Apakah kamu tau, tradisi apa yang dilakukan warga kampung Caparan setiap malam satu Syuro?
Di kampung Caparan kecamatan Srono kabupaten Banyuwangi, setiap malam satu Syuro para warganya mengadakan suatu ritual yang unik tapi penuh dengan nilai positif.
Taukah kamu..? Mulai dari siang hingga sore hari pada hari terakhir bulan besar (penanggalan jawa) para ibu warga kampung Caparan sibuk di dapur memasak nasi,lauk, serta kue yang akan digunakan untuk selamatan malam satu Syuro dimushola kampung Caparan. Para bapak dan anak-anakpun juga ikut sibuk, mereka mengisi obor dengan minyak tanah yang akan di bawa anak-anak pawai obor pada malam harinya.
PARI`AN, adalah tradisi yang dilakukan warga kampung Caparan pada malam satu Syuro. Tujuan tradisi ini hampir sama dengan tradisi bersih desa di daerah-daerah lainya, yaitu memohon keselamatan dan ucapan terimakasih kepada Tuhan karena telah menghindarkan kampungnya dari bencana selama setahun ini, tapi tradisi di kampung ini memiliki keunikan yang mungkin tidak dapat di jumpai di daerah lain yaitu adanya pawai obor yang jalurnya mengelilingi kampung Caparan hingga tidak jarang harus melewati pinggiran sawah atau lading pertanian yang sering disebut tegalan oleh masyarakat kampung Caparan.
Ritual ini di mulai di pertigaan kampung yaitu tempat pemberangkatan pawai obor yang akan mengelilingi kampung. Pawai obor ini diikuti oleh anak-anak dari warga kampung caparan dan finishnya di musholah kampung caparan . Setelah pawai ini sampai di mushola kampung Capara, ritual selanjutnya adalah selamatan dan kendurian yang di hadiri warga kampung Caparan dan selamatan ini dipimpin oleh ustad kampung caparan.
Awal mula tradisi ini menurut ketua RT sekaligus orang yang dituakan di kampung caparan yang akrap di sapa pak Fajar adalah berawal dari seorang pria yang membangun perkampungan yang awalnya adalah hutan yang bayak ditumbuhi pohon bambu dan kecambah yang biasa disebut capar yang akhirnya kampung itu dinamai kampung caparan . Warga kampung itupun menyarankan pria tersebut mengadakan selamatan atau ritual untuk memohon perlindungan Tuhan agar kampung yang mereka tempati terhindar dari bencana dan marabahaya lainya. Akhirnya pria itu menyetujui saran warga untuk mengadakan selamatan dan kendurian untuk memohon keselamatan. Ritual inipun berlangsung hingga saat ini, dan pria tersebut tidak lain adalah mertua dari pak Fajar sendiri.
Tutur pak Fajar tradisi ini berlangsung setelah Indonesia merdeka dan tradisi ini tidak pernah tidak dilaksanakan tapi susunan acaranya pernah dirubah sekali, yang seharusnya diawali pawai obor di pertigaan kampung tapi saat itu dipersingkat dengan langsung mengadakan selamatan di mushola kampung, hal tersebut dikarenaka gerimis yang terjadi di kampung Caparan, jadi diputuskan untuk mempersingkat acara. Ternyata keputusan itu menyebabkan kejadian aneh.” Pada tengah malam setelah tradsi itu berlangsung terdengar suara yang cukup keras seperti ada yang nenggelindingkan bambu dari pertigaan kampung, padahal banbu-bambu tersabut awalnya berada di mushola kampung, dan saat suara itu berakhir dan bamu-bambu itupun dicari, ternyata bambu-bambu yang diduga digelindingkan tersebut tetap berada di mushola kampung”. Mungkin itu sangsi atau akibat dari tatanan acara yang tidak berlangsung seperti seharusnya. ”Tutur pak Fajar”.
Tradisi ini mengandung banyak nilai yang dapat kita petik. Antara lain nilai sosial karena dengan adanya tradisi ini terjadi interaksi langsung antar warga kampung Carapan.
Saat selamatan dan gendurian juga mengandung nilai kebersamaan karna saat kendurian para warga baik yang kaya,miskin ataupun pejabat berkumpul ditempat yang sama dan memekan nasi yang sama dari sumbangan warga. Nilai keagamaanpun terasa kental pada tradisi ini, khususnya saat selamatan semua warga yang datang ke mushola sama-sama memohon pada Tuhan agar kampungnya diberi keselamatan
Tradisi semacam ini harus dilestarikan agar tidak punah dan nilai-nilai positifnya dapat kita petik.
Meskipun terlihat sederhana tapi,tradisi inilah yang membuat kita dapat sadar kembali akan kedudukan kita sebagai mahluk tuhan yang hanya bisa memohon serta berusaha dan yang menentukan adalah Tuhan yang menciptakan alam serta isinya.
oleh : Eka Fatma Nurhidayati – SMAN 1 Cluring
Filed under: Banyuwangi, Wisata Budaya



