Homoseksual,Sebuah Pilihan Hidup Yang Sangat Berisiko

Kamis, 03 Nopember 2011

Salam Persahabatan…

Bagaimana Kabarnya Sahabat Mas Say Laros?

Homoseksual atau biasa kita sebut dengan istilah pecinta sejenis ini merupakan sebuah perilaku seksual yang sangat kontroversial khususnya pada masyarakat indonesia hal ini wajar karena memang orang kayak gini dianggap manusia gila karena sudah menyalahi kodrat sebagai manusia pada umumnya.Benarkah sekeji dan sehina itukah orang-orang homoseksual?

Kalau kita berbicara politik tentu arahnya pada menang dan kalah,Kalau berbicara perdagangan arahnya Untung dan rugi,begitu pula ketika kita berbicara hukum fiqh arahnya masalah Halal dan Haram.Namun ketika kita berbicara perilaku homoseksual kita harus belajar lebih dalam lagi mengapa mereka memilih jalan itu adakah faktor lain yang menyebabkannya seperti keluarga yang broken home, Teman yang juga homoseksual, Pengalaman pahit masa kecil, atau mungkin sudah bawaan dari lahir.Nach,banyak hal yang perlu kita teliti untuk menyimpulkan pilihan hidup masing-masing orang.

Dalam sedikit corat-coretan Padepokan Mas Say Laros kali ini saya pribadi tidak ingin mengajak berbicara Halal dan Haram maupun benar dan salah dalam masalah homoseksual ini.Karena memang saya yakin pembaca sudah bisa menyimpulkan sendiri apa hukumnya orang-orang seperti ini.Namun,sebagai sesama makhluk tuhan apa salahnya memahami kehidupan mereka sehingga ketika kita tahu duduk permasalahan mereka nantinya kita bisa menariknya ke arah yang lebih baik.

Dalam dunia ini tidak ada sesuatu apapun yang tidak berisiko karena memang setiap identitas status yang melekat pada diri seseorang,setiap keputusan yang dibuat, setiap tindakan yang dilakukan pasti mengandung resiko.Bahkan hidup sendiri adalah sebuah resiko  yang harus dijalani dan dihadapi. Demikian juga dengan identitas seksual, baik itu heteroseksual, homoseksual, biseksual semuanya memiliki resiko yang harus dijalani dan dihadapi.Nach,maka dari itu Hidup aja beresiko so,kalau gak mau ambil resiko ya jangan hidup donk..heheh…Bukan begitu tho?

Setelah membaca dari berbagai literatur dan juga mendapat sedikit ilmu dari mata kuliah manajemen resiko kemarin,Mas Say Laros mencoba menganalisis dari sudut pandang ilmiah tentang resiko yang dihadapi oleh homoseksual.Secara umum resiko yang dialami oleh homoseksual dapat kita bedakan dari dua sudut pandang yaitu berdasarkan sumber resiko dan jenis resiko yang dihadapi.


1.   
Sumber Resiko

Kalau Berdasarkan sumber resiko kita dapat melihat sumber / asal usul darimana resiko tersebut datang. Maka resiko yang rentan dihadapi oleh homoseksual dapat dibedakan menjadi dua:


a.    Resiko yang harus dihadapi dari lingkungan eksternal

Keberadaan kaum homoseksual di tengah-tengah masyarakat dan di dalam berinteraksi / bersosialisasi dengan lingkungan senantiasa dihadapkan pada hukum, norma, nilai-nilai, dan aturan tertulis maupun tidak tertulis, serta stereotipe yang berlaku di masyarakat. Misalnya saja hukum negara yang tidak memperbolehkan terjadinya pernikahan antara sesama jenis kelamin, norma agama yang tidak memperbolehkan hubungan homoseksual, aturan tidak tertulis yang berlaku di masyarakat untuk menghindari relasi dengan kaum homoseksual, menutup kesempatan bagi kaum homoseksual untuk berkarya / bekerja, bersekolah atau pun kesempatan untuk mendapat pelayanan kesehatan yang sama dengan yang lain.

Nach,Dari Situasi di atas  berpotensi menghasilkan reaksi dan perlakuan yang bermacan-macam dari lingkungan di sekelilingnya. Ada yang bersikap biasa, ada yang memandang sebelah mata, ada pula yang  hingga perlakuan yang tidak menyenangkan seperti dikucilkan, disisihkan / dijauhi oleh keluarga, teman, dan lingkungan kerja, serta masyarakat.

Inilah sekelumit gambaran resiko-resiko yang kerap dihadapi oleh kaum homoseksual ketika mereka berada di tengah-tengah masyarakat dan menjalin interaksi / bersosialisasi dengan lingkungannya. Tidak menutup kemungkinan ada kaum homoseksual yang menghadapi situasi dan respon berbeda dari masyarakat.  Hal ini dikarenakan adanya perbedaan hukum dan budaya yang berlaku antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Dengan demikian sangat mungkin terjadi kaum homoseksual tertentu di masyakat A dengan budaya dan nilai-nilai tertentu memiliki resiko perlakuan yang berbeda dengan kaum homoseksual di masyarakat B dengan budaya dan nilai-nilai yang tidak sama.


b.    Resiko yang berasal dari perilaku sendiri / lifestyle

Seorang homoseksual senantiasa berhadapan dengan adanya realitas gaya hidup tertentu yang berlaku di kalangan kaum homoseksual. Gaya hidup ini meliputi cara, perilaku, dan kebiasaan tertentu baik itu dalam mengekspresikan orientasi seksual, bersosialisasi, maupun menjalani hidup sehari-hari.

Gaya hidup tertentu pada kaum homoseksual dapat beresiko buruk terhadap kesehatan fisik maupun mental & emosional, seperti: berganti-ganti pasangan dalam berhubungan seksual (berhubungan intim); melakukan hubungan seksual yang tidak aman (tidak menggunakan kondom); melakukan anal sex; minum-minuman keras & narkoba.

Penelitian mengenai homoseksual pria menunjukkan bahwa lebih dari 75% pria homoseksual mengaku telah melakukan hubungan seksual bersama lebih dari 100 pria berbeda sepanjang hidup mereka: sekitar 15% dari mereka pernah mempunyai 100-249 pasangan seks, 17% mengklaim pernah mempunyai 250-499, 15% pernah mempunyai 500-999, dan 28% mengatakan pernah berhubungan dengan lebih dari 1000 orang dalam hidup  mereka. 

Sedangkan Pada wanita-wanita lesbian, total jumlah pasangan seks lebih rendah, namun tetap diatas rata-rata jika dibandingkan wanita heteroseksual. Banyak wanita lesbian juga berhubungan seks dengan pria. Wanita lesbian 4 kali lebih memungkinkan untuk mempunyai lebih dari 50 pasangan pria sepanjang hidupnya dibandingkan wanita heteroseksual. 

Gaya hidup demikian beresiko terhadap terganggunya kesehatan fisik, seperti: STI’s (Sexual Transmitted Infections) / STD’s (Sexual Transmitted Diseases) termasuk HIV-AIDS; dan terganggunya kesehatan mental & emosional, seperti: kecemasan berlebihan, depresi, merusak / menyakiti diri sendiri, dsb.


2.    Jenis Resiko

Berdasarkan jenis resiko, resiko yang rentan dihadapi oleh homoseksual dapat dibedakan menjadi tiga:

a.    Resiko sehubungan dengan kesehatan mental dan emosional

London, 17 September 2008 (LifeSiteNews.com) – Sebuah penelitian baru di UK menemukan bahwa orang-orang homoseksual 50% lebih rentan mengalami depresi dan menggunakan narkoba jika dibandingkan dengan populasi normal lainnya.

The British Journal of Psychiatry tahun 2004, mengeluarkan sebuah hasil penelitian mengenai penyakit mental yang tinggi pada pria gay, lesbian, dan pria & wanita biseksual. Penelitian ini mensurvei penyakit mental yang dialami oleh orang-orang gay dan biseksual di Inggris dan Wales antara September 2000 dan July 2002. Survey ini mencakup 2430 orang gay dan biseksual diatas usia 16 tahun. Penelitian menemukan rata-rata yang tinggi dalam melakukan perbuatan menyakiti diri sendiri baik yang di rencanakan atau disengaja di antara group ini: 42% pria gay, 43% lesbian, 49% pria dan wanita biseksual.

Sebuah penelitian yang diterbitkan oleh The Journal of Consulting and Clinical Psychology menemukan hal sebagai berikut: pria gay dan biseksual lebih rentan di-diagnosa mengalami sedikitnya 1 dari 5 gangguan kesehatan mental daripada laki-laki heteroseksual. Wanita lesbian-biseksual lebih mungkin melaporkan diri mengalami masalah sehubungan dengan gangguan mental  daripada wanita heteroseksual dalam tahun-tahun sebelum mereka di interview. 24% wanita lesbian dan biseksual mengalami 2 atau lebih gangguan mental di tahun sebelumnya.

Setelah menganalisa sekitar 25 penelitian terdahulu mengenai orientasi seksual dan kesehatan mental, para peneliti mengatakan dalam sebuah jurnal medis BMC Psychiatry bahwa resiko bunuh diri dapat melambung hingga 200% jika seseorang terlibat dalam gaya hidup homoseksual.

Dua penelitian yang dilakukan oleh American Medical Association Archives of General Psychiatry pada Oktober 1999 menyatakan adanya hubungan yang kuat antara homoseksualitas dan perilaku bunuh diri, demikian juga dengan gangguan mental dan emosi lainnya.

Anak muda yang mengidentifikasi dirinya sebagai homoseksual, lesbian dan biseksual empat kali lebih mungkin menderita depresi berat, tiga kali lebih mungkin menderita gangguan kecemasan, empat kali lebih mungkin menderita gangguan perilaku, enam kali lebih mungkin menderita kombinasi gangguan mental, dan lebih dari enam kali lebih mungkin melakukan bunuh diri.

Data-data penelitian yang dilakukan oleh berbagai sumber diatas membenarkan adanya resiko gangguan kesehatan mental dan emosional pada homoseksual, seperti: depresi, gangguan mental, gangguan kecemasan, gangguan perilaku (melakukan penganiayaan-kekerasan seksual atau fisik / sexual or physical abuse), menyakiti / melukai diri sendiri, hingga perilaku bunuh diri.

Dinamika penyebab gangguan mental & emosional

Apakah yang menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan mental dan emosional seperti demikian pada homoseksual? Terdapat beberapa penjelasan mengenai hal ini:   

  • Tekanan psikologis terhadap penderitaan / kondisi yang tidak menyenangkan, seperti:

homophobia; HIV-AIDS; non HIV STD’s seperti: Syphilis, Anal Cancer, Gonorrhoea, Chlamydia, Herpes, Genital Warts; masalah body image. Tekanan psikologis dapat membuat seorang homoseksual menjadi stres dan ketika ia tidak mampu menghadapi stres ini (distress), dirinya menjadi tidak terkendali dan tidak mampu mengkontrol dirinya sendiri. Dalam situasi demikian orang ini dikendalikan sepenuhnya oleh emosi-emosi negatif di dalam dirinya seperti: depresi, kecemasan / ketakutan yang berlebihan,  mengasihani diri sendiri, amarah, iri hati, dsbnya.

  • Negative self image

Negative self image terjadi ketika seseorang memandang dan meyakini dirinya sendiri tidak berharga, rendah diri (bukan rendah hati loh!), dan tidak berdaya (Internalised homophobia).

Konsep homophobia internal melihat pada sebuah pemikiran dimana kita membangun self image negatif akan diri kita sendiri akibat dari perlakuan orang lain terhadap seksualitas kita selama kita bersosialisasi.

Negative self image terbentuk pada seorang homoseksual ketika ia dihadapkan pada: pengalaman masa lalu yang menyakitkan (ditolak dan dianiaya / disakiti baik fisik maupun emosional oleh keluarga, teman-teman bermain di masa kecil, ataupun di sekolah);  perlakuan yang tidak menyenangkan dari masyarakat (homophobia) seperti dengan: memberlakukan stereotipe tertentu mengenai homoseksual, men-cap atau memberikan label negatif tertentu, memberikan tekanan / memaksakan nilai-nilai, sikap, atau tindakan tertentu; serta faktor diskriminatif dalam hal beberapa hal seperti hukum, norma, nilai-nilai, dan aturan-aturan tertentu

Seorang homoseksual berkata: “Homophobia dapat menyebabkan stres, kecemasan, dan depresi. Hal ini merusak / mengganggu kesehatan fisik dan mental kita. Dan dapat mempengaruhi bagaimana kita menilai diri sendiri dan masa depan kita. Kita mungkin akan mencoba mengatasi tekanan tersebut dengan minum-minum, menggunakan narkoba, merokok atau seks.


*    Terlibat dalam melakukan hubungan seksual (hubungan intim) homoseksual.

Dalam sebuah wawancara dengan Zenith News, Dr. Richard Fitzgibbons, seorang psikiater anak kecil dan dewasa yang sudah berpraktek lebih dari 27 tahun mengatakan: “Dibandingkan dengan sampel kontrol yang tidak pernah mengalami pengalaman homoseksual dalam jangka waktu 12 bulan sebelum interview, pria yang pernah mempunyai pengalaman kontak / hubungan homoseksual apapun dalam periode tersebut lebih mungkin merasakan depresi berat, bipolar disorder, panic disorder, agoraphobia, dan OCD. Wanita dengan pengalaman kontak / hubungan homoseksual dalam jangka waktu 12 bulan terakhir lebih sering di diagnosa mengalami depresi berat, phobia sosial atau ketergantungan alkohol.

Dia menyimpulkan dengan berkata, “Pria dan wanita dengan sejarah hubungan homoseksual lebih sering mengalami hampir semua gangguan psikiatri yang diukur dalam penelitian tersebut. Penemuan ini adalah hasil dari gaya hidup yang ditandai oleh kebiasaan melakukan hubungan seks yang sembarangan dan ketidakmampuan untuk melakukan komitmen, dikombinasikan dengan kesedihan, perasaan tidak aman yang amat sangat, amarah dan masalah ketidakpercayaan semenjak masa kecil dan remaja yang belum terselesaikan.” 

Persepsi dan sikap seorang homoseksual terhadap hubungan seksual yang dilakukan memiliki konsekuensi terhadap kesehatan mental dan emosionalnya. Ketika ia menaruh persepsi dan sikap negatif terhadap hubungan seksual yang dilakukannya maka perasaan-perasaan tidak menyenangkan akan hadir dalam dirinya dan mengganggunya.

Persepsi dan sikap negatif ini bisa berwujud guilt (perasaan bersalah), fear (ketakutan), shame (rasa malu) karena keyakinan bahwa hubungan seksual yang dilakukannya tersebut tidaklah baik, keyakinan bahwa hubungan seksual yang dilakukannya bukanlah atas kehendak bebasnya sendiri, keyakinan bahwa hubungan seksual yang dilakukannya tidak membawanya pada apapun, tidak memberikan sesuatu yang berarti, atau tidak akan ada ujungnya, menjadikan hubungan seksual sebagai sebuah pelarian atau pelampiasan atas emosi-emosi negatif yang dirasakannya, dsbnya. Akibatnya, setiap habis mengecap kenikmatan sesaat, dirinya malah terluka oleh rasa tidak berguna, rasa kesepian yang dalam, kehampaan, rasa bersalah, rasa berdosa, dsb.

Akhirnya terbentuk mata rantai yang patologis (tidak sehat), melakukan hubungan seksual kemudian merasa terluka, akhirnya menyakiti diri sendiri lantas mencari pleasure / hal-hal yang dapat menyenangkan dirinya (mengobati dari rasa sakit) dengan melakukan hubungan seksual lagi dan kemudian berulang lagi dan demikianlah seterusnya.

Menurut Sanderson (www.lesbianinformationservice.org 1995), dampak-dampak dari staying in the closet / coming out bagi homoseksual khususnya wanita lesbian, adalah7:

 

a.    Penghindaran intimasi khususnya dari orang-orang terdekat, serta menempatkan ketegangan dalam  hubungannya dengan pasangan. Sebaliknya semakin terbuka individu tentang orientasi seksualnya, maka semakin sempurna individu tersebut dan menjadi lebih sehat, baik secara fisik maupun emosional.

 

b.    Menyebabkan depresi, ketergantungan terhadap alkohol, drug abuse, bunuh diri dan perilaku lain yang menyakiti diri sendiri.

 

Coming outadalah proses dari penemuan atau penerimaan diri sendiri dan pemberitahuan tentang orientasi lesbian atau gay (homoseksual) seorang individu kepada orang lain.

b.    Resiko sehubungan dengan kesehatan fisik / biologis

Perilaku seksual tertentu dapat beresiko mengganggu kesehatan fisik / biologis pada kaum homoseksual. Seperti: melakukan hubungan seksual bebas / berganti-ganti pasangan bahkan dengan orang yang tidak dikenal; melakukan hubungan seksual yang tidak aman seperti: tidak menggunakan kondom dan tidak mengetahui diagnosa / status kesehatan seksual (HIV-AIDS, penyakit kelamin) pasangan main; dan melakukan anal sex adalah perilaku-perilaku seksual yang beresiko besar mengganggu kesehatan fisik / biologis kaum homoseksual.

Dr. Xiridou melakukan penelitian mengenai penyebaran HIV di antara homoseksual di Belanda dan menemukan bahwa penyebaran HIV lebih cepat diantara pasangan homoseksual yang menganggap mereka menjalani “steady” relationship / hubungan yang “tetap”. Pasangan-pasangan ini gagal untuk melibatkan diri dalam perilaku seks yang aman / “safe sex” dan terlibat dalam 6-10 hubungan seksual tambahan diluar dari hubungan dengan pasangan utama mereka setiap tahunnya. Sementara mereka yang menganggap hubungan seksual mereka adalah “casual” terlibat dalam 16-28 hubungan seksual diluar dari dari hubungan dengan pasangan utama mereka setiap tahunnya.

Pejabat kesehatan British, UK pada tahun 2004 juga menyatakan keprihatinannya terhadap para homoseksual yang menggunakan Internet untuk mencari pesta seks, dimana para homoseksual yang terjangkit HIV dan yang tidak bersama-sama ikut terlibat dalam melakukan hubungan seks tanpa pengaman.

“Sebuah penelitan epidemiologi” dari Vancouver, Canada mentabulasikan data antara tahun 1987 dan 1992 terkait kematian yang disebabkan oleh AIDS dan menemukan bahwa pria homoseksual atau biseksual kehilangan waktu hidup hingga 20 tahun dari perkiraan usia hidupnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa jika 3% dari populasi yang diteliti adalah gay atau biseksual, maka probabilitas / peluang dari seorang pria gay atau biseksual yang berumur 20 tahun untuk dapat hidup sampai dengan usia 65 tahun adalah 32%, dibandingkan dengan 78% pada pria lainnya secara umum. Dampak buruk / merusak dari merokok jika diperbandingkan – perokok kehilangan waktu hidup rata-rata sekitar 13.5 tahun dari perkiran usia hidupnya.


Resiko-resiko gangguan kesehatan yang dapat dialami dari perilaku seksual tidak sehat tersebut adalah sebagai berikut:

*    HIV-AIDS

Pada tahun 1197, koran New York Times memuat artikel yang berisi bahwa seorang pria homoseksual mempunyai peluang 50% untuk terjangkit HIV pada usia pertengahan. 

Pada tahun 1998, 54% dari semua kasus AIDS di Amerika Serikat adalah pria homoseksual dan menurut Center for Disease Control (CDC), 90% dari pria ini terjangkit HIV melalui akitivitas seks bersama pria lain. 

 

 

Bahkan yang lebih mencengangkan, CDC melaporkan pada tahun 1998  sekitar setengah dari seluruh kasus infeksi HIV terbaru di AS terjadi diantara orang-orang berusia dibawah 25 tahun. Diantara orang -orang berusia 13-24 tahun ini, 52% dari seluruh kasus AIDS pria yang tercatat pada tahun 1997 merupakan pria muda yang melakukan hubungan seksual dengan sesama pria. 

Pada April 2005, CDC mengeluarkan hasil penelitian terhadap 5.600 pria gay dan biseksual mengenai kebiasaan seks dan sikap mereka sewaktu dilakukan tes HIV. 10% dari orang yang disurvey terjangkit HIV positif. CDC menemukan bahwa di antara mereka yang terjangkit HIV positif, 77% tidak mengetahui bawah mereka terinfeksi dan 50% terlibat dalam hubungan seks tanpa pengaman dalam waktu 6 bulan terakhir.

Sementara menurut data WHO, di Asia jumlah penderita HIV meningkat lebih dari 150%.   Indonesia termasuk negara dengan pertumbuhan epidemik HIV tercepat. Menurut data KPA (Komisi Penanggulangan AIDS), di Indonesia sampai dengan 30 September 2007 jumlah kasus AIDS secara kumulatif yang dilaporkan mencapai : 10384 kasus. Pencapaian ini diperoleh berdasarkan laporan  dari  32 provinsi atau 186 kabupaten / kota . Cara penularan kasus AIDS kumulatif dilaporkan melalui: IDU (Injecting Drug User) 49,5%, Heteroseksual 42%, dan Homoseksual 4%6.

Jika dilihat dari data ini, seakan kasus AIDS melalui hubungan homoseksual terbilang sangat minim.  Namun data berikutnya akan menyebutkan adanya kerentanan homoseksual terhadap IDU (49%). Oleh karena itu sepatutnya kaum homoseksual tetap peka dan peduli dalam menyikapi adanya fenomena 4% (+/- 415 orang) dari kaum homoseksual yang terkena HIV –AIDS. Penjelasan mengenai hubungan antara Homoseksual dengan kerentanan terhadap IDU akan dijelaskan setelah ini.


*    Anal Cancer

Menurut J.R. Daling et.al, “Correlates of Homosexual Behavior and the Incidence of Anal Cancer,” Journal of the American Medical Association 247, no.14, 9 April 1982, pp. 1988-90, resiko kanker anal (dubur) melesat hingga 4000% diantara mereka yang terlibat dalam berhubungan seks menggunakan lubang anal (dubur) .

 

Pada tahun 2004, pejabat kesehatan di King County, Washington, melaporkan adanya kenaikan drastis pada kasus-kasus kanker anal akibat hubungan seks homoseksual.

 

*    STI’s / STD’s lainnya, seperti: chlamydia trachomatis, cryptosporidium, giardia lamblia, herpes simplex virus, human papilloma virus (HPV) or genital warts, isospora belli, microsporidia, gonorrhea, viral hepatitis types B & C and syphilis.

 

Sementara penggunaan kondom dapat mengurangi resiko terjangkit HIV sebesar 85%, di sisi lain bahkan jika kondom digunakan 100% sepanjang waktu, kondom tetap gagal memberikan tingkat perlindungan yang adekuat dari banyak STD’s lain di luar HIV seperti Syphilis, Gonorrhoea, Chlamydia, Herpes, Genital Warts dan lainnya. Satu-satunya seks yang aman, selain dengan menahan diri (nafsu /hasrat), adalah dengan melakukan monogami mutual dengan pasangan yang tidak terinfeksi.

c.    Resiko yang sehubungan dengan kedua-keduanya (kesehatan mental & emosional dan  kesehatan fisik / biologis)

 

Perilaku dibawah ini menyangkut resiko rusaknya kondisi fisik,  terganggunya kesehatan fisik / biologis serta terganggunya kondisi mental & emosional seorang homoseksual. Kedua faktor ini saling terhubung / berkorelasi satu sama lain.


*    Domestic Violence / Sex – Physical –  Emotional Abuse
Hubungan di antara sesama homoseksual seringkali diwarnai dengan kekerasan baik itu kekerasan seksual, fisik, maupun emosional. Motif dibaliknya seringkali dikarenakan masalah / gangguan mental dan emosional pada diri si pelaku homoseksual.


Sebuah penelitian terbaru akhir-akhir ini yang diterbitkan dalam American Journal of Public Health menemukan bahwa 39% pria yang tertarik dengan sesama jenis pernah mengalami kekerasan / penganiayaan oleh pria homoseksual lainnya.

Pada tahun 2003, National Coalition of Anti-Violence Programs (Program koalisi nasional anti kekerasan) mengeluarkan sebuah penelitian mengenai tingginya kasus KDRT diantara pasangan homoseksual. Penelitian ini mencatat kekerasan yang terjadi diantara pasangan gay semenjak tahun 2002 dan menemukan adanya 5000 kasus termasuk 4 pembunuhun. Data statistik yang terkumpul ini baru sebuah bagian kecil yang terkumpul dari aksi kekerasan yang ada.

 

 

Sebuah penelitian oleh Susan Turrell berjudul “A descriptive analysis of Same-Sex Relationship Violence for a Diverse Sample” dan diterbitkan dalam Journal of Family Violence (vol 13, pp 281-293), menemukan bahwa kekerasan dalam hubungan merupakan masalah yang signifikan pada homoseksual. 44% pria gay melaporkan bahwa mereka pernah merasakan kekerasan dalam hubungan mereka; 13% melaporkan kekerasan seksual dan 83% melaporkan penganiayaan / penderaan emosional. Tingkat kekerasan lebih tinggi terjadi pada para lesbian dengan  55% melaporkan kekerasan fisik, 14% melaporkan kekerasan seksual dan 84% melaporkan penderaan emosional . 

 

 

Menurut sebuah rangkuman yang dibuat oleh Knight-Ridder, penelitian memperkirakan bahwa kekerasan domestik / KDRT yang terjadi diantara pria gay berkisar dari 12% hingga 36%, dimana hampir sama dengan wanita homoseksual. Di dalam penelitian koalisi, 34% pernah mengalami kekerasan psikologis / simbolik; 22% pernah mengalami kekerasan fisik, dan 5% kekerasan seksual. 

Dalam penelitian terpisah yang diterbitkan dalam The Journal of Men’s Studies (22 Maret, 2003), par peneliti mencatat bahwa sebuah survey tahun 2000 mengenai KDRTpada gay menemukan dari 52 responden, 79% pernah mengalami didorong, dijoroki ataupun ditarik; 77% pernah mengalami dihalang-halangi atau dilarang keluar oleh pasangannya; 64% pernah mengalami pemukulan dengan tangan atau kepalan tinju; 54% pernah ditampar.  

 

 

Sebuah penelitian pada tahun 1998 menemukan bahwa dari orang-orang yang disurvei, 62% pernah diancam dengan menggunakan sejata dan 85% pernah mengalami kehilangan atau  kerusakan barang atau uang karena / yang dilakukan oleh pasangan yang marah. Sebagai tambahan, 39% pernah dipaksa untuk melakukan hubungan seksual oleh pasangan homoseksualnya tanpa kehendak / persetujuan dari dirinya.


*    Substance Abuse / Penyalahgunaan NAPZA ( Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif) / Narkoba

Kondisi mental dan emosional yang bermasalah; serta lifestyle / gaya hidup kaum homoseksual dapat mempengaruhi seseorang untuk menggunakan narkoba dan minum minuman keras. Penyalahgunaan zat-zat aditif ini meliputi narkoba (ectasy, putauw / heroin, ganja, morfin, kokain / shabu-shabu, cannabis), dan minuman keras. Penyalahgunaan zat demikian dapat mempengaruhi kesehatan tubuh seperti (gangguan otak, syaraf, hati, dsb.), juga dapat mempengaruhi kesehatan mental dan emosional (menjadi lebih emosional, lebih numb / tidak merasakan apapun, paranoid, delusi, halusinasi, dsb.).

 

Penyalahgunaan narkoba dan minum-minuman keras membuat seseorang berada dalam keadaan tidak sepenuhnya sadar, dan dalam keadaan demikian orang tersebut tidak dapat mengkontrol / mengendalikan dirinya sendiri. Pada saat demikian, banyak sekali resiko yang harus siap dihadapi.

 

 

Penelitian dari seluruh dunia menunjukkan adanya pemakaian narkoba yang cukup tinggi diantara pasangan homoseksual. Sebuah laporan yang diterbitkan dalam The Atlanta Journal-Constitutuion (18 April, 2004), mengindikasikan adanya peningkatan trend diantara pria muda homoseksual, dimana mereka menggunakan ekstasi untuk mempertahankan aktivitas seksual selama pesta seks berlangsung. Mereka yang menggunakan ekstasi tiga kali lebih mungkin terjangkit HIV.


Pejabat kesehatan di Seattle melaporkan pada tahun 2001 penggunaan narkoba diantara pasangan homoseksual menunjukkan trend yang meningkat, Mereka menggunakan narkoba sebagai sebuah cara untuk meningkatkan kepuasan seksual. Penggunaan narkoba berhubungan dengan melakukan hubungan seksual tanpa pengaman dan melakukan hubungan seks dengan pria-pria homoseksual yang tidak dikenal. The Midwest AIDS Prevention Project menerbitkan statistik berikut tentang penggunaan narkoba diantar kaum homoseksual pada tahun 2004:

Hampir 10% dari pria gay dan biseksual yang ikut serta dalam survey yang diselenggarakan oleh Departemen Kesehatan Masyarakat kota Michigan ini melaporkan bahwa mereka pernah melakukan hubungan seks tanpa pengaman selagi mereka mabuk atau high. Diantara pria gay remaja, 68% minum-minuman keras, 44% menggunakan narkoba; sedangkan diantara lesbian: 83% mengkonsumsi alkohol; 56% menggunakan narkoba.

 

 

Pada tahun 1992 sebuah survey mengenai wanita lesbian dan biseksual di Fransisco menyebutkan bahwa 30% diantaranya pernah menggunakan narkoba  selain alkohol; 1 dari 7 wanita pernah mengalami kekerasan ketika sedang mabuk atau high; dan 29% melaporkan mengalami kekerasan seksual3.

Menurut artikel ini, “Secara konsisten data menunjukkan bahwa penggunaan narkoba – terutama yang masuk ke dalam pembuluh darah – berhubungan dengan meningkatnya resiko terinfeksi HIV sebesar 40%.” 

 

Demikianlah gambaran keseluruhan mengenai resiko-resiko yang rentan dihadapi kaum homoseksual. Gambaran ini diperoleh berdasarkan hasil riset ilmiah dan obyektif. Bertujuan untuk menghadirkan pengetahuan, akan berbagai hal yang harus dan sebaiknya di ketahui oleh setiap orang, baik itu kaum homoseksual maupun heteroseksual, Kita semua diharapkan menjadi lebih peka dan waspada terhadap resiko dan ancaman yang bisa merusak / merugikan diri sendiri dan juga orang lain. Dengan pengetahuan ini, setiap orang, termasuk kaum homoseksual dapat mengambil sikap dan pilihan yang tepat. Bukan hanya  sekedar mengetahui resikonya, namun juga tahu apa konsekuensinya dan  dengan demikian dapat lebih mempersiapkan diri. Bertanggung jawab atas setiap pilihan dan tindakan yang dilakukan, serta melakukan  tindakan pencegahan jika diperlukan. Agar pilihan sikap, tindakan, dan keputusan yang dibuat tidak menimbulkan kerugian baik bagi dirinya maupun orang lain.

 

Sementara bagi kaum heteroseksual, pengetahuan ini bertujuan bukan hanya untuk memberi ilmu dan informasi, tapi sekaligus juga menjadi bekal untuk membantu kaum homoseksual dalam menyikapi persoalan yang dialami mereka secara bijaksana agar tercipta lingkungan yang lebih konstruksif bagi terbinanya jiwa  – mental yang lebih sehat.

 

Tulisan berikutnya akan membahas bagaimana individu menyikapi homoseksualitas pada dirinya, bagaimana menghadapinya, serta bahasan lain seputar mekanisme konstruktif yang bisa di lakukan.

Di Ambil Dari Berbagai Sumber

PIN BBM : 7CD885B5 == BBM CHANNEL : C0028060A

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 61 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: