
Minggu, 07 Agustus 2011
Salam Persahabatan…
Bagaimana Kabarnya Sahabat Mas Say Laros?
Sebagaian kalangan mungkin menganggap anak jalanan adalah sebuah komunitas anak-anak yang tak terurus,terarah dan banyak menimbulkan masalah khususnya di jalanan seperti kemacetan Dsb,bahkan kadang-kadang juga mereka merupakan salah satu penyebab tindakan kriminal di masyarakat perkotaan.Argumen sebagaian masyarakat itu mungkin bisa benar dan sebaliknya mungkin bisa salah tinggal dilihat dari sisi mana kita menilainya.
Bertepatan dengan Praktek Kerja Lapangan Integratif (PKLI) di sentra investasi danareksa cabang malang beberapa waktu yang lalu,seperti biasa setiap jam istirahat pada pukul 12:00 – 13:30 WIB Mas Say Laros selalu menyempatkan makan di sekitar pasar comboran dekat alun-alun kota malang bersama rekan fizi yang juga ikut PKLI di Satu lokasi dengan Mas Say Laros.Sebenarnya tujuan Mas Say Laros makan di comboran bukan hanya untuk mengenyangkan perut saja,toch kalau tujuanku hanya untuk makan tidak perlu jauh-jauh harus makan di comboran karena di sekitar kantor danareksa juga ada warung maupun restoran.
Tetapi ada tujuan khusus yang Mas Say Laros inginkan,apalagi kalau bukan bisa bercengkerama dengan komunitas anak jalanan dan masyarakat kelas bawah yang tinggal di sekitaran pasar comboran.Di sekitar lokasi ada sebuah lembaga pemberdayaan anak jalanan yang bernama ‘’GRIYA BACA’’ .Nach,kebetulan rekan fizi adalah salah satu pengurus di Griya Baca ini jadi sekalian ja setelah makan di pasar comboran kita istirahat sejenak untuk sholat dhuhur dan bercengkerama dengan komunitas anak jalanan ini.
Sebagai orang yang tidak pernah bercengkerama dengan kalangan masyarakat menengah kebawah ini mungkin akan merasa risih,Tetapi kalau menurutku membuat Mas Say Laros merasa terharu melihat kehidupan mereka sehari-hari yang menemui banyak problem hanya untuk penyambung hidup saja.Memang mas say laros bukanlah anak dari keluarga yang kaya raya tetapi jika di bandingkan dengan mereka ternyata masih masih banyak orang yang lebih kesulitan di bawah mas say laros.
Mas Say Laros akui memang selama ini saya sering merasa kurang bersyukur dengan apa yang telah tuhan berikan kepada kita tetapi ketika bersama mereka ucapan syukur alhamdulilah itu selalu mengalir begitu saja tanpa paksaan.Ada hal yang menarik ketika Mas Say Laros berkunjung ke Griya Baca Kota Malang yaitu ketika ada seorang ibu yang datang ke kantor Griya baca ini bersama anaknya dan menangis tersedu-sedu karena merasa begitu beratnya menjalani sebuah kehidupan,dan ada juga seorang ibu yang bersedih karena anaknya yangtidak mau sekolah SD karena belum mempunyai seragam sekolah.Ya allah begitu banyak hambamu yang mengalami kerasnya kehidupan ini,seberat-beratnya beban hidup mas say laros ternyata masih ada yang lebih berat dengan apa yang mereka jalani.
Mas Say Laros akui jika kepedulian sosial yang dimiliki para perintis griya baca ini sangat tinggi bahkan saya merasa sangat kurang kepedulian yang telah saya miliki dibandingkan dengan mereka meskipun saya menyandang gelar MAHASISWA.Selama ini kita kenal mahasiswa adalah agent of change,social and control masyarakat tetapi realitanya sebagaian mereka yang meneriakkan jargon itu tidak peduli dengan masyarakat bawah,Maka dari itu janganlah heran jika kepedulian yang mereka pekikkan sebenarnya adalah kepedulian semu,Mas say laros merasa masih dalam golongan mereka yang hanya menumbar wacana tanpa realita maka dari itu setelah bisa bercengkerama dengan komunitas anak jalanan ini setidaknya bisa menambah wawasan mas say laros agar lebih peduli dengan masyarakat bawah.
Menurut sejarahnya yang aku dapat dari beberapa sumber,Griya Baca ini lahir karena banyaknya anak jalanan yang tidak terurus dengan baik mereka hidup secara bebas tanpa ada sebuah lembaga yang memperdayakannya terutama di alun-alun kota malang dan sekitarnya.Pada tahun 2000, kepedulian sosial ini belum terbentuk secara kelembagaan tetapi secara personal mereka membuat program – program rutin seperti mengaji bersama 2 kali dalam seminggu dan buka bersama ketika Ramadhan tiba.
Mbak Iryani beserta kawan – kawan UAKI bergabung untuk kerjasama dalam menjalankan program – program tanpa adanya keterikatan instansi. Maksudnya, mereka menjadi relawan karena sama – sama memiliki kepedualian terhadap anak jalanan. Akhirnya mereka sepakat membuat suatu komunitas yang bernama Children of Heaven yang diketuai oleh Mb Novi. Program ini berjalanan hanya 2 tahun, karena beberapa relawan telah lulus kuliah dan kembali ke kampung halaman.
Pada tahun 2002, satu – satunya relawan yang masih tersisa di Malang yaitu Mb Iryani masih menjalankan program meskipun tidak rutin. Tetapi, adik – adik masih antusias belajar dan bermain dengan mb Iryani. Kemudian, mb Iryani mengajak teman dari mahasiswa UIN yang sama – sama memiliki kepedulian terhadap anak jalanan yaitu Mb Taqi. Hanya 2 orang pengajar anak – anak masih antusias dan senang dengan mereka. Selama 3 tahun, mereka “jatuh bangun” dalam mempertahankan program tersebut. mereka melakukan pendekatan secara kekeluargaan, tidak sekedar mengajar tapi juga memahami karakter dan dekat dengan keluarga. Pada tahun 2005, Mb Nur Aminah masuk sebagai anggota baru yang tertarik untuk berbagi dengan mereka.
Dari tahun ke tahun, pembinaan yang dilakukan tidak jelas dan tidak terarah. Karena mereka tidak merasa “terbebani” dengan program ataupun jobdisk. Tetapi, hal ini seakan – akan dilakukan tanpa ada target yang jelas. Hanya sekedar mengisi waktu kosong bagi mb Iryani, Mb Taqi, dan mb Nur begitu juga bagi adik – adik. Pada tahun 2006, Nurul Habibah bergabung dengan mereka. Karena banyaknya adik – adik yang tertarik dengan pembinaan ini, bukan hanya alun – alun tapi juga kawasan jagalan. Akhirnya mereka ber-4 membentuk suatu komunitas yang benar – benar focus pada pembinaan anak jalanan. Memiliki kegiatan dan target dalam menjalankan agenda baik sekedar mengaji dan buka bersama. “Rumah Cahaya” nama ini yang mengawali semangat mereka, sebenarnya usul dengan nama Rumah Cahaya ini dari anggota FLP yaitu Mb Taqi dan Habibah. Karena Rumah Cahaya juga dimiliki oleh kantor pusat yang ada di Jakarta. Mereka bermaksud membuka cabang Malang. Mereka menganggap dengan adanya Rumah Cahaya ini akan mempermudah gerak dalam melebarkan kawasan pembinaan, memperbanyak relawan yang bergabung dan pendanaan yang memadai.
Beberapa bulan kemudian, proposal pun menyebar. Tetapi muncul konflik dengan FLP cabang Malang. Dimana, prosedur dalam mendirikan Rumah Cahaya terdapat kekeliruan. Antara lain, 1. perizinan dari Rumah Cahaya Pusat, 2. Penyebaran proposal belum disetujui oleh Ketua FLP Cabang Malang, dan 3. Pendanaan yang tidak transparan. Karena hal tersebut mereka sepakat untuk membubarkan Rumah Cahaya, meski belum berjalan tetapi sebenarnya secara struktural kelembagaan Rumah Cahaya ini telah terbentuk.
Kemudian, mereka sepakat membuat organisasi independent tanpa naungan lembaga lain. Seperti Rumah Cahaya yang berada di bawah naungan FLP. Nama “Griya Baca” merupakan awal dari inspirasi pembinaan yang mereka jalani. Griya yang berarti Rumah, Baca artinya Membaca. Dengan segudang harapan kelak adik – adik yang telah terbina benar – benar menjadikan pembinaan ini bermanfaat bagi mereka. Griya Baca, bukan hanya “mewajibkan” adik – adik untuk senang membaca. Tetapi dari kata Baca tersebut, harapannya adik – adik binaan mampu membaca sekitar dan memperkuat karakter sehingga bisa menjadi lebih baik di masa depan. Perbaikan program bukan hanya pada kegiatan mengaji, tapi secara eksternal mereka dikenalkan dengan dunia luar baik melalui undangan dari instansi maupun keikutsertaan lomba tingkat lokal.
Pada tanggal 28 Oktober 2006, mereka mengadakan Bakti Sosial dengan peresmian Griya Baca. Banyaknya simpatisan yang mendukung, baik dari akademisi maupun tokoh masyarakat. Nama Griya Baca akan tetap mereka pertahankan disertai inovasi dalam program pembinaan maupun secara keorganisasian. Februari tahun 2007, Griya Baca diresmikan melalui akte notaries. Diharapkan perubahan secara kelembagaan ini akan memperluas dan memperbaiki kualitas pembinaan terhadap adk – adik binaan.
Griya Baca Malang
No : 11, 9 februari 2007, Notaris : Faisal A. Weber, SH
Kelurahan Kauman Kecamatan Klojen Kota Malang Jawa Timur 65119
Sekretariat:
Jl Kyai Tamin 1C No 20 RT 01/ RW 06 Belakang Pasar Comboran Baru Kel. Sukoharjo Kec. Klojen Malang
No. Rek. 00114-01-50-001753-4 Atas Nama “Griya Baca” BTN Malang
Telp. (0341) 295 5378
Filed under: AKTIFITAS-KU, ARTIKEL-KU




Pngen gabung jd relawan jg, ,,ada persyaratan.a g?
Wah alhamdulilah kalau mau jadi relawan..
tdk perlu ada syarat khusus kok kawan..
kalau ingn bergbung bisa contak shabat fizi… (085735111237)
beliau adalah salah satu pengurus Griya Baca Kota Malang.
Kalau Mas say laros bukan pengurus cuma kemarin sempat melakukan pengabdian masyarakat di sana.