Mengenal ontologi

ONTOLOGI
Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu, apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagai¬mana (yang) “Ada” itu (being Sein, het zijn). Paham monisme yang terpecah menjadi idealisme atau spiritualisme, Paham dua¬lisme, pluralisme dengan berbagai nuansanya, merupakan paham ontologik yang pada akhimya menentukan pendapat bahkan ke¬yakinan kita masing masing mengenai apa dan bagaimana (yang) ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang kita cari.
Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut mebahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles . Pada masanya, kebanyakan orang belum membedaan antara penampakan dengan kenyataan. Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu. Namun yang lebih penting ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal daru satu substansi belaka (sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri).
Hakekat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang:
1. kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak
2. Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum.
Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis. Beberapa aliran dalam bidang ontologi, yakni realisme, naturalisme, empirisme Naturalisme di dalam seni rupa adalah usaha menampilkan objek realistis dengan penekanan seting alam. Hal ini merupakan pendalaman labih lanjut dari gerakan realisme pada abad 19 sebagai reaksi atas kemapanan romantisme. Salah satu perupa naturalisme di Amerika adalah William Bliss Baker, yang lukisan pemandangannya dianggap lukisan realis terbaik dari gerakan ini. Salahs atu bagian penting dari gerakan naturalis adalah pandangan Darwinisme mengenai hidup dan kerusakan yang telah ditimbulkan manusia terhadap alam.
Istilah istilah terpenting yang terkait dengan ontologi adalah:
• yang-ada (being)
• kenyataan/realitas (reality)
• eksistensi (existence)
• perubahan (change)
• tunggal (one)
• jamak (many)

Ontologi ini pantas dipelajari bagi orang yang ingin memahami secara menyeluruh tentang dunia ini dan berguna bagi studi ilmu-ilmu empiris (misalnya antropologi, sosiologi, ilmu kedokteran, ilmu budaya, fisika, ilmu teknik dan sebagainya). Ontologi ruang waktu Setelah menikmati masa hidupnya selama sekitar seribu tahun, ontologi boleh dikata memang mengalami perkembangan baru setelah melewati satu periode penampikan. Periode itu yang disebabkan oleh oposisi yang luas terhadap metafisika, terkenal dengan pengumuman “kematian metafisika”. Kini kian bisa diterima bahwa ilmu-ilmu alam memiliki skema ontologis. Selain belum dapat sepenuhnya dijustifikasi menurut dasar-dasar empiris murni, skema ontologis itu juga dapat menimbulkan kebingungan teoritis, seperti yang terjadi pada bidang mekanika kuantum yang terus bertengkar soal dualitas gelombang-partikel.
Persoalan baru terus berlanjut seiring dengan kian majunya teori kuantum dan turunannya mengekplorasi hakikat terdalam realitas. Persoalan ontologis terbaru masih berkaitan dengan building-block terkecil yang menyusun seluruh alam semesta seisinya ini. Salah satu usulan mutakhir yang berkaitan dengan subyek ini datang dari teori “Superstring”. Inti pandangan Superstring adalah bahwa penyusun dasar semesta ini bukanlah particle-like entity seperti yang diyakini orang sejak hampir 1500 tahun. Penyusun dasar kenyataan kosmos ini adalah semacam senar gitar yang dengan berbagai jenis getarnya memungkinkan munculnya berbagai jenis alam semesta. Dikiaskan secara sangat sederhana, alam semesta ini bukanlah seperti sebuah rumah besar yang tertata dari ribuan bata, bukan seperti benda permanen yang disusun dari tak terhingga dzarrah, tapi lebih mirip seperti sejenis musik yang terdiri dari berbagai macam nada.
Seperti halnya teori Superstring, teori komputasi CA juga mengimplikasikan bahwa penyusun paling dasar dari kenyataan semesta bukanlah particle-like entity. Dalam hal ini, Wolfram memberi sumbangan penting pada “gerakan intelektual” yang menyuarakan pandangan bahwa bentuk-bentuk informasi, dan bukannya materi atau energi, yang lebih merupakan batu penyusun dasar dari seluruh kenyataan. Gerakan intelektual ini mencoba memberi penjelasan baru tentang bagaimana bentuk-bentuk atau pola-pola informasi menciptakan dunia yang kita alami. Selain membangun visi yang lebih kokoh tentang peranan algoritme yang sangat penting di alam semesta ini, gerakan ini juga mencoba mengoreksi padangan klasik Newtonian tentang ruang waktu yang terpisah, kontinu, infinit dan absolut. Bahwa informasi adalah “satuan” yang paling dasar di alam semesta ini-pengertian ini jelas sudah cukup tua dalam sejarah pengetahuan manusia. Ini terlihat misalnya pada kalimat pembuka Bibel, “Pada mulanya adalah kata”, atau pada ayat pertama Qur’an, “Bacalah”. Namun demikian, pada kedua kanon besar itu, informasi sebagai inti kosmos lebih bersifat pengertian intuitif yang tak dapat dibuktikan salah. Apa yang dikerjakan Wolfram, John Wheeler dengan “It from Bit”; Edward Fredkin dengan “Digital Universe”; serta sejumlah pemikir lain, semuanya dibangun secara sistematis dengan teori-teori yang bisa difalsifikasi.

Algoritme tentu saja berasal dari nama Abu Ja’far Muhammad bin Al-Kwarizmi (780-850 M), penulis kitab Al-Jabr Wal Muqabala (Aturan-aturan tentang Restorasi dan Reduksi). Algoritme adalah metode atau prosedur yang terdefenisikan dengan baik untuk memecahkan sebuah masalah, biasanya sebuah problem matematika, atau yang berkaitan dengan manipulasi informasi. Secara khusus, sebuah algoritme dideskripsikan sebagai satu seri tindakan yang harus dilaksanakan, ditambah dengan petunjuk tentang kapan dan di mana seri tindakan itu harus diulang lagi. Ada pakar yang membatasi algoritme hanya pada prosedur-prosedur yang akhirnya selesai. Tapi ada juga pakar yang memasukkan prosedur-prosedur yang terus berjalan tanpa henti. Algoritme memang sering berwujud sebagai program-program komputer, tapi ia juga bisa berwujud tindakan yang dilakukan oleh kehidupan yang tengah mencari perfeksi dan terus berupaya mengatasi dirinya sendiri.

Aspek ontologi (being, what, who)

Filsafat dipelajari karena ketakjuban manusia atas fakta (Plato + Aristoteles, 381-322 SM).? Philosophi = The Greek Miracle (Keajaiban Yunani).

Philein = Philos = Cinta
Sophia = Kebijaksanaan
Filsafat :Ilmu tentang Kebijaksanaan atau Ilmu mencari kebijaksanaan
Ilmu pengetahuan umum tentang kebijaksanaan / kebenaran

kecoaxus.tripod.com/filsafat/pengfil.htm

 

 

 

 

 

 

SISTEMATIKA FILSAFAT


A. Ontologi

Ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Dalam kaitan dengan ilmu, landasan ontologi mempertanyakan tentang objek yang ditelaah oleh ilmu, bagaimana wujud hakikinya, serta bagaimana hubungannya dengan daya tangkap manusia yang berupa berpikir, merasa, dan meng-indera yang membuahkan pengetahuan.
Objek telaah Ontologi tersebut adalah yang tidak terlihat pada satu perwujudan tertentu, yang membahas tentang yang ada secara universal, yaitu berusaha mencari inti yang dimuat setiap kenyataan yang meliputi segala realitas dalam semua bentuknya. Adanya segala sesuatu merupakan suatu segi dari kenyataan yang mengatasi semua perbedaan antara benda-benda dan makhluk hidup, antara jenis-jenis dan individu-individu. Dari pembahasannya memunculkan beberapa pandangan yang dikelompokkan dalam beberapa aliran berpikir, yaitu:


1.
Materialisme;

Aliran yang mengatakan bahwa hakikat dari segala sesuatu yang ada itu adalah materi. Sesuatu yang ada (yaitu materi) hanya mungkin lahir dari yang ada.

2. Idealisme (Spiritualisme);

Aliran ini menjawab kelemahan dari materialisme, yang mengatakan bahwa hakikat pengada itu justru rohani (spiritual). Rohani adalah dunia ide yang lebih hakiki dibanding materi.
3. Dualisme;

Aliran ini ingin mempersatukan antara materi dan ide, yang berpendapat bahwa hakikat pengada (kenyataan) dalam alam semesta ini terdiri dari dua sumber tersebut, yaitu materi dan rohani.

4. Agnotisisme.

Aliran ini merupakan pendapat para filsuf yang mengambil sikap skeptis, yaitu ragu atas setiap jawaban yang mungkin benar dan mungkin pula tidak.

B. Epistemologi

Objek telaah epistemologi adalah mempertanyakan bagaimana sesuatu itu datang dan bagaimana mengetahuinya, bagaimana membedakan dengan yang lain. Jadi berkenaan dengan situasi dan kondisi ruang serta waktu tentang sesuatu hal. Landasan epistemologi adalah proses apa yang memungkinkan mendapatkan pengetahuan logika, etika, estetika, bagaimana cara dan prosedur memperoleh kebenaran ilmiah, kebaikan moral dan keindahan seni, serta apa definisinya. Epistemologi moral menelaah evaluasi epistemik tentang keputusan moral dan teori-teori moral. Dalam epistemologi muncul beberapa aliran berpikir, yaitu:


1.
Empirisme;

Yang berarti pengalaman (empeiria), dimana pengetahuan manusia diperoleh dari pengalaman inderawi.


2. Rasionalisme;

Tanpa menolak besarnya manfaat pengalaman indera dalam kehidupan manusia, namun persepsi inderawi hanya digunakan untuk merangsang kerja akal. Jadi akal berada diatas pengalaman inderawi dan menekankan pada metode deduktif.

 


3. Positivisme;

Merupakan sistesis dari empirisme dan rasionalisme. Dengan mengambil titik tolak dari empirisme, namun harus dipertajam dengan eksperimen, yang mampu secara objektif menentukan validitas dan reliabilitas pengetahuan.


4. Intuisionisme.

Intuisi tidak sama dengan perasaan, namun merupakan hasil evolusi pemahaman yang tinggi yang hanya dimiliki manusia. Kemampuan ini yang dapat memahami kebenaran yang utuh, yang tetap dan unik.

C. Aksiologi

Aksiologi adalah filsafat nilai. Aspek nilai ini ada kaitannya dengan kategori: (1) baik dan buruk; serta (2) indah dan jelek. Kategori nilai yang pertama di bawah kajian filsafat tingkah laku atau disebut etika, sedang kategori kedua merupakan objek kajian filsafat keindahan atau estetika.


1. Etika

Etika disebut juga filsafat moral (moral philosophy), yang berasal dari kata ethos (Yunani) yang berarti watak. Moral berasal dari kata mos atau mores (Latin) yang artinya kebiasaan. Dalam bahasa Indonesia istilah moral atau etika diartikan kesusilaan. Objek material etika adalah tingkah laku atau perbuatan manusia, sedang objek formal etika adalah kebaikan atau keburukan, bermoral atau tidak bermoral.
Moralitas manusia adalah objek kajian etika yang telah berusia sangat lama. Sejak masyarakat manusia terbentuk, persoalan perilaku yang sesuai dengan moralitas telah menjadi bahasan. Berkaitan dengan hal itu, kemudian muncul dua teori yang menjelaskan bagaimana suatu perilaku itu dapat diukur secara etis. Teori yang dimaksud adalah Deontologis dan Teologis.


a. Deontologis.

Teori Deontologis diilhami oleh pemikiran Immanuel Kant, yang terkesan kaku, konservatif dan melestarikan status quo, yaitu menyatakan bahwa baik buruknya suatu perilaku dinilai dari sudut tindakan itu sendiri, dan bukan akibatnya. Suatu perilaku baik apabila perilaku itu sesuai norma-norma yang ada.


b. Teologis

Teori Teologis lebih menekankan pada unsur hasil. Suatu perilaku baik jika buah dari perilaku itu lebih banyak untung daripada ruginya, dimana untung dan rugi ini dilihat dari indikator kepentingan manusia. Teori ini memunculkan dua pandangan, yaitu egoisme dan utilitarianisme (utilisme). Tokoh yang mengajarkan adalah Jeremy Bentham (1742 – 1832), yang kemudian diperbaiki oleh john Stuart Mill (1806 – 1873).


2. Estetika

Estetika disebut juga dengan filsafat keindahan (philosophy of beauty), yang berasal dari kata aisthetika atau aisthesis (Yunani) yang artinya hal-hal yang dapat dicerap dengan indera atau cerapan indera. Estetika membahas hal yang berkaitan dengan refleksi kritis terhadap nilai-nilai atas sesuatu yang disebut indak atau tidak indah. Dalam perjalanan filsafat dari era Yunani kuno hingga sekarang muncul persoalan tentang estetika, yaitu: pertanyaan apa keindahan itu, keindahan yang bersifat objektif dan subjektif, ukuran keindahan, peranan keindahan dalam kehidupan manusia dan hubungan keindahan dengan kebenaran. Sehingga dari pertanyaan itu menjadi polemik menarik terutama jika dikaitkan dengan agama dan nilai-nilai kesusilaan, kepatutan, dan hukum.

http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/1871556-pengantar-filsafat/

 

 

 

 

2.1.1 Definisi Ontology

Pengertian ontology sangat beragam dan berubah sesuai dengan berjalannya waktu, ada beberapa definisi ontology. Neches dan rekannya [9] memberikan definisi awal tentang ontology yaitu: “Sebuah ontology merupakan definisi dari pengertian dasar dan relasi vocabulari dari sebuah area sebagaimana aturan dari kombinasi istilah dan relasi untuk mendefinisikan vokabulari”. Kemudian Gruber [5] memberikan definisi yang sering digunakan oleh beberapa orang, definisi tersebut adalah “Ontology merupakan sebuah spesifikasi eksplisit dari konseptualisme”. Berdasarkan definisi Gruber tersebut banyak orang yang mengemukakan definisi tentang ontology diantaranya Guarino dan Giaretta [6] yang pada tahun 1995 mengumpulkan hingga tujuh definisi yang berkoresponden dengan syntactic dan semantic interprestasi. Sedangkan pada tahun 1997, Borst [3] melakukan penambahan dari definisi Gruber dengan mengatakan “Sebuah ontology adalah spesifikasi formal dari sebuah konseptual yang diterima (share)”.

 

Kemudian oleh Studer [10] mencoba mengemukakan definisi tentang

ontology yang mengambil acuan dari definisi yang dikemukakan oleh Gruber dan

Borst, definisi tersebut adalah : “Konseptualisasi mengacu kepada sebuah model

abstrak dari beberapa fenomena di dunia dengan memiliki identifikasi konsep yang

relevan dari fenomena tersebut. Yang dimaksud dengan eksplisit adalah tipe dari

konsep yang digunakan, dan batasan dari eksplisit yang digunakan. Shared adalah

merefleksikan bahwa sebuah ontology mencoba menangkap pengetahuan secara

konsensus yang tidak merupakan hal yang hanya terkait pada individu tetapi diterima

oleh sebuah group/domain”.

 

Barnaras [1] pada proyek KACTUS memberikan definisi ontology yang

berdasarkan pada pengembangan ontology. Definisi yang diberikan adalah : “Sebuah

ontology memberikan pengertian untuk penjelasan secara eksplisit dari konsep

terhadap representasi pengetahuan pada sebuah knowledge base”. Proyek SENSUS

[12] juga memberikan definisi : “Sebuah ontology adalah sebuah struktur hirarki dari

istilah untuk menjelaskan sebuah domain yang dapat digunakan sebagai landasan

untuk sebuah knowledge base”.

Ada buku yang memberikan definisi tentang ontology, salah satunya adalah

The Semantic Web” [4], definisi dari ontology adalah :

1. Salah satu cabang metafisika yang terfokus pada alam dan hubungan antara

makhluk hidup;

2. Teori tentang sifat alami makhluk hidup.

Ontology merupakan suatu teori tentang makna dari suatu objek, property dari

suatu objek, serta relasi objek tersebut yang mungkin terjadi pada suatu domain

pengetahuan. Pada tinjauan filsafat, ontology adalah studi tentang sesuatu yang ada.

3 Selain itu ontology adalah sebuah konsep yang secara sistematik menjelaskan tentang

segala sesuatu yang ada atau nyata. Dalam bidang Artificial Intelligence (AI)

ontology memiliki dua pengertian yang berkaitan. Pertama ontology merupakan

kosakata representasi yang sering dikhususkan untuk domain atau subjek pembahasan

tertentu. Kedua, sebagai suatu body of knowledge untuk menjelaskan suatu bahasan

tertentu.

 

2.1.2 Komponen Ontology

Ontology menggunakan banyak variasi struktur, tergantung dari penggunaan

bahasa ontology termasuk sintaksis yang digunakan. Perlu diingat adalah ontology

4

tidak melakukan apapun, fungsi perhitungan dan lainnya yang memproses ontology

tidak hanya tergantung dari data yang terdapat dalam ontology tersebut, tetapi juga

tergantung kepada aplikasi yang digunakan.

Ontology memilki beberapa komponen yang dapat menjelaskan ontology

tersebut, diantaranya [14]:

Konsep (Concept)

Digunakan dalam pemahaman yang luas. Sebuah konsep dapat sesuatu yang

dikatakan, sehingga dapat pula merupakan penjelasan dari tugas, fungsi, aksi,

strategi, dan sebagainya.

Concept juga dikenal sebagai classes, object dan categories.

Relasi (relation)

Merupakan representasi sebuah tipe dari interaksi antara konsep dari sebuah

domain. Secara formal dapat didefinisikan sebagai subset dari sebuah produk

dari n set, R:C1 x C2 x…xCn. Sebagai contoh dari relasi binary termasuk

subclass-of dan connected-to.

Fungsi (functions)

Adalah sebuah relasi khusus dimana elemen ke-n dari relasi adalah unik untuk

elemen ke n-1. F:C1 x C2 x …Cn-1 – > Cn, contohnya adalah Mother-of.

Aksiom (axioms)

Digunakan untuk memodelkan sebuah sentence yang selalu benar.

Instances

pustakawan.pnri.go.id/…/APLIKASIFILSAFATDALAMILMUKOMUNIKASI.doc

 

2 Tanggapan

  1. Sama-sama Kawan…

  2. LEBIH MUDAH DIMENGERTI …. THANKS

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.