(Tari Seblang Olehsari)
Gandrung yang merupakan tari – tarian yang terkenal di Banyuwangi. Bahkan tari gandrung identik dengan kota Banyuwangi, kota yang berada paling ujung di propinsi jawa timur. Kesenia gandrung, yang merupakan keseniannya orang Banyuwangi saat ini sudah terkenal di seluruh Indonesia bahkan seluruh Dunia. Terbukti seringnya kesenian gandrung dikirim atau diundang dalam festival – festival di luar negri.
Kenapa gandrung tetap lestari ? Hal ini dikarenakan kesenian gandrung digunakan untuk keperluan hiburan pada suatu acara pesta atau acara – acara hiburan yang lain di kabupaten Banyuwangi.

Pada masa dulu penari Gandrung adalah anak laki – laki usia 7 sampai 14 tahun yang diberi pakean wanita dan menari keliling kampong setiap malam dan mendapat imbalan berupa bahan – bahan pokok seperti beras, minyak, dll.
Dan perkembangan berikutnya pada masa kejayaan Blambangan pada jaman hindu, di masyarakat Banyuwangi lingkungan cungking dan kelurahan bakungan menganut kesenian yanga ada hubungannya dengan unsure – unsure magis religius yang disebut seblang.
Salah satau kebiasaan yang hidup dalam kesenian seblang, adalah untuk menyembukan sakit seseorang lewat tari – tarian seblang yang diundang oleh keluarga si sakit yang menamakan / dinamakan tanggapan seblang.
Jadi kesenian seblang sering dipentaskan saat itu untuk memenuhi kebutuhan menolong orang sakit dan keperluan upacara – upacara yang lain.
Pada suatu ketika ada seorang gadis yang sakit keras dan sudah diobati kesana kemari tetapi tidak kunjung sembuh. Gadis itu bernama Semi. Kemudian Mbah Midah Ibunya Semi mengucapkan kata – kata nadhar ( kata orang Banyuwangi ), kalu Semi sembuh maka akan dijadikan penari seblang.
Kebetulan setelah mengucap kata – kata itu Semi anak Mbah Midah sembuh dari sakitnya. Dan Mbah Midah pun memenuhi janjinya untuk menjadikan Semi seblang.
Mula – mula jadi penari, Semi menadi diiringi oleh Ibunya dengan lagu – lagu atau gending – gending. Ternyata penampilan Semi banyak yang suka dan setiap malam orang – orang melihat semi menari. Semipun semakin lama semakin pandai menari dan Mbah Midahpun semakin banyak menciptakan gending – gending untuk melengkapi tarian Semi yang menari seblang.
Lama – kelamaan orang – orang disekitar rumah Mbah Midah atau tetangga Semi berusaha mengumpulkan uang untuk membeli peralatan gandrung dan menjadikan Semi penari gandrung, dan sejak itu pula penari gandrung pria berangsur – angsur kurang dan kemudian tidak ada.
Sampai saat ini kesenian seblang masih ada dan tetap dilestarikan omeh masyarakat desa Olehsari dan kelurahan Bakungan kecamatan Glagah. Kalu dua seblang di masing – masing desa atau kelurahan itu berbeda – beda. Kalu di desa Olehsari penari seblangnya perempuan atau gadis kecil sedangkan dikelurahan Bakungan adalah perempuan tua atau nenek – nenek. Dan di Olehsari diadakan hari Raya Idul Fitri selama tujuh hari berturut – turut sedangkan di Bakungan diadakan di malam hari Cuma semalam, seminggu setelah harai Raya Idul Adha.
Pada dasarnya kesenian seblang yang diadakan saat ini oleh dua desa tersebut adalah sama yaitu minta berkah atau rahmat dari Allah agar terhindar dari segala macam mara bahaya, sakit dan malapetaka.
Karma kepercayaan – kepercayaan itulah maka pertunjukan seblang di kedua desa tersebut masih dianggap sacral sehingga sebagian masyarakat kedua desa tersebut beranggapan akan terjadi suatu masalah atau musibah apabila tidak mengadakan seblang. Pertunjukan seblang saat ini dibarengkan dengan selamatan desa, dimana masyarakat berkenduri atau makan di depan rumah masing – masing den menggelar tikar dan penerangannya oncor ( Kelurahan Bakungan ). Dan sekali lagi mereka percaya istilah seblang adalah sebel’e ilang atau sialnya hilang.
DARI : ANDHIOSIS SHOFIE
SMP 1 BANYUWANGI
Filed under: Banyuwangi



