Kamis,26 Mei 2011
Beritahukan kepadaku tentang Iman, Rasulullah menjawab,”Engkau beriman kepada Alloh, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada utusan-utusan Nya, kepada hari Kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk”. Hadits Riwayat Imam Muslim (Kutb Arbain Nawawi).
Mukadimah.
Bagi seorang muslim, yang mendasar dan harus dipahami adalah tentang iman, tidak peduli siapapun kita (Kaya,Miskin,Tua,Muda,hetero, homo, trans,Lesbi Maupun bisek), keimanan adalah mutlak untuk membedakan bahwa kita adalah muslim dan lainnya adalah non muslim. Karenanya iman memiliki pengertian sebagai “tiang rumah” dari agama islam, dan isinya adalah “perangkat rumah” yang disebut rukun islam.
Adalah hak setiap manusia untuk memilih imannya masing-masing, sebuah keyakinan tidak bisa dipaksakan (Al Baqarah (2): 256), karena ini berhubungan dengan kecendrungan hati yang sangat subjektif. Realitas yang Maha Tinggi tetaplah diluar jangkauan manusia bahkan sekalipun oleh nabi dan rashul (Asy Syuura (42): 51 ; Al A’raaf (7): 143). Hanya dengan imanlah, salah satu perantara utama bagi “perjumpaan” kita dengan-Nya.
Sahabat Mas Say Laros,Kali ini kita akan membahas tentang iman dan hubungannya dengan cinta. Iman adalah ketetapan dalam hati, ’kepasrahan’ akan suatu keyakinan. Karena setidaknya, ada batas-batas mutlak di setiap keyakinan manusia, dimana akal tidak lagi bisa menjangkau, sehingga perlu suatu ”ruang iman” untuk menempatkan kekosongan ini.
Walaupun atheis sekalipun, misalnya saat mereka ditanya : ”bagaimana suatu sel paling sederhana sekalipun dengan struktur dan rangkaian DNA yang luar biasa komplek bisa tercipta begitu saja sebagai awal permulaan kehidupan di bumi?” sebagian besar akan menjawab ”ini adalah suatu kebetulan yang sangat kreatif”, suatu kata ”kreatif” mengawali kaum atheis untuk secara tidak langsung mengimani suatu hal, kejadian ”Yang Maha Kreatif”. Nyatanya bahwa dunia ini dipenuhi oleh suatu kebetulan yang tidak pernah sia-sia. Dan dari sinilah kebutuhan akan iman tumbuh secara alami sebagai jawaban atas sesuatu yang tidak pernah dan belum bisa terjawab dalam hidup kita.
Islam menegaskan tentang enam rukun iman: 1. Beriman kepada Alloh Swt sebagai satu-satunya Tuhan bagi manusia. 2. beriman kepada Malaikat-Malaikat sebagai utusan Alloh Swt. 3. Beriman kepada Kitabulloh, Al Qur’an Al Karim, 4. Beriman kepada Rahululloh Saw s Beriman kepada Qada’ dan Qodar yang baik atau yang buruk sekalipun. 6. Beriman pada hari akhir, hari kiamat.
1. Awal : Iman adalah Pekataan dan Perbuatan
Bagi setiap muslim, keimanan bukan merupakan perkataan saja, tapi juga perbuatan, lebih lengkapnya:
(1.) iman adalah prinsip tulus dan mendasar dalam hati,
(2.) sehingga apa yang difikirkan sesuai dengan apa yang ada dalam prinsip hati (iman) tersebut,
(3.) apa yang diucapkan sesuai dengan apa yang difikirkannya itu,
(4.) apa yang diperbuat sesuai dengan apa yang diucapkannya,
(5.) dan perbuatan itu baik bagi dirinya, orang lain danlingkungan hidup disekitarnya. Bagi seorang muslim, menjaga rangkaian keseimbangan ini adalah latihan yang mutlak adanya, dan keluar dari hal ini bisa dikatakan bagian dari tanda-tanda orang munafik: (a-b) perbuatan dan janji tidak sesuai dengan ucapan, akal sehat serta keyakinan di dalam hati, juga mereka yang (c) mengkhianati kepercayaan yang diberikan oleh dirinya sendiri, orang-orang disekitarnya dan masyarakat (bab al Jami’, Bulughul Maroom).
Maka jelaslah bahwa iman adalah prinsip paling dasar bagi seorang muslim untuk meraih keseimbangan hidupnya, setiap muslim dilatih setiap detik dan waktu untuk tetap berpegang pada prinsip-prinsip imannya. Walaupun demikian, hampir semua muslim menyadari bahwa keimanan bersifat naik dan turun, dan hal ini adalah bagian yang sangat manusiawi, karenanya merupakan sifat kemanusiaan diantaranya adalah kekhilafan dan pelupa (Hadits Arbain). Tugas seorang muslim adalah untuk terus mengusahakan terpeliharanya iman itu dalam gembaran keseharian hidupnya, baik dengan diri sendiri, orang-orang disekitarnya dan lingkungan hidup di sekitarnya.
2. Rukum Iman ke-1 : Iman Kepada Alloh Swt, Tuhan Yang Maha Esa.
Iman pertama ini adalah dasar dari segala iman, dimana meyakini di dalam hati bahwa: ”tiada yang patut disembah dan dimintai pertolongan apapun kecuali kepada Alloh Swt”. Tuhan, dengan 20 sifat wajib yang membedakanya dengan makhluknya, Alloh Swt, atau bisa disebut dalam 99 namanya yang lain (asmaul husna) diantaranya : Sang Maha Kehidupan (Al Hayy), Sang Maha Penyabar (Al Halm), Sang Maha Nyata (Azzahir) dalam tanda-tanda alam serta Yang Maha Rahasia (Bathin) dalam hakikat yang tidak terjangkau akal (Al Hadiid (57): 3), adalah dasar utama keyakinan seorang muslim. Bahwa segala seuatu di alam ini yang nampak dan yang dirasakan kehadirannya semuanya adalah hakikat kebesaran Alloh Swt, semua yang beraneka ragam: warna bunga, rasa buah, suku dan bangsa, bahasa bahkan beragam keyakinan dan agama serta cara manusia mencintai kekasihnya (pasangan hetero, pasangan homo) adalah merupakan sifat Alloh Swt yang Maha Mulia.
Bahwa siapapun pada hakikatnya adalah hamba yang sama di hadapan-Nya, jika ada seorang ulama yang memahami kitab-kitab islam dan seorang awam yang hanya tahu sholat dan membaca al Qur’an dengan patah-patah, bagi Alloh Swt yang dilihat bukan keahlian seseorang dalam menguasai ilmu agama, tetapi bagaimana hambanya menjalankan apa yang Ia perintahkan dalam kehidupan sehari-hari. Kalau seseorang mengaku beragama, tapi ia masih sangat tergantung pada harta, kekuasaan, dan pasangannya (entah hetero atau homo) seolah tanpa itu semua maka dunianya akan musnah, maka harta, kekuasaan dan cintanya itu telah membutakan hatinya dan menghilangkan Tuhan didalamnya. Cintailah semua di dunia sebagai amanah Alloh Swt yang ditujukan untuk kebaikan diri, kekasih, keluarga dan masyarakat, serta menyempurnakan kesehatan, kesadaran spiritualitas kita di dunia ini, bukan untuk tujuan hidup demi mendapatkan ketenaran semata, pujian banyak orang, dan kebanggaan berlebihan. Tujuan penyempurnaan tubuh dan jiwa melalui latihan menghargai kemurnian hidup adalah hakikan pencapaian keseimbangan dengn alam dan dengan Tuhan. Anda bisa berlatih Yoga, atau Halaqoh Sufi atau Tariqah, tapi semua metode ini harus mampu kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, memandang secara Haqiqatul Haq atau ”spiritual dan murni”: diri kita sendiri (kelebihan dan kekurangan diri), kekasih kita (boysfriend, girlfriend, suami, istri), anak kita (kandung, tiri atau adopsi), saudara dan ibu-ayah kita, sahabat dan orang terdekat kita, masyarakat kita (baik anda sebagai minoritas atau mayoritas), alam disekitar anda (entah yang masih hijau atau yang nyaris punah). Spiritual dan murni ini berarti kita semua selalu mengingat sebagai bagian dari hakikat tunggal-Nya, yang segalanya digerakkan oleh-Nya, untuk tujuan kesadaran tertinggi, memalui cobaan dan anugrah, penderitaan dan kebahagiaan, keberuntungan dan kecerobohan, cinta dan kecemburuan, kesulitan dan kelapangan, kesalahan dan perbaikan, kemudaan dan masa tua dan lain sebagainya.
Pada dasarnya tidak ada yang benar-benar sempurna di dunia ini, bisa jadi orang yang paling kaya dan terkenal sekalipun justru yang paling kesepian di dunia, dan tidak ada yang benar-benar menderita di dunia ini, yang paling miskin sekalipun. Pula tidak ada kepuasan sekalipun, walau pasangan artis yang sama-sama tampan sekalipun, pula tidak ada kekecewaan sekalipun, walau misalnya seorang homo cacat bermuka buruk seolah tanpa ada manusia di dunia yang mencintainya. Seseorang atau sesuatu pasti diberikan kelebihan dan kekurangan, oleh karenanya, setiap muslim diajarkan untuk memahami hakikat Tauhid, ke-Esa-an, melalui latihan memandang diri sendiri, kekasih, keluarga, sahabat dan masyarakat secara spiritual baik secara fisik maupun karakter. Hakikat keEsan ini mengantarkan kita pada perjumpaan akan sumber kebahagiaan yang sejati, yang tidak bisa digantikan dengan apapun jua. Iman pada-Nya mendorong untuk (1.) menerima diri kita apa adanya -kalau kita bukan homo, maka usahaan untuk kembali menjadi hetero, namun bila kita memang homo atau biseks, kita telah mencoba untuk mencintai wanita tapi tetap tidak mampu, maka jadilah homo yang wajar dan menerima, yang setia dan tidak mendua-, (2.) mencintai kekasih kita dengan kesetiaan yang tulus dalam kelebihan dan kekurangannya untuk bersama menjadi lebih baik (baik hetero atau homo), (3.) berusaha bersikap baik pada keluarga kita, entah mereka memahami kita atau kita dalam hubungan yang sedang buruk dengan mereka, (4.) memahami dan mengerti sahabat kita, dalam kesulitan dan kebahagiaan, (5.) menjadi anggota masyarakat yang baik dan berdedikasi (profesional) di lingkungan tetangga atau lingkungan kerja, (6.) Memelihara alam dan lingkungan hidup dengan menghemat serta menjaga kelestariannya –jangan buang sampah seenaknya-. Inilah cara melihat iman tauhid sebagai bagian hidup sehari-hari. Kesejatian diri yang murni, cinta yang tulus, persaudaraan keluarga yang membangun, persahabatan yang pengertian, masyarakat yang damai, keseimbangan dengan alam, adalah tujuan Iman Tukhid yang akan tergambar dalam kenyataan keseharian.
3. Rukun Iman ke-2 : Percaya Pada Malaikat-Malaikat.
Iman pada Malaikat, sesuatu yang wajib diimani oleh setiap muslim, jumlah malaikat yang sesungguhnya adalah tidak terhitung, namun ada 10 malaikat yang wajib diketahui oleh setiap muslim: 1. Jibril (penyampai Wahyu), 2. Rokip-Atid (pencatatan kebaikan dan keburukan manusia), 3. Mikail (Pembagi Rizki), 4. Izrail (Pencabut Nyawa), 5. Nunkar-Nankir (Penanya di alam kubur), 5. Isrofil (”Peniup Terompet” hari Kiamat), 6. Malik-Ridwan (penjaga neraka dan surga).
Ke-sepuluh Malaikat tersebut menunjukkan esensi dari perjalanan setiap manusia:
a.) Wahyu, adalah sumber dari segala ilmu, salah satu yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya, wahyu melalui Nabi Muhammad, dimaknai sebagai sember dasar nilai etika, petunjuk dan kemanusiaan, dengan cara-cara yang logis, dan kontekstual, nilai-nilai teks diterjemahkan dalam konteks kemanusiaan untuk mendapatkan esensi (yang mendalam diblik sebuah teks belaka) berupa nilai dan etika, tidak ada selain akal yang bisa menerjemahkan teks wahyu dalam makna hidup keseharian.
b.) Amal perbuatan (baik-buruk), sepanjang hidup manusia, dalam kebaikan dan kekhilafan, makna dua malaikat melambangkan sisi benar dan salah dari perbuatan manusia, bukan hanya ibadah dalam konteks sempit, tapi keseluruan dari niat, pikiran, ucapan, perbuatan yang kita lakukan. Adanya Rokip dan Atid menunjukkan makna bahwa kita semua selalu dalam pengawasannya dan makna bahwa tidak ada manusia atau ide manusia yang benar selamanya.
c.) Kerja, Mikail memberi rezeki, siapapun dan dimanapun asal manusia bekerja dan juga berdoa, bahwa rizki adalah aturan yang ditentukan Alloh melalui Mikail, manusia hanya wajib bekerja dan berdoa,
d.) Kematian (Kiamat sugro / kecil), sesuatu akhir dari perjalanan hidup ini, iman kepada Malaikat Izrail mengingatkan untuk tidak angkuh dan rakus terhadap dunia, karena harta dan segalanya hanyalah titipan dari-Nya.
e.) Alam Kubur (Barzah), adalah perlambang tanggung jawab kita di dalam kubur, ini tentang keyakinan kita tentang dualisme mutlak manusia, bahwa yang memikul amanah di dunia dan yang personal serta bertanggung jawab mutlak yaitu jiwa, adakah yang tidak percaya akan jiwa? Unsur imaterial yang menggerakkan kehidupan, bahwa kehidupan bukan sekedar digerakkan enzim dan otak, biologi tahu ada faktor X dalam tubuh kita yang tidak bisa dijangkau oleh akal. Amanah bagi jiwa yang akan dipertanggungjawabkan meliputi: jasad, harta, kekuasaan, cinta dan sebagainya. Malaikat Nunkar-Nankir diantaranya menanyakan: Siapa Tuhan? Apa kitab? Siapa Nabi? Dan pertanyaan lain yang menyangkut amanah tadi, lalu tentunya jiwa yang baik dan jiwa yang buruk akan mendapat perlakuan yang berbeda.
f.) Kiamat (kubro/ besar), adalah tentang akhir dari keseimbangan di alam ini, Tuhan mengakhiri keseimbangan sunatullah di alam semesta ini untuk menunjukkan kefanaan semesta kita, ketika ada awal selalu akan ada akhir, inilah yang membedakah Tuhan dari makhluknya, dan semesta ini adalah makhluk saja, seperti hukum termodinamika II yang mengingatkan akan kehancuran berlahan dari unsur-unsur semesta. Isrofil ”meniup terompet”, maka alam hancur lebur kehilangan hukum-hukumnya (sunnatullah), lalu alam berhenti total, tak ada lagi kehidupan, sampai semua manusia dibangkitkan lagi, lalu pengadilan akhir di gelar, dengan cinta-Nya, dan keadilan-Nya.
g.) Surga dan Neraka, adalah dualisme. Bahwa yang telah disucikan dimasukkan surga yang tak terbayang indahnya, dan yang masih kotor dimasukkan neraka yang tidak terbayang pedihnya, sangat sedikit orang yang masuk surga tanpa hisap (tanpa masuk neraka), selebihnya adalah orang-orang berdosa yang disucikan di neraka, baru setelah itu pantas menuju surga-Nya, surga dan neraka adalah tempat yang memiliki hukum sunnatullahnya sendiri yang jauh berbeda dengan di dunia.
Keimanan pada malaikat terlihat dalam kehidupan sehari-hari: mencintai ilmu (akal dan wahyu), giat bekerja dan juga beribadah, berlaku baik dan adil pada diri dan yang lainnya (karena selalu ada yang akan mencatatnya), mengingat akhir dari kehidupan dan ketidak abadian alam untuk menghargai dunia dan kecintaan pada akhirat, dan menegaskan bahwa tujuan di dunia adalah amanah dan tanggung jawab kita (jiwa kita), terhadap harta agar tidak tamak, terhadap kekasih yang kita cintai, baik pasangan homo atau hetero, agar tetap setia dan tidak berselingkuh, terhadap kekuasaan serta kepercayaan dari orang lain agar berlaku adil dan profesional.
4. Rukum Iman ke -3, iman terhadap Al Qur’an
Al Qur’an adalah wahyu terakhir yang dipercaya oleh semua umat muslim, yang diturunkan dari Alloh melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Saw, untuk seluruh umat muslim sampai hari kiamat. Kitab-kitab nabi sebelum Islam tetap dihormati namun fungsi-fungsinya telah dihapuskan oleh Al Qur’an. Ada 30 juz (bagian), 114 Surat, dan enam ribuan ayat di dalam Al Qur’an.
Al Qur’an secara historis dibagi dalam dua tahapan sosial: a.) Makiah, turun di Makah, biasanya dengan surat pendek dan ditujukan untuk manusia, bersifat universal, b.) Madaniah, turun di Madinah (atau sehabis hijrah), menyeru ke muslim, biasanya sangat praktis. Surat Makiyah muncul saat Islam menjadi Minoritas, dan Surat Madaniah adalah surat-surat saat Islam berangsur menjadi kekuatan besar di jazirah Arab. Al Quran tidak hanya berisi tentang hukum dan ibadah, namun jauh lebih banyak pada pandangan tentang kebebasan manusia di dunia sebagai manusia yang sama derajatnya, kebebasan berfikir menggunakan ilmu dan alam untuk mencapai kebenaran tentang-Nya, menghormati perbedaan sebagai kenyataan yang Ia kehendaki, pengampunan dan membuka pintu maaf, keadilan dalam perdamain, menyikapi musibah-bencana, dan bahkan cara berbuat adil pada saat perang. Al Qur’an mengulang-ulang pernyataan untuk mencintai fakir miskin, anak yatim, orang tua, jompo, juga kecintaan akan kerja keras serta tidak lupa beribadah, selain itu ada banyak pengulangan ayat untuk tidak melakukan kerusakan di muka bumi, untuk ramah terhadap kehidupan dan alam disekitar manusia.
Sering kali urusan agama termarjinalkan (dibatasi) dalam urusan yang sangat duniawi: kekuasaan melalui hukuman, larangan-larangan, kebencian terhadap yang asing, bahkan terhadap keduniawian yang disalah pahami. Memang hal yang sangat wajar bila ada perbedaan penafsiran, dan tidak salah bila seseorang menafsirkan hal lain dari satu ayat selama maksudnya tidak jauh menyimpang dari teks. Masalahnya sering kali teks dirujuk untuk mengultuskan dan memberhalakan teks itu sendiri, sehingga dulu ada pertanyaan tentang ”apakah Al Qur’an itu Makhluk apa Kholik (ketuhanan)?” Jabariah menganggapnya nur Illahiah, Qodriah menganggapnya makhluk belaka, dan golongan Sunni (mayoritas) menjawab, teks al Qur’an adalah Kalamullah, ia bukan Kholiq tapi ia bukan pula makhluk, ini artinya teks sama sekali bukan untuk disembah seperti Kholiq, tapi diartikan secara konteks sesuai zaman, dimana penemuan-penemuan ilmu pengetahuan, dan juga kehidupan sosial bisa diadopsi sebagai alat memahami Al Qur’an, perdebatan semacam ini bukannya baru, tapi sejak awal islam kita mengenal kelompok Basrah (Kontekstual-rasional), dan Kufah (Tekstualis).
Mencoba menafsirkan ayat sesuai konteks adalah sesuatu yang tidak pernah diharamkan, dan memang tidak ada yang melarang siapapun untuk mencoba memahami ayat dengan tafsirannya sendiri asal bertanggungjawab, setidaknya memahami dasar-dasar ulumul tafsir dan memahami asbab nuzul (riwayat turunnya ayat) –anda bisa download gratis di internet-, dari situ lalu kita mencoba untuk melepas konteks masa lalu dalam menafirkan ayat, dan mencoba menganalogikan ayat ke dalam masa kini, ketika pengetahuan telah jauh meninggalkan masa lalu, serta kehidupan sosial semakin komplek. Nabi Muhammad tidak pernah melarang siapapun menafsirkan Al Quran, asal ia benar-benar muslim.
Namun secara sederhana dari iman terhadap Qur’an adalah bacalah Al Quran, usahakan pula baca terjemahannya, dan pahamilah (namun ingatlah bahwa terjemahan adalah bagian dari penafsiran itu sendiri, bukan Al Qur’an). Tapi setidaknya kita berusaha menyediakan waktu beberapa saat untuk membuka Al Qur’an dan membacanya, sehari satu atau dua halaman, untuk menumbuhkan kecintaan padanya.
5. Rukum iman ke 4. Mencintai Roshulullah dan Nabi Sebelumnya.
(untuk lebih lengkapnya tentang Rukum Iman ke-5, kita telah membicarakannya di buletin sebelumnya (vol 1 –no 7))
6. Rukun Iman ke-5, Mengimani Taqdir / Qodlo’ dan Qodar (Kehendak dan Keputusan)
Iman ke lima adalah tentang Waktu, tepatnya Qodlo’ dan Qodar (kehendak dan keputusan). Waktu adalah sistem sunnatullah, ia sepertinya ada tapi tidak pernah berwujud konkrit, bahkan manusia tidak bisa mendefinisikannya (termasuk ahli fisika) secara objektif. Yang ada hanya penandanya melalui gerak jarum jam. ”Detik ini adalah aku yang berkehendak, detik tadi adalah aku yang telah kehilangan kehendak, detik nanti adalah aku yang akan berkehendak”, sederhana memang, tapi kenyataannya ini adalah iman: bahwa masa lalu kita yang telah kita ketahui entah yang baik dan buruk tidak bisa diubah-ubah lagi, masa kini sedang berubah dan mungkin mampu memperbaiki masa lalu dan memudahkan masa datang, dan masa datang yang belum kita pahami adalah sesuatu yang tidak kita ketahui apakah sesuai harapan kita atau tidak.
Sering kali kita protes apakah yang Tuhan lakukan ketika kita melihat mengalami bencana, perang, kelaparan, hilangnya seorang yang kita sayangi, atau atas sesuatu yang tidak kita kehendaki, diantara kita menyalahkan taqdir dan Tuhan, lalu menganggap Tuhan tidak adil terhadap keputusan itu atau bahkan tidak ada. Pertanyaan ini sama jadinya dengan pertanyaan Malaikat kepada Tuhan, mengapa Ia ciptakan manusia, padahal (kemungkinan) Malaikat tahu bahwa manusia akan berbuat tumpah darah dan kerusakan di Muka Bumi (Al Baqaraah (2): 30),Tuhan selalu menjawab: ”Aku mengetahui apa yang tidak makhlukku ketahui”. Beriman pada Qodlo’ dan Qodar berarti menerima ketentuan yang baik dan juga buruk, setiap kejadian selalu ada hikmah di dalamnya bagi orang yang bertaqwa.
Perdebatan ’usang’ tentang Taqdir juga menyeruak lagi di abad awal Islam, yang menghasilkan dua aliran besar dan masing-masing mengaku merujuk pada al Qur’an, golongan Qodariah (Kuasa Manusia) dan Jabariah (Kuasa Tuhan), yang satu menganggap manusia menentukan jalan sejarahnya sendiri (Al Kahfi (18) : 29), sementara yang lain menganggap Tuhanlah yang menentukan sejarah manusia (Ash Shaaffaat (37): 96), namun bagaimanapun juga, faham faham yang terlalu ekstrim semacam ini akan musnah seiring dengan kenyataan tentang kesejatian manusia yang mengandung kelebihan dan kelemahan dalam ruang dan waktunya. Nyatanya orang selalu membutuhkan kerja untuk meraih apapun di dunia ini, namun manusia juga berharap dalam setiap pengharapan doa yang selalu mereka ulang. Segala sesuatu memang telah Dia catat sebelumnya dalam ”kitab besar segala kejadian” (Lauhul Mahfudz) (al An’aam (6): 59), namun Tuhan telah menyembunyikannya rapat-rapat bagi semua makhluknya, sebagai bagian dari tuntutan akan sistem ”keseimbangan waktu” yang memang dibutuhkan oleh semesta ini untuk eksis.
Keimanan akan Qodlo’ dan Qodar melengkapi iman, pesan keimanan di dalamnya adalah tentang usaha keras yang kita lakukan harus disertai oleh kepasrahan total, menerima dengan terbuka masa lalu kita yang mungkin tidak selalu manis, dan berani menghadapi masa depan yang selalu berada di dua titik percabangan antara kekawatiran dan harapan yang menggelembung. Yang diwajibkan bagi seorang muslim adalah usaha yang jujur dan sungguh-sungguh untuk meraih apapun, dan mengembalikan hasil ikhtiar (usaha) itu kepada Alloh Swt, sebagai sebab serta tujuan sejati dari kehidupan.
7. Rukun Iman ke-6, Meyakini hari kiamat, akhir dari segala akhir.
Kiamat adalah pengetahuan yang hanya dipahami oleh Alloh Swt, seperti pula Lauhul Mahfudz, tidak ada satupun yang mengetahui kapan hal itu terjadi. Al Qur’an sendiri bahkan melemparkan suatu pertanyaan ”tahukah kamu, bisa jadi kiamat itu sudah dekat?”, kedekatan hari kiamat juga dinyatakan dalam beberapa surat (An Najm (53) : 57). Al Qur’an hanya memberitanda bahwa kehadiran kiamat itu sudah dekat (azifah).
Terlebih dulu kita pahami apakah kiamat itu, ada dua kiamat yang dimaksud di dalam al Qur’an, dan dua duanya benar-benar tersembunyi kejadiannya, yang pertama kiamat sughro atau kecil (kematian) dan yang ke dua kiamat kubro (besar). Dan sesungguhnya rukun iman harus memahami kiamat dalam dua pengertian ini. Kiamat kecil adalah tanda ketika bagian dari hidup kita di dunia telah kita ambil semuanya, sementara itu kiamat besar merujuk pada telah terhenti dan rusaknya hukum-hukum alam, kerusakan yang justru merupakan bagian yang mutlak bagi sifat hukum alam itu sendiri, dimana penciptaan segala hal selalu akan diakhiri kehancurannya, (menolak pandangan materialis-pantheis).
Tanda tanda hari kiamat adalah suatu misteri agung, yang jelas akan diawali dengan muncul sesuatu (tak menutup kemungkinan sebagai sistem) yang Nabi terangkan sebagai Dajjal, ”yang bermata satu” (Hadits Muslim: 5219) yang bisa berarti sistem yang hanya memiliki dan memaksakan satu kebenaran mutlak, sesuatu yang bertolak belakang dengan sunnatullah, bisa jadi mata satu adalah informasi yang hanya didominasi oleh sekelompok kepentingan saja tanpa melahirkan oposisi. Dajjal yang ”menghidupkan yang mati” (Hadits Muslim: 5229), bisa jadi Dajjal atau system itu telah menciptakan dunia masa lalu yang telah mati, dan membangun masa depan dengan nilai-nilai masa lampau yang mengabaikan optimisme masa depan, atau bisa jadi Dajjal telah menemukan sesuatu tekhnologi untuk membuat manusia tak lagi mati, sesuatu yang bertentangan dengan alam. Tanda lain Dajjal adalah, Yang baik menurut Dajjal adalah yang buruk menurut Alloh Swt, nilai-nilai yang mungkin dibuat mutlak oleh Dajjal dan bagi yang berbeda dengannya maka ini dianggap buruk bahkan dikafirkan olehnya (Fitnatut Dajjal).
Tanda-tanda kedua setelah Dajjal adalah Ya’jud dan Ma’jud, suatu pasang individu atau sistem yang berkuasa diantara manusia, dan merusak peradapan yang telah manusia bangun beribu-ribu tahun ini, peradaban hancur lebur karenanya, Tanda-tanda lain adalah munculnya imam mahdi, yang menciptakan persaudaraan dan perdamaian di muka bumi setelah perselisihan lama, walau hanya untuk sementara. Tanda yang lain juga yang diterangkan oleh Nabi Muhammad Saw adalah ”turunnya” ”isa al masih”, perlu (ditekankan dengan tanda kutip) di mana Ia akan menghanjurkan Dajjal dan juga Ya’jud Ma’jud. Tanda yang paling akhir yaitu adanya zaman setelah tanda-tanda sebelumnya tadi, manusia akan beriman semenetara, lalu kembali kehilangan iman, melakukan kerusakan dimuka bumi hingga terganggunya sistem sunnatullah, satu hal yang menciptakan keguncangan alam semesta sehingga hancur leburlah dunia dan seisinya.
Kiamat tetaplah suatu misteri, kata ”dekat” bisa dimaknai macam-macam juga, abad pertama hijriah pun juga pernah terjadi isu bahwa beberapa tahun lagi akan terjadi kiamat, nyatanya tidak terjadi, ketika Baghdad diserang pasukan Mongol pun (awal milenium 2), orang-orang mukmin juga bilang demikian, tapi ternyata tidak, dan bagi bumi yang menurut geologi telah berumur 12 milyar tahun, kiamat yang terjadi satu juta tahun lagi saja adalah sangat dekat dibanding umur bumi tersebut. Manusia seolah disibukkan dengan ketakutan yang ’tidak produktif’ akan ’dekat’nya hari kiamat, padahal keimanan akan kiamat (kematian dan akhir semesta) bukan ditujukan untuk membuat manusia menjauh dari tajdit (pembaharuan) baik dalam keagamaan kita atau ilmu serta tekhnologi. Tanda kiamat menurut pandangan GII adalah merupakan penegasan agar ”kita selalu menjaga keseimbangan akan kebenaran yang kita yakini dengan menghormati keragaman pencarian kebenaran setiap manusia ”tidak bermata satu”, menghormati sejarah sebagai sesuatu optimisme yang terus maju dan lebih baik, meyakini bahwa masa kini dan masa datang adalah lebih baik daripada masa lalu, entah di jaman sahabat, tabiin dan tabiat sekalipun, bahwa umat islam masa kini, harus berani memberi opini terhadap kehidupan sahabat, khalifah-khalifah, sebagai sejarah kemanusiaan yang tidak selalu suci dari kesalahan, sama dengan keberanian umat muslim untuk mengkritik kebijakan Liberal Demokrasi versi Amerika, Humanisme Eropa, Sosialisme atau Kapitalisme, Presiden atau Profesor dan juga Ulama kita yang nyatanya tidak selamanya bersih dari noda. Optimisme masa depan yang lebih baik adalah sebuah keyakinan bahwa perjalanan ke depan umat manusia terus menerus menemukan jalan terbaik bagi masalah-masalah umat manusia sebelumnya yang tidak sempat terselesaikan (peradaban yang berorientasi masa depan), dan bukannya ”menghidupkan yang telah mati”. Iman terhadap kiamat juga berarti: menghormati perjalanan peradaban dan juga hidup dalam keselarasan antara kemanusiaan, kelestarian alam dan keramaham Tuhan untuk mencegah kehancuran dan bencana. Tapi bagaimanapun usaha manusia, kiamat sebagai bagian dari hukum energi pasti akan terjadi.
8. Penutup: Iman adalah Cinta yang Membebaskan
Iman adalah keyakinan mendalam, dan ia adalah dasar dari cara kita memandang Tuhan, Manusia, Alam dan kehidupan ini. Bagi Islam, mutlak kiranya untuk mengimani: Tuhan yang Maha Satu, para malaikat, Kitab Al Qur’an, Nabi Muhammad, Qodlo’ dan Qodar serta Kiamat, tapi ke enam iman dasar ini tidak diciptakan untuk membuat batasan atau mengurung kita dalam suatu pandangan yang sempit. Tuhan yang Maha Esa mengajarkan kita untuk mencintai siapapun juga dan apapun keadannya sebagai bukti kasih sayang Tuhan pada semua makhluknya, Malaikat menciptakan kesadaran akan keteraturan di dunia ini, sehingga kita mampu menyesuaikan diri dengan aturan dunia ini (sunnatullah), Al Quran yang universal mengajarkan pengetahuan esensial agar kita mampu menarik nilai-nilai terdalam di balik teks-teksnya sehingga mampu berdialog dengan perkembangan pengetahuan-tekhnologi, mampu mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari, usaha memahami Al Qur’an yang tidak justru dipenuhi akan ketakutan, keterkungkungan dan prasangka serta dendam. Qodlo’ dan Qodar memberikan ruang bagi kita untuk merekonstruksi masa lalu kita, masa kini dan masa datang, untuk menjadi semakin lebih baik, Kiamat mengajarkan kita bukan untuk rasa takut dan pasrah di dunia, namun untuk mencegah kerusakan yang diakibatkan oleh keyakinan, pemikiran, dan prilaku kita yang tidak serasi terhadap sesama, alam dan Kasih serta Keadilan Tuhan, kepasrahan dan ketakutan manusia itulah yang mungkin justru akan mengakibatkan bencana besar (kiamat) itu sendiri.
Cinta akan iman bukanlah sesuatu yang menciptakan batas-batas lalu membuat kita terkurung hanya pada makna yang penuh ketakutan serta prasangka. Tapi cinta akan iman seperti sebuah pintu gerbang yang megah, suatu permulaan yang membawa kita ke dalamnya, ke sebuah wilayah yang tanpa tepian, dimana segala jenis manusia, beraneka keramahannya, hijau hutan dan bunga-bunga warna warni yang bermekaran, kicauan burung yang bebas terbang dan hembusan angin serta keberkahan Tuhan menyatu dalam sebuah Taman Kehidupan.
Wallahua’lam.
Sumber :
Buletin Jumat Bisikan GM-Wishpers
Filed under: Agama, ARTIKEL-KU, BERITA



