Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang (Mariyam, 96)
1. Dimulai dari Anak-Anak.
Saat kita masih kecil, kita berfikir bahwa kita seperti semua teman sebaya yang kita kenali, bisa bermain bersama mereka, berbagi peran dalam drama-drama kecil kanak-kanak, kadang menangis, tapi sering kali tertawa, mungkin berkelahi, menang atau juga kalah. Anak-anak belum mengenal banyak perbedaan, sekali-kali mereka merasa paling benar sendiri tapi lebih banyak lagi rasa ingin tahu pada dunia yang baru mereka kenali, lalu mereka berbagi pengalaman sebanyak-banyaknya dengan teman-teman mereka.
Tapi tidak semua anak bernasib sama. sebagian memendam pertanyaan semenjak kecil, suatu pertanyaan yang pada masa kecil tidak bermasalah, namun akan menjadi beban besar di saat dewasa kelak. Sebagian kecil anak laki-laki mungkin tidak terlalu suka konfrontasi, lebih suka menyanyi dan menari, tidak terlalu suka sepak bola, tidak terlalu sering bermain dengan anak laki-laki. Memang hal yang biasa, tapi bagaimana kalau anak laki-laki yang menyukai boneka dan ’gawat’ nya lagi merasa nyaman dengan vigor seorang pria bukan karena cinta karena ialah yang selama ini memberikan motivasi dalam hidupnya. 2. Diteruskan di Sekolah.
Mulanya hal itu sungguh-sungguh tak bermasalah di sebuah dunia yang disebut negeri bermain. Yang mereka tahu bagaimana bisa bermain dan menyelesaikan pemainan, tak peduli apa kesukaan pribadi masing-masing. Suatu dunia bermain yang bukan seperti pelajaran sekolah, dimana setiap individu hanya bisa di’gadai’kan dan dinilai dengan sedikit pilihan tolak ukur yang membatasi dan dibatasi. Dari A sampai F, dari 0 sampai 10, lalu dari situ muncul anak cedas, anak biasa-biasa, dan yang paling sial anak bodoh, ada anak baik ada pula anak nakal, ada anak rajin, ada pula anak malas. Ketika dunia sudah dijejali batasan dan aturan, maka setiap orang terbiasa untuk tidak hanya mematuhi peraturan ”normal”, tapi juga meniadakan apa yang dianggapnya lain atau ”liyan”.
Betapa bersyukur bagi sebagian orang yang mampu beradaptasi dengan aturan-aturan duniawi, sekolah sampai tinggi, mendapatkan pekerjaan yang mapan, keluarga yang harmonis, mati, lalu ”mungkin” akan masuk surga, betapa indahnya dunia. Tapi lebih banyak yang tidak seperti itu.
Sebagian dari anak-anak yang tadi bemain, ketika telah tumbuh dewasa,
”mekar” dengan caranya masing-masing, Andi menjadi pemain sepak bola, tapi cukup lulusan SMA, Budi meneruskan sampai S3 tapi kakinya pincang karena kecelakaan, Dian lulusan keperawatan, dan sekarang masih terus mencai kerja, Indah menikah dini, jadi ia cukup lulus SMP, Bagus yang jebolah SMP menjadi pengangguran, pernah dipenjara, kecanduan narkoba, tapi sekarang jadi aktivis masjid, Rangga yang lulusan STM menjadi TKI di Arab Saudi, lalu Rio kini tiba-tiba telah beubah menjadi Ria !! Dan itulah kenyataan hidup.
3. Di dalam Sebuah Negara.
Hai manusia, sesungguhnya… Kami menciptakan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku (bebeda-beda setelah itu) supaya kamu saling kenal-mengenal (memahami). Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu semua disisi Allah ialah orang yang paling taqwa (beribadah dan bebuat baik) diantara kau…
(al Hujarat, 13)
Sekolah kita hanya memandang manusia bedasarkan nilai linier, satu dimensi, satu garis saja untuk membaca manusia, nilai rapor, IPK dan seberapa banyak penelitian. Tapi kehidupan nyata menghasilkan bermacam dimensi, ada kelompok pebisnis, kolompok seniman, kelompok agamawan, kelompok akademis, kelompok mafia, kelompok militan, kelompok waria, kelompok pencinta lingkungan dan lain-lain, semua hidup dengan nilai-nilai masing-masing namun pada naluriahnya belajar untuk saling menghomati.
Namun Sayangnya negara terbiasa mendistorsi semua keragaman dalam kelembagaan-kelembagaan fomal, mengakui ini dan tidak mengakui itu, meresmikan ini dan melarang itu, membenarkan ini dan menyesatkan itu, mewaraskan ini dan menggilakan itu. Negara memahami dirinya sebagai nyaris pemilik kehidupan, seperti pengganti Tuhan, sering kali yang ia perbuat tak ada bedanya dengan Fir’aun, atau seperti Kaisar Roma, Louise XIV atau Tennoheika Jepang masa lalu yang semua mengaku mewakili Tuhan.
Mungkin tidak ada masalah selama negara mampu menegakkan aturan dimana semua dimensi masyarakatnya diayomi sementara terus belajar membangun jembatan pengertian untuk semua dimensi itu. Tapi bagi Indonesia, keragaman lebih sering dijadikan alat suatu dominasi atau kekuasaan, keragaman yang disisakan hanya bagian dari strategi pasar, siasat politik dan bagi agama Islam di Indonesia, sesuatu yang lain selalu dianggap menggeogoti dogtrin dan dogma suci, serta kelanggengan mayoritas.
4. Melintasi Waktu.
Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikitpun) tidak (boleh) dianiaya. (Yunus, 47)
Dulu ketika dogma dan doktrin agama belum sekencang saat ini, ruang sosial dan nilai menyediakan tempat bagi berbagai kelompok pinggiran dan kelompok tak berdaya (subaltern), mungkin pada saat itu juga tidak terlalu kentara mana itu pinggiran atau mana yang berkuasa Pernahkan kita membayangkan bahwa keberadaan manusia (homosapien) diperkirakan telah ada ratusan ribu tahun yang lampau, sementara agama-agama besar, termasuk Hindu yang bisa dikatakan paling tua baru ada tidak lebih empat ribu sebelum masehi. Agama Ibrani awal yaitu Yahudi baru ada 2000 tahun sebelum masehi, nun bila dikatakan bahwa agama harus memiliki syaat kitab suci yang tertulis. Lalu apa yang dilakukan nenek moyang kita sebelum tulisan-tulisan itu ada? Agama yang bagaimana yang mereka peluk?
Kalau anda pernah di Kalimantan atau di tempat lain, ada kepercayaan lokal yang melarang menulis ajaran-ajarannya karena bisa dianggap membatasi esensi ajaran dan karenanya hanya bisa dihafal (keyakinan Balian), bahkan mengucapkan nama Tuhan pun tidak boleh disembarang tempat dan waktu, karena Tuhan melampui kata-kata dan tulisan. Tapi agama-agama modern sering kali menganggap Tuhan hanya ada di naskah-naskah, hukum-hukum dan riwayat-riwayat. Sementara kehidupan adalah segala hal diluat tulisan dan naskah. Dan ketika seorang muslim menjumpai sesuatu yang disebutnya ”cinta” yang berada diluar naskah, lalu kemudian itu disebut ”telarang”.
Ketika seorang kaya mencintai orang miskin,Pejabat menikahi pembantu yang di dasari dengan cinta apakah itu salah?Kenapa harus ada pembatasan cinta? Sejak kapan kah? Karena ratusan ribu tahun manusia tidak menuliskan kisah-kisah cinta seperti ini kriminalitas.
Memang dunia ini adalah tempat manusia beramal dan beribadah, tapi dunia adalah tempat kita meraih kebahagiaan sebagai manusia. Kalau tidak demikian maka mengapa nabi menyuruh kita untuk bekerja dan mencintai tanah air, mengapa pula nabi melarang kita untuk tidak menikah selama kita masih memiliki cinta? Bukankah setiap manusia juga punya cinta?
5. Cintailah Cinta !
Seluruh alam semesta bergerak karena cinta
(Maulana Rumi)
Cinta akan tetap hadir dalam hati mu, sekencang apapun engkau menolaknya atau membencinya, mengapa tidak mencoba mengenalnya, dan lalu memeluknya erat-erat. Tuhan telah memberikan cinta itu sepeti tamu asing yang mencari perlindungan (yang barangkali seperti buronan negara yang dipersalahkan dan dianggap terkutuk, sementara belum tentu demikian), lalu tamu yang tidak diundang itu mengetuk pintu rumahmu, maka bukalah pintu rumahmu untuknya, berharap ia membawa hikmah dari-Nya, persilahkan ia duduk, lalu sedukanlah secangkir teh hangat untuknya, sediakan telinga dan hatimu untuk mendengarkan apa yang ia ingin ceritakan dan keluhkesahkan, karena ia bukan sekedar suatu kenginan menggebu-gebu, Ia adalah Cinta yang sering kali dianiaya.
Wallahua’lam,
Filed under: ARTIKEL-KU



