Remaja adalah ‘Agent of Change’…Bener THO…?

“Segala sesuatu pasti akan berubah, kecuali perubahan itu sendiri”sanggar1

Remaja sampai saat ini masih diposisikan sebagai objek dalam sebuah permasalahan. Dibidang sosial, remaja yang suka tawuran langsung divonis sebagai ‘destroyer’/perusak kenyamanan. padahal para pemvonis itu tidak tahu apa yang melatarbelakangi tawuran itu terjadi. di bidang Politik, remaja hanya berfungsi sebagai makanan empuk ideologi-ideolegi politik tertentu. Mereka hanya dijadikan pelengkap kampanye dan rela berjam jam dibawah panasnya terik matahari. Mengecat badannya sesuai dengan warna parpol yang disegani, dan mengganti suara motor dengan yang lebih nyaring. Berharap mereka mendapat liburan, kaos oblong, dan uang sebagai cuci mulut.

Pada ranah ekoonomi, remaja menjadi santapan empuk para kapitalis. Mereka hanya mementingkan keuntungan pribadi dan menjerumuskan remaja dengan segala bentuk rayuan untuk membeli produk-produknya tanpa pandang bulu. Pda akhirnya, budaya konsumerisme dan pop menghantui kehidupan remaja kapanpun dan dimanapun mereka berada. Apalagi sekarang sudah ada sarana media massa sebagai salah satu cara para kapitalis meracuni remaja dengan berbagai propaganda dan kampanye produk.Melihat realitas diatas, aku menjadi gerah. Kegerahan itu hampir sama ketika dulu dirasakan oleh pemikir pendidikan asal Brazil, Paulo Freire. Ini adalah penindasan akibat adanya sistem yang mendominasi, tidak ada keadilan. Maka sistem itu harus dilawan, harus didobrak. Kritis adalah kunci jawabannya. Kritis dalam hal ini berarti bersifat tidak lekas percaya dan selalu berusaha mencari “kesalahan”.

Berangkat dari permasalahan diatas, tulisan yang berjudul ‘Agent of Change‘ ini mencoba mengajak kepada semua lapisan masyarakat, terkhusunya pelajar dan remaja, untuk tidak bersikap diam jika ada persoalan di sekitarnya. Kita harus sadar, segala sesuatu yang ada didunia ini tidaklah statis, mandeg. Semua yang ada dapat berubah ubah. Tentunya perubahan itu menuju ke arah yang lebih baik.

Sebuah perubahan tidak akan terwujud kecuali muncul dari manusia itu sendiri. Saatnya, remaja harus mulai memiliki sikap kritis demi terwujudnya perubahan ke arah tatanan yang lebih baik. Baik adalah salah satu bentuk keteraturan (balance) diantara anomali-anolmali (kerusakan) yang ada. Karena itu, remaja diproyeksikan sebagai “Agent of Change”, agen perubahan.

“Segala sesuatu pasti akan berubah, kecuali perubahan itu sendiri”

Remaja sampai saat ini masih diposisikan sebagai objek dalam sebuah permasalahan. Dibidang sosial, remaja yang suka tawuran langsung divonis sebagai ‘destroyer’/perusak kenyamanan. padahal para pemvonis itu tidak tahu apa yang melatarbelakangi tawuran itu terjadi. di bidang Politik, remaja hanya berfungsi sebagai makanan empuk ideologi-ideolegi politik tertentu. Mereka hanya dijadikan pelengkap kampanye dan rela berjam jam dibawah panasnya terik matahari. Mengecat badannya sesuai dengan warna parpol yang disegani, dan mengganti suara motor dengan yang lebih nyaring. Berharap mereka mendapat liburan, kaos oblong, dan uang sebagai cuci mulut.

Pada ranah ekoonomi, remaja menjadi santapan empuk para kapitalis. Mereka hanya mementingkan keuntungan pribadi dan menjerumuskan remaja dengan segala bentuk rayuan untuk membeli produk-produknya tanpa pandang bulu. Pda akhirnya, budaya konsumerisme dan pop menghantui kehidupan remaja kapanpun dan dimanapun mereka berada. Apalagi sekarang sudah ada sarana media massa sebagai salah satu cara para kapitalis meracuni remaja dengan berbagai propaganda dan kampanye produk.

Melihat realitas diatas, aku menjadi gerah. Kegerahan itu hampir sama ketika dulu dirasakan oleh pemikir pendidikan asal Brazil, Paulo Freire. Ini adalah penindasan akibat adanya sistem yang mendominasi, tidak ada keadilan. Maka sistem itu harus dilawan, harus didobrak. Kritis adalah kunci jawabannya. Kritis dalam hal ini berarti bersifat tidak lekas percaya dan selalu berusaha mencari “kesalahan”.

Berangkat dari permasalahan diatas, tulisan yang berjudul ‘Agent of Change‘ ini mencoba mengajak kepada semua lapisan masyarakat, terkhusunya pelajar dan remaja, untuk tidak bersikap diam jika ada persoalan di sekitarnya. Kita harus sadar, segala sesuatu yang ada didunia ini tidaklah statis, mandeg. Semua yang ada dapat berubah ubah. Tentunya perubahan itu menuju ke arah yang lebih baik.

Sebuah perubahan tidak akan terwujud kecuali muncul dari manusia itu sendiri. Saatnya, remaja harus mulai memiliki sikap kritis demi terwujudnya perubahan ke arah tatanan yang lebih baik. Baik adalah salah satu bentuk keteraturan (balance) diantara anomali-anolmali (kerusakan) yang ada. Karena itu, remaja diproyeksikan sebagai “Agent of Change”, agen perubahan.

file://localhost/D:/wahdatul%20wujud/remaja/Remaja%20adalah%20‘Agent%20of%20Change’%20«%20♥%20diE%20diYaNi%20♥.mht

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.