Senin,30 Mei 2011
Salam Persahabatan….!!!
Bagaimana kabarnya sahabat MAS SAY LAROS (MSL),Bikhoir khan?Mudah-mudahan di hari yang penuh barokah ini kalian semua tetep dalam limpahan rahmat dan hidayah dari Tuhan YME…Amin.
Sobat,mungkin dari sebagaian orang akan mencela dan mengkritik habis-habisan sedikit coretan di blog MAS SAY LAROS ini,Ya Mungkin karena memang corat-coretan ini di anggap menghina dan merusak nama baik pesantren yang memang sudah terkenal sebagai pusat pengkaderan generasi islami yang berakhlak mulia sesuai dengan yang di ajarkan oleh rasullullah SAW.
Sebenarnya saya pun sadar akan menuai kritikan dari berbagai pihak ketika ingin menulis sedikit coretan ini,Tapi diantara rasa kebimbangan penulis ini,saya pun sebagai generasi muslim juga mempunyai kewajiban untuk merubah ajaran atau perilaku yang tidak sesuai dengan syariat islam yang selama ini dilakukan di pesantren.
Kenapa harus pesantren yang menjadi obyek coretan MAS SAY LAROS kali ini?Mungkin itu adalah salah satu dari sekian pertanyaan yang diajukan kepada saya khususnya temen-temen dekat MSL serta beberapa temen yang konsen dalam penelitian dunia pesantren maupun LGBT World.Memang saya pun harus mengakui bahwa sebagai santri yang pernah tinggal di dunia pesantren dan sedikit mengetahui kehidupan dunia pesantren sejauh yang MSL tau,maka dari itu inilah yang melatarbelakangi untuk menulis coret-coretan ini.
Sebenarnya homoseksualitas pesantren ini bukanlah fenomena yang baru karena sebelumnya sudah banyak penelitian yang mengangkat Homoseksualitas pesantren.Sehingga istilah ini bukanlah sebuah hal yang tabu untuk dibicarakan ya meskipun banyak yang belum tau istilah homoseksualitas ini.Sebenarnya inti pokok dari tujuan saya memposting coretan ini hanya memberikan sebuah konstribusi positif untuk dunia pesantren agar supaya memperhatikan fenomena yang sudah bukan menjadi rahasia umum ini.Serta sebagai langkah awal untuk mendesain sebuah pesantren yang bisa meminimalisir terjadinya praktek homoseksualitas di pesantren.
Saya yakin dan khusnudhon kepada pimpinan pesantren,tentu mereka tau tentang fenomena ini yang berkembang di dunia pesantren karena memang sebelumnya dia juga menjadi seorang santri.Namun,yang masih membuat diriku bertanya-tanya hingga saat ini kenapa ketika mereka menjadi pimpinan kurang memperhatikan masalah ini apa karena memang ada pertimbangan lain sehingga tidak perlu memasukkan larangan dalam qanun-qanun pesantren?
Sorbanku Yang Terluka….
Sobat,ketika kita berbicara Homoseksualitas Pesantren seakan akan kita tidak akan habis-habisnya mengupas fenomena ini dari berbagai sisi.Bahkan akan membuat kita bingung karena adanya sisi PARADOKS yang sangat kental,hal ini suatu hal yang logis karena disatu sisi pesantren merupakan tempat menimba ilmu agama untuk mempersiapkan generasi islami yang berakhlak mulia namun,disisi lain kita menemukan praktik homoseksualitas yang ada di dalamnya.
Kawan,perlu diperhatikan dalam fenomena homoseksualitas pesantren tidak mengeneralisasi seluruh pesantren seperti ini,jadi saya hanya menginformasikan bahwa fenomena ini bener-bener ada.Mungkin sebagaian dari kita tahu jika dalam teks-teks kitab suci sudah dijelaskan tentang larangan perbuatan ini yang terkenal dengan istilah liwath (hubungan seksual antara lelaki melalui lubang anus) yang dipraktikkan oleh kaum sodom (versi al-kitab).dan di dalam al-quran sendiri banyak ayat yang melarang perbuatan ini yaitu antara lain:
Dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu (kaum luth), bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas” (assyura: 166).
Apakah Sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu? Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Datangkanlah kepada Kami azab Alloh, jika kamu Termasuk orang-orang yang benar” (al Ankabut: 29).
Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika Dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu sedang kamu memperlihatkan?” (an Naml: 54)
Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan: “Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena Sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (menda’wakan dirinya) bersih” (an Naml: 56).
Dari beberapa ayat di atas sudah jelas tentang hukum perbuatan ini namun memang ada banyak hal yang melatar belakangi terjadinya fenomena ini.
Ada banyak istilah yang digunakan untuk menyebut homoseksualitas pesantren mulai mairil,sempet serta dalaq.karena memang ada beberapa santri yang tidak mengetahui istilah homoseksual ini tetapi mereka langsung paham jika menyebut kaum nabi luth,ya maklum ini memang istilah yang sering di nisbatkan pada kaum sodom ketika pelajaran diniah di pesantren.
FAKTOR-FAKTOR HOMOSEKSUAL
Membicarakan dunia Homoseksualitas seakan-akan tidak ada habisnya karena memang fenomena ini sangat menarik untuk di kaji dan di teliti.Menurut Wimpie Pangkahila ada empat kemungkinan penyebab homoseksual.
-
Pertama, faktor biologis, yakni ada kelainan di otak atau genetik.
-
Kedua, faktor psikodinamik, yaitu adanya gangguan perkembangan psikoseksual pada masa anak-anak (seperti kasus sodomi pada anak di bawah umur).
-
Ketiga, faktor sosiokultural, yakni adat-istiadat yang memberlakukan hubungan homoseks dengan alasan tertentu yang tidak benar (seperti tradisi warok yang memelihara gemblak di Ponorogo).
-
Keempat, faktor lingkungan, yaitu keadaan lingkungan yang memungkinkan dan mendorong pasangan sesama jenis menjadi erat.
Nach,dari keempat faktor tersebut mungkin faktor lingkungan merupakan salah satu faktor yang sangat dominan menyebabkan perilaku homoseksualitas pesantren ini.Ya hal ini dapat di maklumi karena memang dengan padatnya kegiatan santri mulai subuh hingga subuh lagi terdapat banyak aktifitas pesantren mulai shalat subuh,mengajai al-quran,mengaji kitab pada ustad dan jika ia sekolah SD,SMP maupun SMA jika di pesantren ada program khusus.Namun bagi yang khusus sekolah diniah pada pagi hari juga melakukan aktifitas diniah.
Dan pada siang harinya-pun aktifitas sholat dhuhur wajib dilaksanakan secara berjamaah namun ini semua tergantung peraturan masing-masing pesantren.Karena memang setiap pesantren mempunyai peraturan sendiri-sendiri.Pada sore hari mengaji kitab, Maghrib mengaji al-Qur’an, kemudian Isya’ mengaji kitab di bangku madrasah diniyah serta persamaan diniah bagi yang juga sekolah umum, lalu setelah itu belajar otodidak, dan dilanjutkan dengan tidur malam (biasanya juga ada aktifitas shalat lail).
Aktifitas yang padat seperti ini sudah menjadi aktifitas rutin yang dijalani santri setiap harinya.Apalagi ditambah dengan kurangnya kontak santri dengan lawan jenis, karena adanya interpretasi larangan agama yang menyatakan bahwa memandang lain jenis (perempuan) adalah haram hukumnya,sehingga tak heran jika di pesantren, santri tidak diperbolehkan melakukan pertemuan dengan lain jenis kecuali dengan muhrimnya. Untuk beberapa pesantren malah santri dilarang keluar pesantren dengan alasan apapun. Sehingga aktifitaspun berputar hanya di dalam pesantren.
Disamping itu pola kehidupan yang homogen di dalam pesantren juga menjadi pemicu fenomena homoseksualitas pesantren ini.Tentu kita mengetahui biasanya santri yang memasuki dunia pesantren adalah berumur sekitar 12 tahun, lalu santri belajar di dalamnya hingga 18 tahun, berarti masa-masa pubertas (adolescence) santri dihabiskan di dalam pesantren. Padahal pada masa-masa teenager inilah seseorang mengalami perkembangan dan pematangan secara seksual.Pada umur-umur inilah seseorang mencari jati dirinya dan senang mencoba hal-hal baru terutama terkait orientasi seksual.
MENGAPA INI BISA TERJADI ???
Saya kira hal ini bisa kita maklumi bersama,karena memang kondisi pesantren yang kurang memberikan ruang bagi terbentuknya interaksi heteroseksualitas sehingga malah memberikan ruang untuk terbentunya homoseksualitas pesantren.Tujuan pesantren ini sebenarnya bagus sekali namun jika terlalu ketat malah akan menambah masalah baru yang lebih besar.
Dalam thesis saifuddin zuhri Secara garis besar ada berbagai macam faktor yang menyebabkan terjadinya homoseksualitas pesantren ini yaitu antara lain:
Pertama, lingkungan. Jika kembali kepada setting pesantren di atas, tentang kondisi dan aktifitas sehari-hari di pesantren, maka akan terlihat betapa kemudian pesantren menjadi sebuah entitas kelompok yang terpisah dari masyarakat, mereka diletakkan pada suatu tempat khusus yang biasanya sekelilingnya diberikan pagar sebagai batas-batas teritori pesantren. Merupakan suatu hal yang sudah berlaku umum pada mayoritas pesantren, bahwa pada malam hari, santri dilarang keluar dari pesantren. Bahkan tidak hanya itu saja, di tiga pesantren di atas, santri tidak diperbolehkan keluar pesantren –dengan batasan-batasan teritori tertentu- di siang maupun malam hari, kecuali telah mendapatkan izin dari pengurus dan keamanan.
Kedua seringnya pertemuan dengan santri yang itu-itu saja,yang dalam istilah Jawa witing tresno jalaran songko kulino. Absennya lawan jenis di tengah-tengah komunitas santri, secara otomatis membentuk konstruksi seksual mereka, terlebih para santri mayoritas masuk ke dalam pesantren pada masa-masa pubertas, dimana pada masa ini proses pematangan seksualitas baik fisik maupun psikis mulai terbentuk.
Ketiga, keterkekangan,dalam artian santri dikekang dan diatur sedemikian rupa sehingga mereka tidak mempunyai ruang leluasa untuk bergerak. Keterkekangan ini bukan hanya lingkungan pesantren yang sempit, namun juga kekangan norma agama, nilai-nilai dan etika sosial serta instruksi-instruksi dan kebijakan pesantren. Di dalam pesantren, santri terbiasa dilatih dengan berbagai bentuk disiplin dan time table kegiatan sehari-hari.
Keempat, Larangan dalam kitab-kitab.Setidaknya setelah kami cek dalam beberapa literatur kitab klasik, memang beberapa kitab Fiqih juga membahas mengenai masalah dalaq ini, yang diwakili oleh kata amrad, misalnya saja dalam kitab al-Asbah wa an-Nadhair, Fathul Mu’in dan I’anatut Thalibin.Larangan ini kemudian membuat santri ingin mengetahui lebih jauh, apalagi, sekali lagi, umur santri yang masuk ke pesantren umumnya memasuki usia-usia pubertas.
Kelima,statemen-statemen sehari-hari. Bagaimanapun, gurauan dengan menggunakan bahasa dalaq,sempet,mairil dsb merupakan salah satu humor yang terlihat mengasyikkan bagi santri maupun alumni.
Keenam, Model kamar (architecture). Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa bentuk kamar yang ada di pesantren A mirip halnya dengan apartemen kecil dan hanya diisi oleh 2-3 santri saja. Kemudian bentuk kamar tidurnya yang amat sempit sehingga untuk tidur berdua, posisi tidurnya akan berdekatan. Kemudian untuk pesantren B dan C, adalah terlalu banyaknya penghuni santri dalam satu kamar. Sehingga tidur mereka berdesak-desakan dan bahkan banyak di antara mereka yang tidur di luar.
Ketujuh, Tempat pemandian santri. Hal ini utamanya terjadi pada santri di pesantren A dan B dimana santri terbiasa melaksanakan mandi bersama. Hal ini juga turut memberikan konstribusi terhadap discourse dalaq di pesantren. Karena di pesantren, membuka aurat, seperti menunjukkan kulit paha merupakan satu hal yang tabu dilakukan, meskipun yang melihatnya adalah satu jenis.
Kedelapan, Kantor mahrom. Kantor ini merupakan ajang pertemuan famili yang berlainan jenis. Dalam Islam yang disebut muhrim adalah, ayah, ibu, anak, keponakan, paman, bibi, dan kakek, nenek. Lalu kenapa kantor mahrom? Eksistensi kantor mahrom di pesantren mengandaikan bahwa pertemuan santri baik dengan santri lain yang berlainan jenis, maupun dengan lawan jenis yang non santri adalah dilarang. Hal ini kemudian turut membantu mempengaruhi alam bawah sadar santri –di samping doktrin agama- , bahwa pertemuan antar jenis yang bukan muhrim adalah di larang.
Nach dari kedelapan faktor itulah yang membuat homoseksualitas pesantren terjadi,namun ada yang membedakan antara homoseksualitas pesantren dengan homoseksual pada umumnya karena dalam dunia pesantren juga tidak hanya terpaku pada perbuatan seks semata, tapi ada yang lain, seperti persahabatan, belajar bersama, saling memberikan perhatian, membantu, memasak bersama. Yang jelas di sini, selain pada aspek seksualnya, maka mereka tidak berbeda dengan yang lain (dengan santri lain).
“Irtikabu akhaffu dhararin” (melaksanakan sesuatu yang resiko bahayanya lebih ringan)
Nach qoidah inilah yang biasanya di pakai oleh beberapa kalangan santri,sebenarnya baik namun jika di gunakan pada situasi yang tidak tepat juga malah membahayakan.Ya maklumlah biasa belajar ilmu balaqoh kadang-kadang malah memanipulasi kata hehehe….
Salah satu temen facebook-ku pernah berkata ‘’Bertemu cewek gak boleh,Berpegangan tangan ma cewek gak boleh ya mending the power of kepepet untuk pelampiasan kepada cowok..he he he..(sambil cengengesan)…melaksanakan sesuatu yang resiko bahayanya lebih ringan..katanya’’Haduh rusak rek kalau kayak gni….
Fenomena ini tentu bukan rahasia umum lagi,terus yang menjadi pertanyaan kenapa masalah ini tetap ada sampai sekarang?Bukankah alumni pesantren juga tau apa yang pernah terjadi di tempat pesantrennya dahulu?ya saya maklum memang tidak semua alumni mengetahui praktik seperti ini karena tidak semua pesantren terjadi praktik homoseksualitas disamping itu praktik seperti ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi hal ini dapat di maklumi karena larangan agama otomatis juga larangan pesantren.
Tujuan mulia cara yang dilakukan tidak tepat malah akan membawa dampak negatif itulah mungkin untaian kata yang tepat jika kita melihat sekelumit dunia pesantren saat ini.Maka dari itu dengan adanya sedikit coret-coretan di blog mas say laros ini bisa memberikan sedikit kontribusi untuk mendesain sebuah pesantren yang bisa meminimalisir terjadinya sebuah tindakan yang dilarang agama agar supaya tujuan pesantren untuk mencetak kader-kader MUSLIM yang ISLAMI dan berakhlakul karimah bisa terwujud…
AMIN..AMIN..YA ROBBAL ALAMIN…..
Astagfirullahaladzim….
Wallahua’lam….
SUMBER:
- Thesis Saifuddin Zuhri,UGM Yogyakarta 2006
- Mr.Google
- Wawancara dengan beberapa responden
Mudah-mudahan dengan sedikit coretan ini sebagai langkah awal untuk mendesain sebuah pesantren yang jauh dari image negatif homoseksualitas,agar supaya tercipta kader-kader muslim yang berakhlakul karimah.
AMIN
SANTRI:Siap Akan Neruskan Tuntunan Rasul Ilahi
Amin-amin ya robbal alamin.
Di Tulis dalam keheningan malam di kamar C2 Pesantren Mahasiswa ‘’Darul Hijrah’’ Merjosari Malang Pukul 22:05 WIB
Filed under: ARTIKEL-KU




ma af penjelasan ini jng di lontarakan di dunia maya karna sama saja merusak citra pesanteren .
Klo hanya untuk menjelas kan dlam semua ini cukup di lingkungan pesanteren..
Thanks atas kritikannya,saya kira ini bukan malah untuk merusak citra pesantren tetapi malah bisa sebagai evaluasi dunia pesantren sehingga bisa menciptakan kader-kader muslim yang berakhlak mulia seperti yang di contohkan oleh rasullulah SAW.