Mengapa Muhammadiyah Berbeda Dalam Penentuan Awal Bulan Ramadhan?

Senin,23 Juli 2012

Salam Persahabatan…

Selamat Datang Di Padepokan Mas Say Laros…

Muhammadiyah dan Masalah Di Seputar Penentuan Awal Bulan Ramadhan

Oleh :Tarjih PDM Kota Malang

            Sikap muhammadiyah dalam menentukan awal dan akhir bulan ramadhan memang merupakan masalah yang selalu diperbincangkan, baik di tingkat lokal, maupun nasional. Hal itu dikarenakan Muhammadiyah sering kali berada dalam posisi berbeda dengan apa yang ditetapkan oleh pemerintah. Kasus terakhir pada bulan ramadhan tahun lalu 1432 H. Berbeda dengan pemerintah yang menetapkan 1 Syawal 1432 H jatuh pada hari rabu tanggal 31 Agustus 2011. Muhammadiyah menetapkan sehari sebelumnya, yaitu pada hari selasa tanggal 30 agustus 2011. Tidak jarang hal ini menjadikan organisasi muhammadiyah di anggap sebagai organisasi yang mementingkan kepentingan kelompok dari pada kepentingan bangsa. Benarkah demikian?

            Pada tulisan ini akan dijelaskan latar belakang dan landasan metodologis ijtihad muhammadiyah dalam menentukan awal bulan Qomariyah, khususnya awal bulan ramadhan dan awal bulan syawal. Agar menjadi renungan dan dasar yang kokoh untuk menjawab pertanyaan di seputar masalah tersebut. Dalam menentukan awal bulan ramadhan, para ulama termasuk Majelis tarjih muhammadiyah memperhatikan pada dalil-dalil dari ayat Al-quran dan Al-Hadits berikut :

  1. Firman Allah dalam surat yunus ayat 5 ; Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkannya manzilah-manzilah (Tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu,supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu)
  2. Hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Imam Muslim dan Abu Hurairah ; Berpuasalah kamu karena melihat tanggal dan berbukalah karena melihatnya apabila kamu terhalang pengelihatanmu oleh awan,maka sempurnakanlah bilangan bulan sya’ban 30 Hari.
  3. Hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh ashhabus sunan dari ibnu ‘Abbas : Datanglah seorang badui kepada Nabi SAW, ia berkata : ‘’Sungguh saya telah melihat hilal’’. Lalu nabi SAW bersabda :’’ Adakah kamu bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah. Ia menjawab ‘’Ya’’. Adakah kamu bersaksi bahwaMuhammad adalah utusan Allah?’’. Ia menjawab ‘’Ya’’. Kemudian Nabi SAW bersabda : ‘’ Wahai Bilal beritahukanlah kepada orang-orang agar supaya mereka berpuasa esok hari’’.
  4. Hadits nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan ad-Daruquthni dari Ibnu ‘Umar : telah melihat hilal . Maka berpuasalah beliau (Rasullullah SAW) dan menyuruh orang – orang supaya berpuasa .
  5. Hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ibnu ‘Umar  : Bila kamu melihat tanggal (Hilal) maka berpuasalahdan bila kamu melihatnya maka berbukalah (Berlebaranlah). Jika penglihatanmu tertutup oleh awan maka kira-kirakanlah bulan itu.

Berdasarkan dalil-dalil diatas tidaklah serta merta masalah penentuan awal bulan ramadhan menjadi sama dan tersepakati oleh seluruh umat islam. Tapi mengalami perbedaan yang cukup mendalam bahkan prinsipil. Khususnya di Indonesia, banyaknya ormas atau paham yang hidup dan berkembang yang secara normative ibadah berbeda dengan Muhammadiyah,berbeda pula dalam hal-hal yang menjadi pendukungnya, seperti kepastian waktu untuk melaksanakan ibadah, misalnya penentuan awal bulan Ramadhan ini.

Sebagai contohnya adalah perbedaan antara Muhammadiyah dan NU dalam penentuan awal bulan Qomariyah yang telah menjadi ‘’Rutinitas’’ dalam setiap memasuki bulan baru Qomariyah, khususnya bulan ramadhan, syawal dan Dzulhijjah. Sehingga,setiap akan memasuki bulan-bulan baru tersebut selalu terlintas dalam benak umat islam pasti akan terjadi perbedaan dalam penentuan hari dimulainya bulan baru hijriyah, terutama ketika menurut para ahli hisab ketinggian hilal (irtifa’ al-hilal) masih kurang dari 2 derajat atau di atas 2 derajat tetapi tidak berhasil di rukyat pada tanggal 29-nya. Menurut muhammadiyah yang menggunakan prinsip wujudul hilal, maka esok hari sudah jatuh tanggal 1 bulan baru. Sedangkan menurut PBNU yang menggunakan prinsip rukyatul hilal atau istikmal, esok hari belum jatuh tanggal 1 bulan baru, tetapi masih tanggal 30 bulan yang masih berjalan, sedangkan tanggal 1 bulan baru jatuh pada hari lusa. Metode ini yang dikenal dengan istikmal.

Awal Bulan Qomariyah Menurut Muhammadiyah

Perlu diketahui bahwa para ulama dan para Ahli falak berbeda pendapat dalam memberikan criteria untuk menetapkan awal bulan Qomariyah khususnya awal bulan ramadhan dan awal bulan syawal. Ada ulama yang menetapkan bahwa awal bulan mulai pada saat terbenam matahari setelah ijtima’. Dengan kata lain, apabila ijtima’ terjadi sebelum terbenam matahari maka tanggal satu bulan baru masuk pada saat terbenam matahari pada hari itu. Sebaliknya apabila ijtima’ terjadi setelah terbenam matahari maka tanggal satu bulan baru ditetapkan pada saat terbenam matahari berikutnya.

Dalam menentukan awal bulan Qomariyah khususnya awal bulan Ramadhan dan bulan syawal majlis tarjih menggunakan criteria ijtima’ qablal ghurub plus posisi bulan diatas ufuk. Artinya, apabila saat matahari terbenam setelah terjadi ijtima’ bulan sudah wujud di atas ufuk, atau posisi bulan berada diatas ufuk dengan tidak memperhatikan apakah posisi diatas ufuk itu mungkin dilihat atau tidak mungkin dilihat (imkanur rukyat), maka malam harinya dimulai bulan baru. Sebaliknya,apabila pada saat terbenam matahari setelah terjadi ijtima’ itu bulan belum wujud, atau posisi bulan berada dibawah ufuk maka malam harinya belum dimulai bulan baru.

Menurut muhammadiyah bahwa awal bulan Qomariyah itu didasarkan pada pedoman hisab hakiki dengan prinsip wujudul hilal, yaitu jika matahari terbenam terlebih dahulu dari pada bula baru, berapapun selisih waktunya atau berapapun tinggi hilal di atas ufuk, Prinsip itu sering atau disebut dengan ‘’ Jalan tengah’’. Prinsip hisab hakiki dengan system wujudul hilal ini digagas oleh Kyai kanjeng penghulu Muhammad Wardan Diponingrat (1911-1991), mantan pimpinan pusat majelis tarjih PP.Muhammadiyah, Anggota badan hisab rukyat Depag RI (1973-1990) sejak tahun 1957. Secara terperinci prinsip yang dipegangi muhammadiyah tersebut adalah sebagai berikut :

Jika hilal tidak mungkin dirukyat karena masih dibawah ufuk maka muhammadiyah mengambil langkah istikmal, sebagai jalan keluar dalam menghadapi kesulitan dala penetapan hokum. Akan tetapi jika hilal tidak mungkin dirukyat karena tertutup awan atau belum imkan, maka jalan keluarnya adalah hisab. Itulah sebabnya dalam putusan tarjih disebutkan :’’ Tidak ada yang menghalangi dengan hisab.’’

Prinsip tersebut didasarkan pada hadits nabi yang diriwayatkan mutaffaq ‘alaih (Imam Al- bukhari dan Muslim) dari Ibn ‘Umar, yaitu :’’ Maka apabila hilal itu tertutup awan,maka kadarkanlah’’.)

Kemudian kata kadarkanlah didasarkan pula pada maknanya kepada Firman Allah dalam surat yunus ayat 5 ; Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkannya manzilah-manzilah (Tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu,supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu).

Oleh karena itu, dalam penentuan awal bulan qomariyah, Muhammadiyah berpegang pada hisab terlebih dahulu, sedangkan rukyat hanya sebagai penguat hisab saja, sehingga jauh sebelumnya Muhammadiyah sudah dapat mengumumkan keputusannya kepada masyarakat. Alasannya adalah karena system hisab pada masa sekarang ini yang didukung disiplin ilmu astronomi kontemporer sudah teruji dan dapat dijamin akurasinya, sehingga tidak perlu pembuktian di lapangan.

Jadi muhammadiyah mengartikan lafal ru’yah dalam hadits-hadits di atas bukan melihat secara langsung, tetapi cukup melalui hisab atau perhitungan rumus-rumus yang kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan atau ru’yah al-hilal bi al’ilm.

Dengan metode ini sudah sangat di mafhumi akan adanya selalu kemungkinan terjadi perbedaan awal ramadhan dan awal syawal di tahun –tahun ke depan. Maka PP Muhammadiyah telah memberikan maklumat tentang masalah tersebut ;

  1. Mengajak dan menghibau semua pihak untuk saling menghormati dan mengembangkan tasamuh (toleransi) karena perbedaan tersebut didasarkan pada keyakinan agama serta memperoleh jaminan konstitusi.
  2. Kepada pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah dengan seluruh lembaga dan aparaturnya diminta untuk bersikap adil dan memberikan keleluasaan karena menjalankan shalat ‘idul fitri tersebut merupakan perwujudan dari keyakinan beragama dan beribadah yang semestinya dihormati karena dijamin oleh konstitusi Negara Republik Indonesia.
  3. Muhammadiyah berpandangan bahwa perbedaan pelaksanaan hari raya selama ini tidaklah merusak ukhuwah (persatuan) di tubuh umat islam maupun sesame komponen bangsa. Perbedaan tidak berarti rusaknya ukhuwah, lebih-lebih jika disertai dengan sikap saling menghormati dan toleransi.
  4. Terlalu banyak agenda-agenda dan masalah-masalah besar yang dihadapi umat dan bangsa, yang memerlukan penghadapan dan langkah semua pihak secara serius, termasuk dari umat islam yang telah menjalankan puasa dan beridul fitri. Jadikan ramadhan dan ‘idul fitri sebagai momentum untuk menampilkan perilaku-perilaku yang autentik (fitri, asli, murni) sehingga mampu memberi warna bagi pembentukan karakter yang mulia dan penuh martabat di tubuh bangsa tercinta ini. Wallahua’lam bish showab.

 

 

 

About these ads

PIN BBM : 7CD885B5 == BBM CHANNEL : C0028060A

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 61 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: