Menguak Peranan Penari Gandrung yang Termaginalkan Dalam Mempertahankan Identitas Kebudayaan Banyuwangi

Gandrung adalah kesenian masyarakat Banyuwangi yang amat tua. Gandrung pada awalnya dimainkan oleh laki-laki yang diparas menjadi perempuan dan sampai  pada tahun 1890-an dimainkan oleh seorang laki-laki dan tahun 1990-an dimainkan oleh perempuan. Mulai awal, Gandrung mendapatkan kritikan-kritikan baik oleh oleh masyarakat khususnya agamawan.

Pengharaman bagi laki-laki yang berparas perempuan dan perempuan mendapatkan kritikan tidak boleh bekerja di ranah publik. masyarakat  sampai saat ini memandang Gandrung sebagai pekerjaan murahan yang berhubungan dengan dunia malam yang penuh maksiat dan mengundang dosa karena mempertontonkan lekuk tubuhnya. Tak jarang para penari Gandrung mendapat perlakuan negatif secara seksual dari pencinta ataupun penonton, Gandrung sebagai pekerjaan murahan, penuh maksiat dan mengundang dosa. Penari Gandrung dianggap melanggar etika masyarakat yang agamis dan sopan dengan membuka peluang terjadinya transaksi-transaksi seksual.

Beberapa peran penting yang secara implisit telah dimainkan oleh para penari Gandrung ini. Termasuk di dalamnya, Pertama: Media (Syair gending) untuk mengungkapkan perasaan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat Using yang berupa realitas sosial yang sangat berpengaruh pada terbentuknya komunitas Using  di Kabupaten Banyuwangi kepada masyarakat banyuwangi dan pada umumnya , kedua:  sebagai figur sentral dalam mempertahankan kebudayaan masyarakat Using dan Sebagai Identitas Kabupaten Banyuwangi Sebagai Kota Gandrung dan ketiga: secara tidak langsung keberadaan penari Gandrung  telah menjadi katub penyelamat bagi kehidupan ekonomi keluarganya, terlebih dalam menghadapi permasalahan ekonomi yang kian hari kian memprihatinkan.

Namun demikian, peran penting ini tak pernah dilihat secara bijak oleh masyarakat pada umunya. Masyarakat cenderung melihat hanya dari satu sisi yang cenderung subjektif dan menghakimi. Atas dasar pemikiran  inilah maka keberadaan penari Gandrung sebagai bagian dari kelompok sosial masyarakat merupakan suatu hal yang menarik untuk dikaji. Dalam tulisan ini akan dijelaskan secara detail peranan dari penari gandRrung sampai saat ini tetap eksis.

Kata kunci: Peranan, Penari Gandrung, Termarginalkan,

 

 

 

Tuntutan persamaan hak wanita dalam berbagai bidang kehidupan sudah menjadi agenda di zaman sekarang ini.Kesetaraan gender sesungguhnya telah menempatkan posisi kaum wanita pada tingkatan yang sama dengan kaum pria. Kini, Dalam kehidupan rumah tangga, keberadaan kaum wanita bukan hanya sebagai penyandang peran domestik (seorang ibu rumah tangga). Namun, kaum wanita juga mendapatkan kesempatan yang sama untuk melakukan aktivitas sosial ekonomi dan di bidang politik.  Menurut Stoler (1984:184) pada umumnya, motivasi perempuan untuk bekerja di ranah publik didasari oleh kepentingan ekonomi rumah tangga, mendapatkan kemandirian, belajar menghadapi tantangan sosial ekonomi, dan untuk meningkatkan status sosial ekonominya. Namun, bagi rumah tangga miskin penghasilan seorang perempuan dari usaha ekonomi memberi kesempatan untuk memegang peranan yang penting dalam ekonomi rumah tangga.

Perubahan persepsi yang semakin baik terhadap perempuan seiring dengan arah kebijakan pembangunan yang menempatkan wanita sebagai target pemberdayaan, sehingga memiliki kontribusi dalam upaya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia di daerah. Adapun program pembangunan yang dikembangkan adalah program peningkatan peranan kaum perempuan dalam kehidupan bermasyarakat dengan kegiatan pokok pada beberapa aspek, yaitu: pendidikan dan pelatihan ketrampilan perempuan, perlindungan tenaga kerja perempuan, dan pengembangan kelembagaan atau organisasi perempuan (Kusnadi, dkk, 2006:4). Namun demikian, tidak semua kaum wanita terjangkau oleh program pembangunan ini, sehingga masih banyak perempuan yang melakukan aktivitas ekonomi yang tidak sesuai dengan keinginan pribadi dan pandangan masyarakat. Salah satunya adalah mereka yang bekerja sebagai penari Gandrung.

Gandrung merupakan budaya masyarakat Banyuwangi (Using) dalam bentuk karya seni tari yang berkembang pada abad 18-an dikalangan masyarakat Blambangan kala itu. Versi sejarah awal mula Gandrung banyak beragam versi, akan tetapi tidak merubah paradigma masyarakat Banyuwangi tentang seni tari Gandrung yang dikagumi, Gandrung untuk kalangan masyarakat Banyuwangi terutama kelas menengah kebawah adalah tari tradisional yang sakral. Yang pada akhirnya kadang beralih fungsi sebagai hiburan tanggapan pada acara-acara tertentu.

Tari Gandrung berawal mula dari tari tradisional, tari Sanyang dan tari Seblang yang berfungsi untuk menghormati Dewi Sri dan sebagai bentuk tarian keselamatan. Kedua tarian tersebut bersifat sakral (Soejadi,1985). Banyak versi tentang Gandrung. Tapi, keragaman versi tidak berpengaruh bagi masyarakat Banyuwangi yang menjadikan Gandrung sebagai seni tradisi yang dikagumi. Kisah itu tidak terlepas dari tutur yang diuraikan secara turun temurun.

Bagi masyarakat Using, Gandrung merupakan kesenian yang amat tua lahir bersamaan dengan ritual pembukaan hutan untuk dijadikan pusat pemerintahan pada tahun tahun 1774. Gandrung ditakdirkan berjalan beriringan dan untuk menyemarakkan suatu acara. Berbagai perubahan dimana formasi sosial hendak dibentuk (Anoegrajekti.  2006).

Srintil (2007 : 12), penari Gandrung pada mulanya adalah laki-laki muda, berparas cantik dan menggunakan pakaian perempuan. Istilah setempat menyebutkan sebagai Gandrung lanang. hal tersebut juga diperjelas oleh Scholte (1927: 7), sampai tahun 1890 nama Gandrung di Banyuwangi ditujukan kepada seorang laki-laki. Para Gandrung tersebut sama dengan para sedati dari Aceh, para runding dari Madura, dan para gemblak dari Jawa. Gandrung lelaki yang penghabisan di Banyuwangi adalah Marsan. Mreka para pemuda yang dijadikan “alat” perjuangan untuk melawan penjajah, konon implikasi perang Bayu, membuat sebagian sisa-sisa pasukan melarikan diri kedalam hutan pedalaman daripada tinggal di desa yang telah dikuasai oleh kompeni. Dan meskipun perang Bayu telah usai, mereka bertahan didalam hutan sambil melakukan gerilya. Komunikasi dapat berlangsung berkat andil Gandrung lanang yang menari sambil membawakan lagu-lagu perjuangan (bahasa sandi) mendatangi tempat-tempat yang dihuni oleh sisa-sisa rakyat Blamangan untuk memberi informasi tentang keberadaan tentara Belanda, selain itu mereka juga mempengaruhi dan menganjurkan sisa-sisa rakyat Blambangan agar meninggalkan hutan, keluar dari tempat persembunyian untuk membentuk masyarakat baru.

Sejak awal ketika penari Gandrung di mainkan oleh laki-laki, seperti yang dijelaskan hampir seniman-budayawan Banyuwangi, penari Gandrung diparas dengan secantik mungkin dan berpakaian perempuan. Kehadiran Gandrung sangat berperanan penting sebagai pemenuh hiburan dan sebagai media perjuangan melawan Belanda. Namun dilain pihak,  keberadaan Gandrung mendapatkan kritikan ketika semakin meluasnya puritanisasi Islam yang antara lain mengharamkan pemeranan perempuan oleh laki-laki. Atas dasar hadist Nabi  yang sangat umum bahwa “ barang siapa  yang menyerupai suatu kaum, maka ia tergolong mereka (man tasyabaha bi qaumin, fahuwa minhum) peniruan  atau pemeranan  perempuan oleh laki-laki atau sebaliknya, karena hal itu akan selain berpengaruh pada kejiwaan yang bersangkutan juga akan menyulitkan pendifinisian yang berimplikasi pada  status dan penentuan hukum.  (Srintil, 2007: 14).

Logika kaum agamawan adalah bahwa hidup  harus diatas aturan agama, tanpa memperdulikan realitas kehidupan yang ada.  Sebab aturan agama adalah segala-galanya. Ia merupakan naturan yang asasi  dan tidak boleh ditolah dalam keadaan apapun. Manusia harus menaati aturan-aturan agama tersebut dalam realitas kehidupannya. Orang yang melakukan pembangkangan terhadap aturan agama dianggap sebagai penentang Tuhan.

Pada abad ke 19 (1896) terjadi perubahan radikal Gandrung Banyuwangi, Gandrung yang semula di mainkan oleh laki-laki berubah menjadi penari perempuan. Jika dianalisis, terjadinya pergantian penari Gandrung dari lanang menjadi perempuan bukan karena kehadiran Semi, melainkan karena kritikan-kritikan agama terhadap kesenian Gandrung yang menyebabkan tidak ada regenerasi penari Gandrung dan dilain pihak karena persaingan. Sejak pergantian Gandrung lanang menjadi perempuan dengan menghadirkan semi sebagai penari Gandrung  juga mendapatkan kritikan yang luar biasa bahwa perempuan tidak boleh tampil diranah publik.

Dalam masyarakat Jawa misalnya, perempuan dapat dilihat pada ungkapan “swarga nunut neraka katut dan kanca wingking”, karena nasib perempuan dipandang lebih rendah. Perannya dibatasi pada tugas-tugas domestik yaitu sekitar sumur, dapur, dan kasur. Peranan yang demikian dianggap sebagai peranan yang ideal bagi seorang perempuan. Pandangan demikian masih berakar kuat pada sebagian masyarakat jawa dan penolakan terhadap steriotip negatif tersebut terus berlangsung seiring dengan meningkatnya emansipatoris (Sri hardati dan Sofyan, 2001:137-139).

Menurut Handayani dan Sugiarti (2006:10) perbedaan jenis kelamin juga melahirkan perbedaan gender yang pada akhirnya mengarah kepada marginalisasi perempuan. Hal ini juga ditambahkan oleh Saptari dan Holzner (1997:37) bahwa pada prinsipnya, perbedaan jenis kelamin pada dasarnya merupakan perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan, merupakan hasil pengkotakan yang dilakukan oleh anggota masyarakat serta dukungan oleh nilai-nilai tertentu, bukan merupakan perbedaan yang disebabkan karena perbedaan biologis semata.

Dilain pihak, Sepanjang sejarah peradaban manusia kedudukan penari sebagai seni pertunjukan tampaknya tidak pernah mendapatkan pengakuan sebagai bagian dari kelompok sosial dalam masyarakat yang memiliki kedudukan setara dengan kelompok masysrakat seperti umunnya. kebanyakan penari Gandrung distereotip masyarakat sebagai manusia rendah danmemandang Gandrung sebagai pekerjaan murahan yang berhubungan dengan dunia malam yang penuh maksiat dan mengundang dosa karena mempertontonkan lekuk tubuhnya. Tak jarang para penari Gandrung mendapat perlakuan negatif secara seksual dari pencinta ataupun penonton.

Sejak diberlakukannya SK (2002) tersebut sampai  sekarang (2010) ternyata keberadaan Gandrung dan pelakunnya mendapatkan kritikan dan protes keras mulai kalangan politisi yang berlanjut dan mengarah pada pertentangan politik diantara kaum elit dan dilainpihak, dari sebagai kaum santri yang selama ini memang menolak kesenian Gandrung  dan memandangnya sebagai ”pementasan maksiat”. Srintil (2007:3-4) bahwa perempuan seni tradisi dikategorikan sebagai individu yang selalu mendapatkan predikat “miring”dalam masyarakat. Menari dianggap sebagai tingkah laku tercela yang bertentangan dengan agama Islam, terutama mengibing dianggap sebagai kemaksiatan dan dipandang rendah bagi masyarakat.

Jika dicermati secara mendalam, penari Gandrung juga merupakan bagian dari kelompok sosial dalam masyarakat yang seharusnya mendapatkan pengakuan yang sama dan penari Gandrung adalah pahlawan bagi keluarganya. Jadi, Tidak selayaknya stigma baik dan buruk terus dilontarkan pada kelompok yang cenderung termarginalkan ini. Namun demikian, peran penting ini tak pernah dilihat secara bijak oleh masyarakat pada umunya. Masyarakat cenderung melihat hanya dari satu sisi yang cenderung subjektif dan menghakimi.

Beberapa peran penting yang secara implisit telah dimainkan oleh para penari Gandrung ini. Termasuk di dalamnya,Pertama: Media (Syair gending) untuk mengungkapkan perasaan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat Using yang berupa realitas sosial yang sangat berpengaruh pada terbentuknya komunitas Using  di Kabupaten Banyuwangi, kedua: sebagai figur sentral dalam mempertahankan kebudayaan masyarakat Using dan Sebagai Identitas Kabupaten Banyuwangi Sebagai Kota Gandrung dan ketiga: secara tidak langsung keberadaan penari Gandrung  telah menjadi katub penyelamat bagi kehidupan ekonomi keluarganya, terlebih dalam menghadapi permasalahan ekonomi yang kian hari kian memprihatinkan.

Pertama: Media (Syair gending) untuk mengungkapkan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat Using yang berupa realitas  sosial yang sangat berpengaruh pada terbentuknya komunitas Using  di Kabupaten Banyuwangi, tidak lepas dari syair gending yang terdiri dari Syair Podho Nonton, Seblang Lukito, Sekar Jenang, Kembang Pepe dan Kembang Dirmo.

Citraan perasaan pada syair gending Gandrung, adalah sebagai berikut:

(Syair Podho Nonton)

Pundhak sempal, yo ro ring lelurung

Molo yo pendihte riko pundak sempal

Lambeyane riko para putra

Para putra, eman

Kejala, eman, ring kedhung lewung

Ya ro, ya jalane rika jala sutra

 

Artinya:

……………………………………………

Bunga pandan patah dijalanan

Ikat pinggangmu adalah bunga patah

Ayunan tanganmu para lelaki

Para lelaki

Terjaring dilubuk yang dalam

Jaringannya adalah jaring sutera

…………………

Berdasarkan gambaran diatas peran penari Gandrung lewat gendingnya  menggambarkan keadaan yang sangat menyedihkan yaitu rakyat yang kerja rodi untuk membangun jalan. Cintraan kesedihan dapat dilihat pada kata pundhak sempal “ bunga yang patah”.

Dilain pihak, penari Gandrung lewat gendingnya Podho Nonton juga menyampaikan  rasa kekecewaan, yaitu

……………………………….

Kembang gadhung

Sak gulung ditawa sewu

Nora murah nora larang, yo ro

Kang nawa wong adhol kembang

Wong adhol kembang

Wis barise ring Temenggungan

……………………………………

Artinya:

…………………………………………..

Bunga Gadhung

Satu ikat ditawar seribu

Tidak muarah tidak mahal

Yang menawar penjuan bunga

Penjuan bunga

Berbaris didaerah temenggungan

…………………………………………..

Jadi data diatas, menggambarkan tentang kekecewaan rakyat  kepada para penghianat yang telah membuat Pejuang Blambangan mengalami kekalahan. Penghianat digambarkan pada kata Wong adhol kembang, yaitu orang yang menjual kemerdekaan mereka untuk  mendapatkan kesenangan pribadi. Mereka para penghianat itu kemudian bersenang-senang dengan para pejabat yang diganbarkan pada kalimat Wis barise ring Temenggungan . Istilah Temenggungan adalah tempat tinggal pembesar yang saat ini menjadi nama sebuah kelurahan yang letaknya berada dibelakang pendopo kabupaten Banyuwangi.

Penari Gandrung lewat gendingnya Syair Seblang Lukito menyampaikan  rasa Semangat, yaitu

……………………………….

Wis wayahe sawung kukuruyuk

Kakang kakang ngliliro

Wis wayahe, wis wayahe bang bang wetan

Lawang gedhe wonten kang jagi

Wis medalo lawang pembutulan

…………………………………

Artinya

………………………………….

Sudah waktunya ayam berkokok

Kakak- kakak bangunlah

Sudah waktunya fajar menyingsing

Pintu besar ada yang menjaga

Keluarlah dari pintu yang tembus

…………………………………..

 

Data di atas menunjukkan adanya citraan rasa semangat, yaitu rasa semangat yang bangkit untuk melawan penjajah. Rasa semangat terlihat pada kakang, kakang ngeliliro’kakak, kakak bangunlah ‘, yaitu menggugah semangat rakyat Blambangan untuk berjuang. Kalimat wis medalo lawang pembutulan ‘ keluarlah lewat pintu tembus’ juga menggambarkan pada saat perang gerilya. Kata pembutulan ‘tembus’ dapat diartikan dengan jalan terakhir yang harus di tempuh yaitu berperang melawan penjajah.

Citraan kegembiraan terdapat pada syair gending Gandrung Kembang Dirmo. Data yang mendukung adalah

………………………………………..

Ganjarane wong kang perang

Wong han perang

Sak sumpinge dikalak ijo

Sumping abang sarang pati

Lare cilik tiba miring

…………………………………

Artinya

……………………………………

Hadiah untuk orang berperang

Orang yang berperang

Sumpingny dikalak hijau

Sumping merah dibungkus tepung

Anak kecil jatuh kesamping

………………………………………

Syair di atas menunjukkan citraan kegembiraan karena menggambarkan pesata yang diadakan rakyat Blambangan untuk menyambut kemenangan para pejuang, seperti pada kalimat ganjarane wong kang perang ‘hadiah untuk orang yang berperang’. Kegembiraan mereka diungkapkan dengan pesta dengan membuat makanan yang dibagikan. Untuk menggambarkan kemeriahan pesta tersebut terdapat kata lare cilik tiba miring ‘anak kecil jatuh ke samping’, yaitu anak – anak kecil yang ikut berebut makanan pada saat pesta penghormatan atas kemenangan para pejuang.

Berdasarkan syair-syair gending Gandrung, penari Gandrung mempunyai peranan penting dalam memberikan sebuah perenungan bagi masyarakat bagaimana perasaan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat Using yang berupa realitas sosial yang sangat berpengaruh pada terbentuknya komunitas Using  di Kabupaten Banyuwangi. Jadi tidak salah jika Sutarto (2006) menjelaskan bahwa Gandrung merupakan salah satu jenis kesenian tradisional Using yang  keberadaannya tetap diminati oleh masyarakat. Salah satu keunikan seni Gandrung  ialah terpadunya gerakan tari yang dinamis dengan suara instrumen yang beragam  dan bersuara rancak bersahut-sahutan. Dalam pertunjukan Gandrung seorang penari  Gandrung seringkali melantunkan pantun-pantun Using baik yang terdiri dari dua  larik maupun empat larik. Pantun-pantun tersebut ada yang bernuansa agama dan ada  pula yang bernuansa asmara.

kedua:  sebagai figur sentral dalam mempertahankan kebudayaan masyarakat Using. Tidak dapat dipungkiri bahwa Banyuwangi dijadikan sebagai penanda identitas dan maskot pariwisata atai ikon pariwisata Banyuwangi tidak lepas dari peranan penari Gandrung yang sampai saat ini tetaplah eksis. Namun sebaliknya, jika Gandrung tidak ada yang meneruskan, menjadi penari Gandrung tidak gampang karena resikonya harus dicium, dipeluk, bahkan mendapatkan kritikan oleh masyarakat dan tentunya bayarannya tidak seberapa. Dari sini kalau tidak karena penari Gandrung yang saat ini tetap eksis banyuwangi tidak akan pernah Gandrung dijadikan identitas dan maskot kota.

Salah satu contoh bahwa penari Gandrung adalah sebagai figur sentral dalam mempertahankan kebudayaan Banyuwangi. Sejak Desember 2002 sejumlah pejabat di Banyuwangi membentuk sekolah Gandrung sebagai Program pembangunan dan  upaya peningkatan peranan perempuan  di Kabupaten Banyuwangi yaitu  pendidikan dan pelatihan penari Gandrung yang tidak lebih dari sebuah pelatihan regular penari Gandrung yang dijadwalkan satu angkatan pertahun yang dilaksanakan  setiap bulan maret.  Dalam 2 tahun 2003-2004 , telah dilantik 63 calon penari Gandrung yang terbagi dalam dua angkatan.

Srintil  edisi 012/IV/2007,  Gandrung dipilih dan melibatkan perempuan dalam pembangunan yaitu dalam rangka menciptakan (citra) kekhasan daerahnya, Dilain pihak pemerintah Banyuwangi merealisasikan proyek pembuatan patung Gandrung ditempat-tempat strategis. Secara eksplisit, konsideran Surat Keputusan Bupati Nomor 173 tertanggal 31 Desember 2002 yang menetapkan proyek ini menyatakan : “ bahwa dalam rangka mendorong tumbuhnya semangat ikut serta  memiliki daerah dengan segala kebudayaannya, yang pada gilirannya akan mampu meningkatkan pembangunan di bidang kepariwisataan, maka perlu adanya upaya peningkatan promosi pariwisata di kabupaten Banyuwangi.

Hal tersebut, juga dipaparkan oleh Sajogyo (1983) bahwa Menyertakan wanita dalam proses pembangunan bukanlah berarti suatu tindakan perikemanusiaan yang adil belaka, akan tetapi tindakan ini tidak lain mengajak, mendorong wanita untuk berpartisipasi dalam pembangunan karena merupakan kegiatan yang sangat efesien. Maka, ikut sertanya wanita dalam pembangunan ini berarti pula dapat memanfaatkan  suatu sumber manusiawi yang potensial sangat tinggi dan lebih-lebih dapat mempengaruhi lajunya pertumbuhan ekonomi.

ketiga: secara tidak langsung keberadaan penari Gandrung  telah menjadi katub penyelamat bagi kehidupan ekonomi keluarganya, terlebih dalam menghadapi permasalahan ekonomi yang kian hari kian memprihatinkan. Walaupun. Menurut Anoeggrajekti  (dalam Srintil, 2003), menuliskan kisah penari Gandrung yaitu Temu (49) , Atik (15), Khusul (24) dan Sunariyah, salah satu alasan yang melatar belakangi Perempuan  bekerja sebagai penari Gandrung juga dikarenakan seolah-olah dikarenakan adanya jaminan  perbaikan kondisi ekonomi keluarga. Penari Gandrung hanya disertai modal suara yang lumayan, tidak harus cantik dan mempunyai ijazah pendidikan. dilain pihak seorang Gandrung harus tahu bahwa salah satu resikonya adalah di cium pemaju, ketika ia tahu, maka Gandrung harus siap dengan cara yang mereka gunakan.  Menurut Temu (49) “Saya sendiri senang yang di paju itu orang yang sudah berkeluarga karena agak sedikit sopan, dibandingkan anak bujangan yang nafsu memburunya kelewat batas. Sudah diperingatkan oleh kluncing juga tidak mengerti. Tari paju juga ada batas-batasnya, tidak nyelenong seperti kerbau saja. Tapi gimana ya, namanya manusia itu berbeda-beda, jadi saya maklumi dan kemampuan mengatur siasat itulah yang paling penting”.

Berdasarkan beberapa peranan diatas, penari Gandrung mempunyai peranan yang luar biasa bagi kemajuan Banyuwangi dan sebagai upaya untuk mempertahankan Identitas kebudayaan. Jika seni budaya dapat dikembangkan dan melibatkan perempuan dalam pembangunan  dapat dioptimalkan. Maka, Banyuwangi akan menjadi daerah yang maju dan menjadi daya tarik tersendiri.

Daftar Pustaka

Anoeggrajekti, Novi. 2006. Gandrung Banyuwangi. Jakarta: FIB UI.

Handayani, T dan Sugiarti. 2006. Konsep dan Teknik penelitian Gender . Malang: UMM Press

Kusnadi, dkk. 2006. Perempuan Pesisir . Yogyakarta: Lkis

Saptari, R dan Holzner. 1997. Perempuan Kerja Dan Perubahan Sosial. Sebuah Pengantar Studi Perempuan. Jakarta : Pustaka Utama Grafiti.

Scholte, John, 1988. Gandrung van Banjoewangi. Terjemahan Pitojo Budhi Setiawan dari Gandrung van Banjoewangi(1926). Tanpa Penerbit.

Soejadi. 1985. Seni Gandrung, Kesenian Jawa Using di Banyuwangi. Laporan Penelitian. Tanpa Penerbit.

Sri Shuhardati  Sukri dan Sofyan.  2001. Perempuan Dan Seksualitas Dalam Tradisi Jawa. Yogyakarta: Gama Media.

 

Srintil. 2003.Gandrung Demi Hidup Menyisir Malam. Edisi 3/April. Kajian Perempuan Desantara . Depok

———-, 2004. Perempuan Dalam Ritual. Edisi 7. Kajian Perempuan Desantara . Depok

———-, 2007. Penari Gandrung Dan Gerak Sosial Banyuwangi, Edisi 012. Kajian Perempuan Desantara . Depok.

Stoler, Ann. 1984. struktur klas dan anatomi wanita di pedesaan jawa” dalam koentjaraningrat (ed.). masalah-masalah pembangunan, bunga rampai antropologi terapan. Jakarta: LP3ES

Oleh :Sri Suci Dewi Wulandari. S.Pd adalah pengajar di MTs Darun Najah Banyuwangi pada mata pelajaran IPS dan Pendidikan Kewarganegaraan, Lulusan Strata 1 Universitas Negeri Jember, Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan pada program studi pendidikan sejarah. aktif terlibat dalam penelitian sosial ekonomi dan budaya.

3 Tanggapan

  1. trimakasih anda mengutip pendapatnya orang lain disertai penulisnya. tolong dipertahankan

  2. trimakasih anda mengutip pendapatnya orang lain disertakan pemilik penulisnya. tolong dipertahankan

    • Selamat datang dan Salam kenal saudara miskawi..
      terima kasih atas comentnya…saya selaku admin padepokan mas say laros akan berusaha menjaga kejujuran akademis kawan….

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.