Senin,16 Mei 2011
Sebagai orang keturunan jawa saya sering mendengar istilah ‘’Nrimo Ing Pandum’’ dari orang-orang di sekelilingku bahkan tidak jarang petuah tersebut merupakan sebuah nasihat dari kakek-ku yang memang kebetulan salah seorang Pengikut Islam Kejawen di Kabupaten Banyuwangi.Karena seringnya saya bersentuhan dan menjalin komunikasi dengan orang-orang pengikut Islam Kejawen maka tidaklah heran jika pemikiranku lebih condong ke arah ajaran kejawen.Meskipun tidak 100 % aku ikuti,tetapi aku banyak belajar ‘’sejatine Urip’’ dari mereka semua.
Nrimo ing pandum biasa kita kenal dengan istilah tawwakal,pasrah dan berserah diri kepada Tuhan hang nguwasani jagad.Bahkan dalam bahasa indonesia biasa kita kenal dengan ungkapan ‘’Jalani Hidup Seperti Air Mengalir’’,namun dari berbagai istilah di atas banyak di antara kita yang salah memahami persepsi nrimo ing pandum.Mungkin di benak mereka nrimo ing pandum adalah sebuah Perilaku hidup yang pasrah akan keadaan dan meyakini bahwa kita terima apa yang telah Gusti Allah berikan tanpa boleh membantah dan tidak berusaha apa-apa,sehingga Akibatnya orang yang berfikiran seperti ini hidupnya akan selalu susah karena mereka tidak mau berusaha hanya mencari enaknya saja ketika menemui kesulitan hanya pasrah tanpa mau usaha untuk merubah keadaan.
Namun bagaimanakah konsep bagai air yang mengalir/nerimo ing pandum yang sebenarnya?Apakah memang melakukan lelaku hidup seperti itu?Ternyata TIDAK sahabatku,Nerimo Ing pandum adalah sebuah konsep kehidupan untuk tidak pasrah tanpa berusaha,namun Kita harus selalu berdoa dan berusaha ketika segala usaha yang telah kita lakukan tersebut tidak sesuai Planning maka barulah kita nerima,pasrah dan tawwakal apa yang telah di gariskan Hang Maha Agung kang Nguwasani Jagad.
Begitu juga hidup bagai air mengalir adalah sebuah simbol filosofi kehidupan untuk menjalani hidup sesuai dengan apa yang di gariskan tuhan yang mempunyai batasan-batasan dan aturan-aturan agar supaya kita tidak tersesat.Namun berbeda lagi jika kehidupan yang kita jalani bagaikan dengan air BAH yang menerjang segala apa yang di temuinya.Hal ini di ibaratkan seseorang yang tidak mempunyai pedoman hidup sehingga ia melanggar dan menabrak aturan-aturan yang telah di gariskan Gusti Allah,sehingga tidaklah heran jika hidupnya tidak pernah merasa tentram karena merasa jauh dari Gusti Kang mengerani Jagad.Mudah-mudahan kita semua tetep dalam lindungan Allah SWT.Amien..
Di Tulis Hari Senin,16 Mei 2011 Jam 22:58
DI Kamar C1 Pesantren Mahasiswa ‘’DARUL HIJRAH’’ MERJOSARI MALANG.
Filed under: ARTIKEL-KU



