Sabtu,23 Juli 2011
Salam Persahabatan…
Bagaimana Kabarnya Sahabat Mas Say Laros?
Indonesia adalah sebuah negara yang mempunyai beragam suku,adat-istiadat dan berbagai macam khasanah budaya lokal lainnya.Masing-masing daerah yang ada di indonesia ini memiliki culture dan ciri khas yang berbeda tetapi dengan perbedaan inilah bukan malah menciptakan sebuah malapetaka tetapi malah menciptakan sebuah keanekaragaman culture yang sangat unik,Maka tidaklah heran jika indonesia menjadi jujugan turis mancanegara yang ingin belajar kebudayaan asli yang ada di indonesia.
Salah satu dari sekian banyaknya budaya lokal yang ada di indonesia adalah salah satunya adalah budaya suku jawa atau orangnnya biasa di sebut dengan istilah WONG JOWO.Suku jawa adalah orang yang penuh filosofis dalam menjalani sebuah kehidupan,mereka memperlakukan Alam Semesta ini seperti memperlakukan saudaranya atau keluarganya sendiri,dia harus dihormati,disapa dengan penuh kasih sayang,diberi makan dengan penuh keikhlasan dan sebagainya maka tidaklah heran jika alam adalah salah satu sahabat sejati bagi orang jawa.
Jika dalam ajaran agama islam ada tiga konsep hubungan yang harus dibangun oleh seorang manusia yaitu habluminallah (Manusia dengan Tuhan),Habluminannas (Manusia dengan Manusia) serta Habluminal alam (Manusia dengan Alam) dari ketiga hubungan di atas ketiganya harus ada korelasi yang positif ketiganya tidak bisa dipisah-pisah karena semuanya ada tanggung jawabnya dihadapan manusia dan Tuhan.
Begitu juga orang jawa salah satu dari tiga konsep yang diterapkan di atas adalah habluminal alam yang selalu di junjung tinggi dalam menjalani kehidupan sehari hari.Orang jawa mungkin sadar jika kita melestarikan alam maka alam akan memberikan konstribusi yang positif kepada kita.Maka tidaklah heran jika orang jawa menganggap Alam itu tak ubahnya seperti makhluk hidup lainnya seperti manusia,binatang dan sebagainya.
Salah satu alam yang nampak disekitar kita adalah bumi dan langit yang didalamnya ada benda-benda yang seolah-olah benda mati yang tidak memberikan manfaat atau musibah jika kita memperlakukan seenaknya seperti sungai,laut,gunung,hutan dan sebagainya.
Mas Say Laros adalah wong cilik yang terlahir didaerah pulau jawa bagian selatan disalah satu pelosok daerah Pesanggaran Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur.Sejak kecil agama bagi kami menjadi salah satu menu wajib yang orang tua tanamkan kedalam jiwaku meskipun sebenarnya keluargaku adalah perpaduan dari ajaran islam murni dan ajaran kejawen tetapi itu semua malah membuatku semakin menghargai sebuah perbedaan dalam menjalani kehidupan di dunia ini.Maka tidaklah heran jika sejak kecil toleransi agama sangat di junjung tinggi.
Namun dibalik itu semua,menjunjung rasa kemanusiaan dan menjaga keharmonisan dengan Alam sekitar adalah sebuah kewajiban yang ditanamkan keluarga kepadaku sejak kecil.Bagi kami alam tak ubahnya seperti teman sendiri yang harus selalu kita jaga,rawat dan di hormati karena kami yakin jika alam lestari maka akan memberikan konstribusi yang positif bagi diri kami,Namun ketika kita berbuat sebaliknya maka bencana akan selalu menghantui diri kita selamanya.
Masih segar dalam ingatanku ketika ada sebuah hajatan/pesta rakyat biasanya pada acara-acara khitanan ataupun mantu/pernikahan banyak tempat-tempat yang di anggap angker selalu diberi sesajian mulai dari sungai,pohon-pohonan,sumur tua dan sebagainya.Sebenarnya kamipun tahu dan benar-benar sadar jika mereka itu tidak membutuhkan sesaji yang telah kita sajikan tadi,begitu pula jin,peri,gendruwo dan setan-setan yang menghuni tempat-tempat itu tidak akan menyantapnya,toch akhirnya yang memakan sesaji juga mbah juru kunci (kuncen) lokasi itu dan bahkan warga sekitar yang lewat disekitar itu.
Sebenarnya kami ini hanya ingin membangun kekramatan dan nuansa angker sehingga diharapkan nantinya orang-orang jahil yang suka merusak lingkungan akan berfikir dua kali lipat untuk merusak tempat-tempat yang sudah menjadi sumber hajat hidup orang banyak itu.
Namun,seiring berjalannya waktu,tidak di desa maupun dikota sama saja kita sering melihat orang begitu agamis dan terlihat sok religius banget.Tempat-tempat ibadah umat beragama bak jamur yang tumbuh pada musim hujan disana-sini banyak masjid,gereja,kelenteng,vihara dan pura dibangun dengan megahnya.
Mereka suka berkoar-koar bahwa orang yang masih suka sesajen dikatakan MUSRIK,SYIRIK Dan Bahkan ada yang lebih ekstrim MURTAD/KAFIR dan darahnya halal untuk dibunuh,orang yang ngadaian selametan dibilang bid’ah,orang yang mempercayai tanda-tanda alam disebut tahayul,Sesajen,selametan di bilang ajaran sesat kolot dan perlu diberangus habis agar tidak mengotori dan menjadi virus-virus yang menjangkiti keimanan.So,banyak manusia-manusia religius yang saling berlomba-lomba beragama secara kaffah dan lurus yang katanya sesuai dengan perintah nabi.
Sebagai orang awam saya semakin heran aja dengan mereka-mereka ini zaman dikatakan sudah modern dan orang-orang yang sok agamis itu kenapa yang terjadi malah sebaliknya?Ada apa kawan?Kini orang-orang sudah mengabaikan norma-norma dan nilai-nilai hidup yang diajarkan leluhur.Bahkan tidak jarang sekarang orang-orang gampang sekali menyakiti sesamanya, kini orang makin gampang membunuh, memperkosa dan lain sebagainya.
Banyak sekali anak muda yang meninggalkan sopan santun tata krama, sifat andap asor dll, tempat-tempat yang dulu dianggap angker atau keramat, kini tiada ditakuti lagi. Dahulu sungai yang banyak mengandung ikan telah disulap menjadi persawahan, pohon-pohon tua yang banyak menampung serapan air ditebang, hutan-hutan dijarah rayah sehingga menjadi gundul bak lapangan golf.
Akibatnya mata air makin susah, udara menjadi panas sehingga iklim mulai kacau.Sebenarnya, siapakah yang bertanggung jawab terhadap semua ini, salahkah ajaranya atau manusianyalah yang salah memaknai sebuah agama. Benarkah keyakinan yang dianggap kuno, kolot, ortodok lebih buruk dibandingkan dengan keyakinan atau agama –agama yang baru?Saya rasa semua berpulang kembali kepada diri masing-masing untuk saling belajar memaknai dan ngonceki rasa, roso-rasane dhewe-dhewe…
Makanya dulur mulai sekarang NGERTENONO SEJATINE URIP yang artinya taulah arti atau tujuan dari kehidupan ini yang bukan untuk berfoya-foya dan menyakiti sesama makhluk tuhan tetapi untuk saling menghargai,menjaga dan menghormati agar supaya kehidupan ini bisa tentram lahir dan batin.
Ditulis di kamar C2 Pesantren mahasiswa darul hijrah merjosari malang
Hari Rabu,23 Juli 2011 Pukul 22:40 WIB
Filed under: BUDAYA



