Melawan Mitos Menak Jinggo Dengan Mitos Baru

 Pengertian mitos atau mite menurut JS Badudu (1986:45) adalah dengeng atau cerita tentang dewa-dewa atau pahlawan-pahlawan yang dipuja-puja. Keberadaan tokoh mitos, seperti diuraikan pakar Folklor, James Danandjaja,  meski sebagai pribadi pahlawan-pahlawan mitos itu tokoh sejarah, namun riwayat hidupnya yang kita kenal dalam mite, bukan sejarah itu sendiri. Riwayat itu tidak diambilkan dari pribadi asli tokoh sejarah, melainkan diambil dari riwayat tradisional yang masuk dalam folklore (1984:60).
Realitas mitos pada sebagian masyarakat dipercayai kebenarannya, ada juga yang menjadikannya sebagai sumber kekuata, semangat hidup hingga menjadikan sikap hidup para tokoh mitos itu sebagai panutan yang patut diteladani. Inilah yang muncul dan terlihat pada syiar gending Banyuwangi, saat mereka bercerita tentang tokoh Menak Jingo.  Tokoh antagonis dari Kadipaten Blambangan (sekarang Banyuwangi) dalam Serat Damarwulan, justru dielu-elukan sebagai pahlawan dalam membela tanah air.
Pertentangan keberadaan Serat Damarulan sendiri, bukan hanya di Banyuwangi yang merasa didikreditkan dengan penggambaran tokoh Menak Jinggo. Namun jauh sebelum itu, banyak pihak yang meragukan Serat Damarulan merupakan cerita yang berlatar belakang sejarag\h akhir kekuasaan Majapahit.  Seorang pengarang besar era Pujangga Baru, Sanusi Pane. juga telah mengkritisi Serata Damarwulan. Karya Drama berjudul Sandyakala Ning Majapahit, ditulis tahun 1933 dan diterbitkan Balai Pustaka. Sanusi Pane tidak menjadikan Damarwulan sebagai pahlawan, melainkan Damarwulan sebagai penghinata dan dihukum mati.
Bahkan seorang sejarawan dari UGM. S Margana menulis secara krtis, jika Serat Damarwulan, baik yang berbentuk prosa, tembang maupun Langendriyan, muncul nama-nama tokoh seperti seperti Damarwulan, Menakjingga, Kencanawungu, Logender, Layang Seta dan Layang Kumitir, Anjasmara, Ranggalawe, dan sebagainya. Dari keseluruhan nama tokoh yang disebutkan itu hanya nama Ranggalawe yang dikenal dalam buku sejarah seperti yang diajarkan di sekolah-sekolah. Ranggalawe adalah Bupati Tuban yang dituduh memberontak kepada Majapahit. Munculnya tokoh ini dalam cerita Damarwulan menjadi pintu masuk untuk meneliti apakah tokoh-tokoh lain yang disebut dalam cerita ini adalah benar-benar tokoh sejarah atau hanya tokoh-tokoh fiktif atau rekaan semata.
Muncul dugaan, jika serat Damarwulan itu sengaja dibuat oleh orang-orang Mataram, setelah beberapa kali gagal menaklukan Blambangan secara penuh. Meski pernah berhasil menaklukan pemimpin perangnya, namun rakyat Blambangan tidak serta merta tunduk terhadapPenguasa Mataram. Berangkat dari kondisi inilah, para pujangga Mataram diperintahkan menulis serta yang mengambil latar belakang sejarah Majapahit.
Dari beberapa karya tulis tentang Serat Damarulan, juga banyak ditulis oleh orang-orang Mataram. Seperti: Koesoemawardhani, Goesti Raden Adjeng Siti Noeroel Kamaril Ngasarati. Damar Woelan ngarit; Toneelstuk van de Langendrija-Klitik (lakon wayang klitik). Soerakarta, 1930; Sastradiredja, Mas. Wawatjan Damarwoelan. Penerbit Balai Poestaka, Batavia, 1931; Moeis, Abdoel. Hikajat Damar Wulan. Penerbit G. Kolff, Bandung, 1950; Tjakraningrat, Kangdjeng Pangéran Harja. Serat Damarwulan. Penerbit R. Soemodidjojo, Ngajogjakarta Hadiningrat, 1953.
Terlpas dari pedebatan panjang tentang Serat Damarulan, para pengarang gending Using (Banyuwangen), telah mengambil sikap protes keras terhadap peredaran cerita itu. Bahkan dalam cerita Janger (Drama Tradisional Banyuwangi), tokoh Menak Jinggo digambarkan sebagai Raja yang arif bijaksana, berwibawa dan dicintai rakyatnya. Judul ceritanya juga diubah menjadi Menak Jinggo Nagih Janji, bukan Damarulan mengalahkan Menak Jinggo seperti dalam cerita Ketoprak (Drama Tradisional Jawa). Bahkan dalam retang tahun 1970-an, ada tiga Gending Using yang mengambil tema tentang tokoh Menak Jinggo: Pertama, Menak Jinggo (Andang CY); kedua “Pahlawan Blambanga”  (Armaya) dan ketiga Jimat Wesi Kuning” (Fatrah Abal).
Sapa bain arep takon aran isun Menak Jinggo
Lamat-lamat semriwing ring kuping
Nalikane isun kelayung-layung nang gendongan
Emak_Bapak sing leren-leran ngudang
Anak isun lanang satria bagus gagak perkasa
Dadio agul-agul sun iring puja lan puji
Sapa bain arep takon aran isun Menak Jinggo
Isun sing perduli asal isun teko endi
Embuh lahir nong keratin emboh lahir nong galengan
Emak-Bapak karepe wis sun turuti
Sun ancep tanggul-tanggul lan umbul-umbul
Sak ubenge tanah Blambangan
Sapa bain arep takon aran isun Menak Jinggo
Pancen ono pecake tatu ring awak isun
Peningsite tanda bakti nong Raja Majapahit
Ngukuhaken jejege sengker Blambangan
Sing arep nggisir teka isun mulyaaken Blambang
Syair/lagu                              : Andang CY/BS Noerdian
Tahun cipta/popular           :September 1972/1974
Instrumen pengiring           : Angklung
Produksi Rekaman           :Sarinande Record Banyuwangi
Dalam gending “Menak Jinggo”, tokoh mitos seakan-akan benar adanya, semangat dalam membela kebenearan dan menjunjung tinggi keadilan cukup tinggi. Pengarang seakan ingin menanamkan cinta tanah air (daerah), dengan menghidupkan Tokoh yang selama ini didikreditkan dan menjadi anak-anak muda Banyuwangi menjadi mider dan kurang percaya diri.
Dalam kisah Serat Damarulan, Menak Jinggo digambarkan mempunyai sifat yang tidak terpuji, suka memberontak dan merebut istri orang. Bahkan dalam pementasan Ketoprak, tokoh Menak Jinggo digambarkan jalannya ‘picang’, mukanya rusak sebagai gambaran orang jahat. Namun cerita itu ditentang habis oleh pengarang Gending Using, ditentang ‘realitas dalam cerita itu” dengan memberi nilai positif terhadap watak tokoh Menak Jinggo. Bukan sebagai pecundang, melainkan seorang pahlawan dengan gagah berani membela tanah airnya.
Meskipun dalam catatan sejarah, raja Blambangan tidak pernah ada yang bernama Menak Jinggo, namun masyrakat yang merima cerita lisan dan pentas drama tradisonal itu akhirnya menjadi risih. Bahkan mereka merasa terhina, jika melihat pementasan Ketoprak dengan lakon Damarulan. Mereka meyakini, cerita Damarulan ini buah karya dari orang-orang Mataram. Makanya tidak heran, jika cerita ini sangat dikenal di daerah Jawa Tengah.
Realitas mitos dalam karya sastra (serat Damarulan) dengan realitas dalam masyarakat, masing-masing mempunyai makna tersendiri. Realitas mitos dalam masyrakat, mencerminkan pandangan masyarakat terhadap miyos itu sendiri. Pengarang gending mengakui, dampak buruk yang disebabkan perkembangan cerita dalam Serat Damarulan yang sudah menjadi mitos. Oleh kare itu, pengarang juga mengkoter balik melalui karya sastra (gending). Pengarang tidak prontal mengatankan bahan cerita itu bohong, karena sudah terlalu lama diterima masyrakata. Namun dengan cari menyelewengkan kisah dan memberi sifat-sifat positif, diharapkan mampu mengkikis perasaan rendah diri akibat penggambaran buruk Raja di daerahnya.
Raja gagah hang ganteng rupane
Dedege kukuh njanjang kemerdep klambine
Iku Menak Jinggo pahlawan Blambangan
Sakti mondroguno wateke teges terang-terangan
Kadung ngomong gromsyon nyenengaken
Mula rakyate akeh hang pada kentelan
Gede perbawane bisa dipercoyo
Sing gampang nyerah keneng ditiru dienggu tulodo
Menak Jinggo rame dsadi fitnahan
Dikira arek nganaaken pemberontakan
Saktemene mung milu takon nang pamane
Apuo gok Kenconowungu hang mangku Ratu
Lahire perang Majaphit-Blambangan
Dudu soal sepele mbbela nama lan kehormatan
Dilakoni agus getih nuntut keadilan
Menak Jinggo lila mati kanggo bumi Blambangan
Judul gending             : Pahlawan Blambang
Syair/lagu                     : Armaya/Mahfud Hr.
Tahun cipta/popular    :1973/1974
Interumen pengiring    :Angklung
Produksi rekaman       :Ria Record Banyuwango
Gending Pahlawan Blambangan tidak jauh berbeda dengan gending Menak Jinggo, tetapi  ada kesan yang menonjol yaitu mengkultusan tokoh Menak Jinggo.  Jika dalam Serat Damarwulan digambarkan pisik tokoh Menak Jinggo yang rusak, jalan pincang, cara bicaranya  kasar dan sebagai pemberontak. Namun dalam gending Pahlawan Blambangan, pengarang justru membalik 180 derajat diskripsi itu.  Selain digambarkan seorang Raja yang gagah berani, berwibawa, santungaya bicaranya dan sangat dicintai rakyatnya.
Jika dalam Serat Damarulan  menganggap Menak Jinggo sebagai tokoh pemberontak, pengarang gending justru menganggap pernyataan itu sebagai fitnah. Sejarang selisih paham Blambangan-Majaphit juga dijadikan landasan, untuk menentang kenyataan mitos Damarulan. Bahkan, Armaya yang menulis  syair gending, juga pernah menulis makalah, jika perang antara Majapahit-Blambangan itu memang pernah ada. Saat itu Blambangan dipimpin seorang Adipati Bre Wirabumi sekitar tahun 1404-1406 (Armaya, 1992).
Menurut sejumlah sejarawan, Serat Damarulan merupakan karya fiksi yang mengambil setting perang Parereg atau peristiwa pemberontakan Pengeran Sadeng. Namun rakyat kecil tidak mau tahu tentang semua itu,  mereka hanya menghubung-hubungkan saja. Meski Serat Damarulan dianggap fiksi, tetap saja rakyat mempercayai adanya setelah mereka membaca sejarah ternyata antara Blambang dan Majapahit pernah berkonflik. Inilah lihainya penguasa Mataram, dalam memamfaatkan sejarah itu guna kepentingan kekuasaannya.
Wesi kuning jimat Blambangan
Mandraguna sapa hang duwe
Menak Jinggo satria nyata
Sakti adil kanggo negoro
Ayo kabeh lare Blambangan
Nyang endi bain siro ning dunya
Enggonen jimat wesi kuning
Uripono jiwa satria
Sing gampang niru Menak Jinggo
Tekade atos koyo wesi
Tingkah polahe jujur lan joyo
Kaya kuninge barang hang aji
Aja mundur satria Blambangan
Dung iku kanggo keadilan
Paran maning kanggone nusa
Ikhlasno nyawa lan raganiro
Judl gending               : Jimat Wesi Kuning
Syair/lagu                  : Fatrah Abal/ BS Noerdian
Tahun cipta/popular  :
Instrumen pengiring  :
Produksi rekaman    :
Fatrah Abal sang pengarang gending “Jimat Wesi Kuning”, tidak berkutat pada pertentangan baik buruknya Menak Jinggo. Namun Fatrah Abal mencoba mengurai makna symbol dari “Jimat Wesi Kuning” yang kono disebut-sebut sebagai sejnata pamungkas milik Menak Jinggo. Spiritnya sama, Fatrah ingin memberi nilai positif tentang sosok Menak Jinggo. Bahkawa tidak mudah menjadi Menak Jinggo dan perlu ditauladani, pengorbanannya, semangat nasionalisme dan perjuanganya.
Dalam pesannya Fatrah Abal meminta kepada generasi muda Banyuwangi di manapun berada, agar mempunyai tekad yang kuat seperti ‘baja” (wesi) dan mengharumskan nama daerah dengan prestasi seperti kemilau warna emas (kuning).

Dari ketiga gending tadi, kita sudah bisa memperoleh gambaran umum masyarakat Banyuwangi tentang mitos Menak Jinggo. Para pengarang gending sengaja membiarkan mitos Menak Jinggo tetap dihati masyrakat, namun dengan memberi ‘semangat” baru dengan merubah diksripsi negative menjadi positif.  Mereka menolak gambaran tentang tokoh Menak Jinggo yang disebut sebagai Raja Blambangan, karena penggambaran yang dianggap merugikan. Namun bentuk penolakan itu, juga dalam bentuk karya sastra dan berkembang di Banyuwangi. Para pengarang ini juga tidak mau intervensi maupun usul kepada penbguasan yang lebih luas kekuasaannya, atas berkembangnya penggambarkan tokoh Menak Jinggo yang dianggap merugikan. Namun  pada tahun 1984, Seniman, Budayawan dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, pernah menolak pemuran film dengan judul Damarwulan. Film itu meski dalam cerita banyak berlokasi di Blambangan (Banyuwangi sekarang), namun sang sytradara tidak pernah mengambil gambar di sana. Selain itu, juga tidak pernah konsultasi tentang keberadaan Miots Damarulan di mata masyaakat Banyuwangi.

http://wong-using.blogspot.com

About these ads

PIN BBM : 7CD885B5 == BBM CHANNEL : C0028060A

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 62 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: