Banyuwangi Hormati Erotisme Gandrung

Salam Jenggirat Tangi…

Selamat Datang Di Padepokan Mas Say Laros…

Oleh Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Tari Gandrung mungkin sudah identik dengan kawasan ujung timur pulau Jawa, khususnya Banyuwangi. Namun jika ditelusuri, seni pentas yang digolongkan sebagai tari pergaulan ini sebenarnya juga dapat dijumpai di pulau Lombok dan Bali. Keberadaaan kesenian ini di tengah budaya Jawa Timur, Bali, dan Sasak, hadir dengan kekhasan dan keunikannya masing-masing. Hanya, jika di Banyuwangi tari Gandrung hingga kini masih bergelinjang mesra dan di Lombok tetap berlenggok riang, di Bali kesenian ini hampir punah.

Seni pertunjukan sejenis Gandrung banyak dijumpai di Nusantara. Kesenian ini masih satu genre dengan Ketuktilu di Jawa Barat, Tayub di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, Lengger di wilayah Banyumas dan Joged Bumbung di Bali, dengan melibatkan seorang wanita penari profesional yang menari bersama-sama tamu (terutama pria) dengan iringan musik (gamelan). Penampilannya senantiasa disertai unsur-unsur erotisme seperti tampak dalam tari Ronggeng di Jawa Barat dan juga Joged Bumbung di Bali.

Dalam bahasa Jawa, ’gandrung’ berarti ‘tergila-gila’ atau ‘cinta habis-habisan’. Pada masa lalu, penari Gandrung memang banyak mengundang debur asmara kaum pria, padahal para penari Gandrung itu sendiri adalah laki-laki. Di Banyuwangi kesenian Gandrung pada awalnya dilakoni oleh kaum pria, setidaknya hingga tahun 1890-an. Baru pada tahun 1914 penari wanita dihadirkan setelah kematian penari pria terakhir, Marsam. Gandrung wanita pertama Banyuwangi bernama Semi, seorang gadis kecil yang sakitsakitan yang berkaul jika sembuh akan menjadi penari Gandrung.

Berbeda dengan di Banyuwangi, di Bali hingga kini tari Gandrung masih dibawakan penari laki-laki. Salah satu grup seni pertunjukan Gandrung yang masih bertahan adalah Sekaa Gandrung Banjar Ketapian Kelod, Denpasar, masih mempertahankan penari pria. Kesenian Gandrung yang disakralkan oleh komunitasnya itu lebih menampilkan diri sebagai presentasi estetik. Melalui iringan musik bambu yang disebut gandrangan, Gandrung Bali menyuguhkan raga keindahan tari yang lazim dijumpai dalam tari klasik Legong Keraton.

Seperti di Banyuwangi, diduga kuat tari Gandrung di Lombok pada awalnya juga dibawakan oleh kaum pria. Gandrung Lombok yang kini lazim dibawakan kaum wanita itu masih eksis sebagai sajian profan, menampakkan karakter Bali dan Banyuwangi. Nuansa Bali tampak kental pada tata tarinya yang sebagaian besar memakai perbendaharaan gerak tari tradisional Bali. Unsur Banyuwangi dihadirkan dalam balutan busananya khususnya pada gelungan atau tutup kepalanya. Struktur penyajian Gandrung Lombok adalah bapangan, tangis, penepekan, dan pengibingan. Pada bagian pengibingan, penonton pria masuk ke arena pentas berpasangan dengan sang penari.

Urut-urutan penampilan Gandrung Lombok tersebut hampir sama dengan tari Joged Bumbung di Bali dimana bagian terakhir, pengibingan, yang paling ditunggu-tunggu partisipan pria dan penonton pada umumnya. Interaksi fisik antara penari Gandrung dengan partisipan pria juga menjadi bagian utama pementasan Gandrung Banyuwangi. Struktur penyajian konvensional Gandrung Banyuwangi memang diurut menjadi tiga yaitu jejer, maju, dan seblang subuh. Jejer adalah bagian yang merupakan pembuka seluruh pertunjukan Gandrung dimana penari menyanyikan beberapa lagu dan menari secara solo. Para tamu yang umumnya laki-laki hanya menyaksikan dengan tenang. Maju atau ngibing adalah bagian terheboh yang berlangsung hingga larut malam bahkan sampai menjelang subuh. Dalam perkembangannya belakangan, bagian seblang subuh yang merupakan semacam ritual magis sering tak ditampilkan.

Maju atau ngibing ditandai oleh sang penari dengan memberikan selendangselendang yang diberikan kepada tamu. Biasanya, tamu-tamu atau undangan penting yang terlebih dahulu mendapat kesempatan menari bersama-sama. Sang gandrung akan mendatangi para tamu yang menari dengannya satu persatu dengan gerakan-gerakan yang menggoda, mengundang hawa nafsu. Seusai menari dengan tamu-tamu kehormatan, si penari akan menyambangi penonton lainnya, dan meminta salah satu penonton untuk memilihkan lagu yang akan dibawakan. Acara ini diselang-seling antara maju dan repèn (nyanyian yang tidak ditarikan), dan berlangsung sepanjang malam. Pementasan Gandrung Banyuwangi kadang-kadang disertai ribut-ribut diantara para penonton saat menunggu giliran ngibing.

Popularitas dan eksistensi Gandrung di Banyuwangi dapat disejajarkan dengan Joged Bumbung di Bali. Tari Joged yang merupakan perkembangan dari Gandrung Bali itu hingga kini masih digandrungi dan begitu merakyat di Bali. Riuh dan semarak dengan sorak-sorai adalah suasana yang menjadi ciri pertunjukan Joged. Tapi dalam kegembiraan yang meluap, tak jarang pementasan Joged Bumbung menjadi kisruh. Misalnya bila seorang penari harus berhadapan dengan pengibing vulgar dan brutal yang tak peduli dengan kesopanan. Secara etno-estetik, tari Gandrung Banyuwangi, Gandrung Lombok, dan Gandrung Bali yang kini bertranformasi menjadi Joged Bumbung adalah ekspresi seni yang patut diapresiasi secara santun. Atmosfer sosiokultural masyarakat Banyuwangi telah menempatkan tari Gandrung sebagai nilai seni dan budaya Nusantara yang sepantaskan dikawal kehormatannya.

Kadek Suartaya

About these ads

PIN BBM : 7CD885B5 == BBM CHANNEL : C0028060A

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 62 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: