minyak tanah yang ujungnya diberi
sumbu). Di sebelah kirinya, seorang
pertapa tidur hanya beralaskan kapri
(bekas tempat beras, seperti karung goni
tapi terbuat dari plastik). Awak koran ini
yang datang cukup berisik, sama sekali tak dihiraukan. Tampaknya dia betul-betul
pulas dalam tidurnya. Di samping pintu
masuk, seorang pertapa duduk mengawasi.
Cerutu buatan sendiri terjepit erat di sela-
sela jari tengah dan telunjuk sebelah
kirinya. Sesekali asap pengepul dari bibirnya. ”Dari mana, Mas?” tiba-tiba
pertapa tadi bertanya kepada kami. Pria yang bersemedi di pintu goa ini
rupanya berbeda dengan rekan-rekannya.
Dia mau berinteraksi dengan pengunjung.
Sayang, pria yang mengaku dari Semarang
itu tidak mau menyebut namanya.
”Sebetulnya ada empat orang dalam goa ini,” kata dia. ”Tapi yang satu orang lagi
bertapa di goa kecil itu,” ujar pria tadi. Dia
menunjuk sebuah lubang kecil ke arah
depan. Setelah kami perhatikan, ternyata
tidak ada lubang sama-sekali. Entah karena
mata kami yang tidak bisa melihat, atau karena orang itu yang salah menunjuk. Saat ditanya, apa tujuannya datang ke goa
Istana ini, lelaki berambut gondrong itu
tidak mau menjelaskan secara pasti. Yang
jelas, kata dia, dirinya berada di goa Istana
ini tak dibatasi waktu. ”Pokoknya, kalau
sudah dapat, ya saya pulang,” katanya. Untuk kebutuhan makan selama menjalani
ritual ini, dia mengambilnya dari hutan
bambu yang banyak tumbuh di sekitar
gua. ”Ada juga yang turun ke desa
seminggu sekali. Mereka mengumpulkan
bahan makanan. Setelah terkumpul, baru kembali lagi,” katanya. Sudah tiga tahun lebih orang ini berada di
goa Istana. Selama itu pula, sudah banyak
orang yang datang dan pergi. Rata-rata,
setelah apa yang mereka ingini terkabul,
seketika itu juga mereka pergi. Ada juga
yang datang pada bulan-bulan tertentu. Utamanya mendekati bulan Suro atau
Muharram. Yang datang pada bulan
tersebut didominasi para pejabat, politisi,
kalangan militer, dan pengusaha. Tidak
seperti layaknya pejabat, kedatangan
mereka seringkali secara diam-diam. Bahkan, dari segi pakaian, kerap kali
mereka meniru cara berpakaian orang-
orang kebanyakan. Hanya petugas TN Alas
Purwo yang mengetahui keberadaan
mereka. Mengapa tidak ada yang bermaksud
memberi informasi ke media? ”Waah, itu
privasi mereka, Mas. Kami tidak berani.
Yang pasti, banyak orang-orang besar
datang ke sini,” ujar seorang petugas TN
Alas Purwo. Tak hanya pejabat lokal Banyuwangi, pejabat dari berbagai kota-
kota besar di Indonesia, bahkan pejabat
istana dan politisi senayan pun sering
datang ke Alas Purwo.

sumber :

https://www.facebook.com/pages/Banyuwangi-Gerbang-Wisata-Indonesia/460555650673726?hc_location=timeline

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 62 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: