Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Maa’idah (5) : 8).
Perumpamaan: Pangeran dan Pelayan.
Ada seorang pangeran (laki-laki) yang jatuh cinta pada seorang pelayan rendahan (perempuan) demikian juga sebaliknya, andai hubungan ini diketahui kerajaan dan rakyatnya, mereka akan mengusir keduanya dari negara kerajaan itu, dan membuat mereka terkucilkan, demikian yang diperintahkan menurut ajaran Tuhan yang mereka yakini, “seorang pangeran diharamkan mencintai rakyat jelata”.
Untungnya hubungan mereka tidak ada yang mengetahui, untuk mencegah hal buruk tadi, di luar ruang pribadi pangeran, mereka seperti halnya seorang pangeran dan pelayan, biasa-biasa saja, yang membedakan hanyalah pelayan yang pangeran cintai itu diangkat sebagai “pelayan dekat”, sehingga kerajaan memperbolehkan sang pelayan tinggal di rumah pribadi pangeran, demikian tidak bertentangan dengan ajaran dari agama kerajaan. Cinta mereka tidak direstui entah sampai kapan, oleh semua di luar sana, hanya berdasar moral kebanyakan orang yang diyakini. Tapi ini tentang cinta, ketertarikan, kerinduan, kesetiaan, kasih sayang, kecemburuan dan hasrat. Bahwa diri sendiri apalagi orang lain tak leluasa untuk memilih kepada siapa harus jatuh cinta, ini tentang perasaan yang mengalir apa adanya.
Saat pangeran dan pelayannya berada diruang pribadinya, kerinduan itu tertumpahkan, memeluk erat-erat dan mencium kening mesra, seolah melebur dalam cinta yang terhalang tembok besar,
“di luar sana aku hanya seorang pangeran kesepian, yang melakonkan “drama” ini seumur hidup, hanya di ruang sempit ini aku bisa mencintai apa yang sebenarnya ingin aku cintai, hanya di tempat ini aku benar-benar bisa menjadi diriku sendiri, walau di luar sana, cinta kita menjelma menjadi kutukan, cacian bahkan kerajaan kita telah mengutuknya menjadi: kejahatan dan kegilaan serta penyakit, sungguh betapa menderitanya cintaku ini di luar sana! Tapi tidak di ruang ini, kita bisa melakukan apa saja, persetan dengan semua yang telah diucapkan orang-orang di luar sana, dengan mengatasnamakan pemahaman yang salah terhadap kepercayaan, sehingga menjadikan pemahaman “sempit” itu seolah Tuhan yang haus penyembahan!
Bukankah itu hanya pemahaman manusia saja atas kitab suci, bukan dari kitab suci sendiri apalagi dari Tuhan Maha Pengasih Itu? Bahkan pemahaman kebanyakan orang yang telah berlangsung beribu-ribu tahun dengan menganggap raja, kaisar dan khalifah sebagai wakil Tuhan, bisa saja tumbang suatu saat nanti? Bahwa pemahaman akan budak sebagai sesuatu yang dianggap alami dan wajar di semua peradaban, mungkin suatu saat akan dianggap pemahaman yang kejam dan tidak berperi kemanusiaan?
Suatu saat, mungkin sebentar lagi, atau beberapa waktu setelah kita mati, cinta yang telah disalah pahami ribuan tahun ini oleh pemahaman pemimpin agama-agama kitab suci kerajaan ini, akan dikoreki oleh orang-orang di masa datang, sehingga nantinya ulama-ulama dan institusi kerajaan akan meminta maaf dan penyesalan terhadap perlakuan mereka yang telah salah terhadap orang-orang yang memiliki takdir cinta seperti kita, aku dan kamu. Sungguh kitab suci Tuhan kita teramat tinggi hanya untuk dikuasai maknanya oleh segolongan manusia saja, apalagi manusia hanyalah seonggok jiwa yang hidup dengan sejarah dan tubuh serta tekanan pemerintah serta masyarakat kebanyakan yang tidak lepas dari salah”, demikian ujar pangeran.
“Tuan adalah pangeran hamba di ruang ini atau di luar ruang ini” bisik sang pelayan cantik jelita.
“Oh tidak! Diluar pintu ini kita hanya melakonkan drama manusia yang mereka paksakan, di dalam ruang ini, inilah lakon kemanusiaan antar manusia yang sangat manusiawi, kita menerima kelebihan dan kekurangan kita apa adanya, walau kita saling mengisi untuk sesuatu yang lebih baik”
“Dan kita tidak mungkin bisa menikah Pangeran, hamba adalah pelayan paduka …”
”Tidak….. panggil aku Kangmas….., kita akan menikah, tapi tidak menikah diluar sana, dimana orang-orang mengutuk hubungan kita, dan tempat tempat ibadah serta ulama-ulama menutup rapat pintunya untuk cinta kita”
”jadi siapa yang menikahi kita paduka….mm… Kangmas hamba…..?”
Keduanya terdiam agak lama
”Aku dan kamu memang cuma dua orang, bahkan walaupun dikerajaan yang luas ini hanya ada satu pangeran dan satu pelayan yang memiliki cinta yang disalah pahami oleh semua orang, kita harus melakukan sesuatu…….. Apakah cukup bagi kita hanya mengakhiri cinta ini di ranjang saja, bukankah cinta adalah kehidupan di dalam dan di alam yang bebas, bukan suatu drama yang dilakonkan diluar pintu ini, Aku tidak akan membiarkan yang diluar sana, semua orang gila itu mengutuk kita seperti perampok, koruptor atau pemerkosa………”
”tapi hamba bukanlah bangawan, hamba hanyalah anak manusia yang tak paham tentang sabda anda…”
”Oh Tidak, bagiku semua manusia sama, semua juga tempatnya khilaf dan lupa, bukankah itu yang diajarkan agama kita, aku hanya pangeran yang dijuluki oleh manusia dan bukan oleh Tuhan, demikian ayahku, Paduka Raja dan juga ulama dan jendral kerajaan kita, mereka semua manusia yang sama……… sungguh kita harus lakukan sesuatu………….”
”Bukankah ini berbahaya, hukumlah hamba bila hamba lancang, ini seperti yang telah dilakukan musuh-musuh kerajaan ini terhadap kerajaan mereka sendiri, apakah Paduka..mm.. Kangmas akan mengajarkan pikiran-pikiran asing itu untuk kerajakan kita…”
”Oh tidak sayank ku, tidak ada yang asing dan tidak ada yang paling murni, kebenaran bisa datang dari manapun, karena kebenaran adalah mutlak ada tanpa mengenal negara atau bahkan agamana tercampur dalam kepentingan manusia, kebenaran tidak memiliki merk dagang tertentu atau nama khusus………..”
”Paduka begitu pintar…….., hukumlah saya karena saya tidak memahami sabda paduka.”
”Karena cinta mu pada ku, saya tidak akan pernah melakukannya……………”
”Jadi apa yang bisa hamba bantu paduka, mm… kangmas…………..”
”Kita akan membuka pintu ruangan ini lebar-lebar, dan kita akan terima semua tamu yang datang, di luar sana, kebenaran yang terbenam, akan selalu akan mendapat tempatnya di lubuk hati sebagian orang, yang mungkin sedang ketakutan dan gelisah………… dan kita akan berjuang bersama mereka……….”
”Kangmas akan menghancurkan kerajaan ini……?”
”Kita tidak sedang mengubah kerajaan ini sayank…, kita tidak sedang mengubah agama kerajaan kita, kita tidak sedang mengubah kitab suci, kita hanya mengubah beberapa pemahaman yang dilakukan dimasa lalu yang tidak lagi bisa mendapatkan pembenaran dimasa kini, Raja, Ulama, dan cendekia serta bangsawan bukanlah manusia-manusia yang memiliki kekuasaan absolut yang mewakili Tuhan, sepertinya kita membutuhkan perdana mentri yang dipilih rakyat, dan ruang-ruang dialog antara Ulama dan rakyat, dan bukan ceramah monologis di mimbar-mimbar tempat ibadah kita, rakyat jelata dan golongan minoritas harus berbicara bebas dan mereka harus diberikan ruang yang setara dan sama…. Bukankah ini yang diajarkan dalam kitab suci dan para Nabi? sayangnya kita mengabaikan sebagian dari kitab suci dan hanya menggunakan sebagiannya saja untuk kepentingan tertentu…….. kita beragama dan bernegara dengan penuh kepentingan, bukan sebuah pengabdian tulus…………”
”Raja, hamba… hamba hanya seorang pelayan…….., hamba takut akan perubahan ini… hamba tidak mengerti ucapan Paduka..”
”Tapi engkau cucu Nabi Adam, dan jiwa mu dihembuskan dari-Nya, karenanya cukup untuk menyebutkan setiap manusia itu istimewa, dan setiap manusia adalah Pangeran atau Putri… bagi Tuhan dan bagi ku, engkau adalah seorang putri….”
”Putri………….”
”Ya….. Putri yang akan menjadi ratu di hatiku, dan di hati semua rakyat……….., tapi kelak gelar ini hanya sekedar nama, semua keinginan rakyat ada pada perdana mentri, yang dipilih langsung…, saya tidak terinspirasi oleh negara lain, ini bagian dari ajaran Kitab Sucu kita yang sengaja kita benam dan kita tutup rapat beribu-ribu tahun….”
”Tapi Paduka, Bukankah itu tidak pernah ada, beribu-ribu tahun yang lalu, bahkan sejak kerajaan ini diciptakan, sejak sabda Tuhan itu turun..”
”Yang belum ada, atau yang tidak selalu terlihat, belum tentu tidak benar…….. sama seperti cinta kita……”
”Dimulai dari membuka ruang pribadi Paduka…………….?”
“Membuka diri dan menerima semua ini apa adanya pada diri kita, lalu mengundang siapa yang siap memahami dan terbuka terhadap cinta kita, serta bersatu bersama mereka yang mungkin senasib dengan kita”
“Mulai kapan…………”
“Mulai saat ini………..”
“Bagaimana bila raja marah dan mengasingkan Paduka? Saya hanya pelayan, saya siap mati bila Paduka Raja memintanya….. maafkan hamba..”
”Hemm… Ribuan tahun yang lalu leluhur kerajaan ini mendirikan kerajaan ini dengan perjuangan demi kemerdekaan..”
”Dan setelah ribuan tahun hamba dan paduka akan menentang kerajaan ini…… hamba siap Paduka hukum dengan ucapan ini…”
“Tidak, tidak berdua, ada ribuan, ratusan ribu, bahkan jutaan orang bila mereka berani bicara.., bahwa cinta tidak membutuhkan definisi tapi hanya suatu ungkapan kasih sayang yang tulus……..”
“Ampuni hamba, hamba tidak mengerti………. perkenankan hamba untuk membantu paduka”
“Ya, aku akan melakukannya saat ini, kita harus terus belajar, bukan sekedar kata-kata…………..”
”Kalau begitu, perkenankan hamba untuk membuka pintu ini sekarang Paduka… mmm… kangmas Paduka Pangeran………………….”
Dan pintu itu terbuka lebar-lebar, dimulailah suatu perjuangan, dimana semua orang berhak untuk belajar menjadi apapun yang mereka yakini dan inginkan, selalu belajar memahami bahwa apa yang diinginkan Tuhan adalah ”cinta” dan bukan sekedar ”nafsu” atau keinginan orang lain.
Kesimpulan
Banyak di sekitar kita sebuah hubungan atas dasar cinta namun sering mendapatkan cemohan dan makian dari masyarakat umum karena tidak sesuai dengan standar masyarakat pada umumnya mulai beda status,ras,kasta dsb.Tetapi setidaknya dengan adanya ilustrasi cerita di atas dapat membuka mata hati kita bahwa cinta akan selalu abadi jika di landasi dengan ketulusan dan kesetiaan meskipun perasaan cinta itu dipandang sebelah mata oleh masyarakat umum hanya karena masalah sepele.Janganlah bohongi hatimu kawan….
dari berbagai sumber
Filed under: ARTIKEL-KU



