Sejuta Misteri Taman Nasional Alas Purwo

Di Jawa, di seberang hamparan air dari Bali, merupakan salah satu taman nasional paling terpencil dan menarik di Indonesia. Alas Purwo bisa menjadi tujuan wisata memikat untuk wisatawan dan harta karun bagi mereka dalam bisnis penebangan kayu dan aroma mistis untuk pesugihan.

Taman di sudut tenggara Banyuwangi ini meliputi 43.000 hektar lahan terdiri dari savana, hutan mangrove, hutan pantai dan hutan tropis dataran rendah. Memang, hutan merangkul pantainya tampaknya telah terwujud langsung dari laut. Alas Purwo juga rumah bagi mamalia langka dan terancam punah, termasuk anjing liar Asia, sapi liar dan macan tutul. Ribuan migrasi burung mengunjungi hutan yang masih asli setiap tahun dan penyu datang untuk bertelur di pantai terpencil tersebut. Dan untuk peselancar, garis pantai taman nasional menawarkan salah satu istirahat terumbu terbaik dan paling konsisten-di dunia.

Dalam ilmu bumi di Jawa ada garis halus antara dunia alam dan dimensi paralel roh. Di Alas Purwo terdapat garis halus nan kabur. Orang-orang menceritakan kisah yang hilang selama berhari-hari di antara reruntuhan hutan bambu dan lorong labirin menyeramkan. Ada jalur umum bagi orang-orang yang ingin menemukan diri mereka di sebuah desa hantu dan bertemu karakter misterius. Dan Alas purwo merupakan hunian dari seluruh dedemit di pulau jawa

G-Land, The Seven Giant Wave Wonder, ikon yang diberikan peselancar asing untuk gulungan ombak disebuah pantai di dalam Taman Nasional Alas Purwo (TNAP), Banyuwangi, Jawa Timur. Lokasinya ideal, karena berada diujung selatan, sekaligus paling timur dari daratan Pulau Jawa. Letaknya strategis untuk berselancar, karena menjorok tegak, seolah memandang garis pantai pulau Jawa dari arah lautan lepas. 

G-Land punya tiga konotasi yang berbeda: “Green”, karena lokasinya di tepi hutan primer yang masih bagus. “Great”, karena salah satu ombak yang terbaik di dunia untuk selancar dan “Grajagan”, sebuah nama pelabuhan nelayan terdekat, tempat menyeberang kesana sebelum ada jalan yang melintas di hutan TNAP. Apapun artinya, itulah julukan yang diberikan untuk sebuah nama lokal bernama Plengkung. 

Ombak di Plengkung merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Ombak setinggi 4-6 meter sepanjang 2km dlm formasi 7 gelombang bersusun “go to left” cocok ditunggangi oleh peselancar kidal. Selain Plengkung untuk peselancar prof, ada juga Pantai Batu Lawang untuk pemula. Ombak disini dikenal “dua puluh dua puluh” yang artinya dua puluh menit mendayung ketengah dan dua puluh menit menikmati titian ombak. 

TNAP selain surganya peselancar, juga tempat yang cocok untuk berpetualang menembus hutan, mengamati satwa di padang terbuka dan berkunjung ke gua2 mistis. Entah kenapa, TNAP juga tempat yang paling banyak dikunjungi untuk tujuan meditasi dari berbagai latar belakang etnis dan religius dari seluruh Indonesia. Beberapa orang bahkan telah bertahan 3 tahun bermeditasi dihutan dan gua. Menarik berbincang, bertukar pikir dengan mereka, tentang perspective alam semesta, arti kehidupan dan tujuan sebenarnya dari hidup ini. 

Gua2 meditasi yang dimaksud adalah Gua Istana, Gua Putri dan Gua Padepokan, selain Gua Macan yang konon punya nilai mistis tinggi. Gua ini dicapai dari Pos Pancur sejauh 2 km berjalan kaki. Tak jauh dari Rawabendo, terdapat Pura Tua bernama Giri Seloka yang sudah ada disana jauh sebelum TNAP ada. Menurut catatan buku tamu di Pos Rawabendo, sebagian dari pengunjung TNAP adalah tamu ibadah menuju ke Pura ini. Hari teramai di TNAP adalah hari Pager Wesi, hari suci penuh upacara seperti halnya Kesodo di Bromo-Tengger. 

Di TNAP terdapat padang Sadengan, tempat dimana sekitar 200-an ekor banteng, rusa dan merak tinggal. Lokasi ini tak jauh dari pintu masuk Rawabendo, melalui 3 km jalan makadam dengan pemandangan hutan jati tua dengan status dihutankan. Terdapat juga pantai Ngagel, tempat penangkaran penyu belimbing, abu2 dan hijau. Lokasi ini hanya berjarak 3 km dari Rawabendo melalui jalan makadam dan pasir pantai. 

TNAP memiliki banyak pantai bagus, bebas dari hiruk pikuk turis kota. Kegiatan komersial yang berarti hanya di Plengkung, dikelola oleh dua atau tiga operator swasta sebagai resort khusus kaum peselancar. Disini, nyaris seluruh tamunya adalah pengunjung Mancanegara, terutama dari Australia. Penginapan dan kehidupan yang ditawarkan sangat membumi, menyatu dengan setting alam TNAP. Cottage atau kamar mungil yang disewakan menggunakan bahan alami, spt. kayu, bambu dan ijuk dengan penerangan lampu minyak tanah. Beberapa bahkan cukup unik, dengan ruang tidur berupa gerobak sapi tempo dulu. Namun demikian, biayanya cukup mahal, sampai ratusan US dollar dalam satu paket: beberapa hari bermalam, sewa peralatan selancar, makan dan biaya transfer dari/ ke Denpasar. 

Terdapat juga pantai Trianggulasi, pantai pasir putih dengan pemondokan yang dikelola langsung pihak TNAP dengan biaya yang lebih terjangkau. Pantai Gotri dengan bulir pasirnya yang berbentuk bulat besar2 dan sangat ringan, sehingga terasa sulit berjalan. Selain itu ada lagi Pantai Parang Ireng dengan pasirnya yang hitam legam. Di tepi pantai antara Pancur dan Plengkung terdapat deretan pohon2 sawo kecik raksasa yang tumbuh berjajar. Buah sawo kecik hutan dengan kulitnya yang berwarna merah memiliki rasa manis, buahnya berserakan dipantai. 

Hutan TNAP dapat dicapai melalui kota Banyuwangi terus ke Muncar atau melalui Benculuk dengan tujuan akhir Pasar Anyar. Dari sini kita meninggalkan perkampungan, menuju hutan terisolasi di ujung Blambangan, melalui 10 km jalan makadam menuju pintu utama Taman Nasional di Rowobendo. Pendaftaran langsung dapat dilakukan disini. Dari Rowobendo, 3km jalan makadam menuju Pancur, sebuah pos TNAP ditepi pantai. Dari Pancur, jalan bercabang2 menuju Sadengan, pantai Ngagel atau terus ke selatan menuju Plengkung. Walaupun didalam hutan, penunjuk arah cukup jelas, dan kecil kemungkinan tersasar, walaupun tanpa panduan. Jika anda membutuhkan panduan, Jagawana atau asisten Jagawana yang ramah siap membantu. 

Jalan dari Pancur ke Plengkung sejauh 6km adalah jalan aspal yang masih baru, dengan sebagian kecil saja yang masih belum selesai. Jalan ini sempat dipertanyakan keberadaannya oleh LSM, antara sasaran eko-turisme di satu pihak dan pelestarian hutan konservatif disisi lain. Apapun pendapatnya, banyak orang sepakat menilai bahwa TNAP termasuk salah satu taman nasional yang paling berhasil dan paling terbebas dari penyusupan / penebangan liar yang sedang marak di hampir diseluruh taman nasional Indonesia. 

Lokasi pantai2 di TNAP dpt dicapai dlm hitungan sebentar dari Pancur. Khusus Plengkung, kendaraan pribadi hanya boleh diparkir di pos Pancur. Dari sini, diteruskan dengan 3 cara: berjalan kaki selama 1.5 jam, diantar jagawana TNAP naik motor trail, atau menggunakan angkutan khusus TNAP. 

Apapun cara dan tujuannya, TNAP adalah taman nasional unik yang patut dikunjungi karena memiliki daya tarik keindahan pantai, punya misteri, tetapi mudah dicapai. Jika anda liburan menuju Bali, mampirlah barang sejenak, dibutuhkan hanya 2 jam dari penyeberangan Ketapang. Kami yakin anda akan menemukan pengalaman baru disini. Tidak banyak orang Indonesia yg pernah datang kesini. Saya sendiri, cukup beruntung pernah menyaksikan keindahan pantai dan kesunyian hutan di Taman Nasional Alas Purwo ini. 

 

http://unikanehnuel.blogspot.com

 

 

 

About these ads

PIN BBM : 7CD885B5 == BBM CHANNEL : C0028060A

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 61 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: