Tarawih Pertama di Kampung Inggris Pare Kediri Jawa Timur

Selasa,09 Juli 2013

Salam Jenggirat Tangi !!!

Selamat Datang di Padepokan Mas Say Laros…

      Sesuai dengan keputusan menteri agama pada sidang isbat kemarin malam bahwa awal Ramadhan jatuh pada hari rabu besok tanggal 10 Juli 2013.Oleh karena itu sebagai warga Nahdliyin, mas say laros mengikuti apa yang sudah menjadi ketetapan pemerintah RI.Nach kebetulan Mas say laros kali ini masih berada di Kampung Inggris Pare Kediri maka dari itu Ramadhan kali ini merupakan ramadhan yang special bagi mas say laros karena harus menjalankan puasa pertama dikampung inggris ini.

      Suara Adzan Isya’ begitu menggema dari Camp 2 Putra – Mahesa Institute .Sahabat-sahabat CAMP 2 yang beragama islam mengajak untuk sholat Tarawih berjamaah di CAMP 2 aja.Namun mas say laros menolak ajakan mereka dengan halus karena memang saya ingin menjalankan Sholat tarawih di Musolla yang tidak jauh dari Camp 2 agar lebih Afdhol aja.

      Saya berangkat kesana dengan jalan kaki sekitar 3 menit an karena memang lokasinya dekat.Sesampai disana saya melihat Jama’ah wanita maupun pria sudah berkumpul dan merapatkan barisan dan siap untuk sholat tarawih bersama.Maka dari itu saya langsung mengambil air wudlu dan bergabung dengan mereka untuk menunaikan sholat Isya’ berjama’ah.

      Ada tradisi berbeda yang Mas say laros temui selama ikut sholat tarawih berjamaah disini jika dibandingkan dengan masjid-masjid lain yang pernah saya ketahui.Jika dimasjid lain setelah sholat Isya’ biasanya ada kuliah Tujuh Menit (KULTUM) namun disini tidak ada karena menurut Takmir masjid ketika menyampaikan setelah sholat isya mengatakan bahwa : Dengan adanya KULTUM akan memperlambat waktu sholat Tarawih karena biasanya penceramah akan molor dari jadwal KULTUM yang sudah ditentukan.

      Disamping itu Takmir musolla juga berpesan bahwa jika di musolla ini tidak menyediakan kotak amal keliling seperti pada masjid-masjid yang lain hal ini dikarenakan agar tidak mengganggu kekhusyukkan sholat Tarawih.Jadi bagi jamaah yang ingin infaq dan shodaqoh silahkan langsung menghubungi bagian Takmir atau langsung memasukkan uang di kotak amal yang ada disebelah utara Musolla.

      Sedangkan pesan terakhir yaitu Jumlah Rakaat dalam sholat Tarawih di musolla ini sebanyak 20 Rakaat jadi bagi para jama’ah yang sholatnya sebanyak 8 Rakaat silahkan meninggalkan masjid setelah melaksanakan sholat dan dimohon tidak membuat gaduh jama’ah yang lain.

Dari ketiga pesan diatas,pesan terakhir merupakan pesan yang membuat Mas say laros tertarik untuk mengkaji lebih jauh tentang Makna sebuah perbedaan.Dalam hal ini takmir masjid tersebut paham betul dengan perbedaan pandangan mengenai sholat tarawih didalam tubuh umat islam tetapi meskipun begitu bukan berarti menghalangi kita untuk saling menghargai dan saling menghormati.Alhamdulillah saya banyak belajar dari pelaksanaan shalat tarawih di Pare ini.Mudah-mudahan ini semua bisa membuka wawasan kepada kita akan indahnya sebuah perbedaan.

Berkunjung Ke CANDI SUROWONO Desa Canggu Kecamatan Badas Kabupaten Kediri

Minggu,30 Juni 2013

Salam Jenggirat Tangi…

Selamat Datang Di Padepokan Mas Say Laros..

Setelah berkunjung ke gua surowono mas say laros langsung meluncur ke candi surowono yang jaraknya sekitar 10 menit perjalanan menggunakan sepeda ontel dari gua surowono.

Candi Surowono ini, terletak di desa Canggu, kecamatan Badas, 28 Km dari pusat Kota Kediri. Bangunan candi merupakan hasil karya peninggalan sejarah sebagai tempat penyucian Raja Wengker, yang merupakan Raja bawahan dari masa kerajaan Mojopahit.

Candi Surowono yang berukuran 8 x 8 Meter dan telah dibangun sejak 1400 Masehi ini memiliki nama asli Wishnubhawanapura. Sampai sekarang, candi ini tidak dalam keadaan yang utuh, tapi di beberapa bagian masih bisa terlihat bentuk relief dan beberapa cerita yang di pahatkan.

Selama disana mas say laros tidak lupa berfoto ria bersama teman-teman yang lain.Ini adalah beberapa foto yang sempat mas say laros abadikan.

Kebersamaan Sahabat Kelas SPEAKING 1 Mahesa Institute Di Kedai TANSU Pare Kediri

Sabtu,20 April 2013

Salam Jenggirat Tangi…

Selamat Datang di Padepokan Mas Say Laros…

      Tak terasa program speaking 1 periode 25 maret 2013 di mahesa institute segera berakhir,Oleh karena itu untuk mempererat tali silaturahim di antara kita maka temen-temen kelas SPEAKING 1 membuat inisiatif dengan mengadakan acara jalan-jalan bareng di pagi hari.

      nach agenda seperti ini sebenarnya sudah kita rencanakan sejak satu minggu yang lalu, namun karena ada beberapa gendala jadi baru bisa terealisasikan pada hari sabtu 20 April 2013 ini.Sesuai dengan kesepakan kita kemarin,pagi ini kita akan berjalan menuju Kedai KETAN SUSU atau biasa di kenal dengan sebutan KEDAI TANSU.

      Pagi ini kita berangkat kesana bersama 7 orang saja karena memang temen-temen yang lain lagi sibuk dengan acaranya masing-masing.Ke tujuh orang tersebut yaitu Mas Say Laros, Mr.Rizal, Mr.Roni, Mr.Purja, Mr.Aldi, Mrs.Lala dan Mrs.Fitri. Kita menuju kesana dengan berjalan kaki disamping untuk olahraga di pagi hari juga untuk refreshing sambil menikmati segarnya udara di pagi hari….

      Mungkin sekitar 15 menitan kita sampai di KEDAI TANSU,Dari kejauhan terlihat bahwa kedai Tansu ini bisa dikatakan sebuah warung sederhana yang terletak di pinggir sawah dengan hamparan sawah yang luas dengan dikelilingi pohon padi di kanan kirinya.Meskipun hanya sebuah warung sederhana ternyata menurut temen-temen disinilah pusatnya nongkrong anak-anak muda khususnya para pelajar yang kursus di Pare sambil menikmati hidangan khas Kedai ini yaitu Ketan Susu.

Sampai disana kita ber-6 langsung mencari tempat duduk untuk ngobrol bersama, sedangkan sahabat Roni memesan makanan untuk kita semua,Kali ini kita memesan makanan berupa Kue TANSU, Kue Lapis dan beberapa minuman hangat seperti kopi dan minuman dingin seperti Es Teh.

Awalnya saya juga penasaran, seperti apa sich Kue TANSU itu?Setelah menunggu beberapa saat kemudian sang pelayan datang menghampiri kami sambil membawa makanan yang kami pesan tadi,Nach dari situ aku baru tahu ternyata kue TANSU itu terdiri dari KETAN di taburi parutan kelapa muda serta di beri cairan susu di Atasnya.Sederhana memang, namun dengan laparnya perut kita ternyata terasa nikmat juga menyantap kue TANSU ini sambil minum segelas White Coffe dan bercanda ria bersama temen-temen sekelas.

Dengan bercanda ria inilah akhirnya kita tahu dibalik layar kepribadian masing-masing sahabat kelas kita yang selama ini tidak saya ketahui.Mulai ada yang biasanya banyak bicara di Camp namun ternyata ketika berhadapan dengan teman-teman menjadi seorang yang pendiam, ada lagi seorang yang kelihatannya cuek dengan teman-teman kelas ternyata asik juga ketika di ajak berbicara, dan ada juga yang hobinya narsis habis…bahkan setiap gerakannya, dia minta di abadikan dengan kamera.Subhanalllah begitu indah miniature sebuah kehidupan yang aku temui kali ini.

Tak terasa jam menunjukkan pukul 09:38 WIB,Cuaca cukup panas dan perut terasa lapar meskipun sudah makan sepiring nasi ketan namun Orang Indonesia bilang ‘’Belum dikatakan sarapan kalau belum makan nasi’’ oleh karena itu kita semua sepakat untuk mengakhiri perbincangan kita yang semakin seru ini.

Dalam perjalan pulang inilah satu persatu teman kita berpisah untuk pamit pulang ke camp masing-masing sehingga dari tujuh orang tersebut hanya tersisa 4 orang yaitu Mrs.Lala, Mrs.Fitri, Mr.Purja dan Mas Say Laros. Akhirnya kita berempat mampir ke kedai WAKAFO untuk sarapan pagi. Nach di kedai wakafo inilah Mas Say Laros mendapatkan sedikit pencerahan dari sahabat purja ketika berbicara masalah efek negative dari pacaran. Katanya Purja, Ustadz Yusuf Mansur berkata orang pacaran itu akan mengurangi sebuah rezeki oleh karena itu sampai saat ini sahabat Purja memegang prinsip tidak pacaran tetapi ingin langsung menikah saja agar hidupnya lebih barokah.

Ya,Setiap orang bebas memilih jalan hidupnya masing-masing asal menuju pada tujuan yang positif.Subhanalllah hari ini Mas Say Laros banyak mendapatkan sebuah wawasan baru yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya.Mudah-mudahan sedikit pencerahan ini menambah keimanan Mas Say Laros untuk selalu istiqomah dalam beribadah kepada-NYA.Amin…

SPEAKING ONE

ENGLISH IS EASY

  • Di tulis di kamar OHIO STATE UNIVERSITY CAMP 2 Mahesa Institute Tulung Rejo Pare Kediri pukul 12:16 PM.

 

Sejarah Lahirnya Kampung Inggris Pare Kediri

Senin,08 April 2013

Salam Jenggirat Tangi…

Selamat Datang di Padepokan Mas Say Laros…

Kampung Inggris? apa sih Kampung Inggris itu dan sejak kapan berdiri?, Sejarah berdirinya Kampung Bahasa Inggris (Kampung Inggris) ini berawal dari sebuah lembaga kursus yang didirikan oleh Pak Kalend Osen (lebih dikenal dengan nama Mr. Kalend) pada tanggal 15 Juni 1977, lembaga tersebut bernama Basic English Course atau yang masyhur dengan sebutan BEC sesuai singkatan nama lembaga tersebut. Namun sebelum lembaga kursus BEC berdiri, Pare sudah terkenal dan menjadi tempat favorite mahasiswa dari luar kota yang kebanyakan sedang persiapan untuk ujian Skripsi, orang yang paling dicari oleh para mahasiswa (Kebanyakan mahasiswa akhir semester dari IAIN Sunan Ampel Surabaya) tersebut adalah Ustad Yazid, seorang ahli bahasa asing di Tulungrejo – Pare yang konon menurut cerita masyarakat dan keluarganya beliau menguasai hingga 7 bahasa asing, Mr. Kalend menguasai bahasa inggris pun belajar secara privat dengan Ustadz Yazid.

 

Lamanya proses berdirinya Ekosistem Kampung Inggris memakan waktu yang sangat lama, dan membutuhkan perjuangan yang luar biasa, Sebut saja bagaimana luar biasanya perjuangan Mr. Kalend dalam merintis lembaganya, Menurut sebagian tokoh masyarakat, Bapak Ahmad Ikhwan, pemangku musholla Al-Ikhwan, Dusun Singgahan, Bapak Drs. H. Hasbi Mursyid, pensiunan guru SMA di Pare, menceritakan bahwa dulu pak Kalend sering mengajar anak-anak di emperan rumah orang kampung atau di serambi masjid Darul Falakh, pernah juga di Balai Desa Pelem, kadang-kadang di bawa ke tempat-tempat bersejarah seperti Candi Surowono, Tegowangi, dan sesekali juga diajak ke lapangan, belajar sambil berolah raga.

Menurut beberapa alumni pertama Mr Kalend seperti Shohib, tetangga sekaligus family dari istri pak Kalend, Ajie Bahleuwi (pendiri kursusan LIBERTY), Liliek Sosiowati, instruktur EECC, menginformasikan bahwa siswa pak Kalend waktu awal-awal mengajar ternyata tidak banyak, sekitar lima sampai sepuluh orang. Itupun yang hadir saling bergantian, jarang istiqomah hadir bersamaan secara penuh di setiap pertemuan. Jadi bongkar pasang. Bahkan pernah siswanya juga habis di tengah jalan.

Kita tentu bisa membayangkan betapa susahnya saat itu untuk mengumpulkan pelajar yang minat dan mau belajar bahasa Inggris! Rata-rata pelajar waktu itu tidak suka bahasa Inggris, karena asumsi mereka bahasa Inggris itu sangat sulit, tidak menarik, ditambah lagi lokasinya di daerah terpencil, listrik belum ada yang mana membuat bahasa inggris tidak populer disini.

Namun Mr. Kalend bukanlah tipe orang yang mudah menyerah dalam menghadapi berbagai keadaan dan tekanan; muridnya habis di tengah jalan, diperlakukan yang tidak layak oleh orang-orang yang tidak suka dengan bahasa Inggris, tuntutan kebutuhan hidup yang terus mengejarnya, dll. Beliau tetap tegar, berdiri tegak dan mencari dan mencari siswa lagi untuk diajari bahasa Inggris.
Meski dengan modal perlengkapan yang sangat terbatas tapi pantang menyerah itulah akhirnya Mr Kalend banyak melahirkan alumni yang akhirnya ikut “meramaikan” kursusan di Pare hingga mencapai “prestasi” seperti sekarang ini.

 

Jimat pantang menyerah, dan selalu istiqomah (jika dihitung dari berdirinya BEC maka proses terbentuknya Kampung Inggris sudah memakan waktu selama 35 tahun hingga saat ini, ini belum dihitung proses yang diperjuangkan oleh Ustadz Yazid), sehingga sudah sewajarnyalah kampung inggris bisa seperti sekarang ini yaitu menjadi pusatnya belajar bahasa inggris di Indonesia.

Artikel ini di rangkum dari sumber berikut:

  1. Website Duta Pare (Jasa Konsultan, Guide, Pendaftaran Online dan Offline, Wisata Kampung Inggris, Travel Agent): http://www.kampunginggris.co.id/2012/01/jimat-ke-masyhuran-kampung-inggris.html
  2. Database dan website PIKIP (Pusat Informasi Kampung Inggris Pare): http://www.kampoenginggris.com/2011/02/sejarah-kampung-inggris-pare-1.html dan http://www.kampoenginggris.com/2011/02/sejarah-kampung-inggris-pare-2.html
  3. Facebook Kampung Bahasa / Kampung Inggris: www.facebook.com/KampungBahasa
  4. http://www.kampunginggris.org/
  5. www.kampunginggris.co.id

 

 

 

 

Kampung Inggris,Sebuah Miniatur Keragaman Budaya Bangsa

Kamis,28 Maret 2013

Salam Jenggirat Tanggi,,,

Selamat Datang Di Padepokan Mas Say Laros…                                                   

Welcome To English Village ,Sebuah tulisan yang artinya ‘’Selamat Datang Di Kampung Inggris’’  ini ditulis dengan desain yang menarik terpampang diberbagai sudut desa tulung rejo dan desa palem kecamatan pare Kabupaten Kediri. Ya,kawasan yang dikenal dengan kampung inggris ini memang menyuguhkan sesuatu yang menarik bagi para pelajar yang ingin memperdalam bahasa asing mulai jepang,prancis,arab maupun inggris. Lalu mengapa desa ini di juluki KAMPUNG INGGRIS ? Ya hal ini mungkin karena sebagian besar lembaga kursusan di sini membuka program bahasa inggris maka kampung ini dinamakan kampung inggris.

Bagi orang yang belum pernah berkunjung di kampung inggris ini mungkin akan mengira bahwa yang dinamakan kampung inggris adalah sebuah wilayah yang di huni oleh turis mancanegara dan percakapan yang digunakan setiap hari adalah memakai bahasa inggris. Namun ketika Mas Say Laros mencoba datang sendiri di kampung inggris ini, Ternyata Dugaanku selama ini salah semua.Malah aku tidak menemukan turis asing disini yang aku temukan hanya puluhan bahkan ratusan lembaga kursus bahasa asing dan ribuan peserta kursus yang datang dari belahan wilayah di Indonesia.

Bagi yang ingin belajar bahasa inggris dari NOL, Tidak salahnya anda mencoba untuk datang langsung kesana karena disamping lokasi yang mendukung fasilitasnya pun sangat mendukung untuk belajar bahasa asing. Salah satu contoh lembaga yang bisa saya rekomendasikan adalah Mahesa Institute, Mas say laros kebetulan mengambil program SPEAKING 1 selama satu bulan disana saya merasa nyaman,Bagaimana tidak?Disamping kualitas Tutor yang sangat kompeten dibidangnya bahkan lebih enjoy dari pada dosenku di kampus. Ruangan belajarpun juga nyaman dengan desain seperti perkuliahan dan lengkap dengan AC sehingga membuat student yang belajar disana merasa betah untuk lama-lama belajar bahasa inggris.

Selama tinggal di pare Mas say laros merasakan seperti mendapatkan dunia baru, Mengapa? Karena selama tinggal di pare inilah aku mendapatkan banyak pengalaman dari teman-teman baruku. Rata-rata mereka berasal dari luar wilayah Kediri seperti malang, lamongan, NTT, NTB, Kalimantan, Aceh bahkan Ada juga yang berasal dari Papua. Dari situlah akhirnya saya sering bertukar pikiran dengan mereka dan akhirnya kita tahu tentang kebudayaan masing-masing.

Disamping itu mereka mempunyai tujuan yang berbeda ketika datang ke pare mulai untuk kenaikan pangkat/gaji, untuk melanjutkan studi baik di dalam maupun luar negeri, untuk membuka kursus baru di rumah dan bahkan untuk menjadi seorang pemandu wisata.

Pare, Meskipun ini adalah sebuah wilayah yang cukup kecil namun disinilah keanekaragaman budaya bangsa bertemu. Alangkah indahnya jika masyarakat Indonesia bisa belajar menghargai sebuah perbedaan seperti temen-temen yang ada dipare ini meskipun berbeda suku, agama,dan budaya namun tetep bersatu untuk menuju tujuan yang sama.

I LOVE INDONESIAN CULTURE

  • Di Tulis di pada hari Kamis, 28 Maret 2013 Pukul 09:25 PM
  • Kamar Ohio University MAHESA CAMP 2 Desa Tulungrejo Pare Kediri

 

Hari Pertama Belajar English Bareng Mahesa Institute Pare Kediri

Senin,25 Maret 2013

Salam Jenggirat Tangi…

Selamat Datang di Padepokan Mas Say Laros…

                  Bicara Lembaga kursusan di Kediri, Maka sebagaian dari kita tentu tidak akan melupakan sebuah tempat yang terkenal dengan nama KAMPUNG INGGRIS. Kenapa demikian? Ya,karena tepatnya di dua desa yaitu desa tulung rejo dan desa palem kecamatan Pare Kabupaten Kediri inilah berdiri puluhan bahkan mungkin ratusan kursusan bahasa asing antara lain bahasa inggris,prancis ,jepang  , mandarin Dll namun karena sebagaian besar lembaga kursus disana membuka program bahasa inggris maka daerah ini lebih di kenal dengan nama Kampung Inggris.

Perlu sahabat MSL ketahui di pare ada puluhan lembaga kursus dan masing-masing lembaga memiliki keunggulan, sistem dan produk yang berbeda. Nach kebetulan ketika pertama kali mas say laros datang ke Pare saya mendaftar di Mahesa Institute ini dengan mengambil program Speaking 1 dengan durasi 1 bulan,2 kali pertemuan/hari mulai senin-jumat dengan harga 210.000/program.

Nach, hari Senin,25 Maret 2013 ini merupakan hari pertama MSL mengikuti program speaking 1 untuk sesi pertama pukul 10:00 – 11:30 WIB dan sesi kedua pukul 16:00 – 17:30 WIB. Setelah menunggu cukup lama akhirnya Mas Say Laros mengikuti program speaking 1 di gedung Mahesa Institute tepatnya di ruang CAMBRIDGE. Kebetulan selama di pare MSL tinggal di CAMP 2 tepatnya di belakang gedung Mahesa Institute so untuk menuju ruang kursus hanya membutuhkan beberapa langkah saja.

Bersama dengan sahabat-sahabat baru mas say laros melangkahkan kakinya menuju ruangan.Ternyata ketika sampai disana,Mas say laros melihat sudah banyak sahabat2 baru yang sudah berada di ruang kelas baik dari kalangan cewek maupun cowok.Sebagai teman baru wajar saja jika saya berkenalan dengan mereka satu persatu ada yang dari gresik, Lombok, Surabaya, jogja dll.

lima menit kemudian seorang wanita cantik yang berbalut jilbab rapi masuk kedalam ruangan sambil mengucapkan salam dan kita jawab salam tersebut dengan penuh semangat.Setelah berbasa-basi sedikit ternyata beliau adalah Miss.Dewi seorang tutor wanita yang menggantikan kelas kita pada pagi ini karena tutor yang sebenarnya lagi ada acara.

Meskipun ini hanya sebuah kursus namun fasilitas yang ada dan suasana ruangan seperti perkuliahan di kampus. Jadi saya kira wajar jika saya betah mengikuti proses pembelajaran yang ada. Seperti pada pertemuan kuliah pertama, dalam pertemuan pertama di speaking 1 ini kita dipersilahkan oleh Miss.Dewi untuk mengenalkan identitas kita di depan kelas sambil berdiri di atas kursi.Namanya juga siswa baru,jadi sudah menjadi hal kewajaran jika beberapa dari kita merasa grogi.

Satu persatu siswa bergantian menuju depan kelas untuk memperkenalkan dirinya mulai nama lengkap, nama panggilan, alamat, tanggal lahir sampai motivasi kita belajar bahasa inggris. Setelah itu kepada audiens di persilahkan memberikan tiga pertanyaan kepada teman-teman yang berdiri di depan kelas.

Tak terasa untuk Speaking 1 sesi satu berakhir karena memang waktu yang dibutuhkan untuk kelas ini hanya 1 jam setengah yaitu pukul 10:00 – 11:30 WIB. Akhirnya program ini di tutup dengan bacaan Bismillah oleh Miss Dewi.

Namun ketika kami akan keluar ruangan ada dua orang mahasiswi dari Universitas Negeri Malang memasuki ruangan dan meminta kepada kita untuk mengisi beberapa lembar angket sebagai bahan untuk mengerjakan Skripsinya.

Alhamdulilah setelah mengisi beberapa angket tersebut Mas say laros kembali ke CAMP 2 untuk mandi dan sholat dhuhur karena untuk persiapan program Speaking 1 sesi 2 nanti sore pada pukul 16:00 – 17:30 .

***@@@@@@@@***

                  Jam menunjukkan pukul 16:00 WIB, seluruh siswa Speaking 1 memasuki ruangan kursus tepatnya di ruang MANCHESTER . Selang beberapa menit kemudian seorang pria dengan berbadan gemuk dan berjalan gemulai memasuki ruangan. Ya itulah tutor kita yang bernama KURNIAWAN MUHAMMAD MUNAF atau lebih familiar di panggir Mr. Iwan yang berasal dari Jombang.

Pada pertemuan pertama bersama Mr.Iwan ada sebuah pengalaman yang menyenangkan, karena memang selama di ajar beliau aku baru mengetahui kosakata-kosakata baru yang belum pernah aku dengar disamping itu beliau juga memberikan motivasi, tips dan trik bagaimana cara belajar bahasa inggris dengan cepat.

Mudah-mudahan pembelajaran bahasa inggris di mahesa institute selama satu bulan ke depan berjalan dengan Lancar tanpa ada halangan suatu apapun.Amin …

ENGLISH IS EASY

  • Di tulis di kamar Ohio St University Camp 2 Mahesa Institute Desa Tulung Rejo Kecamatan Pare Kabupaten Kediri Pada Hari senin 25 Maret 2013 pukul 22:00 WIB

Dan Kyai-pun Ikut Berwacana Tanpa Realita

Kamis,07 Februari 2013

Salam Jenggirat Tangi…

Selamat Datang Di Padepokan Mas Say Laros…

                  Ketika liburan kampus,Mas say laros biasanya mengisi liburan di kampung halaman dengan dengan mengajar anak-anak TPQ dan kadang-kadang juga ikut belajar kesenian bareng paguyuban jaranan campursari ‘’TRISNO BUDOYO’’ yang ada wilayahku yaitu kecamatan pesanggaran banyuwangi.

                  Disamping itu jika ada waktu luang mas say laros juga menyempatkan diri bersosialisasi dengan masyarakat sekitar,ya disamping untuk mengisi waktu kosong juga untuk mempererat tali silaturahim sesama tetangga.Nach,dari obrolan-obrolan hangat inilah mas say laros mendapatkan sedikit informasi tentang virus permasalahan yang menyerang masyarakat di desaku.Sehingga dengan adanya topic-topik baru inilah yang akan menjadi bahan diskusi hangat ala masyarakat kampung seperti para akademisi yang berdiskusi secara ilmiah.

                  Kebetulan ketika mas say laros ikut ngobrol ngalor ngidul bersama mereka kali ini topic yang lagi hangat adalah seputar krisis.Krisis yang dimaksud disini bukanlah krisis moneter seperti tahun 1998 lalu namun yang dimaksud disini adalah berupa krisis kepercayaan masyarakat kepada para pemimpinnya baik itu para pejabat maupun para tokoh masyarakatnya.Sebenarnya topic seperti ini muncul tidak secara kebetulan saja namun memang ada sumber permasalahan yang melatarbelakanginya.

                  Sumber masalah ini muncul karena adanya salah satu tokoh agama di masyarakat kami yang biasa disebut Kyai kampung,Beliau dijadikan panutan masyarakat karena memang dia dianggap memiliki ilmu agama diatas rata-rata dibanding orang-orang yang ada dikampung mas say laros pada saat itu.Hal ini wajar jika beliau di anggap sebagai kyai kami Karena memang di desa kami sulit sekali menemukan orang yang bisa membaca al-quran dengan baik dan benar.Rata-rata,Mereka lebih suka mengumpulkan harta benda dari pada mengeluarkan uang untuk biaya pendidikan baik umum maupun agama sehingga tidaklah heran jika sulit menemukan orang yang tahu ilmu agama.

                  Sebagai tokoh panutan wajar saja jika setiap petuahnya akan selalu diingat dan penjadi panutan oleh masyarakat sekitar.Namun anehnya petuah demi petuah yang beliau sampaikan ternyata hanya omong kosong belaka kalau akademisi biasanya mengatakan hanya wacana tanpa realita,Hal ini terbukti ketika dalam setiap ceramahnya beliau menggembor-nggemborkan sedekah,namun suatu saat ketika akan ada pembangunan masjid dan setiap orang di minta iuran satu dus keramik masih saja dia berkilah dengan mengusulkan bahwa ia ingin iuran ½ dus keramik.

                  Bukan itu saja,ketika beliau berkoar-koar HARAM hukumnya menggunakan harta kepentingan umat untuk kepentingan pribadi.Namun anehnya beliau juga masih mau memakan uang hasil sedekah dari masyarakat yang seharusnya digunakan untuk kepentingan umat.

                  Jadi,saya kira wajar saja kalau akhirnya masyarakat awam mulai tidak percaya lagi dengan tokoh panutannya.Apalagi ditambah dengan tayangan TV yang akhir-akhir ini  pemberitaan yang popular adalah kasus korupsi dikalangan pejabat bahkan pelakunya mayoritas adalah orang islam dan beberapa juga memiliki gelar kyai haji.

                  Maka dari itu,benar apa yang dikatakan oleh temen beberapa waktu lalu gelar kyai haji bukanlah jaminan seseorang pasti akan berbuat baik sesuai dengan syariat agama islam.Karena memang justru orang-orang yang ngerti agama tanpa dilandasi oleh keimanan yang kuat inilah yang akan menghancurkan agama islam itu sendiri.So,sudah saatnya kita sebagai generasi penerus bangsa ini berbenah mulai sekarang.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 62 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: