Potret dari Perjalanan Hidup Manusia Menurut Ngelmu Ma”rifat Kejawen

gunungan

FASE-FASE KEHIDUPAN MASYARAKAT JAWA

Potret gambaran tentang “perjalanan hidup” manusia sejak dilahirkan sampai meninggal dunia,diilustrasikan secara apik oleh leluhur jawa dalam macapat:yakni dari tembang mijil sampai pucung.bahkan,para pujangga bukan sekedar memotret fase-fase penting perjalanan hidup manusia,tetapi juga memberikan solusi atau jalan keluar dari permasalahan yang sedang di hadapi;baik mengenai makna hidup,hikmah serta cara menyikapinya (solusinya) yang semuanya itu di kemas secara simbolik(metafor).

Dan,refleksi perjalanan manusia yang terekam dalam macapat tersebut yakni sebagai berikut:

1.MIJIL

Mijil berarti keluar atau lahir,bayi yang baru lahir dari gua garba(rahim ibu).bayi yang baru saja dilahirkan tentu dalam keadaan fitrah,suci,atau murni dan tanpa dosa,ibaratnya seperti kertas putih bersih sedangkan hitam putihnya tergantung orang tuanya atau penulisnya.

2.SINOM

Sinom artinya muda,suatu fase atau keadaan ketika masih nom-noman ,anom (remaja).inilah fase untuk meniti cita-cita.Pada usia ini,biasanya di sekolah SMA/SMK telah di tentukan penjurusan yang di maksudkan untuk menggali dan menelusuri minat dan bakat siswa didik.Jika seseorang siswa kuat otak kanannya maka ia akan di masukkan ke jurusan IPA.sedangkan bagi anak2 yang lebih dominant otak kirinya ia akan di masukkan ke IPS.karena,otak kanan lebih berorientasi pada hafalan,rumus2,atau eksak.sementara oatak kiri arahnya pada ilmu social,kesenian,atau bahasa dan sebagainya.

3.ASMARANDANA

Asmarandana adalah fase atau masa di mana seseorang telah berhubungan dengan asmara atau cinta terhadap lawan jenis.Begitulah,tema tentang cinta atau percintaan antara laki2 dan perempuan merupakan tema abadi dari zaman nabi adam hingga hari kiamat besok.

4.KINANTHI

Kinanthi adalah fase seseorang melakukan perkawinan,sehingga seseorang memasuki babak baru dalam menjalani kehidupannya:yakni kehidupan berumah tangga.

5.DHANDANGGULA

Dhandanggula se4benarnya terdiri dari 2 kata;dhandang yang artinya pait(pahit) dan gula yang berarti manis.jadi,dhandanggula berarti gambaran pahit manisnya kehidupan di dunia ini,terutama setelah seseorang memasuki kehidupan berumah tangga.Pada fase ini,pasangan suami istri di samping mengalami kenikmatan dan kebahagiaan hidup misalnya telah mendapatkan momongan dari perkawinan nya serta penghasilan yang cukup,tetapi,juga mereka harus memiliki tanggung jawab yang besar;sehingga harus menjalani kehidupannya dengan lara lapa(prihatin).

6.MASKUMAMBANG

Maskumambang atau maskentar merupakan gambaran kepalsuan;adakah emas yang kumambang(mengapung) atau kentar/kentir (terapung)?kata maskumambang berarti(mas:emas,sedangkan kumambang;terpung,mengapung).

7.DURMA

Surma berasal dari kata jawa;dur=mundur,ma=maju.durma berarti maju-mundur alias mengalami ragu-ragu,keraguan,was2,tidha2 dalam kehidupannya.semakinberat tanggung jawab yang harus di hadapi dan di pikulnya hal tersebut bias menjadikannya seseorang frustasi.

8.PANGKUR

Pangkur berarti sudah mungkur atau ngungkurake (membelakangi) dari keglamouranatau kemewahan segala sesuatu yang bersifat keduniawian.sebab,bagaimanapun juga,tiga ta(harta,tahta.wanita)merupakan jebakan yang tidak di antisipasi secara baik akan menghasilkan hijab(penghalang) menuju kesejatian menghadapnya.sebab,kemewahan hidup,biasanya akan menyebabkan hati manusia kurang peka dan cepat lupa diri.

9.GAMBUH

Gambuh identik dengan jumbuh(ketemu,seolah-olah sama.tidak bias di bedakan).Dalam perspektif macapat ini,makna gambuh yaitu ketika seseoramg dalam fase tuanya memperdalam ngelmu”sangkan paraning dumadi;dari mana ia berasalc dan akan menuju kemana dalam perjalannya.

10.MEGATRUH

Megatruh berarti megat(memutuskan),sedang ruh(roh),sehingga memutuskan atau terlepasnya roh seorang manusia.ini adalah fase terakhir manusia,yakni menghadapi kematian alias ajalnya.

11.PUCUNG

Pucung berarti sudah menjadi pocongan,ini merupakan fase ketika seseorang telah meninggal dunia,sehingga ia berubah menjadi jenazah.Dalam ajaran islam,ada kewajiban bagi ahli warisnya dan masyarakat pada umumnyaterhadap orang yang telah meninggal.

DEMIKIANLAH BAGI2 ILMUKU KEPADA SOBAT2 SEKALIAN SEMOGA BARMANFAAT AMIN.

2 Tanggapan

  1. TENTANG TEMBANG MACAPAT JAWA
    Tembang atau sekar yaitu kumpulan kata dengan aturan yang dibaca menggunakan lagu laras atau nuansa slendro-pelog. Pada Serat Mardawa Lagu karangan R. Ng. Ronggo Warsito dijabarkan bahwa khususnya Jawa Tengah ada 4 jenis tembang, yaitu 1) membaca sa-lagu yang digolongkan dalam tembang gedhe kapisan, 2) membaca ro-lagu yang digolongkan dalam tembang gedhe kapindho, 3) membaca tri-lagu yang digolongkan dalam tembang tengahan, 4) membaca pat-lagu yang digolongkan tembang cilik. Membaca pat-lagu atau tembang cilik lebih dikenal dengan sebutan tembang macapat.
    Macapat yaitu sastra berwujud puisi yang menggunakan bahasa Jawa baru dan terikat dengan aturan-aturan: 1) guru gatra, yaitu jumlah baris tiap satu bait, 2) guru lagu, yaitu jatuhnya huruf vokal di akhir baris, dan 3) guru wilangan, yaitu jumlah suku kata tiap baris. Saputra (2001: 2) menyatakan bahwa macapat adalah puisi yang terikat oleh aturan persajakan dan mengandung laras dan lagu. Macapat tidak hanya ditemukan di daerah Jawa Tengah, tetapi juga hidup dan berkembang di Jawa Timur, Jawa Barat, Lombok, dan Bali. Di Jawa tengah ada 3 daerah berkembangnya tembang macapat dengan cengkoknya masing-masing yaitu Surakarta, Banyumas, dan Semarang yang lazim disebut dengan Surakartan, Banyumasan, dan Semarangan. Tembang macapat terdiri dari:
    Mijil
    Sinom
    Kinanthi
    Asmaradana
    Dhandhanggula
    Pangkur
    Durma
    Pocung
    Gambuh
    Megatruh
    Maskumambang
    Tembang macapat mempunyai makna yang beragam. Paling tidak ada 7 alasan karya sastra disebut macapat, antara lain:
    1. Maca papat-papat, yaitu membaca dalam tiap baris dengan dipenggal tiap 4 suku kata. Contoh: ngelmu iku (4), kalakone (4), kanthi laku (4), setya budya (4), pangekese (4), du rangkara (4).
    2. Manca-pat, yaitu isi tembang menceritakan tentang kejadian pada keblat papat lima pancer.
    3. Manca-pat dari panca-arpat, 5 sandhangan atau guru lagu, yaitu a (legena), i (wulu), u (suku), e (taling), dan o (taling tarung), –e (pepet).
    4. Maca cepet, yaitu membaca dengan irama cepat, tidak banyak luk dan kembangan suara, isi tembang dapat terdengar dengan jelas.
    5. Macakep, metatesis menjadi macapat yaitu membaca lirik.
    6. Maca mat, yaitu membaca dengan cermat.
    7. Maca-pat, yaitu membaca tembang yang ke-4 atau tembang cilik.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.