Jurnal Gandrung : Membongkar yang Disembunyikan: Homoseksualitas dalam Islam Oleh AHMAD ZAINUL HAMDI, Dosen IAIN

Rabu,01 Mei 2013

Salam Jenggirat Tangi…

Selamat Datang Di Padepokan Mas Say Laros…

Membongkar yang Disembunyikan:

Homoseksualitas dalam Islam

AHMAD ZAINUL HAMDI, dosen di IAIN dan ketua divisi

Pendidikan dan Penelitian di GAYa NUSANTARA dan Centre for

Marginalized Communities Studies (CMARs).

Jurnal Gandrung Vol.1 No.1 Juni 2010

ABSTRAK Wacana keislaman klasik dipenuhi dengan doktrin yang mengutuk homoseksualitas. Doktrin ini biasanya merujuk pada kisah Nabi Luth dalam al-Qur’an dan beberapa Hadits Nabi yang membicarakan tentang hukuman terhadap orang-orang yang melakukan hubungan seks sejenis. Akan tetapi, doktrin kutukan tersebut meninggalkan lubang besar karena ia semata-mata lahir dari purbasangka heteronormativitas dan pengetahuan seksualitas pada masa itu. Fiqh Islam yang berisi kutukan terhadap homoseksualitas diformulasikan pada Abad ke-VIII/IX Masehi di mana ilmu pengetahuan masih belum sanggup memisahkan antara seks,orientasi seksual, perilaku seksual, dan identitas gender. Di samping itu, tidak ada satu pun data sejarah tentang penghukuman terhadap pelaku seks sejenis pada zaman Nabi Muhammad. Sekalipun hubungan seks sejenis mendapatkan larangan yang sangat keras dalam wacana keislaman, namun hal itu tidak selalu segaris dengan praktik di dalam komunitas Muslim. Mairil di lingkungan pesantren setidaknya bisa menjadi contoh bahwa kekakuan sebuah doktrin, yang biasanya dilegitimasi melalui praktik penafsiran tertentu, tetap dengan mudah bisa disiasati.

Kata Kunci: Luth, Sodom-Gomorah, Islam, homoseksualitas, heteroseksualitas, tafsir, mairil.

PENDAHULUAN

Mencari pembenaran terhadap hubungan seks sejenis dalam teksteks agama hampir seperti mencari jarum di laut. Teramat sulit! Wacana dominan dalam Islam dan Kristen, dua agama besar dunia misalnya, tegas-tegas mengutuk hubungan seks sejenis sebagai perilaku yang terlaknat dengan menyandarkan pada pelaknatan Tuhan atas Kaum Luth (Kisah Sodom-Gomorah). Akan tetapi, pertanyaan awal yang bisa diajukan di sini adalah apakah agama, hanya karena sifat keilahiannya, merupakan fenomena yang hadir di luar sejarah ataukah ia juga merupakan fenomena historis yang bisa dibaca dari perspektif kesejarahan?

Terkait dengan ini, bagaimana kita membaca teks-teks keagamaan, baik kitab suci maupun karya-karya ulama? Penelaahan kitab suci (al-Qur’an) melahirkan satu kesan kuat bahwa manusia yang menjadi objek seruan Tuhan selalu berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. Seruan ini bisa kita lacak pada berbagai aturan keagamaan yang hanya mengatur dua jenis kelamin tersebut mulai peribadatan (ritual) sampai pada aturan-aturan kehidupan, termasuk hubungan seksual.

Tulisan ini hanya akan berbicara homoseksualitas dari perspektif Islam, dan berangkat dari sebuah gairah untuk tahu, adakah nada-nada tersembunyi selain suara dominan tentang terkutuknya kaum homoseks? Pertanyaan ini perlu diketengahkan Dengan asumsi bahwa ajaran keislaman yang dipopulerkan oleh ulama hanyalah sebuah tafsir. Asumsi ini dengan sendirinya mengakui adanya keterbukaan tafsir, bahwa setiap orang memiliki hak dan caranya sendiri dalam melakukan penafsiran karena kegiatan penafsiran sesungguhnya bukanlah mereproduksi makna, tapi memproduksi makna. Karena status kerja penafsiran sebagai produksi makna, maka horizon seorang penafsir yang hidup dalam penggalan sejarah, tempat, dan kepentingan tertentu, tidak mungkin untuk diabaikan.

Oleh karena itu, maka wacana keilmuan Islam tertentu yang dihasilkan oleh para ulama di era tertentu, sedominan apapun, tidak bisa menghentikan kerja-kerja penafsiran berikutnya dengan berbagai kemungkinan hasilnya yang bisa jadi akan sangat bertentangan dengan karya tafsir ulama terdahulu. Untuk memudahkan pembahasan, maka tulisan ini akan terbagi menjadi tiga. Bagian pertama akan mendiskusikan tentang wacana keilmuan Islam tentang homoseksualitas. Berbagai teks hadits yang sering digunakan dalam menghukumi kaum homoseks serta Sunnah para Sahabat dibahas di bagian dua. Sementara, bagian tiga mencoba melihat pengalaman nyata umat Islam dalam hal hubungan seks sejenis.

Bagian pertama akan mendiskusikan tentang wacana keilmuan Islam yang diproduksi oleh ulama Islam klasik yang sampai sekarang dianggap sebagai tafsir Islam yang paling otoritatif. Sedemikian otoritatifnya, maka tafsir para ulama tersebut tetap dipelajari dan diikuti dari generasi ke generasi hingga sekarang. Tafsir tersebut dianggap sebagai sebuah manifestasi dari Islam itu sendiri secara sah sehingga harus dijaga dan pelanggaran terhadapnya sering dianggap sebagai pelanggaran terhadap suara sah Islam.

Bagian kedua akan mendisukusikan berbagai teks hadits yang membicarakan tentang homoseksualitas. Karena hadits pada dasarnya adalah rekam jejak perkataan, perbuatan dan sikap Nabi, maka adalah penting untuk melihat rekaman sejarah kasus homoseksualitas pada Era Nabi. Terkait dengan ini, maka perlu juga diungkap tentang pandangan dan perilaku para Sahabat terkait dengan keberadaan kaum homoseks.

Bagian ketiga mendikusikan tentang bagaimana sebenarnya yang terjadi dengan pengalaman nyata umat Islam (santri) dalam hal hubungan seks sejenis. Bagian ini akan membincang ulang tentang fenomena mairil (hubungan seks sesama jenis yang terjadi di dunia pesantren). Pertanyaan mendasar adalah kalau hubungan sejenis memang dikutuk secara keras oleh Tuhan, mengapa para santri banyak melakukan mairil. Apa argumen keagamaan mereka? Melihat ini semua, akan memungkinkan kita untuk mendengar suara lain dan mencari pelajaran bagaimana keketatan sebuah doktrin agama tetap saja bisa ditawar, bahkan mungkin diruntuhkan.

 

WACANA KEILMUAN ISLAM TENTANG HOMOSEKSUALITAS

Jelaslah bahwa seksualitas adalah sebuah wilayah studi yang mutakhir. Mempertimbangkan hal ini, maka keilmuan Islam yang disusun pada Abad ke-VIII/IX Masehi jelas tidak cukup memadai untuk membicarakan tentang seksualitas saat ini. Hal ini terlihat dengan ketidakmampuan keilmuan Islam untuk membedakan antara identitas gender, identitas seksual, orientasi seksual, dan perilaku seksual. Pembicaraan tentang hubungan seks sejenis selalu meloncat-loncat di antara keempat konsep tersebut seakan-akan keempatnya bisa dipertukarkan sebagai sinonim.

Di dalam wacana fiqh (hukum Islam yang disusun oleh para ulama), pembicaraan tentang homoseksualitas biasanya dikaitkan dengan pembicaraan tentang khuntsa. Khuntsa diartikan sebagai orang laki-laki yang bertingkah laku seperti perempuan atau seseorang yang memiliki alat kelamin ganda (al-Bujayrami t.th.:230). Jadi, di dalam fiqh, istilah khuntsa merujuk pada manusia yang berjenis kelamin ganda (interseks) dan orang yang memiliki penis namun berdandan seperti perempuan (waria). Definisi ini sudah bermasalah karena mencampuradukkan antara seks dan gender. Intekseks merujuk pada identitas seksual, sedang waria atau transgender merujuk pada identitas gender.

Dua makna khuntsa tersebut tidak dipahami secara terpisah karena memang perangkat keilmuan saat itu tidak memungkinkan untuk bisa membedakan antara identitas seks dan identitas gender. Hal ini juga bisa dilihat pada pembagian khuntsa. Para ulama fiqh membagi khuntsa menjadi dua: khuntsa munsykil dan khuntsa ghayru musykil. Khuntsa musykil adalah apabila kedua kelamin berfungsi, sedang ghayru musykil adalah khuntsa yang salah satu identitas seksualnya terlihat lebih dominan sehingga tetap bisa diidentifikasi sebagai laki-laki atau perempuan (al-Jawi t.th.:43).

Jelas pembagian ini semata-mata merujuk pada khuntsa dalam pengertian interseks. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Qudamah dan Sayid Sabiq bahwa khuntsa adalah seorang yang hanya memiliki lubang untuk kencing yang terletak di tempat yang biasanya ditempati vagina, atau memiliki penis dan vagina sekaligus (al-Mughni t.th.:258; Sabiq t.th.:454). Akan tetapi, pembicaraan khuntsa dalam pengertian seks ini bisa secara tiba-tiba beralih menjadi khuntsa dalam pengertian transgender, seakan-akan transgender tersebut terbentuk karena identitas kelamin yang bercampur antara laki-laki dan perempuan, atau setiap interseks pasti menjadi waria sehingga interseks sama dengan waria.

Jika khuntsa dalam pengertian interseks dianjurkan untuk operasi ganti kelamin, maka khuntsa dalam pengertian transgender diharamkan.32 Anjuran operasi ganti kelamin ini dalam rangka memperjelas identitas kelamin seseorang untuk secara tegas menjadi laki-laki atau perempuan, sedang pengharaman transgender dilakukan agar memenuhi tuntutan peran gender, misalnya seorang laki-laki tidak boleh berpakaian dan berperilaku sebagaimana umumnya dianggap sebagai pakaian dan perilaku perempuan, begitu juga sebaliknya.

Jelas bahwa tuntutan ini didasarkan atas asumsi penyamaan antara seks dan gender. Pengetahuan awam meyamakan keduanya seakan-akan keduanya bersifat natural. Tidak mengherankan jika perilaku yang melawan ketentuan peng-gender-an (nonkonformitas gender) dianggap sebagai melawan kodrat seperti seseorang yang tidak mau menerima keberadaan identitas seksnya.33 Penggolongan khuntsa menjadi dua macam tersebut juga menunjukkan betapa tidak memadainya ilmu medis saat itu dalam membicarakan fenomena interseks. Dalam kasus interseks, di mana seseorang memiliki kelamin ganda, maka pasti hanya salah satu darinya yang berfungsi; tidak mungkin kedua alat kelamin tersebut berfungsi. Oleh karena itu, maka ulama fiqh sendiri menyatakan bahwa khuntsa musykil (kedua alat kelaminnya berfungsi) hanya akan terjadi pada masa kanak-kanak. Ketika tumbuh dewasa akan menunjukkan tanda-tanda ke arah identitas seksual yang pasti, dan menjadi ghayru musykil (al-Jawi t.th.:43-44). Yang terjadi di sini sesungguhnya adalah bukan kedua alat kelaminnya berfungsi, namun karena masih kanak-kanak, maka belum bisa ditentukan mana sesungguhnya identitas seksual yang dominan.

Di samping itu, ilmu medis saat itu juga belum cukup berkembang dalam membicarakan interseks. Interseks tidak bisa semata-mata dilihat dari anatomi seksual eksternal. Interseks adalah istilah umum yang digunakan untuk berbagai kondisi di mana seseorang lahir dengan anatomi seksual dan resproduksi yang tampaknya tidak sesuai dengan definisi tipikal perempuan atau laki-laki. Misalnya, seseorang mungkin lahir tampak perempuan dari luar, namun memiliki anatomi tipikal laki-laki di dalam. Atau orang dapat lahir dengan alat kelamin yang tampak di antara tipe laki-laki dan perempuan yang umum, misalnya, seorang anak perempuan mungkin lahir dengan klitoris yang mencolok besar sehingga tampak seperti penis, atau tidak memiliki lubang vagina, atau seorang anak laki-laki yang lahir dengan penis yang mencolok kecil sehingga tampak seperti klitoris, atau dengan skrotum yang terbelah sehingga berbentuk lebih seperti labia. Atau, seseorang lahir dengan genetika mosaik, sehingga sebagian selnya memiliki kromosom XX dan yang lain XY (Intersex Society of North America 2010).

Jelas wacana keilmuan Islam sangat dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan keyakinan-keyakinan umum saat itu. Hanya dengan berpikir demikianlah, maka kita bisa memahami pembagian khuntsa menjadi musykil dan ghayru musykil dengan definisi sebagaimana yang terpapar di atas. Dengan melihat perkembangan peradaban manusia saat itu juga memungkinkan kita untuk memahami pengacauan antara seks dan gender. Dengan mempertimbangkan kevakuman kosa kata al- Quran tentang jenis kelamin di luar laki-laki dan perempuan, maka pengaturan terhadap khuntsa jelas-jelas merupakan kreasi bebas ulama. Dalam arti bahwa keputusan hukum dan berbagai aturan yang menyertainya tidak ditemukan dalam kitab suci, tapi merupakan kreasi ulama pada satu masa dan tempat tertentu yang sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan dan keyakinan umum saat itu. Ini memperlihatkan bahwa sebuah tafsir keagamaan yang sangat menentukan dalam kehidupan umat, diproduksi oleh cara pandang tertentu di zamannya.

Di samping khuntsa, konsep lain yang biasanya digunakan dalam khazanah pemikiran keislaman tradisional dalam mendiskusikan homoseksualitas adalah liwath. Liwath adalah anal seks atau sodomi. Liwath ini berasal dari kata ”Luth.” Luth di sini diambil dari kisah seorang Nabi, bernama Luth (Lot), dalam al-Qur’an yang diyakini bahwa umatnya dihancurkan oleh Tuhan karena melakukan hubungan seks sejenis. Sekali lagi, di sini terlihat tidak adanya pembedaan antara orientasi seksual dan perilaku seksual. Homoseksual adalah orientasi seksual, sedang sodomi adalah teknik dalam melakukan hubungan seks, baik dengan lain jenis maupun sesama jenis.

Ini mengindikasikan kekurangtahuan dengan mengira bahwa laki-laki homoseks pasti melakukan penetrasi anal atau sodomi dalam melakukan hubungan seksual dengan sesama jenis. Kekurangtahuan ini membawa persepsi yang keliru dengan mengidentikkan antara homoseks dengan sodomi atau analseks. Homoseks merupakan ragam orientasi seksual, sedangkan sodomi atau liwath merupakan bentuk perilaku seksual. Jika yang diharamkan adalah sodomi/analseks/liwat, maka pengharaman itu berarti mengarah kepada perilaku seksual sodomi. Pertanyaannya adalah apa hukum seorang laki-laki heteroseks yang melakukan sodomi terhadap istrinya sendiri? Jika yang diharamkan adalah homoseksual, maka pertanyaannya adalah apa hokum seorang homoseks yang tidak melakukan praktik sodomi?

Pertanyaan ini penting dilontarkan karena ada perbedaan antara identitas seksual, orientasi seksual, dan perilaku seksual. Ketiganya tidak selalu berhubungan. Orang dapat saja melakukan perbuatan atau perilaku seksual tertentu tanpa didasari orientasi seksual tertentu dan/atau memiliki identitas seksual tertentu. Memang, pembedaan antara identitas seksual, orientasi seksual, dan perilaku seksual membawa konsekuensi yang yang cukup signifikan. Seseorang yang melakukan sodomi tidak selalu homoseksual dan dilakukan dengan sesama jenis. Seorang heteroseksual tidak mesti tidak pernah melakukan sodomi terhadap sesama jenis. Seorang homoseksual belum tentu tidak pernah melakukan hubungan seks dengan lawan jenis baik dengan menggunakan teknik anal, vaginal maupun oral.

Membicarakan liwath (sodomi/analseks) juga memunculkan pertanyaan lanjutan: jika pengharaman liwath disebabkan karena dianggap melawan “kodrat” hubungan seks sebagai sarana pelanjut keturunan (reproduktif), lalu apa yang bisa dikatakan oleh agama tentang bentuk-bentuk hubungan seks selain penetrasi vaginal (oral, interfemoral, onani, dijepit payudara, dsb.). Apakah semua ini dianggap sebagai haram?

Jelaslah bahwa wacana keislaman klasik tidak cukup memadai untuk mengimbangi diskusi seksualitas yang sudah berkembang sangat kompleks saat ini. Sekali lagi, ini karena seluruh perbincangan tentang homoseksualitas di dalam Islam yang terusmenerus direproduksi sampai saat ini adalah kreasi para ulama dalam kurun zaman dan tempat tertentu. Capaian ilmu pengetahuan dan keyakinan-keyakinan di zaman tersebut turut membentuk wacana seksualitas pada saat itu, tidak terkecuali wacana seksualitas dalam keilmuan Islam.

 

CATATAN DARI ERA NABI DAN SAHABAT

 

Setidaknya, ada tiga hadits yang sering diacu untuk mengharamkan homoseksualitas.

 

1. Hadits yang diriwayatkan oleh Musa al-Asy’ari: “idha ja’a alrajulu

al-rajula fahuma zaniyani, wa idha atat al-mar’atu al-mar’ata

fahuma zaniyatani” [apabila ada seorang laki-laki berhubungan

seks dengan sesama laki-laki, maka keduanya adalah pelaku zina,

jika ada perempuan berhubungan seks dengan sesama

perempuan, maka keduanya adalah pelaku zina] (Lihat al-

Husyani t.th.:113).

 

2. Hadits yang berasal dari Ibn Abbas yang diriwayatkan oleh al-

Khamsah kecuali al-Nasa’i: “man wajad tummuh ya’malu ‘amila

qawmi luth faqtulu al-fa’il wa al-maf’ul bih [barang siapa menjumpai

orang yang melakukan perbuatan kaum Nabi Luth, maka

bunuhlah baik yang menyetubuhi maupun yang disetubuhi]

(Lihat al-husyani t.th.:181).

 

3. Hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Hanbal: “la’ana Allah man

‘amila qawm luth” [Allah mengutuk orang yang melakukan

perbuatan kaum Nabi Luth] (Lihat ibn Hanbal t.th.:396).

 

Dengan melihat ketiga hadits di atas, maka hampir tidak ada peluang bagi kaum homoseks (dan kaum heteroseks yang melakukan hubungan seks sejenis) untuk mendapatkan persetujuan dari Islam atas orientasi dan perilaku seksualnya. Ketiga hadits di atas secara jelas berisi kutukan Tuhan terhadap kaum homoseks. Tidak hanya kutukan, namun juga hukuman yang sangat berat akan ditimpakan kepada mereka. Bukan hanya hukuman di akhirat, tapi juga hukuman di dunia. Seakan-akan seseorang hanya karena dia seorang homoseks, maka dia patut untuk dihukum. Akan tetapi, yang perlu dipertanyakan di sini adalah mengapa ketiga hadits tersebut tidak memiliki suara yang sama mengenai hukuman terhadap seorang pelaku seks sejenis? Hadits pertama menghukumi pelaku seks sejenis sebagai zina, di mana hukum untuk pezina sudah ada aturannya sendiri, sedang hadits kedua mengatakan secara eksplisit hukum bunuh, sementara hadits ketiga tidak menyebut apa-apa tentang hukuman. Keragaman bunyi hadits tentang masalah ini juga tercermin dalam pendapat para Sahabat tentang hukum bagi pelaku seks sejenis. Sebagian Sahabat berpendapat bahwa hukum pelaku seks sejenis adalah dibunuh dengan bersandar pada hadits kedua.

Sekalipun demikian, mereka juga berbeda pendapat tentang cara melaksanakan hukuman tersebut. Sebagian ada yang mengatakan dengan cara dirajam (dilempari batu sampai mati), sebagian mengatakan dibakar sampai mati (al-Mahalli t.th.:191). Sebagaimana yang pernah diriwayatkan bahwa Sahabat Ali pernah merajam orang yang melakukan hubungan seks sejenis. Akan tetapi di sisi lain, diriwayatkan bahwa Abu Bakar pernah mengumpulkan para Sahabat untuk membicarakan satu kasus hubungan seks sejenis. Di antara para Sahabat, yang paling keras pendapatnya adalah Ali. Ia mengatakan bahwa, “Homoseks adalah perbuatan dosa yang belum pernah dilakukan oleh para umat kecuali oleh satu umat (kaum Luth) sebagaimana telah kalian ketahui.

Dengan demikian aku punya pendapat bahwa pelaku homoseks harus dibakar dengan api.” Dengan disetujuinya pendapat Ali, maka Abu Bakar mengirim surat kepada Khalid bin Walid untuk menyuruhnya membakar pelaku hubungan seks sejenis dengan api (Sabiq t.th.:394). Ada beberapa hal yang perlu dinyatakan di sini. Pertama,para Sahabat adalah orang-orang yang hidup sezaman dengan Nabi, mendengarkan ucapan dan melihat sikap dan perbuatan Nabi dan mereka mengikutinya. Jika memang sudah ada ketetapan dari Nabi, mengapa mereka berbeda pendapat dalam sebuah kasus yang begitu jelas. Kedua, kisah Abu Bakar mengumpulkan para Sahabat untuk membahas kasus hubungan seks sejenis membuktikan bahwa hingga saat itu belum ada satu ketetapan hukum apapun tentang homoseksualitas dan/atau perilaku seks sejenis. Hal ini dikuatkan dengan situasi pertemuan di mana para Sahabat saling berbeda pendapat. Argumen Ali yang disandarkan kepada pendapat pribadinya dan bukan kepada ketetapan Nabi semakin membuktikan bahwa tidak ada ketetapan apapun dari Nabi tentang masalah ini.

Ketiga, apa yang bisa dijelaskan ketika para Sahabat mengambil satu dalil dan mengabaikan yang lain sebagaimana yang tergambar kelompok ini yang lebih mengambil hadits kedua dan mengabaikan hadits yang pertama? Keempat, tampak jelas bahwa penilaian dan hukum terhadap homoseks dan/atau pelaku hubungan seks sejenis ditentukan berdasarkan penilaian bebas orang-orang saat itu yang tentu saja dipengaruhi oleh prasangka dan kepentingan individu dan keyakinan-keyakinan umum zamannya. Sebagian para tabi’in (generasi setelah Sahabat) berpendapat bahwa hukum pelaku seks sejenis adalah sama dengan hokum pelaku zina dengan berpedoman pada hadits pertama. Sebagaimana pezina, maka pelaku seks sejenis yang masih jejaka (ghayru muhson) akan didera dan dibuang, sedang yang sudah menikah (muhson) dijatuhi hukuman rajam. Argumen yang diberikan kelompok ini adalah bahwa seorang homoseks dalam melakukan hubungan seks sejenis itu memasukkan penis ke dalam anus laki-laki-laki yang menjadi partnernya (sodomi). Berdasarkan hal itu, maka perilaku tersebut dianalogkan dengan zina sehingga baik subjek maupun objeknya harus dikenai hukuman sebagaimana hukuman bagi para pezina (al-Zahrani t.th.:12).

Beberapa hal yang perlu diajukan di sini adalah sebagai berikut: Pertama, mengapa kelompok ini memilih hadits pertama dan mengabaikan hadits kedua? Kedua, jika ketetapan para Sahabat dianggap sebagai keputusan hukum yang mengikat karena memiliki kualifikasi yang cukup tinggi (ijma’ shahabi), mengapa para tabi’in tidak mengikuti keputusan para Sahabat untuk menghukum bunuh dengan cara dibakar terhadap pelaku hubungan seks sejenis? Ketiga, jika hukum zina diberlakukan kepada para kaum homoseks karena mereka memasukkan penis ke dalam anus, lalu apa hukum kaum homoseks yang tidak melakukan sodomi atau analseks dalam

perilaku seksnya? Sekelompok ulama membantah bahwa sodomi sama dengan zina. Oleh karena itu, maka hukum untuk pezina tidak bisa diberikan kepada pelaku sodomi. Menurut kelompok ini, hokum pelaku sodomi hanyalah berupa sanksi (ta’zir) (al-Nawai t.th.: 23). Memang sebagaimana yang terjadi pada Sahabat dan Tabi’in, para ulama berbeda-beda pendapatnya dalam masalah ini.

Imam Syafi’i menegaskan bahwa pelaku liwath dapat dikenai hukuman hanya jika dilakukan di depan publik.34 Selanjutnya, al- Auza’i dan Abu Yusuf menyamakan hukuman sodomi dengan zina.35 Ini semua semakin meyakinkan kita bahwa wacana keislaman tentang homoseksualitas sangat ditentukan oleh parasangka zamannya. Seluruh perbincangan dalam wacana keilmuan Islam harus dikembalikan kepada kapan, siapa, dan untuk kepentingan apa homoseksualitas diperbincangkan. Tidak bisa hal ini semata-mata dikembalikan kepada bunyi teks suci karena faktanya bunyi hadits saling berbeda, para Sahabat dan Tabi’in saling berbeda pendapat, dan para ulama fiqh memiliki pendapat hokum yang saling bertentangan dan tidak jarang tidak konsisten.

Dari perspektif yang lain, ini bisa membawa kepada kecurigaan lain, jangan-jangan Nabi tidak pernah berkata apa-apa dalam masalah homoseksualitas. Fakta sejarah tidak menjelaskan adanya kasus penghukuman atas praktik sodomi pada masa Nabi. Eksekusi pertama terhadap perilaku sodomi justru terjadi pasca Nabi. Misalnya, pada masa Abu Bakar terjadi hukuman mati (bakar?) terhadap pasangan pelaku sodomi. Lalu, masa khalifah Umar bin Khattab, beliau menginstruksikan agar seorang pelaku sodomi dibakar hidup-hidup, tapi karena mendapat kritik keras, lalu hukumannya dirajam.36 Jika ketetapan hukuman bakar tersebut diputuskan berdasarkan dalil keagamaan yang pasti (al-Qur’an dan al-Hadits), bagaimana mungkin Umar membatalkan hanya karena mendapat kritikan?

 

MENAFSIRI TAFSIR: STRATEGI PERLAWANAN

 

Semakin terlihat di sini, setiap paham keagamaan bersifat perspektifis: Paham itu dikonstruksi berdasarkan perspektif tertentu, dan bersifat historis. Karena itu, maka tidak ada satu pun doktrin

agama yang berada di luar sejarah. Dalam hal tafsir yang merupakan upaya memahami makna kitab suci, maka konstruksi makna teks selalu dihasilkan dari perspektif tertentu juga. Dengan pemikiran inilah kita bisa mengerti mengapa sekalipun di dalam al-Qur’an ada pengutukan terhadap Kaum Nabi Luth, tapi di berbagai pesantren ditemukan hubungan sejenis dengan istilah mairil. Mairil adalah hubungan antara laki-laki dengan laki-laki, di mana yang menjadi subjek dalam hubungan sejenis ini biasanya adalah santri senior dan yang menjadi objek adalah santri laki-laki muda yang berusia sekitar 15 tahun.Mungkin sementara orang mengira bahwa perilaku mairil di pesantren semata-mata karena pesantren merupakan asrama yang hanya dihuni satu jenis kelamin sehingga sangat rentan terjadi hubungan sejenis, sebagaimana asrama-asrama lain. Memang benar bahwa banyaknya hubungan sejenis yang ditemukan di pesantren karena pesantren merupakan asrama yang hanya dihuni oleh satu jenis kelamin. Dalam pengertian ini, maka mairil sesungguhnya bukan tipikal pesantren, tapi bisa ditemukan di semua komunitas sejenis yang hidup besama dalam jangka waktu yang lama. Akan tetapi, pertanyaannya adalah kalau memang hubungan sejenis secara tegas dilarang bahkan dikutuk oleh Tuhan, mengapa di pesantren, yang merupakan lembaga pendidikan Islam, terkesan permisif terhadap praktik seperti itu? Tidak ada jawaban jelas. Tapi lacakan kepada teks-teks keislaman akan segera memberi jawaban yang mengejutkan karena doktrin kutukan terhadap perilaku seks sejenis bisa sangat mudah “disiasati”. Kalau praktik mairil dianggap sebagai zina, maka definisi zina yang ada dalam teks-teks keislaman tidak bisa menjerat praktik mairil. Di dalam teks-teks keislaman, zina selalu didefinisikan sebagai hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan di luar ikatan pernikah yang syah menurut hukum Islam (ata al-mar’ata bi ghoyri aqdin syar’iyin) (al-Syarbini t.th.:144). Dari definisi “zina” ini, maka praktik mairil tidak bisa dihukumi zina; karena definisi “zina” berkarakter heteroseksual. Kalau merujuk pada praktik kaum Nabi Luth, maka di dalam kitab fiqh hal itu merujuk pada praktik hubungan sejenis secara anal yang diistilahi dengan liwath. Sehingga, pelaknatan Tuhan terhadap kaum Nabi Luth tidak bisa digunakan untuk menjerat praktik mairil karena secara umum praktik mairil dilakukan dengan teknik interfemoral (penis dijepit di antara pangkal paha yang sudah dilumuri dengan pelembab, biasanya memakai

ludah).

Dari sini, akan muncul banyak pertanyaan dan kesadaran baru. Betapa teks-teks keagamaan tidak seperti yang diperkirakan selama ini, berada di luar sejarah dan berbagai relasi kepentingan, tapi sebaliknya, ia lahir di dalam sejarah. Mengapa, misalnya, zina selalu didefinisikan secara heteroseksual sehingga hubungan sejenis tidak masuk di dalamnya, dan mengapa kisah Kaum Luth dimaknai semata-mata analseks, sehingga teknik hubungan seksual sejenis di luar anal tidak masuk kriteria pelaknatan? Pertama, kebanyakan penyusun kitab-kitab agama adalah kaum laki-laki dengan orientasi seksual heteroseks sehingga rumusan-rumusan yang muncul berperspektif laki-laki dan heteroseksual. Kalau kaum homoseksual diuntungkan karena wilayahnya tidak tersentuh, mungkin karena sang ulama yang heteroseks tersebut lupa atau tidak menyadari tentang kemungkinan adanya hubungan seksual sejenis, maka kaum perempuan banyak dirugikan dalam hal ini karena hampir rumusan rumusan keagamaan selalu menempatkan perempuan menjadi objek seksual laki-laki. Andaikan sang ulama menyadari bahwa hubungan sejenis (laki-laki dengan laki-laki) tidak hanya analseks, tapi bisa mengeksplorasi seluruh bagian tubuh, maka bisa jadi definisi liwath tidak sesempit dan seteknis itu.

Terlepas dari lemahnya definisi-definisi tersebut, ini menyadarkan bahwa teks agama diproduksi oleh kepentingan dan sudut pandang tertentu. Tidak ada satu teks pun, sekalipun ia disebut teks suci, yang pemaknaannya melintasi batasan ruang dan waktu. Karena itu, sangat terbuka kemungkinan untuk memaknai ulang teks-teks agama sesuai dengan tingkat peradaban manusia. Setiap agama selalu mengklaim bahwa relevansinya melintasi ruang dan waktu. Dalam Islam juga ada adagium yang sangat terkenal menyangkut relevansi Islam ini, al-Islam sholih likulli zaman wa al-makan (ajaran Islam sesuai untuk setiap masa dan tempat). Akan tetapi, apa relevansi makna tersebut jika agama tidak sanggup menyelesaikan persoalan manusia dengan tetap menjunjung tinggi harkat dan derajat manusia?

Agama bukanlah sebuah patung batu yang sekali pahat selesai. Agama, sebagai fenomena kemanusiaan, harus terus bergulat mengiringi peradaban manusia yang terus berjalan. Oleh karena itu, agama tidak bisa dimaknai seperti sekumpulan naskah di dalam museum, di mana realitas hendak diukur dan diadili sesuai dengan kekunoan teks-teks tersebut. Keabadian agama terletak pada kesanggupannya untuk tetap mendorong kebaikan dan penghormatannya terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Di titik ini juga patut kita renungkan sebuah pertanyaan, untuk siapakah agama itu: untuk Tuhan ataukah untuk manusia? Jika memang agama diturunkan Tuhan untuk manusia, maka agama harus merelakan dirinya diukur dari kaca mata manusia. Jika sebuah agama dengan meneriakkan kata-kata Tuhan menebar terror kemanusiaan, maka sesungguhnya ia telah kehilangan alas an keberadaannya (raison d’etre).

Begitu juga dengan praktik penafsiran, ia selalu dibatasi oleh konteks sejarah dan kepentingan si penafsir. Tafsir yang menyuarakan pelaknatan Tuhan terhadap homoseksualitas memiliki konteks kesejarahannya sendiri. Yang pasti, praktik mairil di pesantren telah mengajarkan kepada kita tentang bagaimana sebuah kreatifitas yang cerdas mampu keluar dari keketatan sebuah doktrin.

 

Rujukan

  • al-Bujayrimy, al-Syaikh Sulayman. Bujayrami ‘ala al- Khatib: Hasiyyah Khatimat al- Muhaqqiqin wa ‘Umdat al- Aimmat al Mudaqqiqin. juz Beirut: Dar el-Fikr.
  • Gadamer, Hans Georg. 1975. Truth and Method. London: Sheed and Ward.
  • Intersex Society of North America. 2010. Wahat is Intersex?. Dokumen
  • elektronik, http://www.isna.org, diakses pada 13 April 2010.
  • al-Husayny, al-Imam Taqiy al-Din Abi Bakr bin Muhammad. Kifayat
  • Ahyar fi Hall Ghayat al- Ikhtishar. juz II. Beirut: Dar el-Fikr.
  • Ibn, Hanbal. Musnad Ahmad ibn Hanbal. VI. Beirut: Dar el-Fikr.
  • al-Jawy, Muhammad Nawawi Umar. Kasyifat Sajaa Syarh Safinat al
  • Najaa. Surabaya: Nur al-Hidayat.
  • al-Mahally, Jalaall al Din. Syarh al- ‘Allamah Jalal al-Din al-Mahally ‘ala
  • al-Minhaj. IV. Beirut: Dar el-Fikr.
  • Mulia, Siti Musdah. Memahami Homoseksualitas (Membaca Ulang
  • Pemahaman Islam), makalah tidak dipublikasikan.
  • al-Naway, Imam Abi Zakariyya Muhyiddin bin Syaraf. al Majmu’ ‘ala
  • Syarh al-Muhadzdzab. juz 20. Beirut: Dar el-Fikr.
  • Qudamah, Ibnu. al-Mughni. Juz IV. Riyadh.
  • Rohmadi. 2004. “Status Perkawinan Homoseksual Perspektif Fiqh,”
  • Justisia, edisi 25, th. XI.
  • Sabiq, Sayyid. Fiqh al-Sunnah. juz II. Beirut: Dar al-Fikr.
  • al-Suyuthi. al-Jami’ al-Saghir. Bandung: al-Ma’arif.
  • al-Syarbiny, Imam Khotib. Mughni al Muhtaj fi Ma’rifati Ma’ani al
  • Minhaj. juz IV. Beirut; Dar el-Fikr.
  • The Southeast Asian Consortium on Gender, Sexuality and Health.
  • 2005. A Glossary of Terms in Gender and Sexuality. Dokumen
  • elektronik, http://www.seaconsortium.org
  • /coreactivities/download.glossary.doc, diakses pada 20 Juni
  • 2008.
  • WHO, 2002. Sexual Health. Dokumen elektronik,
  • http://www.who.int/reproductivehealth/
  • gender/sexualhealth.html, diakses pada 9 september
  • 2008.
  • al-Zahrany, Yahya bin Musa. Ayat wa Ahkam. Beirut: Dar al-Kutub al-
  • Ilmiyyah.
About these ads

PIN BBM : 7CD885B5 == BBM CHANNEL : C0028060A

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 62 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: