Minggu,02 Oktober 2011
Salam Persahabatan…
Bagaimana Kabarnya Sahabat Mas Say Laros?
Beberapa waktu yang lalu ada sebuah artikel yang ramai diperbincangkan oleh masyarakat luas hal ini wajar karena memang artikel ini seakan-akan menyudutkan salah satu agama tertentu.Berikut ini salinan artikel yang sempat menghebohkan yang dimuat di harian Radar Sulteng. Semoga bermanfaat, dan mohon maaf bila ada yang kurang berkenan.Selamat Membaca
——————————————————————————————————————————————————-
Islam Agama yang “Gagal”
Oleh Rus’an*
Radar Sulteng
PENULIS suatu ketika pernah melontarkan pernyataan yang membuat teman-teman yang mendengarnya agak terkejut, pernyataan saya adalah “masih” berfungsikah agama” pernyataan ini saya ungkapkan tidak lebih dari keprihatinan saya melihat bangsa ini, bangsa Muslim terbesar di muka bumi tetapi juga bangsa yang paling terkorup, fondasi moral yang rapuh merupakan sebab utama mengapa setelah sekian lama kita merdeka, budaya korupsi, penyelewengan dan sebangsanya, tampaknya juga belum mencapai titik jenuh. Yang terjadi adalah gelombang korupsi semakin marak dan menghebat. Petualangan mereka (meminjam istilah Syafii Maarif) dalam menggerogoti sendi-sendi perekonomian dan keuangan negara dari hari ke hari semakin tidak tidak dapat dikontrol, inilah tindakan kebiadaban yang dilakukan oleh para elit negara. Yang lebih parah lagi adalah kasus dugaan korupsi yang dilakukan petinggi dan mantan petinggi Departemen Agama.
Salah satu yang menjadi tersangka adalah mantan menteri Agama, Said Agil Al-Munawarah, (Said artinya Bahagia, Agil cerdas, Al Munawwar orang yang diberi cahaya), nama yang cukup bagus, nama yang sangat Islami tapi sayang hanya tinggal nama besar, mereka mempertontonkan sebuah kejahatan moral yang cukup dasyat, tokoh agama yang seharusnya selalu menjadi teladan moral. Malah Dana Abadi Umat (DAU) 700 triliun menguap dengan mudah berkat kolusi dan korupsi. Pantas saja semua orang lebih suka nonton sinetron dari pada mau mendengar nasihat-nasihat para tokoh agama yang penuh dengan retorika belaka.
Tak berbeda jauh dengan judul di atas yang mungkin banyak melukai perasaan saudara kita yang mangaku muslim, saya cuplikkan dalam tulisan ini penggalan dari buku Dinamika Pemikiran Islam di Perguruan Tinggi (Komaruddin Hidayat 1995) “mengapa agama yang diyakini benar, hebat dan tinggi, dan di sisi lain realitas perilaku para pemeluknya yang sama sekali berbeda dengan ajaran agamanya”.
Dalam ajaran Islam ada sebuah pernyataan yang biasanya diyakini oleh kaum Muslim sebagai sabda Nabi Muhammad SAW yaitu penegasan bahwa “Islam itu sangat tinggi, dan karenanya tidak ada yang lebih tinggi darinya. “Pernyataan itulah yang kini sering didengungkan oleh para da’I untuk menegaskan bahwa Islam itu hebat dan tinggi sehingga bila terjadi penyelewengan dan kezaliman yang dipersalahkan adalah para penganutnya, karena dianggap tidak memahami sekaligus tidak mempraktekkan ajaran agamanya secara benar”. Dan jawaban inilah yang dipakai oleh teman saya dalam sebuah diskusi kecil “bukan agama yang gagal, tapi pelakunya yang tidak mengamalkan ajaran agama,” demikian jawabannya secara spontan yang penuh dengan semangat dan sifat frontal.
Sekilas memang argumen tersebut bisa diterima. Tapi bila dikritisi, maka akan timbul pertanyaan “jika ajaran Islam itu memang benar, hebat dan tinggi, tapi ternyata tidak mampu mempengaruhi para pemeluknya, lalu dimana pembuktian kebenaran, kehebatan dan ketinggian ajarannya itu? Dan apa gunanya ajaran Islam yang benar, hebat dan tinggi itu tapi tidak mampu mempengaruhi perilaku pemeluknya?”
Dan kalau mau kata-kata yang lebih keras, sebenarnya agama di Indonesia itu “gagal”. Gagal semua. Orang pergi ke mesjid, sembahyang, puasa, zakat, naik haji, dan sebagainya, inilah perilaku beragama yang penuh dengan simbol, menurut Cak Nur orang beragama seperti ini hanya berhenti pada simbol belaka, dan jelas tidak berguna buat kemaslahatan umat. Kata Allport, cara beragama semacam ini tidak akan melahirkan masyarakat yang penuh kasih sayang. Sebaliknya, kebencian, iri hati dan fitnah, serta segala penyakit hati masih tetap berlangsung.
Mungkin praktek keagamaan seperti inilah yangmembuat tokoh dunia sekaliber Karl Mark sangat kecewa dengan agama dengan mengatakan “Agama merupakan candu bagi masyarakat. Agama merupakan suatu minuman keras spritual”. Inilah sikap karl Marx terhadap agama. Agama dipandang sebagai penyebab penindasan, eksploitasi kelas dan lebih jauh lagi penyebab munculnya imajinasi-imajinasi non produktif. Sehingga kaum komunis menganggap agama sebagai racun dan harus dibinasakan keberadaannya. (Vladimir Lenin, 1905).
Berbagai bantahan dari tokoh Islam dengan menyatakan bahwa pandangan Karl Marx itu sangat bertentangan dengan Islam. Syamsuddin Ramadhan misalnya dengan tegas mengatakan bahwa Islam memandang bahwa dibalik alam, kehidupan, dan manusia ada yang menciptakan, yakni Alkhaliq. Walhasil Islam adalah agama sempurna dan agama yang diridloi oleh Allat swt. “Dan Kami menurunkan kepadamu (Muhammad) al-Kitab untuk menjelaskan segala sesuatu, da sebagai petunjuk, rahmat, dan khabar gembira bagi orang Muslim” (Q.S.an Nahl:89).
Demikian ayat diatas sebagai bantahan dari pandangan Marx terhadap agama. Tapi persolaannya apa yang tertulis dalam kitab suci bukan realitas. Kita hidup dalam masyarakat bukan dalam sebuah kitab suci. Bukankah realitas masyarakat kita adalah masyarakat korup, bermental penindas, dan penuh dengan topeng-topeng agama. Boleh jadi arwah Karl Marx akan berkata “bukankah kesimpulan saya dulu itu benar?”
Akhirnya kepada semua elit bangsa, elit agama, mari sejenak kita menengok ke belakang melihat bagaimana sebuah tokoh yang kekuasaannya besar akhirnya tumbang karena meremehkan penderitaan rakyat, Fir’aun, Haman, Qarun, dan Bal’am. Jalalddin Rahmat menggambarkan watak semua tokoh ini seperti Fir’aun adalah penguasa yang korup, penindas yang selalu merasa benar sendiri, tonggak sistem kezaliman dan kemusyrikan. Haman mewakili kelompok teknokrat, ilmuwan yang menunjang tirani dengan melacurkan ilmu. Qarun adalah cerminan kaum kapitalis, pemilik sumber kekayaan yang dengan rakus mengisap seluruh kekayaan massa.
Bal’am melambangkan kaum ruhaniyun (kaum agamawan), tokoh-tokoh agama yang menggunakan agama untuk melegitimasikan kekuasaan yang korup dan meninabobokan rakyat. Akhirnya gabungan elit ini hancur karena tidak peka terhadap nurani rakyat kecil, tidak mau mendengarkan kebenaran, dan tidak ingin menegakkan keadilan.
Dengan melihat realitas yang terjadi seperti yang digambarkan di atas kita harus memutuskan apakah “agama” masih memiliki makna bagi kehidupan manusia dimasa kini? Bila jawabannya tidak, maka itulah agama yang gagal.
* Penulis adalah Dosen Yayasan Unismuh Palu
Magister Pendidikan Sosiologi
Filed under: ARTIKEL-KU



