RELASI ANTARA ISLAM DAN KEBUDAYAAN

Ahmad Zain An Najah, MA *

Islam adalah agama yang diturunkan kepada manusia sebagai rohmat bagi alam semesta. Ajaran-ajarannya selalu membawa kemaslahatan bagi kehidupan manusia di dunia ini. Allah swt sendiri telah menyatakan hal ini, sebagaimana yang tersebut dalam ( QS Toha : 2 ) : “ Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kapadamu agar kam menjadi susah “. Artinya bahwa umat manusia yang mau mengikuti petunjuk Al Qur’an ini, akan dijamin oleh Allah bahwa kehidupan mereka akan bahagia dan sejahtera dunia dan akherat. Sebaliknya siapa saja yang membangkang dan mengingkari ajaran Islam ini, niscaya dia akan mengalami kehidupan yang sempit dan penuh penderitaan.

Ajaran-ajaran Islam yan penuh dengan kemaslahatan bagi manusia ini, tentunya mencakup segala aspek kehidupan manusia. Tidak ada satupun bentuk kegiatan yang dilakukan manusia, kecuali Allah telah meletakkan aturan-aturannya dalam ajaran Islam ini. Kebudayaan adalah salah satu dari sisi pentig dari kehidupan manusia, dan Islampun telah mengatur dan memberikan batasan-batasannya.Tulisan di bawah ini berusaha menjelaskan relasi antara Islam dan budaya. Walau singkat mudah-mudahan memberkan sumbangan dalam khazana pemikian Islam.

Arti dan Hakekat Kebudayaan

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia hal. 149, disebutkan bahwa: “ budaya “ adalah pikiran, akal budi, adat istiadat. Sedang “ kebudayaan” adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin ( akal budi ) manusia, seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat. Ahli sosiologi mengartikan kebudayaan dengan keseluruhan kecakapan ( adat, akhlak, kesenian , ilmu dll). Sedang ahli sejarah mengartikan kebudaaan sebagai warisan atau tradisi. Bahkan ahli Antropogi melihat kebudayaan sebagai tata hidup, way of life, dan kelakuan. Definisi-definisi tersebut menunjukkan bahwa jangkauan kebudayaan sangatlah luas. Untuk memudahkan pembahasan, Ernst Cassirer membaginya menjadi lima aspek : 1. Kehidupan Spritual 2. Bahasa dan Kesustraan 3. Kesenian 4. Sejarah 5. Ilmu Pengetahuan.

Aspek kehidupan Spritual, mencakup kebudayaan fisik, seperti sarana ( candi, patung nenek moyang, arsitektur) , peralatan ( pakaian, makanan, alat-alat upacara). Juga mencakup sistem sosial, seperti upacara-upacara ( kelahiran, pernikahan, kematian )

Adapun aspek bahasa dan kesusteraan mencakup bahasa daerah, pantun, syair, novel-novel.

Aspek seni dapat dibagi menjadi dua bagian besar yaitu ; visual arts dan performing arts, yang mencakup ; seni rupa ( melukis), seni pertunjukan ( tari, musik, ) Seni Teater ( wayang ) Seni Arsitektur ( rumah,bangunan , perahu ). Aspek ilmu pengetahuan meliputi scince ( ilmu-ilmu eksakta) dan humanities ( sastra, filsafat kebudayaan dan sejarah ).

Hubungan Islam dan Budaya

Untuk mengetahui sejauh mana hubungan antara agama ( termasuk Islam ) dengan budaya, kita perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini : mengapa manusia cenderung memelihara kebudayaan, dari manakah desakan yang menggerakkan manusia untuk berkarya, berpikir dan bertindak ? Apakah yang mendorong mereka untuk selalu merubah alam dan lingkungan ini menjadi lebih baik ?

Sebagian ahli kebudayaan memandang bahwa kecenderungan untuk berbudaya merupakan dinamik ilahi. Bahkan menurut Hegel, keseluruhan karya sadar insani yang berupa ilmu, tata hukum, tatanegara, kesenian, dan filsafat tak lain daripada proses realisasidiri dari roh ilahi. Sebaliknya sebagian ahli, seperti Pater Jan Bakker, dalam bukunya “Filsafat Kebudayaan” menyatakan bahwa tidak ada hubungannya antara agama dan budaya, karena menurutnya, bahwa agama merupakan keyakinan hidup rohaninya pemeluknya, sebagai jawaban atas panggilan ilahi. Keyakinan ini disebut Iman, dan Iman merupakan pemberian dari Tuhan, sedang kebudayaan merupakan karya manusia. Sehingga keduanya tidak bisa ditemukan. Adapun menurut para ahli Antropologi, sebagaimana yang diungkapkan oleh Drs. Heddy S. A. Putra, MA bahwa agama merupakan salah satu unsur kebudayaan. Hal itu, karena para ahli Antropologi mengatakan bahwa manusia mempunyai akal-pikiran dan mempunyai sistem pengetahuan yang digunakan untuk menafsirkan berbagai gejala serta simbol-simbol agama. Pemahaman manusia sangat terbatas dan tidak mampu mencapai hakekat dari ayat-ayat dalam kitab suci masing- masing agama. Mereka hanya dapat menafsirkan ayat-ayat suci tersebut sesuai dengan kemampuan yang ada.

Di sinilah, , bahwa agama telah menjadi hasil kebudayaan manusia. Berbagai tingkah laku keagamaan, masih menurut ahli antropogi,bukanlah diatur oleh ayat- ayat dari kitab suci, melainkan oleh interpretasi mereka terhadap ayat-ayat suci tersebut.

Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa para ahli kebudayaan mempunyai pendapat yang berbeda di dalam memandang hubungan antara agama dan kebudayaan. Kelompok pertama menganggap bahwa Agama merupakan sumber kebudayaaan atau dengan kata lain bahwa kebudayaan merupakan bentuk nyata dari agama itu sendiri. Pendapat ini diwakili oleh Hegel. Kelompok kedua, yang di wakili oleh Pater Jan Bakker, menganggap bahwa kebudayaan tidak ada hubungannya sama sekali dengan agama. Dan kelompok ketiga, yeng menganggap bahwa agama merupakan bagian dari kebudayaan itu sendiri.

Untuk melihat manusia dan kebudayaannya, Islam tidaklah memandangnya dari satu sisi saja. Islam memandang bahwa manusia mempunyai dua unsur penting, yaitu unsur tanah dan unsur ruh yang ditiupkan Allah kedalam tubuhnya. Ini sangat terlihat jelas di dalam firman Allah Qs As Sajdah 7-9 : “ ( Allah)-lah Yang memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian Dia menciptakan keturunannya dari saripati air yan hina ( air mani ). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam ( tubuh )-nya roh ( ciptaan)-Nya “

Selain menciptakan manusia, Allah swt juga menciptakan makhluk yang bernama Malaikat, yang hanya mampu mengerjakan perbuatan baik saja, karena diciptakan dari unsur cahaya. Dan juga menciptakan Syetan atau Iblis yang hanya bisa berbuat jahat , karena diciptkan dari api. Sedangkan manusia, sebagaimana tersebut di atas, merupakan gabungan dari unsur dua makhluk tersebut.

Dalam suatu hadits disebutkan bahwa manusia ini mempunyai dua pembisik ; pembisik dari malaikat , sebagi aplikasi dari unsur ruh yang ditiupkan Allah, dan pembisik dari syetan, sebagai aplikasi dari unsur tanah. Kedua unsur yang terdapat dalam tubuh manusia tersebut, saling bertentangan dan tarik menarik. Ketika manusia melakukan kebajikan dan perbuatan baik, maka unsur malaikatlah yang menang, sebaliknya ketika manusia berbuat asusila, bermaksiat dan membuat kerusakan di muka bumi ini, maka unsur syetanlah yang menang. Oleh karena itu, selain memberikan bekal, kemauan dan kemampuan yang berupa pendengaran, penglihatan dan hati, Allah juga memberikan petunjuk dan pedoman, agar manusia mampu menggunakan kenikmatan tersebut untuk beribadat dan berbuat baik di muka bumi ini.

Allah telah memberikan kepada manusia sebuah kemampuan dan kebebasan untuk berkarya, berpikir dan menciptakan suatu kebudayaan. Di sini, Islam mengakui bahwa budaya merupakan hasil karya manusia. Sedang agama adalah pemberian Allah untuk kemaslahatan manusia itu sendiri. Yaitu suatu pemberian Allah kepada manusia untuk mengarahkan dan membimbing karya-karya manusia agar bermanfaat, berkemajuan, mempunyai nilai positif dan mengangkat harkat manusia. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu beramal dan berkarya, untuk selalu menggunakan pikiran yang diberikan Allah untuk mengolah alam dunia ini menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kepentingan manusia. Dengan demikian, Islam telah berperan sebagai pendorong manusia untuk “ berbudaya “. Dan dalam satu waktu Islamlah yang meletakkan kaidah, norma dan pedoman. Sampai disini, mungkin bisa dikatakan bahwa kebudayaan itu sendiri, berasal dari agama. Teori seperti ini, nampaknya lebih dekat dengan apa yang dinyatakan Hegel di atas.

Sikap Islam terhadap Kebudayaan

Islam, sebagaimana telah diterangkan di atas, datang untuk mengatur dan membimbing masyarakat menuju kepada kehidupan yang baik dan seimbang. Dengan demikian Islam tidaklah datang untuk menghancurkan budaya yang telah dianut suatu masyarakat, akan tetapi dalam waktu yang bersamaan Islam menginginkan agar umat manusia ini jauh dan terhindar dari hal-hal yang yang tidak bermanfaat dan membawa madlarat di dalam kehidupannya, sehingga Islam perlu meluruskan dan membimbing kebudayaan yang berkembang di masyarakat menuju kebudayaan yang beradab dan berkemajuan serta mempertinggi derajat kemanusiaan.

Prinsip semacam ini, sebenarnya telah menjiwai isi Undang-undang Dasar Negara Indonesia, pasal 32, walaupun secara praktik dan perinciannya terdapat perbedaan-perbedaan yang sangat menyolok. Dalam penjelasan UUD pasal 32, disebutkan : “ Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri, serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Idonesia “.

Dari situ, Islam telah membagi budaya menjadi tiga macam :

Pertama : Kebudayaan yang tidak bertentangan dengan Islam.

Dalam kaidah fiqh disebutkan : “ al adatu muhakkamatun “ artinya bahwa adat istiadat dan kebiasaan suatu masyarakat, yang merupakan bagian dari budaya manusia, mempunyai pengaruh di dalam penentuan hukum. Tetapi yang perlu dicatat, bahwa kaidah tersebut hanya berlaku pada hal-hal yang belum ada ketentuannya dalam syareat, seperti ; kadar besar kecilnya mahar dalam pernikahan, di dalam masyarakat Aceh, umpamanya, keluarga wanita biasanya, menentukan jumlah mas kawin sekitar 50-100 gram emas. Dalam Islam budaya itu syah-syah saja, karena Islam tidak menentukan besar kecilnya mahar yang harus diberikan kepada wanita. Menentukan bentuk bangunan Masjid, dibolehkan memakai arsitektur Persia, ataupun arsitektur Jawa yang berbentuk Joglo.

Untuk hal-hal yang sudah ditetapkan ketentuan dan kreterianya di dalam Islam, maka adat istiadat dan kebiasaan suatu masyarakat tidak boleh dijadikan standar hukum. Sebagai contoh adalah apa yang di tulis oleh Ahmad Baaso dalam sebuah harian yang menyatakan bahwa menikah antar agama adalah dibolehkan dalam Islam dengan dalil “ al adatu muhakkamatun “ karena nikah antar agama sudah menjadi budaya suatu masyarakat, maka dibolehkan dengan dasar kaidah di atas. Pernyataan seperti itu tidak benar, karena Islam telah menetapkan bahwa seorang wanita muslimah tidak diperkenankan menikah dengan seorang kafir.

Kedua : Kebudayaan yang sebagian unsurnya bertentangan dengan Islam , kemudian di “ rekonstruksi” sehingga menjadi Islami.Contoh yang paling jelas, adalah tradisi Jahiliyah yang melakukan ibadah haji dengan cara-cara yang bertentangan dengan ajaran Islam , seperti lafadh “ talbiyah “ yang sarat dengan kesyirikan, thowaf di Ka’bah dengan telanjang. Islam datang untuk meronstruksi budaya tersebut, menjadi bentuk “ Ibadah” yang telah ditetapkan aturan-aturannya. Contoh lain adalah kebudayaan Arab untuk melantukan syair-syair Jahiliyah. Oleh Islam kebudayaan tersebut tetap dipertahankan, tetapi direkonstruksi isinya agar sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Ketiga: Kebudayaan yang bertentangan dengan Islam.

Seperti, budaya “ ngaben “ yang dilakukan oleh masyarakat Bali. Yaitu upacara pembakaran mayat yang diselenggarakan dalam suasana yang meriah dan gegap gempita, dan secara besar-besaran. Ini dilakukan sebagai bentuk penyempurnaan bagi orang yang meninggal supaya kembali kepada penciptanya. Upacara semacam ini membutuhkan biaya yang sangat besar. Hal yang sama juga dilakukan oleh masyarakat Kalimantan Tengah dengan budaya “tiwah“ , sebuah upacara pembakaran mayat. Bedanya, dalam “ tiwah” ini dilakukan pemakaman jenazah yang berbentuk perahu lesung lebih dahulu. Kemudian kalau sudah tiba masanya, jenazah tersebut akan digali lagi untuk dibakar. Upacara ini berlangsung sampai seminggu atau lebih. Pihak penyelenggara harus menyediakan makanan dan minuman dalam jumlah yang besar , karena disaksikan oleh para penduduk dari desa-desa dalam daerah yang luas. Di daerah Toraja, untuk memakamkan orang yan meninggal, juga memerlukan biaya yang besar. Biaya tersebut digunakan untuk untuk mengadakan hewan kurban yang berupa kerbau. Lain lagi yang dilakukan oleh masyarakat Cilacap, Jawa tengah. Mereka mempunyai budaya “ Tumpeng Rosulan “, yaitu berupa makanan yang dipersembahkan kepada Rosul Allah dan tumpeng lain yang dipersembahkan kepada Nyai Roro Kidul yang menurut masyarakat setempat merupakan penguasa Lautan selatan ( Samudra Hindia ).

Hal-hal di atas merupakan sebagian contoh kebudayaan yang bertentangan dengan ajaran Islam, sehingga umat Islam tidak dibolehkan mengikutinya. Islam melarangnya, karena kebudayaan seperti itu merupakan kebudayaan yang tidak mengarah kepada kemajuan adab, dan persatuan, serta tidak mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia, sebaliknya justru merupakan kebudayaan yang menurunkan derajat kemanusiaan. Karena mengandung ajaran yang menghambur-hamburkan harta untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan menghinakan manusia yang sudah meninggal dunia.

Dalam hal ini al Kamal Ibnu al Himam, salah satu ulama besar madzhab hanafi mengatakan : “ Sesungguhnya nash-nash syareat jauh lebih kuat daripada tradisi masyarakat, karena tradisi masyarakat bisa saja berupa kebatilan yang telah disepakati, seperti apa yang dilakukan sebagian masyarakat kita hari ini, yang mempunyai tradisi meletakkan lilin dan lampu-lampu di kuburan khusus pada malam- malam lebaran. Sedang nash syareat, setelah terbukti ke-autentikannya, maka tidak mungkin mengandung sebuah kebatilan. Dan karena tradisi, hanyalah mengikat masyarakat yang menyakininya, sedang nash syare’at mengikat manusia secara keseluruhan., maka nash jauh lebih kuat. Dan juga, karena tradisi dibolehkan melalui perantara nash, sebagaimana yang tersebut dalam hadits : “ apa yang dinyatakan oleh kaum muslimin baik, maka sesuatu itu baik “

Dari situ, jelas bahwa apa yang dinyatakan oleh Dr. Abdul Hadi WM, dosen di Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina, Jakarta, bahwa Islam tidak boleh memusuhi atau merombak kultur lokal, tapi harus memposisikannya sebagai ayat-ayat Tuhan di dunia ini atau fikih tidak memadai untuk memahami seni, adalah tidak benar.

Wallhttp://ahmadzain.wordpress.com/2006/12/08/relasi-antara-islam-dan-kebudayaan/ahu a’lam

Islam, Relativisme Budaya dan Toleransi Beragama

Oleh: A Fatih Syuhud

Ketika dewasa ini nilai-nilai dan norma-norma yang korup telah merasuk dalam sistem sosial kita, maka apa yang disebut dengan budaya Islam menjadi buram. Sikap dan tindak-tanduk kita tidak lagi sama dengan nenek moyang kita pada beberapa abad yang lalu. Padahal Islam dapat menyebar dengan cepat dan saat ini Islam menjadi agama kedua terbesar di dunia semata-mata karena sikap dan perilaku keteladanan yang dilakukan dan ditampakkan oleh umat Islam masa lalu. Sebaliknya kita lihat dewasa ini pelanggaran besar terhadap dimensi utama budaya Islam banyak dilakukan oleh umat.

Pada masyarakat kontemporer saat ini, kita agaknya lebih memfokuskan diri pada norma daripada nilai-nilai. Kita lebih terfokus pada perintah dan larangan dan kurang akan nilai-nilai (values). Kultur Islam telah meletakkan fondasi norma dan nilai-nilai, tetapi sebagaimana dikatakan di muka, kita kurang mendapat informasi atau penjelasan tentang nilai-nilai yang begitu esensial dalam rangka menjamin kehormatan dan harga diri kehidupan umat manusia dalam interaksi sosial keseharian kita. Memahami aspek-aspek kognitif dan normatif budaya merupakan dasar untuk memahami kultur dan budaya Islami. Tetapi, terdapat dua dimensi budaya yang memerlukan sedikitnya perhatian singkat kita, yakni integrasi kultur dan relativisme budaya. Ini akan memungkinkan kita untuk memahami bagaimana kultur dapat dipengaruhi oleh kompleksitas masyarakat modern.Integrasi Budaya

Sejumlah sarjana mengatakan bahwa kultur adalah sebuah ‘sistem yang tertata (ordered)’. Ia memiliki banyak unsur-unsur budaya. Dalam masyarakat Islam yang kecil pada masa lalu, kepercayaan agama dan nilai-nilai kekeluargaan terjalin jadi satu dalam tindak tanduk para pemeluk Islam. Hubungan sosial antara orang-orang yang beragama dengan orang biasa terpadu harmonis. Masyarakat Islam secara keseluruhan terintegrasi dengan baik dengan sedikit terjadi adanya friksi dan ketegangan dalam hidup keseharian. Akan tetapi dewasa ini pengaruh-pengaruh kultur modern telah mengarah pada kehidupan yang kurang integratif antara sesama muslim, dan ini terjadi juga pada masyarakat dari agama lain. Tingkat perubahan sosial yang relatif cepat dan adanya kompleksitas serta ukuran struktur sosial menimbulkan banyak terjadinya inkonsistensi dan sejumlah ketegangan. Tidak jarang terjadi sikap yang kurang toleran dan kurangnya saling memahami antara masyarakat secara umum. Umat Islam tidak terkecuali dalam hal ini. Adalah mustahil kita dapat memiliki budaya yang seragam untuk umat Islam seluruh dunia. Alasan yang sederhana untuk ini adalah lingkungan sosial di mana anak-anak muslim bersosialiasi; sedang kalangan muslim dewasa bersosialisasi kembali membentuk berbagai variasi yang beragam antara satu tempat dengan tempat yang lain.

Relativisme Budaya

Ketidakseimbangan sosial ini perlu dikoreksi. Dengan kata lain, dalam rangka untuk mengimbangi sikap intoleransi dan kecilnya saling pengertian yang ditunjukkan masyarakat pada kultur lain, maka terdapat ide dan argumen akan perlunya kita menyadari adanya relativitas budaya di kalangan umat Islam. Relativisme budaya menekankan pada adanya fakta bahwa seluruh kultur manusia pada dasarnya sah dan legitimate dan masing-masing memiliki integritas esensialnya sendiri; setiap budaya dikembangkan oleh perjuangan manusia untuk menciptakan sebuah kehidupan simbolik dalam keadaan-keadaan yang dibatasi oleh lingkungan alam. Karena bersifat selalu berbeda satu sama lain, maka dengan sendirinya tidak ada satupun budaya yang mesti jadi preferensi. Preferensi kita, tentunya masing-masing dari kita memiliki preferensi, hanyalah membuktikan bahwa nilai-nilai dan pilihan-pilihan kita telah dibentuk oleh budaya kita sendiri. Karena itu, dari perspektif relativisme budaya sikap dan perilaku manusia dalam sebuah masyarakat harus dinilai dengan standar kultural masyarakat yang bersangkutan, tidak oleh standar yang lain.

Satu hal yang mesti dicatat bahwa kita cenderung menjadi etnosentris ketika memberi penilaian terhadap masyarakat dan budaya lain dengan standar norma-norma dan budaya kita sendiri. Kita memiliki kecenderungan untuk percaya bahwa apa yang kita tahu dan terima adalah yang terbaik, dan apa yang tampak berbeda dan aneh adalah tidak berguna dan inferior. Sikap ini mungkin kurang tepat. Muslim yang tinggal di tempat, daerah atau negara yang berbeda tidak dapat dan tidak memiliki kultur yang sama. Muslim di suatu negara atau daerah hendaknya tidak jadi wasit penilai terhadap perilaku muslim di negara atau daerah lain dengan mengatakan bahwa mereka lebih superior dibanding yang lain. Hal yang paling esensial adalah mandat Islam pada kita untuk memelihara perilaku kultural utama yang khusus hendaknya tidak dilanggar.

Sebagai salah satu jalan untuk menentang sikap sempit etnosentrisme, relativisme budaya dapat membebaskan dan dapat menghindari konflik dan ketegangan kecil antar-umat yang tidak perlu. Ia dapat membebaskan kita dari ketidakpedulian dan arogansi pola pemikiran bahwa budaya dan nilai-nilai yang kita anut adalah yang terbaik. Relativisme budaya mengajarkan kita berbagai cara untuk menjadi manusia beradab yang telah diciptakan dan dielaborasi, dinilai dan dipertahankan, sepanjang evolusi umat manusia.

Cara-cara yang dilakukan Islam, sepanjang sejarah penyebarannya, adalah untuk memahami. Sedang mempraktikkan relativisme budaya merupakan contoh terbaik dalam kehidupan antar-umat beragama dalam teori dan praktik. Islam tidak mengijinkan pemaksaan budayanya pada yang lain. Islam tidak membolehkan penghakiman atas nilai-nilai yang dianut orang lain. Islam hanya mengatakan kalian ikuti apa yang terbaik yang sesuai untuk umat manusia biasa, tanpa mengganggu rasa sentimen yang lain.

Dalam konteks lokal keindonesiaan, di mana pola perikehidupan beragama sangat beragam dan plural termasuk antar-sesama umat Islam sendiri, relativisme budaya saya kira merupakan salah satu cara terbaik untuk menuju sikap hikmah (wisdom) atau arif dan bijak dalam melihat perbedaan-perbedaan ‘kecil’ yang, suka atau tidak suka, sudah terjadi dan, dengan demikian, menjadi realitas kehidupan keseharian. Sikap ini tentu saja juga menyangkut cara pandang kita terhadap para pengikut agama lain.[]

http://afatih.wordpress.com/2005/10/27/islam-relativisme-budaya-dan-toleransi-beragama/

Potret Islam dalam Budaya Modern

Kamis, 05 Oktober 2006 | 14:30 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta :P erbincangan di Restoran Indus, Ubud, Senin siang lalu, berlangsung menarik. Pengunjung yang hadir dalam salah satu acara diskusi pada ajang Festival Ubud Writers 2006 tersebut membeludak dan didominasi pengunjung asal luar negeri.

Tema yang diusung memang merupakan salah satu masalah krusial yang tengah dihadapi dunia saat ini, yakni “Memahami Islam dalam Dunia Modern”. Para pembicara merupakan para penulis muslim dari berbagai negara.

Sejak awal diskusi yang dipandu penulis asal Inggris, William Dalrymple, ini menarik minat pengunjung. Apalagi salah seorang pembicara asal Inggris, Ziauddin Sardar, memprotes pertanyaan yang diajukan Dalrymple mengenai pandangan masyarakat Barat bahwa umat Islam sama sekali tidak modern.

“Asalkan Anda tahu, Eropa bisa maju seperti saat ini berkat Islam,” kata penulis buku laris Why Do People Hate America? dan Desperately Seeking Paradise ini. Menurut Sardar, Islam jelas telah memberi warisan humanisme, keterbukaan, ilmu pengetahuan, filsafat, seni, serta kesusastraan, yang saat ini dinikmati masyarakat Barat.

Sejak dahulu, kata Sardar, Islam memiliki dasar kepercayaan bahwa individu bebas untuk berbicara dan berargumentasi. “Bila saat ini kondisi umat Islam terlihat stagnan, itu karena mereka sudah lupa bagaimana berargumentasi ataupun melakukan kritik ke dalam,” kata Sardar.

Munculnya radikalisme di kalangan kaum muda Islam dunia, menurut Sardar, berasal dari banyak faktor. Kebijakan luar negeri bangsa Barat yang sangat tidak adil adalah salah satu di antaranya. “Banyak anak muda yang marah karena kerusakan dan kehancuran yang terjadi di berbagai negara dengan mayoritas penduduk muslim akibat kebijakan tersebut,” katanya.

Selain itu, Sardar menambahkan, kaum radikal Islam tidak mengenal perbedaan karena hal inilah yang langsung mereka adopsi dari negara-negara Barat. Mereka, Sardar melanjutkan, merasa memiliki kebenaran dan menganggap diri mereka yang menganut Islam paling baik. “Hal itu terjadi salah satunya karena modernitas yang dipaksakan Barat pada umat muslim. Mereka mulai sadar bahwa mereka juga dapat menentukan apa yang akan mereka lakukan dalam hidup mereka sendiri,” katanya dengan tegas.

Pendapat ini juga diiyakan penyair asal Tasikmalaya, Indonesia, Acep Zam-Zam Noor. Islam di Indonesia, menurut Acep, sebenarnya merupakan agama yang plural dan toleran. Hal ini, menurut peraih penghargaan The SEA Writers Award dari Kerajaan Thailand pada 2004 tersebut, karena Islam di Indonesia banyak di bawah pengaruh pesantren dan kiai yang mengajarkan Islam dengan kebudayaan. “Kami menghafal nama-nama Tuhan dengan bernyanyi. Mengajarkan Islam pada anak-anak pun dengan pendekatan permainan agar lebih dapat diterima,” tuturnya. Islam, bagi Acep, adalah agama yang santai dan bergembira.

Namun, fenomena munculnya gejala radikalisasi Islam, menurut Direktur Sanggar Sastra Tasik ini, karena pengajaran Islam yang diberikan hanya dalam dua minggu dan begitu selesai mereka merasa yang paling benar pemahaman tentang agamanya. Apalagi saat ini ia menengarai begitu banyak kelompok militan yang menggunakan Islam hanya sekadar sebagai kekuatan politik dan barang dagangan belaka.

Ketiga pembicara, termasuk penulis muslim asal Malaysia, Dina Zaman, mengaku cukup optimistis dengan perkembangan Islam di masa datang. Salah satu solusi yang ditawarkan Acep adalah mendekatkan Islam dengan budaya. Saat ini, untuk melawan gerakan radikalisasi di Tasikmalaya, Acep mendeklarasikan Islam Santai. Agar wajah Islam dalam masyarakat adalah wajah yang ramah dan santun.

http://www.tempointeraktif.com/hg/budaya/2006/10/05/brk,20061005-85467,id.html

BĀB I

PENGARUH POLITIK DAN PERADABAN TERHADAP SENI UMAT ISLAM

Sejak kejatuhan politik dan peradaban Islam yang terjadi pada abad XIX Masehi, politik Barat telah mempengaruhi dan menguasai umat Islam. Banyak negeri-negeri Islam yang tadinya dijajah menjadi bekas jajahan kekuasaan Barat. Melalui pola dominasi Barat di kalangan umat Islam tersebut maka tidak mengherankan bila pengaruh sosio budaya Barat mulai menyusup ke tengah-tengah kaum Muslimīn, terutama pada masyarakat Islam yang dijajah secara langsung oleh negara-negara adikuasa.

Sebagaimana kita ketahui, ciri khas peradaban Barat adalah sekulerrisme. Mereka memisahkan kebudayaan dan adat istiadat bangsa dengan agama. Walaupun sekulerisme ini sangat bertentangan dengan ‘aqīdah, kebudayaan dan peradaban Islam namun nyatanya sistem ini telah tumbuh dan berkembang di kalangan kaum Muslimīn. Pertumbuhan ini terjadi melalui akulturasi kebudayaan Barat dengan kebudayaan Islam. Negara-negara penjajah memang telah berhasil diusir oleh kaum Muslimīn dengan gemilang namun kebudayaan dan peradabannya mereka tinggalkan. Proses sekulerisme pun masih berlanjut di kalangan umat Islam sampai sepuluh tahun terakhir dari abad ke XX ini disebabkan oleh adalahnya media massa dan lembaga-lembaga pendidikan yang berasaskan sekulerisme.

1. AKULTURASI KEBUDAYAAN BARAT – ISLAM.

Jatuhnya peradaban dan kebudayaan Islam setelah diakulturasikan antara kebudayaan Barat dengan kebudayaan umat Islam membuahkan sekulerisme dunia Islam. Karenanya tidak mengherankan bila sekarang ini kita dapat menemukan dengan amat mudah akibat-akibat yang ditimbulkannya, antara lain sebagai berikut:

A.  Kebudayaan yang diterapkan di dunia Islam sekarang ini telah tercemar dalam kondisi cukup parah oleh kebudayaan Barat, dan lebih parahnya lagi kebudayaan itu dijadikan sebagai konsepsi kebudayaan umat Islam.

B.  Masyarakat kaum Muslimīn telah menjauhi konsepsi masyarakat Islam yang dulu berdasarkan ‘aqīdah, ide-ide, jiwa dan peraturan Islam. Sekarang ini mereka lebih mirip dengan masyarakat Eropa, Amerika, Rusia dan Cina daripada masyarakat Islam.

C.  Prinsip-prinsip sosio budaya yang dipratekkan oleh umat Islam telah jauh dari prinsip-prinsip sosio budaya Islam, baik dari segi hubungan antara qaum pria maupun wanitanya. Demikian pula halnya dengan segi-segi hiburan, kesenian, peragaan, busana ataupun bentuk-bentuk bangunan (arsitektur).

D.  Dengan semakin giatnya akulturasi dalam bidang kesenian, seni umat Islam telah diwarnai oleh kesenian Barat yang sekularistik. Dengan demikian semakin banyaklah karya seni kaum Muslimīn sā‘at ini yang berlawanan dengan konsepsi seni Islam.

2.  PENGERTIAN MASYARAKAT DUNIA TERHADAP SENI.

Dalam perjalanan sejarah, boleh dikatakan pada setiap masa orang selalu bertanya tentang apa dan bagaimana bentuk seni itu. Para filsuf sejak masa peradaban Yunani sampai sekarang telah memberikan beragam definisi. Dalam kesempatan ini kami paparkan salah satu definisi yang dapat dianggap global dan menyeluruh.

Dari ENSIKLOPEDI INDONESIA (lihat “Ensiklopedi Indonesia” PT. Ikhtiar Baru – Van Hoeve, Jakarta. Jilid V halaman 3080 dan 3081). dipetik bahwa definisi seni yaitu penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam jiwa manusia, dilahirkan dengan perantaraan alat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indera pendengar (seni suara), penglihatan (seni lukis), atau dilahirkan dengan perantaraan gerak (seni tari, drama).

Dalam pembahasan “Seri Buku Seni I” ini kami hanya akan memaparkan secara terbatas beberapa jenis seni estetika (Seni estetika adalah seni halus (fine art) yang meliputi seni lukis, pahat, bina tari, musik, pentas, film, dan kesusasteraan. Pengertian halus di sini karena ia mewujūdkan melalui perasaan) yaitu seni musik, seni suara, dan seni tari (Seri buku berikutnya Insyā’ Allāh akan dibahas masalah seni panggung yang berupa sandiwara, tonil, opera, pantom, teather, selain juga akan dibahas pada seri-seri berikutnya berupa seni pahat, seni halus, dan seterusnya).

1.  SENI MUSIK.

Seni musik (instrumental art) adalah bidang seni yang berhubungan dengan alat-alat musik dan irama yang keluar dari alat musik tersebut. Bidang ini membahas cara menggunakan instrumen musik. Masing-masing alat musik memiliki nada tertentu. Di samping itu seni musik, misalnya musik vokal dan musik instrumentalia.

Seni musik dapat disatukan dengan seni instrumental atau seni vokal. Seni instrumentalia adalah seni suara yang diperdengarkan melalui media alat-alat musik, sedangkan seni vokal adalah melagukan syair yang hanya dinyanyikan dengan perantaraan oral (suara saja) tanpa iringan intrusmen musik.

2.  SENI PENDENGARAN.

Seni pendengaran (auditory art) adalah bidang seni yang menggunakan suara (vokal maupun instrumental) sebagai medium pengutaraan, baik dengan alat-alat tunggal (biola, piano dll) maupun dengan alat majemuk seperti orkes simponi, band, juga lirik puisi berirama atau prosa yang tidak berirama, serta perpaduan nada dan kata seperti lagu asmara, qashīdah dan tembang (jawa). Seni inilah yang menjadi topik bahasan.

3.  SENI TARI.

Seni tari adalah seni menggerakkan tubuh secara berirama dengan iringan musik. Gerakannya dapat sekadar dinikmati sendiri, merupakan ekspresi suatu gagasan atau emosi, dan cerita (kisah). Seni tari juga digunakan untuk mencapai ekskatase (semacam mabuk atau tak sadar diri) bagi yang melakukannya.

Dari zaman dahulu, seni tari telah memainkan peranan penting dalam upacara kerajaan, di kalangan masyarakat maupun individu. Seni tari merupakan akar tari Barat yang populer pada masa kini. Bangsa-bangsa primitif bahkan percaya pada daya magis tari, seperti tampak pada tari KESUBURAN dan HUJAN, tari EKSORSISME (JAWA: RUWATAN), tari Perburuan dan Perang. Begitu pula halnya tarian tradisional Asia Timur yang hampir seluruhnya bersumber dari keagamaan walaupun ada juga yang bersifat sosial. Selain itu ada pula tarian komunal (folk dance) yang umumnya berbentuk tarian ra‘yat (atau kreasi baru). Biasanya tarian seperti ini dijadikan sebagai perlambang kekuatan kerjasama secara kelompok dan sebagai perwujūdan saling hormat-menghormati. Semua itu didasari oleh tradisi-tradisi masyarakat.

Seni tari modern lebih mengutamakan keindahan dan irama gerak dengan fokus hiburan. Seni sekarang berbeda halnya dengan tarian abad-abad sebelumnya, seperti balet, tapdans, ketoprak atau sendra tari. Gaya tarian abad XX kini berkembang dengan irama-irama musik POP SINGKOPIK, misalnya dansa CHA-CHA-CHA, TOGO, SOUL, TWIST dan yang akhir-akhir ini menggejala adalah BREAKDANCE, dan DISKO. Kedua tarian ini mempunyai gerakan yang “menggila” dan banyak digandrungi kawula muda.

http://seni.musikdebu.com/babI.htm

pdflost.com/…/pengertian_budaya_menurut_islam.htmlAmerika Serikat

Ayat Budaya Islam

 

Culture is defined as a people’s complete way of life. Budaya didefinisikan sebagai cara menyelesaikan orang-orang hidup. It consists of all the ideas, objects and ways of doing things created by the group. Ini terdiri dari semua ide, objek dan cara melakukan sesuatu diciptakan oleh kelompok tersebut. Culture includes beliefs, customs, language and traditions (World Book Encyclopaedia). Budaya termasuk kepercayaan, kebiasaan, bahasa dan tradisi (World Book Encyclopaedia).

While there are numerous cultures and subcultures present in the world, of primary concern to us in this discussion are the two main opposing cultures in present-day society. Walaupun ada banyak budaya dan subkultur hadir di dunia, yang menjadi perhatian utama kami dalam diskusi ini adalah dua budaya yang berlawanan utama dalam masyarakat masa kini. One is the culture of Islam — the “complete way of life” set forth in the Qur’an and Sunnah. Salah satunya adalah budaya Islam – cara “hidup yang lengkap” yang tercantum dalam Al-Qur’an dan Sunnah. On the other opposing end is the Western culture. Di akhir menentang lainnya adalah budaya Barat. Both cultures present a “complete way of life.” However, both ways of life differ drastically. Kedua budaya ini cara “hidup yang lengkap” Namun., Baik cara hidup berbeda secara drastis.

The difference in the two cultures stems primarily from the source of the cultures. Perbedaan dalam dua budaya terutama berasal dari sumber budaya. Islamic culture — the way of life of a Muslim — is defined by the Qur’an and Sunnah. budaya Islam – cara hidup seorang Muslim – didefinisikan oleh Al-Qur’an dan Sunnah. It is the culture of Rasulullah (Sallallahu Alaihi Wasallam). Ini adalah budaya Rasulullah (Sallallahu alaihi Wasallam). It is that way of life upon which he established the Sahaaba (RA) after having turned them away from the culture of jahiliyyah (ignorance). Ini adalah cara hidup di mana Ia mendirikan Sahaaba (RA), setelah berubah mereka dari budaya jahiliyyah (kebodohan).

On the other hand, Western culture is fashioned by a host of people; Capitalists, atheists, people who believe in same-gender marriages and others of a similar nature. Di sisi lain, kebudayaan Barat dibentuk oleh sejumlah orang, kapitalis, ateis, orang-orang yang percaya dalam pernikahan yang sama-jenis kelamin dan lainnya yang sifatnya serupa. Such people determine the decadent culture of the West. Orang-orang seperti menentukan budaya dekaden dari Barat.

NO FLIRTATIOUS INTENT NO INTENT genit

The cornerstone of Islamic culture is morality (hayaa)and simplicity. Landasan kebudayaan Islam adalah moralitas (hayaa) dan kesederhanaan. Hayaa (morality / modesty) and simplicity are both qualities of Imaan. Hayaa (moralitas / kerendahan hati) dan kesederhanaan yang baik kualitas Imaan. Thus the true Islamic society upholds the highest levels of morality and maintains simplicity in every aspect. Dengan demikian masyarakat Islam sejati menjunjung tinggi tingkat tertinggi moralitas dan menjaga kesederhanaan dalam setiap aspek. Some of the salient features of this society are: Beberapa fitur yang menonjol dari masyarakat ini adalah:

  • No free intermingling between non-mahram (those who are not forbidden to marry) males and females. Tidak pembauran bebas antara non-mahram (orang-orang yang tidak dilarang untuk menikah) laki-laki dan perempuan. The laws of Hijaab will be observed. Hukum Hijaab akan diamati.
  • Modest dressing. Berpakaian sederhana. Clothing will truly cover the body (also loose enough to cover the shape) and have no flirtatious intent. Busana benar-benar akan menutup tubuh (juga cukup longgar untuk menutup bentuk) dan tidak memiliki niat genit.
  • Men and women will fulfil the separate roles that have been apportioned to them — the husband as breadwinner and the wife as mother and one who fulfils the household responsibilities, etc. This is the foundation to a stable Islamic family which together with other such families forms a stable Islamic community. Pria dan wanita akan memenuhi peran terpisah yang telah dibagikan kepada mereka – suami sebagai pencari nafkah dan istri sebagai ibu dan orang yang memenuhi tanggung jawab rumah tangga, dll Hal ini merupakan dasar dari sebuah keluarga Islam yang stabil yang bersama-sama dengan bentuk-bentuk keluarga seperti lainnya komunitas Islam yang stabil.

Contrary to this, the cornerstone of Western culture is immorality and extravagance. Bertentangan dengan ini, landasan budaya Barat adalah imoralitas dan pemborosan. The “live-in” culture where a couple live like man and wife but never marry — is almost the norm. The “live-in” budaya di mana pasangan hidup seperti suami-istri tapi tidak pernah menikah – hampir norma. While there are numerous aspects that highlight the immorality of Western culture, perhaps the most visible and marked expression of this culture is in it’s dressing. Walaupun ada banyak aspek yang menyoroti budaya amoralitas Barat, mungkin yang paling terlihat dan ditandai ekspresi budaya ini di dalamnya rias. Shorter, tighter and more revealing is the rule by which the dress code keeps changing. Lebih pendek, ketat dan lebih mengungkapkannya adalah pemerintahan oleh kode gaun yang terus berubah. Western clothing, instead of covering and distracting any wrongful glances, is by and large designed for flirting, attracting and arousing. pakaian Barat, bukan meliputi dan mengganggu setiap melirik salah, adalah dengan dan besar yang dirancang untuk menggoda, menarik dan membangkitkan.

As for simplicity in Western culture, it is almost a kind of tragedy. Seperti untuk kesederhanaan dalam budaya Barat, hampir semacam tragedi. Since the poor fellow cannot afford to indulge in anything extravagant, hence merely due to circumstances, he is forced to adopt a simple lifestyle. Karena orang miskin tidak mampu untuk menikmati apa pun boros, maka hanya karena keadaan, ia dipaksa untuk mengadopsi gaya hidup sederhana. Fashion-slavery is part of western life. Fashion-perbudakan adalah bagian dari kehidupan barat. If one does not have a branded garment, it is tragic. Jika seseorang tidak memiliki pakaian bermerek, adalah tragis. If the real thing is not available, a fake will also do. Jika hal yang sebenarnya tidak tersedia, palsu juga akan dilakukan. If it is not a branded product, it is then only for the have-nots even if it is of a better quality and lesser cost. Jika bukan merupakan produk bermerek, yang kemudian hanya untuk si miskin bahkan jika suatu kualitas yang lebih baik dan harga yang rendah.

While the above are some of the serious core differences between Islamic and Western culture, the most important aspect is the difference in the mindset of both cultures. Sementara di atas adalah beberapa perbedaan inti yang serius antara budaya Islam dan Barat, aspek yang paling penting adalah perbedaan dalam pola pikir kedua budaya.

PURPOSE OF LIFE TUJUAN HIDUP

The mindset of the Islamic culture stems from the conviction that Allah Ta’ala is our Creator and Sustainer. Pola pikir dari budaya Islam berasal dari keyakinan bahwa Allah Swt adalah Pencipta kita dan Penopang. Hence in this short stay on earth, we are to serve Him alone in the manner taught by His beloved Rasul (Sallallahu Alaihi Wasallam). Maka dalam kunjungan singkat di bumi, kita harus melayani-Nya sendiri dengan cara yang diajarkan oleh Rasul-Nya tercinta (Sallallahu alaihi Wasallam). Thus the Islamic culture revolves around the firm belief that our mission in life is to establish complete Deen in ourselves and on the face of this earth. Jadi kebudayaan Islam berkisar pada keyakinan bahwa misi kami dalam hidup ini adalah untuk menetapkan Deen yang lengkap dalam diri kita sendiri dan di muka bumi ini. With this mindset, one will sacrifice one’s wealth, energies and time as much as possible for the purpose of life. Dengan pola pikir ini, salah satu kekayaan akan mengorbankan seseorang, energi dan waktu sebanyak mungkin untuk tujuan hidup. Indeed one will acquire the necessities of life as well, but Deen will be the guiding light and driving force. Memang orang akan memperoleh kebutuhan hidup juga, tetapi Deen akan menjadi pemandu cahaya dan motor. Deen will dictate and all else will follow. Deen akan mendikte dan yang lainnya akan mengikuti. The “purpose of life” will demand — and all else will submit. Tujuan “hidup” akan menuntut – dan yang lainnya akan serahkan. As a result if one does not acquire many comforts and luxuries, it will not matter. Akibatnya jika tidak memperoleh banyak kenyamanan dan kemewahan, tidak masalah. Rather, life will be regarded as a journey wherein the traveller is not too concerned about the luxuries and comforts en-route. Sebaliknya, hidup akan dianggap sebagai musafir perjalanan dimana tidak terlalu khawatir tentang kemewahan dan kenyamanan en-route. The traveller is focused towards his destination. traveler ini difokuskan terhadap tujuannya. Yet, as a result of one’s obedience to Allah Ta’ala, one will be blessed with true peace, serenity and contentment. Namun, sebagai akibat dari ketaatan seseorang kepada Allah Swt, yang akan diberkati dengan kedamaian sejati, ketenangan dan kepuasan.

CHASING FUN MENGEJAR FUN

Conversely, the mindset of Western culture is that the purpose of life is worldly enjoyment. Sebaliknya, pola pikir budaya Barat adalah bahwa tujuan hidup adalah kenikmatan duniawi. Every comfort and luxury that can be acquired must be attained at all costs. Setiap kenyamanan dan kemewahan yang dapat diperoleh harus dicapai di semua biaya. Everything centres around entertainment, chasing fun … and chasing more fun. Segala sesuatu di sekitar pusat hiburan, mengejar menyenangkan … dan mengejar lebih menyenangkan. There is no mission in life. Tidak ada misi dalam hidup. No objective. Tujuan No. Merely the pursuit of temporal pleasure permeates every cell of the mind. Hanya mengejar kesenangan duniawi menembus setiap sel pikiran. And yes indeed! Dan ya memang! The constant pursuit of greater comfort and luxury and continuously chasing fun demands loads of money. Konstan mengejar kenyamanan yang lebih besar dan mewah dan terus mengejar tuntutan menyenangkan banyak uang. Thus life revolves around making money — from early morning till late at night — and having fun. Jadi kehidupan berputar di sekitar menghasilkan uang – dari pagi sampai larut malam – dan bersenang-senang. If anything comes in the way of this fun, it must be removed. Jika ada sesuatu yang datang dalam cara yang menyenangkan ini, harus dihilangkan. If looking after elderly parents “spoils the weekends and holidays” they should be dispatched to the old-age homes. Jika melihat setelah tua tua “merusak akhir pekan dan hari libur” mereka harus dikirim ke rumah tua. If children come in the way of earning extra money to afford “the better quality of life,” they can be entrusted to day-care centres where they are treated almost like mechanical objects. Jika anak-anak datang dalam cara mendapatkan uang ekstra untuk membeli “kualitas hidup yang lebih baik,” mereka dapat dipercayakan kepada pusat penitipan anak di mana mereka diperlakukan hampir seperti benda-benda mekanis. There is no concern for proper upbringing. Tidak ada kekhawatiran untuk pengasuhan yang tepat. In order to “enhance the quality of life” (which means making more money to have more luxuries and more fun) anything can be sacrificed — parents, children and even religion. Dalam rangka “meningkatkan kualitas hidup” (yang berarti membuat lebih banyak uang untuk memiliki kemewahan lebih banyak dan lebih menyenangkan) apapun bisa dikorbankan – orang tua, anak-anak dan bahkan agama. It is an extremely hollow existence without any peace or contentment — which only stops when one is placed in the hollow of the grave! Ini adalah sebuah keberadaan yang sangat berongga tanpa kedamaian atau kepuasan – yang hanya berhenti ketika salah satu ditempatkan dalam lubang kubur!

It is thus evident that Islamic culture and Western culture are worlds apart. Dengan demikian jelas bahwa budaya Islam dan budaya Barat adalah dunia yang terpisah. The problem is that when people of different cultures live together in the same community, the process of enculturation takes place where people from one culture adopt traits, customs, habits and ideas from the other culture. Masalahnya adalah bahwa ketika orang-orang dari budaya yang berbeda hidup bersama dalam komunitas yang sama, proses enkulturasi mengambil tempat di mana orang dari satu budaya mengadopsi ciri-ciri, adat istiadat, kebiasaan dan ide dari budaya lain. There is no doubt that this enculturation has occurred in our communities. Tidak ada keraguan bahwa enkulturasi ini sudah terjadi di masyarakat kita. Many Muslims have tragically become greatly Westernised in their mindset, in adopting a very extravagant lifestyle, in their dressing, in making life revolve mainly around chasing money and fun, etc. Deen for such people has become a “side-line.” Banyak Muslim tragis menjadi sangat terbaratkan dalam pola pikir mereka, mengadopsi gaya hidup yang sangat luar biasa, dalam mereka berpakaian, dalam membuat kehidupan berputar terutama di sekitar mengejar uang dan menyenangkan, dll Deen untuk orang-orang seperti telah menjadi “sisi-line.”

Why has this enculturation occurred? Mengapa enkulturasi ini terjadi? The answer is alarming! Jawabannya adalah mengkhawatirkan! According to social scientists, people abandon their own culture and borrow from another culture when they regard aspects of the other culture as “better” (World Book). Menurut para ilmuwan sosial, orang-orang meninggalkan budaya mereka sendiri dan meminjam dari kebudayaan lain ketika mereka menganggap aspek-aspek budaya lain sebagai “lebih baik” (World Book). Encyclopaedia Britannica (CD version) highlights this aspect in the following words: “To be sure, a culture trait must offer some advantage, some utility or pleasure to be sought and accepted by people.” Allah forbid! Encyclopaedia Britannica (versi CD) menyoroti aspek ini dalam kata-kata berikut: “Yang pasti, suatu sifat budaya harus menawarkan beberapa keuntungan, beberapa utilitas atau kesenangan yang akan dicari dan diterima oleh orang-orang.” Melarang Allah! Due to the weakness of Imaan and ignorance, the Sunnah culture is being abandoned by Muslims for some Western way which they regard as “better” or as having more pleasure and advantage than the Islamic culture! Karena kelemahan Imaan dan kebodohan, budaya Sunnah sedang ditinggalkan oleh umat Islam untuk beberapa cara Barat yang mereka anggap sebagai “lebih baik” atau memiliki kesenangan lebih dan keuntungan dari budaya Islam! This is no different to a child who gives away a priceless diamond in exchange for an insignificant shiny stone. Hal ini tidak berbeda dengan seorang anak yang memberikan diri berlian yang tak ternilai dalam pertukaran untuk sebuah batu mengkilap tidak signifikan. He has no idea of the value of the gems he is abandoning and is duped by the shine on the stone. Dia tidak tahu nilai dari permata ia meninggalkan dan ditipu oleh cahaya pada batu itu.

FOOLS” “Bodoh”

Western culture is being glorified and vigorously promoted by the media as the culture. budaya Barat sedang dimuliakan dan penuh semangat dipromosikan oleh media sebagai budaya. The media message simply is: “If you are not following the Western trend, you are old fashioned, backward and maybe dumb.” However, these slogans should not make us lose our priceless gems for worthless stones, rather, poisonous pebbles. Pesan media sederhana adalah: “Jika Anda tidak mengikuti trend Barat, Anda kuno, terbelakang dan mungkin bodoh” Namun., Slogan ini tidak seharusnya membuat kita kehilangan permata tak ternilai kami untuk batu berharga, bukan, kerikil beracun. Instead we should adopt the stance of Hazrat Huzaifa bin Yamaan (RA). Sebaliknya, kita harus mengadopsi pendirian Hazrat Huzaifa bin Yamaan (RA). While eating in the court of the Persians, a morsel of food fell from his hand onto the floor. Sementara makan di istana Persia, sepotong makanan jatuh dari tangannya ke lantai. In emulation of the Sunnah, he picked it up to eat it. Dalam persaingan Sunnah, ia mengangkatnya memakannya. Somebody next to him cautioned him that to pick up a fallen morsel was against the culture of the Persians. Seseorang di sampingnya mengingatkan bahwa untuk mengambil sepotong jatuh itu bertentangan dengan budaya Persia. He should therefore follow their way and refrain from picking up the morsel. Karena itu ia harus mengikuti jalan mereka dan menahan diri dari mengambil sepotong itu. His spontaneous response was: “Should I leave the Sunnah (culture) of my beloved Rasulullah (Sallallahu Alaihi Wasallam) for these fools?” respon spontan adalah: “Haruskah aku meninggalkan Sunnah (budaya) dari saya tercinta Rasulullah (Sallallahu alaihi Wasallam) untuk orang-orang bodoh?”

Adopting Western culture will bring along its severe negative consequences. Mengadopsi budaya Barat akan membawa konsekuensi berat yang negatif. Some of them are: Beberapa di antaranya adalah:

  • A materialistic society with no mission in life Sebuah masyarakat yang materialistis tanpa misi dalam hidup
  • Indulgence in drugs and immorality “for fun” Pengikutsertaan dalam obat-obatan dan amoralitas “untuk bersenang-senang”
  • Break-down of respect for parents and elders Break-down untuk menghormati orang tua dan tua-tua
  • Disintegration of family structures Disintegrasi struktur keluarga
  • High divorce rate, etc. Tinggi tingkat perceraian, dll

Every effort must therefore be made to preserve the culture of the Qur’an and Sunnah. Setiap usaha karena itu harus dilakukan untuk melestarikan budaya Al-Qur’an dan Sunnah. This requires adopting the company of those who are sunnah conscious, learning about the various sunnats and making an effort to bring them alive in ones home, community and the Ummah at large. Hal ini membutuhkan mengadopsi perusahaan dari orang-orang yang sunnah sadar, belajar tentang berbagai sunnats dan membuat upaya untuk membawa mereka yang hidup di rumah, masyarakat dan umat pada umumnya.

If Western trends take root, besides harming ourselves, we will also lay the foundation for the destruction of future generations. Jika tren Barat berakar, selain merugikan diri sendiri, kita juga akan meletakkan dasar untuk kehancuran generasi mendatang. According to Encyclopaedia Britannica, “once established, culture has a life of it’s own … Menurut Encyclopaedia Britannica, “setelah dibentuk, budaya memiliki kehidupan itu sendiri … it flows down through time from one generation to another.” It is therefore imperative that we guard against this. mengalir turun melalui waktu dari satu generasi ke generasi lain “ini. Oleh karena itu penting bahwa kita menjaga diri ini.

The only success for us in this world and the Hereafter is in upholding the way of life of the Qur’an and Sunnah. Keberhasilan hanya bagi kita di dunia ini dan di akhirat adalah dalam menegakkan cara hidup Al-Qur’an dan Sunnah. May Allah Ta’ala keep us steadfast on His Deen. Semoga Allah Swt menjaga kita setia pada-Nya Deen. Aameen. Amin.

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.missionislam.com/family/culture.htm

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.