Yang pertama ingin saya sampaikan adalah ritual yang umum dikenal masyarakat, yaitu selametan. Bentuk selametan bermacam-macam, tergantung proses intensitas relasinya dengan budaya lain. Bagi suatu masyarakat yang telah mengalami puritanisasi yang efektif, bentuk selametannya miskin simbol dan refresensinya adalah keotentikan ritual. Sebaliknya yang mengalami kesetiaan kepada nilai-nilai lama, ritual selametannya menunjukkan kekayaan simbol dan keterikatan terhadap kesepakatan-kesepakatan non formal. Tetapi semua selametan memperlihatkan hal yang sama, yaitu berkumpulnya orang-orang yang sepakat berbeda berada dalam ketundukan bersama dalam satu tempat.
Dalam kasus di Kemiren, selametan adalah suatu ritual yang didahului oleh sambutan resmi, doa, makan yang terdiri dari sesajian dan makanan simbolik. Peserta selmetan memandang acara ini sebagai bagian integral dari kehidupan terutama kewajiban sebagai anggota masyarakat, dan banyak juga dalam rangka memahami diri mereka sebagai orang Kemiren; iki wis dadi adate wong Kemiren.
Selametan dalam posisinya sebagai pranata sosial memiliki kekuatan yang memperdaya. Selametan adalah peristiwa komunal, namun tidak mendefinisikan komunitas secara tegas. Selametan dilaksanakan memalui ungkapan verbal yang panjang; didahului sambutan formal standar kemudian doa-doa panjang berbahasa Arab, dimana semua yang hadir setuju dengannya, akan tetapi secara perorangan belum tentu sepakat kepada maknanya. Maka manakala upacara ini kemudian menyatukan orang dalam pemahaman bersama tentang manusia, Tuhan dan dunia, maka selametan sesungguhnya tidak mewakili pandangan siapapun secara khusus.
Dalam selametan berkumpul semua orang dengan status yang berbeda; pemahaman agama yang berbeda, status sosial, pekerjaan, namun pada saat yang sama mengadakan kesepakatan sementara diantara orang-orang yang berbeda orientasinya. Lebih lanjut selametan adalah pola kompromi kebudayaan. Ketidaktunggalan pelaksanaan yang tidak mengikat, dibawa dalam nuansa keagamaan yang berbeda.
Selametan berfungsi sebagai pembuka jalan yang mencairkan kebekuan beragam pemahaman keagamaan yang cenderung bisu, yang tanpa itu, kebisuan tetap gelap dan kontradiktif. Selametan adalah bentuk sinkretisme sebagai proses sosial yang damai, yang menghubungkan antara Islam dan tradisi lokal.
Tidak hanya persoalan simbolisasi perlengkapan selametan yang penuh makna, selametan juga menarik dari sisi signifikansi sosialnya. Selametan, kata Clifford Geertz meningkatkan kerukunan diantara yang hadir, utamanya dalam perannya membuka peluang interaksi. Rukun berarti harmoni sosial, sesuatu yang bernilai penting dalam kehidupan desa. Dalam selametan, beberapa hal terjadi secara bersama yakni; keikutsertaan (hadir dan bantuan biaya), ikut merasakan dan yang penting adalah kelenturannya sebagai kompromi sosial.
Sifat lentur dan terbuka bisa kita temui pada upacara adat di Banyuwangi, misalnya barong ider bumi. Upacara adat ini dilaksanakan setiap tanggal dua Syawal, selepas duhur sampai menjelang maghrib. Bentuknya kirab barong Kemiren yang keramat diikuti oleh bermacam kesenian tradisi lainnya. Acara kirab (ider bumi) ditutup dengan selametan di tengah jalan dengan menikmati tumpeng bersama-sama. Dari tahun ke tahun acara ini berjalan secara diam-diam tanpa kesibukan keterlibatan orang luar. Beberapa tahun terakhir ketika terendus pariwisata berbagai media meliputnya ramai-ramai. Melihat hal ini komunitas adat barong ider bumi tidak menyikapinya secara istimewa, berjalan sebagaimana biasanya memegang teguh yang dianggap prinsip. Misalnya ketika ada usulan agar pelaksanaannya diundur agar memberi kesempatan orang luar untuk menyaksikan, mereka menolak keras dan menyayangkan usulan yang menurut mereka mengusik ruh adat. Adat bukan tontonan tapi selametan, begitu kata mereka. Namun di balik sikap teguh itu, bukan berarti mereka tertutup dan kaku. Tahun kemarin ketika kirab diikuti oleh barongsai, banyak pihak yang menuding; ider bumi tidak asli lagi. Tapi bagi pelaku adat tidak penting otentitas itu, dan tidak ada dalam imajinasi mereka. Otentitas adalah logika eksotika, logika tontonan dan logika pasar. Komunitas adat memiliki watak universalitas yang tidak dibatasi oleh sekat etnik, paradigma pikir dalam-luar, aku-kamu. Semuanya merupakan totalitas kesadaran pengejawantahan konsep ketuhanan dan kemanusiaan.
http://hasanbasri08.wordpress.com
Filed under: Banyuwangi



