Minggu, 10 Juli 2011
Salam Persahabatan…
Bagaimana Kabarnya Sahabat Mas Say Laros?
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
(al Baqarah, 30)
I. Berawal dari dunia.
Diawali dari suatu pernyataan yang menggelitik tentang manusia dalam agama-agama besar dunia. Satu agama menyatakan bahwa kita adalah wujud reinkarnasi, yang lainnya bilang kita berasal dari jelmaan putra dewa, dan yang lainnya menyatakan bahwa kita berasal dari surga yang turun ke dunia.
Mana yang benar dan mana yang salah? Ini adalah suatu pernyataan keimanan manusia yang paling hakiki, tidak ada yang tahu pasti berasal dari mana kita semua? Pengetahuan sebagai agama baru telah menyatakan faham evolusioner, bahwa kita dari kera dan lalu ditentang oleh pengetahuan sendiri, oleh ajaran neo creation yang menyatakan bahwa “satu sel yang paling sederhana saja tak bisa begitu saja diciptakan secara kebetulan, kaena secara bio molekuler dan genetic ternyata sangat komplek setara dengan kerumitan pesawat”.
Apa mungkin ada suatu kebetulan di dunia telah menciptan pesawat terbang? Bumi yang secara subtil seimbang? Siapa yang telah menciptakan semua ini? Tuhan? Siapa Tuhan? Dan untuk apa kita berada di sini?
Ibrahim, bapak para nabi, memulai pencarian Tuhannya hanya dengan akalnya, di seputaran gurun Sinai ia mencari-cari Tuhan dari gejala alam, semula ia anggap matahai itu Tuhan, tapi ketika malam datang, di mana tuhan matahari?, lalu ia mencoba menyembah bintang dan bulan, tapi saat pagi, ia tak tahu dimana keduanya, lelah ia mencari, lalu pada akhirnya Tuhan menyuruh Jibril menunjukkan “muka”nya, dan mewahyukan Ibrahim tentang Tuhan yang sesungguhnya. Ini adalah kisah dari Islam dan semua agama satu rumpunnya, (Yahudi dan Kisten), bahwa suatu usaha “akal” akhirnya telah menemukan Tuhannya.
Memang pada kenyataannya, kita tidak bisa beragama diawang-awang, Tuhan ada di mana-mana, tidak dibarat dan tidak di timur “la Masrq la maghrib”. Tuhan bahkan bisa lebih dekat dari kerongkongan kita, atau bisa jadi ia terlalu jauh untuk kita gapai, jauh di sana.
Lalu beberapa agama mendengungkan kesucian untuk merebut dan mendekat dengan Tuhan. Mensucikan diri mereka dari “duniawi”, mengurung diri dalam kehidupan sehari hari, atau membatasi diri dari dunia dan kenyataan hidup.
Kesucian diri dalam islam adalah tema yang ada sejak lama, sejak jaman sahabat merupakan kajian yang muncul dan tenggelam, sama dengan hedonisme (kekuasaan dan terror), bahkan disetiap agama hal ini ada, para brahmin hindu, ordo-ordu pertapaan kristen, para biksu di vihara-vihara tertutup, rata-rata mempraktekkan kehidupan ketat yang jauh dari dunia yang mereka anggap “fana” yang bukan tujuan manusia sejati.
Dunia dianggap godaan, kotor dan ancaman bagi sekian banyak aliran ini.Ok, itu hanya bagian dari pemikiran agama, selalu ada banyak aliran dalam satu agama, Kristen Calvinis terutama, mendorong kerja sebagai ibadah “Ora et Labora”, ini jauh berbeda dengan disiplin ordo-ordo pertapa Katolik, tapi nyatanya ia tetap di satu agama.
Di islam, ada banyak pemeluk “pencinta akhirat” tapi ada lebih banyak oang yang berdoa dengan mendaaskan kata-kata “Rabbana athina fiddunya khasanah wafil akhiroti khasanah waqina adla banner”, Tuhan ku, anugrahkan hamba kebaikan di dunia dan juga kebaikan di akhirat. Nyatanya kecintaan pada dunia (harta dan materi, kekuasaan dan prestasi, cinta dan keluarga) dan kecintaan pada akhirat (cinta illahiah, kedamaian, ketenangan, manifestasi surgawi) adalah dua hal yang juga tersimpan pada dua ruang di dalam satu hati kita.
Tuhan mengutus manusia di dunia ini sebagai khalifah (al Baqarah : 30), lalu malaikat mungkin hanya memahami bahwa manusia akan berbuat kerusakan di muka bumi, tapi Tuhan dengan keanggunannya menjawab, “aku tahu apa yang kamu tidak tahu”.
Karena tersebutlah malaikat sebagai makluk standar yang sangat tidak dinamis seperti manusia, selalu berbuat benar terus, sepanjang hayatnya sementara manusia adalah makhluk yang paling dinamis, ia bisa lebih buruk dari binatang atau bahkan lebih tinggi dai Malaikat, Tuhan tahu persis sifat-sifat manusia, dan Ia lebih tahu bahwa manusia memang diciptakan untuk dunia, untuk bumi ini yang selalu berubah, tidak untuk surga eden yang serba sempurna, yang mungkin hanya cocok untuk lingkungan para malaikat.
Manusia menjumpai tangis dan tawa di dunia, manusia menjumpai kekurangan dan berlebihan di dunia, manusia menjumpai kekejaman dan kasih sayang di dunia, manusia menjumpai kerakusan dan kejenuhan di dunia, Ini adalah bagian yang tidak tepisahkan dari kemanusiaan sejati manusia, dan karena ini ia bisa dibedakan dengan Malaikat, karena ini pula seluruh malaikat disuruh besujud pada Adam, semua mematuhinya kecuali Iblis, substasi api yang selalu mengobarkan kemarahan, kesombongan, angukuh dan dendam serta kesia-siaan, Iblis adalah satu dari makhluk Tuhan yang diperintah untuk membisikkan kepedihan dan kerakusan di hati manusia, dan itu memang sudah nasibnya iblis, untuk dianggap lebih rendah dai binatang.
Maka manusia tercipta “sempurna”, ada akal lalu gunakanlah ia sebagai makhluk berakal “ulil albab”, ada hati “lalu gunakan pula ia “arhman-arhim”, ada tubuh lalu jagalah ia, rawatlah ia, perindah ia, dan ada bumi sebagai rumah manusia, jagalah ia, dan jangan hancurkan “la fasadul fil ard”. Oleh karenanya ada 4 hal yang bisa dipahami hingga seseorang masih bisa disebut manusia: waras (befikir logis dan terbuka), berperasaan (punya kasih dan saying), hidup (sehat dan bugar), dan mengusahakan perbaikan.
II. Jembatan ke “Akhirat”
Dunia memang sangat sementara, “addunya mata’ul ghurur” (dunia hanya tempat bersenda gurau belaka), tak ada yang tidak berubah di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri, ini mengapa hati kita diciptakan untuk membuat semua perubahan ini lebih berjalan lambat sehingga ada kesempatan bagi kita untuk berfikir lebih jernih. Ini mengapa siapapun orangnya secara alamiah haus dengan apa yang disebut mengabdi, berjuang dan mencintai dengan setia. Karena dalam islam secara terang dan jelas Tuhan menyatakan “La kholaqol jinna wal insa illa li ya’budhun” (az-Zaariyaat: 56), secara manusia diciptakan untuk beribadah, term berarti yang berate manusia didisein dalam tubuh-jiwanya untuk: mengabdi, berendah diri terhadap pujaannya, sebagai ‘pelayan’ bagi yang ia cintai.
Ibadah adalah jalan menuju ‘akhirat’, Ibadah di dunia ini tentunya. Lalu apakah ibadah itu, sering kali ibadah didistorsi dalam perbuatan-perbuatan ritual wajib saja (sholat, zakat, puasa, haji dll), padahal seperti pula pemikiran calvinis, atau mu’tazilah, secara umum ibadah dalam islam di bagi dalam dua sayap besar, ibadah untuk Allah (khos) dan ibadah untuk sesama makluknya (‘um), keduanya harus lillah hi ta’ala (hanya karena Allah) dan pada dasarnya kedua syarat tadi hanya untuk menjaga ‘insaniah’ itu sendiri.
Kalau Ibadah khusus itu memiliki tuntunan, maka ibadah umum tidak memiliki petunjuk resmi, al Gazali (pemikir besar aliran mayoritas islam -Sunni-) mengatakan, menjaga akal, kesehatan, kesehatan, harta, harga diri, negara dan keyakinan hati adalah ibadah besar, dan berjuang untuknya adalah wajib ‘ain asal memenuhi prasyarat lillahita’ala, atau yang tujuan akhirnya untuk ‘mengenal’ Allah lebih dekat dan terang, itu mengapa dalam sekian sejarah islam pemikian dan akal sehat (rasional) memiliki keutamaan yang sangat dihargai, mengungkapkan kebenaran dari pemikiran yang kita yakini adalah ibadah, akan mendapat pahala walau ijtihad (keputusan) yang kita ambil mungkin nanti barang kali ternyata salah, karena Allah menghargai penjagaan akal agar terus bekerja
Bekerja pula adalah ibadah yang bernilai tinggi, karena dengan bekerja keras, kita telah membantu diri kita dan orang-orang yang kita cintai, untuk melanjutkan hidup lebih baik, menjaga akal sehat melalui pendidikan, membangun tubuh dan kesehatan melalui olahraga, membuka lapangan pekerjaan, memberi derma bagi yang tidak mampu, sungguh bagi Allah, orang bekerja memiliki pahala yang tinggi dibanding mereka yang hanya sibuk dengan kehidupan akhirat dan melupalkan dunia.
III. Cinta Dunia untuk Akhirat
Orang-orang asketis (zuhudiah) selalu berfiki bahwa dengan menghindari dunia kita akan lebih mudah memasuki surga, atau tujuan ilahiah tertinggi yaitu “sang cinta (mahabbah)”. Tapi islam memiliki banyak pilihan dan jalan. Kalau anda menjaga akal pikian anda, maka anda akan menjumpai Tuhan dalam bentuk hikmahnya yang lain dari ahli zuhud, dan belum tentu hasilnya lebih buruk. Rashul adalah pedagang ulung, Ali adalah ahli Ilmu, Abubakar adalah pejuang. Faktanya, perdagangan umat islam sejak dahulu kala seperti halnya Majapahit, mendunia ke mana-mana jauh sebelum Portugis dan Spanyol memulai penjelajahan dunia. Dan dari situ islam tersebar di nusantara. Apakah dengan itu pencapaian mencintai Tuhan dengan jalan mencintai dunia itu lebih buruk? Tentu tidak!
Mencintai seseorang yang memang pantas anda cintai adalah ibadah, seperti halnya mencintai pekerjaan anda adalah ibadah, dengan menjaga kesetiaan, perhatian, pengorbanan, serta hasrat yang memuaskan pasangan anda dan anda sendiri, maka kiranya Tuhan akan berkenan untuk mencatatnya di lembar kebaikan.
Memang mengubah suatu keyakinan yang sering kali sangat taqlid (membabi buta karena memang dari kecil) adalah sesuatu yang berat, tapi kita harus belajar menerima kenyataan itu, dan menerima realitas bahwa Tuhan telah membangunkan jembatan yang berbeda untuk sebagian orang, dan sering kali perjalanan itu terasa sepi tanpa seorang yang kita sayangi.
Maka peluklah kekasih anda erat-erat dan ciumlah ia mesra, selagi anda memilikinya. Allah Swt Maha Pengasih dan Penyayang.
Wallahua’lam
Filed under: ARTIKEL-KU



