Mengenal Tradisi Genduren Suroan Masyarakat Banyuwangi

Sudah tahukah anda dengan genduren suroan?yaitu tradisi kuno pada masa kerajaan-kerajan dahulu,seperti halnya di majapahit masyarakat pada umumnya dahulu  masih menganut ajaran hindu.dan genduren suroan merupakan bentuk wujud masyarakat Hindu untuk menyambut tahun baru jawa,karena waktu dulu masih belum ada umat islam, jadi yang merayakan masih umat Hindu.

Kita ambil dari namanya saja “genduren suroan” genduren itu artinya Kenduri sedangkan Suroan adalah bulan Suro atau muharam.jadi dapat kita simpulkan bahwa “genduren suroan”adalah kenduri yang dilakukan masyarakat pada malam satu suro. Perayaan kenduri ini tidak hanya dilakukan oleh orang Hindu tapi orang islam juga ikut merayakannya.umat hindu malakukan genduren biasanya adalah sebagai wujud persembahan atau menngundang roh leluhur,sedangkan umat islampun juga tidak mau kalah ikut merayakannya,kok bisa begitu ya….?apakah tidak musryk?

Beginilah penjelasannya!!!dahulu pada masa kerajaan blambangan masyarakat banyak menganut agama hindu.setelah adanya para wali songo dipulau jawa ajaran agama islam menjadi pesat,khususnya dikerajaan blambangan.ajaran tersebut dibawa oleh syekh maulana ishak.pada masa itu syekh menyebarkannya dikerajaan blambangan yang pada masa itu juga kerajaan Blambangan terjangkit wabah penyakit yang menelan korban setiap harinya.bahkan putri dari raja blambangan masa itu adalah minak sembuyu yang putrinya bernama Dewi Sekardadu juga terjangkit penyakit yang sulit disembuhkan. Sebagai raja minak Sembuyu merasa kasiahan terhadap rakyatnya dan terutama putrinya sendiri yang selalu tersiksa hidupnya oleh penyakit yang sulit disembuhkan,apalagi melihat putrinya yang makin hari makin parah,sang raja merasa dirinya sudah tidak sanggup lagi untuk manjabat sebagai raja Blambangan.

Dengan adanya hal tersebut,Minak Sembuyu mulai tidak putus asa sa’at Bajul Sengsara (patih kerajaan blambangan)mengajukan pendapat untuk mengadakan sayembara yang isinya “barang siapa yang bisa menyembuhkan penyakit rakyat blambangan maka akan di jodohkan dengan putrinya dan jika tidak mau/perempuan maka akan di beri hadiah apapun yang ia mau”.

Dengan adanya sayembara tersebut maka datanglah tabib dari berbagai pelosok tapi masih belum ada juga yang bisa menyuembuhkan penyakit warga dan putrinya.

Pada suatu malam raja bermimpi kalau bakal ada seorang pertapa laki-laki dari sebuh bukit disebelah barat kerajaan Blambangan yang bisa menyembuhkan penyakit warga.maka Minak sembuyu pun mengutus patih Bajul sengsara untuk menemui pertapa tersebut yang tidak lain adalah Syekh Maulana ishak.setelah ditemukannya pertapa tersebut raja menginginkan untuk dibawa di kerajaan.lalu Syekh menghadiri undangan dari raja blambangan tersebut .setelah memenuhi keiinginan raja untuk menyembuhkan penyakit tersebut lalu syekh ditawari untuk menikah dengan Dewi Sekardadu.syekh pun menerima tawaran tersebut,Syekh melakukan hal tersebut bukan untuk memenuhi nafsunya melainkan untuk memperdekat ajaran agama islam.

Sejak kehadiran Syekh Maulana ishak ajaran agama islam mulai berkembang pesat,tapi  masih banyak umat hindu lainnya yang tidak bisa menerima ajaran terseebut dengan baik karna mereka harus meninggalkan kebiasaan lama yang sudah melekat di dadanya.

setelah syekh meninggal dunia maka tahta penyebaran diteruskan oleh Sunan Kalijaga..

Banyak tradisi yang belum bisa ditinggalkan masyarakat terutama acara adat kendurian yang tujuannya untuk mengundang ruh leluhur dan sebagai bentuk persembahan bagi tuhan mereka.

Tardisi yang sudah lama tersebut tidak langsung dihapus dan dihilangkan oleh Sunan Kalijaga tapi Sunan Kalijaga menaruh ajaran islam ditengah-tengah tradisi tersebut.misalnya kenduri yang biasa dilakukan dengan menaruh sesaji dan membakar kemenyan kini hal tersebut diganti dengan pembacaan shalawat dan tahlilan,yang banyak kita temui di tanah jawa pada umumnya sekarang,sehingga umat islam yang mau melakukan acara kendurian tersebut tidak lagi terbawa oleh hal musryk selama tidak malanggar syariat islam.

Itulah tadi penjelasan mengapa orang islam dibolehkan melakukan kenduri

Didesa Blambangan kecamatan Muncar acara kenduri Suroan ini memang berbeda dari kenduri lainnya.letak perbedaanya yaitu terletak pada tempat dan waktunya.biasanya pada sa’at kenduri,masyarakat melakukan di dalam rumah atau padepokan dan waktunya pun berubah-ubah.tapi kalau genduren suroan ini dilakukan dijalan atau pinggir sungai dan dilaksanakan setelah usai sholat magrib.

Pelaksanaan genduren ini sangat meriah sekali,diiringi dengan suara gemericik air  pada saluran air(jw.Dam) serta suara anak-anak kecil yang berkumpul serta bau makannan yang disediakan  menggugah selera.menjadikan suasana menjadi meriah sekali,dan perayaan ini pun dilakukan setahun sekali menjadikan sesuatu tradisi yang langka.

Genduren suroan ini merupakan hasil warisan nenek moyang kita dahulu yang konon dapat mendatangkan berkah bagi masyarakat.sebelum pelaksanaan acara tersebut dimulai masyarakat diharuskan membawa nasi kuning yang diberi campuran telur goreng dan sambal goreng yang dibungkus atau diberi wadah daun pisang yang biasa disebut “Takir”. Pelaksanaan ini dipimpin oleh sesepuh atau orang yang lebih berilmu atau berpengalaman lebih luas yang doa nya dipanjatkan kepada sang ilahi sebagai bentuk syukur dan nikmat yang diberikan allah kepada desa blambangan tersebut.

Setelah pelaksanaan tersebut selesai maka takir-takir tersebut dibagikan kembali kepada masyarakat dan dibagikan secara acak yang bermaksud agar takir yang dibawanya tidak kembali kepada yang membawa tadi (pemiliknya).dan sesepuh mengartikan agar rejeki orang tesebut tidak selalu sama dengan awalnya dan diharapkan agar lebih baik nasibnya. Selain itu genduren suroan ini dapat membawa berkah dan selain itu bertujuan agar dijauhkan desanya dari mala petaka atau musibah dan sebagai bentuk upacara Tolak Bala untuk menjauhkan dari musibah.

Dahulu tradisi ini dapat kita temui di desa-desa tapi sekarang sudah sulit untuk kita temui karna faktor kemajuan jaman yang kini telah membuat berubah lingkup dunia manjadi serba modern dan kini sudah sulit kita temui tradisi-tradisi adat yang menjadi warisan leluhur.

Kita sebagai penduduk jawa tentunya kita harus bisa menjaga tradisi nenek moyang kita yang mulai jarang kita temui di kalangan masyarakat agar budaya kita tidak punah. Yaitu dengan cara melestarikan dan mendukung segala bentuk tradisi adat.masih banyak lagi sejarah yang dapat kita gali dan jadikanlah sejarah merupakan sebagian dari hidup kita dan menjadi suatu yang menarik untuk didalami lagi kisahnya. (Tri kris diantoro/sejarahbanyuwangi.com)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.