Informasi Sarana Umum Di Kabupaten Banyuwangi

Berikut beberapa sarana umum di Banyuwangi yang bisa dikunjungi.

Rumah Sakit Banyuwangi:

- RSUD Blambangan
– Rumah Sakit Islam
– RSI Fatimah

Pusat Informasi Pariwisatta

Banyuwangi Goverment Culture and Tourism service
Jl. A. Yani 78 Banyuwangi Phone : +62 333 424172

TIC, Ketapang Harbour (ASDP)
Jl. Gator Subroto, Ketapang – Banyuwangi

Tour & Travel

Maharani Tour & Travel
Jl. Gatot Subroto, Banyuwangi – Phone : +62-333 422280

Alfa Arian Tour ijen resort & villa
Jl. Randu Agung, Licin, Banyuwangi. Phone : +62 333 429000

Wanasari Tour (bobby’s Surf Resort)
G-Land (plengkung), Banyuwangi. Phone : +62 333 593356

Money Changer

Terdapat beberapa lokasi penukar mata uang di Banyuwangi dan salah satunya bisa didapat melalui Bank Central Asia atau BCA.

Daftar Nomor Telepon Darurat:
Ambulance —————— 118
Polisi ————————- 110
Pemadam Kebakaran ——– 113
Kode Area Banyuwangi—— 0333

http://www.eastjava.com/tourism/banyuwangi/ina/public-service.html

Mengenal Tari Santri Mulih Khas Banyuwangi

 

Tari Santri Mulih adalah salah satu mahakarya Bapak Sumitro Hadi yang akrab dipanggil dengan “Kang Mitro”. Diantara tari ciptaan Kang Mitro yang kali ini diambil tema yaitu “Tari Santri Mulih”, sebuah tarian yang sudah di kenal masysarakat Banyuwangi pada khususnya sejak tahun 2008 lalu. Dalam tari Santri Mulih ini mulai dari irama musik, gerakan koreografi, dan para penari mutlak disuguhkan dengan sangat menarik. Dalam Tari Santri Mulih ini menceritakan perjalanan para santri yang menimba ilmu di pesantren sampai pulang lagi ke masyarakat.

Sekilas tentang Kang Mitro, Sumitro Hadi dilahirkan di Banyuwangi pada tanggal 16 Agustus 1951. Pengalaman berkesenian Kang Mitro dimulai dari lingkungan keluarga yang menyenangi seni tari. Pada tahun 1977, Kang Mitro mendirikan Sanggar Tari Jingga Putih yang hingga saat ini dan Mitro juga sebagai pimpinan sanggar. Kang Mitro adalah tokoh Seniman tari Banyuwangi yang cukup dikenal melalui karya-karya seni tari tradisional yang ritmis, dinamis dan sangat menarik dalam segi penampilan secara keseluruhan.

http://pojokbanyuwangi.com/blog/seni-budaya/tari-santri-mulih/

Lagu Using Banyuwangi ”Luntur Welase

Ciptaan : Sujarno
Vokal : Reny Farida
Produksi : CHGB Record

PANASE ATI KARI GEDIGI,
SAKING PANASE NGLIWATI GENI
KABEH MAU RIKO KANG NJALARI,
NYATANE RIKO SAIKI WIS LALI

PARAN SALAHE ISUN NANG RIKO,
SAIKINE RIKO WIS BEDO
BENGEN NGOMONG DEMEN KATON PARAN,
PUNGKASANE GETUN MBURIAN

BENGEN SUN NGOMONG, PARAN ANANE
SAK DURUNGE KABEH KEDADEHANE
URIP BARENG SAMPEK MATI,
SAIKI RIKO WIS LUNTUR WELASE

reff :
PANASE ATI KARI GEDIGI,
SAKING PANASE NGLIWATI GENI
KABEH MAU RIKO KANG NJALARI,
NYATANE RIKO SAIKI WIS LALI

PARAN SALAHE ISUN NANG RIKO,
SAIKINE RIKO WIS BEDO
BENGEN NGOMONG DEMEN KATON PARAN,
PUNGKASANE GETUN MBURIAN

BENGEN SUN NGOMONG, PARAN ANANE
SAK DURUNGE KABEH KEDADEHANE
URIP BARENG SAMPEK MATI,
SAIKI RIKO WIS LUNTUR WELASE

sumber video

Angklung Paglak Khas Banyuwangi

Angklung Paglak
banyuwangi Paglak adalah gubuk sederhana yang dibangun di sawah atau di dekat pemukiman. Paglak dibangun dari bambu dan dibangun sekitar 10 meter di atas tanah. Jadi, jika seseorang ingin masuk ke dalam gubuk, ia harus memanjat untuk mencapainya.
Fungsi bangunan ini sebagai tempat untuk menjaga padi dari burung. Petani biasanya menjagas sawah sembari bermain alat musik angklung dalam paglak tersebut. Karena itu, seni ini disebut angklung paglak.

 

 

eastjava.com

Angklung Tetak Khas Banyuwangi

Angklung Tetak
Istilah tetak berasal dari bahasa yang berarti “menjaga di malam hari”. Angklung tetak dapat menjadi alat yang digunakan untuk membantu jaga malam. Angklung tetak terkenal pada tahun 1950. Pada awal berdirinya angklung tetak tumbuh di desa Glagah, dan pada tahun 1974 telah lebih disempurnakan lagi, terutama dari segi irama.

eastjava.com

Mengenal Tari Erek-Erekan Di Banyuwangi

Salah satu jenis tari daerah Banyuwangi yang diangkat dari motif pergaulan awal muda-mudi sebelum melangkah menuju saling mengenal antara satu dengan yang lain, didahului sikap tukar pandang karena hati yang telah saling terkena.

Tarian termasuk jenis tari pergaulan muda-mudi ini mengambil ide dasar dari salah satu gending Gandrung Banyuwangi Ngranjang Gula yang mengandung arti tradisi basanan bahasa Usinga Banyuwangi, berakhir dengan pengertian “erek-erekan”.

Ngranjang Gula dimaksudkan semacam keranjang dari anyaman daun nipah untuk tempat gula Jawa dari pohon aren biasa disebut “gula kerekan”. Dari ungkapan “gula kerekan” inilah kiranya lahir ungkapan “erek-erekan” yang berarti suatu tindak perbuatan kalangan muda-mudi daerahnya bersikap saling memandang saling melirik, saling mengamati dan saling ingin bertemu antara pasangan muda-mudi sebelum kenal intim.

Secara umum penyajian tari ini dengan ide garap puncak gending dan musik khas daerah Banyuwangi, antara lain pada gending Gandrung Gurit Mangir, Ngranjang Gula, Seblang, Senggol-senggolan, dan sebagainya, dengan motif romantis berikut iringan musik aransemen khas daerahnya.

Demikian penyajian tari “erek-erekan” dari basanan Using Banyuwangi “Ngranjang gula wis wayahe erek-erekan”.

Angklung Banyuwangi

Akhirnya dari kehidupan tani semacam ini, antara lain terlahir salah satu alat musik daerah dari bahan bambu yang secara evolusi menjadi anklung daerah yang kita kenal sekarang melalui perkembangannya dari Angklung Paglak. Keberadaan Angklung Paglak berasal dari kehidupan sehari-hari masyarakat tani di sawah. Semua Angklung ini biasa dibunyikan di dangau di tengah sawah disaat padi sedang menguning agar terbebas dari santapan burung.

Dalam perkembangan lebih lanjut Angklung Paglak mengalami perubahan, dilengkapi dengan beberapa peralatan tradisi yang lain sehingga mampu membawakan gending-gending daerah Banyuwangi yang dapat dinikmati. Menjadi lebih lengkap setelah masuknya peralatan gamelan yang terbuat dari besi dalam bentuk wilahan termasuk gong, kendang dan lain-lain, yang sekarang kita kenal sebagai Angklung Daerah Banyuwangi. Musik daerah ini dapat pula disajikan sebagai pengiring tarian dan lagu daerah sampai sekarang.

Fungsi Angklung

Kesenian Banyuwangi khususnya Angklung Bayuwangi, sampai sekarang menjadi favorit masyarakatnya, baik masyarakat Using sendiri maupun masyarakat Banyuwangi pendatang karena kesenian ini mampu memenuhi selera masyarakat dan memberikan hiburan segar.

Di wilayah Kabupaten Banyuwangi, suatu keluarga yang punya hajat khitanan, pernikahan, ulang tahun ataupun kegiatan lain yang memerlukan hiburan, maka kesenian ini dapat difungsikan. Dalam perkembangannya sampai sekarang, Angklung Banyuwangi diangkat sebagai grup misi kesenian ke luar daerah, baik dalam bentuk lomba, festival maupun pagelaran biasa untuk hiburan. Dapar dirasakan berbagai jenis kesenian daerah termasuk tari kreasi daerah Banyuwangi, dapat dimanfaatkan untuk keperluan kegiatan di masyarakat.

Sebutan “erek-erekan” dari bahasa Using “erek” yang berarti “berperilaku seperti sikap dua ayam jantan sebelum berlaga”, belum mendekat dan belum bersentuhan, dengan jarak tertentu, saling pandang dan siaga. Perilaku demikian sebagai lukisan seorang jejakan terhadap seorang gadis yang belum saling mengenal, tetapi sudah sama terkena hatinya, saling berusaha berkenalan, saling mengereki, mendekat dan akhirnya terkabul kenal dan intim. Dengan sebutan “erek-erekan” dikandung maksud tarian yang melukiskan pasangan muda-mudi saling ingin mengenal dan memadu kasih, dengan iringan musik dan vokal daerah Banyuwangi.

Ide garap tari merupakan kombinasi beberapa puncak tari gandrung, sudah tentu dengan variasi dan penggarapan kreatif berikut vokal, dinamika, ritme musik pengiring secara harmonis. Dengan demikian ide garap pun meliputi puncak-puncak gending Banyuwangi, tarian gandrung Banyuwangi, musik daerah dengan versi gandrung menggunakan peralatan Angklung Banyuwangi bervariasi dengan waktu penyajian tidak lebih dari 10 menit.

Gerak tari dan urutannya

Penyajian gerak tari meliputi gerak tari daerah Banyuwangi dengan gerak tari gandrung, seblang, tari berpasangan, tradisi grindoan, tarian syahdu, gerak silat dan sebagainya.

Penggarapan gerak tari disusun sedemikian rupa menjadi gerak tari yang harmonis didukung dengan pola lantai termasuk ekspresi penari.

Urutan penyajian tariannya sebagai berikut: Tayongan sirik-sirigan, Gredoan, Gayoh lintang, Lemar-lemer, Tangar-tangar, Welas asih, Iming-iming, Pendadaran, Pencakan, Suko-suko. Eret-eretan, Awe-awe, Keloron-loron, Gebyar-layar.

Musik pengiring

Musik pengiringnya adalah Angklung Banyuwangi dengan aransemen khas Banyuwangi termasuk penggantian tempo dan dinamika musik tradisi daerah. Untuk peningkatan keindahan aransemennya, maka ditambah dengan patrol bambu, kluncing, biola dan sinden gandrung.

Urutan penyajian aranseman musik gending: Gemyar Blambangan, Sirigan, Jaranan, Ngranjang gula, Limar-limer, Tangar-tangar, Lemah bum/pasir, Iming-iming, Pencakan, Jogetan, eret-eredan. Selenan, Gurit mangir.

Tata busana

Penyajian busana tari secara umum penggambaran pasangan Jebeng-Thulik dengan perkembangan modofikasi untuk keindahan.

Secara singkat motif busananya:

  • Penari puteri mengenakan: a. asesoris jamangan di kepala, di atas rambut; b. hiasan bunga di rambut; c. sanggul rambut biasa dihias bunga; d. kebaya lengan panjang dengan baju dalam warna kontras; e. sabuk dengan pending pada bagian perut; f. kain panjang dengan kain penutup asesoris bagian atasnya.
  • Penari pria mengenakan: a. ikat kepala modifikasi; b. baju lengan panjang potong gulon berikut baju dalam dengan warna kontras; c. sabuk dengan pending pada perut; d. mengenakan celana panjang dengan kain penutup bagian atas.

Penyajian

  • Didahului musik pengiring selagi pembukaan.
  • Pada pentas ukuran menyesuaikan dengan iringan musik Angklung Banyuwangi.
  • Masuk ke pentas lima penari puteri kemudian lima penari pria dari arah pintu.
  • Diselang penyajian vokal yang memberikan gambaran penyajian atraksinya.
  • Pembentukan komposisi dengan gerakan tari menarik dengan dinamika musik pengiring.
  • Berakhir, kembali ke luar pentas dalam bentuk berpasangan yang semula belum saling mengenal.

Musik dan vokal

Musik pengiring adalah musik Angklung Banyuwangi dengan vokal sinden gandrung membawakan lagu atau gending seperti di bawah ini, namun tidak secara utuh.

Sinden gandrung dengan vokalnya.

a. Mocoan/uro-uro

b. Ngranjang gula:

  • Ngranjang gula wis wayahe erek-erekan yadoh paman wis auju kelendi.
  • Kayu cendak kang pinunjang soko kelibakan awak kulo yhadhoh kakang wis aju kelendi.
  • Kayu dowo kang pinunjang lambang sander-sanderan yoro awak kulo yadhuh kakang aju kelendi.

c. Guri dadaran:

  • Esuk-esuk aja megawe ngombe kopi yoro kancanono besuk besuk sopo kang duwe kadung kanti yoro antenono.
  • Abang-abang biru-biru deleng langet katon megane seng madang-madang sing turu-turu raino bengi katon rupane.
  • kelambi cemeng, selono cemeng dikumbah mosok lunturo emak seng-seneng bapak seng seneng dijegah mosok wurungo.

Sumber:

Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1993. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

sumber:

6 Jenis Tari Khas Kabupaten Banyuwangi

Pada postingan kali ini kita akan membahas sedikit tentang Tari Banyuwangi. Kenapa sedikit bahasnya? Karena ternyata Banyuwangi memiliki banyak sekali tari-tarian yang terkuno hingga yang terbaru diciptakan. Begitu pula detail dari teri-tarian tersebut, yang pastinya sebenarnya ada banyak cerita-cerita dan makna yang tersimpan dalam tari banyuwangi tersebut.

Berikut beberapa tari banyuwangi yang saya dapatkan dari situs http://bisnis-banyuwangi.blogspot.com :

1. Tari Gandrung
Tari Banyuwangi yang satu ini telah menjadi lambang kota Banyuwangi hingga Banyuwangi sering dipanggil sabagai Kota Gandrung. Tari Gandrung adalah tari perayaan panen yang terinspirasi pada pesona Dewi Sri yang dianggap sebagai Dewi Padi dan Kemakmuran. Pada awalnya tarian ini diperankan oleh para laki-laki yang didandani layaknya para perempuan. Namun kini para penari perempuan yang masih terlihat aktif. Hal ini dikarenakan fatwa para ulama’ yang melarang laki-laki berdandan dan berkelakuan seperti perempuan. Namun yang kini menjadi ikon Kota Banyuwangi adalah Tarian Gandrung wadon atau Tarian Gandrung Wanita.

2. Tari Seblang
Tari seblang merupakan cikal bakal terciptanya tari gandrung. Tari ini masih dilestarikan dua desa di Banyuwangi, yakni Desa Oleh Sari dan Desa Bakungan. Dua desa ini memiliki kesamaan dalam pelaksannanya yakni penari adalah seorang wanita yang ketika menari dimasuki roh halus nenek moyang. Namun dua desa ini juga memiliki beberapa perbedaan dalam detail pelaksanaannya. Desa Oleh Sari memilih penari seorang wanita kecil yang belum akil balig. Sedangkan di Desa Bakungan penarinya adalah wanita yang sudah berumur dan tidak lagi mengalami haid (menopause). Waktu pelaksanaan juga berbeda, jika Desa Oleh Sari melaksanakannya di satu minggu setelah Hari Raya Idul Fitri, maka Desa Bakungan melaksanakannya satu minggu setelah Hari Raya Idul Adha.

3. Tari Erek-erek
Tari Banyuwangi yang satu ini lebih menuju ke arah tata cara pemuda dan pemudi memulai hubungan asmara. Diawali dengan memandang, mengatur pertemuan khusus hingga menuju pada hubungan yang lebih serius.

4. Tari Santri Mulih
Merupakan tari Banyuwangiyang cukup baru hadir di Banyuwangi. Tarian ini diciptakan oleh Bp. Sumitro atau yang biasa dipanggil Kang Mitro pendiri dan pemimpin Sanggar Tari Jingga Putih. Tari ini diciptakan tahun 2008. Sedangkan tema yang diambil adalah kisah para santri pesantren yang menimba ilmu di pesantren dan akhirnya kembali ke rumah dan berbaur kembali dengan masyarakat.

5. Barong Banyuwangi
Tari Banyuwangi yang satu ini biasa dipertunjukkan di acara adat “Barong Ider Bumi” yang diadakan tahunan di Desa Kemiren Banyuwangi. Acara adat tersebut dipercaya dapat menolak balak. Iring-iringan barong itu diarak keliling kampung. Dibelakangnya ada tujuh perempuan tua yang membawa ubo rampe (perkakas ritual) dan lima perempuan pembawa beras kuning dan uang Rp 99.900

6. Tari Puput Bayu
Merupakan Tari Banyuwangi bernuansa perang. Puput Bayu merupakan perang terkejam di Banyuwangi antara para penduduk asli Blambangan dan VOC Belanda. Peperangan ini dikemas dalam sebuah seni tari yang diberi judul “Tari Puput Bayu”.

 
Demikian beberapa Tari Banyuwangi yang bisa di kita bahas kali ini. Semoga bermanfaat.

Sumber:

Ringkasan Buku ”Perebutan Hegemoni Blambangan

Judul: Ujung Timur Jawa 1763-1818: Perebutan Hegemoni Blambangan
Penulis: Sri Margana
Penerbit: Pustaka Infada, Juli 2012
Tebal: xii + 364 halaman

Akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16, panggung sejarah Indonesia, khususnya Jawa, ditandai oleh dua fenomena menarik. Pertama, melemahnya atau bahkan runtuhnya kerajaan-kerajaan lama bercorak Hindu-Buddha. Kedua, munculnya Islam sebagai kekuatan politik baru yang menunjukkan pengaruh kian besar.

Setelah Kerajaan Majapahit jatuh sekitar tahun 1527, di Pulau Jawa hanya terdapat dua kerajaan Hindu yang masih berdiri: Pajajaran di Jawa Barat dan Blambangan di Pasuruan, Jawa Timur. Selanjutnya Kerajaan Blambangan ditaklukkan Demak pada 1546 (Kartodirdjo, 1987: 31).

Namun tak ada berita pasti kapan Kerajaan Blambangan berdiri. Dari kisah Damarwulan-Minakjinggo, baru diketahui bahwa pada masa Majapahit, kerajaan ini telah ada dan berdaulat. Namun sebelumnya ada beberapa sumber yang memuat nama Blambangan, yakni Serat Kanda (ditulis pada abad ke-18), Serat Damarwulan (ditulis pada 1815), dan Serat Raja Blambangan (ditulis pada 1774).

Melacak sejarah kemunculan Kerajaan Blambangan diakui cukup sulit. Minimnya data dan fakta membuat para ilmuwan kesulitan menentukan sejarah awal kerajaan ini. Tapi, bila kita memetakan sejarah awal Majapahit pada masa Sri Nata Sanggramawijaya alias Raden Wijaya, ada sedikit celah terkuak bagi guna menuju pencarian awal mula Blambangan.

Dimulai dari peristiwa larinya Raden Wijaya dan kawan-kawan ke Songeneb (kini Sumenep) di Madura, meminta bantuan kepada Arya Wiraraja untuk menjatuhkan Jayakatwang yang menggulingkan Kertanagara di Singasari. Dalam naskah (ditulis pada abad ke-19), Raden Wijaya disebut-sebut berjanji membagi dua wilayah kekuasaannya jika Jayakatwang jatuh.

Namun, pada 1296, Wiraraja tidak berkuasa lagi. Ini sesuai dengan isi Prasasti Penanggungan yang tak mencatat namanya. Lewat buku ini, Sri Margana mencoba menjelaskan bahwa penyebab hilangnya nama Wiraraja dari jajaran pemerintahan Majapahit terjadi karena salah satu putranya, Ranggalawe, memberontak pada 1395. Wiraraja pun sakit hati dan mengundurkan diri, seraya menuntut janji kepada Raden Wijaya mengenai wilayah yang dulu pernah di janjikan. Pada 1294, raja pertama Majapahit itu mengabulkan janjinya dengan memberi Wiraraja wilayah Majapahit sebelah timur yang beribu kota di Lamajang (kini Lumajang).

Menurut teks Babad Raja Blambangan, Arya Wiraraja memerintah di Blambangan sejak 1294 hingga 1301. Ia di  gantikan oleh putranya, Arya Nambi, dari tahun 1301 sampai 1331. Setelah Nambi terbunuh karena intrik politik pada 1331, tahta Kerajaan Blambangan kosong hingga 1352. Yang mengisi kekosongan ini adalah Sira Dalem Sri Bhima Chili Kapakisan, saudara tertua Dalem Sri Bhima Cakti di Pasuruan, Dalem Sri Kapakisan di Sumbawa, dan Dalem Sri Kresna Kapakisan di Bali.

Kesaksian Babad Raja Blambangan bersesuaian dengan yang tertulis di Pararaton. Dalam Pararaton dikisahkan, pada 1316 Nambi, seorang pengikut setia Raden Wijaya sekaligus Patih Amamangkubhumi Majapahit yang pertama, memberontak pada masa pemerintahan Jayanagara. Riwayat lain, yakni Kidung Sorandaka, menceritakan pemberontakan Nambi, yang setelah kematian ayahnya bernama Pranaraja, sedangkan Kidung Harsawijaya menyebutkan bahwa ayah Nambi adalah Wiraraja.

Kesesuaian cerita tentang adanya kerajaan timur dan kerajaan barat juga ditemukan dalam kronik Cina di zaman Dinasti Ming. Catatan itu menyebutkan, pada 1403 di Jawa ada kerajaan barat dan timur yang sedang berseteru. Sedangkan Pararaton menyebutkan bahwa pada 1328 Saka (sekitar tahun 1406), pecah Perang Paregreg antara penguasa kerajaan barat di bawah Wikramawardhana dan penguasa kerajaan timur di bawah Bhre Wirabhumi. Wikramawardhana memenangkan perang ini. Wirabhumi yang tertangkap dalam upaya pelariannya pun dipancung.

Buku Sri Margana yang awalnya disertasi di Universitas Leiden, Belanda (2007), ini memberi gambaran lebih rinci ihwal riwayat Kerajaan Blambangan. Selain itu, kita juga dapat menelusuri sejarah beberapa kota yang berkaitan dengan kerajaan itu di kemudian hari hingga zaman kolonial Belanda.

Oleh: M. Nafiul Haris, Peneliti Di El-Wahid Center, Universitas Wahid Hasyim

http://tokocintabuku.blogspot.com/2012/09/ujung-timur-jawa-1763-1818-perebutan.html

Soto Ayu di Kabupaten Jember

Pusat Makanan di Alun-Alun Kabupaten Jember

Good

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 62 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: