Aspek Sosial Masyarakat Pada Tari Gandrung Banyuwangi

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Salam Jenggirat Tangi !!!

Selamat Datang Di Padepokan Mas Say Laros

Kehidupan kesenian gandrung yang memang berakar dan didukung oleh masyarakat tentunya memiliki peranan sangat penting dalam kehidupan social masyarakat. Setiap penampilan kesenian gandrung selalu dihadiri para penggemarnya yang terdiri dari berbagai etnis dan agama, mereka bersama-sama menikmati tarian dang ending-gending gandrung dalam satu arena secara damai, hal ini secara tidak langsung merupakan wahana untuk saling berinteraksi diantara satu etnis dengan etnis yang lain tanpa ada persinggungan tata nilai masing-masing etnis, oleh karenanya kesenian gandrung juga bisa dijadikan sebagai salah satu alat pemersatu bangsa.

Perlu disadari bahwa menciptakan rasa persatuan dan kesatuan dari masyarakat multi etnis merupakan hal yang sangat penting dan menjadi tanggung jawab bersama, kegiatan-kegiatan berkesenian mempunyai daya tarik yang besar untuk mengikat rasa persaudaraan tidak terkecuali kesenian gandrung.

 

SUMBER :

Kesenian Gandrung Banyuwangi

Penulis :Dariharto

Penerbit : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi

Cetakan Tahun : 2009

Kreasi Lagu Sholawat Gandrung Banyuwangi Ke-1

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Banyak cara yang ditempuh untuk menyebarkan agama islam, Para walisongo menggunakan media wayang untuk berdakwah serta beberapa menggunakan syair-syair budaya setempat yang diubah menjadi syair islami sehingga menjadikan salah satu media dakwah yang sangat popular dijamannya untuk mengajak masyarakatnya pada saat itu untuk memeluk Agama Islam tanpa ada paksaan dari pihak manapun.
Nach, Melalui situs http://www.kanal3.wordpress.com ini Mas Say Laros mencoba membuat kreasi lagu-lagu Banyuwangi yang tentunya sudah tidak asing lagi diMasyarakat Banyuwangi dengan cara mengubah Syair-syairnya menjadi Lebih Islami yang didalamnya berisi Tuntunan agama untuk mengajak kita semua semakin dekat dengan Allah SWT.

Ada beberapa tokoh agama khususnya di Jawa yang menggunakan metode dakwah agama melalui seni budaya Seperti KH.Ma’ruf Islamuddin dari Jawa Tengah, Ki Joko Goro-Goro dari Jawa Tengah serta KH.Sholikhin Yusuf dari Surabaya yang juga sering mengubah syair-syair jawa menjadi syair islami dalam metode dakwahnya.

Oleh karena itu sebagai Putra Daerah Kabupaten Banyuwangi Mas Say Laros ingin mengembangkan potensi seni budaya yang ada dibanyuwangi sebagai salah satu metode dakwah agama Islam Khususnya di Banyuwangi. Berikut ini beberapa syair lagu banyuwangi dan lagu jawa yang sudah diubah syairnya menjadi lebih islami.

  1. NGOBONG ATI
  2. MREKES ATI
  3. DONGE MEKAR
  4. ILANG WELASE
  5. GELANG ALIT
  6. NYANCANG ATI
  7. PAMBUKO REBANA AL FALAH
  8. TANGISE PERAWAN SUNTI
  9. KANGGO RIKO – GANDRUNG
  10. KAPILORO
  11. LANCING TANGGUNG
  12. LORO ATI
  13. MENDEM ROSO
  14. SUN AKONI
  15. TONDO ROSO
  16. ASMORO
  17. EDAN TURUN
  18. NYIDAM SARI
  19. SALAH TOMPO
  20. WEDUS
  21. TUTUPE WIRANG
  22. SIDO RONDO
  23. ONO HANG NYANDING
  24. PAMBUKO MAS SAY LAROS
  25. ANCUR LEBUR SHOLAWAT

DAKWAH AGOMO MAWI BUDOYO

Tari Gandrung Banyuwangi Dilihat dari Aspek Perjuangan

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Salam Jenggirat Tangi !!!

Selamat Datang Di Padepokan Mas Say Laros

Seni Tari Gandrung Banyuwangi merupakan kesenian yang hidup dan berkembang dikalangan rakyat mulai jaman kerajaan, masa penjajahan sampai dengan sekarang. Maka tidaklah sedikit peranan kesenian gandrung pada masa perjuangan. Pada setiap penampilan kesenian gandrung pada masa perjuangan dijadikan sebagai ajang berkumpulnya para pejuang dan melalui sarana tersebut pusat informasi dan pembangkit semangat para pejuang yang disampaikan melalui gending-gending yang dibawakannya dan dengan gending-gendingnya pula berbagai informasi yang merupakan kata sandi disampaikan kepada para pejuang, itulah andil dari kesenian gandrung pada masa perjuangan.

Disamping itu keberadaan kesenian Gandrung ditengah-tengah masyarakat sangat besar peranannya terutama dengan penampilannya, tari-tariannya dan gending-gendingnya yang merebut hati masyarakat dan sangat menarik membuat kesenian gandrung dapat berfungsi sebagai filter masuknya budaya asing yang tidak sejalan dengan adat dan budaya masyarakat Banyuwangi. Hal ini perlu disadari bahwa peranan kesenian gandrung dalam membendung masuknya budaya luar yang bertentangan dengan budaya masyarakat Using sebagai bentuk perjuangan yang tidak bisa diremehkan dan perlu mendapat penghargaan tersendiri.

 

SUMBER :

Kesenian Gandrung Banyuwangi

Penulis :Dariharto

Penerbit : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi

Cetakan Tahun : 2009

Tahukah Kamu Asal-Usul Kesenian Gandrung Banyuwangi ?

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Salam Jenggirat Tangi !!!

Selamat Datang Di Padepokan Mas Say Laros

Menurut cerita sejarah pada suatu penyelenggaraan upacara di Istana Majapahit, sering dipentaskan suatu bentuk tarian istana yang dikenal dengan istilah JURU I ANGIN yaitu seorang wanita yang menari sambil menyanyi dengan sangat menarik. Penari tersebut diikuti oleh seorang ‘’buyut’’, yaitu seorang pria tua yang berfungsi sebagai panakawan penari juru I angin tersebut.

Bentuk tarian inilah yang mungkin sebagai asal dari perkembangan kesenian gandrung. Hal ini dapat dibuktikan bahwa penari gandrung selalu diikuti oleh seorang pemain kluncing yang selalu melawak dengan bentuk-bentuk lawakan yang berhubungan dengan tarian Gandrung yang sedang dimainkan.

Hal tersebut sangatlah mungkin, sebagaimana diungkapkan Drs.Sri Soeyatmi Satari, bahwa pada jaman kehidupan kerajaan-kerajaan maka daerah-daerah yang jauh dari pusat kerajaan perkembangan seni budayanya mengikuti garis pola seni budaya pusat.

Ciri unsure keistanaan yang terdapat dalam bentuk kesenian Gandrung dapat dibuktikan sampai sekarang. antara lain dalam hal busana (peralatan pakaian), rias dan bentuk nyanyiannya yaitu bentuk teknis pembawaan lagu-lagu atau vokalnya yang memberikan kesan bentuk seni vocal pada jaman kehidupan kerajaan-kerajaan Blambangan jaman dahulu.

Dalam suatu masa perkembangan kesenian Gandrung ini sampai tahun 1890 di daerah Blambangan berkembang suatu bentuk kesenian Gandrung yang penarinya terdiri dari anak laki-laki yang berumur antara 7 sampai 16 tahun. S.Surawijaya menerangkan bahwa di antara mereka ada yang sampai umur 14 tahun dengan berpakaian wanita.

Pementasan kesenian Gandrung laki-laki pada masa itu dilakukan dengan jalan keliling-keliling desa, kemudian penari tersebut mendapatkan imbalan berupa beras dan sebagainya. Sedangkan gamelan pengiringnya terutama menggunakan kendang dan terbang. Hal itu mirip dengan yang terdapat di Aceh, Jawa Tengah, Madura dan Bali dengan nama yang berbeda-beda untuk menyebutkaan suatu jenis peralatan musik yang sama.

Penari Gandrung laki-laki yang paling mashur bernama Marsan, yang kalau penari Gandrung laki-laki yang lain hanya mampu bertahan sampai usia sekitar 16 tahun, tetapi Marsan dapat bertahan sampai umur 40 tahun dan tetap sebagai penari gandrung pria sampai pada akhir hidupnya.

Pementasan Gandrung pria itu biasanya dilakukan pada waktu malam hari, terutama pada bulan purnama di halaman terbuka. Pemilihan partner menarinya diatur dengan melemparkan ujung sampur kepada para penonton yang mengelilinginya dengan urutan dari Barat kemudian Timur, Selatan dan kemudian bagian penonton sebelah utara . Kesenian Gandrung pria ini pernah ditampilkan dalam bentuk 4 orang penari bersama-sama. DR,Th Pigeaud menjelaskan bahwa bentuk tarian 4 pria itu merupakan kepribadian masyarakat Madura, dan jawa sebelah timur sepanjang pantai yang telah hidup sejak waktu yang lama.

Alasan pemilihan dan penampilan penari-penari pria berpakaian wanita dan penggunaan instrument pertama berupa terbang itu memberikan suatu asumsi dengan kegiatan bentuk-bentuk kesenian yang berkembang dan berorientasi kepada unsure-unsur keagamaan islam yang kebetulan pada sekitar Abad ke XVIII mulai berkembang di daerah Blambangan.

Alasan mengapa dipilihnya penari pria berpakaian wanita, dapat diduga dengan memperbandingkan evolusi yang terjadi pada bentuk-bentuk kesenian Damarwulan, Ketoprak, Ludruk dan kesenian-kesenian lainnya. Lama-Kelamaan dipilihnya penari wanita yang sesungguhnya untuk melakukan peranan wanita. Hal ini terdpat didaerah Blambangan dan juga di daerah-daerah lain di Indonesia.

Suatu hal yang merupakan kebiasaan yang tetap hidup sampai sekarang ialah tentang digunakannya kesenian Gandrung untuk keperluan hiburan pada suatu acara pesta dan juga suatu kebiasaan bagi calon penari partner (pemaju) biasanya selalu memberikan sekedar uang sebagai tombok. Kebiasaan itu mungkin dimulai sejak jaman dahulu, hanya dalam bentuk tomboknya yang mengalami perubahan sesuai dengan sistuasinya.

Pada perkembangan berikut, mungkin juga dipengaruhi oleh perkembangan adat-istiadat penduduk maka pada tahun 1895 diangkatlah penari Gandrung wanta yang kebetulan berasal dari penari seblang. Riwayatnya sebagai berikut :

‘’Sebagai peninggalan masa kejayaan Blambangan pada jaman Hindu ternyata sampai dengan sekitar tahun 1850 di desa cungking dan sekitarnya masih hidup suatu bentuk masyarakat yang mutlak menganut agama ciwa. Di dalam masyarakat itulah hidup suatu jenis kesenian yang ada hubungannya dengan unsure-unsur magis religious yang disebut Seblang. Jenis kesenian ini terkenal sejak jaman dahulu dan terdapat di desa Bakungan dan Ulih-ulihan (Olehsari).

Salah satu kebiasaan yang hidup pada kesenian Seblang itu adalah memberikan sarana kesembuhan secara magis kepada orang yang sakit atas permintaan keluarganya. Biasanya kalau salah satu anggota keluarga mengalami sakit. Maka tersembullah suatu ucapan yang merupakan nadzar, bahwa kalau si sakit sembuh maka akan diundang di kesenian Seblang untuk mengadakan pementasan ditempatnya yang menurut istilah osing ‘’ditanggapaken seblang’’.

Jadi, kesenian seblang pada saat itu sering dipentaskan untuk memenuhi kebutuhan acara nadir dan untuk memberikan pertolongan secara magis sesuai dengan kepercayaan masyarakat pada saat itu serta untuk keperluan upacara-upacara yang lain.

Pada suatu saat puteri seorang penduduk dukuh Cungking yang bernama semi mengalami sakit keras dan tidak ada obat yang dapat menyembuhkannya. Kemudian Mak Midah (ibunya) menyampaikan ucapakan kepada semi yang sedang sakit tersebut sebagai berikut ‘’Kadung sira mari, sun dadekaken seblang, kadung sira sing mari ya osing’’.

Terjemahannya sebagai berikut :’’ Kalau engkau sembuh, akan kujadikan seblang, tetapi jika tidak sembuh ya tidak’’.

Kebetulan setelah itu semi sembuh dari sakitnya dan untuk memenuhi ucapan mak Midah maka kemudian semi dijadikan penari seblang.

Dalam penampilan-penampilan semi sebagai penari seblang, biasanya dilakukan dengan jalan Semi menari dan mak Midah ikut mengiringinya dengan nyanyian lagu-lagu atau gending-gending. Ternyata kemudian banyak orang yang mengaguminya dan selanjutnya untuk diadakannya pementasan kesenian seblang tersebut. Dengan sendirinya makin lama Semi makin pandai karena terbiasa membawakan tariannya, Sehingga tergeraklah hati mak Midah untuk menciptakan gending-gending atau lagu-lagu guna memenuhi kebutuhan Semi sebagai penari seblang tersebut.

Kemudian timbullah gagasan dari orang-orang sekitarnya untuk menjadikan semi sebagai penari gandrung dan untuk itu berusahalah mereka mengumpulkan uang untuk membeli peralatannya guna memenuhi kebutuhan tersebut. Dan kemudian sejak inilah semi mulai tampil sebagai gandrung dan sejak saat itu pula jumlah gandrung pria berangsur-angsur kurang dan menghilang.

 

SUMBER :

Kesenian Gandrung Banyuwangi

Penulis :Dariharto

Penerbit : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi

Cetakan Tahun : 2009

Melihat Potensi Seni dan Budaya Kabupaten Banyuwangi

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Salam Jenggirat Tangi !!!

Selamat Datang Di Padepokan Mas Say Laros

Kabupaten Banyuwangi merupakan kabupaten terluas sejawa timur dengan luasnya wilayah tentunya kabupaten ini menyimpan sejuta potensi daerah yang perlu dikembangkan. Tidak hanya dalam potensi alam tetapi juga potensi seni budaya. Kabupaten yang mendapat julukan sun rise of java ini dihuni oleh berbagai etnis Banyuwangi yang tentunya sangat kaya akan potensi seni budaya serta adat-istiadatnya.

Hampir semua etnis yang tinggal diBanyuwangi sangat peduli terhadap budaya tradisionalnya. Dalam prakteknya mereka ada yang masih membawakan seni tradisionalnya secara utuh namun ada pula yang telah berakulturasi dengan seni budaya tradisional dari etnis lain maupun seni modern sehingga memperkaya khasanah budaya yang hidup dan berkembang di Banyuwangi.

Hingga saat ini keseruan yang hidup dan berkembang di Banyuwangi yang merupakan kesenian asli maupun hasil dari akulturasi budaya antar etnis yang sangat digemari oleh masyarakat adalah sebagai berikut ini :

  • Gandrung
  • Angklung Caruk
  • Angklung Paglak
  • Angklung Blambangan
  • Kuntulan
  • Hadrah
  • Gedogan
  • Burdah
  • Patrol
  • Barong Teater
  • Barong arak-arakan
  • Damarwulan/Jinggoan/Janger
  • Bali-balian/Balaganjur
  • Praburoro/Rengganis
  • Jaranan Buto
  • Jaranan Pegon
  • Reog
  • Mocoan Pacul Goang/Campursari Banyuwangi
  • Campursari Jowoan
  • Tabuhan Bonang/Pesisiran
  • Wayang Kulit
  • Ludruk
  • Ajing
  • Barong Sai
  • Wayang Topeng
  • Seni Bela diri Pencak Silat
  • Jaran Kencak
  • Kendang Kempul
  • Orkes Dangdut
  • Keroncong
  • Samroh
  • Gambus Islami
  • Marawis
  • Zapin
  • Tetaer Modern

Sedangkan tradisi masyarakat yang masih dipelihara dan dilaksanakan dan tak terpisahkan dengan kepercayaan masyarakat antara lain :

  • Upacara adat seblang (Desa Olehsari dan Kelurahan Bakungan)
  • Petik laut
  • Kebo-keboan (Di Desa Alas Malang dan Desa Aliyan)
  • Rebo Wekasan
  • Gredoan
  • Barong Ider Bumi
  • Puter Kayun
  • Mocoan Lontar
  • Resik Kagungan
  • Resik Lawon
  • Endhog-Endhogan
  • Manjer Kiling
  • Ngarak Jodhang
  • Cap Go Mek
  • Mantu Kucing
  • Ruwatan

 

SUMBER :

Kesenian Gandrung Banyuwangi

Penulis :Dariharto

Penerbit : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi

Cetakan Tahun : 2009

Rujak Soto, Kuliner Khas Banyuwangi

Berbicara kuliner di Kabupaten Banyuwangi yang terkenal dengan julukan “Sunrise of Java” tidak bisa dilepaskan dengan rujak soto. Kuliner nyentrik perpaduan antara rujak sayur dengan soto babat menghasilkan rasa unik yang selalu dicari.

Rujak yang digunakan adalah campuran sayur mayur dengan bumbu kacang serta petis. Untuk pedasnya, bisa disesuaikan dengan pesanan dari konsumen. Bumbu kacang dicampur dengan garam, kacang goreng, gula merah, asam dan juga pisang klutuk (pisang batu) muda.

Menurut Mbak Atun, salah satu penjual rujak soto di Desa Sukowidi, Kecamatan Kalipuro, pisang klutuk merupakan bahan yang wajib dalam rujak soto. “Pisang klutuk ini akan memberikan rasa khas di rujak soto. Kalau nggak ada pisang klutuk rasanya kurang mantep,” katanya.

Setelah bumbu siap tinggal dicampur dengan campuran sayur yang direbus seperti kangkung, kacang panjang, kubis dan juga potongan tahu dan tempe yang digoreng. Setelah selesai, rujak diwadahi mangkuk dan tinggal dituangi kuah soto babat sapi. “Kalau ada yang mau biasanya ditambah lontong,” kata Mbak Atun.

Untuk soto, Mbak Atun memilih soto yang berisi babat, usus dan tetelan daging sapi. Ia bercerita cara membuat soto sama seperti soto pada umumnya. “Bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, kemiri merica. Terus disangrai dan dimasak dengan babat usus dan tetelan daging sapi. Ditambahkan juga dengan bawang prei, lengkuas, daun jeruk, serai, seledri. Kalau sudah siap tinggal dituangkan ke campuran rujak dan diberi bawang goreng, telur asin dan krupuk. Kalau suka bisa ditambahkan dengan kecap manis,” jelasnya.

Mbok Atun membandrol rujak soto lengkap dengan telur asin seharga Rp 10.000. “Murah, meriah, enak dan kenyang,” katanya.

Langganan Mbak Atun bukan hanya warga di sekitar warungnya tapi juga dari luar kota. “Banyak orang asli Banyuwangi yang tinggal di luar kota mampir ke sini kalau pas pulang kampung. Mereka biasanya menikmati pas waktu makan siang,” ungkapnya.

Lalu sejak kapan rujak sota masuk Kabupaten Banyuwangi? Menurut budayawan Banyuwangi, Hasnan Singodimayan kepada Kompas.com, Kamis (16/1/2014), pada tahun 1970-an ada lagu yang berjudul Rujak Singgol yang menjelaskan beberapa nama rujak yang ada di wilayah Banyuwangi.

“Di lagu yang berjudul Rujak Singgol disebutkan beberapa nama rujak, namun nama rujak soto masih belum disebutkan dalam lagu itu. Ada rujak uni, rujak locok, rujak lethok, rujak kecut, rujak cemplung. Namanya semuanya mengarah kepada bahan nama yang digunakan rujak atau mengolah rujak. Seperti rujak wuni yang dibuat dari buah wuni yang rasanya asam,” jelasnya.

Menurut Hasnan, rujak soto baru muncul setelah tahun 1970-an dan merupakan hasil dari keisengan penikmat rujak di Banyuwangi.

“Muncul juga rujak bakso dan pecel rawon. Tapi yang identik dengan Banyuwangi adalah rujak soto karena rasa dan perpaduannya memang unik. Seperti akhir dari lagu ‘Rujak Singgul’, Durung weruh rasane mageh arane, nganeh anehi yang artinya, belum tahu rasanya, masih namanya saja sudah aneh. Seperti itulah rujak soto,” jelas Hasnan sambil menyanyikan lagu ‘Rujak Singgul’.

Penasaran? Nah jangan bilang pernah mengunjungi Banyuwangi kalau belum menikmati rujak soto. Anda akan menikmati eksperimen kuliner campuran yang rasanya unik dengan sensasi yang istimewa.

Kompas.com

http://www.banyuwangi.us/2014/01/rujak-soto-kuliner-nyentrik-khas.html

Bandara Blimbingsari Naik Kelas III setelah 4 Tahun Beroperasi

Bandara Blimbingsari, Banyuwangi, naik status. Dalam tempo sekitar 4 tahun, bandara yang menjadi kebanggaan warga Bumi Blambangan itu naik kelas dua strip langsung dari kelas V menjadi kelas III.
Menurut Kepala Bandara Blimbingsari Andy Hendra Suryaka, berdasar Permenhub Nomor PM 40 Tahun 2014 tentang organisasi dan tata kerja kantor unit penyelenggara bandar udara tanggal 12 September 2014, kelas Bandara Blimbingsari naik dua tingkat dari semula kelas V menjadi kelas III.

“Ini adalah bentuk apresiasi pemerintah pusat, dalam hal ini Kemenhub, terhadap perkembangan Bandara Blimbingsari yang begitu pesat,” ujarnya, Sabtu (4/10).

Selain perkembangan jumlah maskapai dan penumpang, kata Andy, pembangunan sarana dan prasarana penunjang berperan terhadap peningkatan kelas bandara tersebut. Saat ini Pemkab Banyuwangi tengah membangun terminal baru Bandara Blimbingsari. Pembangunan tahap pertama terminal yang mengusung konsep green airport tersebut direncanakan rampung akhir tahun ini.

Andy menyatakan, peningkatan kelas Bandara Blimbingsari tergolong sangat cepat. Hanya dalam tempo sekitar tiga tahun. Dia menyebutkan, suatu bandara biasanya baru bisa naik status dari kelas V (bandara baru beroperasi) menjadi kelas IV dan naik menjadi kelas III setelah 20–25 tahun beroperasi.

“(Naiknya kelas) ini berkat dukungan dan kepercayaan masyarakat yang memanfaatkan jasa penerbangan melalui bandara kebanggaan kita bersama ini,’’ jelasnya.

Bandara Blimbingsari mulai dibuka untuk penerbangan komersial pada Desember 2010. Awalnya, pesawat yang melayani penerbangan adalah Grand Garavan. Kapasitas kursi penumpang pesawat yang dioperasikan PT Sky Aviation itu hanya sembilan seat, lalu ditingkatkan dengan pesawat Fokker-50 berkapasitas 48 seat. Sky Aviation melayani rute Denpasar–Banyuwangi pergi pulang (pp) dan Banyuwangi–Surabaya pp.

Pada 24 Agustus 2011, giliran maskapai Merpati Airlines yang membuka rute Banyuwangi–Surabaya dengan pesawat jenis MA-60 berkapasitas 60 seat. Sejak 20 September 2012, Wings Air menerbangi Banyuwangi dengan pesawat jenis ATR 72-600 berkapasitas 70 seat. Belakangan Garuda Indonesia menerbangi Banyuwangi mulai 1 Mei 2014.

Jpnn.com

http://www.banyuwangi.us/2014/10/4-tahun-beroperasi-bandara-blimbingsari.html

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 61 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: