Mairil,Sepenggal Kisah Homoseksual Di Dunia Pesantren

Minggu, 28 Agustus 2011Salam Persahabatan…

Bagaimana Kabarnya Sahabat Mas Say Laros?

            Ketika kita berbicara dunia pesantren mungkin yang terbayang bagi sebagaian kalangan adalah sebuah tempat untuk belajar ilmu agama islam dengan karakter santri yang sangat lugu dan ta’at banget sama kyainya karena jargon yang biasa dikenal adalah ‘’Sami’na watho’na’’ karena jika tidak mendengar dan taat perintah kyai maka hidupnya tidak barokah.Atau mungkin pandangan sebagaian yang lain adalah santri orangnya terlihat kuper dan kuno banget tidak sesuai dengan perkembangan zaman.Kesimpulan dini yang di ambil sebagaian kalangan di atas bisa benar dan mungkin bisa salah besar,tergantung dari sisi yang mana kita menilainya.

Sebenarnya ketika kita masuk dunia pesantren banyak hal yang selama ini tidak terekspose di dunia luar,Bukan karena di tutup-tutupi tetapi memang jarang ada penelitian yang mengekspose lebih dalam dunia pesantren.Tetapi seiring berjalannya waktu sekarang sudah mulai muncul penelitian-penelitian yang mengangkat  tema homoseksualitas dunia pesantren hal ini bukan karena pesantren adalah sarangnya para kaum LGBT (Lesbian Gay Biseks Dan Transgender) tetapi para peneliti hanya ingin menginformasikan kebenaran mitos yang selama ini menyebar disebagaian kalangan.

Dari beberapa penelitian tersebut kita tidak bisa men-generalisasikan bahwa seluruh pesantren ada praktek seperti itu.Nach,Salah satu hal yang selama ini di anggap mitos oleh sebagaian kalangan adalah tentang MAIRIL atau mungkin ada yang menamakan dengan istilah NYEMPET/DALAQ.Nyempet ini merupakan hubungan sejenis yang dilakukan antar santri karena ingin menyalurkan hasrat seksualnya yang menggebu hal ini bisa terjadi biasanya karena ketatnya aturan pesantren yang membatasi hubungan antar lawan jenis dan disamping itu santri yang masuk di pesantren pada umumnya memasuki akil baliq/masa pubertas jadi tidaklah heran jika pada masa-masa ini suka mencoba hal-hal baru yang berkaitan dengan orientasi seksualnya.

Kawan,memang sepenggal kisah di atas adalah salah satu kasus kecil yang biasa terjadi di pesantren tradisional.Pesantren yang merupakan suatu tempat menimba ilmu agama ternyata kita menemukan sisi paradoksnya jika kita kontraskan dengan sepenggal kisah homoseksualitas di pesantren.

Sebenarnya,teks-teks kitab suci telah berkali-kali menjelaskan tentang dikecamnya perbuatan liwath yaitu hubungan seksual antara lelaki melalui lubang anus yang dipraktikkan oleh kaum sodom (versi al-kitab).Namun,sudah menjadi hukum alam bahwa dibalik ketaatan (Obedience) pasti akan muncul sikap Rebellion yang dipraktikkan umat.

Dalaq sebagai sebuah bentuk perilaku seksual yang di praktikkan di pesantren ini ternyata menemukan persamaan dengan praktik homoseksualitas atau hubungan sesama jenis.Sebenarnya praktik ini sudah umum diketahui didunia pesantren baik tradisional maupun modern sekalipun,Hanya saja praktik ini dilakukan secara rahasia sehingga menjadi tabu untuk dibicarakan,terutama di luar pesantren.

Menurut wimpie pangkahila ada empat faktor yang menyebabkan seseorang menjadi homoseksual yaitu antara lain:

1)      Faktor Biologis,Yakni ada kelainan di otak atau genetik

2)      Faktor Psikodinamik,yaitu adanya gangguan perkembangan psikoseksual pada masa anak-anak (seperti kasus korban sodomi anak dibawah umur)

3)      Faktor Sosiokultural,Yakni adat istiadat yang memberlakukan hubungan homoseks dengan alasan tertentu yang tidak benar (Seperti tradisi warok yang memelihara gemblak di ponorogo)

4)      Faktor Lingkungan,Yaitu keadaan lingkungan yang memungkinkan dan mendorong pasangan sesama jenis menjadi erat.

Dari keempat faktor di atas nampaknya faktor lingkungan menjadi faktor yang sangat dominan ketika kita membicarakan homoseksual di pesantren.Hal ini logis jika kita lihat dari sisi ruang aktifitas social yang dilakukan santri dipesantren sangat terbatas.Sebagai orang pesantren Mas Say Laros dapat menjelaskan sedikit gambaran aktifitas santri selama disana Mulai dari subuh hingga subuh lagi,aktifitas tersebut antara lain mengaji al-quran,mengaji kitab pada ustadz atau kyai lalu sekolah apabila pesantren tersebut memiliki sekolah umum.atau istirahat dan muthalaah (belajar) sendiri bagi pesantren yang tidak mempunyai sekolah umum.

Pada siang hari, shalat Dhuhur dilanjutkan dengan istirahat, sore mengaji kitab, Maghrib mengaji al-Qur’an, kemudian Isya’ mengaji kitab di bangku madrasah diniyah, lalu setelah itu belajar otodidak, dan dilanjutkan dengan tidur malam (biasanya juga ada aktifitas shalat lail). Aktifitas seperti ini menjadi aktifitas rutin yang dijalani santri setiap harinya.

Hal ini ditambah dengan kurangnya kontak santri dengan lawan jenis, karena adanya interpretasi larangan agama yang menyatakan bahwa memandang lain jenis (perempuan) adalah haram hukumnya,sehingga di pesantren, santri tidak diperbolehkan melakukan pertemuan dengan lain jenis kecuali dengan muhrimnya. Untuk beberapa pesantren malah santri dilarang keluar pesantren dengan alasan apapun. Sehingga aktifitaspun berputar hanya di dalam pesantren.

Di samping itu, pola konstruksi kehidupan yang homogen pesantren tentunya turut ambil bagian dalam mengkonstruksi perkembangan psikologi santri. Jika santri yang memasuki pesantren adalah 12 tahun, lalu santri belajar di dalamnya hingga 18 tahun, berarti masa-masa pubertas (adolescence) santri dihabiskan di dalam pesantren. Padahal pada masa-masa teenager inilah seseorang mengalami perkembangan dan pematangan secara seksual.

Ruang gerak santri yang terbatas, terfokus pada belajar dan menempa diri dengan nilai moral keagamaan, menempatkan santri pada sebuah discipline dan time table aktifitas serta lingkungan yang ketat. Homogenitas interaksi, masuknya santri baru ke pesantren pada masa-masa pertumbuhan (adolescence) serta larangan dan hukuman (punishment) bagi mereka yang melakukan interaksi antar jenis dengan argumen larangan agama, memberikan kontribusi dalam mengkonstruksi nalar seksualitas mereka pada discourse dalaq.

Di samping itu, penyebaran power di pesantren tersebar melalui relasi-relasi yang berhubungan satu sama lain, misalnya dalam bentuk regulasi-regulasi yang diterapkan (discipline), ajaran agama (knowledge), struktur bangunan yang terdapat di pesantren (architecture), serta kantor mahrom (panoptic) menempatkan santri berada dalam posisi yang cukup sulit. Dalam konteks seksualitas, santri berada kekangan rezim kebenaran (truth) yakni heteroseksualitas yang selama ini merupakan satu discourse dominan yang dianut mayoritas, sementara itu, pada dasarnya homoseksualitas masih dianggap sebagai discourse yang marjinal dan terkucilkan, posisinya selalu saja berada pada pinggiran, bahkan kasus dalaq pun masih dianggap sebagai kasus devian yang menyalahi kodrat manusia yang diciptakan berpasang-pasangan dan prokreasi.

Memang,Discourse dalaq merupakan satu discourse yang tidak pernah berakhir yang terjadi di pesantren. Praktik ini sudah ada selama bertahun-tahun yang terus menerus berproduksi dan direproduksi melalui relasi kuasa dan pengetahuan yang ada di pesantren. Relasi kuasa (power relation) yang tercipta antara kyai, ustadz, santri serta sistem yang ada di pesantren telah memelihara hal ini. Paradoks antara larangan untuk melakukan interaksi dengan lawan jenis serta larangan untuk mempraktikkan homoseksualitas telah membuat (ekses) santri tidak mempunyai pilihan untuk mempertimbangkan kemungkinan mendapatkan jalan yang paling mudah dan teringan resikonya –baik secara hukuman pesantren maupun hukuman moral agama (baca: dosa), dan ini termanifestasi dalam bentuk dalaq yang dibedakan oleh santri dari praktik sodomi.

Penulis melihat, di sini santri bermain-main dalam wilayah yang dianggap sebagai dosa, yakni pilihan antara melakukan interaksi antar jenis seperti berpacaran, yang merupakan satu dosa dan mempunyai implikasi sosial semisal dicukur gundul sebagai tanda bahwa seorang santri melakukan satu tindakan yang dilarang oleh pesantren, bahkan bisa berkosekuensi dikeluarkannya santri dari pesantren. Pilihan melakukan praktek dalaq, bagi santri mempunyai resiko dosa yang relatif lebih rendah daripada melakukan sodomi, ataupun berpacaran dengan lain jenis. Di samping itu, secara sosial, dalaq dianggap sebagai satu hal yang tidak problematik, meskipun di pesantren sebenarnya hal ini sudah dilarang keras.

Penulis tidak tahu apakah praktik dalaq ini terjadi di semua pesantren di Indonesia. Namun bagaimanapun, penemuan praktik ini di  beberapa pesantren yang menjadi subjek riset ini bisa digunakan sebagai sinyal peringatan akan kemungkinan munculnya HIV ataupun bentuk Penyakit Menular Sex di pesantren.

Salah satu contohnya adalah bilamana ada seorang santri yang mengidap HIV semenjak lahir, amat mungkin bisa menyebarkan virus ini melalui praktek perilaku seksual dalaq/nyempet. Oleh karena itu, karena jumlah pesantren yang lebih dari 11.000 di Indonesia, penulis mengusulkan adanya suatu penelitian lebih lanjut tentang dalaq, dengan melakukan penelitian tentang modus-modus lain yang terjadi di pesantren. [Wallahu A’lam]

 

Di Tulis dan di edit di kamar pribadi Mas Say Laros

Dusun Kanal 3 Ringin Mulyo Pesanggaran Banyuwangi

Hari Senin, 29 Agustus 2011 Jam 12:01

 

Daftar Rujukan  :

  • Riset Pribadi
  • Beberapa Artikel Terkait Homoseksual
  • Penelitian ‘’Dalaq Di Pesantren’’ Oleh Saifuddin Zuhri  2006.

 

 

 

 

 

 

About these ads

5 Tanggapan

  1. Saya Pimpinan Pondok Pesatren, dan tidak ada santri saya seperti itu,…………

    • emang pondok sampean dimana dan apa??
      emang anda tahu benar salah satu santri anda tidak melakukan hal itu
      sya anjurkan anda untuk melakukan penelitian secara menyeluruh di Indonesia tentang homoseksual di penjara suci ini, bukan berarti saya meremehkan pondok pesantren tapi hal ini sudah menjadi tradisi…

  2. Ikh jadi gk mau ke pesantren ane

  3. aku mendapat pengalaman pertama hub. sejenis di pesantren juga

    • Tapi gak semua pesantren seperti itu kawan…itu adalah sekelumit kisah yang pernah aku tahu…jdi jngn di generalisasi jka semua pesantren sama…

PIN BBM : 7CD885B5 == BBM CHANNEL : C0028060A

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 62 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: