Elizabeth Karen Sinden Dari Amerika Yang Pandai Bahasa Jawa


Saya terkejut menyaksikan perempuan kulit putih menjadi sinden di acara wayang kulit. Benar-benar kaget! Sekarang saja kita semakin sulit menemukan anak-anak muda di tanah Jawa yang mampu berbahasa Jawa secara baik dan benar. Alih-alih menyanyikan tembang jawa, alias nyinden.
Tentang Karen Elizabeth

Nama : Karen Elizabeth Sekararum
Penggilan : Elizabeth
Tempat tanggal lahir : USA, 19 Desember 1964
Alamat : Padepokan Seni Mangun Dharma Tumpang, Malang
Suami : Ki Sholeh Adi Pramono
Anak : 1. Sonya Condro Lukitosari, 13
2. Kyan Andaru Kartikaningsih, 8
Pendidikan : 1. Universitas Wisconsin, Amerika Serikat
2. Universitas Virginia, Amerika Serikat
Ayah : David Schrieber
Ibu : Janet Schrieber
Hobi : Menari, menyanyi
Makanan favorit : Masakan Padang

===========
Prihatin Anak Muda Cuek Seni Tradisi

NAMA Karen Elizabeth Sekararum sudah tak asing di antara deretan penggiat seni Jawa Timur. Berangkat dari padepokan seni Mangun Dharma Malang, dia meretas konsistensi dan berjuang menghidupkan lagi seni tradisional yang mulai terpinggirkan.

Hobi menari dan nyinden kini telah menjadi sebuah identitas yang tak terpisahkan dari sosok perempuan kelahiran Chicago, Amerika Serikat, itu. Istri dalang Ki Soleh Adi Pramono tersebut kini lekat dengan identitas sinden bule. Satu-satunya di Jatim, mungkin di Indonesia.

“Saya mengawalinya sebagai penikmat seni tradisional Jawa. Eeh, suwe-suwe kok kepincut, ya sekalian saja nyemplung,” tuturnya sambil tersipu.

Ibu dari Sonya Condro Lukitosari dan Kyan Andaru Kartikaningsih itu mengatakan, budaya tradisional Indonesia, khususnya Jawa Timur, adalah seni budaya yang sangat langka. Sayang, kata dia, generasi muda Jawa cenderung mengabaikannya. “Saya sangat mengaguminya. Terus terang, saya eman jika seni adiluhung itu hilang percuma,” ujarnya.

Elizabeth mengaku akan kecewa jika seni budaya tradisional sering diposisikan di tempat kedua setelah kebudayaan modern. “Setiap mendengar gending Jawa, saya merasa ayem. Anehnya, anak-anak muda sekarang cenderung anti terhadap irama warisan nenek moyangnya,” katanya.

“Tidak ada yang melarang jika orang suka musik rok atau dangdut. Tapi, jangan lupakan seni tradisional sendiri,” sambung wanita bermata biru tersebut.

Sebagai bentuk keprihatinannya, Elizabeth merumuskan sebuah ide untuk disampaikan kepada generasi muda Indonesia. “Sebaiknya, para pelestari budaya mulai memikirkan cara mengawinkan seni modern dengan tradisional untuk menumbuhkan kecintaan pemuda terhadap seni tradisional,” ucapnya.

Dia menilai, seni itu ada karena ada yang menikmati dan mengapresiasi. Jadi, walaupun dimuseumkan, kalau tidak ada lagi yang menikmati, seni menjadi tidak berguna. “Kalau nggak gitu, ya muspro (percuma, Red),” tuturnya.

Jika pencinta seni tradisional cukup banyak, kesenian tersebut pun akan terjaga dengan sendirinya. “Meski tidak disimpan dalam museum, kesenian itu akan terjaga oleh masyarakatnya,” katanya. (zul/uan)

PIN BBM : 7CD885B5 == BBM CHANNEL : C0028060A

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 61 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: