Kepemimpinan Perempuan Menurut al-Qardhawi

Hal yang cukup menarik banyak perhatian adalah masalah kepemimpinan perempuan di mana dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda, “tidak beruntung suatu kaum yang menguasakan urusan mereka kepada perempuan” (HR. Bukhari, Ahmad, at-Tirmidzi, an-Nasa`i) dan sebuah ayat dalam al-Qur`an surat al-Ahzab: 33 yang berbunyi, “hendaklah kamu tetap di rumahmu…”.

Dengan adanya hadis dan ayat di atas, sebagian ulama berpendapat bahwa perempuan tidak dibenarkan keluar dari rumah kecuali karena darurat atau ada keperluan. Selain itu, ada juga yang melihat dari sisi lain yaitu dari sudut kaidah saddu adz-dzari’ah (usaha preventif), karena apabila seorang perempuan aktif di luar rumah atau menjadi pemimpin maka ia akan bercampur baur dengan kaum laki-laki bahkan kadang-kadang berkhalwat dengannya padahal yang demikian itu haram, dan sesuatu yang membawa kepada yang haram adalah haram. Pendapat lain yang juga melarang kaum perempuan menjadi pemimpin adalah pemahaman yang diambil dari al-Qur`an (an-Nisa`: 34) bahwa laki-laki adalah sebagai  pemimpin bagi perempuan. Jika perempuan menjadi pemimpin, maka ia akan berkuasa terhadap laki-laki, sehingga akan terjadi pemutarbalikan aturan di mana perempuan menjadi pemimpin laki-laki.

Dalam menyikapi polemik seputar keaktifan dan kepemimpinan perempuan di kancah publik, al-Qaradhawi (1998: 2/521) pertama-tama menolak pengambilan dalil orang-orang yang melarang keaktifan di luar rumah, sebagai berikut :

Pertama, surat al-Ahzab: 33, adalah ayat yang khusus ditujukan kepada istri-istri Nabi sebagaimana tampak jelas dalam konteks kalimatnya. Meskipun sudah ada ayat ini, Aisyah ternyata masih keluar rumah bahkan turut serta dalam perang Jamal.

Kedua, mengenai hadis “tidak beruntung suatu kaum yang menguasakan urusan mereka kepada perempuan”, yang dimaksud dalam hadis ini adalah kekuasaan umum atas seluruh umat, yakni memimpin negara. Dalam praktek umat Islam sepanjang masa terlihat bahwa perempuan boleh memegang kendali kekuasaan menurut spesialisasi masing-masing, bahkan ulama seperti Imam at-Thabari dan Ibnu Hazm memperbolehkan perempuan menjadi hakim dalam semua perkara.

Ketiga, ayat yang menyebutkan kepemimpinan laki-laki atas perempuan itu adalah dalam konteks rumah tangga.Dengan demikian tidak ada alasan bagi al-Qaradhawi untuk melarang kaum perempuan untuk melakukan aktivitas di luar rumah, bahkan untuk menjadi anggota parlemen. Hal ini juga didasari adanya suatu keadaan dimana kadang-kadang keperluan sosial politik lebih penting daripada keperluan pribadi. Hal itu tentunya menuntut perempuan untuk keluar ke tengah-tengah kehidupan. Dalam hal ini al-Qaradhawi masih belum sampai pada memperbolehkan perempuan untuk menjadi pemimpin negara, adapun selain itu, bahkan untuk menjadi anggota parlemen, dia cenderung memperbolehkan.

Sumber : http://kangsalim79.blogspot.com

About these ads

PIN BBM : 7CD885B5 == BBM CHANNEL : C0028060A

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 62 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: