Senin,07 September 2010
Senin bulan ini merupakan hari detik-detik menjelang hari raya idul fitri 1431 H seperti orang-orang pada umumnya mereka biasanya melakukan mudik ke kampong halaman-nya masing-masing,saya-pun juga tak mau ketinggalan untuk melakukan mudik ke kampong halaman-ku, ya maklumlah memang saya juga tinggal di luar kota tepatnya di salah satu universitas negeri di kota malang.Ini merupakan pengalaman pertamaku mudik mendekati hari H, ya memang sebelumnya aku masih sibuk menghandle jalannya persiapan acara Future Management Training di HMJ-Manajemen ini jadi belum bisa mudik lebih awal dari temen-temen mahasiswa lainnya.
Kampong halamanku memang agak jauh dari kota malang ini meskipun masih dalam lingkup satu propinsi sich,yaitu tepatnya di daerah kabupaten banyuwangi yang terkenal akan kesenian gandrung-nya,aku mulai berangkat menuju terminal arjosari yang merupakan salah satu terminal yang ada di kota malang.Suasana panas tidak menyurutkan aku untuk membatalkan puasa-ku ini meskipun dalam agamaku kita di perbolehkan tidak puasa jika menempuh perjalanan jauh.
Rute yang aku tempuh yaitu menggunakan bis jurusan banyuwangi tetapi meskipun begitu aku tidak langsung mengambil jurusan banyuwangi tetapi harus berganti-ganti bis mulai dari terminal probolinggo,sampai terminal jember hal ini di karenakan agar supaya lebih cepat.Karena biasanya sich waktu yang kita tempuh agak lama jika hanya memakai satu bis karena memang kita harus menunggu bis tersebut parker di terminal yang biasanya lumayan lama gitu.
Dalam perjalanan banyak aku temui para pengamen jalanan yang sudah biasa mengais rejeki kepada para penumpang angkutan bis kota,Tak memandang usia tua muda seluruh orang ikut meramaikan suasana dalam bis kota ini,mulai pedagang asongan,pengamen,serta peminta sumbangan masjid (aku gak tahu memang sumbangan masjid beneran atau hanya kedok mereka yach).nach pada waktu itu aku agak terkesan sebentar melihat seorang pengamen muda cantik dengan pakaian agak sobek dan lusuh dengan membawa musik berupa botol air mineral di isi dengan beras ia jadikan sebagai media untuk musik mengamen sambil mengais rejeki ia menyanyi di depan para penumpang dengan penuh percaya diri.
Saya sebenarnya sangat menyayangkan seorang yang masih muda,cantik masih kuat perjalanan hidupnya masih panjang tetapi hanya menghabiskan sebagaian hidupnya sebagai pengamen,saya kira ini merupakan sebuah fenomena yang cukup fantastic di masyarakat yang perlu kita kaji dan kita carikan solusi bersama.banyak-nya fenomena yang terjadi di atas ini mungkin karena ajaran turun-temurun dari orang tuanya atau orang terdekat-nya sehingga menegemis merupakan satu-satunya cara untuk melepaskan beban hidup tak perduli mereka masih muda atau sudah tua yang terpenting bagi mereka bisa mendapatkan uang dengan cara mencari belas kasihan para penumpang.
Saya kira yang perlu kita garis bawahi disini yaitu bagaimana wujud nyata kita sebagai masyarakat untuk merubah paradigm para selebritis jalanan itu agar supaya tidak bermental-mental pengemis yang hanya mengandalkan belas kasihan kepada orang lain.jika jiwa pengemis sudah tertanam kepada generasi muda saat ini mau jadi apa nanti masyarakat Indonesia nanti???Ini adalah PR kita bersama…….Dengan adanya fenomena seperti ini seharusnya kita harus respon bukan hanya sebatas sebagai tontonan gratis dan bersikap cuek apalagi jika kita di posisikan sebagai orang yang memegang kekuasaan di pemerintah.mudah-mudahan kita semua sadar dan berharap bisa memberikan bimbingan kepada mereka agar supaya tidak melakukan hal-hal seperti itu lagi……amien….
Filed under: AKTIFITAS-KU, ARTIKEL-KU



