Cerpen : Petualang Birahi Di Penjara Suci

Posting: Senin,06 Juni 2011

*****************************************************

2005

MALAM sebelumnya, para santri tidak bisa tidur karena membicarakan seseorang yang akan masuk pesantren. Salah satu diantara kami mengatakan kalau anak itu juga tampan. Aku dan kelima rekanku dalam kamar tak habis-habis membicarakannya. Dan aku yakin di kamar yang berbeda, mereka juga sedang memperbincangkan topik yang sama. Karena inilah hiburan kami yang paling menarik. Sebab tak ada TV, tak ada radio, tak ada telepon. Mengobrol ngalor ngidul adalah hobby yang sering kami lakukan menjelang petang, usai pengajian malam dilakukan.

Di pagi-pagi buta, seperti biasanya kami dibangunkan tepat di jam setengah empat. Seorang ustad muda menggedor setiap pintu sambil berteriak membangunkan. Aku dan kelima teman santri di kamar yang sama bangun dan menuju kamar mandi yang berderet di lantai bawah. Setelah mandi kami berwudhu dan wajib berada di masjid pada jam setengah lima. Setelah itu aktivitas yang sama pun kami lakukan: salat subuh, mengaji, mendengarkan ceramah, dan salat dhuha.

Di jam enam, kami punya waktu setengah jam untuk sarapan dan berseragam sekolah. Setelah itu kami harus tiba di kelas madrasah aliyah (setara dengan SMA), pada jam setengah tujuh. Waktu istirahat selanjutnya ada di jam sembilan sampai 30 menit mendatang. Itu pun biasa kami pakai tidur dan membaca di perpustakaan. Selebihnya ada yang menggunakan lapangan untuk bermain sepak bola atau badminton.Kami keluar dari kelas jam 12. Setelah itu kami tidak lantas pulang ke asrama. Kami langsung bersuci dan melakukan salat zuhur, kembali mendengarkan ceramah dari ustad yang berbeda, sampai tiba jam 13. Setelah itu, inilah waktu luang kami yang paling berharga.

Paling tidak sampai jam 15. DI waktu rehat itu aku biasanya menghabiskan waktu di belakang gedung asrama. Dua diantara temanku biasanya merokok di situ. Sisanya mengobrol sambil makan cilok.Tidar dan Sadam memiliki badan yang tegap. Diantara kami berlima, keduanyalah yang tampak kokoh seperti seekor kuda. Tidar memiliki darah Medan dengan struktur wajah yang keras sementara Sadam memiliki garis keturunan Arab. Keduanya dikenal perokok berat dan selalu mencuri-curi kesempatan untuk mengisap tembakau.

Tapi mereka harus lebih berhati-hati. Sebab pernah suatu kali Sadam, Tidar dan dua santri lain dari kamar sebelah, dikurung semalaman karena kedapatan merokok.Sementara Hanafi memiliki tubuh paling mungil diantara yang lain. Kulitnya pun pucat seperti mayat hidup. Karena memakai kacamata minus, orang-orang sering memanggilnya Nobita. Awal kedatangannya dua tahun lalu sempat menjadi bahan olokan dan bulan-bulanan. Tapi hal itu tidak berlangsung lama setelah ia mendapatkan mairil yang tepat untuknya.

Ia pun dilindungi dan tak lagi diintimidasi.Satu lagi bernama Fian. Satu-satunya di pesantren yang memiliki kulit terang dan bagus karena ia memiliki darah Tionghoa. Dahulu ia menjadi pribadi pendiam karena dideskriminasi golongan pribumi. Lambat laun, ia tak lagi minder dengan keadaan dirinya. Dengan kepemilikan wajah dan tubuh yang proporsional seperti yang dipunyainya, seharusnya ia tak harus menjadi rendah diri. Dan hanya dalam dua bulan setelah ia tiba di pesantren, ia sudah menjadi incaran para senior.

Meskipun begitu ia masih saja tidak meninggalkan kepribadian aslinya: introvert.Sementara aku sendiri, namaku Mawan. Boleh dibilang, aku adalah campuran dari keempat pribadi teman-temanku. Aku bisa menjadi supel, bisa juga sangat tertutup. Tapi kutahu pribadi setiap orang itu sangat kompleks. Yang jelas aku gemar mengamati. Dan tak pernah sekalipun terlibat dengan hal-hal yang tak aku inginkan. Termasuk dengan aktivitas nyempet dan mairil yang biasa mereka lakukan secara diam-diam. Dan teman-temanku menghormati hal itu.

* * *

SANTRI baru akhirnya datang. Ia diperkenalkan setelah kami melakukan salat ashar di mesjid. Kutahu ratusan santri memandangnya dengan terkagum-kagum. Namanya Igho. Ia asal Jakarta. Wajahnya tampan dan kulitnya terang. Ketika ia diperkenalkan, kepalanya menunduk dan terlihat bagai seorang pemalu. Detik kemudian ia duduk di barisan depan dan menikmati pengajian kitab kuning. Kemudian aku dan keempat temanku yang berada di satu shaf yang sama hanya bisa memandangi bagian belakang tubuhnya.“Ada untungnya kan, kita datang lebih dulu,” ujar Sadam disusul tawa cekikan Tidar.

Mengingat shaf yang kami tempati tak jauh dari shaf depan.Sehabis pengajian yang berakhir di jam empat, kami punya waktu 90 menit untuk beristirahat. Beberapa menit setelah kami sampai di kamar, Ustad Faris datang bersama si anak baru. Seperti dugaanku, tentu ia akan menempati kamar ini karena jumlah penghuni di ruangan ini belum genap. Kedatangannya mendapatkan sambutan yang hangat dari kami.

Tapi ia menanggapinya dengan dingin.“Maklumlah, anak baru,” bisik Tidar kepadaku.Menit selanjutnya kami mengerubunginya seperti semut pada gula. Seperti bedug saja, Igho akan berbicara kalau kami yang memulai. Dan dari waktu sesingkat itu, kami tahu kalau ia dipesantrenkan orang tuanya sejak ia dituduh memakai narkoba. Selebihnya kami memberi kesempatan baginya untuk beristirahat. Ia pun meringkuk membelakangi kami di ranjang yang sama denganku. Tepatnya ia memilih tidur di atas. Entahlah. Tentu ia hanya pura-pura tertidur.Aku pun memahaminya. Ini mengingatkanku pada apa yang pernah aku alami di empat tahun yang lalu. Ketika orang tuaku membuangku ke pesantren ini sampai mereka tak pernah menghubungiku lagi. Selanjutnya aku tak usah membayar apa pun ke yayasan.

Layaknya anak yang dapat beasiswa, di tempat ini aku dibiayai dan dicukupi dengan cuma-cuma. Dan mungkin akan berakhir di sini selamanya.Apa yang dialami Igho mungkin tidak lebih buruk dengan apa yang aku dan teman-temanku alami. Dari penampilannya ia tampak seperti remaja perkotaan yang banyak uang. Bahkan ketika ia berpenampilan kampungan dengan memakai koko, sarung dan peci putih seperti kami, ia tetap layaknya anak gaul Jakarta dengan potongan rambut itu.Yang jelas, kami begitu merasa ingin tahu tentangnya. Kecuali Fian, anak itu memisahkan diri sejak tadi. Sama seperti Igho, anak itu hanya akan bicara kalau ada yang mengajaknya bicara.

Maka pada suatu kesempatan di jam siang, aku pun menghampiri Fian ketika ia di perpustakaan. Dari pendekatanku ia mengakui kalau ia sangat tersiksa berada di tempat ini. Ia bilang semua yang ada di lingkungan ini tidak lebih dari menghalalkan kemunafikan. Di luar mereka tampak seperti ahli surga, tapi dari dalam mereka tampak bagai ahli neraka.

Pernyataannya kemudian yang membuatku terkejut adalah karena ia kemudian mengaku telah menjalin hubungan liwath dengan salah seorang ustad yang paling disegani di pesantren. Ustad yang benar-benar menyandang predikat ustad. Maksudku, di lingkungan ini setiap guru harus dipanggil dengan sebutan ustad meski belum melaksanakan ibadah haji.Fian menyuruhku untuk menjaga rahasia ini. Dan tentu akan kulakukan.

Selanjutnya ia percaya kepadaku dan menceritakan semua kisahnya. Sampai kemudian ia bilang kepadaku kalau ia ingin kabur dari tempat ini. Saat itu aku tak tahu apa saran terbaik yang bisa aku berikan kepadanya. Tapi sepertinya aku akan kembali memberikan nasehat yang klasik. Aku menyuruhnya untuk bersabar. Untungnya Fian tipikal anak penurut. Ia pun mengangguk dan menghapus air matanya.Setelah dari perpustakaan, kami beranjak menuju kamar. Melewati koridor, kami menemukan Igho yang sedang tertunduk lesu di sebuah balkon. Kami pun menyapa.

Tapi lagi-lagi ia menanggapinya dengan dingin. Aku pun mengajaknya kembali ke kamar, namun ia menjawab kalau pintu kamar tidak pernah dibuka meski ia sudah mengetuknya berulang kali. Aku dan Fian pun saling bertatapan. Ini pasti karena Hanafi, Tidar dan Sadam sedang berulah.Kami pun beranjak ke kamar dengan Igho yang mengekor dari belakang. Belum sempat kami ketuk, Tidar sudah muncul dengan rambut berantakan. Aku dan Fian sudah menduga apa yang terjadi. Saat kami masuk kamar, Fian dan Sadam sedang berpelukan telanjang dengan selimut yang masih menempel.Aku pun menyuruh mereka bangun dan kembali ke tempat masing-masing sebelum Igho memasuki kamar. Tapi terlambat, Igho menyaksikan kejanggalan ini. Tapi ia hanya diam dan menyibukkan diri dengan kopernya.

* * *

HARI-hari berlalu, Igho mulai bisa berinteraksi dengan kami meski ia masih menjalani kehidupan di pesantren dengan setengah hati. Yang membuat aku agak terkejut, ia dan Fian mulai berteman dekat meski mereka tidak menunjukkan kedekatan itu ketika di dalam kamar. Biasanya mereka menghabiskan waktu di perpustakaan dan membaca buku sambil terlihat berdiskusi. Aku pun tersenyum lega mengetahui hal ini meski dalam hati kecilku aku menyimpan sedikit kecemburuan.Sementara itu sesuatu terjadi pada Hanafi. Ia tampak tidak sehat dalam beberapa hari ke belakang. Ketika aku tanya, ia menyatakan kalau ia mengalami gejala wasir. Ada tonjolan di sebelah kanan lubang anusnya. Dan ia pun menyuruhku untuk merahasiakannya.

Aku pun berniat membawanya ke klinik terdekat. Tapi ia menolak dengan alasan malu. Aku pun bertanya kenapa ia bisa sampai begitu. Ia pun mengaku kalau hal ini terjadi karena ia keseringan melakukan liwath. Katanya tiga hari sebelumnya ia sempat dikerjai tiga orang senior di kamar mandi pada suatu sore. Hah, jelas saja, kataku. Penyebabnya tentu karena desakan kelamin laki-laki yang masuk ke dalam lubang pembuangannya.Aku tak harus menertawakannya karena memang tidak ada yang lucu. Aku hanya iba kepadanya karena ia juga melakukannya karena uang. Di suatu kesempatan ia pernah bilang kalau ia seperti seorang pelacur yang hidup di pesantren.

Ia terima uang yang ia terima dari para santri atau bahkan dari para guru yang mengerjainya, kemudian ia tabungkan untuk meraih impiannya menemui ibunya di Jakarta.Ya, nasibnya sama sepertiku. Tapi aku tak mau membandingkan siapa yang lebih menyedihkan. Setidaknya Hanafi yang ditinggalkan ayahnya sejak kecil itu tahu apa yang ia cari. Ia ingin sekali menemui ibunya yang konon bekerja di Jakarta. Ia punya alamat sang ibu yang meninggalkannya sejak usia sebelas. Dan ia punya keyakinan suatu saat nanti bisa bertemu dengan perempuan itu meski dengan jalan kabur dari pesantren terlebih dahulu.Sehari kemudian aku melihat ia minum sesuatu di dapur. Saat aku tanya. katanya ia sedang minum jamu wasir yang harus ia minum dua kali sehari. Saat aku tanya darimana ia mendapatkannya, ia mengaku mendapatkannya dari mairil-nya yang baru.

“Siapa?” tanyaku saat itu.Dia tersenyum sambil bergerak-gerak tak karuan. Mungkin sedang meminimalisir rasa tak enak dalam lubang pantatnya.

“Pak Ruslan,” jawabnya sambil berlalu.Aku tersedak karena kala itu aku sedang mengunyah sesuatu. Bagaimana bisa Hanafi berpacaran dengan satpam yang baru menikah itu.

”Dengan begitu aku bisa kabur dengan mudah, kan?” Lanjutnya.Hmm, jadi karena itu..

* * *

PADA suatu hari di jam siang, Igho menghampiriku ketika aku ngaso di tepi lapangan. Ia bertanya kepadaku tentang sesuatu hal. Aku pun tak terkejut dengan pertanyaan itu. Semua ini berawal ketika Fian mengecupnya sebelum berangsut ke mesjid. Igho pun menanyaiku mengenai, apakah aku dan teman-temanku homoseks. Aku pun menjawab kalau kebanyakan mereka melakukannya hanya ketika mereka sedang menginginkan.Bisa kutebak, ia mengangkat sebelah halisnya tanda tak mengerti. Aku pun menjelaskan sebisaku. Bahwa ketatnya aturan yang berlaku di pesantren membuat para santri kehilangan kontak dengan lawan jenisnya yang bukan muhrim. Pekatnya hubungan kekerabatan antar sesama lelaki begitu intens sampai beberapa di antara mereka menyimpan rasa simpati. Tak jarang ada yang secara sadar menyalurkan hasrat seksualnya terhadap sesama jenis. Biasanya diawali secara insidental meski kemudian dilakukan atas kesadaran sendiri.Aktivitas tersebut dikenal dengan istilah nyempet.

Hal ini sudah menjadi rahasia umum di lingkungan pesantren. Meski banyak juga santri yang belum mengetahuinya lantaran mereka normal. Bahkan, para guru pun gemar melakukannya terhadap murid yang mereka pilih. Biasanya anak yang tampan dan imut-imutlah yang mereka incar. Kemudian perilaku ini pun menjadi tradisi dan berujung pada santri senior yang mencoba mendekati adik kelas untuk melakukan hubungan yang lebih dari pertemanan.. Biasanya, aroma persaingan tercium manakala para senior itu memperebutkan santri yang sama.Untuk yang satu ini, beberapa diantara mereka ingin mendapatkan satu pasangan untuk dikasihi dan dicintai. Boleh dibilang berpacaran.

Aktivitas yang lebih rapi dan tidak melulu berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan seksual ini dinamakan mairil.Mendengar penjelasanku, Igho mengatakan kalau tempat ini begitu ironis. Di satu sisi pembelajaran agama dilakukan dengan repetitif, di saat yang sama mereka melakukan aktivitas seksual tak lazim.

“Bahkan kebiasaan ini terbawa sampai mereka keluar dari pesantren. Sebagian menjalani hidupnya sebagai seorang biseks. Mereka punya istri, tapi punya pacar sesama jenis juga,” tambahku.

Igho pun terdiam beberapa detik. Kemudian aku pun menyarankannya untuk menjaga diri dan tak terjerumus. Sebab, biasanya mereka yang melakukan nyempet atau mairil akan menghormati teman yang tidak sejalan dengan pilihan mereka. Teman yang normal.

“Aku tidak tahu,” lanjut Igho.

“Tapi rasanya aku ingin memperlihatkan keadaanku jika kelak aku keluar dari sini. Aku ingin menunjukkan pada orangtuaku kalau keberadaanku di sini tidak malah membuatku menjadi lebih baik. Tapi malah menjadi lebih buruk..”Sampai di sini, aku hanya membungkamkan mulut. Yang aku tahu, anak ini tidak suka digurui.

* * *

APAKAH waktu membuat semua orang berubah? Apakah ia terlalu berkuasa hingga mampu merapuhkan keteguhan seseorang? Tampaknya ini sedang menimpaku saat perasan cemburu bersemi setiap kali Igho berjalan berdua dengan Fian. Aku pun kerap berpikir, kenapa tidak aku yang berjalan berdampingan dengan Igho. Ah, apakah aku punya hati kepada Igho?Suatu waktu aku pernah mewanti-wanti Igho. Aku hanya tidak mau ia menjadi pelaku nyempet atau mairil.

Tapi ia langsung marah kala kunasehati begitu. Karena hal ini, aku pun dijauhinya. Dan rasanya sangat tidak enak. Sementara aku pun mengambil kesimpulan kalau Fian dan Igho telah ber-mairil. Kalaulah benar, kenyataan ini tak harus kuanggap pahit karena aku memegang kukuh keimananku. Aku pun terus berdoa dan berdoa agar aku tidak sejalan dengan kawan-kawanku. Tapi rasanya sukar sekali. Di suatu malam aku bahkan berpikir kalau aku juga seorang homoseks seperti mereka.

* * *

DI bulan keempat, Hanafi siap melakukan rencana besarnya. Ia siap kabur dan berhasil mengajak serta keempat teman sekamar. Bagi Hanafi, tujuannya meraih mimpi bertemu sang ibu adalah hal yang jelas. Tapi bagaimana dengan Tidar, Sadam, Fian, atau Igho? Haruskah kemudian mereka berada di Harian Poskota di rubrik orang hilang? Apa yang akan mereka lakukan di Jakarta?“Kami akan tinggal di kosan. Uangnya dari tabungan Igho. Igho ‘kan anak orang kaya,” kata Sadam sambil cengengesan.

“Setelah itu kita cari kerja, deh.”Hm, rencana yang bagus. Tapi haruskah aku ikut serta ketika mereka mengajakku? Rasanya tidak. Aku telah mempertimbangkannya jauh-jauh hari. Tempatku di sini. Aku juga sudah tak punya siapa-siapa lagi selain pesantren yang sudah sekian lama menampungku

.“Baiklah. Karena Mawan tidak ikut, ia yang akan mengecoh satpam,” ujar Hanafi enteng.“

Ketika mereka disibuki oleh Mawan yang pura-pura sakit, kita langsung kabur. Kunci duplikatnya sudah ada ditanganku. Ini karena aku berhubungan sama Pak Ruslan. Ada gunanya, kan?” katanya lagi sambil tertawa.Dan rencana pun dilakukan. Aku pun berpura-pura melewati gerbang depan dan berlagak sakit. Dua penjaga di pos pun panik dan membawaku ke Ruang UKS.

Tepat di saat keduanya lengah, Hanafi dan yang lainnya berhasil kabur.Di Ruang UKS, hatiku bergemuruh tak karuan. Ada rasa kehilangan yang amat dalam di sana. Bagaimana mungkin aku membiarkan kelima sahabatku pergi? Dan keesokan harinya aku tahu kalau aku akan dikurung setiap malam usai pengajian terakhir. Aku akan ditempatkan di ruangan sempit di dekat kuburan. Ini sebagai sanksi atas apa yang aku lakukan pada malam itu.

* * *

2008

SUATU malam saat aku berkendara sehabis pulang dari tempat mengajarku yang baru di Jakarta, aku menemukan sosok yang kukenal di persimpangan yang suram. Sosok yang pernah kukenal itu berpakaian trendi sekali. Wajahnya yang kecil dan perawakannya yang mungil itu membuat ia sama sekali tidak kelihatan tua. Orang itu Hanafi.Aku pun menepikan mobilku dan beberapa detik kemudian, beberapa lelaki muda yang usianya kira-kira belasan tahun menghampiri.

Awalnya aku tak tahu dengan apa yang mereka lakukan petang ini. Tapi saat aku menghentikan laju kendaraanku tepat di samping Hanafi, aku bisa menebak.Hanafi pun masuk ke dalam mobilku sambil tersenyum. Ia tak tahu aku ini teman lamanya di pesantren sampai ia menyadarinya dan mendadak malu. Aku pun bersalaman dengannya dan mengajaknya ke rumah kontrakanku yang baru kutempati empat hari pada saat itu. Dan disanalah ia banyak bercerita tentang dirinya.

“Aku tidak menemukan ibuku. Dan sejak saat itu aku hidup luntang-lantung. Semua pekerjaan pernah aku lakoni sampai aku menemukan pekerjaan yang tepat. Yah, sesuai keahlianku lah. Aku ini kucing. Yah, aku kan nggak seberuntung yang lain. Tidar, Sadam, Fian atau Igho.. Mereka masih punya keluarga..

”Hatiku bergemuruh. Hanafi tak melanjutkan kata-katanya karena ia menahan tangis. Aku pun mengingat keempat sahabatku yang lain. Mereka tidak pernah kembali ke pesantren setelah kabar bahwa kelima orang santri itu kabur. Dari kabar terakhir yang kudapat, mereka kembali ke kota asal masing-masing. Dan sejak saat itu pula, aku tak lagi berhubungan dengan mereka.“Hah, seharusnya aku tidak kabur seperti katamu, Wan. Kalau aku tetap di sana, mungkin aku sudah seperti kamu. Jadi guru di sekolah Islam.. Bekerja yang halal.. “ Tambah Hanafi sambil tertawa kecil.“

Tapi.. Masih banyak waktu untuk kita berubah, Fi..” Ucapku.Hanafi melihat kesungguhanku. Tapi tatapannya mendadak menjadi dingin.“Okey, Wan. Aku harus kembali kerja. Kapan-kapan aku mampir ke sini. Kalau boleh..”“Tentu saja,” kataku sambil menahan kecewa. Tapi aku bisa memaklumi pilihannya. Mungkin hidayah belum datang kepadanya.Ia berdiri dan siap meninggalkan tempatku. Aku pun berinisiatif mengantarkannya kembali. Tapi ia menolak. Begitu pun saat aku berikan ongkos pulang. Barangkali sekedar pinjaman.

Meski aku memaksa, tapi ia kukuh menolaknya. Mungkin karena harga diri.“Aku dihubungi gadun barusan. Aku harus segera meluncur ke tempatnya di hotel. Jadi aku pakai taksi saja.”Paling tidak aku mengantarkannya sampai jalan raya. Dan ia pun pergi. Berlalu. Begitu saja. Berhari-hari aku menunggu kabar dan kunjungannya. Tapi sampai kini aku tak tahu kabar terakhirnya. Nomor yang ia berikan pun ternyata nomor yang tidak bisa kuhubungi. Entah kenapa ia melakukannya.

by: samandayu

Tanggal cerpen diinput: 14 Jul 2010 Jam cerpen diinput: 1:05 PM

3 Tanggapan

  1. [...] Cerpen : Petualang Birahi Di Penjara Suci « [...]

  2. aku suka …………….
    like it
    congrat.
    kamu penulis berbakat.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.