Kamis,03 Februari 2011
Sahabat, pernahkah tuhan kita Tersenyum, Tertawa atau melucu? Namun,ketika kita melihat dalam kitab suci al-quran maupun dalam hadits-hadits nabi tentu kita tidak akan menemukan ketiga hal tersebut.Mungkin,sebagaian dari kita akan mengatakan kepada kita bahwa pemahaman islam kita masih rendah sehingga tidaklah mungkin bisa memahami semua itu.
Tetapi ketika kita melihat khotib/mubalig/dai yang melucu dalam berceramah mungkin kita sering mendengarkannya bahkan melihat secara langsung baik di TV maupun pada acara-acara keagamaan di sekitar kita.Sehingga akibatnya pengunjung pengajian yang sejak awal sudah ngantuk tiba-tiba langsung melek karena guyonan sang mubalig.Saya kira fenomena ini sudah menjadi hal yang lumrah khususnya di lingkungan masyarakat kita.
Metode ini meskipun di mata jamaah merupakan metode yang bagus dan unik karena bisa menghibur tetapi toch banyak juga yang mengecam metode ini dengan berbagai alasan.’’Agama bukan barang lelucon,dan tidak perlu di bikin lelucon’’.Agama bukan sarana humor jadi humor dalam agama ‘’HARAM’’.
Sahabat,kita memang perlu norma maupun pedoman hidup dalam kehidupan ini namun kita juga butuh dengan yang namanya kelonggaran dalam bertindak.Saya pun menjadi khawatir jika agama di buat sedemikian ketat menguap di masjid pun akan di haramkan karena bertindak tidak sopan di rumah ‘’Allah SWT’’.
Menurut saya Lelucon dalam agama itu perlu karena saya tahu banyak temen-temen remaja muslim di daerahku enggan untuk pergi ke masjid hanya karena sang ustad setiap hari hanya bercerita tentang ancaman neraka saja,Islam itu agama/panutan hidup yang bagus namun jika penyampaian-nya kurang bagus maka secara otomatis juga kurang di terima dalam masyarakat.Bagi generasi tua ceramah model ancaman neraka mungkin hal yang lumrah karena jika kita hitung-hitung usia mereka akan lebih cepat menuju kepangkuan tuhan.Namun jika kita berdakwah kepada generasi muda mereka tidak akan bisa menerima sebuah ajaran agama yang hanya berisi ancaman,ancaman dan ancaman seakan-akan tuhan itu adalah sang maha kejam.Padahal kita juga tahu jika banyak ayat juga yang bercerita tentang sifat tuhan yang penuh lemah lembut dan kasih sayang kepada hambanya.
A’u dibaca angu, tidak bisa. Dzubi jadi dubi, tidak boleh. Khotbah lucu, jangan. Lho? Bukankah alam ini pun “khotbah” Tuhan? Langit selebar itu tanpa tiang, bulan bergayut tanpa cantelan dan aman, apa bukan “khotbah” maha jenaka? Apa salahnya humor dalam agama?
—————
Mohammad Sobary
Filed under: ARTIKEL-KU



